Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

BATASAN MENAFKAHI ANAK

A. Breakdown Kategori Menafkahi Anak
Ada dua batasan untuk keadaan anak terkait kewajiban nafkah dari orang tuanya.

1. Batasan Usia (baligh / belum)
2. Batasan Harta (memiliki / tidak)

Dari dua batasan ini, kita bisa mengelompokkan anak menjadi empat kategori :

1.1. Anak yang belum baligh dan tidak memiliki harta.
1.2. Anak yang belum baligh dan memiliki harta.
1.3. Anak yang sudah baligh dan memiliki harta.
1.4. Anak yang sudah baligh dan tidak memiliki harta.

Masing-masing memiliki hukum yang berbeda terkait kewajiban nafkah orang tua kepada anaknya.
Yuukkk... Ayahnda dan Bunda kita akan bahas kondisi kondisi diatas secara pointer yaa.

1.1. Anak yang belum baligh dan tidak memiliki harta.
------------------
Menurut keterangan Imam Ibnul Mundzir (ulama masjidil Haram, w. 319 H.), bahwa para ulama – sejauh pengetahuan beliau – telah sepakat bahwa nafkah anak yang belum baligh dan tidak memiliki harta ditanggung oleh ayahnya. Ibnul Mundzir mengatakan,

أجمع كل من نحفظ عنه العلم أن على المرء نفقة أولاده الأطفال الذين لا مال لهم

Ulama yang kami ketahui sepakat bahwa seorang lelaki wajib menanggung nafkah anak-anaknya yang masih kecil, yang tidak memiliki harta. (al-Mughni, 8/171).

1.2. dan 1.3. Anak belum baligh atau sudah baligh yang memiliki harta.
------------------
Para ulama menegaskan, apabila anak memiliki harta yang cukup untuk menutupi seluruh kebutuhannya, maka ayahnya tidak wajib menanggung nafkahnya. Dalam penjelasan tentang masalah nafkah anak, As-Shan’ani mengatakan,

فإن كانت لهم أموال فلا وجوب على الأب

“Jika mereka memiliki harta, maka tidak ada kewajiban nafkah atas ayahnya.” (Subulus Salam, 2/325)

1.4. Anak sudah baligh yang tidak memiliki harta.
---------------
Salah satu contoh konkrit di tempat kita untuk model anak keempat adalah para ‘pengangguran terselubung’ di kalangan siswa SMP, SMA, dan Mahasiswa. Sebagian besar mereka masih menggantungkan nafkahnya kepada orang tuanya.
Untuk keadaan keempat ini, ulama membagi dua :

Anak perempuan →  Mereka wajib dinafkahi ayahnya hingga dia menikah.
Anak laki-laki →  Ulama berbeda pendapat, apakah anak laki-laki sudah baligh yang tidak memiliki harta dan pekerjaan, wajib dinafkahi ayahnya ataukah tidak.

Pendapat 1 : Mayoritas ulama berpendapat bahwa kewajiban nafkah hanya sampai usia baligh untuk anak laki-laki dan sampai nikah untuk anak perempuan.
Dalam Subulus Salam, as-Shan’ani menjelaskan,

وذهب جمهور إلى أن الواجب الإنفاق عليهم إلى أن يبلغ الذكر وتتزوج الأنثى ثم لا نفقة على الأب إلا إذا كانوا زمنى

Sementara mayoritas ulama berpendapat, bahwa kewajiban memberikan nafkah kepada anak itu sampai usia baligh atau sampai menikah bagi anak perempuan. Kemudian setelah itu, tidak ada tanggungan kewajiban nafkah atas bapak, kecuali jika anaknya sakit-sakitan. (Subulus Salam, 2/325).

Pendapat 2 : Orang tua tetap wajib memberikan nafkah kepada anaknya yang tidak memiliki harta dan pekerjaan, meskipun sudah baligh.
Dalam Subulus Salam juga dinyatakan,

قال ابن المنذر: اختلف في نفقة من بلغ من الأولاد ولا مال له ولا كسب، فأوجب طائفة النفقة لجميع الأولاد أطفالا كانوا أو بالغين إناثا أو ذكرانا إذا لم يكن لهم أموال يستغنون بها عن الآباء

Ibnul Mundzir menyebutkan, para ulama berbeda pendapat tentang nafkah anak sudah baligh yang tidak memiliki harta dan pekerjaan. Sebagian ulama berpendapat bahwa ayah wajib memberi nafkah untuk semua anaknya, baik belum baligh maupun yang sudah baligh, laki-laki maupun perempuan. Apabila mereka tidak memiliki harta yang mencukupi, sehingga tidak membutuhkan bantuan bapak. (Subulus Salam, 2/325).

Diantara ulama yang memilih pendapat ini adalah al-Mardawi. Dalam kitabnya al-Inshaf beliau menyebutkan,

يلزمه نفقة سائر آبائه وإن علوا، وأولاده وإن سفلوا

Termasuk yang wajib dinafkahi seseorang adalah bapaknya, kakeknya dan seterusnya ke atas. Serta anaknya, cucunya dan seterusnya ke bawah.
Kemudian beliau menjelaskan,

شمل قوله ” وأولاده وإن سفلوا ” الأولاد الكبار الأصحاء الأقوياء إذا كان وا فقراء. وهو صحيح

Yang dimaksud ‘anaknya, cucunya dan seterusnya ke bawah’ mencakup anaknya yang sudah besar (baligh), yang sehat, kuat, jika mereka fakir (tidak memiliki harta dan pekerjaan). Inilah pendapat yang kuat. (al-Inshaf fi Ma’rifati ar-Rajih min al-Khilaf, 9/393).

Pin Pointnya → Bahwa sebenarnya Islam sudah memberikan kebebasan kepada anak yang sudah baligh untuk dapat mencari dan memiliki harta sendiri. Jika diasumsikan dalam usia di kondisi sekarang berkisar di usia 14-16 Tahun. Dan sementara Pemerintah masih menerapkan sampai dengan umur 21 tahun bisa dikategorikan sebagai pemilik harta yang tercatat di lembaga keuangan. 

B. Bagaimana jika anak anaknya sudah menikah...? Apakah wajib dinafkahi juga...?

Kita coba ulas lagi masalah ini. Ada dua hal yang harus dikelompokkan :

1.1. Perempuan Menikah
1.2. Laki Laki Menikah

Untuk pembahasan point 1.1 Perempuan yang menikah sudah diulas pada materi diatas, maka kewajibannya akan diambil alih oleh suaminya.

1.2. Laki Laki Menikah.
WAJIBNYA MENAFKAHI APABILA ANAKNYA MISKIN
Ibnu al-Mundzir berkata dalam Al-Mughni 8/171:

وأجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم، على أن على المرء نفقة أولاده الأطفال الذين لا مال لهم؛ ولأن ولد الإنسان بعضُه،ُ وهو بعضً والدهِ، فكما يجب عليه أن يُنفق على نفسه وأهله كذلك على بعضه وأصلِه

Arti kesimpulan: Ulama sepakat atas wajibnya menafkahi anak yang tidak memiliki harta.
Miskin dan adanya cacat fisik yang memugkinan tidak bisanya berusaha anaknya dalam mencari nafkah.
TIDAK WAJIB MENAFKAHI APABILA ANAKNYA KAYA

Ulama sepakat bahwa apabila si anak mempunyai harta walaupun dia masih kecil, maka tidak wajib bagi si bapak untuk menafkahinya. Akan tetapi, ulama berselisih pendapat tentang wajibnya ayah memberi nafkah pada anak yang sudah baligh dan mampu berusaha tapi miskin. Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat TIDAK WAJIB memberi nafkah.

Kesimpulannya : Kalau anaknya yang sudah dewasa itu miskin dan secara fisik sehat, sebagian besar ulama berpendapat tidak wajib memberi nafkah karena anak dianggap mampu untuk bekerja sendiri. Namun, ada sebagian ulama yang berpendapat sebaliknya yakni kewajiban menafkahi tetap pada bapak. Namun apabila anak yang miskin tadi secara fisik lemah atau cacat, maka menurut Ibnu Taimiyah kewajiban membiayai ada pada bapak.
والله أعلم بالصواب

TANYA JAWAB

1. Pak, sebatas manakah orang tua membantu, anak laki-laki yang sudah berkeluarga? Karena  anak laki-laki itu tidak mempunyai  penghasilan yang tetap?
Jawab
Sekali kali boleh. Jangan sepenuhnya dan seterusnya. Khawatir menjadi nyaman dan tidak berusaha

2. Bagaimana  caranya  ya  pak agar  kita  membantu  tapi ingin kan dia  mandiri  gitu. Kadang kan kita juga tidak ingin anak kita bergantung pada kita,  tapi  saya belum ketemu  cara yang tepat  pak?
Jawab
Kasih pancingnya jangan kasih ikannya. Jadi ajarkan cari mencari nafkah bisa dengan berbagai hal. Bukan cara menerima nafkah. 

3. Jika orang tua mampu maka wajib ya ust menafkahi anaknya sekalipun sudah menikah?
Jawab
Ya jangaaan dunk. Kan ngga selamanya orang tua ada.

4. Konsep Islam sesungguhnya menerapkan bahwa anak laki-laki yang sudah baligh dididik mandiri ya ust, baik dari segi dirinya maupun nafkah untuk dirinya? Dari usia berapa ustadz sebaiknya sudah disiapkan?
Jawab
Dari sejak kecil
Diberikan tanggung jawab
Diberikan kepercayaan
Diberikan kebebasan bermain
Diberikan kebebasan menyelesaikan masalah diseusia dia. Biarkan anak anak menghadapi masalah, orang tua jangan buru buru mengambil masalah dari sang anak

Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Jum'at, 04 September 2015
Narasumber : Ustadz Dodi Kristono
Tema : Parenting
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Telegram Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala