Home » , » PELAJARAN DARI KISAH NABI ADAM AS (part II)

PELAJARAN DARI KISAH NABI ADAM AS (part II)

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, September 2, 2015

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Rabu, 2 September 2015
Narasumber : Ustadz Ahabba
Rekapan Grup Bunda M18 (Puji)
Tema : Kajian Umum
Editor : Rini Ismayanti


PELAJARAN DARI KISAH NABI ADAM AS (part II)


Bismillah

1. Setelah penjelasan Allah tentang prinsip-prinsip penugasan yang didapat dalam perintah dan larangan-Nya, kita dapati peringatan Allah kepada Adam tentang adanya hambatan-hambatan yang akan menghalanginya melaksanakan tugas ini. yaitu dalam bentuk permusuhan abadi dengan iblis,

""Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sakali-kali janganlah sampai ia mengeliarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka" (Thaaha: 117)

"Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya". Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. (Shaad: 82-83)

Permusuhan ini terjadi dimanapun berada, ia akan datang kapan dan dimanapun arahnya. Akan tetapi mereka tidak berdaya dihadapan orang yang berpegang teguh dengan agama Allah:

"Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah." (An-Nahl: 99-100)

2. Adam melakukan kesalahan di hadapan Rabbnya, akan tetapi dengan cepat kembali dan meminta ampun kepada Rabbnya yang Maha perkasa:

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi". (Al,A'raf: 23)

Sedangkan iblis menambahkan kedurhakaan besarnya itu dengan meneruskannya dan mendebat Allah Yang Mahaperkasa, menolak perintah-Nya.

Ini jelas kufur. Dari itulah Al Khaliq subhanahu wataala mengusirnya dari surga dan dijauhkan dari rahmat Allah

Allah tetapkan laknat kepadanya dan para pengikurnya.
"Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tenpat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 43-44)

Demikianlah kaidah setiap orang yang menolak hukum syar'iy. Dengan memahami perbedaan antara maksiat Adam as dan maksiat iblis, penerapan Islam menempati posisi penting dalam kehidupan.

3. Manusia senantiasa dinaungi dengan pertolongan Allah swt, dijaga dengan lindungan dan kasih sayang Allah jika berada dalam perintah-Nya, berjalan di atas ajaran-Nya. Ketika itulah diberikan anugerah Allah dalam bentuj berkah dan rahmat.

"Dan Allah telah membuat seuatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpaj ruah daari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selaly mereka perbuat." (An-Nahl: 112)

4. Bahwa Adam AS sejak awal manusia diciptakan adalah untuk menjadi penghuni bumi. Adapun keberadaannya disurga saat itu adalah untuk waktu sementara, berbekal diri untuk dirinya dan anak cucunya dengan bimbingan yang diperlukan sebagai khalifah setelah itu.

Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yaangengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, tidak (pula) mereka bersedih hati". Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal didalamnya. (Al-Baqarah: 38-39)

5. Kemudian jika Adam lupa dan makan buah yang dilarang mendekatinya, ternyata ia menyesali salahnya dan meminta ampunan Allah, dan Allah memberinya ampun dan rahmat seketika itu pula. Dan semua bekas kesalahan tadi telah bersih total dengan taubat ini.

"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhan-Nya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Mahapenerima Taubat lagi Mahapenyayang." (Al-Baqarah: 37)

6. Tidak ada lagi kesalahan setelah bertaubat dan terpilih. Tidak ada lagi dosa warisan yang diterima anak cucu. Setiap orang menghadapi hidup ini dengan bersih tanpa dosa yang ia warisi. Tidak ada dosa yang membebani punggungnya.

"Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya." (Al-Muddatstsir: 38)

Dan manusia dengan sikap perbuatannya sendiri akan dapat menjaga lembarannya ini tetap bersih sampai berjumpa kembali dengan Rabbnya. Dan sama saja bagi yang dapat menjaganya bersih atau menodainya dengan penyimpangan, maka ia tidak akan dihisab (perhitungkan) kecuali yang telah ia perbuat sendiri, dan tidak ada urusan dengan perbuatan dosa orang lain.

"Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, Dan bahwasanya usaha itu kelak alan diperlihatkan (kepadanya)." (An-Najm: 38-40)

"Dan tiap-tiap manusia itu telah kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu itu sebagai penghisab terhadapmu". (Al-Isra: 13-14)

TANYA JAWAB

Q : Kecuali hamba-hamba Mu yg mukhlis.. Ikhlas ini berat ustadz, misalnya apakah prestasi  beberapa tahun ke belakang sering disebut2 supaya org tahu bahwa  betapa rumit dan sulitnya pekerjaan itu tp bisa diselesaikan dgn baik... Termasuk tidak ikhlas kah itu?
A : Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.

Q : Pengertian masyarakat dalam islam itu apa yah ustadz?
A : Masyarakat muslim adalah dimana seorang muslim selamat dari muslim lainnya akan tangan dan mulutnya. Bukti yang mencerminkan masyarakat muslim adalah dengan saling tolong menolong, dengan memenuhi kebutuhannya, memerintahkan yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar.

Q : Ust, misal.. Kita tahu bahwa Mr. X itu tidak bersalah.. Namun karena kesaksian Mrs.XY, bliau di penjarakan.. Tapi kesaksian itu sebenarnya palsu..
Brarti Mr.X itu didzolimi.. Lalu bagaimana cara kita mengikhlaskan, menerima keputusan pengadilan, jika situasinya seperti itu? Jika kita sebagai Mr.X?
A : Pertama, hendaklah kita cek dan kita pelajari lagi jangan-jangan yang dituduhkan orang lain itu benar. Kedua, memperbaiki ucapan atau tindakan kita yang menjadi penyebab orang memfitnah kita. Ketiga, ingatlah akan aib dan dosa kita. Keempat, hendaklah kita merenung dan mengevaluasi kesalahan dan dosa-dosa kita. Kelima, jika kita sabar dan ikhlas, semoga tuduhan dan fitnahan ini dapat mengurangi/menghapus dosa, menambah pahala, dan meningkatkan derajat kita di sisi-Nya.
Yakinlah musibah tuduhan merupakan kebaikan untuk Anda. Si penuduh yang merugi karena dia telah melakukan kejahatan dan berhak memperoleh azab-Nya. Lihat QS. An Nuur: 23

Q : Ustadz mau tanya, dosa apa saja yang akan diampuni Allah ? Apakah dosa-dosa besar yang sudah dilakukan misal membunuh, berzina, minum khamr akan diampuni tanpa dimasukkan ke neraka terlebih dahulu ?
A : "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya". (An Nisaa: 48).
Tidak ada seorang pun yang dijamin untuk langsung masuk surga, kecuali hanya para nabi dan rasul saja. Semua itu adalah misteri ilahi, tidak ada yang tahu dan bisa menilainya di dunia ini, kecuali Allah SWT. Namun di balik semua itu, kita pun juga tidak boleh berburuk sangka kepada Allah SWT. Sebab selain sifat-Nya Yang Maha keras siksa-Nya, Allah SWT juga Tuhan yang Maha Pengampun dan Penyayang. Maka mintalah ampun tiap hari dan sepanjang masa, atas semua dosa yang kita lakukan. Baik yang kita sengaja atau pun yang tidak kita sengaja. Baik yang kecil maupun yang besar. Yang penting sekarang ini kita berserah diri kepada semua yang telah Allah perintahkan, serta menjauhkan diri dari segala yang dilarangnya.

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Moga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ




Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!