Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , » HADIST: HUKUM SEORANG LAKI-LAKI MANDI BEKAS AIR MANDI SEORANG WANITA

HADIST: HUKUM SEORANG LAKI-LAKI MANDI BEKAS AIR MANDI SEORANG WANITA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, September 4, 2015

Hadits berikutnya dari bab air dalam kitab Bulughulmaram
Larangan seorang lelaki mandi bekas air mandi seorang wanita

7- وَعَنْ رَجُلٍ صَحِبَ النَّبيَّ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: أنْ تَغْتَسِلَ المَرْأةُ بفَضْلِ الرَّجُلِ، أَوِ الرَّجُلُ بِفَضْلِ الْمَرْأَةِ، وَلْيَغْتَرِفَا جَمِيْعاًأَخْرَجَهُ أَبُوْ دَاوُدَ والنّسائيُّ وإسْنَادُهُ صَحِيْحٌ.

7- Dari seorang laki-laki yang menjadi sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang wanita mandi dengan sisa air mandi laki-laki atau sebaliknya, namun hendaklah keduanya saling menciduk dari air tersebut.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasaa-i, dan sanadnya shahih.

1. Perawi Hadits

Perawinya ini tidak diketahui namanya. Dijelaskan dalam sunan Abu Daud dengan keterangan:

(عن رجل صحب النبي صلّى الله عليه وسلّم أربع سنين، كما صحبه أبو هريرة رضي الله عنه)،

Dari seorang yang menjadi sahabat Nabi selama empat tahun sebagaimana Abu Hurairah menjadi sahabat Nabi.

Hal ini menunjukkan perawi sangat mengenal orang tersebut. Ada sebagian ulama yang menyatakan orang tersebut adalah al-Hakam bin Amru al-ghifaari, seperti ada dalam kitab al-Muntaqa karya majduddin ibnu Taimiyah, ada juga yang menyatakan, ia adalah Abdullah bin Sarjas. Namun bagaimanapun tidak disebutkan nama sahabat Nabi dalam hadits tidak masalah dan tidak merusak keabsahan hadits; sebab semua sahabat Nabi adalah ‘Udul (baik ketakwaan dan agamanya).

2. Takhrijul Hadits :

SHAHIH. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no.81), Nasaa-i (1/130) dan Baihaqiy (1/190), dari jalan Dawud bin Abdullah al-Audi, dari Humaid bin Abdurrahman Al-Himyariy, ia berkata:  Saya pernah berteman dengan seorang laki-laki yang pernah bersahabat dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama empat tahun sebagaimana Abu Hurairah, ia berkata :

نَهَى رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ أَنْ تَغْتَسِلَ الْمَرْأَةُ بِفَضْلِ الرَّجُلِ أَوْ يَغْتَسِلُ الرَّجُلُ بِفَضْلِ الْمَرْأَةِ، وَلْيَغْتَرِفَا جَمِيْعًا

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang wanita mandi dari sisa air laki-laki atau laki-laki mandi dari sisa air wanita, dan hendaklah masing-masing menciduknya.”

Sanad hadits ini shahih sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar. Ibnu Hajar juga menyatakan dalam kitab fathul Baari 1/300: Para perawinya tsiqah (kredibel), saya belum menemukan hujjah yang kuat untuk orang yang melemahkannya. Klaim al-baihaqi bahwa itu termasuk dalam mursal tertolak, karena tidak adanya penyebutan nama sahabat tidak masalah/ Tabiin tersebut telah menjelaskan bahwa ia telah bertemu dengan orang tersebut. Juga klaim Ibnu Hazm bahwa nama Daud yang meriwayatkan dari Humaid bin abdirrahman adalah ibnu Yazid al-Audi seorang perawi lemah adalah tertolak; karena ia adalah ibnu Abdillah al-Audi seorang perawi tsiqah (kredibel) yang telah dijelaskan nama bapaknya oleh Abu Dawud dan selainnya.

Ibnu Qathan pernah berkata: “ al-Humaidi telah menulis  dari negeri Iraq kepada Ibnu hazm menceritakan keabsahan hadits ini dan menjelaskan kepadanya keadaan perawi tersebut dengan ungkapan tsiqah, sehingga saya tidak tahu apakah ia rujuk dari pendapatnya tersebut atau belum? (Tahdzib at-Tahdzib 3/1660

Jalan yang lain, telah diriwayatkan oleh Abu Dawud  (no.82), Tirmidziy, Nasaa-i, Ibnu Majah dan lain-lain dari jalan Al-Hakam bin Amr Al- Aqra’:

أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ نَهَى أَنْ يَتَوَضَّأَ الرَّجُلُ بِفَضْلِ طُهُوْرِ الْمَرْأَةِ.

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang laki-laki berwudhu dari sisa wudhu wanita”

Sanadnya shahih dan rawi-rawinya semuanya tsiqoh.

3. Kosa kata Hadits

(فضل الرجل) : sisa air yang digunakan seorang.

(وليغترفا جميعا) saling menciduk airnya. Yang lelaki menciduk dengan tangannya dan yang wanita menciduk dengan tangannya juga.

4. Syarah umum Hadits (Pengertian Hadits)

Hadits yang mulia ini menunjukkan larangan wanita mandi dengan air sisa mandi lelaki dan larangan lelaki mandi dengan air sisa mandi wanita serta bolehnya mandi keduanya dari satu bejana dengan cara menciduknya dengan tangan. Dalam pengertian bila ada sebejana air lalu datang seorang lelaki atau wanita menggunakannya untuk mandi dan menyisakan air padanya, maka Nabi melarang lelaki menggunakan sisa mandi wanita atau sebaliknya. Apabila harus maka saling mengambil airnya untuk mandi.

Hadits ini nampak bertentangan dengan hadits berikutnya dari Ibnu Abas.

8-  وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النبيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا.  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.

8. Dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma (ia berkata): “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dengan sisa air mandi Maimunah radiallahu anha.”
Diriwayatkan oleh Muslim.

1. Perawi Hadits.

Ibnu Abbas adalah Abul Abbas Abdullah bin Abbas bin ‘Abdulmuththalib al-Hasyimi al-Qurasyi ulama besar umat ini (Hibrulummah), ahli fikih dan tafsir al-Qur`an. Dilahirkan tiga tahun sebelum Hijroh dan mendapatkan doa dari Rasulullah:

«اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل»

Ya Allah faqihkanlah ia dalam agama dan ajarilah ia tafsir al-Qur`an. (HR Ahmad dengan sanad yang shahih)

Rasuliullah wafat dalam keadaan ibnu Abbas baru baligh. Beliau meninggal di kota Thaif pada tahun 68 H dan Muhamad bin Abi bin Abi Thalib (Ibnu al-Hanafiyah) mengimami shalat jenazahnya dan beliau berkata: Hari ini wafat ulama Rabbani umat ini. (lihat al-Isti’ab 6/258, Tadzkiratulhufaazh 1/40 dan al-Ishaabah 6/130).

2. Takhrijul Hadits

SHAHIH. Diriwayatkan oleh Muslim no 323 (1/177) dari jalan periwayatan ibnu Juraij beliau berkata:

(أخبرني عمرو بن دينار قال: والذي يَخْطِرُ على بالي أن أبا الشعثاء أخبرني، أن ابن عباس أخبره، أن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم كان يغتسل بفضل ميمونة).

(Amru bin Dinaar telah menceritakan kepadaku seraya berkata: Yang saya ingat bahwa abu asy-Sya’tsa’ menceritakan kepadaku bahwa Ibnu Abas menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah dulu mandi dengan air sisa Maimunah).

Sebagian orang ada yang mengkritisi keabsahan hadits ini, karena adanya keraguan dari Amru bin dinaar sehingga tidak bisa dipastikan keabsahannya. Namun yang benar adalah shahihnya sebab dalih ini tidak bisa diterima karena dua hal:

1. Bentuk ungkapan Amru bin Dinaar adalah dugaan kuat, bukan keraguan. Ungkapan seperti ini tidak keluar dari lingkung pengetahuan dan kepastian, walaupun ada celah difahami beliau tidak hafal sebagaimana mestinya. Oleh karena itu al-Haafizh ibnu Hajar menyebutkannya tanpa memberikan isyarat kepada hal tersebut.

2. Hadits ini juga diriwayatkan oleh penulis kitab-kitab sunan, sebagaimana disampaikan al-Haafizh dari jalan yang lain semakna dengan hadits Amrum bin Dinaar tanpa ada sesuatu yang nampak ada keraguannya.

***
9- وَلأَصْحَابِ السُّنَنِ: اِغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْواجِ النَّبيِّ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم فِيْ جَفْنَةٍ، فَجَاءَ لِيغْتَسِلَ مِنْها، فَقَالَتْ إنِّي كُنْتُ جُنُباً فَقَالَ: إنَّ الْمَاءَ لاَ يُجْنِبُ  وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ.

9 Abu Daud, At Tirmidziy, An Nasai, dan Ibnu Majah meriwayatkannya dengan lafazh: Salah seorang dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dalam sebuah bak mandi, kemudian beliau pun datang  ingin mandi dengan sisa air tersebut, maka istri beliau pun berkata: “Sesungguhnya aku tadi mandi janabah.” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya air itu tidaklah (terkena) junub.” Dan telah di-shahih-kan oleh Tirmidziyy dan Ibnu Khuzaimah.

1. Takhrijul Hadits:

SHAHIH. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no.68), Tirmidziy (no.65), Nasaa-i (1/173), Ibnu Majah (no.370,371), Ahmad (1/235,284,308,337) dan Ibnu Khuzaimah no.91, (1/57) dan al-Haakim (1/159) serta lain-lain banyak sekali yang semuanya dari jalan Simak (bin Harb), dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata:

اِغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ فِي جَفْنَةٍ، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ لِيَتَوَضَّأُ مِنْهَا –أَوْ يَغْتَسِلُ- فَقَالَتْ لَهُ : يَارَسُوْلَ الله، إِنِّيْ كُنْتُ جُنُبًا. فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ : إِنَّ الْمَاءَ لاَ يُجْنِبُ

“Sebagian dari istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi (janabah) di bak mandi yang besar. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang akan berwudhu dengan air tersebut , maka istrinya berkata kepada beliau : ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya tadi aku sedang junub ! maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Sesungguhnya air itu tidak berjanabah”
Sanad hadits ini shahih. Dan telah dishahihkan oleh Tirmidziy, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al Albani dan lain-lain. Dan dalam salah satu lafazh Nasaa-i, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Abdurrazzaaq:

إِنَّ الْمَاءَ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

Sebagian orang menjadi Simaak bin Harb seorang shaduq (perawi hadits hasan) yang berubah hafalannya diakhir (Ikhtalatho biakhoroh), lalu menerima talqien (sudah tidak bisa membedakan haditsnya dengan hadits orang lain bila disampaikan kepadanya seakan-akan haditsnya (pen)).

Al-Haafizh menjawab dalih ini dengan menyatakan ini merupakan riwayat Syu’bah dari Simaak –sebagaimana dalam riwayat al-Haakim-. Padahal Syu’bah tidak menyampaikan hadits dari para guru beliau kecuali hadits-hadits mereka yang shahih. Al-Haafizh menyampaikan dalam kitab Tahdzib at-tahdzib 4/205 : Siapa yang mendengar dari Simaak dimasa dahulu seperti syu’bah dan Suifyaan ats-Tsauri maka haditsnya mereka dari beliau (Simaak) adalah shahih mustaqim.

Oleh karena itu at-tirmidzi menghukumi hadits ini dengan ungkapan: ini Hadits Hasan Shahih. Sedangkan al-Haakim menyatakan: ini Hadits shahih dalam thaharah dan kedua syeikh (al-Bukhori dan Muslim) tidak mengeluarkannya serta tidak ada illah (sebab yang melemahkan hadits) padanya. Imam adz-Dzahabi menyetujuinya.

3. Makna hadits secara umum (pengertian umum).

(جَفْنَةٍ) adalah bejana kecil yang biasa ada dirumah-rumah memuat kurang lebih dua atau tiga liter air.

(مَيْمُونَةَ) beliau adalah Maimunah bintu al-Haarits al-Hilaliyah menikah dengan nabi ketika beliau Umrah Qadha’ dan berkumpul dengan beliau di daerah Saraf –satu daerah sekitar 3 mil dari tan’im. Pernikahan beliau ini setelah ditinggal mati oleh suaminya yang bernama Abu Ruhm bin Abdil’Uzzaa. Maimunah ini adalah istri terakhir Nabi yang dipuji oleh ‘Aisyah dengan ungkapan:

(إنها كانت من أتقانا لله وأوصلنا للرحم)

Beliau dulu adalah wanita yang paling takwa dari kami dan paling menyambung kerabat. (Diriwayatkan ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqaat 8/138 dan al-Haafizh dalam al-Ishabaah 13/140 berkata : Ini sanadnya shahih)
Maimunah meninggal di Saraf pada tahun 51 Hijriyah menurut pendapat yang rojih.

(إني كنت جنباً) : sesunggunya aku tadi junub.

(إن الماء لا يجنب) boleh juga dengan difathahkan nunnya dari kata (جَنَبَ يَجْنَبُ) termasuk dalam bab (فرح) atau didhommahkan huruf nunnya dari bab (كَرُمَ), hal ini bila kita jadikan kata tersebut Tsulatsi. Bila dijadikan Ruba’i maka boleh didhommahkan huruf Ya’nya sehingga dikatakan: (أجنب الرجل) apabila lelaki tersebut terkena janabah. Dengan demikian pengertiannya adalah air tersebut tidak terkena janaabah. Sehingga ada dalam riwayat an-nasaa’i :

إِنَّ الْمَاءَ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

Imam as-Sindiy menyatakan: Itu sesuai dengan riwayat tersebut, pengertiannya: Apabila menggunakan air tersebut orang junub atau berhadats maka tidak menjadikan sisanya menjadi najis karena sebab digunakan utk janabah atau hadats. (Hasyiyah as-Sindiy ‘ala an-Nasaa’i 1/173).

4. Fiqih Hadits:

a. Hadits ini menunjukkan kelemahlembutan Nabi terhadap istri-istrinya dan juga pergaulan yang baik terhadap mereka. Demikianlah yang seharusnya dilakukan seorang lelaki dengan memuliakan istri dan keluarganya dalam ungkapan dan perbuatan.

b. Hadits Ibnu Abbas di atas (no.8 dan 9 ) menunjukkan bahwa larangan di hadits nomor 6 dan 9 hanya larangan untuk kebersihan (lit Tanzih). Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan berwudhu dari air sisa mandi janabah-nya Maimunah istri beliau. Dan Maimunah pernah mandi janabah sambil berendam di bak mandi.

c. Dari hadits yang mulia ini kita mengetahui tidak ada istilah air musta’mal  (sisa air yang bekas dipakai untuk mandi janabah atau berwudhu). Yang menurut mereka bahwa air musta’mal ini suci akan tetapi tidak mensucikan. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas mengatakan bahwa “Air itu tidak berjunub” !

d. Sisa bekas mandi janabah tetap suci dan mensucikan, yang selanjutnya boleh dipakai untuk mandi janabah atau berwudhu.

e. Boleh mandi janabah sambil berendam di bak mandi .

5. Masaa’il

Pertama: Hadits ke-7 nampak bertentangan dengan hadits ke-8 dan ke-9. Para ulama memberikan solusi atas kontradiksi yang terjadi ini dengan beberapa cara:

a. Cara Tarjih.

Para ulama yang mengambil cara ini menyatakan bahwa hadits-hadits larangan mandi dari sisa air mandi waninta menentang hadits-hadits yang lebih kuat dan lebih banyak jalan periwayatannya, sehingga dilemahkan. Hadits-hadita yang lebih kuat menunjukkan kebolehannya sehingga yang diambil adalah kebolehan mandi dari air sisa mandi wanita.

2. Cara kompromi (Maslak al-Jam’).

Para ulama yang mengambil cara ini berselisih dalam hasil komprominya dalam tiga pendapat:
a. Membawa pengertian hadits-hadits yang melarang mandi dari sisa air mandi wanita kepada air yang jatuh dari anggota tubuhnya. Sebab airnya menjadi air musta’mal, sehingga tidak boleh digunakan. Yang dmaksudkan adalah air yang jatuh setelah mencuci anggota badan. Ini pendapat imam al-Khathabi.

b.  Membawa larangan tersebut kepada larangan tanziih (makruh) sebagai bentuk kompromi semua hadits yang ada. Kompromi inilah yang dirojihkan al-Haafizh Ibnu hajar dalam fathul Baari. Karena perbuatan Rasulullah dalam hadits-hadits yang membolehkan tersebut adalah untuk menjelaskan kebolehannya, sehingga adanya perbuatan tersebut menjadi indikator yang memalingkan pengertian larangan dari pengharaman.  Hal ini karena Nabi kadang melarang sesuaatu kemudian melakukankan atau memerintahkannya kemudian meninggalkannya. Semua unu termasuk dalam penjelasan hukum syariat dan perintah tersebut bukan untuk wajib serta larangan tersebut bukan untuk pengharaman. Tidak boleh dikatakan ini adalah khusus untuk nabi saja.  Sehingga perbuatan beliau tidak menentang perkataan beliau kepada umatnya, karena sabda beliau (إن الماء لا يجنب) dan (الماء لا ينجسه شيء) menunjukan hal tersebut tidak khusus untuk beliau. Demikian juga karena lafazh (الرجل) dalam hadits mencakup Rasulullah secara langsung. Kemakruhan ini ada ketika adanya air yang lainnya yang dapat digunakan untuk mandi selain sisa air mandi wanita tersebut. Sedangkan bila membutuhkan air sisa mandi wanita tersebut maka hilanglah kemaksyhannya, karena mandi dan wudhu hukumnya wajib maka tidak ada kemakruhan dengan adanya kewajiban ketika membutuhkan air tersebut. Apabila ada air lainnya maka lebih utama tidak mandi dengan sisa air mandi wanita.

c. Membawa pengertian hadits larangan tersebut kepada air yang digunakan wanita tersebut dengan sendiri tersembunyi dan membawa pengertian hadits yang membolehkannya kepada pengertian bila wanita tersebut mandinya tidak bersendiri dan tersembunyi. Ini yang disampaikan banyak ulama madzhab hambali diantaranya penulis kitab Zaad al-Mustaqni’

3. Cara naskh.

Sebagian ulama ada yang mengambil cara ini dengan menyatakan bahwa hadits yang melarang dinasakh (dihapus hukumnya) oleh hadits yang membolehkannya. Namun an-nasakh membutuhkan kepastian waktu dan tarikh dan tidak digunakan kecuali bila tidak mungkin dikompromikan. Juga butuh kesetaraan satu derajat antara keduanya.

Kedua: Hukum suami istri mandi bersama adalah boleh menurut ijma’ para ulama dengan dasar hadits ibnu Abas diatas.

Ketiga: Hukum lelaki mandi dengan air bekas mandi wanita. Tentang hal ini para ulama berbeda pendapat menjadi 3 pendapat:

a. Melarang lelaki mandi dari air sisa mandi wanita. Mereka menyatakan tidak sah seorang mandi dari sisa mandi wanita yang haidh, junub atau nifas dengan mengambil pengertian yang langsung dari hadits ke-7. Pendapat ini dinukil dari sebagian sahabat dan tabi’in.

b. Tidak boleh seorang mandi dari sisa air mandi wanita apabila sang wanita mandi dengan tersembunyi dan airya sedikit. Adapun bila mandi tidak sendirian tersembunyi maka tidak mengapa. Ini adalah pendapat madzhab hambali ( lihat Asy-Syarhu al-kabier 1/10, al-inshaaf 1/48 dan asy-Syarhu al-Mumti’ 1/37

c. Diperbolehkan seorang mandi dari sisa air mandi wanita dalam segala keadaan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama berdasarkan kepada cara kompromi antara semua hadits yang ada seputar masalah ini, baik yang melarang atau membolehkan. Caranya membawa pengertian larangan kepada pengertian maksuh bukan pengharaman. (lihat masalah pertama dalam pembahasan ini).

Pendapat ketiga inilah yang dirojihkan ibnu taimiyah dalam kitab al-Ikhtiyaraat hlm 3 dan lihat juga tahdzib as-Sunan karya ibnul Qayyim 1/81 dan Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

Syeikh ibnu Utsaimin dalam asy-Syarhu al-Mumti’ (1/37) menyatakan:
Yang benar larangan dalam hadits tidaklah bersifat pengharaman banun untuk lebih baik dan kemakruhan dengan dalil hadits yang shahih dari ibnu Abbas yang berbunyi:

اِغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ فِي جَفْنَةٍ، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ لِيَتَوَضَّأُ مِنْهَا –أَوْ يَغْتَسِلُ- فَقَالَتْ لَهُ : يَارَسُوْلَ الله، إِنِّيْ كُنْتُ جُنُبًا. فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ : إِنَّ الْمَاءَ لاَ يُجْنِبُ

“Sebagian dari istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi (janabah) di bak mandi yang besar. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang akan berwudhu dengan air tersebut, maka istrinya berkata kepada beliau : ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya tadi aku sedang junub ! maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Sesungguhnya air itu tidak berjanabah”. Ini hadits shahih.

Keempat: Hukum wanita mandi dengan air bekas mandi lelaki adalah boleh menurut pendapat mayoritas ulama, bahkan imam an-Nawawi menceritakan adanya ijma’ dalam hal ini.

Memang tidak ada dalil shahih yang menunjukkan kebolehan wanita mandi dengan air bekas mandi lelaki, namun ini dikiaskan juga kepada masalah yang ketiga.
Ibnu abdilbarr menyatakan:

(لا بأس أن يتطهر كل واحد منهما بفضل طهور صاحبه، شَرَعَا جميعاً، أو خلا كل واحد منهما به، قال: وعلى هذا القول فقهاء الأمصار وجمهور العلماء، قال: والآثار في معناه متواترة، ثم ذكر حديث ابن عباس..) والله أعلم.

Tidak mengapa setiap dari keduanya bersuci dengan air bekas bersuci pasangannya baik keduanya memulai secara berbarengan atau salam seorang dari mereka bersendirian dahulu.

Beliau juga menyatakan: Demikianlah ini adalah pendapat ahli fikih di berbagai kota dan mayoritas ulama. (al-Istidzkaar 2/192)
Wallahu ‘Alam

TANYA JAWAB

1. Afwan ustadz, berarti berbeda ya air sisa mandi dengan air bekas mandi-mohon dikoreksi bila salah. Kalau untuk kami yang di bogor, alhamdulillah sebelumnya tidak terbayangkan menggunakan air bekas mandi seseorang. Apalagi yang terbayang adalah tercampur dengan sisa sabun atau shampoo, dsb. Apakah memang hal ini masih relevan dilakukan terutama pada negara yang sulit air? Terimakasih atas penjelasannya.
Jawab
Pada prakteknya masalah ini memang sudah jarang ditemukan tapi substansinya dapat diambil. Yaitu air suci tak kehilangan kesuciannya karena habis digunakan. Prinsip dasarnya lagi Air suci itu, kecampuran apapun kalau tidak merubah warna, rasa dan bau, tidak hilang kesuciannya bahkan walau terkena najis, menurut salah satu qaul ulama Wallahu a'lam...

Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Jum'at, 04 September 2015
Narasumber : Ustadz Kholid Syamhudi Al Bantani Lc
Tema :Hadist
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Telegram Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment