Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

HADIST DIBOLEHKANNYA SEORANG LAKI-LAKI MELIHAT KEADAAN PEREMPUAN YANG HENDAK DIPINANGNYA

Assalamualaikum. Kita ngaji yak dari kitab Bulughul Maram, bab Nikah

Hadits 917

وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ، فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إلَى مَا يَدْعُوهُ إلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُد، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ - وَلَهُ شَاهِدٌ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَالنَّسَائِيُّ عَنْ الْمُغِيرَةِ - وَعِنْدَ ابْنِ مَاجَهْ وَابْنِ حِبَّانَ مِنْ حَدِيثِ مُحَمَّدِ بْنِ مَسْلَمَةَ - وَلِمُسْلِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ «أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ لِرَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً: أَنَظَرْتَ إلَيْهَا؟ قَالَ: لَا. قَالَ: اذْهَبْ فَانْظُرْ إلَيْهَا» .

Dari Jabir, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu hendak meminang seorang perempuan, kemudian dia dapat melihat sebahagian apa yang kiranya dapat menarik untuk mengawininya, maka lakukanlah.” (HR. Ahmad, Abu Daud, para perawinya tsiqah. Dishahihkan oleh Al-Hakim.  Riwayat ini memiliki penguat dalam riwayat Tirmizi, Nasai dari Mughirah, dan dalam riwayat Ibnu Majah serta Ibnu Hibban dari hadits Muhamad bin Maslamah)

Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah, “Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada seseorang yang menikahi wanita, ‘Apakah kamu sudah melihatnya?’ Dia berkata, ‘Tidak’ Beliau bersabda, ‘Pergilah untuk melihatnya.”

1. Hadits ini menjadi dalil dibolehkannya memandang wanita yang hendak dinikahi sebagai bentuk pengenalannya secara fisik sebelum menikah.

2. Hadits ini menjadi pengkhususan atas keumuman larangan memandang kepada wanita bukan mahram yang terdapat dalam ayat.

3. Jumhur ulama berpendapat bahwa memandang calon isteri merupakan sunah berdasarkan anjuran hadits di atas.

4. Bagian yang boleh dipandang menurut jumhur ulama adalah muka dan telapak tangan. Namun ada juga ulama yang membolehkan melihat hingga pergelangan kaki dan tangan, ada juga yang membolehkan melihat kepala hingga leher.

5. Disunahkan melihatnya sebelum melakukan lamaran. Agar jika tidak cocok, tidak menyakiti.

6. Memandang calon isteri harus dengan niat menikahinya, tidak boleh dijadikan alasan untuk ‘jelalatan’ mencari-cari objek pandangan.

7. Memandang calon isteri, tidak harus seizin walinya, atau seizin wanita tersebut. Boleh tanpa seizinnya, asal niatnya tulus. Boleh jadi hal ini lebih baik, sehingga jika batal, tidak menyakiti.

8. Jika sudah mengambil kesimpulan, baik cocok atau tidak, maka hendaknya berhenti memandangnya.

9. Melihat dapat diwakilkan kepada orang yang dipercaya dari kalangan wanita.

10. Melihat hendaknya bersifat langsung, tidak melalui media perantara, seperti poto, atau medsos, dll.

11. Wanita juga mempunyai hak yang sama untuk melihat pria yang hendak menikahinya dan memiliki hak untuk menyatakan setuju atau tidak setelah melihatnya.

12. Jika setuju, hendaknya mempercepat proses lamaran hingga ke pernikahan, agar mempersempit timbulya fitnah.

13. Sebelum akad nikah, maka hubungan kedua calon tersebut tak lebih seperti umumnya bukan mahram. Tidak boleh berduan, bersentuhan atau saling memandang, walaupun sudah dilamar.
Sekian. Afwan saya harus pergi dahulu. Jika ada pertanyaan direkap aja yak... Habis maghrib saya jawab insyaAllah....

TANYA JAWAB

1. Ada yang berpendapat nggak perlu melihat,  takut mengurangi keikhlasan menurut saya sih kurang pas,
Jawab
Betul, itu tidak tepat. Yang anjurkan melihat adalah Rasulullah saw. Ini tak ada kaitannya dengan keikhlasan. Karena kecocokan hati juga sangat penting...

2. Kalo lihat dari kepala dan leher berarti buat yang non jilbab kali ya tadz?
Jawab
Buat yang berjilbab juga. Dibuka khusus untuk ini.

3. Pak ustad kalo yang mau lihat semua bagaimana, via adik/saudara yang akhwat tapi agar ga 'membeli kucing dalam karung' istilahnya
Jawab
Asal dipertimbngkan tidak khawatir membuat wanita tersebut malu atau tidak menimbulkan kesimpulan yang sama. Yang satu bilang kaya poto model yang satu bilang kaya ondel-ondel....kan repot..:)

4. Ustadz saat kapan akhwat boleh membuka jilbab di depan calon suaminya?
Jawab
Saat calonnya ingin melihatnya dengan niat dinikahi. Ini pendapat dalam satu mazhab. Mazhab Hambali kalau tidak salah. Kalau jumhur ulama hanya muka dan telapak tangan. 

5. Ustad  seandainya  calon itu bertempat tinggal jauh dengan kita, bolehkah kita menyekidiki nya terlebih dahulu? Maksud  saya, kita ingin tahu terlebih dahulu, tapi tanpa sepengetahuan dari keluarga  pihak nya, gitu loe ustad ?
Jawab
Sepanjang niatnya benar-benar untuk menikah tidak apa-apa tapi secukupnya. Just info: Sebelum menikah isteri saya kerja di apotik. Oleh ustaz saya disuruh pura-pura beli obat. Sambil ngelihat.... Ternyata ...... pandangan pertama....langsung jatuh hati, langsung ajukan proposal segera nikah dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

6. Mungkin sajakan ustadz setelah dia lihat kepala hingga leher terus membatalkan pinangannya?
Jawab
Kalo ga jadi ya sudah. Mau diapain lagi Masing-masing jaga hati makanya sedapat mungkin masalah ini dirahasiakan. Jangan terlalu banyak pihak yang tau

7. Harus didampingi walinya ya ust?
Jawab
Kalau masalah melihat tidak harus didampingi walinya Yang penting tidak khalwat tapi didampingi wali lebih bagus

Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Kamis, 03 September 2015
Narasumber : Ustadz Abdullah Haidir Lc
Tema : Munakahat
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Telegram Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala