ISTIQOMAH DI JALAN DAKWAH

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, June 2, 2015

01
Istiqomah yang Menakjubkan
Umar Hidayat, M.Ag

Ku pikir setelah berjalan di latar dakwah ini, berkumpul dengan orang-orang sholeh tak perlu lagi bersabar. Ternyata, melangkah di jalan dakwah butuh kesabaran dan bahkan yang lebih berat lagi dari itu, kita membutuhkan istiqomah. Ibarat berjalan sendiri kita bisa memutuskan langkah apa saja yang akan kita ambil. Tapi, ketika kita bersama di jalan dakwah, pada akhirnya kita harus memutuskan bersama langkah yang seperti apa yang harus kita lakukan.

Di sini kita butuh sabar lantaran banyak kepala yang terlibat. kesabaran untuk meredam keegoisan kita. Kesabaran untuk tujuan bersama yang lebih besar. Kesabaran untuk tidak lari dan tetap memupuk komitment. Kesabaran untuk mengambil porsinya masing-masing, tanpa menghapus peran orang lain. Kesabaran untuk menerima dan memberi, serta kesabaran bahwa terkadang di jalan dakwah kita harus berkorban lebih banyak dari apa yang kita miliki. Bahkan tak boleh mengharap kembali dan kembalian.

Coba bayangkan semua itu harus kita lakukan terus menerus. Dalam waktu yang relative panjang. Boleh jadi berganti orang. Berganti suasana. Silih bergantinya masalah. Belum lagi persoalan pribadi masing-masing. Kalau dipikir mungkin pingin pegang kepala sendiri sambil narik rambut kali, .heeeh!. Ini terjadi dalam arena dakwah apapun. Di saat seperti inilah kita butuh sekali kesabaran dan istiqomah. Maka bagi mereka yang tak kuat bertahan, tak sabar menjalani dan gugurnya rasa istiqomah boleh jadi mereka sudah turun (futur-insilakh) dan keluar dari kereta yang masih terus berjalan. Begitu kan.

02
Mungkin benar juga kata Syekh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Sebesar-besar karomah adalah memegang istiqamah.  Istiqomah sekelas karomah. Subhanallah. Amazing. Luas biasa. Lantaran perjalanan dakwah tak seperti mencari angin segar. Bertamasya menikmati keindahan alam. Ternyata tak seperti yang kita bayangkan sebelumnya.

Bukankah Perjalanan dakwah adalah sebuah Sunnatullah yang sudah dijalankan oleh Rasullullah SAW. Perjalanan yang membutuhkan kematangan keikhlasan diri, Kematangan ilmu dan Kemapanan Mental. Perjalanan dakwah yang telah dilalui oleh Rasullullah SAW penuh dengan rintangan dan hambatan. Diri, keluarga dan sahabat menjadi pengorbanan yang tak ternilai harganya demi sebuah perjuangan dakwah.

Nabi Nuh AS telah menghadapi cacian kaumnya, Nabi Ibrahim AS dibakar dalam nyala api, Nabi Isa AS dimusuhi, bahkan Nabi Muhammad SAW mendapat ancaman dibunuh setelah seringkali mendapat cacian, hinaan, dan penyiksaan. Tak ada satu pun dari mereka yang bergeming ataupun lemah lalu berhenti dalam dakwahnya, kecuali tetap kokoh dan semakin gigih dalam mengajak untuk menyembah Allah SWT semata. Seperti Allah gambarkan. Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS Ali Imran [3]: 146).


03
Batin kita berbisik, terang saja, nabi dan Rasul. Serasa kesombongan bersebab menolak hidayah secara halus. Inilah penutup pintu hidayah yang tak akan memajukan kualitas kita sebagai hamba Allah. Astaghfirullahal adhim. Maka marilah kita genapkan ikhtiar kita dengan bertanya mencari ibrah; Apa kunci dari semua itu? Keistiqomahan kita inilah kunci pokoknya.

Istiqamah adalah anonim dari thughyan (penyimpangan atau melampaui batas). Istiqâmah adalah berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata Istiqâmah dari kata qaama yang berarti berdiri. Maka tetaplah (istiqamahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(QS 11:112). Maka secara etimologi, Istiqâmah berarti tegak lurus. Sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

Gampangnya jadi muslim yang berIstiqâmah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan akidahnya dalam situasi dan kondisi apapun. Ia bak batu karang yang tegar menghadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti. Ia tidak mudah loyo dalam menjalankan perintah agama. Ia senantiasa sabar dalam menghadapi seluruh godaan. Itulah manusia muslim yang sesungguhnya, selalu Istiqâmah dalam sepanjang jalan.

05
Apabila seorang telah memiliki itu semua, maka ketika berbicara atau berkhutbah atau mengajak ke jalan Allah, niscaya akan anda temukan keimanan memancar dari kedua bola matanya, keikhlasan nampak jelas menghiasi raut mukanya, dan kejujuran terus mengalir bersama kelembutan suaranya, ketenangan iramanya, serta isyarat-isyarat tangannya. Bahkan perkataannya akan meresap ke dalam hati dan melenyapkan kegelapan jiwa. Seperti air sejuk yang meresap di kerongkongan orang yang kehausan, bak nur cahaya yang memusnahkan kegelapan. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dengan petunjuk mereka orang-orang pun memperoleh petunjuk, dakwah mereka akan mendapatkan sambutan yang luas. Dengan nasehat mereka hati bergetar dan mata menangis. Dengan peringatan mereka ahli maksiyat bertaubat dan orang-orang sesat sadar serta kembali ke jalan yang lurus. (A.Nashih Ulwan, Tarbiyah Ruhiyah Petunjuk Praktis Mencapai Derajat Taqwa)

Istiqamah dalam Islam adalah salah satu konsep diri dalam Islam. Dengan istiqamah akan melahirkan pribadi-pribadi yang unggul juga dengan istiqamah seseorang akan mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Karena dengan adanya konsistensi dalam memegang teguh ajaran niscaya Allah akan melimpahkan segala rahmat bagi siapa saja yang dikehendaki. Namun sebaliknya orang-orang yang tidak istiqamah di jalan-Nya, mereka sebagai budak nafsunya, penyembah thaghut dan melakukan durhaka terhadap Allah. Maka tak salah bila Abu Bakar ketika ditanya soal istiqomah ia menjawab: Abu Bakar menjawab, istiqamah adalah bahwa engkau tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun. Mengenai hal ini, Ibnu Qayim Al-Jauzi mengomentari, bahwa Abu Bakar menggambarkan istiqamah dalam bentuk tauhidullah (mengesakan Allah swt.). Karena seseorang yang dapat istiqamah dalam pijakan tauhid, insya Allah ia akan dapat istiqamah dalam segala hal di atas jalan yang lurus. Ia pun akan beristiqamah dalam segala aktivitas dan segala kondisi. (Al-Jauziyah, tt : 331)

06
Karena begitu pentingnya sifat istiqamah itu kita miliki, maka setiap kita harus berusaha untuk menumbuhkannya ke dalam jiwa kita di jalan dakwah. Caranya? 
Pertama, Memahami hakikat dan tabiat jalan dakwah. Dengan memahami hakikat dakwah, dan berbagai keutamaannya, seorang aktivis akan termotivasi untuk senantiasa berpartisipasi dan berkontribusi aktif di jalan dakwah. Dan berantusias untuk terus menjalankan amalan-amalan yang utama. Segala waktu, tenaga, dan potensi yang dimiliki semuanya dikerahkan untuk dakwah, dan segala peluang dan kesempatan dakwah segera disambutnya.

Kedua, Ikhlas. Diantara tanda-tanda ikhlas adalah: fokus untuk menggapai ridha Allah dan kesabaran dalam menempuh suatu proses yang panjang. Seorang aktivis dakwah harus tekun menempuh lamanya suatu proses, lika-liku menuju suatu hasil akhir, dan tibanya kesuksesan di menit-menit terakhir, dan kepenatan beraktivitas di tengah-tengah berbagai manusia yang memiliki berbagai perasaan dan kecenderungan.semua yang dilakukan semata untuk mencari keridhaan Allah. Imam Ahmad pernah ditanya, "Kapan seorang hamba dapat istirahat ?" Beliau menjawab "Ketika awal kaki menginjak surga." Faktor ikhlas inilah yang membuat amal seorang mukhlis bisa konsisten, sedangkan hasil akhirnya dia serahkan sepenuhnya kepada ALlah.

“Maka istiqamahlah, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (qs. 11:112.).

Menurut Ibnu Abbas r.a: tidak ada suatu ayat pun dalam al Quran yang diturunkan kepada Rasulullah yang lebih berat baginya dari ayat ini. Dan diriwayatkan dari Al Hasan: ketika ayat ini turun, Rasululah menjadi sangat serius dan tidak pernah terlihat beliau tertawa. Sebegitu beratnya dan sulit untuk sempurna dalam istiqomah, hingga  Allah perintahkan kita agar mohon ampun kepadaNya. (qs. 41:6).

07
Ketiga, Bergaul bersama orang-orang yang istiqamah. Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; (qs. 18:28). Karenanya, seorang aktivis dakwah harus bersama jamaah. Jalinlah kebersamaan dengan sesama karena ALlah, ikatkan tangan anda dengan tangan mereka, belajarlah dari mereka,saling tolong menolong dengan mereka dalam kebaikan dan ketakwaan, saling menasihati dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang. Hadirilah halaqah-halaqah mereka, majlis-majlis ruhiah mereka, dan barisan-barisan dakwah mereka.

Keempat, Menghayati sirah orang-orang yang istiqamah. Salah satu karunia ALlah kepada para aktivis dakwah Islam adalah, tersedianya berbagai peninggalan turats (warisan khasanah keilmuwan) yang menjadi contoh teladan. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (qs. 12:111).

Kelima, Berdoa memohon pertolongan Allah. Jalan yang juga paling penting dalam menwujudkan sikap istiqamah adalah memohon pertolongan Allah dalam segala urusan dan kondisi, karena hanya kepada Allah semua urusan kelak akan dikembalikan. Doa adalah senjata umat Islam.

08
Mari kita nikmati Buah Istiqamah
Istiqamah memiliki beberapa keutamaan diantaranya: Pertama, Istiqamah merupakan jalan menuju ke surga. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. (QS. 41 : 30). Berdasarkan ayat di atas, istiqamah merupakan satu bentuk sifat atau perbuatan yang dapat mendatangkan tayiid (baca ; pertolongan dan dukungan) dari para malaikat.

Kedua, Istiqamah merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah swt dan pengamalan dari sunnah Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits digambarkan : Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)

Ketiga Keberanian (Syajaah). Muslim yang selalu istiqomah dalam hidupnya ia akan memiliki keberanian yang luar biasa. Ia tidak akan gentar menghadapi segala rintangan dalam kehidupanya. Ia tidak akan pernah menjadi seorang pengecut dan pengkhianat dalam hutan belantara perjuangan.

Keempat, Ithminan (ketenangan). Keimanan seorang muslim yang telah sampai pada tangga kesempurnaan akan melahirkan tsabat dan istiqomah dalam medan perjuangan. Tsabat dan istiqomah sendiri akan melahirkan ketenangan, kedamaian dan kebahagian.

Kelima, Tafaul (optimis). KeIstiqâmahan yang dimiliki seorang muslim juga melahirkan sikap optimis. Ia jauh dari sikap pesimis dalam menjalani dan mengarungi lautan kehidupan. Ia senantiasa tidak pernah merasa lelah dan gelisah yang akhirnya melahirkan frustasi dalam menjalani kehidupannya. Keloyoan yang mencoba mengusik jiwa, kegalauan yang ingin mencabik jiwa mutmainnahnya dan kegelisahan yang menghantui benaknya akan terobati dengan keyakinannya kepada kehendak Allah dan putusanNya.

09
Cara untuk Merealisasikan Istiqamah.
Berikut adalah beberapa kiat dalam mewujudkan sikap istiqamah: 
Pertama, Mengikhlaskan niat semata-mata hanya mengharap Allah dan karena Allah swt. Ketika beramal, tiada yang hadir dalam jiwa dan pikiran kita selain hanya Allah dan Allah. Karena keikhlasan merupakan pijakan dasar dalam bertawakal kepada Allah. Tidak mungkin seseorang akan bertawakal, tanpa diiringi rasa ikhlas.

Kedua, Bertahap dalam beramal. Dalam artian, ketika menjalankan suatu ibadah, kita hendaknya memulai dari sesuatu yang kecil namun rutin. Bahkan sifat kerutinan ini jika dipandang perlu, harus bersifat sedikit dipaksakan. Sehingga akan terwujud sebuah amalan yang rutin meskipun sedikit. Kerutinan inilah yang insya Allah menjadi cikal bakalnya keistiqamahan. Seperti dalam bertilawah Al-Quran, dalam qiyamul lail dan lain sebagainya; hendaknya dimulai dari sedikit demi sedikit, kemudian ditingkatkan lebih baik lagi.

Ketiga, Diperlukan adanya kesabaran. Karena untuk melakukan suatu amalan yang bersifat kontinyu dan rutin, memang merupakan amalan yang berat. Karena kadangkala sebagai seorang insan, kita terkadang dihinggapi rasa giat dan kadang rasa malas. Oleh karenanya diperlukan kesabaran dalam menghilangkan rasa malas ini, guna menjalankan ibadah atau amalan yang akan diistiqamahi.

Keempat, Istiqamah tidak dapat direalisasikan melainkan dengan berpegang teguh terhadap ajaran Allah swt. Allah berfirman (QS. 3 : 101) :Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

10
Kelima, Istiqamah juga sangat terkait erat dengan tauhidullah. Oleh karenanya dalam beristiqamah seseorang benar-benar harus mentauhidkan Allah dari segala sesuatu apapun yang di muka bumi ini. Karena mustahil istiqamah direalisasikan, bila dibarengi dengan fenomena kemusyrikan, meskipun hanya fenomena yang sangat kecil dari kemusyrikan tersebut, seperti riya. Menghilangkan sifat riya dalam diri kita merupakan bentuk istiqamah dalam keikhlasan.

Keenam, Istiqamah juga akan dapat terealisasikan, jika kita memahami hikmah atau hakekat dari ibadah ataupun amalan yang kita lakukan tersebut. Sehingga ibadah tersebut terasa nikmat kita lakukan. Demikian juga sebaliknya, jika kita merasakan kehampaan atau kegersangan dari amalan yang kita lakukan, tentu hal ini menjadikan kita mudah jenuh dan meninggalkan ibadah tersebut.

Ketujuh, Istiqamah juga akan sangat terbantu dengan adanya amal jamai. Karena dengan kebersamaan dalam beramal islami, akan lebih membantu dan mempermudah hal apapun yang akan kita lakukan. Jika kita salah, tentu ada yang menegur. Jika kita lalai, tentu yang lain ada yang mengnigatkan. Berbeda dengan ketika kita seorang diri. Ditambah lagi, nuansa atau suasana beraktivitas secara bersama memberikan sesuatu yang berbeda yang tidak akan kita rasakan ketika beramal seorang diri.

Kedelapan, Memperbanyak membaca dan mengupas mengenai keistiqamahan para salafuna shaleh dalam meniti jalan hidupnya, kendatipun berbagai cobaan dan ujian yang sangat berat menimpa mereka. Jusrtru mereka merasakan kenikmatan dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan cobaan tersebut.

Kesemblian, Memperbanyak berdoa kepada Allah, agar kita semua dianugerahi sifat istiqamah. Karena kendatipun usaha kita, namun jika Allah tidak mengizinkannya, tentulah tidak akan pernah terwujud.

11
Faktor Penghalang Istiqamah.
Syekh Musnid al Qahthany, dalam bukunya, Meniti Jalan Istiqamah, terbitan Pustaka Al Bashirah, menjelaskan beberapa faktor penghalang istiqamah, di antaranya; 
Pertama, menunda-nunda (taswif) istiqamah. Banyak orang yang mengerti, keutamaan istiqamah. Namun, kadang menunda istiqamah, menunda bertobat kepada Allah. Seolah-olah, hidup matinya, di tangan dirinya, bukan di tangan Allah.  

Kedua, teman-teman yang buruk. Banyak orang yang ingin bertaubat dan istiqamah. Tapi, akibat berteman dengan orang tidak baik, akhlaknya buruknya. Dirinya tidak dapat istiqamah. Benarlah, sabda Rasulullah, untuk melihat iman seseorang, maka lihatlah kepada siapa yang bergaul. Bagi yang ingin segera bertaubat, istiqamah di atas jalan Islam. Segeralah, dan secepatnya meninggalkan temannya yang perangainya tidak baik, dan bergaul dengan orang-orang shaleh.

Ketiga, keluarga dan kerabat. Salah satu, yang kadang menjadi penghalang dalam menegakkan agama, istiqamah dengan ajaran Islam, adalah keluarga dan kerabat dekat. Banyak, yang ingin berdakwah, menyerukan kebenaran, istiqamah di atas Islam. Tapi tersandung pada keluarga, dan kerabat: diboikot, tidak diberi ongkos kuliah, tidak dinafkahi, isolir sama keluarga, hingga diusir, tidak diakui keluarga.  Bagi, siapa saja yang mengalami nasib seperti di atas, hendaknya jangan berputus asa. Bersabar, bertawakal, berdoa kepada Allah, agar dikuatkan menghadapi cobaan, serta mendoakan keluarganya agar diberi hidayah oleh Allah. Sehingga, dapat menerima kebenaran Islam dan dapat mendukung dakwah Islam.

12
Keempat, terlalu larut dalam perkara-perkara mubah. Menurut Ibnu Qayyim rahimahullah: bahwa fase-fase godaan syetan pada manusia, yakni membuat manusia tenggelam dan berlebihan dalam perkara mubah, dengan alasan hukumnya mubah. Perkara-pekara mubah itu, seperti; terlalu banyak tidur, terlalu banyak makan, serta terlalu banyak olah raga tertentu. Perkara-perkara tersebut, bisa melalaikan seseorang dari perkara-perkara wajib, misalnya; shalat berjamaah, membaca Al quran dan berdzikir pada Allah.    

Kelima, kekhawatiran tidak dapat istiqamah dengan sempurna. Salah satu pintu syetan, adalah membuat seorang hamba berprasangka terhadap dirinya. Disebabkan, prasangka dirinya tidak bisa istiqamah secara sempurna, seseorang akhirnya memilih tidak istiqamah. Anggapan mereka, dari pada tidak bisa konsisten melaksanakan ajaran Islam, lebih baik sekalian tidak. Orang model seperti ini telah dirasuki syetan, sebelum berusaha menjalankan agama, dirinya memilih jalan tetap meninggalkan ajaran Islam. Akhirnya, hidayah kian jauh darinya, dirinya kian terjerembab dalam buaian syetan.

Keenam, Pekerjaan. Betapa banyak di antara kita, yang futur, tidak istiqamah akibat pekerjaan. Dulu, ketika masih di kampus, dirinya terkenal sebagai aktifis yang istiqamah menegakkan ajaran Islam dalam dirinya, mendakwahkan ajaran Islam di tengah-tengah kampus. Tapi, apalah daya, ketika pilihan pekejaan, profesi yang menjadi obsesi dan orientasi utamanya, dirinya rela meninggalkan sebagian ajaran-ajaran Islam. Dirinya takut dipecat, dimutasi, kehilangan kedudukan, jika dirinya masih konsisten dengan ajaran Islam.

Alhamdulillah share sudah tertunaikan. Mudah-mudahan bisa di pahami dan bermanfaat.

TANYA JAWAB

Pertanyaan M01

1. Kalo perjanjian kontrak di sekolahkan oleh yayasan. Terus kalo tidak mematuhi denda sampai 100jt, padahal uang yang dikeluarkan oleh yayasan tersebut hanya 30jt. Hukumnya bagaimana? karena ini banyak yang dilakukan yayasan untuk mengikat dosen S2 tapi digajih dengan tidak layak. Trims. Salah uang kuliah yang dikeluarkan hanya 17,5jt, tapi kalau tidak mentaati menjadi 100jt. Apakah termasuk riba?
Jawab
Waduh ni oot (out of thema). Tapi ngga papa deh; mungkin saya tidak berani mengatakan itu riba. Tapi ini perjanjian yang dholim yang tidak dilandaskan pada itikad untuk bersyari'at yang benar. Baiknya tidak disetujui. Prinsip akad syar'i itu 'an taradhim baina humma; keridhoaan anatara keduanya. Jika Anda ridho di dholimi ya sudah dijalani. Jika tidak jangan ambil

2. Mau tanya ustad apa ada kiat khusus untuk dakwah di keluarga kita sendiri agar tidak terpancing  emosi dan ingin lebih sabar lagi?
Jawab
Subhanallah. 
a) yakinkan pasangan kita bahwa kita akan menjadikan keluarga kita menjadi keluarga dakwah yang siap mengarungi samudra dakwah ini. Sehingga dakwah menjadi nafas kehidupan. Seperti Muhammad dan Khotijah. Seperti ibrahim dan hajar menemukan pancaran air zam-zam yang bisa di nikmati sampai dengan sekarang. 
b) selalu ada komunikasi yang baik 
c) masing-masing kita adalah guru & contoh  tauladan bagi yang lain. Bukan mengurui. 
d) saling dan selalu mendukung tuk berkembang dan saling mengingatkan. 
e) yakinlah kita akan bersama menghadapi ujian di jalan dakwah ini. 
f) bersabar dan istiqomahlah.
(Nantikan bukunya: senandung cinta kekuarga di jalan dakwah. Eit....promo)
Binashrillah

Pertanyaan M02

1. Bagaimanakah caranya agar bisa kembali dari "futur" yang menyapa. Apakah merasa lelah terhadap semua beban adalah bagian dari penyebab diri tidak istiqomah?
Jawab
Kita kembali pada niatan awal kita untuk menjalani kehidupan ini agar ketika kembali kepadaNya menjadi husnulkhatimah. Dan kita sedang berlomba dengan jatah hidup kita masing-masing. Futur biasanya bersebab kecewa. Kecewa karena harapan tak sesuai dengan kenyataan. Ini semua biasanya karena harapan itu di sandarkan kepada manusia. Begitu orang tersebut mengecewakan maka futur jadinya. Jika tehadap beban faktanya makin hari tak semakin ringan. Bahkan para rasul pun bebannya jauh melebihi yang kita pikul. Maka disetiap beban ada maqon yang akan kita raih. Nikmati dengan penuh sabar dan syukur. Hadapi kenyataan sebagai taqdir Allah yang terbaik untuk kita. Dan yakini Allah sedang menyiapkan tempat yang terindah bagi yang menjalaninya.

2. Ustadz apakah share tentang kajian islam ke grup-grup non kajian juga termasuk dakwah? Tapi takutnya dibilang sok alim, paling cuma copas, padahal niat kita baik berbagi ilmu, bagaimana caranya supaya kita tetap kebal dengan omongan-omongan yang begitu agar kita gak menyerah kadang-kadang udah dicoment terus kita jadi males berbagi lagi dan menyerah.
Jawab


Bersabar bunda. Ya itu termasuk dakwah in sya Allah. Di saat seperti inilah iman terasa banget. Istiqomah di butuhkan banget. Godaan tak akan sepi. Begitulah tabist jalan dakwah. Anggap saja suara suara sumbang itu motivasi. Siapkan ruang di hati kita untuk di sakiti, agar kalo ada yang menyakiti kita sudah siapkan tempatnya. Dalam mengcopas sebutkan sumbernya.

Pertanyaan M03



1. Saya kadang kala harus menolak tanggung jawab yang akan dibebankan ke saya disebabkan karena saya sadar tidak akan bisa menjadikan lingkungan kerja saya menjadi lebih baik karena kuatnya kekuasaan yang melindungan kebatilan, apakah sikap saya ini salah ustad karena saya memang tidak bisa membiarkn lingkungan kerjanya abu-abu / gak baik hal ini saya lakukan agar saya tidak beban moral? Saya pernah bergabung pada grup alumni sekolah SMA lewat WA seperti ini tapi sewaktu bergabung saya sudah bilang mau bergabung kalo bisa menjadi lebih baik tapi dalam perjalanan belum seminggu banyak yang share gambar yang sebetulnya gak pantas untuk di posting. Kemudian saya berusaha mengingatkan tapi tidak diterima alasannya grup tersebut untuk kangen-kangenan karena sudah lama gak ketemu akhirnya saya keluar dari grup walau ada diantara anggota minta tetap bertahan karena memang itulah dakwah, bagaimana sikap saya dengan keluarnya dari grup tersebut ustad?
Jawab
Sebenarnya dakwah itu mudah. Karena dilakukan sesuai kemampuan kita. Misal: jika kita tidak bisa mencegah kemungkaran secara langsung bisa dilakukan dengan lisan atau tulisan atau minimal doa. Bahkan menunjukan bahwa kita orang yang sholih / baik di tengah lingkungan yang buruk itu sudah dakwah. Keluar dari lingkungan yang buruk menuju yang baik itu bagus tidak salah.

Pertanyaan M04

1. Dakwah itu hukumnya fardu ain atau fardu kifayah?
Jawab


Dakwah hukumnya fardu ain. Dijalankan sesuai dengan kemampuannya.

2. Jika kita belum sanggup berdakwah apakah kita berdosa bila tidak melakukannya? Pertanyaan ini saya ajukan berkenaan dengan diri saya sendiri yang belum sanggup dakwah khususnya pada teman non muslim. Saya punya beberapa teman dekat katolik, supir hindu, tetangga nasrani. Mereka orang-orang baik bahkan secara ahlak kadang lebih baik daripada tetangga yang muslim. Melihat kebaikannya saya tau bahwa semua kebaikan mereka sia-sia kalo mereka tidak masuk ke dalam Islam. Sebetulnya kalo ingat hal itu saya merasa kasihan sama mereka, tapi untuk mengajak mereka ke dalam Islam saya belum sanggup. Apakah saya berdosa karena membiarkan mereka di jalan yang kita tau tidak akan membawa mereka pada keselamatan? Apa alternatif metode dan cara dakwah untuk orang seperti saya yang belum berani dakwah secara langsung?
Jawab
Sampaikankanlah walau satu ayat. Sesuai kesanggupan kita. Dalam batas yang paling minimalis adalah mendoakan mereka. Terhadap non muslim, kita harus pelan. Halus jika tidak berani untuk tegas. Cara yang paling strategis biasanya tunjukan dengan keteladanan keseharian kita bahwa muslim itu baik dan mudah berbuat baik. Syukur bisa menjadi tauladan bagi mereka. Tanpa kata pun cara itu in sya Allah mereka akan kagum atau minimal akan menhormati kita. Apalagi mereka baik.

3. Gimana cara menjaga istiqomah dan menghilangkan rasa jenuh di jalan dakwah?
Jawab
Nikmati dan terus kuatkan maknawiyah kita. Bergabunglah dengan orang-orang sholih.

4. Seorang istri yang tadinya aktivis dakwah, tapi mengkhianati amanah, akhirnya sama suami diminta untuk tetap di rumah saja, tidak boleh kerja, tidak boleh aktiv berdakwah, paling pergi ngaji untuk dirinya / liqoat itupun hanya di sekitar tempat tinggal saja. Apa yang harus dilakukan istri. Bukankah ini mrpkn kefuturan buat si istri? Bagaimana untuk menutupi kefuturan ini? Apa yang harus dilakukan di rumah yang bisa menggantikan kegiatan dia selama ini. Karena si istri takut kefuturannya / tidak aktif dengan jamaah malah akan membawa penurunan iman
Jawab
Semua orang pasti pernah punya salah. Yang paling bahaya adalah tidak merasa salah dan jika salah secara sadar ia bangga. Carilah waktu yang terbaik untuk minta ijin kembali pada suami sebaiknya segera perbaiki diri dan tetap bergabung dengan jamaah dakwah. Banyak yang bisa dilakukan di rumah: tilawah, tahfidz/ hafalan, menulis, ngaji via wa dll. Untuk menjaga diri agar tidak futur kembali.

Pertanyaan M06

1. Mengapa harus sabar dulu baru kemudian shalat? Ista'iinuu bisshobri wassholaah.
Jawab
Menurut tafsir al azhar begini:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْن

"Wahai orang-orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (ayat 153).

Maksud ini adalah maksud yang besar. Suatu cita-cita yang tinggi. Mene­gakkan kalimat Allah, memancarkan tonggak Tauhid dalam alam. Membentas perhambaan diri kepada yang selain Allah. Apabila langkah ini telah dimulai, halangannya pasti banyak, jalannya pasti sukar. Bertambah mulia dan tinggi yang dituju, bertambah sukarlah dihadapi. Oleh sebab itu dia meminta semangat baja, hati yang teguh dan pengorbanan-pengorbanan yang tidak mengenal lelah. Betapapun mulianya cita-cita, kalau hati tidak teguh dan tidak ada ketahanan, tidaklah maksud akan tercapai. Nabi-nabi yang dahulu daripada Muhammad s.a.w: semuanya telah menempuh jalan itu dan semuanya meng­hadapi kesulitan.

Kemenangan mereka hanya pada kesabaran. Maka kamu orang yang telah menyatakan iman kepada Muhammad wajiblah sabar, sabar menderita, sabar menunggu hasilnya apa yang dicita-citakan. Jangan gelisah tetapi hendaklah tekap hati. Sampai seratus satu kali kalimat sabar tersebut dalam al-Quran. Hanya dengan sabar orang dapat mencapai apa yang dimaksud. Hanya dengan sabar orang bisa mencapai derajat Iman dalam perjuangan. Hanya dengan sabar menyampaikan nasihat kepada orang yang lalai. Hanya dengan sabar kebena­ran dapat ditegakkan.

Lebih 25 tahun Ya'kub sabar menunggu pulang anaknya yang hilang, sampai berputih mata; akhirnya anaknya Yusuf kembali juga. Tujuh tahun Yusuf menderita penjara karena fitnah; dengan sabarnya dia jalani nasibnya; akhirnya dia dipanggil buat menjadi Menteri Besar. Bertahun Ayub menderita penyakit, sehingga tersisih dari anak isteri; akhirnya penyakitnya disembuhkan Tuhan dan setelah pulang ke rumah didapatinya anak yang 10 telah menjadi 20, karena semua sudah kawin dan sudah beranak pula. Ibrahim dapat menyem­purnakan kalimat-kalimat ujian Tuhan karena sabar. Demikianlah Musa de­ngan Bani-Israil. Ismail membangun angkatan Arab yang baru. Isa Almasih dengan Hawariyin semuanya dengan sabar. Ada Nabi yang nyaris kena hukuman karena tidak sabar; yaitu Nabi Yunus. Ditinggalkannya kaumnya karena seruannya tidak diperdulikan. Maka buat melatih jiwa dia ditakdirkan masuk perut ikan beberapa hari lamanya. Tetapi keluar dari sana dia membangun diri lagi dengan kesabaran. Sebab itu sabarlah perbentengan diri yang amat teguh. 

Maka apabila ketenangan telah diperteguh dengan shalat, kemenangan pastilah datang. Sabar dan shalat; keduanya mesti sejalan. Apabila kedua resep ini telah dipakai dengan setia dan yakin, kita akan merasa bahwa kian lama hijab dinding kian terbuka. Berangsur-angsur jiwa kita terlepas dari belenggu kesulitan itu sebab Tuhan telah berdaulat dalam hati kita.

Dalam tafsir mafatih al ghaib dijelaskan begini: meminta pertolongn terhadap maslah-masalah dengan bersabar maksudnya menahan hawa nafsu terhadap sesuatu yang tidak di sukai dan dengan sholat maksudnya menyendirikan sholat dengan dzikir karena mengagungkan keadaan sholat seperti dalam hadis bahwa ketika nabi SAW di hadapkan dengan suatu perkara maka beliau bergegas untuk sholat, namun ada yang mengatakan bahwa ayat ini khitobnya kepada qoum yahudi karena suatu perkara yang menggangu mereka dari kepercayaan yang menyesatkan mereka dan cinta kedudukan maka mereka di perintah untuk bersabar yaitu dengan berpuasa karena dengan berpuasa dapat memecahkan hawa nafsu dan dengan sholat karena sholat akan mewariskan kekhusyu'an dan terhindar dari sifat sombong.sesungguhnya sholat ituperkara yang berat kecuali bagi orang-orang yang khusu' maksudnya tetap keta'atanya kepada Alloh SWT.

"Hai orang-orang yang beriman mintalah pertolongan untuk akhirat kelak dengan bersabar dalam hal keta'atan dan cobaan dan dengan sholat,allah mengkhususkan sholat dengan dzikir karena berulang-ulangnya sholat dan keagunganya. Sesungguhnya alloh bersama orang-orang yang bersabar."

Sabar dan sholat termasu ciri ta'at kepada Alloh. Allah berfirman dalam al-Qur`an :

'' ﻭَﺍﺳْﺘَﻌِﻴﻨُﻮﺍ ﺑِﺎﻟﺼَّﺒْﺮِ ﻭَﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻭَﺇِﻧَّﻬَﺎ ﻟَﻜَﺒِﻴﺮَﺓٌ ﺇِﻟَّﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺨَﺎﺷِﻌِﻴﻦ ''

(dan mintalah pertolongan kalian semua dengan melakukan Sabar dan Shalat. Sesungguhnya shalat adalah hal yang berat (untuk didirikan) kecuali atas orang-orang yang takut (terhadap Allah)

Dalam tafsir Mafatih al-Ghaib dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan " ﺍﻟﺼﺒﺮ '' (al-Shabr; Sabar) di sini adalah '' ﺍﻟﺼﻮﻡ '' (al-Shaum; Puasa), karena orang yang berpuasa itu bisa sabar dari makanan dan minuman. Dan barangsiapa yang bisa menahan diri dari keinginan perut dan kemaluan maka hilanglah darinya kotoran-kotoran oleh karena cinta dunia.

Lantas apabila shalat telah berkumpul terhadanya maka hati menjadi terang dengan cahaya ma'rifat Allah swt. Dan sedangkan '' ﺍﻟﺼﻮﻡ '' (al-Shaum; Puasa) yang merupakan hal yang dimaksud dengan " ﺍﻟﺼﺒﺮ '' (al-Shabr; Sabar) dalam ayat tersebut itu didahulukan dari pada " ﺍﻟﺼﻼﺓ '' (al-Shalah; Shalat) itu karena pengaruh puasa untuk menghilangkan hal-hal yang tidak patut/tidak seharusnya terjadi, sementara pengaruh shalat itu untuk menghasilkan hal-hal yang patut/seharusnya terjadi. Maka dengan demikian sudah selayaknya upaya peniadaan didahulukan atas upaya pengadaan. Dua tafsir ini cukup memadai untuk kita mengamalkan dari keduanya. Binashrillah

Pertanyaan M07

1. Apakah memberi contoh baik itu juga termasuk dakwah?
Jawab
Betul termasuk bunda, dalam bahasa al quran al mau'idhah hasanah (qs. An nahl 16).

Pertanyaan M08

1. Assalamualaikum ketika kita istiqomah kepada pekerjaan tapi dalam perjalanan ada yang bilang pekerjaan itu haram? apa yang harus dilakukan?
Jawab
Ditabayun dulu jika memang itu pekerjaan yang salah atau haram tentu tidak boleh istiqomah dalam keburukan atau kemungkaran. Jika sudah pasti itu haram sebaiknya segera dihentikan dan cari yang aman thayyib dan halal. Binashrillah.

2. Bagaimana menjaga semangat istiqomah  tetangga agar nggak lepas pakai jilbab nya?
Jawab
a. Yakinkanlah banyak fadhilah berhijab. Karena itu perintah Allah yang sama wajibnya seperti sholat. PASTI akan banyak manfaat bagi kebaikan manusia jika melaksanakan perintahNya. Karena mustahil Allah perintahkan sesuatu pada hambaNya bermaksud jahat. Mustahil.

b. Jaga silaturahim dengannya, agar ia tidak merasa sendirian. Bila memungkinkan sekali kali ajak bertemu dengan komunitas yang berjilbab. 

c. Bantulah ia ketika menemui kesulitan dan ujian. Karena setiap kebaikan pasti tidak sepi dari ujian.



Pertanyaan M09

1. Ustadz, bagaimana cara membagi waktu antara dakwah dan keluarga, sedangkan tuntutan dari keluarga besar cukup besar, misal rumah harus selalu rapi padahal kami punya anak-anak kecil yang aktif walau ada art rumah selalu berantakan paling hanya sebentar rapinya, lalu tidak boleh sering-sering keluar padahal saya harus keluar untuk baksos, dll. Jazakallah khair
Jawab
Subhanallah.... itulah ujian bunda. Memang dakwah tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan kita. Yang kita butuhkan 

  • saling pengertian dan saling memahami suami istri dan anggota keluarga para aktivis dakwah. 
  • ada manajemen waktu yang baik 
  • ada saatnya kita harus berbagi dan memberi prioritas terhadap aktivitas yang ada.
  • jangan lepas dari jamaah dakwah agar dakwah berjalan di topang oleh banyak orang dalam ukhuwah islamiyah yang saling berbagi peran dan beban.
Kita tutup dengan Doa Kafaratul majelis

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Selasa, 02 Juni 2015
Narasumber : Ustadz Umar Hidayat M. Ag
Tema : Kajian Islam
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Whatsapp Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala
Link Bunda 1

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT