Home » , , , , » ADAB BERPUASA DAN KEUTAMAAN RAMADHAN

ADAB BERPUASA DAN KEUTAMAAN RAMADHAN

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, June 16, 2015

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan,dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal  kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat.

1. Makan Sahur

Anas r.a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,"makan sahurlah engkau karena makan sahur itu berkah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal yang menyebabkan berkahnya adalah karena sahur menguatkan orang yang berpuasa, menggiatkan dan memudahkan

📌 Tercapainya Makan Sahur

Abu Sa'id al-Khudri r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: "Bersahur itu berkah, maka janganlah engkau tinggalkan, walau seseorang diantaramu itu hanya meneguk air. Karena Allah dan para malaikat-Nya akan mengucapkan sholawat kepada orang-orang yang bersahur." (HR. Ahmad)

📌 Waktu Sahur

Waktu sahur adalah dari pertengahan malam hingga terbit fajar. Kita juga disunnahkan untuk mengakhirkannya.
Zaid bin Tsabit r.a meriwayatkan: "Kami makan sahur bersama Rasulullah saw, lalu kami berdiri untuk melakukan sholat. Aku tanyakan,"Berapa kira-kira jarak antara keduanya?' Nabi bersabda, 'Lima puluh ayat." (HR. Bukhari dan Muslim)

📌 Bimbang Mengenai Terbitnya Fajar

Seandainya seseorang ragu mengenai terbitnya fajar, ia boleh makan dan minum hingga ia benar-benar yakin bahwa telah terbit fajar. Ia tidak boleh berpegang teguh kepada keraguannya. Allah SWT membatasi makan dan minum hingga benar-benar jelas tanpa ada keraguan sedikitpun. Allah SWT berfirman yang berarti,
"...Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar...(al-Baqarah:187)
2. Menyegerakan Berbuka

Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk menyegerakan berbuka, yaitu apabila matahari telah terbenam dengan jelas. Sa'ad berkata bahwa Nabi SAW bersabda, 
"Umat manusia akan senantiasa dalam kebaikan  selama mereka menyegerakan berbuka". (HR. Bukhari dan Muslim)
Sebaiknya berbuka dengan buah kurma dan jika tidak ada, maka berbuka dengan minum air. Salman bin Amir berkata bahwa Nabi SAW bersabda,
"Jika salah seorang di antara engkau berpuasa, maka hendaklah ia berbuka dengan kurma. Jika tidak ada, maka berbuka dengan air, karena air itu suci." (HR. Ahmad dan Tirmidzi yang menyatakannya hasan lagi shahih)
Dalam hadits tersebut terdapat suatu keterangan bahwa disunnahkan berbuka sebelum mengerjakan sholat maghrib dengan cara yang telah disebutkan pada hadits di atas. Jika ia telah selesai mengerjakan sholat, barulah ia makan, kecuali apabila makanan telah terhidang, maka hendaklah ia makan terlebih dahulu.
Anas berkata bahwa Nabi SAW bersabda,"Jika makanan malam telah dihidangkan, maka makanlah terlebih dahulu sebelum sholat maghrib. Janganlah makan malammu itu dibelakangkan!" (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Berdoa ketika Berbuka dan Berpuasa

Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah dari Abdullah bin Amar bin Ash bahwa Nabi SAW bersabda,"Sesungguhnya orang yang berpuasa, pada saat berbuka, terdapat waktu yang dimakbulkan doa." Dan ketika berbuka, Abdullah mengucapkan dalam doanya, 'Allahumma inni as'aluka birahmatikallatiwasi'at kulla syai'i an taghfira li, (Ya Allah, aku memohon kepadaMu yang meliputi segala sesuatu, agar aku Engkau mengampuniku.)'

Diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi SAW biasa mengucapkan, "Dzahabazh zhama'u wabtallatil'uruqu watsabatal ajru insyaallah. (Telah lenyap haus dan dahaga, telah basah urat-urat, dan insyaAllah ditetapkan pahalanya.)"

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dengan sanad yang hasan bahwa Nabi SAW bersabda,"Ada tiga golongan yang tidak ditolak doanya: Orang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang teraniaya."

4. Menjauhi Hal-hal yang Bertentangan dengan Puasa

Puasa merupakan ibadah yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang disyari'atkan untuk mendidik jiwa dan melatihnya untuk berbuat kebaikan. Seharusnya, apabila orang yang berpuasa menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang akan menodai puasanya, hingga puasanya bermanfaat dan menghasilkan ketaqwaan yang disebutkan Allah dalam firman-Nya,
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah:183)
Abu Hurairah r.a juga meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, "Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi yang diterima hanyalah rasa lapar. Dan berapa banyak orang yang bangun beribadah, tetapi yang diterima tidak lebih hanya terjaganya mata." (HR. An-Nasa'i, Ibnu Maajah dan Hakim yang mengatakannya shahih menurut syarah Bukhari)

5. Menggosok Gigi

Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk menggosok gigi pada saat berpuasa. Tidak ada perbedaannya antara waktu pagi dan sore hari. Menurut Tirmidzi, bagi Syafi'i tak ada halangan untuk menggosok gigi, baik diwaktu pagi maupun sore hari.

6. Murah Hati dan Mempelajari Al-Quran

Bermurah-hati dan mempelajari Al-Quran disunnahkan untuk dilakukan setiap waktu, tetapi kedua hal itu lebih diutamakan lagi dalam bulan Ramadhan.
Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Abbas r.a, "Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Sifat dermawan itu lebih menonjol pada bulan Ramadhan, yaitu ketika beliau ditemui oleh Jibril. Biasanya, Jibril menemui beliau pada setiap malam bulan Ramadhan, untuk mempelajari Al-Quran. Maka Rasulullah SAW lebih murah hati melakukan kebaikan daripada angin yang bertiup." (HR. Bukhari)
7. Giat Beribadah pada Sepuluh Hari Terakhir

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a, "Apabila telah masuk puluhan terakhir dari bulan Ramadhan, Nabi SAW meramaikan waktu malamnya dan membangunkan keluarganya dan mengikat erat kain sarungnya."

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ali r.a dengan menyatakan shahihnya, "Rasulullah SAW biasa membangunkan keluarganya pada puluhan terakhir dan menaikkkan kain sarungnya."
Wallahu a'lam
Dirangkum dari buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq

TAMBAHAN
KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

Ketika bulan Ramadhan datang, Rasul saw senantiasa memberikan taushiah  (nasehat) dan bimbingan mengenai Ramadhan dan puasa. Beliau memberi kabar gembira atas kedatangan Ramadhan kepada para shahabat dan umatnya dengan menjelaskan berbagai keutamaan bulan Ramadhan. Tujuannya adalah untuk memberi motivasi bagi para sahabat dan umat Islam lainnya untuk semangat melakukan ibadah dan amal shalih (kebaikan) pada bulan berkah ini. Oleh karena itu, topik ini menjadi penting untuk dibicarakan, agar kita termotivasi untuk meraih berbagai keutamaan Ramadhan.

Bulan Ramadhan dijuluki dengan sebutan sayyidusy syuhur (penghulu bulan-bulan). Dinamakan demikian karena Bulan Ramadhan memiliki berbagai keutamaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya. Di antara keutamaannya yaitu:

1. Ramadhan merupakan syahrul Quran (bulan Al-Quran). Diturunkannya Al-Quran pada bulan Ramadhan menjadi bukti nyata atas kemuliaan dan keutamaan bulan Ramadhan. Allah Swt berfirman: 
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185). 
Di ayat lain Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam qadar” (QS. Al-Qadar: 1). 
Dan banyak ayat lainnya yang menerangkan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Itu sebabnya bulan Ramadhan dijuluki dengan nama syahrul quran (bulan Al-Quran).  Pada setiap bulan Ramadhan pula Rasulullah saw selalu bertadarus (berinteraksi) dengan Al-Quran dengan Jibril as, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Abbas r.a (HR. Bukhari). Maka, pada bulan Ramadhan ini kita digalakkan untuk memperbanyak berinteraksi dengan Al-Quran, dengan cara membacanya, memahami dan mentadabburi maknanya, menghafal dan mempelajarinya, serta mengamalkannya.

2. Bulan Ramadhan merupakan syahrun mubarak (bulan keberkahan), sebagaimana sabda Rasul saw, 
“Sungguh telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini diwajibkan puasa kepada kalian..”. (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi). 
Setiap ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan, maka Allah akan melipat gandakan pahalanya. Rasulullah saw bersabda: 
“Setiap amal yang dilakukan oleh anak Adam adalah untuknya, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipat bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Swt berfirman: Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. Karena sesungguhnya ia telah meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena-Ku” (HR. Muslim).
Rasulullah saw pernah berkhutbah di hadapan para sahabatnya,“Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (ibadah) didalamnya lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah. Siapa yang mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan (pada bulan itu), seolah-olah ia mengerjakan satu perbuatan wajib pada bulan lainnya. Siapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib pada bulan yang lain, ia seolah-olah mengerjakan tujuh puluh kebaikan di bulan lainnya.” (HR. Baihaqi)

Tidak hanya keberkahan menuai pahala, namun banyak keberkahan lainnya. Dari aspek ekonomi, Ramadhan memberi keberkahan ekonomi bagi para pedagang dan lainnya. Bagi fakir miskin, Ramadhan membawa keberkahan tersendiri. Pada bulan ini seorang muslim sangat digalakkan untuk berinfaq dan bersedekah kepada mereka. Bahkan diwajibkan membayar zakat fitrah untuk mereka.

3. Pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga terbuka dan pintu-pintu neraka tertutup serta syaithan-syaithan diikat. Dengan demikian, Allah Swt telah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk masuk surga dengan ibadah dan amal shalih yang mereka perbuat pada bulan Ramadhan. Syaithanpun tidak diberi kesempatan untuk mengoda dan menyesatkan manusia. 
Rasulullah saw bersabda, “Apabila masuk bulan Ramadhan maka pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan syaithan-syaithan pun dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim). 
Maka pada bulan ini kita digalakkan untuk memperbanyak ibadah sunnat dan amal shalih, agar kita dapat masuk surga.

4. Bulan Ramadhan adalah sarana bagi seorang muslim untuk berbuat kebaikan dan mencegah maksiat. 
Rasulullah saw bersabda, “Apabila malam pertama bulan Ramadhan tiba, maka syaithan-syaithan dan jin-jin Ifrit dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup sehingga tidak satupun darinya terbuka, dan pintu-pintu surga dibuka sehingga tidak satupun pintu yang tertutup. Kemudian ada seorang (malaikat) penyeru yang memanggil: “Wahai pencari kebaikan, bergembiralah! Wahai para pencari kejahatan, tahanlah!”. (HR. At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).
Para pelaku maksiat merasa dipersempit ruang gerak untuk berbuat maksiat pada bulan Ramadhan. Karena, pada bulan Ramadhan mereka harus menahan nafsunya. Tempat-tempat maksiat, hiburan-hiburan yang mengumbar birahi ditutup serta fasilitas maksiat ditutup. Terlebih lagi para syaithan yang menjadi guru para pelaku maksiat selama ini dibelenggu pada bulan Ramadhan. Begitu pula nafsu yang menjerumuskan manusia ke neraka juga dikekang dengan ibadah puasa, karena puasa itu adalah penahan nafsu dan maksiat sebagaimana sabda Rasulullah saw: 
“Puasa itu Junnah (penahan nafsu dan maksiat)” (HR. Ahmad, Muslim dan An-Nasa’i)
Meskipun demikian, jika perbuatan maksiat masih terjadi pada bulan Ramadhan, maka penyebabnya ada tiga:

a. para pelaku maksiat pada bulan ini adalah murid dan kader syaithan. Mereka telah dilatih untuk berbuat maksiat sehingga menjadi kebiasaan. Mereka ini adalah alumni madrasah syaithan yang selama ini ditraining untuk berbuat maksiat oleh “guru atau ustaz mereka (syaithan). 

b. puasa yang dilakukan oleh pelaku maksiat itu tidak benar (tidak sesuai dengan tuntunan Rasul saw) sehingga tidak diterima. Bila ia berpuasa dengan benar, maka puasanya itu pasti mencegahnya dari maksiat.

c. nafsunya telah menguasai dan menyandera dirinya. Puasa sesungguhnya tidak hanya menahan diri dari makan, minum dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa, namun juga menahan diri dari nafsu dan maksiat baik berupa ucapan maupun perbuatan yang diharamkan. Akibatnya puasanya tidak bernilai nilai apa-apa dan tidak memberikan dampak positif dalam tingkah lakunya. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila pada bulan Ramadhan masih ada orang-orang yang “istiqamah”berbuat maksiat.

5. Ramadhan bulan maghfirah (pengampunan dosa). Allah Swt menyediakan Ramadhan sebagai fasilitas penghapusan dosa selama kita menjauhi dosa besar. Nabi saw bersabda:
”Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at dan Ramadhan ke  Ramadhan  menghapuskan dosa-dosa di antara masa-masa itu selama dosa-dosa besar dijauhi”. (HR. Muslim). 
Melalui berbagai aktifitas ibadah di bulan Ramadhan Allah Swt menghapuskan dosa kita. Di antaranya adalah puasa Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi Saw: 
”Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim). 
Begitu pula dengan melakukan shalat malam (tarawih, witir dan tahajuj) pada bulan Ramadhan dapat menghapus dosa yang telah lalu, sebagaimana sabda Nabi saw: 
”Barangsiapa yang berpuasa yang melakukan qiyam Ramadhan  (shalat malam) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
6. Ramadhan bulan itqun minan nar (pembebasan dari Api neraka). Setiap malam di bulan Ramadhan Allah membebaskan hamba-hamba yang dikehendaki dari api neraka. Rasulullah saw bersabda, 
“Dan Allah membebaskan orang-orang dari api neraka pada setiap malam.” (HR. At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).
7. Pada bulan Ramadhan terdapat Lailatul Qadar yang nilai kebaikan padanya lebih baik dari seribu bulan. 
Allah berfirman:“Dan Tahukah kamu lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Al-Qadar: 2-3). 
Rasul saw bersabda: “Pada bulan Ramadhan ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang dihalangi kebaikannya padanya, maka rugilah dia” (H.R. Ahmad,An-Nasa’i & Baihaqi). 
Maka kita sangat digalakkan untuk mencari lailatul qadar ini dengan i’tikaf, khususnya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, mengikuti perbuatan Rasul saw. Aisyah r.a berkata: 
“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (dari bulan Ramadhan), Nabi saw menghidupkan waktu malam beliau, membangunkan keluarga beliau untuk beribadah, dan mengencangkan ikat pinggang.” (HR. Bukhari dan Muslim). 
Dalam riwayat lain: “Nabi saw sangat giat beribadah pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) melebihi ibadah beliau pada hari-hari lainnya.” (HR.Muslim)
Mengingat berbagai keutamaan Ramadhan tersebut di atas, maka sangat disayangkan bila Ramadhan datang dan berlalu meninggalkan kita begitu saja, tanpa ada usaha maksimal dari kita untuk meraihnya dengan melakukan berbagai ibadah dan amal shalih. Celakanya, bila hari-hari Ramadhan yang seharusnya diisi dengan memperbanyak ibadah diganti dengan ajang maksiat, na’uzubillahi min zaalik..! Rasulullah saw telah memberi peringatan dengan sabdanya: 
“Jibril telah datang kepadaku dan berkata: ”Wahai Muhammad, Siapa yang menjumpai bulan Ramadhan, namun setelah bulan ini habis dan tidak mendapat ampunan, maka ia masuk Neraka. Semoga Allah menjauhkannya. Katakan Amin! Aku pun mengatakan Amin!. (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahihnya). 
Dalam riwayat lain, Rasulullah saw bersabda, “Celakalah bagi orang yang masuk pada bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan berlalu sebelum ia diampuni.” (HR. At-Tirmizi, Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi).
Semoga kita dapat meraih berbagai keutamaan yang disediakan pada bulan Ramadhan. Aamiin
referensi: dari berbagai sumber

Begitu banyak keutamaannya sehigga harusnya kita menangis ketika ramadhan habis dan berlalu, bukan malah bersenang-senang yang berlebihan pas hari lebaran.

TANYA JAWAB

Pertanyaan M110

1. Ustadzah mau tanya, sebetulnya kapan kah waktu dmulainya berpuasa, karna ada 2 pendapat di masyarakat ada yang bilang ketika sudah masuk imsak tidak boleh makan dan minum, ada yang bilang masih boleh, ada juga yang mengatakan jika sudah adzan selesai barulah tidak boleh makan dan minum lagi sampai maghrib, sahur jika baru mulai adzan masih diperbolehkan minum. Mohon penjelasannya ustadzah jazakillah
Jawab
Makan minum sahur boleh hanya sampai adzan, buka puasa pas adzan tidak apa-apa tidak menunggu adzan selesai

Pertanyaan M111

1. Assalamualaikum ustadzah. Mau nanya,  point 5. Tentang menggosok gigi disunahkan pada saat puasa, tolong dijelaskan menggosok gigi seperti apa? Menggosok gigi sekarang kan pakai odol dan ada rasanya, saya pernah dengar kalo gosok gigi hukumnya makruh, sedangkan jamannya rasullullah menggosok gigi itu dengan bersiwak
Jawab
Menggosok gigi dengan odol tidak apa-apa asal tidak dengan sengaja ditelan, yang tidak boleh apabila sengaja ditelan, sekarang sudah banyak dijual siwak jadi silahkan memakai siwak kalo khawatir menelan odol

2. Mau tanya, kan sekarang itu kita berbuka puasa saat adzan magrib, tapi beberapa teman saya tidak langsung berbuka pada saat adzan magrib, dia bilang masih terang, batas berbuka puasa itu saat gelap, jika sehelai rambut yang dibentangkan kelangit sudah tidak terlihat lagi. Itu bagaimana ? Dan yang kedua, katanya doa berpuasa yang Allahumma lakasumtu itu kurang benar ya ?
Jawab
Ada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menjelaskan bahwa umat manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka, jadi kalo adzan sudah terdengar maka segeralah berbuka tidak usah menunggu langit gelap. Doa yang biasa diucapkan rasulullah adl dzahabazh zhama'u wabtallatil'uruqu watsabatal ajru insyaallah, yang allahumma laka shumtu haditsnya lemah

3. Assalamu'alaikum ustadzah, aku mau tanyaaa tapi tidak ada di point point tsb, katanya tidur itu ibadah, tapi katanya ada yang bilang banyak banyak tidur juga bisa batalkan puasa atau tidak boleh, sebenarnya yang mana yang benar ya ustadzah? syukron
Jawab
Yang boleh adalah tidur secukupnya, jangan sampai kita membalik kebiasaan siang tidur terus malam terjaga

Pertanyaan M112

1. Maaf mau tanya kalau sholat tarawih itu minimalnya berapa rakaat ya dan bisa di lakukan sendiri gak?
Jawab
Jumlah raka’at shalat tarawih yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 raka’at. Inilah yang dipilih oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang telah lewat.
‘Aisyah mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)
Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ

“Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764). 

Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat malam yang dilakukan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 11 raka’at. Adapun dua raka’at lainnya adalah dua raka’at ringan yang dikerjakan oleh Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembuka melaksanakan shalat malam, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (4/123, Asy Syamilah).

Mayoritas ulama terdahulu dan ulama belakangan, mengatakan  bahwa boleh menambah raka’at dari yang dilakukan oleh Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.” (At Tamhid, 21/70) 
Yang membenarkan pendapat ini adalah dalil-dalil berikut:

Pertama, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Kedua, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Muslim no. 489)

Ketiga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Sesungguhnya engkau tidaklah melakukan sekali sujud kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan satu derajat bagimu dan menghapus satu kesalahanmu.” (HR. Muslim no. 488)


Keempat, Pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memilih shalat tarawih dengan 11 atau 13 raka’at ini bukanlah pengkhususan dari tiga dalil di atas.

Dianjurkan agar shalat tarawih dikerjakan secara berjamaah. Dengan alasan,
a. Hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ، فَإِنَّهُ يَعْدِلُ قِيَامَ لَيْلَة

Barangsiapa yang shalat tarawih berjamaah bersama imam hingga selesai, maka dia mendapat pahala shalat semalam penuh. (HR. Nasai 1605, Ibn Majah 1327 dan dishahihkan Al-Albani).

b. Praktek para sahabat yang dilakukan sejak zaman Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhuhingga sekarang, sehingga shalat tarawih berjamaah sudah menjadi bagian dari syiar islam dan kaum muslimin.

c. Tidak semua shalat sunah dianjurkan untuk dikerjakan sendiri di rumah. Ada shalat sunah yang hanya bisa dikerjakan secara berjamaah, seperti shalat gerhana, shalat ’id, jika kita menganggap shalat ini hukumnya sunah. Termasuk shalat tarawih lebih dianjurkan untuk dikerkajan secara berjamaah.
Allahu a’lam

Pertanyaan M113

1. Jadi doa berbuka selama ini salah yang "allahuma lakasumtu..."?? terus ada yang bilang niat puasa cukup di awal ramadhan aja? mohon penjelasannya...syukron..
Jawab
Bukan salah tapi tidak afdhol, karena Rasulullah saw biasa berdoa dengan dzahaba. Khusus puasa ramadhan tiap malam kita harus baca niat

Pertanyaan M114

1. Umi, masih bingung tentang batas waktu sahur. Bisa dijelaskan kah? Biasanya kalo sudah ada imsak sudah tak ada kegiatan bersahur. Sementara dalam fiqh sunnah hingga terbitnya fajar. Jadi bagaimana, umi?
Jawab
Sampai belum kedengaran adzan subuh kita masih boleh sahur menurut syariat agama

2. Misal mesjid sekitar rumah. Tarawihnya cepat sekali. Bagaimana kalau kita lebih memilih tarawih dirumah untuk lebih fokus dan bagaimana untuk ibadah mengaji. Ada sahabat saya dia suka sekali mengaji surat-surat tertentu di alquran. Jika pada saat ramadhan dia mengaji hanya surat-surat itu dan berulang-ulang tidak mengkhatamkan al quran apa tidak apa-apa?Jazakillah :)
Jawab
Tidak apa-apa sholat tarawih dirumah, sesekali boleh sholat di masjid dengan tujuan silaturrahim. Sebaiknya mengkhatamkan Quran secara keseluruhan karena semua isi Quran baik

Pertanyaan M115

1. Assalamu'alaikum. Itu di poin terakhir giat beribadah pada 10 hari terakhir, di hadits ada kata mengikat erat kain sarungnya. Maksudnya apa ya ?
Jawab
Maksudnya agar lebih banyak beribadah dan mengurangi kegiatan yang tidak bermanfaat. Dari ‘Aisyah radhiallahu anha dia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarung, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya “. (HR. Al-Bukhari no. 1884 dan Muslim no. 2008)

Dalam lafazh yang lain:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

“Pada sepuluh terakhir bulan Ramadlan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya.” (HR. Muslim no. 2009)

Ada dua penafsiran di kalangan ulama mengenai makna ‘mengencangkan sarung':
a.Ini adalah kiasan dari memperbanyak ibadah, fokus untuk menjalankannya, dan bersungguh-sungguh di dalamnya.

b.Ini adalah kiasan dari menjauhi berhubungan dengan wanita. Ini adalah pendapat Sufyan Ats-Tsauri dan yang dirajihkan oleh Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahumallah.

>Makna ‘menghidupkan malam’ adalah mengisinya dengan ibadah dibandingkan tidur yang merupakan saudara dari kematian.

>Makna ‘membangunkan keluarga’ adalah mendorong dan memerintah keluarga untuk mengisi malam-malam itu dengan ibadah.

Pertanyaan M116

1. Saya pernah membaca buku fiqh disana dikatakan bahwa ketika kita telat sahur dan ternyata sudah adzan, kita boleh menghabiskan makanan yang ada di tangan kita seperlunya. apakah kita boleh minum juga padahal tidak sedang kita pegang. Apakah ada batasan waktunya misalkan harus sebelum adzan selesai. mohon penjelasannya.
Jawa
Ya boleh sebatas adzan masih terdengar, setelah itu ga boleh

2. Mau tanya mengenai doa berbuka puasa seperti diatas "dzahabazh...dst. Ada juga yang memakai doa allahumma laka sumtu wa bika....dst." Manakah yang lebih afdhol?
Jawab
Yang lebih afdhol yang dzahabazh

3. Begini waktu aku praktek jiwa di sebuah rs jiwa di bogor. Ada psien yang bertanya tentang puasa katanya kalo dia sudah dipulangkan ke rumah berarti kan dia sudah sehat, apakah sudah boleh berpuasa ? Lalu pertanyaan selanjutnya, kalau misalnya pasien dengan pengaruh anastesi (obat bius) misalnya dia diberi obat bius itu malam hari, nah kan baru boleh minum atau makan setelah efek biusnya hilang. Jika sii pasien itu memutuskan untuk berpuasa di esok harinya gimanaa ? Kan masih belum boleh makan karena efek anastesinya ? Syukron
Jawab
Syarat berpuasa ramadhan adalah salah satunya sehat jiwanya, kalo masih dalam proses penyembuhan dan masih harus diobati in sya Allah boleh tidak puasa dulu, lain hari di qadha sesuai jumlah hari yang ditinggalkan. Yang tidak boleh adalah apbila meninggalkan puasa dengan sengaja. Wallahu a'lam

4. Kalau dibulan suci ramadhan hanya mengerjakkan shalat wajib saja apakah hukumnya? Maksudnya kalau dibulan suci ramadhan hanya shalat wajib tapi tidak mengerjakan shalat teraweh apakah hukumnya?
Jawab
Mengapa hanya yang wajib saja? Padahal Allah sudah menjanjikan pahala yang besar bagi umat islam pada bulan ramadhan ini, alangkah meruginya jika pada bulan ramadhan kita tidak maksimalkan ibadah kita. Para shahabat rasulullah jaman dahulu malah berandai-andai jika semua bulan adalah bulan ramadhan karena banyak sekali keutamaannya

5. Mengenai ibu hamil dan menyusui. Kalo tidak kuat puasa, bagaimana hukumnya? Apakah wajib qada atau cukup bayar fidyah saja, atau kah keduanya? Bagaimana dalilnya. Jazakillah
Jawab
a. Pendapat Pertama : Qadha' Saja Tanpa Fidyah

Pendapat yang pertama ini menyerupakan wanita hamil dan menyusui seperti orang yang sakit. Apabila mereka (wanita hamil dan menyusui) tidak berpuasa di bulan Ramadhan, maka harus membayar Qadha’ (tidak perlu fidyah). Sebagaimana yang diwajibkan atas orang sakit apabila meninggalkan puasa di bulan Ramadhan. Imam Abu Hanifah, Abu Ubaid dan juga Abu Tsaur mendukung pendapat ini. Pendapat ini berdasarkan firman Allah sebagai berikut:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya: (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (al-Baqarah: 184) 

b. Pendapat Kedua : Fidyah Saja Tanpa Qadha'

Ibnu Umar dan Ibnu Abbas menyerupakan wanita hamil dan/atau menyusui seperti orang yang tidak sanggup melaksanakan puasa, semisal orang lanjut usia. Jika mereka tidak berpuasa di bulan Ramadhan sebab mengkhawatirkan kondisi dirinya ataupun bayinya, maka harus membayar Fidyah tanpa perlu mengqadha’ (Bidayatul Mujtahid I, hal. 63). Pendapat ini mengambil dasar dalil firman Allah sebagai berikut:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Artinya: Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fid-yah, (yaitu): Memberi makan seorang miskin. (al-Baqarah : 184)

c. Pendapat Ketiga : Qadha' dan Fidyah

Imam Syafi’i mengatakan bahwa wanita hamil dan/atau menyusu serupa dengan orang sakit dan juga orang yang terbebani dalam melakukan puasa.  Apabila mereka tidak berpuasa di bulan Ramadhan, maka mereka harus membayar Qadha’ dan Fidyah juga. Pendapat ini menggabungkan dua dalil di poin 1 dan 2 di atas.

Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal menambahkan bahwa wanita hamil atau menyusui, apabila ia tidak berpuasa sebab mengkhawatirkan kondisi bayinya, yang wajib ia lakukan adalah qadha sekaligus fidyah. Akan tetapi bila ia mengkhawatirkan dirinya saja, atau mengkhawatirkan dirinya dan juga bayinya, maka yang harus ia lakukan adalah membayar qadha’ tanpa fidyah. (Fiqhus Sunnah I, hal. 508) 

d. Pendapat Keempat : Hamil = Qadha' Saja , Menyusui = Qadha' + Fidyah

Ulama dari madzhab Imam Maliki membedakan antara wanita hamil dan wanita yang menyusui. Wanita hamil diserupakan dengan hukum orang sakit, yang apabila meninggalkan puasa di bulan Ramadhan, ia wajib mengganti dengan qadha’. Sedangkan wanita menyusui diserupakan dengan orang sakit sekaligus orang yang terbebani melakukan puasa. Apabila ia tidak berpuasa di bulan Ramadhan, maka ia wajib membayar qadha’ dan juga fidyah.

Lepas dari perbedaan pendapat di atas, tentu membayar qadha’ sekaligus juga fidyah tentu akan menjadi sikap yang lebih berhati-hati (ihtiyath). Selain itu tentu akan menjadi kebaikan tersendiri bagi ibu dan anak, karena telah berbuat baik buat fakir miskin lewat fidyah. 
Wallahu a’lam bishshawab.

6. Pada bulan ramadhan kan doa yang mustajab diantaranya sebelum berbuka dan diantara sahur dan adzan, nah doa yang baik itu kan yang khusyuk, saya pernah dengar lebih baik siapkan waktu 1/2 jam setelah sahur untuk memantapkan doa, nah saya masih bingung dengan sunah yang mengakhirkan sahur. Itu bagaimana? Apakah harus sediakan 1/2 jam untuk doa atau menyudahi sahur pada saat sebelum adzan. Jazakillahu khairan
Jawab
Tidak usah bingung, fleksibel saja kalo habis sahur masih ada waktu untuk berdoa ya monggo silahkan berdoa, kalo habis sahur langsung adzan subuh ya monggo berdoa setelah sholat atau antara adzan dan iqomah. Yang tidak boleh itu tidak berdoa. Orang yang tidak berdoa merupakan orang yang sombong

Doa penutup majelis :


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Selasa, 16 Juni 2015
Narasumber : Ustadzah Tribuana
Tema : Fiqh
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Whatsapp Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala
Link Nanda 2

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT