Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Getting Caught Up in Praise
Oleh: Lara Fridani

“Nah begitu dong, ini baru anak ayah. Selalu jadi sang juara. Hadiah apa nih buat anak ayah yang hebat ini?!”
 
“Ckckckck, senang banget deh lihat kamu yang cantik imut. Pakai baju model apa aja cocok, warna apa aja oke, mana ukuran nya juga pas banget lho, modis gitu!”
“Waduh ibu X kelihatan tambah muda dan segar nih. Katanya baru-baru ini sekeluarga liburan di luar negri ya? Super deh , pasti hidupnya makmur ya bu!
“Wah, bapak ini memang hebat, prestasinya luar biasa.Bapak sangat pantas untuk segera mendapat promosi jabatan. Mudah-mudahan nanti kita bisa saling bekerjasama!”

Tak jarang kita mendengar bahwa memberi pujian pada seseorang- apalagi pada anak yang masih kecil adalah hal yang positif. Padahal memberi pujian yang berlebihan dan terlalu sering juga dapat berakibat negatif sebagaimana halnya tak memberi pujian/penghargaan sama sekali. Seberapa intens dan seberapa besarkah sebuah pujian tepat diberikan? Banyak ahli pendidikan yang berpendapat bahwa pujian sebaiknya lebih difokuskan pada usaha/effort maupun cara/strategy yang dilakukan anak untuk membuat ‘sebuah perubahan’ yang baik. Dengan demikian kita tidak disarankan memberikan pujian yang difokuskan pada kemampuan anak (contoh: produk prestasi sebagai sang juara) atau ditujukan untuk memberi label yang melekat pada diri anak (contoh : anak hebat). Selanjutnya, seiring dengan bertambahnya usia anak, pujian tidak kita berikan untuk hal-hal yang relatif mudah, karena hal ini bisa diartikan anak secara berbeda- mereka mengira kita ‘tak pandai’, atau menganggap kita memandang kemampuan mereka di bawah standar.

Apalagi memberi pujian pada orang dewasa, tentunya ‘standar’ pujian, tak se-sederhana dan se-‘konkret’ pujian kita pada anak kecil. Walaupun tak jarang kita masih bisa menemukan orang dewasa yang senang memberikan pujian ‘lebay’ pada orang lain atau terlena dengan sanjungan ‘lebay’ dari orang lain. Tentu saja orang dewasa sekalipun, masih mengalami reaksi chemically dan intellectually saat diberikan pujian, dimana dia akan merasa senang, bangga, puas dan termotivasi untuk ‘berprestasi’ lagi untuk mendapatkan pengalaman ‘rasa’ yang menyenangkan tersebut. Sehingga wajar jika banyak orang yang berpendapat bahwa pujian yang diekspresikan karena rasa kagum kita pada seseorang adalah hal yang patut dan diyakini bisa memotivasi seseorang agar berbuat lebih baik. Pujian yang kita berikan sebagai bentuk penghargaan kita dari lubuk hati yang jujur memang dapat mempererat kasih sayang/silaturrahim. Namun tentunya bentuk pujian seperti itu berbeda dengan pemberian pujian yang diungkapkan sekedar untuk basa basi, dimana kita harus pikirkan kembali maksud dan maknanya. Apalagi pujian yang berlebihan, tidak pada tempatnya atau tidak layak diterima seseorang dengan maksud ‘menjilat’, atau karena takut pada orang yang diberi pujian.

Ajaran Islam telah mengatur batasan pemberian pujian secara luar biasa, dengan memberikan makna ‘value’ yang jauh lebih dalam. Pertimbangan Islam dalam memberikan pujian bukan sekedar untuk memotivasi , memberikan ‘rasa’ yang menyenangkan pada seseorang, atau meningkatkan kepercayaan diri orang tersebut. Batasan pemberian pujian dalam islam terkait dengan ‘pembentukan kepribadian muslim’ dalam hubungannya sebagai hamba Allah SWT. Seorang muslim tak akan berlebihan dalam memberikan sanjungan pada seseorang. Demikian pula seorang muslim tak akan mudah terlena dan menjadi bangga (ujub) pada dirinya karena merasa yakin memiliki kelebihan tertentu yang pantas dipuji. “You can’t let praise or criticism get to you. It’s a weakness to get caught up in either one.”Dengan demikian , kita perlu berhati-hati dalam memberi pujian dan mengemasnya dengan cara yang bijak agar saudara kita seiman tetap berkepribadian sholeh. Pepatah mengatakan, “People can not go wrong if you don’t let them.”

Abu Musa RA bercerita bahwa Nabi Muhammad SAW pernah mendengar ada orang yang memuji saudaranya dengan sangat berlebihan. Beliau bersabda: ”Kalian telah mematahkan punggung saudara kalian (kalian telah membinasakannya).” [HR Bukhari dan Muslim]
Rasulullah SAW pernah bersabda dalam khutbah Jumat-nya : “Berwaspadalah kamu daripada perangai puji memuji. Sesungguhnya pujian itu adalah sembelihan.” (Hadis riwayat Ahmad)
Dalam islam, ada pujian yang dibolehkan, ada pula yang dilarang. Para ulama berpendapat bahwa memuji orang yang memiliki iman yang baik, yang tidak mudah terpesona dengan pujian yang diberikan padanya, hukumnya tidak dilarang. Rasulullah SAW juga pernah memuji para sahabatnya karena kelebihan yang mereka miliki.
Kepada Abu Bakar RA, beliau bersabda : ” Hai Abu Bakar, jangalah engkau menangis. Sesungguhnya orang yang paling menjaga amanat dalam persahabatan dan harta adalah engkau. Andaikata aku harus mengangkat pendamping dari umat-ku, niscaya kuangkat dirimu sebagai pendampingku. “
Kepada Umar beliau berkata ” Hai Umar, tidaklah setan berjumpa denganmu sedang engkau berjalan di satu sisi, melainkan ia berjalan di sisi yang tidak engkau lalui. “
Kepada Usman beliau berkata: ” Bukalah pintu bagi Usman, dan beritahukanlah bahwa ia masuk syurga. “
Juga kepada Ali RA : ” Engkau sebagian dari padaku, dan aku sebagian daripadamu. “
Rasulullah SAW lebih sering melontarkan pujian dalam bentuk doa. Ketika melihat kelebihan sahabat-sahabatnya, beliau tidak langsung memuji mereka, namun lebih memilih untuk mendoakan mereka. Sebagai contoh, beliau mendoakan Ibn Abbas RA yang memiliki minat dan ketekunan agar ahli dalam ilmu agama dan ilmu tafsir (Al-Qur’an), serta mendoakan Abu Hurairah RA yang tekun mengumpulkan hadits dan menghapal hadits agar dikaruniai kemampuan untuk tidak melupakan apa yang pernah dihapalnya.

Adakah kita masih ragu dengan ajaran Islam tentang batasan pemberian pujian ini? Semoga kita termasuk orang-orang yang membuka pikiran dan hatinya untuk belajar agama lebih mendalam. Semoga kita berhati-hati dalam memberikan pujian agar tidak menjerumuskan saudara kita. Semoga kita menyikapi pujian yang kita terima secara ‘sehat’dan mengembalikan segala puji hanya bagi Allah SWT.
“Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa (pujian) yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka kira.” (HR Bukhari)”
Salam ibu  ibu, semoga sehat penuh semangat. Saya share artikel di atas untuk diskusi nanti sore jam 4-5 pm in shaa Allah. Mangga untuk komentar, masukan maupun pertanyaan. Semoga materi di atas belum pernah jadi bahan diskusi sebelumnya. Kalau sudah, boleh saya ganti artikel lain ya bupiks? 😘

Pertanyaan❓❓❓❓❓
1. Bunda.. Kalau ut anak yg sdg belajar membaca.. Pujianya yg tepat ketika dia telah selesai tahap-tahapanya spt lulus jilid 1 atau spt apa ya..
Kalau sy biasanya ya setiap saat ktk anak bisa menyelesaikan 1 halaman..dg pujian bener senua.. Dan dapet bintang atau anak pinter dll, Lalu ut perubahan sikap anak yg spt apa yg layak dpt pujian❓
➡ Kalau kita menggunakan pendekatan yang menekankan pada usaha anak, bukan pada prestasi/ hasil pencapaian target anak , termasuk utk kegiatan belajar membaca, maka kita akan memberi motivasi sejak awal dan berkesinambungan sesuai kebutuhan, bukan ditargetkan setelah satu halaman atau satu baris dan sejenisnya.
Penerapan pemberian tanda bintang dll utk target tertentu adalah pendekatan behavioristik yg cenderung kaku, walaupun ada kelebihan dan kekurangannya.
Memang perlu waktu utk menerapkan pendekatan yg membangun, krn selama ini lingkungan pendidikan kita cenderung menghargai hasil, dibanding usaha/proses. Contohnya dulu adalah  kebijakan  UN  😁
Jadi setiap anak terlihat berusaha, dia layak dimotivasi dan dipuji usahanya, contoh : "alhamdulillah, abang semangat belajarnya."
Pujian pertama,  dikembalikan pada Allah. Pujian utk anak, lebih pada usaha nya, bukan sekedar memberi label " hebat nih abang, anaknya ummi." ( contoh yg kurang tepat).
Sesekali boleh memberi label yg baik  misalnya 'anak sholeh'
Seiring usia anak, kita bisa  beri pujian atas usahanya yg lebih keras. Jadi utk hal hal mudah, tak perlu dipuji berlebihan. Wallahualam
Kalau hanya merujuk dari psikologi ala barat , walaupun ada lebih dari seratus kata pujian yg dianjurkan, saya khwatir anaknya jadi gede rasa 😜

2.  Bun.. Kalau ada pujian sebaliknya ada hukuman atau sangsi.. Gmn bun.. Batasan memberi hukuman ke anak atas kesalahanya❓
➡utk masalah hukuman, selain memperhatikan faktor usia, faktor pemahaman anak,  kita perlu merujuk apakah kesalahan anak tsb  suatu hal yang melanggar ajaran islam.
Jadi kita tidak mwnghukum anak baik secara fisik, psikis atau sosial karena ketidaktahuan anak.
Tapi jika anak sudag baligh dan sudah diajarkan aturan islam, namun masih melanggar, tentunya kita perlu merujuj  konsekuensi yg diajarkan dalam islam.
Contoh yg tidak tepat adalah ketika  kita menghukum anak kita( dengan  cercaan, ungkapan kecewa dan sejenisnya) krn tidak juara. Namun ketika anak tidak sholat walaupun sudah baligh, kita tidak memberi konsekuensi. Wallahualam
Intinya banyak hal yang menjadi kebiasaan kita swbagai ortu, yang perlu kita perbaiki.
Mana usaha anak yg lebih prioritas utk dihargai, apakah sekedar prestasi akademik, atau lebih kepada sikap/ attitude anak dalam  menjalankan perintah agama
Mhn maaf bunda, jika tak ada komentar atau  pertanyaan lagi, saya mhn pamit ya. Anak saya yg toddler sudah mulai cari perhatian 😜. Mhn maaf jika ada kesalahan
Kita tutup dg Doa Kafaratul majlis

=============
Rekap Kajian grup Ummi M13
Senin,10 Agustus 2015
Pemateri : ustadzah Lara Fridani
Tema: psikologi Pendidikan