TAZKIYATUN NAFS (MEMBENTUK JIWA YANG SUCI)

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, August 10, 2015

Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamu'alaikum wr wb
Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin. Segala puji bagi Allah swt. Dialah yang menurunkan ketenangan dan ketentraman pada hati orang-orang yang beriman. Dialah yang telah mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf untuk membacakan ayat-ayat-Nya, mensucikan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Kami bersaksi bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang berhak disembah, tiada sekutu bagi-Nya. Dan kami bersaksi bahwa Muhammad saw adalah hamba dan Rasul-Nya. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat serta hidayat-Nya kepada beliau beserta keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya sampai hari kiamat.


Diantara tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad saw, adalah untuk memberi bimbingan kepada umat manusia dalam rangka tazkiyatun nafs (membentuk jiwa yang suci), sebagaimana firman-Nya :

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي اْلأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rosul dari golongan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al Jum’ah : 2)

Karenanya, wajib bagi setiap orang yang mengharapkan pahala dari Allah dan kebahagiaan abadi di hari kemudian untuk memberikan perhatian secara khusus bagaimana agar ia mampu mensucikan diri. Karena keberuntungan dan kesuksesan seseorang itu dapat diraih tergantung bagaimana ia mau mensucikan dirinya (tazkiyatun nafs), sebagaimana firman-Nya :


قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

“Sesungguhnya telah beruntunglah orang yang mau mensucikan jiwanya.”
(Qs. As Syams : 9)

Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah menyebutkan bahwa manusia itu terbagi menjadi dua golongan:

1. Golongan yang terkalahkan oleh nafsunya, sehingga setiap perilakunya dikendalikan oleh nafsunya.

2. Golongan yang mampu mengekang dan mengalahkan nafsunya sehingga nafsu tersebut tunduk pada perintahnya.

Allah swt telah menyebutkan dalam firman-Nya :

فَأَمَّا مَن طَغَى {37} وَءَاثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا {38} فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى {39} وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى {40} فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى {41}

“Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka nerakalah tempat tinggalnya. Sedangkan mereka yang takut pada kebesaran Rabb-Nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya sorgalah tempat tinggalnya.” (Qs. An Nazi’at : 37 – 41)

Allah swt telah menjelaskan dalam Al Qur’an tentang jenis-jenis nafsu yang dimiliki manusia, yaitu:

- Nafsu Muthmainah
- Nafsu Lawwamah
- Nafsu Amarroh bis Su’

1. Nafsu Muthmainnah

Yaitu nafsu yang tenang bersama Allah, tentram ketika mengingat-Nya dan selalu merindukan-Nya. Dialah nafs yang disaat ajal menjelang, akan dikatakan padanya:

يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ {27} ارْجِعِي إِلىَ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَةً {28} فَادْخُلِي فيِ عِبَادِي {29} وَادْخُلِي جَنَّتِي {30}

“Hai nafs (jiwa) yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Qs. Al-Fajr : 27-30)

  • Ibnu Abbas r.a. berkata : Muthmainnah artinya yang membenarkan.
  • Qotadah berpendapat : Hanyalah orang yang beriman yang jiwanya tenang terhadap apa yang dijanjikan Allah.
  • Ibnu Kisan mengatakan : yaitu nafs yang tenang karena mengingat Allah.
Orang yang berjiwa Muthmainnah ini akan tercermin pada perilaku dan raut mukanya. Ia tampak tenang, berseri, penuh keceriaan dan bersabar diri serta menerima setiap cobaan dari Allah dengan lapang dada dan tawakkal. Ia tidak pernah gundah, gelisah dan putus asa bila tertimpa musibah dan tidak juga terlalu bersuka cita bila mendapatkan nikmat dari Allah. Karena ia yakin bahwa semuanya sudah ditaqdirkan oleh Allah swt. Sebagaimana firman-Nya:

مَآأَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ {11}

“Tidak ada satu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya ia akan memberi petunjuk pada hatinya.” (Qs. At Taghobun : 11)

2. Nafsu Lawwamah

Yaitu nafsu yang tidak pernah konsisten atau stabil di atas satu keadaan. Ia seringkali berubah (labil) baik dalam pendirian maupun perilaku. Antara ingat dan lalai, ridho dan marah, cinta dan benci serta taat dan beribadah kepada Allah atau bahkan malah berpaling dari-Nya.

Sebagian ulama berpendapat : bahwa nafsu lawwamah adalah nafs-nya orang-orang yang beriman.
  • Al Hasan Al Bashri berkata : “Sesungguhnya orang mukmin mustahil bila tidak pernah sekali saja mencela dirinya. Ia akan berkata pada nafs-nya: Maukah kamu berbuat begini? Mengapa kamu berbuat seperti itu? Seharusnya kamu berbuat begini! Atau ucapan sejenisnya.
  • Muqotil menyebutkan : “Ia adalah nafs yang mencela dirinya pada hari kiamat terhadap apa yang telah dilakukannya yang melampau batas dari urusan Allah di muka bumi ini.”
  • Imam Ibnu Qoyyim berkata, “Semua pendapat di atas adalah benar.”
3. Nafs Ammaroh bis Suu’

Yaitu nafs yang tercela, sebab ia memiliki watak selalu mengajak ke arah kedholiman, karena memang demikianlah tabi’atnya. Tidak seorangpun yang terlepas dari watak buruk nafs ini kecuali yang mendapat rahmat Allah swt.

وَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَازَكَى مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمُُ 

“Sekiranya tidak karena Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan apa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. An-Nur : 21)

Tidak seorang pun yang terlepas dari watak buruk nafsu ini, kecuali yang mendapatkan rahmat Allah swt. Berkata Ibnu Qudamah dalam kitabnya Mukhtashor Minhajul Qoshidin : “Ketahuilah bahwa musuh bebuyutanmu adalah nafs kamu yang ada di sisimu. Dan telah diciptakan nafs yang menyeru kepada kejahatan, cenderung kepada kejelekan. Engkau telah diperintahkan untuk menghukuminya, mensucikannya dan menceraikannya dari sumber-sumbernya.”

Perlu kita ketahui bahwa gerak jiwa dan hati nurani adalah inspirasi bagi hati jasmani yang kemudian diimplementasikan dalam bentuk sikap dan watak manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.

أَلا إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةٌ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَ إِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَ هِىَ الْقَلْبُ. رواه البخارى و مسلم

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal daging. Apabila baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Apabila ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah ia adalah hati.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Memang segala sifat yang dimiliki oleh jiwa akan meluap keluar dan bekas-bekasnya itu tentu tampak sekali diantara anggota lahiriyah, sehingga anggota-anggota tadi tidak akan bergerak sama sekali melainkan sesuai menurut irodah jiwanya. Ini sudah pasti dan tidak bisa diingkari lagi.

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah menyebutkan dalam kitabnya “Igotsatul Lahfan” : Hati adalah raja bagi semua anggota badan. Seluruh anggota badan akan melaksanakan segala perintahnya dan menerima apa saja yang diberikannya. Tidak ada satu perbuatanpun yang bisa terlaksana dengan benar, kecuali jika muncul dari kehendak dan niat hati. Hatilah yang bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Maka karena itulah memperbaiki dan meluruskan hati merupakan perhatian utama yang dilakukan orang-orang yang menempuh jalan menuju ridlha Allah.

Lebih jelasnya Abdurrahman Habanakah Al Maidani menyebutkan : Secara tabi’at kapan seseorang itu suci jiwanya, maka akan luruslah akhlaq (perilakunya) baik yang dhohir maupun yang batin. Meskipun akhlaq karimah itu kadang memang sudah merupakan watak asli (fithrah) seseorang. Namun sebenarnya hal itu dapat diperoleh dan diusahakan dengan jalan latihan, yaitu dengan cara membiasakan untuk melakukan hal tersebut atau dengan jalan pergaulan, yaitu dengan menyaksikan dan berkawan dengan orang yang sholih.

Berikut akan kami uraikan beberapa bentuk akhlaqul mahmudah yang merupakan cermin dari sucinya jiwa. Menghiasi diri dengan akhlaq yang terpuji dan membersihkannya dari akhlaq yang tercela adalah merupakan usaha untuk tazkiyatun nafs (mensucikan jiwa), sebagaimana yang disebutkan Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsirkan ayat :

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

“Telah beruntung orang yang mensucikan jiwanya dengan taat kepada Allah dan membersihkannya dari akhlaq yang rendah dan hina.”

Mari kita menjadi hamba-hamba yang senantiasa mau mengevaluasi diri sehingga bersih jiwa kita dari perilaku-perilaku yang akan mengantarkan kita pada kesesatan....
Jazakumullahu ahsanul jaza
Mohon maaf jk ada salah
Wassalamu'alaikum wr wb

TANYA JAWAB

Pertanyaan M101

1. Kalo mau haid suka uring-uringan, gimana caranya biar lebih terkendali?
Jawab
Ga selalu sih. Bisa jadi karena ada perubahan hormon. Karena kalo biasa kontrol diri ga ada bedanya. Kalo masih susah ya diam jadi kan pilihan. Banyak mendekat pada Allah dan dzikrullah

Pertanyaan M104

1. Ustadzah  jika kita memiliki nafsu tuk memiliki yang sangat tinggi, itu gimana? Meski terkadang kita sadar itu ga mungkin dan tidak baik. Tapi selalu aja berusaha untuk mendapatkanya?
Jawab
Sebenarnya ga masalah asal seimbang dan tidak over. Ingin meraih apa saja juga boleh ko asal caranya benar dan tidak berlebihan juga

Pertanyaan M107

1. Apa aku di katagorikan kepada no 2, saya kadang dalam hati nurani saya sebenarnya ini dosa tapi kadang kala aku lakukan itu dan tidak di pungkiri bahwa itu dorongan nafsu/syahwat setelah itu saya beristigfar kalau dorongan itu muncul saya melakukan lagi (maaf ya mungkin sedkit vulgar) contoh disini menghayal ... Oleh sebab itu saya selalu memohon semoga Allah segerakan jodoh agar fikiran-fikiran yang jelek akan hilang dan minta perlindungan dari tipu daya setan. Yang jadi pertanyaan saya gimana caranya agar tidak labil?
Jawab
Agar tidak labil? Wajar sebenarnya jika kita manusia mudah berbuat salah karena manusia yang bahasa arabnya al insan artinya lupa. Hanya saja kita wajib memperbaiki diri selalu. Adanya proses penyadaran diri itu penting. Masalah hati itu harus dijaga. Harus ada teman bicara tentang hati terlebih kepada orang tua. Karena orang tua itu punya pengalaman. Namun jika orang tua kurang paham agama ya kepada guru ngaji atau orang yang dipercaya.

2. Oya kadang suka menyalahkan diri sendiri dan kadang hati saya ini gak mau jangan dilakukan kadang sering perang hati berkecamuk apabila dihadapkan kondisi antara lakukan atau tidak, dan sebaiknya gimana ya mengatasinya?
Jawab
Makin dekat pada Allah agar jiwa tenang. Berdzikrlah bila gundah. Bersama Allah kita akan terjaga

Pertanyaan M108

1. Bagaimana kiat-kiat atau latihan - latihan untuk mencapai nafsu muthmainnah?
Jawab
muhasabah; evaluasi diri atas apa yang sudah dilakukan. Memohon ampun dan senantiasa taqarub ilallah. Meminta petunjuk kepadaNya. Banyak bergaul dengan orang shalih

2. Bagaimana caranya agar terhindar dari nafs amaroh bis suu' itu?
Jawab


belajar menahan diri. Mencari teman yang bisa jadi cermin masalah akhlak. Cari lingkungan yang kondusif. Memohon perlindungan kepada Allah atas segala sifat buruk

Pertanyaan M110

1. Apa peebedaan nurani sama naluri? Dan bagaimana cara mengaplikasikanya terkait dengan hati? Syukron
Jawab
Naluri itu dorongan keinginan. Sesuai dengan sifat dasar manusia atau sama dengan fitrah. Misal naluri untuk mencintai. Nah itu fitrah. Kemudian nurani itu hati yang terdalam. Hati yang suci.


2. Contoh akhlaq karimah yang mana?
Jawab
Akhlak yang baik. Menjaga hubungan baik dengan Allah juga dengan manusia. Hubungan baik dengan Allah dijaga dengan ibadah yang benar. Hubungan baik dengan manusia ya dengan tutur sapa yang sopan. Menghormati dll

Pertanyaan M116

1. Terkait nafsu yang menjadi fitrah manusia seperti apa? apa bener berbuat jahat dan buruk adalah nafsu fitrahnya atau memang kehendaknya Allah atau terkait perbuatan manusia itu sendiri entah itu baik dan buruk tidak ada sangkut pautnya dengan Allah tapi dikembalikan pada masing-masing maunusia.
Jawab
Manusia itu diberi akal sehingga yang namanya fitrah itu jika masuk akal atau yang pas dan tidak buat hal yang tak seimbang. Atau bisa dikatakan yang sesuai dengan keumuman atau bawa kenyamanan sekitar. Fa'alhamaha fujuraha wa taqwaha. Allah sudah hamparkan ilham kita yang milih mau dosa atau taqwa. Itulah fungsi dari akal supaya bisa memahami benar salah

2. Tanya bagaimana melatih agar nafsu lawwamah hanya cenderung kepada perintah Allah ?
Jawab
Ya dipaksa untuk baik. Akhlak yang baik nafsul mutmainah itu berporoses. Cari lingkungan yang baik teman yang baik. Agar terlatih jadi baik sehingga awalnya dipaksakan lama-lama jadi kebiasaan


Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Senin, 03 & 10 Agustus 2015
Narasumber : Ustadzah Rochma Yulika 
Tema : Syaksiah Islamiyah
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Whatsapp Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala
Link Nanda

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!