Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , » HADIST 6 : HUKUM KENCING & MANDI JANABAH DI AIR YANG TIDAK MENGALIR

HADIST 6 : HUKUM KENCING & MANDI JANABAH DI AIR YANG TIDAK MENGALIR

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, August 21, 2015

(Hadits ke-6 dari kitab Bulughulmaram karya al-Haafizh ibnu Hajar)

-6 عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: لاَ يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.  و َلِلْبُخَارِيِّ: لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ في المَاءِ الدَّائِمِ الَّذِيْ لاَ يَجْرِي، ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيْهِ. ولِمُسْلِمٍ: «مِنْهُ». ولأبِي دَاوُدَ: «وَلاَ يَغْتَسِلْ فِيهِ مِنَ الْجَنَابَةِ».

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu mandi janabah di air yang diam (tidak mengalir).” Diriwayatkan oleh Muslim. Dan dalam lafazh Bukhari: “Janganlah kamu kencing di air yang diam yang tidak mengalir, kemudian mandi di dalamnya.” Dan dalam riwayat Muslim dengan lafazh: “kemudian ia mandi dari air tersebut”. Dan dalam riwayat Abu Dawud dengan lafazh: “Dan janganlah ia mandi di dalamnya dalam keadaan junub.”

Hadits ini memiliki empat lafazh penyampaian:

Pertama diriwayatkan imam Muslim dalam Shahihnya no. 238 dalam kitab ath-Thaharah bab larangan mandi diair yang tidak mengalir (النهي عن الاغتسال في الماء الراكد) (1/163) dari Abdullah bin Wahb dari Amru bin al-Haarits dari Bukair bin al-Asyaj, beliau berkata:

أَنَّ أَبَا السَّائِبِ مَوْلَى هِشَامِ بْنِ زُهْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ : قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ : لاَ يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي المْاَءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ  فَقَالَ : كَيْفَ  يَفْعَلُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟ قَالَ : يَتَنَاوَلُهُ تَنَاوُلاً.

Bahwasanya Abu Saa-ib pernah mendengar Abu Hurairah berkata :Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah kamu mandi janabah di air yang tergenang”. Abu Saa-ib bertanya : (kalau begitu) bagaimana ia melakukannya ya Abu Hurairah? Jawab Abu Hurairah : Ia menciduknya. Yakni, janganlah ia mandi janabah sambil berendam di bak , akan tetapi hendaklah ia menciduknya dengan gayung- menurut penjelasan Abu Hurairah

Kedua diriwayatkan imam al-Bukhori dalam shahihnya no. 239 dalam kitab al-Wudhu` bab kencing di air yang diam (tidak mengalir) (البول في الماء الدائم) dari jalan periwayatan Syu’aib dari abu az-Zinaad bahwasanya Abdurrahman bin Hurmuz menceritakan kepadanya bahwa beliau mendengar Abu Hurairoh berkata: aku telah mendengar Rasulullah bersabda:

لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لَا يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ

Lafazh ini juga diriwayatkan imam An-Nasa`i dan Ahmad dengan tambahan lafazh : (ثم يتوضأ منه).

Ketiga diriwayatkan imam Muslim dalam shahihnya no. 282 (1/162-163) dengan lafazh:

لاَ تَبُلْ فِيْ الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِيْ لاَ يَجْرِيُ ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ

“ Janganlah engkau kencing di air yang tergenang yang tidak mengalir , kemudian engkau mandi dari air tersebut”.

Riwayat muslim di atas dan juga Abu Dawud dalam salah satu riwayatnya (no.69) dan lain-lain dengan lafazh “minhu (مِنْهُ)” yang artinya “Dari air tersebut atau dengan memakai air tersebut”, yang maksudnya : “Janganlah engkau kencing di air yang tergenang yang tidak mengalir – seperti bak mandi –kemudian engkau  mandi dengan memakai air tersebut – misalnya dengan cara menciduk atau mengambilnya dengan gayung –.”

Sedangkan riwayat Bukhari di atas (no.7) dan lain –lain dengan lafazh “fiihi  (فِيْهِ)”  yang zhahirnya “Mandi berendam didalam bak yang telah dikencingi“. Perbedaannya, kalau dalam riwayat Bukhari “Berendam di air tersebut”, sedangkan riwayat Muslim  “Memakai air tersebut  dengan cara menciduknya dengan gayung”  dan kedua-duanya dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena dikhawatirkan air tersebut telah berubah dengan sebab kemasukan najis yaitu air  kencing .

Keempat diriwayatkan Abu Dawud dalam sunannya no. 70 dengan lafazh sebagaimana dibawakan oleh Ibnu Hajar di atas lengkapnya sebagai berikut :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ : لاَ يَبُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ فِيْ الْمَاءِ الدَّائِمِ وَلاَ يَغْتَسِلْ فِيْهِ مِنَ الْجَنَابَةِ.

Dari Abi Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah salah seorang dari kamu kencing di air yang tergenang dan janganlah ia mandi janabah didalamnya”.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no.70), Ibnu Majah (no.244) , Ahmad (2/433) dan lain-lain dengan sanad Hasan . Kemudian hadits ini menjadi shahih karena beberapa jalannya dan syahid-nya dari  jalan Jabir yang diriwayatkan oleh Muslim dan lain-lain.

***
Hadits ini tersusun dari beberapa kosa kata yang perlu dijelaskan, diantaranya:
(لا يغتسلْ) artinya jangan mandi, karena huruf (لا) adalah lam Nahi.

(أحدكم) artinya salah seorang kalian. Ini menunjukkan sabda beliau ini diarahkan kepada seluruh umatnya baik lelaki maupun wanita.

(الماء الدائم) kata ini ditafsirkan langsung dalam riwayat al-Bukhori dengan lafazh (الماء الدائم الذي لا يجري) yang berarti menggenang yang tidak berpindah karena mengalir, seperti air kolam yang ada ditaman atau genangan air yang ada ditanah lapang dan sejenisnya. Sehingga ungkapan (لا يجري) adalah tafsir dan penjelas dari kata (الدائم) .

(ثم يغتسل منه) : kemudian mandi darinya. Pengertiannya: janganlah kencing padanya padahal nantinya dipakai untuk mandi. Bagaimana kencing pada air yang digunakan nantinya untuk bersuci ?

(وهو جنب) : dalam keadaan wajib mandi akibat hubungan suami istri atau keluarnya air mani.

Perbedaan antar riwayat imam al-bukhori (ثم يغتسل فيه) dan riwayat imam Muslim (ثم يغتسل منه)  serta riwayat Abu Daud (ولا يغتسل فيه من الجنابة) adalah: Riwayat al-Bukhori memberikan pengertian larangan mandi dengan masuk kedalam air yang dipakai sebelumnya untuk kencing, artinya Bagaimana kencing didalam air yang dibutuhkan untuk mandi atau lainnya? Riwayat imam Muslim memberikan pengertian larangan mengambil dari air tersebut kedalam bejana dan mandi diluarnya. Sehingga setiap dari dua riwayat tersebut saling memberikan pengertian riwayat lainnya. Riwayat al-Bukhori () menunjukkan pengertian mandi masuk kedalam air (nyemplung) dengan nash dan melarang mengambilnya dengan istimbath. Demikian juga sebaliknya riwayat imam Muslim. Sedangkan riwayat Abu Dawud memberikan pengertian larang dari kencing dan mandi secara sendiri-sendiri. Dalam pengertian janganlah kencing diari menggenang walaupun tidak bermaksud mandi darinya. Sehingga dapat diambil pengertian dari semua riwayat bahwa semua keadaan tersebut dilarang. Hal itu karena kencing atau mandi di air yang menggenang menjadi sebab pengotoran dan pencemaran air walaupun tidak sampai menjadi najis. Diantara dalil yang menguatkan larangan kencing diair menggenang saja adalah hadits Jaabir yang berbunyi:

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ

Dari Rasulullah bahwa beliau melarang kencing di air yang menggenang. (HR Muslim no. 423).

Syarah umum Hadits (Pengertian Hadits).

Syariat islam memiliki perhatian yang besar terhadap kebersihan dan jauh dari sebab-sebab madharat. Dalam hadits ini sahabat yang mulia Abu Hurairoh menceritakan bahwa Nabi melarang dengan larangan yang tegas dari kencing diair yang menggenang, karena hal itu akan mengakibatkan pencemaran air dengan najis dan kuman penyakit yang kadang dibawa bersama kencing sehingga memudharatkan orang yang menggunakan air tersebut. Kadang juga orang yang kencing juga menggunakan air tersebut lalu mandi darinya. Bagaimana ia kencing dengan air yang digunakan untuk bersuci setelah ia kencingi dahulu. Sebagaimana juga Rasulullah melarang dari mandi janabah pada air yang menggenang, karena hal itu mencemari air dengan kotoran dan janabahnya. ( Tambih al-Afhaam Syarh ‘Umdatulahkan karya Syeikh ibnu Utsaimin 1/19).

Fiqih Hadits:

1. Larangan mandi janabah dengan cara berendam , misalnya di bak mandi . Larangan disini bukan larangan haram akan tetapi larangan lit Tanzih (untuk kebersihan) karena hadits Ibnu Abbas (no.11) menegaskan bahwa air itu tidak junub .

2. Demikian juga larangan kencing di air yang tergenang , bahkan lebih buruk lagi dari segi kebersihan karena dikhawatirkan air kencing yang najis itu akan merubah salah satu sifat air itu sehingga air itu menjadi najis . Jadi larangan disini bersifat menjaga atau dikhawatirkan air yang suci mensucikan itu berubah salah satu sifatnya dengan sebab kemasukan najis lalu dia menjadi najis meskipun belum tentu berubah. Masalah ini  didalam ilmu ushul dinamakan: Saddan lidz dzari’ah ( سَدًّا لِلذَّرِيْعَةِ). Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengan tegas mengatakan : “Larangan  beliau  kencing di air yang tergenang tidak menunjukkan bahwa air itu menjadi najis dengan hanya semata-mata karena kencing , karena lafazh-nya tidak menunjukkan seperti itu. Bahkan larangan beliau di atas sebagai Saddan lidz dzari’ah (penutup jalan bagi sesuatu yang dilarang), karena kencing itu sebagai “jalan atau wasilah”  yang akan menajiskan air tersebut . Maka kalau yang ini kencing, kemudian yang itu pun kencing, niscaya air akan berubah (salah satu sifatnya) dengan sebab kencing tersebut . Oleh karena itu larangan beliau sebagai saddan lidz dzari’ah. Atau dapat juga dikatakan sebagai sesuatu yang tidak disukai hanya semata-mata karena tabi’at, bukan karena najisnya. (Majmu’ fatwa Ibnu Taimiyyah (21/34)

3. Hadits ini menunjukkan larangan mandi dari janabah pada air yang menggenang, karena hal itu akan mencemari air dengan kotoran janabah.

4. Mandi janabah dari air yang menggenang dengan cara menciduknya baik dengan gayung atau tangan setelah mencucinya tidak masuk dalam larangan ini.

5. Disini dapat difahami bolehnya mandi junub diair yang mengalir baik langsung menceburkan dirinya atau dengan menggunakan gayung dan sejenisnya.

6. Hadits ini menunjukkan larangan kencing diair yang menggenang baik banyak ataupun sedikit, baik langsung atau kecing dibejana lalu dibuang keair tersebut. Semua itu tercela dan terlarang.

7. Syeikh Ibnu Utsaimin memberikan faedah hadits ini dengan menyatakan: “Hadits ini nampaknya tidak membedakan antara air yang banyak dan sedikit , namun larangan pada air yang sedikit lebih tegas ; karena lebih mudah tercemari dan berubah. Sedangkan air yang banyak sekali yang tidak mungkin terpengaruh oleh air kencing atau tercemari sebagaimana laut, maka tidak masuk dalam larangan ini. Adapun air yang menggenang untuk waktu tertentu, seperti air kolam yang ada di kebun-kebun, maka bila memungkinkan terpengaruh kencing atau tercemari dengan mandi karena sedikitnya air atau sangat lambatnya penggantian air baru padanya maka ia masuk dalam larangan ini. Apabila tidak maka yang rojih tidak masuk dalam larangan ini”.(Tambihulafhaam 1/19-20).

8. Hukum air yang menggenang tercampur kencing ini, yang rojih dia tidak najis kecuali ada perubahan sifatnya karena najis. Tidak mesti larangan dari hal tersebut membuat airnya najis, karena Nabi melarang dari kencing lalu mandi dan tidak menyatakan sesungguhnya airnya najis.

9. Masuk dalam larangan ini kotoran yang serupa dengan kencing atau lebih, seperti tinja dan najis-najis lainnya. Ibnu Qudamah menyatakan: Mayoritas ulama tidak membedakan antara kecing dengan yang selainnya dari najis-najis. (al-Mughni 1/39)

10. Hukum berwudhu dengan air yang menggenang yang terkena kencing sama dengan hukum mandi. Ada larangannya dari hadits Abu Hurairoh secara marfu’ yang berbunyi:

«لا يبولن أحدكم في الماء الدائم ثم يتوضأ منه»

Janganlah salah seorang kalian kencing diair yang menggenang kemudian berwudhu darinya (HR an-Nasa`i 1/49, Ahmad dan ibnu hibaan dan hadits ini shahih karena banyak jalur periwayatannya. Lihat badzlul Ihsaan Bitaqrieb sunan an-Nasaa’i Abu Abdirrahman 2/173). Juga karena mandi dan wudhu sama-sama dalam pengertian yang menuntut larangan tersebut yaitu sama-sama bertujuan mendekatkan diri kepada Allah dan itu tidak boleh dengan sesuatu yang kotor. (Badrut Tamam Syarhu Bulughilmaram min Adilatilahkam, al-Qaadhi Husein al-Maghribi 1/69)

Masaail

Pertama: Larangan dalam hadits ini apakah menunjukkan pengharaman atau hanya makruh saja?

Para ulama berbeda pendapat dalam tiga pendapat:
1. Larangan disini hukumnya makruh bukan haram, inilah pendapat madzhab Malikiyah (Mawaahib al-jalil 1/74), Haasyiyah ad-Dasuqi 1/44 dan Haasyiyah ash-Shaawi 1/39) dan asy-Syafi’i (lihat Syarh an-Nawawi li Shahih Muslim 3/187, al-majmu’ 1/152 dan fathul Baari 1/348). Inilah yang tampak dari madzhab imam Ahmad ketika ditanya tentang hal ini beliau menjawab: Saya tidak senang dan kadang menjawab: Tidak sepatutnya (al-Inshaaf 1/44, Kasysyaaf al-Qonaa’ 1/35).

Mereka menyatakan bahwa air tidak menjadi najis karena mandi, karena badan orang yang junub tetap suci, seperti dijelaskan dalam hadits Abu Hurairoh Radhiyallahu ‘anhu:

"سُبْحَانَ الله!، إِنَّ الْمُؤْمِنَ لاَ يَنْجُسُ".

Subhanallah! Sungguh mukmin tidak najis. (HR Muslim).

Air yang digunakan untuk mandi junub bercampur dengan badan yang suci, maka paling maksimal akan merusak yang lainnya, sehingga tidak bisa dimanfaatkan. Oleh karenanya larangan tersebut difahami sebagai kemaruhan agar tidak mengotori air dan menjadikan air rusak dengan penggunaan seperti itu. Apabila manusia membiasakan mandi dengan masuk kedalam air yang tidak mengalir maka itu menjadi sebab rusak dan kotornya air sertan membuat orang lain tidak dapat memanfaatkannya.

2. Larangan disini bersifat pengharaman dan hukumnya haram, inilah pendapat madzhab Hanafiyah (lihat al-Mabsuuth 1/46, Badaa’i shanaa’i 1/68 dan Syarh fathul Qadir 1/99) dan Zhohiriyah (lihat al-Muhalla 2/40-42). Juga riwayat dari imam Maalik dan riwayat dari imam Syafi’i dan sejumlah Muhaqqiqin. Mereka menyatakan tidak ada indikator shahih yang memalingkan larangan ini dari haram kepada makruh.

3. Hukumnya haram pada air yang sedikit dan makruh pada air yang banyak. Ini adalah pendapat madzhab Syafi’iyah (lihat al-I’laam Bi Fawaaid Umdatil Ahkan 1/277)

Yang rojih pendapat kedua sebagaimana dirojihkan Syeikh al-basaam (Taudhih al-Ahkam 1/129).

Kedua : Air yang terkena najis apakah masih suci ataukah menjadi najis?

Apabila ada perubahan sifat karena najis kencing tersebut maka ijma’ menetapkan kenajisannya baik airnya sedikit atau banyak. Juga sebalikna apabila tidak mengalami perubahan sifat dan airnya banyak sekali maka ijma’ menetapkan kesuciannya. Yang menjadi masalah adalah bila airnya sedikit namun tidak ada perubahan. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat dalam beberapa pendapat:

a. Tidak najis, inilah pendapat Abu Hurairoh, ibnu Abas, al-Hasan al-bashri, Ibnu al-Musayyib, ats-Tsauri, Dawud, Maalik dan al-Bukhori. Pendapat ini berargumentasi dengan hadits Abu Saa’id al-Khudri yang disampaikan al-Haafizh dalam hadits ke-2 dari kitab bulughulmaram ini. Mereka menjawab hadits Abu Hurairoh ini dengan membawa larangannya kepada kemakruhan orang yang minum dan yang mengambilnya karena membawa penyakit dan kotor bukan karena kenajisannya.

b. Menjadi najis walaupun hanya sekedar kemasukan kending, inilah pendapat Ibnu Umar, Mujahid, abu hanifah, syafi’iyah dan hanabilah.  Pendapat ini berargumentasi dengan hadits Abu Hurairoh ini, karena bersifat umum

Yang rojih menurut penulis adalah pendapat pertama karena wajib kita mengamalkan semua dalil yang ada diantaranya ijma’ tidak najisnya air hingga ada perubahan sifat-sifatnya karena terkena najis. Walaupun hukum kencing diair yang menggenang adalam haram, namun keharomannya bukan karena najisnya air tersebut.

Ketiga: orang yang mandi dengan cara masuk kedalam air tidak mengalir apakah akan hilang hadatsnya atau tidak?

Dalam masalah ini ada dua pendapat para ulama:
Pendapat Pertama: Tidak dapat menghilangkan hadats khususnya pada air yang sedikit. Ini adalah pendapat banyak ulama yang berpendapat air terbagi menjadi tiga; thahur, thahir dan najis. Thahur : suci mensucikan maksudnya suci dzatnya dan bisa digunakan untuk bersuci dari hadats sedangkan thahir hanya suci tapi tidak sah digunakan untuk bersuci.

Mereka berpendapat apabila seorang berendam di air menggenang dalam keadaan junub maka tidak hilang hadatsnya; karena hanya sekedar terkena bagian pertama dari badannya pada air akan merubah air dari thahur menjadi air musta’mal dengan sebab menghilangkan hadas dari bagian yang terkena pertama kali. Sedangkan menurut mereka air musta’mal tidak menghilangkan hadas.

Ibnu Hazm menyetujui pendapat ini (lihat la-Muhalla 2/40), beliau menyatakan: Air dalam semua keadaan ini adalah suci sesuai ukurannya sedikit atau banyak dan mensucikan apabila dipakai dengan diciduk –bukan menceburkan diri kedalamnya-.

Pendapat kedua: Menghilangkan hadas dengan masuk ke dalam air yang sedikit ini ataupun banyak. Ini riwayat dari Ahmad (la-Kaafi 1/5) dan dirojihkan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah (la-Ikhtiyaraat lilba’li hlm3 dan majmu’ la-Fatawa 20/519) dan Ibnu Abdilhadi (St-Tanqiih 1/211) serta saf-Syaukani.( nal la-AUthaar 1/44).

Pendapat ini adalah pendapat umumnya ulama yang membagi air menjadi dua bagian; suci dan najis saja.
Wallahu a’lam.

Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Jumat, 21 Agustus 2015
Narasumber : Ustadz Kholid Syamhudi Al Bantani Lc 
Tema : Hadist
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Telegram Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment