Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

FUTUR




Bismillahirrahamnirrahiim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Berikut ini materi kajian yang akan kita bahas, dengan tema "FUTUR".


Futur secara bahasa dimuat dalam kamus bahasa Arab Lisanul Arab yang ditulis oleh Ibnu Mandhur  jilid 5:43, futur berarti “diam setelah giat, dan lemah setelah semangat”. Secara bahasa juga Futur berarti menunjuk kepada adanya suatu perubahan dari kondisi semangat, kencang, kuat, panas, tajam dan semacamnya, menuju kondisi kebalikannya yaitu putus, berhenti yang sebelumnya rajin dan terus bergerak.

Futur secara istilah adalah satu penyakit yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para da'i dan penuntut ilmu. Sehingga menjadi lemah dan malas, bahkan terkadang berhenti sama sekali dari melakukan aktivitas kebaikan, misalnya futur dalam menuntut ilmu syar'i, futur dalam aktivitas dakwah, futur dalam beribadah kepada Allah dan lainnya. Futur merupakan salah satu penyakit yang kerapkali kita jumpai pada para aktivis dakwah dan tarbiyah. Dalam kadar yang normal seorang dai’ bisa saja mengalami kondisi seperti ini. 
Namun menjadi berbahaya bila keadaan ini terus berlarut-larut tanpa ada usaha dari individu yang bersangkutan untuk terus memperbarui iman dan semangatnya. Futur yang terus terjadi tanpa ada usaha untuk meperbaiki diri dapat mengarahkan seorang dai’ pada insilakh (keluar) dari jamaah  dakwah. Futur adalah suatu penyakit yang dapat menimpa sebagian aktifis, bahkan menimpa mereka secara praktis (dalam bentuk perbuatan).
Tingkatan futur  paling rendah adalah kemalasan, menunda-nunda atau berlambat-lambat. Sedangkan puncaknya bila sudah kronis dan menahun adalah terputus atau berhenti sama sekali setelah sebelumnya rajin dan terus bergerak Fenomena ‘futur’, sebenarnya masalah yang pasti hadir tanpa ada seorang pun yang dapat mengelak dirinya. Sebagaimana tersirat dalam sinyalemen Rasulullah saw kepada Abdullah bin Amr bin Ash ra:“Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti fulan, sebelum ini ia rajin bangun pada malam hari (shalat tahajjud), namun kemudian ia tinggalkan sama sekali.” (HR. Bukhori, dalam kitab Fath Al Bari, no: 1152, 3/37).
Seorang da’i, sekalipun ia akan mengalami masa-masa futur, namun saat-saat itu bak saat “turun minumnya” seorang prajurit yang berada di medan laga, dimana setelah itu ia akan kembali terjun berjuang dan berjihad. Rasulullah saw pernah bersabda pada sebuah riwayat dari Abdullah bin Amr ra. Yang berbunyi: “Setiap amal itu ada masa semangat dan masa lemahnya. Barangsiapa yang pada masa lemahnya ia tetap dalam sunnah (petunjuk) ku, maka dia telah beruntung.
Namun barang siapa yang beralih keadaan selain itu, berarti dia telah celaka.”

Hal yang sering menjadi penyebab seseorang muslim, muta’allim dan khususnya dai’ menjadi futur, secara garis besar antara lain adalah kurang ikhlas beramal, ruhiyah yang kering, kecewa dan sakit hati dan lemahnya komitmen.
  • Berikut ini penjelasan mengenai hal-hal tersebut :
1. Kurang Ikhlas Beramal
Orang yang kurang ikhlas beramal, oreintasi amalnya bukan murni karena Allah Ta’ala, tapi ada sisi lain yang ia kehendaki dari amalnya tersebut, namun tidak tercapai hingga membuat dirinya terkadang futur dari amal atau enggan beramal.
2. Ruhiyah Yang Kering
Kekuatan ruhiyah merupakan kekuatan dasar yang harus dimiliki oleh seorang muslim dan da’i dalam rangka mendaki ke puncak spiritual yang tinggi di hadapan Allah Ta’ala. Kekuatan ruhiyah dinilai dari sejauh mana kedekatan kita dengan Allah Ta’ala. Sumber kekuatan ruhiyah ini hanya dapat diperoleh dengan melakukan ibadah-ibadah sunnah disamping ibadah wajib seperti qiyamullail, tilawah, shoum sunnah, infaq dan shodaqoh, dll. Sebagai seorang muslim yang memberi nasehat dan petuah serta seorang da’i ideal jangan lupa diri. Bila dia sering melupakan dirinya tuk menyuburkan ruhiyyahnya dengan hal-hal di atas, maka ia keadaannya seperti lilin yang selalu berusaha menerangi sekitarnya namun lambat laun lilin tersebut lama kelamaan meleleh dan akhirnya habis tidak bisa lagi mengeluarkan cahaya dan penerangan bagi sekitarnya. Atau sebagaimana pernah disinggung oleh Ibnu al Qayyim bahwa apabila da’i atau ustadz itu lupa pada dirinya sendiri  maka keadaan ia seperti seorang yang sering memberi nasehat padahal dalam dirinya/dibalik bajunya ia digigit kalajengking namun ia tidak terasa.
3. Kecewa dan Sakit hati
Kekecewaan terhadap teman-teman, jama’ah dakwah, yayasan dakwah, janganlah membuat seorang muslim ideal/pencari ilmu/ da’i/ustadz berhenti beramal, berhenti berdakwah, futur, lesu dan uzlah dari manusia. Anjing menggonggong kafilah berlalu, tetaplah berjuang dan iqomatuddin di medan dakwah dan medan juang. Karena muslim yang ideal paham hanya mengharapkan upah dari Allah Ta’ala bukan dari manusia. Hingga membuatnya tetap ikhlas dan istiqomah walau badai, ujian dan makian menghampirinya. Belajarlah akhlak dari Imam Ahmad dan Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah yang telah menghalalkan dirinya dihina, dighibah dan dimaki. Bila agama Allah dan syareat Islam yang dihina, maka mereka berdua akan berada dalam barisan terdepan dalam membela kebenaran. Masyaallah, luaaaaar biasaaaa. Yang harus dipahami disini bahwa manusia, ustadz, da’I dan jamaah dakwah apapun  bukan jamaah malaikat, sehingga kekecewaan yang terjadi dan yang kita alami jangan sampai membuat kita hilang semangat, futur dan loyo dalam berdakwah sehingga akhirnya memutuskan untuk meninggalkan dakwah Islam yang mulia ini. 
4. Lemahnya Komitmen.
Lemahnya komitmen seorang muslim/da’i terhadap nilai-nilai syareat Islam membuat jiwanya futur, loyo, lesu dalam menegakkan panji-panji Islam di muka bumi ini. Seorang muslim atau da’i lah yang membutuhkan Islam dan dakwah, bukan sebaliknya Islam dan dakwah membutuhkan dia. Lemahnya komitmen ini disebabkan karena faktor –faktor dunia yang membelitnya dan karena mengikuti hawa nafsunya atau terkena fitnah syubhat dan fitnah syahwat.
  • Solusi mengatasi penyakit futur
1. Mengikhlaskan niat dalam segala amal-amal sholeh kita hanya untuk Alloh Ta’ala saja, bukan untuk makhluknya . Ikhlas dalam beramal merupakan sebuah kekuatan yang luar biasa, kekuatan yang melebihi segalanya hingga meruntuhkan rasa takut terhadap ancaman manusia, mereka yang ikhlas lebih takut terhadap ancaman Allah SWT, ancaman apabila catatan amal perbuatan yang buruk akan diberikan dari punggungnya atau lewat tangan kirinya. Mereka lebih takut terhadap ancaman tersebut daripada ancaman yang keluar dari seorang manusia. Motivasi diri itu tumbuh dari kesadaran akan tujuan utama, daya gerak akan keluar dengan kekuatan yang luar biasa. Bandingkan dengan orang yang bekerja atas dasar motivasi Allah semata dengan orang yang bekerja atas dasar takut akan ancaman terhadap manusia, manakah yang akan bergerak secara terus menerus dan mempunyai kekuatan yang luar biasa? ( Ini tambahan dari penulis ).
2. Membaca siroh generasi salaf. Membaca siroh generasi salaf dapat memotivasi kita untuk mengikuti amal-amal mereka.
3. Menyendiri dengan diri sendiri. Berkhalwat (menyendiri) dapat memberikan kesempatan para dai’ untuk menginstropeksi seluruh amalan dakwah yang telah dilakukan.
4. Mengerjakan pekerjaan sederhana. Mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sederhana dalam dakwah dapat melatih kerendahan hati dan mengikis kesombongan. Hal itu dapat dilakukan dengan syarat tiadak mengorbankan pekerjaan-pekerjaan besar yang lebih penting.
5. Ziarah kubur. Tentang hal ini Rasulullah bersabda: “Ziarahi kuburan, sebab kuburan mengingatkan kalian pada kematian.” (HR.Muslim, An Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim).
6. Mengunjungi atau berkumpul dengan orang-orang soleh. Berkumpul dengan orang soleh, meminta nasihat kepada mereka dapat membantu kita dalam merekonstruksi iman. Inilah hikmah betapa pentingnya hidup berjamaah, dimana ada nuansa taushiyah-mentaushiyahi antar aktivis dakwah.
7. Ingat hari-hari Allah. Ingatlah hari-hari dimana Allah SWT menolong penolong agamanya.
Hal itu akan menyadarkan kita betapa dekatnya kemenangan dan kebangkitan Islam. Alloh berfirman, “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah Karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imron:146). 


Demikian nanda yang dapat saya sampaikan.
Silahkan jika ada yang ingin didiskusikan.



*****TANYA – JAWAB*****
1. Bunda, mau tanya , seringnya waktu haid kan itu masa-masa futur, nah mengatasinya gimana ya contoh konkretnya? Kadang terlena sama masa 'istirahat' itu, bagaimana membangkitkan semangat dari ke futuran dan istiqomah dalam beribadah.
JAWAB : Ya nanda...maka meski di waktu haidl, jangan tinggalkan Al Qur'an. Tetap muroja'ah atau baca tarjamah juga mendengarkan murottal. Dzikir pagi sore dan doa-doa juga insyaallah bisa memperkuat. Sibukkan diri dgn kgt bermanfaat. Banyak cara, dan itu sdh dibahas lho di solusinya.

2. Bunda, gimana cara biar bisa istiqomah qiyamullail ?
JAWAB : Qiyamulail dikatakan puncaknya ibadah sunnah , so it won't be easy of course!

3. Tapi yg terpenting adalah motivasi dari dalam diri sendiri, mau ikut training motivasi tiap bulan atau minat dinasehati teman bertubi2, gak ngaruh ya kalau kitanya sendiri gak punya power buat bangkit
JAWAB : : Jadi mulailah dengan target rendah, umpama rutin witir sebelum tidur. Kemudia tambah minimal 4 rakaat dulu deh Qiyamulail nya dengan surat-surat yang pendek dan ringan. Baru setelah dirasa enak, enjoy dengan ritme tsb, tambah deh sampai 8+3. Bisa juga jajaki surat-surat yang lebih panjang. 

4.Nah itu bunda, Qiyamulail itu, sebelum haid bisa rajin qiyamulali, eh pas setelah haid mulai lagi males-malesan, gimana ya biar bisa istiqomah?
JAWAB : Biasakan selalu punya hajat sama Allah, jadi selalu punya alasan buat ngadu dan minta.

5. Cara membiasakan gimana bunda ?
JAWAB :  Nah...itu tadi di atas neng. Dari yang mudah dulu sebelum tidur, bilang sama qorin kita..."hey rin, aku bsk mau bangun jam 3, jangan ganggu yah.



Baiklah kita tutup kajian ini dengan istigfar sebanyak-banyaknya dan hamdallah serta do'a kafaratul majelis. Doa Kafaratul Majelis :

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”






Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
===============================================

Rekapan Kajian Online WA Hamba  اللَّهِ SWT
Group M105

Selasa, 24 Dzulqodah 1436 H / 8 September 2015
Nara Sumber : B
unda Lillah
Tema :  SI ( FUTUR ) 
Notulen : Dyah
Editor : Athariyah