Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

6 HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM DAKWAH


Hasil gambar untuk hal hal penting dalam hidupبسم الله الر حمن الر حيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya.

Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaaLlah..
Aamiin

Sedikit yang perlu diperhatikan bersama

1. Selalu ikhlas mengharapkan Ridho Alloh swt.
Surah Al-Bayyina, Verse 5:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan)agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Surah Al-Isra, Verse 19:
وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا
Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.

2. Jaga muruah (kehormatan) Islam, kaum muslimin, dari diri sendiri serta keluarga.

Surah At-Taubah, Verse 40:
إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

3. Tidak perlu takut, sedih, atau minder, karena menjadi berbeda lantaran memegang kebenaran. Dan jangan pula punya keinginan untuk selalu berbeda.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ وَهُوَ يَأْرِزُ بَيْنَ الْمَسْجِدَيْنِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ فِي جُحْرِهَا (مسلم)
dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: " Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing seperti semula, ia akan masuk di antara dua masjid sebagaimana ular yang masuk ke dalam lubangnya." (HR. Muslim)

4. Selalu tambah, perkokoh, perdalam, perkuat, dan perbarui ilmu pengetahuan kita.
Surah An-Nahl, Verse 43:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,
5. Selalu ambil bagian dalam barisan kaum muslimin yang berjuang untuk meraih Ridho Alloh swt, sesuai kemampuan, keahlian, dan keistimewaan yang kita miliki.
Surah Fussilat, Verse 33:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"
6. Demi meraih keberhasilan di akhirat, Selalu siapkan diri untuk menghadapi takdir buruk, tetapi jangan tolak takdir baik yang Alloh swt berikan, selama hal itu tidak merusak nasib akhirat kita.
Surah Ad-Dhuha, Verse 4:
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ
Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).
Surah Al-Isra, Verse 21:
انظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا
Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.
Demikian. Semoga bermanfaat. Amin.
Assalamu'alaikum wr wb
TANYA JAWAB

1. Ustadz, saya mau tanya saya merasa islam kini kembali ke zaman 'asing' yang istiqomah lakukan sesuai Al quran dan hadits dibilang aneh, misal berjenggot, jilbab lebar, resepsi nikah yang dipisah antara laki perempuan, bgaimana caranya meneguhkan hati di tengah-tengah kondisi yang tidak begitu mendukung kita ? Dibilang fanatik dan lain-lain.
Jawab :
Memang untuk meraih surga itu, perlu perjuangan dan pengorbanan, karena memang surga itu mahal.
Jangan kan mau mendapatkan surga yang luas nya seluas langit dan bumi, untuk membeli sebidang tanah di dunia (hanya sementara sampai kita mati), kita perlu kerja keras, apalagi untuk meraih kenikmatan surga Alloh swt yang sangat tidak ada tara nya.
Surah Aal-e-Imran, Verse 142:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. 

Jika kita dapat bersabar dalam keislaman dan keimanan di akhir zaman ini, in-sya'alloh kita adalah orang yang dirindui oleh Rosululloh saw sejak beliau masih hidup dulu, karena itu, tidak perlu kita bersedih hati. Di akhirat nanti kita mendapatkan surga, dan di dunia ini, kita adalah umat yang dirindui oleh Rosululloh saw, insya-Alloh.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى الْمَقْبُرَةَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا قَالُوا أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ فَقَالُوا كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ الْوُضُوءِ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا (مسلم)
dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendatangi pekuburan lalu bersabda: "Semoga keselamatan terlimpahkah atas kalian penghuni kuburan kaum mukminin, dan sesungguhnya insya Allah kami akan bertemu kalian, " sungguh aku sangat gembira seandainya kita dapat melihat saudara-saudara kita." Para Sahabat bertanya, 'Tidakkah kami semua saudara-saudaramu wahai Rasulullah? ' Beliau menjawab dengan bersabda: "Kamu semua adalah sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita ialah mereka yang belum berwujud." Sahabat bertanya lagi, 'Bagaimana kamu dapat mengenali mereka yang belum berwujud dari kalangan umatmu wahai Rasulullah? ' Beliau menjawab dengan bersabda: "Apa pendapat kalian, seandainya seorang lelaki mempunyai seekor kuda yang berbulu putih di dahi serta di kakinya, dan kuda itu berada di tengah-tengah sekelompok kuda yang hitam legam. Apakah dia akan mengenali kudanya itu? ' Para Sahabat menjawab, 'Sudah tentu wahai Rasulullah.' Beliau bersabda lagi: 'Maka mereka datang dalam keadaan muka dan kaki mereka putih bercahaya karena bekas wudlu. Aku mendahului mereka ke telaga. Ingatlah! Ada golongan lelaki yang dihalangi dari datang ke telagaku sebagaimana dihalaunya unta-unta sesat'. Aku memanggil mereka, 'Kemarilah kamu semua'. Maka dikatakan, 'Sesungguhnya mereka telah menukar ajaranmu selepas kamu wafat'. Maka aku bersabda: "Pergilah jauh-jauh dari sini." (HR. Muslim)
2. Ustadz Faruuq, bagaimanakah cara kita menjaga keikhlasan? Terkadang rasa bosan muncul sehingga ada 'keterpaksaan' atau bahkan kurang adanya keinginan untuk berupaya lebih keras menghampiri diri kita?
Jawab:
Insya-Alloh dengan melakukan dua hal ini, keikhlasan kita akan terjaga dan terus bertambah kualitas nya.
Pertama, Kita harus banyak berdoa kepada Alloh swt agar Alloh swt memberikan keikhlasan dan keistiqomahan kepada kita dalam menjalankan Islam sepanjang hidup kita.
Surah Ibrahim, Verse 40:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Di ayat di atas, sekelas Nabi Ibrahim AS saja, masih terus berdoa kepada Alloh swt agar bisa melaksanakan sholat (ibadah). Menjalankan sholat, tentu maksudnya yang sesuai rukun dan syarat nya. Ikhlas adalah termasuk syarat diterimanya sholat dan semua amal sholih. Berarti di dalam doa itu, terkandung doa permohonan kepada Alloh swt agar kita dikaruniai ikhlas dalam amal ibadah kita.
Kedua, kita harus terus membiasakan ibadah dan amal sholih tersebut sekuat tenaga, meskipun kita masih belum sempurna keikhlasan nya. Harapan nya, setelah terbiasa, kita bisa lebih mudah untuk ikhlas pada saatnya, atau semoga Alloh swt memberikan pertolongan kepada kita untuk menjadi ikhlas, karena kasihan kepada kita setelah melihat kesungguhan kita dalam upaya meraih ikhlas itu.
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا (أبو داود)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya".  (HR. Abu Daud)
Rosululloh saw menyuruh kita untuk menjadikan anak kita terbiasa sholat, meskipun mereka belum bisa ikhlas. Harapannya, semoga setelah terbiasa, mereka meningkatkan kualitas sholat nya menjadi ikhlas.

3. Ustadz, saya mau tanya bagaimana cara ikhlas dan tegar menghadapi takdir yang buruk. Walaupun kadang sudah ikhlas tapi kadang masih mengingatnya.
Jawab:
Kalau berkenaan dengan takdir, bahasa nya yang tepat bukan ikhlas, tapi rela (ridho).
Persoalannya, baik kita ridho atau tidak kepada takdir yang telah terjadi, kita tetap tidak dapat mengubahnya. Hanya saja, jika kita ridho, maka kita mendapatkan pahala dari Alloh SWT, karena termasuk yang  membenarkan rukun iman

4. Apakah Allah tidak menerima ibadah seseorang yang belum ikhlas, Saya pernah membaca kata-kata itu, tapi lupa.
Jawab :
Secara hukum fikih yang kita pelajari, amal kita tidak (belum diterima oleh Alloh swt selama belum disertai keikhlasan. Keikhlasan yakni amal itu dilandasi untuk mengharap Ridho Alloh swt).
Ini berdasarkan dalil berikut ini.

Surah Al-Anaam, Verse 136:
وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَٰذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَٰذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَىٰ شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami". Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu.
Maksudnya bagian yang mereka maksudkan untuk Alloh swt pun tidak juga sampai kepada Alloh, karena mereka masih berbuat syirik besar, sehingga semua amal ibadah mereka pun sia-sia, sama seperti sia-sia nya mereka menyembah berhala mereka.
Itu kalau orang tersebut masih dalam keadaan syirik besar, seperti masih percaya dukun atau minta bantuan kepada nya. Masih meminta pertolongan kepada jin, dan buka kepada Alloh swt. Dst. Yang demikian ini, seluruh amal ibadah orang tersebut adalah batal dan sia-sia, sampai dia bertaubat.
Surah Az-Zumar, Verse 65:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.
Ada pun, jika belum ikhlas itu adalah dalam amal tertentu, sedangkan dia tidak melakukan kesyirikan besar (artinya dia masih iman dan imannya tidak tercampur dengan syirik besar), maka jika dia tidak ikhlas dalam sebuah amal,  dia telah terjatuh di dalam riya' (syirik kecil). Riya' ini menjadikan amal yang sedang dilakukan tersebut tidak diterima oleh Alloh swt, tapi tidak menyebabkan seluruh amal nya batal. Meskipun demikian, riya' ini tetap berbahaya, dan kita diperintah untuk meninggalkannya.
عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً  (أحمد)
dari Mahmud bin Labid bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil." Mereka bertanya: Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Riya`, Allah 'azza wajalla berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka: Temuilah orang-orang yang dulu kau perlihat-lihatkan di dunia lalu lihatlah apakah kalian menemukan balasan disisi mereka? (HR. Ahmad)

5. Terkait pertanyyaan di atas juga, lalu konsep adilnya Allah seperti apa ustadz?
Jawab:
Sebenarnya, seandainya Alloh SWT mentakdirkan atas kita, bahwa di dunia ini kita selalu miskin sejak awal sampai meninggal, menderita, dan tidak bahagia, kemudian setelah mati kita tidak dimasukkan surga, tapi juga tidak dimasukkan neraka, maka itu tetap adil atas kita. Kenapa demikian? Karena kita ini adalah makhluk Nya. Ciptaan nya. Untuk memahami nya, kalau boleh dijadikan perumpamaan,
Ibaratkan saja, manusia yang menciptakan mobil. Mobil ciptaan manusia itu tidak boleh protes. Dia harus menurut keinginan pembuat nya. Toh dia memang yang dibuat, bukan yang membuat. Meskipun demikian, ternyata Alloh swt Maha Penyayang dan Maha Pemurah.

Alloh swt menjanjikan kepada manusia dan jin bahwa jika dia beriman, maka semua penderitaan nya bernilai kebaikan dan akan dibalas dengan surga oleh Alloh swt kelak, selama penderitaan itu bukan karena ulah mereka sendiri.
Dari ini saja, kita malu untuk menuntut keadilan kepada Alloh swt, di samping malu, sebenarnya, malah kita ini sering kali lebih layak menderita di dunia, dan juga bahkan Tidak pantas mendapatkan surga di akhirat, dikarenakan perilaku kita yang sangat jauh dari cukup, meskipun hanya sekedar untuk membuat impas syukur kita kepada Sang Pencipta kita.
Surah Al-Anbiya, Verse 19:
وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ عِندَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ
Dan kepunyaan-Nya-lah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.

Surah Al-Anbiya, Verse 20:
يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ
Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.

Surah Al-Anbiya, Verse 21:
أَمِ اتَّخَذُوا آلِهَةً مِّنَ الْأَرْضِ هُمْ يُنشِرُونَ
Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)?

Surah Al-Anbiya, Verse 22:
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.

Surah Al-Anbiya, Verse 23:
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.

Itu Alloh swt. Alloh swt tidak ada yang dapat memintai pertanggungjawaban atas perbuatannya, tetapi manusia, dan jin, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh swt, dan mereka tidak dapat melawannya.
Meskipun demikian, Alloh swt adalah Dzat yang Maha Adil, bahkan Maha Penyayang dan Maha Pemurah.
Surah An-Nisa, Verse 40:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.

Surah Yunus, Verse 44:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.

Setiap penderitaan yang diterima oleh manusia dan jin, yang itu, murni karena keinginan Alloh swt, maka itu akan dibalasi dengan pahala yang sangat besar oleh Alloh swt. Berbeda dengan itu, jika penderitaan itu adalah akibat ulah mereka sendiri, maka itu sudah wajar.
Hanya saja, malah seringnya, penderitaan itu sebagian besar nya adalah akibat ulah perbuatan dosa manusia itu sendiri.
أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا (البخاري ومسلم)
bahwa Aisyah radliallahu 'anha isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah suatu musibah yang menimpa seorang muslim bahkan duri yang melukainya sekalipun melainkan Allah akan menghapus (kesalahannya)." (HR. Bukhori Muslim)
Surah Ash-Shura, Verse 30:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).
(Indonesian)
via iQuran
Surah Ash-Shura, Verse 31:
وَمَا أَنتُم بِمُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah.

Itu lah apa yang sebenarnya. Oleh karena itu, hendaklah kita selalu melakukan dua hal ini: Memuji Alloh swt dan beristighfar (memohon ampun atas semua salah dan dosa kita). Ketika diberikan kenikmatan, kita memuji Alloh swt dan beristighfar. Sebaliknya, ketika ditimpa penderitaan, kita beristighfar dan memuji Alloh SWT.

6. Cara memunculkan ikhlas dan khusuk dalam beribadah, bagaimana ya ustad? Cara untuk menghadirkan Allah ke dalam hati?
Jawab:
Pertama adalah dengan memohon kepada Alloh swt agar Alloh swt memberikan pertolongan kepada kita untuk terus berada dalam keikhlasan dalam beramal dan keistiqomahan dalam ketaatan.
Surah Ibrahim, Verse 40:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Kedua, kita biasakan dulu mengerjakan amal sholih itu, meskipun mungkin kita masih belum ikhlas di awal nya. Harapan nya, setelah terbiasa, kemudian kita dikaruniai niat ikhlas oleh Alloh swt.
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا (أبو داوود)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya". (HR. Abu Daud)

7.  Assalamualaikum  ustadz, Saya ingin bertanya, Meninggal dunia itu kan takdir ya. Tapi aku pernah lihat ada yg meninggal karena bunuh dirinya sendiri. Nah pertanyaannya,  apakah Allah yang mentakdirkan si fulan matinya nanti karena bunuh diri? lalu bisakah kita mengubah takdir cara kita mati nanti?
Jawab:
Alloh SWT Maha Adil. Alloh SWT tidak pernah zalim sedikit pun kepada hambanya. Dan kepada manusia dan jin, Alloh swt memberikan irodah (kemampuan untuk memilih perbuatan sesuai keinginan nya),  dan Alloh swt yang kuasa untuk memenuhi nya, atau pun menolak nya.
Jika manusia itu menginginkan keburukan atas diri nya, kemudian Alloh SWT menolaknya, itu artinya Alloh SWT Maha Pemurah dan Penyayang, dan jika Alloh SWT memenuhi keinginan buruk manusia itu, Alloh SWT tidak salah, dan dia hanya memenuhi pilihan manusia itu, padahal Alloh SWT sudah memberikan petunjuk kepada manusia dan jin agar mereka dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Siapa pun, selain Alloh swt, tidak ada yang dapat mengubah takdir. Yang mampu mengubah nya, hanyalah Alloh SWT. Oleh karena itu, jika kita ingin takdir kita menjadi baik terus, hendaklah kita selalu memohon kepada Alloh SWT, dan selalu berusaha ke arah sana.
Surah Al-Rahman, Verse 29:
يَسْأَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.

Surah Al-Rahman, Verse 30:
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?

Semoga dapat bermanfaat dan dapat diterapkan bagi nanda disini.
marilah kita tutup Majelis Kajian On Line kita hari ini dengan mengucap syukur :
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
dan istighfar
أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ
Doa penutup majelis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭
Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

~~~~~~~~~~~~~
Rekapan Kajian Online Hamba الله
Rabu, 20 Syawal 1436H/05 Agustus 2015
Oleh: Faruuq Tri Fauzi M.Pd.I
Grup Nanda: 116
Notulen: Sari
Admin: Asri & Sari
Editor : Ana Trienta