Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , » CINTA DAN BENCI KARENA ALLAH

CINTA DAN BENCI KARENA ALLAH

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, September 18, 2015


Hasil gambar untuk cinta dan benci
بسم الله الرحمن الرحيم
 السلم عليكم ورحمةالله وبركته
Bunda sekalian saya doakan bagi yang segera respon dan menjawab salam saya semoga Allah karuniakan selalu keberkahan dalam hidupnya, luas dan lapang rizkynya, panjang umur dan jodohnya serta kelak dimasukkan dalam jannah-Nya.
Berikut bahannya ya, silahkan dipelajari temanya cinta dan benci karena Allah. Sebagai pengantar yuuk kita buka,

QS 3. Ali 'Imran
103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan  hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
QS. 9. At Taubah. Ajaran kepada orang-orang mukmin dan janji Allah terhadap mereka.
71. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sahabat Anas bin Malik berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Ada tiga perkara yang apabila dimiliki oleh seseorang, dia akan morasakan manisnya iman. Yakni Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada kecintaannya terhadap sesuatu yang lain, mencintai orang lain semata-mata hanya karena mencari keridhaan Allah, dan takut kembali ke jalan kufur sebagaimana dia takut dirinya di masukkan ke dalam siksa neraka." (HR. Bukhari). 
Di dalam riwayat lain diketengahkan: "Ada tiga perkara yang apabila dimiliki oleh seseorang, dia akan merasakan enak dan manisnya iman. Yakni Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada kecintaannya terhadap sesuatu yang lain, mencin­tai dan membenci orang lain semata-mata hanya karena mencari keridhaan Allah, dan lebih merasa senang dimasukkan dalam bara api daripada harus menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)
Sahabat Am Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Pada hari kiamat nanti Allah swt akan berfiman: "Di manakah orang-orang yang saling memadu kasih . karena mencari keridhaan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan kepada mereka sebuah perlindungan (tempat bernaung) dimana pada hari ini tidak ada tempat bernaung kecuali tempat yang Aku sediakan," (HR. Muslim).

Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Nabi saw telah bersabda: "Ada tujuh orang yang akan mendapatkan perlindun-gan Allah padahari kiamat dimanapadahari itu tidak ada tempat berlindung kecuali perlindungan Allah. Yakni penguasa yang adil, pemuda yang tampil kreatif lagi dinamis dalam menegakkan peribadatan kepada Allah, orang yang senantiasa merindukan peribadatan di dalam masjid, dua orang yang sating memadu kasih karena mencari keridhaan Allah hingga mereka berpisah dan bertemu semata- mata karena Allah, orang yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik molek lagi terhormat tetapi dia menolak karena takut kepada Allah, orang yang bersedekah dengan rahasia sehingga ibarat tangan kanan memberikan sedekah sementara tangan kirinya tidak mengetahui, dan orang yang berdzikir kepada Allah di tengah keheningan malam hingga berlinang air mata karena takut kepada adzab Allah." (HR. Bukhari dan Muslim).

Sahabat Ibnu Umar ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Di antara hamba-hamba Allah ada sekelompok manusia yang mereka bukan nabi dan bukan pula syuhada', tetapi mereka mendapatkan kemuliaan di sisi Allah sejajar dengan para nabi dan para syuhada'." Lalu para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, khabarkanlah kepada kami siapakah mereka itu?" Jawab Rasulullah: "Mereka adalah sekelompok orang yang saling memadu kasih karena Allah, bukan karena motivasi kekerabatan maupun materi. Demi Allah, wajah mereka bersinar bagaikan cahaya, bahkan mereka adalah cahaya di atas cahaya. Mereka tidak merasa takut ketika umat manusia dilanda perasaan takut" Lalu Rasulullah saw membaca ayat: "Dan ingatlah, bahwa para kekasih Allah tidak akan pernah dilanda perasaan takut dan tidak pernah pula dilanda perasaan sedih." (HR. Abu Dawud).
Sahabat Abi Umamah berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Barangsiapa cinta dan marah karena Allah, memberi sesuatu dan mencegah sesuatu karena Allah, maka berarti dia telah memiliki keimanan yang sempurna." (HR. Abu Dawud).

Sahabat Anas ra berkata, bahwa ada seorang lelaki mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah: "Ya Rasulallah, kapan hari kiamat datang?" Jawab Rasulullah: "Apakah yang engkau persiapkan untuk menghadapi hari kiamat?" Jawab lelaki itu: "Tidak ada sesuatu pun yang dapat aku jadikan bekal kecuali kecintaanku kepada Allah dan Rasul-Nya." Lalu Rasulullah bersabda: "Engkau bersama orang yang engkau cintai." Selanjutnya sahabat Anas berkata: "Kami belum pernah merasakan arti kebahagiaan yang luar biasa kecuali ketika mendengar sabda Rasulullah: "Engkau bersama orang yang engkau cintai." Lalu sahabat Anas berkata pula: "Aku sangat mencintai Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar bin Khathab, dengan harapan diriku bisa bersama mereka (di dalam sorga)." (HR. Bukhari dan Muslim).
Sahabat Aisyah berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Syirik lebih tidak kelihatan daripada setitik debu yang berada di atas batu halus pada malam nan gelap gulita. Perbuatan syirik yang paling minim adalah tertarik pada suatu perbuatan maksiat, dan membenci suatu perbuatan baik. Bukankah agama Islam itu hanya terdiri dari cinta dan benci? Bukankah Allah swt telah berfirman: "Katakanlah (Muhamad): Apabila kamu mencin­tai Allah, maka ikutilah ajaran-ajaranku, tentu Allah akan mencintaimu." (HR. Hakim, dan menurutnya hadis ini shahih sanadnya).

Silahkan dipelajari tafadol jika ada yang hendak di diskusikan bunda...
Afwan jika lambat respon krn gawai dan disambil aktivitas lain...
TANYA JAWAB

1. Ustadz mau tanya,  apabila ada orang yang selalu mengerjakan sholat, tetapi masih melakukan perbuatan yang buruk, itu bagaimana ya ustadz? Dia sangat tahu dosanya tapi terus diperbuat juga, apa pahala atas sholatnya jadi lenyap dengan semua perbuatan jeleknya?
Jawab: Berdasarkan surat al zalzalah berlaku masing masing bunda
{فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)} [الزلزلة : 7-8]
Krn Allah adalah tuhan yg maha Adil...setiap perbuatan ada bgian konsekwensi masing masing. Jika baik berpahala jika buruk ada dosa kelak akan di mizan dan d hisab
2. Assalamualaikum ustadz, mau nanya, jika seorang hamba menjadikan dirinya sholeh lahir bathin niscaya akan mendapatkan kasih sayang Alloh secara lahir bathin pula. Benarkah pernyataan ini ustadz?
Trus boleh kah seorang hamba mengatakan mau bercinta dengan Alloh dengan harapan Alloh mencintai hambanya, terima kasih sebelumnya.
Jawab: Insya Allah pernyataannya tidak keliru. Teringat akan hadist nabi barang siapa yang mendekat pada Allah sejengkal maka Allah akan mendekat padanya sehasta, jika hambanya mendekat dengan berjalan Allah mendekat padanya dengan berlari dan seterusnya.

3. Waalaikumsalam aamiin yaa Allah , ustadz saya mau tanya ada seorang wanita & laki-laki pacaran lalu hamil , sudah 5 bulan hamil baru mereka menikah apakah sah pernikahan mereka ? Dan apa harus menikah lagi? Dan apakah kalau anaknya perempuan kalau menikah nanti ayahnya boleh tidak jadi walinya? Terima kasih.
Jawab: Dalam fiqh status pernikahan orang yang sedang hamil itu tidak syah hingga wajib mengulang akad nikahnya. Ayahnya tetap menjadi walinya dengan catatan tidak ganti orang ya.
Catatan terlepas dari dosa ya anaknya tetap suci tidak ada istilah anak haram yang ada perbuatan orangtunya yang berdosa besar harus bertaubat nasuha.

4. Maaf tanya lagi ya ustadz, Ada laki-laki poligami, tidak menafkahi lahir karena istri sudah punya penghasilan sendiri. Untuk nafkah bathinnya ditentukan oleh istri pertama, dan segala urusan harus seizin istri pertamanya. Demikian itu adilkah menurut syariat islam ustadz?
Jawab: menafkahi itu kewajiban suami apapun kondisinya. Lain hal keridhoan istri itu amal sholehnya istri. Adapun masalah adil adalah kewajian si suami dan hak istri apapun kondisinya. Lalu masalah adil sendiri pembahasannya konon cukup panjang. Sederhananya dimulai dengan pembagian apapun yang sama, terutama materi, kalau perasaan sulit ngukurnya.

5. Assalamualaikum ustadz, Ada seorang anak merasa kurang berbakti kepada orang tuanya karena hampir seluruh waktunya dia habiskan u/ berjuang di jalan Allah, yang mengharuskan dia jauh dari kedua orang tua, selama ini kedua orang tuanya pun tidak pernah menuntut materi atau pun perhatian kepada anak nya, tapi perasaan kurang berbakti itu sering kali hinggap di hati si anak,bagaimana menurut pandangan agama tentang hal tersebut ustadz? Bagaimana seharusnya yang dilakukan si anak agar dia merasa sudah berbuat adil antara ibadah kepada Allah dan berbakti kepada org tua.
Jawab: teringat hadist tentang amal anak adam akan putus kecuali 3 hal diantaranya anak sholeh yang selalu mendoakan. Sesibuk apapun di jalan dakwah sebaiknya tetap memperhatikan tentang berbakti kepada kedua orangtua. Teringat kisah juraij sang ahli ibadah. Kisahnya d riwayatkan  dalam hadist yang cukup panjang sebentar sy copaskan dulu ya

14. Doa Kedua Orang Tua -17
24/32. Dari Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
٢٤/٣٢  ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ المسَّافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلَى وَلَدِهِمَا.  

"Ada tiga doa yang tidak diragukan kemustajabannya, yaitu, doa orang yang dizhalimi (dianiaya), doa orang musafir, dan doa kedua orang tua kepada anaknya."
Hasan, di dalam kitab Ash-Shahihah (598), (Abu Daud: 8-Kitab Ash-Shalat, 29- Bab Ad-Doa’u Bizhahril Ghaibi, At-Tirmidzi, 25- Kitab Al Birru wash-Shilah, 7- Bab Ma Ja^afi Da'watil Walidaini. Ibnu Majah: 34- Kitab Doa\ 11- Bab Da’watul-Walid Da'watul Mazhlum, hadits 3862).

25/33. Dari Abu Hurairah, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
٢٥/٣٣   مَا تَكَلَّمَ مَوْلُوْدٌ مِنَ النَّاسِ فِي مَهْدِ اِلاَّ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ وَصَاحِبُ جُرَيْجٍ، قِيْلَ: يَا نّبِيَّ اللهُ! وَمَا صَاحِبُ جُرَيْجٍ؟ قَالَ: فَإِنَّ جُرَيْجًا كَانَ رَجُلاً رَاهِبًا فِي صُوْمِعَةٍ لَهُ، وَكَانَ رَاعِى بَقَرٍ يَأْوِي إِلَى أَسْفَلَ صَوْمعَتِهِ وَكَانَتِ امْرَأَةٌ مِنْ أَهْلِ الْقَرْيَةَ تَخْتَلِفُ إِلَى الرَّاعِى فَأَتَتْ أُمُّهُ يَوْمًا فَقَالَتْ: يَا جُرَيْجُ وَهُوَ يُصَلِّى، فَقَالَ فِي نَفْسِهِ، وَهُوَ يُصَلَّى: أُمِّى وَصَلاَتِى؟ فَرَأَى أَنْ يُؤَثِّرَ صَلاَتَهُ، ثُمَّ صَرَخَتْ بِهِ الثَّانِيَةُ، فَقَالَ فِي نَفْسِهِ: أُمِّى وَصَلاَتِى؟ فَرَأَى أَنْ يُؤَثَّرَ صَلاَتَهُ ثُمَّ صَرَخَتْ بِهِ الثَّالِثَةُ فَقَالَ: أُمِّى وَصَلاَتِى؟ فَرَأَى أَنْ يُؤَثِّرُ صَلاَتَهُ فَلَمَّا لَمْ يُجِبْهَا قَالَتْ: لاً أمًاتًكً اللهٌ يًا جٌرًيْجُ حَتَّى تَنْظُرَ فِي وَجْهِ الْمَوْمِسَاتِ ثُمَّ انْصَرَفَتْ .
فَأُتِىَ الْمَلِكُ بِتِلْكَ الْمَرْأَةِ وَلَدَتْ فَقَالَ: مِمَّنْ؟ قَالَتْ: مِنْ جُرَيْجٍ، قَالَ: أَصَاحِبُ الصُّومِعَةِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: اهْدُمُوْا صُوْمَعَتَهُ وَأُتُوْنِي بِهِ، فَضَرَبُوْا صُوْمَعَتَهُ بِالْفُئُوْسِ حَتَّى وَقَعَتْ. فَجَعَلُوْا يَدَهُ إِلَى عُنُقِهِ بِحَبْلٍﻧ ثُمَّ انْطَلَقَ بِهِ، فَمَرَّ بِهِ عَلَى الْمُوْمِسَاتَ فَرَآهُنَّ فَتَبَسَّمَ، وَهُنَّ يَنْظُرْنَ إِلَيْهِ فِي النَّاسِ، فَقَالَ الْمَلِكُ: مَا تَزْعُمُ هَذِهِ؟ قَالَ: مَا تَزْعُمُ؟ قَالَ: تَزْعُمُ أَنْ وَلَدُهَا مِنْكَ، قَالَ: أَنْتَ تَزْعُمَيْنَ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: أَيْنَ هَذَا الصَّغِيْرُ؟ قَالُوْا هُوَ ذَا فِي حَجْرِهَا، فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ فَقَالَ: مَنْ أَبُْوكَ؟ قَالَ: رَاعِي الْبَقَرِ، قَالَ الْمَلِكُ: أَنَجْعَلُ صُوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبَ؟ قَالَ: لاَ، قَالَ: مِنْ فِضَّةٍ؟ قَالَ: لاَ، قَالَ: فَمَا نَجْعَلُهَا؟ قَالَ: رُدُّوْهَا كَمَا كَانَتْ، قَالَ: فَمَا الَّذِي تَبَسَّمْتَ؟ قَالَ: أَمْرًا عَرَفْتُهُ، أَدْرَكَتْنِى دَعْوَةُ أُمِّى ثُمَّ أُخْبِرُهُمْ . 
'Tidak ada seorang bayi yang dapat bicara di dalam ayunan (buaian) (ibunya) kecuali Isa ibnu Maryam 'alaihissalam dan bayi (dalam cerita) Juraij.' Ditanyakan, 'Wahai Nabi Allah, bagaimana (cerita tentang) Juraij?' Nabi menjawab, 'Sesungguhnya Juraij adalah seorang yang selalu beribadah di dalam tempat ibadah miliknya. Ada seorang penggembala sapi yang tinggal di bawah tempat ibadahnya dan ada seorang perempuan dari penduduk desa berzina dengan penggembala sapi tersebut. Suatu hari ibu Juraij mendatangi Juraij yang sedang beribadah, lalu memanggilnya, 'Wahai Jurai!', sementara dia sedang beribadah, maka terdetik dalam hatinya, 'Ibuku atau shalatku?' Dia lebih mengutamakan shalatnya. Kemudian ibunya memanggilnya untuk kedua kalinya, lalu dia berkata dalam hatinya, 'Ibuku atau shalatku?' Dia mengutamakan shalatnya. Ibunya memanggilnya untuk yang ketiga kalinya. Juraij berkata dalam hatinya, 'Ibuku atau shalatku?,' Dia mengutamakan shalatnya. Tatkala Juraij tidak menjawabnya, (sambil marah) ibunya berdoa, 'Mudah-mudahan Allah tidak mematikanmu, wahai Juraij! Kecuali engkau melihat wajah perempuan-perempuan pelacur' kemudian ibunya pergi. Tiba-tiba seorang wanita yang melahirkan seorang bayi (hasil perzinahan) di hadapkan kepada seorang raja. Lalu raja tersebut bertanya, 'Siapa yang menghamilimu?,' Wanita tersebut menjawab, 'Dari Juraij.' Raja bertanya, 'Pemilik tempat ibadah itu?' Wanita itu menjawab, 'Ya.' Lalu raja memberikan perintah, 'Rubuhkan (tempat ibadahnya) dan datangkan Juraij kepadaku.' Lalu mereka (masyarakat) menghancurkan tempat ibadah tersebut dengan martil (kapak) yang beraneka ragam sampai roboh. Kemudian mereka mengikat tangan Juraij sampai lehernya dan diseret (menghadap raja) melewati para wanita pelacur dan dia tersenyum, para pelacur tersebut diperlihatkan kepadanya ditengah orang ramai. Lalu sang raja berkata, 'Apa yang mereka tuduhkan (kepadamu)?,' dia menjawab, 'Apa yang dituduhkan oleh mereka (terhadapku)?,' sang raja berkata, 'Dia menuduhmu bahwa anaknya ini dari mu!,' Juraij berkata, 'Kamu menuduh demikian?,' wanita itu menjawab, 'Ya.' Juraij berkata, 'Di mana bayi itu?,' mereka menjawab, 'Itu, yang ada dipangkuannya!,' lalu Juraij menghampiri bayi itu, seraya bertanya, 'Siapa bapakmu?/ Bayi itu menjawab, 'Penggembala sapi.' Maka kemudian sang raja berkata, 'Apakah kami membangun (kembali) tempat ibadahmu dari emas?,' Juraij menjawab, "Tidak," sang raja berkata, "Dari perak?," Juraij menjawab, "Tidak," sang raja berkata, "Lalu apa yang bisa kami jadikan untuk mengganti tempat ibadahmu itu?," Juraij menjawab, "Kembalikan tempat ibadah itu seperti semula." Sang raja bertanya, "Apa yang membuat engkau tersenyum?," Juraij menjawab, "Tentang satu hal yang sudah aku ketahui bahwa aku terkena akibat dari doa ibu saya, lalu saya menceritakannya kepada mereka'."
Shahih, (Bukhari, 60-Kitab Al Anbiya^u, 48- bab (Wadzkur fi Kitabi Maryama) (Qs. Maryam (19): 16), Muslim 45- Kitab Al Birru ivash-Shilatu wal Adab, hadits 7,8).
6. Ustadz, kalau kita punya dosa, dan itu menyakitkan seseorang. Kita bertaubat pada Allah dengan sungguh-sungguh. Kita juga minta maaf pada orang yang bersangkutan. Allah maha pengampun kita berhusnudzon akan diampuni walaupun khawatir juga, tapi kalau orang yang dimintain maaf belum tentu memaafkan. Bagaimana. Apa dosa kita tdk bisa diampuni krnnya?
Jawab: Insya Allah dengan tetap terus berusaha mendapat keridhoan dari yang bersangkutan. Meski yang bersangkutan tidak mau memaafkan. Pasti ada jalannya ikhlaskan niat ya.
Sekalian pamit afwan jiddan jika blm optimal.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
“Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allailahailla anta astaghfiruka wa’atubu ilaik”
Artinya : “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada tiada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi, Shahih)
 ~~~~~~~~~~~~
Kajian Online Hamba Alloh
Rabu,19 Agustus 2015
Narasumber : Ustadz Cipta
Editor : Ana Trienta

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment