Home » , » PENGERTIAN ULUMUL QUR’AN

PENGERTIAN ULUMUL QUR’AN

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, August 12, 2015



Ulumul Qur’an merupakan gabungan dari lafadz Ulum dan Qur’an. Untuk mengetahui lebih jelas pengertian Ulumul qur’an. Kita akan membahas satu per satu kata tersebut terlebih dahulu.

Pengertian lafadz Ulum

Lafadz Ulum merupakan bentuk Jama’ dari kata ‘Ilmu. Ilmu secara etimologis berarti Faham atau tahu. Secara terminologis Ilmu mempunyai definisi-definisi yang berbeda sesuai dengan latar belakang pendefinisi tersebut. Para filosof mengartikan bahwasanya ilmu adalah konsep yang muncul dalam akal maupun keterkaitan jiwa dengan sesuatu menurut cara pengungkapannya. Sedangkan Para Teologis mengartikan bahwasanya ilmu adalah sifat yang bisa membedakan sesuatu tanpa kontradiksi.

Adapun Menurut Syara’, ilmu adalah mengetahui dan memahami Ayat-ayat Allah dan lafalnya berkenaan dengan Hamba dan mahluk-makhluknnya. Dari situlah Imam Ghozali berpendapat bahwasanya ilmu sebagai objek yang wajib dipelajari oleh orang Islam adalah konsep tentang ibadah,aqidah, tradisi, dan etika Islam secara lahir dan bathin.¹

Adapun pengertian ilmu menurut terminologi ulama juga bermacam-macam , pendapat yang diutarakan oleh Syekh Muhammad Abdul Adzim Al-Zarqoni dalam Manahilul ‘irfannya. Beliau mengatakan bahwa ilmu adalah objek-objek pengetahuan yang diatandai dengan satu aspek, baik dari aspek tematik maupun tujuannya. Baik obyek itu berbentuk tashawwur ataupun tasdiq. Inilah pengertian yang menurut beliau mudah dipahami ketika kita mengatakan “Saya belajar suatu ilmu, dan Ilmu yang saya pelajari adalah begini.”

Pengertian lafadz qur’an

a) Pengertian Etimologi

Secara Etimollogi lafadz Qur’an itu sama dengan lafadz Qira’ah, yang merupakan bentuk masdar dari lafadz qoro’a. Ini dapat dilihat dari firman Allah swt. Surat Al-Qiyamah ayat 17-18. Yang artinya: Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kamu telah selesai membacanya, maka ikutilah bacaan itu. “

Dalam sebagian pendapat disebutkan bahwasanya Al-Qur’an bermakna Al jam’u (menghimpun,mengumpulkan atau merangkai). Ini tidak salah ketika lafadz Qara’a (membaca) dalam ayat tadi itu diartikan sebagi merangkai huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lainnya dalam satu ungkapan yang teratur.

Ada banyak pendapat mengenai asal-usul lafadz Al-qur’an. Suatu pendapat mengatakan bahwa lafadz Al qur’an berasal dari lafadz qoro’inu yang merupakan bentuk jamak dari Qoronatis sya’u bi sya’i. Dan pendapat lain mengatakan bahwa lafadz al-qur’an itu merupakan nama sejak awal untuk kalam yang mengandung kemukjizatan dan diturunkan kepada nabi Muhammad saw.

b) Pengertian terminologis

Tak mengherankan lagi bahwa Al-qur’an adalah kalamullah. Adapun Al- Qur'an menurut Jumhur Ulama adalah kalamullah yang diturunkan kepada nabi muhammad saw. yang mana dengan membacanya kita dianggap ibadah.

Pengertian Ulumul Qur'an

Dari deskripsi yang telah disampaikan diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Ulumul Qur'an adalah Ilmu-ilmu yang mencakup pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan Al-Qur'an dari sisi informasi tentang Asbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya Al-Qur'an), kodifikasi dan tertib penulisan Al-qur'an, ayat-ayat makkiyah, madaniyah, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan Al-Qur'an.

FUNGSI DAN KEUTAMAAN ULUMUL QUR’AN

1) Fungsi Ulumul Qur’an

Adanya golongan yang bersifat radikal akhir-akhir ini tidak lepas dari penafsiran mereka tentang Al-Qur’an. Mereka yang toleranpun tidak lepas dari interpretasi mereka akan ayat-ayat Al-Qur’an. Dari sini bisa diketahui bahwa sebuah penafsiran itu sangat berpengaruh pada implementasi keagamaan seseorang. Untuk mengawal berjalannya penafsiran agama sesuai dengan yang dikehendaki oleh syari’at (maqosidus syari’ah), Maka disinilah tampak akan urgensinya sebuah Ulumul Qur’an. Ulummul Qur’an sangat dibutuhkan untuk mencapai penafsiran yang sejalan dengan maqosidus syari’ahnya.

2). Keutamaan Ulumul Qur’an

Tidak dipungkiri lagi bahwa Al-Qur’an adalah sumber dari segala ilmu. Banyak teori-teori yang ditemukan belakang ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an yang sudah turun ribuan tahun sebelumnya.Teori yang diungkapakan Harun Yahya mengenai terbentuknya Bumi yang tidak tercipta secara kebetulan, melainkan sudah diatur sedemikian rupa secara implisit itu sudah ada dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 10-11. Dan untuk menggali nilai-nilai dan khazanah keilmuan yang ada dalam Al-Qur’an, Kita membutuhkan ilmu-ilmu yang berhubungan dengannya. Dari sinilah tampak keutamaan Ulumul Qur’an dibanding dengan ilmu-ilmu yang lain.

SEJARAH PERKEMBANGAN

1. Sejarah kemunculan istilah 'Ulumul Qur'an :

a. Pendapat Asy-Suyuthi dalam pengantar kitab Al-Itqan : Ulum Al-qur'an muncul pada abad VI H. oleh Abu Al-Farj bin Al-Jauzi.

b. Pendapat Az-Zarqani: Ulumul Qur'an muncul pada awal abad V H. melalui tangan Al-Hufi (w. 430 H.) dalam karyanya yang berjudul Al-Burhan fi Ulumul Qur'an.

c. Pendapat Abu Syahbah: istilah Ulumul Qur'an muncul dengan ditulisnya kitab Al-Mabani fi Nazhm Al-Ma'ani yang ditulis tahun 425 H. (abad V H.)

d. Pendapat Subhi Ash-Shalih: Istilah Ulumul Qur'an sudah muncul semenjak abad III H., yaitu ketika Ibn Al-Mazuban menulis kitab yang berjudul Al-Hawi fi Ulumul Qur'an.

2. Perkembangan Ulumul Qur'an

(a) Masa Sebelum Kodifikasi Ulumul Qur'an

Pada masa ini sebenarnya sudah timbul benih kemunculan Ulumul Qur'an yang dirasakan semenjak Nabi masih ada. Hal ini ditandai dengan gairah semangat yang terpancar dari sahabat dalam mempelajari sekaligus mengamalkan Al-Qur'an dengan memahami ayat-ayat yang terkandung di dalamnya.

Perkembangan Al-qur'an pada massa ini hanya sebatas dari mulut ke mulut, belum ada pembukuan teks Al-Qur'an karena ditakutkan tercampurnya Al-Qur'an dengan sesuatu selain Al-Qur'an. Di samping itu Rosulullah saw juga merekomendasikan untuk tidak menulis Al-Qur'an . dalam hadisnya beliau mengatakan :
“Janganlah Kalian menuliskan (sesuatu) dariku. Dan barang siapa menuliskan selain Al-Qur'an, maka hendaklah ia menghapuskannya . Dan ceritakanlah (sesuatu yang berasal) dariku, tak ada dosa. Namun barangsiapa mendustakanku secara sengaja, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka."
(b) Masa Persiapan Kodifikasi Ulumul Qur'an.

Pada masa kholifah Usman bin Affan Islam telah tersebar luas. Orang-orang arab yang turut serta dalam ekspansi wilayah berasimilasi dengan bangsa-bangsa yang tidak mengenal bahasa arab. Sehingga dikhawatirkan Arabisitas bangsa itu akan lebur dan Qur'an itu akan menjadi kabur bagi kaum muslimin bila ia tidak di himpun dalam sebuah mushaf sehingga mengakibatkan kerusakan yang besar di dunia ini akibat salah dari penginterpretasian dalam pemaknaan Al-Qur'an. Oleh karena itu, beliau memerintahkan agar Al-Qur'an di himpun dalam satu mushaf. Mushaf inilah yang kemudian disebut dengan Mushaf Ustmani.

Pada masa Ali ra. terjadi banyak penyimpangan dalam membaca bahasa arab sehingga beliau khawatir akan kekeliruan dalam membaca terlebih memahami Al-Qur'an. Beliau memerintahkan Abu Aswad Ad-da'uliy untuk menyusun suatu metode demi menjaga ketatabahasaan Al-Qur'an. Maka lahirlah ilmu nahwu dan I'robul Qur'an.

Kemudian pada masa bani Umayyah, para pemuka sahabat dan tabi'in mengarahkan perhatian mereka kepada penyebaran ilmu-ilmu al-qur'an tetapi ini hanya sebatas periwayatan dan penerimaan. Jadi Ilmu-ilmu yang telah ada belum sempat terkodifikasi.

(c) Masa Kodifikasi Ulumul Qur'an

Pada masa pengkodifikasian banyak bermunculan kitab-kitab dan ilmu-ilmu baru mengenai Al-Qur'an meskipun pada awalnya ilmu yang dipioritaskan hanyalah Ilmu Tafsir. Pada abad III H. muncul ilmu Asbabun Nuzul yang disusun oleh Ali bin Al-Madiniy, Ilmu Nasikh wal mansukh, Ilmu Qira'at, dan Ilmu Makki Madani.

Pada abad IV H. muncul Ilmu Gharib al-Qur'an yang disusun Abu Bakar As-Sijistani. begitulah seterusnya hingga abad ke XIV H.

Yaa... ini baru kulit-kulitnya saja yang saya sampaikan, silahkan jika ada yang ingin eksplore lebih dalam via tanya jawab

TANYA JAWAB

1. Ustadzah, kadang terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam memandang suatu masalah, apakah ini karena adanya perbedaan dalam menafsirkan ayat" dalam Al Qur'an?
Jawab
Iya betul sekali bunda Asri, maka dalam ulumul Qur'an pun ada syarat ketat untuk menjadi seorang mufassir/ahli tafsir. Tidak bisa mentafsirkan sembarang, yang belum sampai derajat mufassir, maka gunakan referensi kitab-kitab tafsir yang sudah ada.

2. Ustadzah, sebagai seorang muslimah, ilmu mengenai AlQur'an yang mana yang Seharusnya kita ketahui mendalam? Apakah asbabunnuzul nya?  ilmu nahwu shorof nya, tadjwid nya, mohon penjelasan ustadzah?
Jawab
Belajar ilmu Al Qur'an tentu wajib hukumnya, namun yang utama tentu ilmu qiro'ahnya dulu, ya tajwid, sifat huruf, langgam dsb. Sesuai dengan tingkatan tuntutan Al Qur'an terhadap muslim. Kemudian setelah tilawah ada menghafalkannya, maka untuk mempermudah alangkah baiknya belajar bahasa Arab sehingga mudah dalam menghafal. Kemudian tahap berikut mentadabburi, disini perlu belajar asbabunnuzul, nasikh mansukh dsb

Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Rabu, 12 Agustus 2015
Narasumber : Ustadzah Lillah Nurul Fadilah 
Tema : Kajian Islam
Notulen : Refa & Wiwin

Kajian Online Whatapp Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala
Bunda M07

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!