Ketik Materi yang anda cari !!

KEUTAMAAN MEMAAFKAN

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, August 18, 2015

Assalamu'alaikum bunda - bunda yang dirahmati Allah. Hari ini kita akan membahas tentang Keutamaan Memaafkan. Alhamdulillah Allah baru saja mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, bulan yang penuh barokah, semoga Allah menerima amal ibadah kita semua. Setelah Ramadhan kita masuk bulan Syawal, yang diharapkan amal ibadah kita, ketaqwaan kita terus meningkat.

Terdapat kebiasaan masyarakat Indonesia dan sebagian negara lain yang pada bulan Syawal melakukan acara silahturahim, halal bi halal, untuk saling memaafkan. Memang hal ini tidak ada sunah secara langsung pada tiap Syawal melakukan acara tersebut. Tetapi kita ambil hikmah dari acara tersebut adalah untuk membiasakan slahturohim dan saling memaafkah serta menghilangkan dendam diantara kita.

Dalam kehidupan akan sering terjadi permasalahan kehidupan, adanya singgungan dengan teman, keluarga, bahkan dengan suami/istri dan orang tua. Di sinilah ujian, apakah seseorang mampu menguasai dirinya saat mengalami permasalahan. Dalam Al-Qur’an tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang mampu menahan amarahnya seperti firman-Nya:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya.” (Ali ’Imran: 134)

Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa orang yang mampu menahan dirinya di saat marah dia sejatinya orang yang kuat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيْدُ باِلصُّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukan yang banyak mengalahkan orang dengan kekuatannya. Orang yang kuat hanyalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.” (HR. Al-Bukhari no. 6114)

Memaafkan adalah amalan yang sangat mulia ketika seseorang mampu bersabar terhadap gangguan yang ditimpakan orang kepadanya serta memaafkan kesalahan orang padahal ia mampu untuk membalasnya. Gangguan itu bermacam-macam bentuknya. Adakalanya berupa cercaan, pukulan, perampasan hak, dan semisalnya. Memang sebuah kewajaran bila seseorang menuntut haknya dan membalas orang yang menyakitinya. Dan dibolehkan seseorang membalas kejelekan orang lain dengan yang semisalnya. Namun alangkah mulia dan baik akibatnya bila dia memaafkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Asy-Syura: 40)

Ayat ini menyebutkan bahwa tingkat pembalasan ada tiga:

Pertama: Adil, yaitu membalas kejelekan dengan kejelekan serupa, tanpa menambahi atau mengurangi. Misalnya jiwa dibalas dengan jiwa, anggota tubuh dengan anggota tubuh yang sepadan, dan harta diganti dengan yang sebanding.

Kedua: Kemuliaan, yaitu memaafkan orang yang berbuat jelek kepadanya bila dirasa ada perbaikan bagi orang yang berbuat jelek. Ditekankan dalam pemaafan, adanya perbaikan dan membuahkan maslahat yang besar. Bila seorang tidak pantas untuk dimaafkan dan maslahat yang sesuai syariat menuntut untuk dihukum, maka dalam kondisi seperti ini tidak dianjurkan untuk dimaafkan.

Ketiga: Zalim yaitu berbuat jahat kepada orang dan membalas orang yang berbuat jahat dengan pembalasan yang melebihi kejahatannya. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman hal. 760, cet. Ar-Risalah)

Kedudukan yang mulia

Memaafkan kesalahan orang acapkali dianggap sebagai sikap lemah dan bentuk kehinaan, padahal justru sebaliknya. Bila orang membalas kejahatan yang dilakukan seseorang kepadanya, maka sejatinya di mata manusia tidak ada keutamaannya. Tapi di kala dia memaafkan padahal mampu untuk membalasnya, maka dia mulia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan manusia.

Berikut beberapa kemuliaan dari memaafkan kesalahan.

1. Mendatangkan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Fushshilat ayat 34-35:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ. وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34-35)

Ibnu Katsir rahimahullahu menerangkan: “Bila kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu maka kebaikan ini akan menggiring orang yang berlaku jahat tadi merapat denganmu, mencintaimu, dan condong kepadamu sehingga dia (akhirnya) menjadi temanmu yang dekat. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: ‘Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang beriman untuk bersabar di kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan memaafkan di saat diperlakukan jelek. Bila mereka melakukan ini maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga mereka dari (tipu daya) setan dan musuh pun tunduk kepadanya sehingga menjadi teman yang dekat’.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 4/109)

2. Mendapat pembelaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala

Al-Imam Muslim rahimahullahu meriwayatkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata: ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku punya kerabat. Aku berusaha menyambungnya namun mereka memutuskan hubungan denganku. Aku berbuat kebaikan kepada mereka namun mereka berbuat jelek. Aku bersabar dari mereka namun mereka berbuat kebodohan terhadapku.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Jika benar yang kamu ucapkan maka seolah-olah kamu menebarkan abu panas kepada mereka. Dan kamu senantiasa mendapat penolong dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas mereka selama kamu di atas hal itu.” (HR. Muslim)

3. Memperoleh ampunan dan kecintaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (At-Taghabun: 14)

Adalah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dahulu biasa memberikan nafkah kepada orang-orang yang tidak mampu, di antaranya Misthah bin Utsatsah. Dia termasuk famili Abu Bakr dan muhajirin. Di saat tersebar berita dusta seputar ‘Aisyah binti Abi Bakr istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Misthah termasuk salah seorang yang menyebarkannya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat menjelaskan kesucian ‘Aisyah dari tuduhan kekejian. Misthah pun dihukum dera dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taubat kepadanya. Setelah peristiwa itu, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu bersumpah untuk memutuskan nafkah dan pemberian kepadanya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (An-Nur: 22)

Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Betul, demi Allah. Aku ingin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku.” Lantas Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu kembali memberikan nafkah kepada Misthah radhiyallahu ‘anhu. (lihat Shahih Al-Bukhari no. 4750 dan Tafsir Ibnu Katsir 3/286-287)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ارْحَمُوا تُرْحَمُوا وَاغْفِرُوا يَغْفِرِاللهُ لَكُمْ

“Sayangilah –makhluk– maka kamu akan disayangi Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan berilah ampunan niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampunimu.” (Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 293)

Al-Munawi rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yang di antaranya adalah (sifat) rahmah dan pemaaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mencintai makhluk-Nya yang memiliki sifat tersebut.” (Faidhul Qadir 1/607)

Adapun Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai orang yang memaafkan, karena memberi maaf termasuk berbuat baik kepada manusia. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala cinta kepada orang yang berbuat baik, sebagaimana firman-Nya:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali ‘Imran: 134)

4. Mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun di sisi manusia

Suatu hal yang telah diketahui bahwa orang yang memaafkan kesalahan orang lain, disamping tinggi kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia juga mulia di mata manusia. Demikian pula ia akan mendapat pembelaan dari orang lain atas lawannya, dan tidak sedikit musuhnya berubah menjadi kawan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Shadaqah –hakikatnya– tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadhu’) karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Kapan memaafkan itu terpuji?

Seseorang yang disakiti oleh orang lain dan bersabar atasnya serta memaafkannya padahal dia mampu membalasnya maka sikap seperti ini sangat terpuji. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melakukan –pembalasan– maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memanggilnya di hari kiamat di hadapan para makhluk sehingga memberikan pilihan kepadanya, bidadari mana yang ia inginkan.” (Hadits ini dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3394)

Demikian pula pemaafan terpuji bila kesalahan itu berkaitan dengan hak pribadi dan tidak berkaitan dengan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: 
“Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas atau menghukum karena dirinya (disakiti) sedikit pun, kecuali bila kehormatan Allah Subhanahu wa Ta’ala dilukai. Maka beliau menghukum dengan sebab itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, tidaklah beliau disakiti pribadinya oleh orang-orang Badui yang kaku perangainya, atau orang-orang yang lemah imannya, atau bahkan dari musuhnya, kecuali beliau memaafkan. Ada orang yang menarik baju Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan keras hingga membekas pada pundaknya. Ada yang menuduh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak adil dalam pembagian harta rampasan perang. Ada pula yang hendak membunuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun gagal karena pedang terjatuh dari tangannya. Mereka dan yang berbuat serupa dimaafkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini semua selama bentuk menyakitinya bukan melukai kehormatan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan permusuhan terhadap syariat-Nya. Namun bila menyentuh hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan agamanya, beliau pun marah dan menghukum karena Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menjalankan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar. Oleh karena itu, beliau melaksanakan cambuk terhadap orang yang menuduh istri beliau yang suci berbuat zina. Ketika menaklukkan kota Makkah, beliau memvonis mati terhadap sekelompok orang musyrik yang dahulu sangat menyakiti Nabi karena mereka banyak melukai kehormatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. (disarikan dari Al-Adab An-Nabawi hal. 193 karya Muhammad Al-Khauli)

Kemudian, pemaafan dikatakan terpuji bila muncul darinya akibat yang baik, karena ada pemaafan yang tidak menghasilkan perbaikan. Misalnya, ada seorang yang terkenal jahat dan suka membuat kerusakan di mana dia berbuat jahat kepada anda. Bila anda maafkan, dia akan terus berada di atas kejahatannya. Dalam keadaan seperti ini, yang utama tidak memaafkan dan menghukumnya sesuai kejahatannya sehingga dengan ini muncul kebaikan, yaitu efek jera. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu menegaskan: 
“Melakukan perbaikan adalah wajib, sedangkan memaafkan adalah sunnah. Bila pemaafan mengakibatkan hilangnya perbaikan berarti mendahulukan yang sunnah atas yang wajib. Tentunya syariat ini tidak datang membawa hal yang seperti ini.” (lihat Makarimul Akhlaq karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hal. 20)

Faedah

Ada masalah yang banyak dilakukan orang dengan tujuan berbuat baik, misalnya kala seseorang mengemudikan kendaraannya lalu menabrak seseorang hingga meninggal. Kemudian keluarga korban datang dan menggugurkan diyat (tebusan) dari pelaku kecelakaan. Apakah perbuatan mereka menggugurkan tebusan termasuk perkara terpuji, atau dalam hal ini perlu ada perincian?

Dalam masalah ini, yang benar ada perincian, yaitu melihat kondisi orang yang menabrak. Apakah dia termasuk orang yang ugal-ugalan dan tidak peduli siapa pun yang dia tabrak? Bila seperti ini, yang utama adalah tidak dimaafkan agar memunculkan efek jera. Juga agar manusia selamat dari kejahatannya. Tetapi bila yang menabrak orangnya baik dan sudah berhati-hati serta mengemudikan kendaraannya dengan stabil, maka di sini pun ada perincian:

1. Bila si korban punya utang yang tidak bisa dibayar kecuali dengan uang tebusan maka bagi ahli waris tidak ada hak untuk menggugurkan tebusan.

2. Bila si korban tidak punya utang namun dia punya anak-anak yang masih kecil dan belum mampu usaha, maka tidak ada hak bagi ahli waris untuk memaafkan pelaku.

Bila dua keadaan ini tidak ada, maka memaafkan lebih utama. (disarikan dari Kitabul ‘Ilmi hal. 188-189 karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu)

Manusia-manusia pilihan

Orang yang mulia selalu menghiasi dirinya dengan kemuliaan dan selalu berusaha agar dalam hatinya tidak bersemayam sifat-sifat kejelekan. Para Nabi Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan teladan dalam hal memaafkan kesalahan orang. Misalnya adalah Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Beliau telah disakiti oleh saudara-saudaranya sendiri dengan dilemparkan ke dalam sumur, lantas dijual kepada kafilah dagang sehingga berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dengan menanggung penderitaan yang tiada taranya. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak memuliakan hamba-Nya melalui ujian ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengangkat kedudukan Nabi Yusuf ‘alaihissalam sehingga menjadi bendahara negara di Mesir kala itu. Semua orang membutuhkannya, tidak terkecuali saudara-saudaranya yang dahulu pernah menyakitinya. Tatkala mereka datang ke Mesir untuk membeli kebutuhan pokok mereka, betapa terkejutnya saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihissalam ketika tahu bahwa Nabi Yusuf ‘alaihissalam telah diangkat kedudukannya sebegitu mulianya. Mereka pun meminta maaf atas kesalahan mereka selama ini. Nabi Yusuf ‘alaihissalam memaafkannya dan tidak membalas. Beliau ‘alaihissalam mengatakan:

لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni (kalian), dan Dia adalah Maha penyayang di antara para Penyayang.” (Yusuf: 92)

Demikian pula Nabi Musa dan Nabi Khidhir ‘alaihissalam, ketika keduanya melakukan perjalanan dan telah sampai pada penduduk suatu negeri. Keduanya meminta untuk dijamu oleh penduduk negeri itu karena mereka adalah tamu yang punya hak untuk dijamu. Namun penduduk negeri itu tidak mau menjamu. Ketika keduanya berjalan di negeri itu, didapatkannya dinding rumah yang hampir roboh, maka Nabi Khidhir ‘alaihissalam menegakkan dinding tersebut.

Adapun Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau adalah manusia yang terdepan dalam segala kebaikan. Pada suatu ketika ada seorang wanita Yahudi memberi hadiah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa daging kambing. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tahu ternyata daging itu telah diberi racun. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memakannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi tahu bahwa daging itu ada racunnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala beliau tidak meninggal. Wanita tadi dipanggil dan ditanya maksud tujuannya. Ternyata dia ingin membunuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memaafkan dan tidak menghukumnya. (Bisa dilihat di Shahih Al-Bukhari no. 2617 dan Zadul Ma’ad 3/298)
Wallahu a’lam.

TANYA JAWAB


Pertanyaan M01

1. Assalamualaikum ustad.. Di masa lalu saya pernah bersinggungan dengan rekan kerja yang kebetulan memang tipenya sensitif dan agak temperamental. Beberapa kali saya maafkan perbuatannya tapi diulangi terus hingga yang terakhir saya tidak tahan dan memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan ybs kecuali mendesak. Maksud saya daripada sakit hati lebih baik saya menjaga jarak saja. Apakah saya berdosa ustad?
Jawab
In sya Allah tidak berdosa karena untuk menghindari masalah yang lebih besar asalkan kita tidak benci ke dia dan terus didoakan agar dia berubah menjadi lebih baik

2. Kalo memaafkan itu susah banget ya tapi pernah ketemu sama ybs salaman gak pake hati salamannya. ybs juga setelah itu menghindar kalo berpapasan dengan saya. Saya juga gak mau kalah lebih menghindar lagi. Ga apa? jadi gak jumpa muka sama ybs, habis orang tersebut fitnah saya
Jawab
Saling menghindar berarti masih belum ikhlas dalam memaafkan sehingga hatinya masih dikuasai nafsu dan pengaruh syetan. Perbanyak iatighfar agar hati menjadi lembut dan mudah memaafkan serta meminta maaf


Pertanyaan M03

1. Pak ustadz, ada wanita yahudi yang meracun Nabi Muhammad. Ada hadist yang mengatakan, kalo penyebab kematian Nabi adalah karna racun itu, walaupun ga langsung meninggal?  Apa benar pak?
Jawab
Diriwayatkan oleh Aisyah ra : Pada waktu sakitnya sebelum beliau meninggal, sang Nabi sering mengatakan, "Wahai Aisyah! Aku masih merasa kesakitan karena daging yang kumakan di Khaybar, dan sekarang aku merasa urat nadiku dipotong oleh racun itu." (HR bukhari)

Ini adalah hadits shohih tentang rasa sakit karena racun dari yahudi

Pertanyaan M04

1. Ustadz, apabila kita di posisi yang telah mendzalimi orang lain dimasa lalu, kita sudah berusaha mencari kontak orang yang telah di dzalimi tersebut tapi ga nemu kalopun ada malah orang tersebut seperti menghindar . Apa yang harus dilakukan ustadz?
Jawab
Kita bisa menitipkan surat permohonan maaf untuk beliau melalui saudaranya kalau ditemui belum mau menerima. Sambil terus berdoa agar yang bersangkutan dibukakan hatinya untuk menerima maaf

2. Kadang untuk memaafkan perlu proses dan waktu, kita butuh menyendiri sebentar untuk memaafkan terkadang lukanya sangat terasa jadi kita menghindar agar gak ada konflik lanjutan, bagaimana sikap seperti itu ya ustdz?
Jawab
Karakter manusia memang berbeda-beda, sehingga dalam mensikapi masalah juga berbeda. Tetapi faktor utama adalah keimanan. Semakin tinggi keimanan maka akan semakin mudah memaafkan. Seperti yang dicontohkan Rosulullah dan sudah dipraktekkan para ulama


3. Bagaimana jika tanpa sadar seseorang menyakiti hati temannya, sehingga dia tidak meminta maaf karena tidak menyadarinya? Apakah dia berdosa? Karena temannya tetep merasa sakit hati.
Jawab
Dalam pergaulan kadang ada perkataan yang mensakiti orang lain tanpa sadar, untuk itu disunahkan untuk berjabat tangan untuk saling meminta maaf. Rosulullah bersabda:
"Tidaklah dua muslim itu bertemu lantas berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah.” (HR. Abu Daud Ibnu Majah, Tirmidzi)


Pertanyaan M05

1. Kita di anjurkan dan diharuskan untuk mema'afkan kesalahan orang lain tetapi sebaliknya,kalo kita yang punya salah dan sudah meminta ma'af tetapi tetap tidak di ma'afkan, apa yang mesti/ harus kita lakukan?


Jawab
Bila sudah meminta maaf berkali kali dengan tulus tetapi belum dimaafkan maka tetap sabar, sebaiknya datang dengan membawa hadiah misal kue dll agar hatinya senang shg bisa mudah memaafkan. Selalu doakan agar hatinya terbuka.

2. Tanya, apakah minta maaf harus didzohirkan? Bisakah ditunjukkan dengan sikap dan perhatian?
Jawab
Meminta maaf harus disampaikan secara lisan atau tertulis

Pertanyaan M06

1. Yang menjadi perintah adalah memaafkan, lalu bagaimana jika kita terlebih dahulu meminta maaf? Seperti yang lazim pada saat ini. Jika sudah memafkan, tapi masih suka teringat kesalahan saudara kita, apa yang harus dilakukan?
Jawab
Meminta maaf amal yang harus segera dilakukan. Rosulullah bersabda
"Barangsiapa pernah melakukan kedzaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia memiliki amal shaleh, akan diambil darinya seukuran kedzalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudara (yang dizalimi) kemudian dibenankan kepadanya.(HR al-Bukhari)


Pertanyaan M08

1. Ketika kita memaafkan kesalahan orang lain, maka tentu harus ikhlas. Bagaimana ikhlas itu tercipta dalam diri? karena seringnya memaafkan tapi rasanya malah ngenes dalam hati dan akhirnya jadi penyakit fisik dan malah membinasakan diri sendiri. Apa sekali-kali qishahs saja begitu?
Jawab
Hukum qishas di indonesia belum bisa dijalankan karena qishah bisa dilakukan oleh pemerintah. Bila terkait pidana maka bisa diadukan ke polisi agar ada efek jera bagi yang bersangkutan. Untuk masalah hati maka bila tahu pahala besar memaafkan maka akan berlomba memaafkan.


2. Ustadz mau nanya, Kita bilang sudah memaafkan dan berusaha untuk biasa, tapi kok ngga seperti sebelumnya agak kaku dan kayak basa basi gitu kalo ketemu. Apa itu belum ikhlas ustadz?
Jawab
Itu manusiawi bu, membutuhkan proses beberapa waktu agar menjadi seperti biasa kembali.

Pertanyaan M09

1. Apa ada amalan yang bisa kita lakukan sebagai ungkapan permintaan maaf kepada seseorang yang sudah meninggal? Begini jaozi meninggal 18hr yang lalu, malemnya beliau meminta maaf berpesan dsb, ana engga seriusin cuma bilang iya iya aja soalnya beliau suka becanda. naah ana belum meminta maaf sama beliau ketika beliau kritis, ana cuma bisikin minta maaf sebelum ana bisikin kalimat-kaliamat thoyibah mungkin sekitar 5menit sebelum  beliau berpulang
Jawab
In sya Allah kalau sudah dibisikkan permintaan maaf tersebut maka sudah selesai masalahnya. Dan diperbanyak mohon ampun kepada Allah

2. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu, ustadz saya punya sahabat tapi dia telah hancur kan hubungan pertunangan saya, dan saya sudah memaafkan, tapi tiba tiba dia hadir kerumah saya tanpa memberi tahu saya, saya tidak marah tapi luka itu tergores lagi dan baik dengan keluarga saya, dan saat ini dia selalu mencari info tentang Saya ke sahabat saya yang satu nya, saya jadi greget dan ingat ketika itu, bagaimana saya harus memaafkan dia lagi karena dia selalu mencari cari info tentang diri saya dan dia juga sudah memutuskan silaturrahmi dengan saya,
Jawab
Wa'alaikumussalam.
Ini adalah ujian keimanan bagi ibu, ujian keikhlasan dalam memaafkan. Memang sesuatu yang berat tetapi karena ingin mendapatkan ridho Allah maka semoga benar-benar bisa memaafkan dan bersikap wajar ketika bertemu tapi tetap boleh waspada


Pertanyaan M10

1. Ustadz mau tanya apabila seseorang melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang kali, tanpa ada efek jera, pura-pura bertobat, tapi tetap melakukan kesalahan tersebut di belakang kita, apakah kita harus tetap memaafkannya? Bagaimana menyikapi orang seperti ini? Syukron atas jawabannya?
Jawab
Memaafkan itu tidak ada batasnya dan balasan Allah tiada batas.
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala (atas) mereka (dengan) tanpa batas" (Q.S.Az Zumar Ayat 10)

Tetapi bagi yang terus bermaksiat maka boleh diberikan pelajaran, kalau dalam Islam bisa diporlan ke pengadilan agar dihukum sehingga hukuman bisa membuat sadar, dan kita harus waspada dengan orang seperti itu. Misal hutang tidak mau bayar padahal mampu maka jangan diberikan pinjaman lagi

Pertanyaan M12

1. Saat kita "merasa" tersakiti oleh seseorang, dan in fact sudah saling memaafkan. Tetapi kadang inget lagi-inget lagi sama rasa sakit itu, jadilah bete kalo inget. Bagaimana cara mengatasinya ustadz?  Bagi tips tuk manage hati agar nggak terbawa emosi ya ustadz...
Syukron..
Jawab
Ketika emosi muncul kembali maka sebaiknya memperbanyak istighfar dan membaca ta'awudz. Sunah juga berwudhu dan sholat agar amarah menjadi turun krn amarah tersebut dari syetan


Pertanyaan M15

1. Bagaimana jika ada orang yang sikap/karakternya suka menggunjing orang lain, walau dalam candaan tapi juga sering dalam ejekan di belakang orangnya. Kita tidak sakit hati, & tidak dendam semua dipasrahkan aja pada Allah yang Maha Segalanya, tapi kita menjaga jarak dengan orang tersebut maksudnya bicara seperlunya ajah, tidak mau ikut kumpul² yang mereka adakan (acara yang kurang manfaat). Apakah kita mutus silahturahim?. Sykron
Jawab
Menghadapi teman yang suka ghibah adalah menasehatinya, kalau tidak mau dinasehati maka sunahnya adalah menghindari majelis tersebut agar terhindar dari dosa ghibah tsb.
Hal tersebut sesuai sunah bukan memutuskan silahturahim. Memutus silahturahim adalah membuat permusuhan dengan mereka


2. Jika kita pernah disakiti & kita memaafkan orang tersebut tapi keluarga kita masih belum bisa memaafkan orang itu. Sementara orang yang menyakiti kita bersikap cuek sudah lupa pada perbuatannya. Bagaimana sikap kita ustadz?
Jawab
Ini masalah keimanan, orang yang pernah berbuat salah dan belum dimaafkan maka semestinya berusaha untuk terus meminta maaf agar tidak ada beban nantinya di akhirat.
Bagi yang belum memaafkan maka dilatih untuk memaafkan. Semua karena Allah, ingin mengharap ridho Allah

3. Ustadz bagaimana dengan kita memaafkan seseorang tetapi setelahnya kita merubah sikap kita karena waspada, apakah berdosa?
Jawab
Waspada boleh tapi tidak menjadi keliatan marah, tetap ramah, menolak dengan bahasa yang baik.

Pertanyaan M18

1. Kalo sudah memaafkan tapi belum bisa melupakan apa berarti memaafkan nya belum ikhlas ustadz? Bagaimana agar bisa memaafkan sekaligus melupakan. Kiat-kiatnya..syukron katsir ustadz
Jawab
Melupakan dengan memaafkan adalah hal yang berbeda. Kita boleh tetap mengingat akan kejahatan seseorang sebagai bentuk kewaspadaan. Misal orang sering berbohong maka kita maafkan tapi tetap waspada jangan sampai ditipu lagi

Pertanyaan M19

1. Afwan mau tanya ustad kan setiap manusia memiliki catatan amal masing-masing yang akan dihisab kelak. Apakah kalo kita sudah dimaafkan catatan (buruk) akan dihapus dan tidak dihisab ataukah masih akan ada perhitungannya? Syukron katsir..ustadz.
Jawab
Kalau sudah dimaafkan oleh orang tersebut dan kita bertaubat kepada Allah maka in sya Allah akan diampuni dan tidak akan dihisab oleh Allah. Dosa yang dihisab adalah dosa yang belum diampuni Allah


2. Benar nggak ustadz kalau kita belum memaafkan orang bisa jadi salah satu penyebab belum bisa hamil karna secara medis tidak ada masalah?
Jawab
Secara langsung tidak ada hubungannya bu antara memaafkan dan hamil. Tapi kalau dikaitkan dengan kebarokaham dan keterkabulnya doa maka bisa terjadi. Karena tidak barokah dan  dosa ketika kita tidak memaafkan kesalahan seseorang. Dosa akan menjadi penghalang dari doa serta rizqi


2. Salahkan kalau kita memilih untuk menjauh setelah kita meminta maaf pada orang yang pernah kita sakiti?
Jawab
Sebaiknya tidak menjauh bu, tapi bersikap biasa agar sekaligus bisa membuktikan bahwa ibu benar-benar sudah berubah, dan menyesal atas sikap yang lalu.

3. Bagaimana kita harus bersikap kalau kita selalu di salahkan dalam hal apapun, meski pun yang berbicara tidak juga selalu bebar dalam bertutur kata dan bersikap?
Jawab
Ketika kita selalu disalahkan maka kita minta nasehat kepada dia, sikap mana yang salah dan seharusnya bagaimana. Agar menjadi bahan masukan untuk perbaikan diri

Pertanyaan M20

1. Ustad mau tanya. Bagaimana menyadarkan orang yang bersalah agar menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada orang yang disakitinya. Padahal sudah ada hadits yang disampaikan bahayanya memutus silaturahmi. Dan bila kita menjauhkan suami dengan temannya yang membuat kita cemburu(diduga dia menyukai suami kita) apa kita sudah memutus silaturahmi? Jika silaturahmi itu lebih banyak mudharatnya. Yakni jadi berantem ust. Soalnya si cewek dulu waktu cowok itu bertunangan suka kirim pesan yang seperti cari simpati. Jadi waktu itu calon istri meminta calon suami untuk menghindari wanita tsbt.bagaimana mnrt ust.
Jawab
Silahturohim wajib mengikuti kaidah Islam yaitu tidak boleh ngobrol berdua yang bukan mahrom apalagi sudah pernah ada masa lalu atau keterikatan hati. Jadi harus dihindari komunikasi seperti itu, bukan berarti itu memutuskan silahturohim. Memutus silahturohim adalah membuat permusuhan

2. Kita mendapatkan ujian berupa gangguan dari orang lain. Dan itu dikatakan sebagai ujian untuk kita. Namun di lain pihak, orang yang mengganggu kita apakah tidak merasa bahwa apa yang dilakukan itu adalah bentuk ujian untuk dirinya sendiri, yaitu ujian untuk tidak mengganggu orang lain. Tidak ada keputusan perbuatan dan gangguan yang akan diterima kecuali Alloh menghendaki. Bagaimana sistematika dalam hal gangguan dan mengganggu dalam hidup yaa Ustadz?
Jawab
Tingkat ilmu dan keimanan seseorang itu berbeda-beda bu. Ada yang sudah tahu bahwa sesuatu itu dosa tetapi tetap dilakukan. Banyak orang islam tapi tidak sholat, tidak puasa, zina, mencuri.dll termasuk mengganggu dan menyusahkan orang. Tugas bagi yang paham dan beriman adalah untuk sabar menghadapi mereka, mendakwahi dan mendoakan agar mereka bisa berubah

3. Tanya ustadz pernah punya asisten rumah tangga tuk jaga anak, beliau tidak melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan memasukkan laki laki /pacarnya ke rumah kita tanpa seizin kita rasanya panas hati ini ustadz sehingga langsung memecat beliau mungkin beliau sakit hati sama kita ketika dia mewakilkan untuk meminta maaf saya menolaknya karena masih terasa kesalnya ustadz...
Jawab
Sebaiknya dimaafkan kesalahan orang tersebut bu karena keutamaan orang yang memaafkan sangat besar dan kasihan bagi dia yang tidak dimaafkan. Jangan sampai kita seperti nabi Musa as yang ditegur Allah karena mengusir seorang ingin bertaubat kepada Allah

4. Pak usztad, bila seseorang menyakiti dengan ketajaman mulutnya dan menyebar fitnah serta menghasut orang-orang supaya  membenci saya, dengan dasar iri dan dengki, kalo saya maafkan dia tidak tahu kalo perbuatan itu jahat, sedangkan kalau saya membalasnya rasanya tak ada kekuatan dari mulut ini untuk berkata" kasar dan tajam. Lalu solusinya bagaimana Pak?
Jawab
Solusinya adalah dinasehati bu, atau meminta orang lain yang dekat dengan dia atau disegani oleh dia untuk menasehatinya seperti ustadzahnya dll. Karena membiarkan kemaksiatan tidak boleh, harus ada usaha menasehati minimal mendoakan agar mendapat hidayah, ampunan dari Allah.


Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Selasa, 18 Agustus 2015
Narasumber : Ustadz Herman Budianto 
Tema : Kajian Islam
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Whatapp Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala
Link Bunda

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment