SUNNAH DAN ADAB PUASA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, June 15, 2015

Saudaraku seiman setelah memahami syarat sah dan rukun puasa, ada baiknya bagi kita untuk mempelajari dan memahami sunnah dan adab puasa di bulan ramadhan, tujuannya adalah agar waktu kita di bulan tersebut benar-benar bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk melakukan aktivitas ibadah yang bisa mendatangkan banyak pahala dan keridhaan dari Allah عز و جل.

Di antara perkara yang menjadi sunnah dan adab bagi orang yang berpuasa adalah :

Makan sahur

Berdasarkan Hadits yang diriwayatkan dari : 

>Anas bin Malik رضي الله عنه, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

 تسحروا، فإن في السحور بركة 

Artinya : “Sahurlah kalian, sesungguhnya pada ( makanan ) sahur terdapat berkah.” ( HR. Al-Bukhari : 1923, dan Muslim : 1095 )

>‘Amr bin Al-‘Ash berkata : Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

 فصل ما بين صيامنا و صيام أهل الكتاب أكلة السحر

Artinya : “Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahlul kitab ( Yahudi dan Nasrani ) adalah makan sahur.” ( HR. Muslim : 1096, Abu Dawud : 2343, At-Tirmidzi : 709, dan An-Nasa’i : 4/46 )

Sahur bisa terealisasi walaupun dengan seteguk air, dari Abdullah bin ‘Amr bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

 تسحروا و لو بجرعة ماء

Artinya : “Sahurlah kalian walaupun dengan seteguk air.” ( HR. Ibnu Hibban : 3476 )

Seandainya memungkinkan untuk makan kurma ketika sahur maka hal itu lebih baik, berdasarkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

 نعم سحور المؤمن التمر

Artinya : “Sebaik-baik sahur seorang Mukmin adalah kurma.” ( HR. Abu Dawud : 2345, dan Ibnu Hiban : 3475 )

Mengakhirkan sahur

Berdasarkan hadits dari :

>Anas dari Zaid bin Tsabit رضي الله عنهما berkata :

تسحرنا مع النبي صلى الله عليه و سلم ثم قام إلى الصلاة فقلت : كم بين الأذان و السحور ؟ قال : قدر خمسين آية.

Artinya : “Kami sahur bersama Nabi صلى الله عليه وسلم kemudian beliau berdiri untuk shalat.” Akupun ( Anas ) bertanya : berapa jarak antara adzan dan sahur ? dia ( Zaid ) berkata : sekitar 50 ayat. ( HR. Al-Bukhari : 1921, dan Muslim : 1097 )

>Unaisah bintu Habib berkata : Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : “Apabila Bilal mengumandangkan Adzan ( adzan yang dimaksud adalah adzan yang pertama yaitu sebelum masuk waktu subuh ) maka makan dan minumlah, dan apabila Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan Adzan maka janganlah kalian makan dan minum lagi. ( HR. An-Nasa’i : 2/10, Ahmad : 6/433, dan Ibnu Hibban : 3474 )

Apabila terdengar adzan fajar/subuh sedangkan ditangannya masih terdapat makanan dan minuman maka boleh baginya untuk melanjutkan makan dan minumnya tersebut, berdasarkan hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata : Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

 إذا سمع أحدكم النداء و الإناء على يده، فلا يضعه حتى يقضي حاجته منه

Artinya : “Apabila salah seorang diantara kalian mendengar adzan sedangkan bejana ( tempat makan atau minum ) masih berada ditangannya, maka jangan meletakkannya hingga dia selesaikan keperluannya ( makan/minumnya ). ( HR. Abu Dawud : 2333, dan Al-Hakim : 1/427, lihat shahih Al-Jaami’ : 607 )

Menyegerakan berbuka

Berdasarkan hadits dari Sahl bin Sa’ad رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
لا يزال الناس بخير، ما عجلوا الفطر

Artinya : “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selagi ( masih ) menyegerakan berbuka.” ( HR. Al-Bukhari : 1957, dan Muslim : 1098 )

>Berbuka dengan makanan yang menyegarkan, kurma atau air.

Dari Anas رضي الله عنه, beliau berkata : “Adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم berbuka dengan makanan yang menyegarkan sebelum shalat ( maghrib ), jika tidak dijumpai makanan yang menyegarkan maka dengan kurma, jika tidak dijumpai maka beliau minum beberapa teguk air.” ( HR. Abu Dawud : 2356, At-Tirmidzi : 692, dan lihat Ash-Shahihah : 2065 )

>Ketika berbuka membaca doa :

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَ ابْتَلَّتِ العُرُوْقُ وَ ثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ 

Artinya : “Telah hilang rasa dahaga, telah basah kerongkongan dan telah diperoleh pahala in syaa Allah.” ( HR. Abu Dawud : 2357, An-Nasa’i dalam Al-Kubro : 3329, dan lihat Al-Irwa’ : 920 )

>Dermawan.

>Membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya.

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata : “Adalah Nabi صلى الله عليه وسلم orang yang paling dermawan dalam kebaikan, kedermawan beliau lebih ( tampak ) lagi di bulan ramadhan yaitu ketika Jibril datang menemui beliau, adalah Jibril selalu menemui beliau pada setiap malam dibulan ramadhan hingga selesai, Nabi صلى الله عليه وسلم membacakan kembali Al-Qur’an kepadanya, apabila Jibril datang menemui beliau maka beliau lebih dermawan dalam kebaikan dari angin yang berhembus. ( HR. Al-Bukhari : 6, dan Muslim : 2308 )

>Meninggalkan semua perkara yang bisa menghapus pahala puasa, yaitu berupa kemaksiatan yang tampak maupun tersemubunyi.

Wajib bagi kita untuk menjaga lisan kita dari senda gurau yang tidak bermanfaat, perkataan dusta, ghibah, namimah ( adu domba ), perkataan keji, permusuhan, perdebatan, dan menahan anggota tubuh kita dari perkara yang di haramkan, sesungguhnya ini adalah rahasia puasa kita yaitu UNTUK MERAIH KETAQWAAN, sebagaimana firman Allah عز و جل :

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

Artinya : “…Di wajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana di wajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalian bertaqwa.” ( Al-Baqarah : 183 )

Oleh karena itu Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda : “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, dan melakukannya ( kedustaan ), Allah عز و جل tidak memiliki keperluan dengannya walaupun dia meninggalkan makan dan minumnya.” ( HR. Al-Bukhari : 1903, AbuDawud :2345 ,dan At-Tirmidzi : 702 )

Dan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersada : “Apabila pada hari puasa salah seorang diantara kalian, maka hendaknya jangan berkata keji, jangan membuat keributan dan jangan bertindak bodoh, jika ada orang yang mencela/menghinanya atau memeranginya maka hendaknya dia mengatakan : saya sedang puasa.” ( HR. Al-Bukhari : 1904, dan Muslim : 1151 )

Pelajaran yang dapat dipetik dari kedua hadits di atas adalah : bahwa kemaksiatan ini akan bertambah buruk apabila dilakukan saat puasa, dan dia akan mengotori ibadah puasa, bahkan terkadang bisa mengakibatkan hilangnya pahala puasa seseorang. ( lihat Fathul Baariy : 4/140-141 )

Apabila dicela/dihina maka cukup mengucapkan : SAYA SEDANG PUASA.
Di sunnahkan bagi orang yang dihina/dicela untuk mengucapkan : SAYA SEDANG PUASA, berdasarkan keterangan hadits dari Abu Hurairah diatas, dan di sunnahkan pula untuk menampakkan perkataan tersebut karena adanya 2 faedah  darinya :

>Menginformasikan kepada sang pencela bahwa orang yang di celanya tidak meninggalkan perlawanan kepadanya melainkan karena adanya sebab, yaitu : dirinya dalam keadaan puasa ( bukan karena lemah ).

>Mengingatkan kepada sang pencela bahwa orang yang berpuasa tidak boleh mencela orang lain, maka dari sini terkandung sebuah pesan, yaitu larangan untuk mencela.

Demikianlah pembahasan singkat mengenai sunnah dan adab puasa, semoga tulisan yang ringkas ini bisa menambah khasanah ilmu bagi kita semua, dan yang lebih kita harapkan adalah adanya tekad yang kuat untuk bisa mengamalkannya pada ramadhan tahun ini maupun yang akan datang, hingga ibadah puasa yang kita lakukan nanti akan diwarnai dengan aktivitas ibadah yang lebih bermanfaat, berkualitas dan bernilai dihadapan Allah عز و جل. Dan kita juga berharap agar semua aktivitas ibadah kita selama ini dan yang akan kita kerjakan nantinya selalu didasari keikhlasan kepada Allah عز و جل semata, dan semoga Allah عز و جل menjadikannya sebagai pemberat timbangan amal shalih kita di suatu hari yang tidak bermanfaat lagi harta kekayaan dan anak-anak kecuali orang-orang yang datang menemui-Nya dengan hati yang selamat.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم، و آخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.
Numana, 25 Sya’ban 1436 H
Abu Kayyisah Yudi Eko Prasetya, Lc.

TANYA JAWAB

Pertanyaan M01

1. Ustadz.. bagaimana cara memaksimalkan ibadah bulan Ramadhan bagi yang sedang menstruasi. Terkadang sebagian dari kami ada yang merasa kecil hati karena tidak bisa berpuasa dan sholat. Terlebih lagi jika menstruasinya di 10 malam terakhir, dan menstruasinya lama. Apakah dengan dzikir saja itu cukup ustadz? Mohon penjelasannya mengenai cara memaksimalkan ibadah bulan Romadhon bagi yang sedang menstruasi. Dan apa saja yang harus kami lakukan? Syukron..
Jawab
Perlu diingat bahwa wanita yang sedang kedatangan masa haidh diharamkan melakukan suatu ibadah,baik sunnah amaupuh ibadah fardhu. Jika ia adalah seorang wanita yang bersemangat melakukan beragam ketaatan maka dapat dilakukan di rumah, seperti menyiapkan buka puasa maupun sahur bagi anggota keluarga. Ini mengandung pahala. Wallahu alam.

2. Bagaimana menghidupkan Ramadhan untuk muslim yang tinggal di negeri non muslim karena bagaimanapun dan mau tak mau terbawa suasana lingkungan seperti beban kerja atau kuliah tetap sama dengan bulan-bulan lain. Di tambah lagi kurangnya mendengar tausiyah agama. Ibadah apa yg mesti kita perbanyak utk menghidupkan Ramadhan kita?
Jawab
Menjalankan siyam ramadhan di negeri mayoritas non muslim memang memiliki tantangan tersendiri. Semakin besar godaan keimanan maka makin besar pahala yang didapat. Solusinya adalah membentuk komunitas muslim dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan guna memaksimalkan amalan ramadhan. Wallahu alam.

Pertanyaan M02

1. Apa hukumnya minta maaf dengan teman sahabat kerabat dan handai taulan sebelum masuk ramadhan
Jawab
Memohon maaf kepada keluarga sebelum memasuki ramadhan tidak ada tuntunannya sar'i sunnah Nabi saw. Namun bukan berarti hal tersebut tidak boleh dilakukan. Karena meminta maaf adalah kewajiban yang harus segera ditunaikan di dunia sebelum datangnya hari di mana segala yang berharga tidak berguna lagi.

2. Apa hukumnya kita dalam keadaan berpuasa terus membunuh hewan (semut)(kecoak) dengan menyemprotkan kepasukan mereka ustd? saya amat kasihan sama mereka tapi ini perintah dari bu bos tidak bisa mengelak. Mohon solusinya terima kasih
Jawab
Membunuh binatang yang merayap bila dilakukan secara sengaja, maka merupakan suatu kesalahan. Namun jika ada alasan yang dibolehkan seperti mengganggu perabotan rumah, mengotori makanan atau membersihkan tempat yang kotor,maka hal ini tidak bermasalah. Sejatinya seseorang memberikan kasih sayang kepada binatang. Semua hadits menyebutkan " Sayangilah yang ada di bumi, maka yang ada di langit akan menyayangimu". Wallahu alam.

3. Assalamualaikum ustadz, kaffarot bisa dilakukan dengan puasa 2 bulan berturut-turut, jika sebulan ramadhan ditambah sebulan syawal boleh kah ustadz?
Jawab
Kenapa kaffarot tidak dilakukn dengan segera di bulan lain tanpa harus menunggu sampai datangnya ramadhan yang berikutnya? Apakah ada jaminan bagi kita bahwa kita akan berjumpa dengan ramadhan pada tahun-tahun berikutnya. Sungguh para ulama dahulu manakala mereka telah berpisah dengan bulan ramadhan mereka menangisinya dan bersedih melebihi perpisahan dengan orang yang dicintai. Karena bulan magforoh dan rahmat telah pergi meninggalkan mereka sementara tidak ada jaminan akan berjumpa dengan nya. Wallahu alam.

4. Banyak hadist yang menjelaskan bagaimana rasul makan minum saat berbuka puasa yakni dengan air atau kurma. Adakah yang menjelaskan bagaimana rasul makan minum saat sahur, makanan apa yang baik dan di sunnahkan?
Jawab
Sunnah-sunnah puasa adalah amalan-amalan yang disunnahkan yang mengandung pahala selama menjalani siyam ramadhan. Adab-adab puasa adalah hal-hal yang terkait dengan etika bagaimana seharusnya kita berpuasa sebagaimana Nabi saw menjalaninya selama ramadhan sehingga jauh lebih bermakna sesudah ramadhan nanti. Ada sisi kemiripan dan perbedaan. Adab lebih khusus, sedangkan sunnah bersifat umum. Wallahu alam. Di saat sahur disunnahkan makan kurma,minum air, silahkan dinaikkan scrollnya huda 

5. Afwan ustad, adakah perbedaan pengertian antara sunah-sunah puasa dengan adab-adab puasa?? atau bahasan tadi semua itu adalah adab puasa dan pengerjaannya adalah sunnah ataukah ada khusus sunah-sunnah puasa dan ada juga adab-adab dalam berpuasa, mohon penjelasannya.
Jawab
Mengenai dzikir sesudah shalat taraweh ada 2 buah hadits. Hadits pertama diriwayatkan oleh Abu Daud dan An Nasai, yg berbunyi "سبحان الملك القدوس". Dibaca tiga kali. Pada kali ketiga boleh ditambah sesudah membaca dzikir tsb dgn dzikir berikut "قدوس ربنا ورب الملائكة والروح". Adapun doa ketik lailatul qodr adalah doa yang masyhur yaitu أللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عنا  wallahu alam.

6. Ustadz.. saya punya anak di bawah 2 th. Pengennya kalo puasa ramadhan lengkapnya dengan taraweh. Tapi sepertinya anak saya belum memungkinkan di ajak ke masjid. Apa yang harus saya lakukan ustadz?
Jawab
Mendidik anak agar kelak melaksanakan shalat secara berjamaah di masjid adalah suatu kewaiiban bagi orangtua, terlebih jika anak laki-laki. Agama tidak membebankan seseorang di luar kesanggupannya. Walau demkian ibu tetap dapat memaksimalkan ibadah malam di rumah melihat kondisi yang tidak memungkinkan ke mazjid. Lakukanlah amalan layaknya amalan yang dilakukan masyarakat, seperti shalat taraweh, tilawatul quran, dsb. Wallahu alm.

Pertanyaan M03

1. Assalamualaikum pak ustadz, saya mau tanya tentang doa berbuka puasa yang selama ni kita kenal bukan yang seperti bapak tuliskan di atas. KaLo kita memakai doa yang sebelumnya boleh tidak (allohuma lakasumtu)?
Jawab
Doa berbuka puasa di atas adalah doa yang ma'tsur dari Nabi saw. Adapun doa berbuka dengan permulaan أللهم لك صمت sebagaimana yang sering kita baca selama ini adalah bukan sebuah hadits yang ma'tsur dari Nabi saw. Namun demikian tidak ada larangan untuk membacanya selama tetap pada keyakinan bahwa doa tersebut bukanlah doa berbuka yang ma'tsur. Namun jika kita mengikuti petunjuk sunnah beliau saw kita akan memperoleh pahala yang banyak. Dan demikianlah Allah perintahkan kita semua untuk mengikuti sunnah Nabi Nya sampai dalam perkara kecil. Allah berfirman "لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة.....". Wallahu alam.

Pertanyaan M06

1. Apakah marah yang mendidik juga membatalkan puasa? Misal, anak melalaikan sholat, sudah diberi peringatan sekali duakali masih juga bandel.
Jawab
Mendidik anak tidak membatalkan puasa meski dengan cara membentaknya. Namun cara demikian akan dapat merusak pahala puasa. Karena Nabi saw melarang kita marah, apalagi jika marah dilakukan di saat sedang berpuasa ramadhan. Nabi saw bersabda "janganlah kamu marah". Mendidik anak harus mengikuti petunjuk-petunjuk sunnah, meliputi pendidikan maupun metode pendidikan. Wallahu alam.

2. Bagaimana seharusnya adab seseorang yang tidak berpuasa saat ramadhan. (Mis. Wanita haid dan menyusui atau yang sedang sakit).
Jawab
Mengenai seseorang yang tidak berpuasa karena alasan yang dibolehkan, seperti musafir, lansia, wanita hamil/menyusui,hendaknya mereka menjaga etika dengan memperhatikan kondisi orang-orang yang sedang berpuasa. Seperti tidak makan/minum secara terbuka, tidak mudah mengumpat atau memarahi orang yang sedang berpuasa, dsb. Yang demkian karena mereka sedang melaksanakan perintah Allah. Maka hendaknya orang-orang yang tidak berpuasa tanpa udzur syar'i bertaubat dengan sebenar benar taubat serta bersegera melaksanakan perintah Allah. Wallahu alam.

Pertanyaan M09

1. Ustadz..salah satu fenomena dibulan ramadhan adalah makin meningkatnya kebutuhan sehari hari dibandingkan dengan bulan bulan lainnya. Apakah ada kesalahan persepsi didalam umat muslim mengenai pemahaman puasa yang seharusnya kita dapat menahan hawa nafsu yaitu memakan makanan yang berlebihan dan agar merasakan sodara sodara yang sedang kelaparan?
Jawab
Sejatinya ramadhan dipandang sebagai bulan kesabaran. Karena sepanjang ramdhan Allah melatih kita agar menjadi orang-orang bertaqwa melalui latihan menahan diri dari segala yang merusak puasa. Sebab tidak diktakan sabar jika seseorang masih begitu mudah menuruti keinginan nafsunya. Sedangkan orang sabar adalah orang yang mampu menahan diri dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Dalam ramadhan terdapat amalan-amalan yang tidak ditemukan di amalan lainnya. Sebagai contoh seseorang yang sedang berihram dalam ibadah haji maupun umroh dilarang memakai wewangian,bersetubuh, dsb, namun waktunya singkat dan masih boleh menikmati hal selain yang dilarang. Berbeda dengan ramadhan, waktunyaa lebih lama dan ketika sedang berpuasa seseorang menghindari semua yang boleh karena pada saat itu hal yang boleh menjadi haram karena waktunya, bukan dzatnya. Semestinya masyarakat kita beroknsentrasi dalam berbagai ibadah, baik di siang maupun malam hari. Melakukan aktivitas berlebihan dapat mengurangi semangat ibadah dan menkimbulkan kemalasan. Pada gilirannya akan banyak peluang terlewati karen mengurus urusan perut sepanjang bulan !

Tambahan :

Para ulama –semoga Allah merahmati mereka- begitu semangat mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan karena mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam.
Beberapa contoh disebutkan di bawah ini.
Contoh pertama dari seorang ulama yang bernama Al-Aswad bin Yazid rahimahullah –seorang ulama besar tabi’in yang meninggal dunia tahun 74 atau 75 Hijriyah di Kufah- bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam. Dari Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata,

كَانَ الأَسْوَدُ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ لَيْلَتَيْنِ

“Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam.” (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51). 

Subhanallah … Yang ada, kita hanya jadi orang yang lalai dari Al-Qur’an di bulan Ramadhan.

Disebutkan dalam kitab yang sama, di luar bulan Ramadhan, Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam enam malam. Dan patut diketahui bahwa ternyata waktu istirahat beliau untuk tidur hanya antara Maghrib dan Isya. (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51)

Contoh kedua dari seorang ulama di kalangan tabi’in yang bernama Qatadah bin Da’amah rahimahullah yang meninggal dunia tahun 60 atau 61 Hijriyah. Beliau adalah salah seorang murid dari Anas bin Malikradhiyallahu ‘anhu. Beliau ini disanjung oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai ulama pakar tafsir dan paham akan perselisihan ulama dalam masalah tafsir. Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsaury mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah. Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an,

كَانَ قَتَادَة يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي سَبْعٍ، وَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ خَتَمَ فِي كُلِّ ثَلاَثٍ، فَإِذَا جَاءَ العَشْرُ خَتَمَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan, ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Bahkan ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkannya setiap malam.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 5: 276)

Contoh ketiga adalah dari Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah yang kita kenal dengan Imam Syafi’I, salah satu ulama madzhab terkemuka. Disebutkan oleh muridnya, Ar-Rabi’ bin Sulaiman,

كَانَ الشَّافِعِيُّ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سِتِّيْنَ خَتْمَةً

“Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat. (Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 36). Bayangkan, Imam Syafi’i berarti mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sehari sebanyak dua kali. Subhanallah …

Contoh terakhir adalah dari Ibnu ‘Asakir yang merupakan ulama pakar hadits dari negeri Syam, yang terkenal dengan karyanya Tarikh Dimasyq. Anaknya yang bernama Al-Qasim mengatakan mengenai bapaknya,

وَكَانَ مُوَاظِبًا عَلَى صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَتِلاَوَةِ القُرْآنِ، يَخْتِمُ كُلَّ جُمُعَةٍ، وَيَخْتِمُ فِي رَمَضَانَ كُلَّ يَوْمٍ، وَيَعْتَكِفُ فِي المنَارَةِ الشَّرْقِيَّةِ، وَكَانَ كَثِيْرَ النَّوَافِلِ وَالاَذْكَارِ

“Ibnu ‘Asakir adalah orang yang biasa merutinkan shalat jama’ah dan tilawah Al-Qur’an. Beliau biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekannya. Lebih luar biasanya di bulan Ramadhan, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari. Beliau biasa beri’tikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berdzikir.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 20: 562)

Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Senin, 15 Juni 2015
Narasumber : Ustadz Jumadi Toha
Tema : Fiqh
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Whatsapp Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala
Link Bunda 1

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT