Ketik Materi yang anda cari !!

Home » » Mengisi Bekal Untuk Akhirat

Mengisi Bekal Untuk Akhirat

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, September 15, 2015

بسم الله الر حمن الر حيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya..

Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaaLlah..
Aamiin

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

★MATERI★

"Mengisi Bekal Untuk Akhirat"

Di dalam Alquran, Allah Ta’ala berfirman, “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS al-Baqarah [2]: 197).

Ibn Katsir menjelaskan bahwa manusia memerlukan dua macam bekal, pertama, bekal materi dan, kedua, adalah bekal nonmateri.

Bekal materi (maknawi) itu meliputi kekhusyukan, ketaatan, dan ketakwaan. Karena itu, nabi dan rasul terus membekali diri dengan ketakwaan dengan melakukan beragam amal saleh. Tidak heran jika kemudian, Rasulullah memberikan satu peringatan penting agar umatnya tidak lalai, bosan, apalagi berhenti dalam mencari bekal takwa.

“Bertakwalah engkau kepada Allah di mana saja kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan (amal saleh) tersebut akan menghapuskannya (amal keburukan), dan bergaullah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.”
(HR Tirmidzi).

Pertanyaannya, bagaimanakah takwa itu diimplementasikan atau dioperasionalkan? Jika mengacu pada QS Ali Imran 134, takwa itu diwujudkan dalam bentuk senantiasa berinfak, baik dalam keadaan lapang dan sempit, menahan amarah, memberi maaf, dan melakukan kebaikan-kebaikan (ihsan).

Dengan kata lain, jika ingin bekal terbaik, lakukanlah tuntunan tersebut. Pertama, sedekah. Dalam hal ini, sedekah adalah jalan untuk menggapai takwa. Artinya sedekah bukan soal jumlah, ke siapa, dan kapan, tetapi ini soal mindset atau pola pikir.

Dikatakan pola pikir karena sedekah itu soal kesucian niat dalam membuktikan keimanan.
“Sedekah adalah bukti.”
(HR Muslim).

Dari sini dapat kita pahami secara rasional, mengapa Siti Khadijah, Abu Bakar, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf sangat luar biasa dalam bersedekah. Mereka ingin dengan tulus membuktikan keimanannya.

Dan, janji-Nya, “Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (QS an-Nisa [4]: 146).

Kedua, menahan amarah. Sepintas amalan ini sangat sepele, tetapi tidak mudah bagi mereka yang diuji keikhlasan dan kesabarannya. Di perjalanan, misalnya, saat mengendarai kendaraan, sering kali ada pengemudi lain yang mengambil jalur dan memotong jalan.

Mereka yang tidak memiliki niat mengambil bekal terbaik, pasti akan marah. Namun, bagi yang mau bekal terbaik, menahan amarah pun menjadi pilihannya meski secara posisi dirinya benar dan sangat mampu untuk melampiaskan kemarahan. “Siapa yang menahan marah, padahal ia mampu melakukannya akan dipanggil oleh Allah di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, kemudian Allah mempersilakan ia memilih bidadari yang diinginkannya.” (HR Ahmad).

Ketiga, memaafkan kesalahan manusia. Memaafkan identik dengan kerugian. Ego beralibi, bagaimana mungkin diri yang sudah telanjur mendapat kerugian akibat ulah orang lain, lantas begitu saja memberikan maaf.

Namun, kalau hati menghendaki bekal terbaik, memaafkan pasti menjadi pilihannya. Sebab Allah berfirman, “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?” (QS an-Nur [24]: 22).

Semoga kita bisa membawa bekal terbaik untuk akhirat kelak. Wallahu'alam 

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

*****TANYA - JAWAB*****

1. Ustadz,  saya mau tanya seperti di sebutkan d atas menahan amarah misalkan sedang jalan kaki terus ada mobil lewat di genangan air,  dan genangan air tersebut terkena ke pejalan kaki itu. Si pejalan kaki tidak marah-marah dengan keras tapi dalam hati ada kekesalan ke mobil tsb,  tapi setelah itu buru-buru mengikhlaskan. Apakah itu termasuk menahan amarah?
JAWAB : Menahan amarah memang bisa terjadi di banyak area. Di kantor, di sekolah, di pertandingan atau manapun. Termasuk kejadian seperti kisah tsb di atas. Pada prinsipnya memang yang punya mobil tidak tau dan mungkin tidak melihat, jadi sikap menahan amarah atau tidak kesal adalah sikap terpuji. Bagaimanapun jika dibalas maka efek negatif akan timbul. Sebaiknya memang demikian, berlapang dada saja.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Baiklah nanda kita cukupkan dulu kajian kita sampai disini. Marilah kita tutup majelis ilmu kita hari ini dengan membeca istighfar, hamdallah serta do'a kafaratul majelis

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

dan istighfar

أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ

Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭
Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Rekapan Kajian Online WA Hamba  اللَّهِ SWT
Group Nanda M112

Selasa, 1 Dzulhijjah 1436 H / 15 September 2015M
Narasumber: Ustadz Syahrowi
Tema: Mengisi Bekal Untuk Akhirat
Notulen: Indah
Admin: Indah & Dhifa
Editor : Athariyah

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment