Ketik Materi yang anda cari !!

PUASA RAJAB

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, April 22, 2015

Image result for puasa rajabAssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Nanda sekalian, kita lanjutkan hari ini kajian tentang perbedaan fiqh, langsung kita praktek ya mempelajari pendapat yang ada dari ulama-ulama panutan. Yang sedang ramai tentang puasa di bulan rajab. Silakan di simak.
Memang sangat disayangkan sekali jika ada saudara muslim kita yang terlalu gegabah dan terburu-buru menghukumi puasa Rajab itu sebagai perbuatan bid’ah, tanpa melihat dan meneliti dulu apa pendapat ulama umat ini perihal tersebut. 

Masalahnya menjadi rumit, karena konsekuensi vonis bid’ah kepada saudara muslim, sama saja memvonis sesat, dan sesat itu tempatnya di neraka, sebagaimana bunyi haditsnya. Padahal, jumhur ulama umat ini menghukumi bahwa puasa Rajab itu termasuk ke dalam kelompok puasa-puasa sunnah yang tentunya jika dikerjakan ada pahala yang diperoleh, dan tidak ada tanggungan dosa jika ditinggalkan. Walaupun nanti kita akan mendapati bahwa madzhab al-hanabilah memakruhkan itu.

Tapi tidak ada satupun ulama salaf yang menghukumi bahwa puasa rajab itu sebagai perkara bid’ah, justru pendapat yang menyalahkan dan mengatakan puasa rajab itu sebagai bid’ah itulah yang mengada-ada, karena tidak ada sandarannya.

Kesunahan puasa pada bulan Rajab disandarkan kepada dalil-dalil umum terkait fadhilah bulan-bulan Haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab), serta kesunahan puasa Muthlaq. Bahkan ada riwayat dari Nabi s.a.w yang memerintahkan salah seorang sahabat untuk puasa pada bulan-bulan haram. Imam Ahmad dalam musnad-nya, serta imam Abu Daud dan juga Imam Ibnu Majah dalam kitab sunan mereka meriwayatkan hadits dari salah seorang dari suku al-Bahilah
:أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَنَا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ قَالَ فَمَا لِي أَرَى جِسْمَكَ نَاحِلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا بِالنَّهَارِ مَا أَكَلْتُهُ إِلَّا بِاللَّيْلِ قَالَ مَنْ أَمَرَكَ أَنْ تُعَذِّبَ نَفْسَكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا بَعْدَهُ قُلْتُ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمَيْنِ بَعْدَهُ قُلْتُ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمْ أَشْهُرَ الْحُرُمِ“

aku mendatangi Nabi s.a.w. lalu aku berkata kepada beliau: “wahai Nabi, aku adalah orang yang pernah datang kepadamu di tahun pertama”, Nabi kemudian bertanya: “kenapa badan kamu menjadi kurus?”, ia menjawab: “aku –selama ini- tidak makan dalam sehari kecuali malam saja”, Nabi bertanya: “siapa yang menyuruhmu menyiksa tubuhmu seperti ini?”, aku –al-Bahiliy- menjawab: “wahai Nabi, aku ini orang yang kuat bahkan lebih kuat”, Nabi mengatakan: “Puasalah bulan sabar –bulan Ramadhan- saja, dan sehari setelahnya!”, lalu aku menjawab: “aku lebih kuat dari itu ya Nabi!”, Nabi menjawab: “kalau begitu, puasa ramadhan dan 2 hari setelahnya!”, aku menjawab lagi: “aku lebih kuat dari itu wahai Nabi!”, Nabi berkata: “Kalau begitu, puasa Ramadhan, kemudian 3 hari setelahnya, dan puasalah pada bulan-bulan haram!”.

Secara eksplisit hadits ini mendindikasikan bahwa puasa pada bulan Rajab itu termasuk amalan yang dibolehkan dan disunnahkan. Kalau seandainya terlarang, mana mungkin Nabi s.a.w. memerintahkan orang ini untuk berpuasa pada bulan tersebut.
Hadits-Hadits Rajab Tidak Shahih

Kalau merujuk kepada statusnya hadits-hadits Nabi s.a.w. yang menyatakan fadhilah atau keutamaan bulan-bulan Rajab serta puasa di dalamnya, kita bisa pastikan bahwa hadits-hadits tersebut adalah hadits yang lemah, bahkan maudhu’ (palsu). Ini diyakinkan dan diperkuat oleh pernyataan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang mana beliau menyusun kitab khusus yang memuat hadits-hadits tentang Rajab, yaitu kitab Tabyiin al-‘Ujbi fimaa Warada fi Syahri Rajaba [تبيين العجب فيما ورد في شهر رجب].

Tidak Shahih Tidak Berarti Terlarang

Tapi, mesti dibedakan antara hukum penstatusan hadits tersebut dengan hukum amal itu sendiri. Walaupun memang hadits-hadits puasa rajab itu tidak dalam derajat yang shahih, bukan berarti amalan puasa pada bulan ini menjadi haram dan terlarang.
Ulama sepakat memang menghukumi hadits-hadits rajab itu sebagai hadits yang tidak shahih, akan tetapi mereka juga sepakat bahwa kesunahan puasa pada bulan Rajab tetap ada, bukan dengan hadits-hadits yang lemah tersebut, melainkan dengan hadits-hadits umum yang menyatakan fadhilah puasa kepada bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab).  Ketika menjelaskan tentang puasa pada bulan-bulan Haram yang mana di dalamnya ada bulan Rajab, 
Imam Syaukani (1250 H) menyatakan dalam kitabnya yang masyhur Nailul-Awthar

:وَقَدْ وَرَدَ مَا يَدُلُّ عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ صَوْمِهِ عَلَى الْعُمُومِ وَالْخُصُوصِ. أَمَّا الْعُمُومُ فَالْأَحَادِيثُ الْوَارِدَةُ فِي التَّرْغِيبِ فِي صَوْمِ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ وَهُوَ مِنْهَا بِالْإِجْمَاعِ“

Banyak hadits-hadits yang menunjukkan bahwa puasa bulan Rajab itu disyariatkan,baik yang secara umum atau juga secara khusus. Adapun yang secara umum adalah hadits-hadits yang datang mengenai anjuran serta motivasi untuk berpuasa di bulan-bulan Haram, dan itu –kebolehakn puasa dengan dalil umum- adalah sebuah Ijma’.” (nailul Awthar 4/292)
Sebelum menyatakan pernyataan di atas, beliau telah mengisyaratkan sebelumnya tentang kebolehan dan kesunahan puasa Rajab, bahwa itu adalah kebiasaan para sahabat. Beliau mengatakan

:فَائِدَةٌ: ظَاهِرُ قَوْلِهِ فِي حَدِيثِ أُسَامَةَ: " إنَّ شَعْبَانَ شَهْرٌ يَغْفُلُ عَنْهُ النَّاسُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ صَوْمُ رَجَبٍ؛ لِأَنَّ الظَّاهِرَ أَنَّ الْمُرَادَ أَنَّهُمْ يَغْفُلُونَ عَنْ تَعْظِيمِ شَعْبَانَ بِالصَّوْمِ كَمَا يُعَظِّمُونَ رَمَضَانَ وَرَجَبًا بِهِ.“

Faidah: secara zahir, hadits Usamah yang mana Nabi s.a.w. mengatakan ketika ditanya tentang puasa Sya’ban: ‘sesungguhnya bulan Sya’ban dalah bulan yang dilalaikan oleh banyak orang antara Ramadhan dan Rajab’, ini juga indikasi kesunahan puasa Rajab; karena secara zahir maksud dari hadits ini bahwa para sahabat lalai akan mengagungkan sya’ban dengan puasa sebagaimana mereka mengagungkan Ramadhan dan Rajab dengan puasa.” (nailul awthar 4/292)

Maksud pernyataan Imam Syaukani ini adalah bahwa banyak dari kalangan sahabat itu lupa akan puasa bulan Sya’ban, dikarenakan bulan itu terjadi antara 2 bulan yang mana mereka sering berpuasa, yakni puasa Rajab dan Ramadhan. Berarti memang puasa Rajab adalah salah satu kebiasaan Sahabat.

Melarang Puasa Rajab = Mengacak-Acak Syariah
Jadi memang sejatinya, puasa pada bulan-bulan haram yang di dalamnya adalah bulan Rajab merupakan puasa yang dianjurkan oleh mayoritas ulama sejak zaman salaf. Sehingga ketika ada yang menyatakan bahwa puasa pada bulan Rajab itu terlarang hanya karena haditsnya dhaif, pendapat tersebut akhirnya dicela oleh para ulama.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami (974 H)Imam Ibnu Hajar al-Haitami (974 H) dalam fatwanya yang terkumpul dalam kitab al-fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra(2/53) justru mengecam keras para ‘ahli agama’ yang melarang umat untuk berpuasa Rajab. Ketika beliau hidup, ternyata ada beberapa ahli agama ketika yang melarang umat Islam untuk berpuasa Rajab hanya karena haditsnya dhaif. Ketika ditanya seperti itu, Beliau mengatakan

:أَنِّي قَدَّمْت لَكُمْ فِي ذَلِكَ مَا فِيهِ كِفَايَة، وَأَمَّا اسْتِمْرَارُ هَذَا الْفَقِيهِ عَلَى نَهْيِ النَّاسِ عَنْ صَوْمِ رَجَب فَهُوَ جَهْلٌ مِنْهُ وَجُزَافٌ عَلَى هَذِهِ الشَّرِيعَةِ الْمُطَهَّرَةِ فَإِنْ لَمْ يَرْجِع عَنْ ذَلِكَ وَإِلَّا وَجَبَ عَلَى حُكَّامِ الشَّرِيعَةِ الْمُطَهَّرَةِ زَجْرُهُ وَتَعْزِيرُهُ التَّعْزِيرَ الْبَلِيغَ الْمَانِعَ لَهُ وَلِأَمْثَالِهِ مِنْ الْمُجَازَفَةِ فِي دِينِ اللَّهِ تَعَالَى“

aku sudah menjelaskan tentang kesunahan puasa Rajab, dan itu sudah cukup. Adapun seorang ‘faqih’ ini yang terus menerus melarang orang-orang untuk puasa Rajab, itu adalah sebuah kebodohan dan bentuk pengacak-acakan terhadap syariah yang suci ini. kalau ia tidak merujuk fatwanya tersebut, wajib hukumnya bagi para hakim syariah yang suci ini untuk melarangnya dan memberikan hukuman yang keras baginya dan juga bagi orang-orang semisalnya –yang melarang puasa Rajab- karena mereka semua sudah mengacak-acak agama Allah s.w.t. ini.

Selain itu, dalam kitab fatwa ini juga disertakan fatwa Imam ‘Izz bin Abdi-Salam yang menyatakan hal serupa bahwa melarang orang berpuasa pada bulan Rajab adalah kebodohan, karena tidak ada ulama yang melarang itu

.وَاَلَّذِي نَهَى عَنْ صَوْمِهِ جَاهِلٌ بِمَأْخَذِ أَحْكَامِ الشَّرْعِ وَكَيْف يَكُونُ مُنْهَيَا عَنْهُ مَعَ أَنَّ الْعُلَمَاءَ الَّذِينَ دَوَّنُوا الشَّرِيعَةَ لَمْ يَذْكُر أَحَدٌ مِنْهُمْ انْدِرَاجَهُ فِيمَا يُكْرَه صَوْمُه“

Yang melarang puasa Rajab adalah orang yang bodoh tentang sumber-sumber hukum syariah. Bagaimana bisa puasa rajab diharamkan, sedangkan para ulama yang men-tadwin-kan syariah ini tidak satu pun dari mereka yang membenci puasa rajab tersebut.” 
al-fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra(2/54)

Imam Ibnu Shalah (643 H)
Ulama al-Syafi’iyyah yang lain, Imam Ibnu Shalah (643 H) dalam fatwanya (Fatawa Ibn Shalah hal. 180) menegaskan bahwa puasa Rajab itu disunnahkam walaupun haditsnya yang secara khusus menganjurkan tidak ada. Beliau mengatakan

:لَا إِثْم عَلَيْهِ فِي ذَلِك وَلم يؤثمه بذلك أحد من عُلَمَاء الْأمة فِيمَا نعلمهُ بلَى قَالَ بعض حفاظ الحَدِيث لم يثبت فِي فضل صَوْم رَجَب حَدِيث أَي فضل خَاص وَهَذَا لَا يُوجب زهدا فِي صَوْمه فِيمَا ورد من النُّصُوص فِي فضل الصَّوْم مُطلقًا والْحَدِيث الْوَارِد فِي كتاب السّنَن لأبي دَاوُد وَغَيره فِي صَوْم الْأَشْهر الْحرم كَاف فِي التَّرْغِيب فِي صَوْمه وَأما الحَدِيث فِي تسعير جَهَنَّم لصوامه فَغير صَحِيح وَلَا تحل رِوَايَته وَالله أعلم“

tidak berdosa bagi yang berpuasa Rajab, dan tidak ada satupun ulama umat ini yang mengatakan ia berdosa dari yang kami tahu. Ya memang benar banyak ahli hadits yang mengatakan hadits-hadits rajab –secara khusus- tidak shahih.

Dan ini tidak menjadikan puasa Rajab itu terlarang, karena adanya dalil-dalilnya anjuran puasa secara mutlak, dan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dadud dalam kitab Sunan-nya juga ulama lain dalam anjuran puasa pada bulan Rajab, dan itu cukup untuk memotivasi umat ini untuk puasa Rajab. Sedangkan hadits nyalanya api neraka Jahannam untuk mereka yang sering berpuasa Rajab, itu hadits yang tidak shahih, dan tidak dihalalkan meriwayatkannya. Wallahu a’lam.Imam al-Shawi (1241 H)
Imam al-Shawi dari kalangan al-Malikiyah dalam kitabnya Bulghatus-Salik ketika menjelaskan tentang puasa-puasa sunnah, beliau memasukkan di dalamnya puasa Rajab. Beliau menyatakan

:[وَصَوْمُ رَجَبٍ] : أَيْ فَيَتَأَكَّدُ صَوْمُهُ أَيْضًا وَإِنْ كَانَتْ أَحَادِيثُهُ ضَعِيفَةً لِأَنَّهُ يُعْمَلُ بِهَا فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ

Puasa Rajab: yakni dikuatkan (untuk kesunahan) puasa Rajab juga walaupun hadits-haditsnya dhaif, karena hadits dhaif boleh diamalkan dalam hal fadhail a’mal.” (Bulghatu-Salik 1/692)

Madzhab al-Hanabilah Memakruhkan
Akan tetapi kita juga tidak bisa menutup mata, bahwa dari kalangan ulama madzhab ada yang menyatakan puasa Rajab itu bukan sunnah, akan tetapi makruh. Dan perlu diperhatikan bahwa makruh itu bukan haram, apalagi bid’ah.Dalam beberapa leitarsi madzhab al-Hanabilah memang ulama mereka menyepakati atas kemakruhan puasa Rajab, akan tetapi tidak ada satu pun dari ulama al-hanabilah yang mengatakan itu haram, bid’ah dan sebagainya

.(وَيُكْرَهُ إفْرَادُ رَجَبٍ بِالصَّوْمِ) . هَذَا الْمَذْهَبُ، وَعَلَيْهِ الْأَصْحَابُ، وَقَطَعَ بِهِ كَثِيرٌ مِنْهُمْ.“

dan dimakruhkan ifrad (mengekslusif-kan) rajab dengan puasa, ini adalah pendapat madzhab, dan juga pendapat Ashab (pengikut) ma-Hanabilah, dan banyak dari mereka menguatkan ini.” (Imam Al- Mardawi dalam Al-Inshaf 3/343)

Yang perlu diperhatikan juga bahwa madzhab al-Hanabilah sepakat yang namanya puasa pada bulan-bulan haram itu termasuk puasa yang disunnahkan, yang mereka makruhkan adalah jika hanya bulan Rajab saja yang dijadikan bulan puasa, itu yang dimaksud dengan “Ifrad”.

Hadits Larangan Puasa Rajab : Beberapa ahli agama memang ada yang menyatakan puasa Rajab itu haram karena memang ada hadits yang menyatakan secara gamblang bahwa Nabi melarang puasa Rajab. Akan tetapi hadits ini adalah hadits dhaif, yang tidak bisa dijadikan hujjah serta dalil atas keharaman puasa Rajab.Imam al-Buhuti dari kalangan al-Hanabilah dalam kassyaf al-Qina’ (2/340) menyatakan

:رَوَى ابْنُ مَاجَهْ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ «أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - نَهَى عَنْ صِيَامِهِ» وَفِيهِ دَاوُد بْنُ عَطَاءٍ، وَقَدْ ضَعَّفَهُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ“

Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi s.a.w. melarang puasa Rajab, dan di dalam sanadnya ada Daud bin ‘Atha, yang mana ia telah dilemahkan oleh Imam Ahmad dan juga Imam Hadits yang lain”.Imam al-Syaukani juga mengatakan hal serupa dalam Nail al-Awthar (2/340)

:وَأَمَّا حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ عِنْدَ ابْنِ مَاجَهْ بِلَفْظِ: إنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «نَهَى عَنْ صِيَامِ رَجَبٍ» فَفِيهِ ضَعِيفَانِ: زَيْدُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ، وَدَاوُد بْنُ عَطَاءٍ.“

sedangkan hadits Ibnu Abbas dalam riwayat Ibnu Majah dengan lafadz: “sesungguhnya Nabi melarang puasa Rajab”, ini adalah lemah, karena di dalamnya ada 2 orang lemah; Zaid bin Abdul Hamid dan Daud bin ‘Atha.”

Dengan demikian, sejatinya puasa Rajab adalah puasa yang dibolehkan dan termasuk dalam kategori puasa Sunnah. Karena tidak ada larangan untuk puasa bulan tersebut; karena tidak ada larangan, maka hadits-hadits yang menganjurkan puasa secara umum –pada bulan-bulan haram- itu tetap berdiri dan dilaksanakan karena tidak ada yang menyela hadits-hadits umum itu.Namun madzhab al-Hanabilah menyatakan kalau hanya bulan Rajab diekslusifkan, itu termasuk perbuatan yang makruh yang sebaiknya ditinggalkan. Tapi tidak ada satu pun ulama baiksalaf atau khalaf yang menyatakan puasa Rajab itu hukumnya haram apalagi bid’ah. Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ahmad Zarkasih, Lc
Wallahualam

TANYA JAWAB
1. Assalamu'alaikum ust saya mau tanya mengenai puasa rajab, apa boleh kita puasa rajab tetapi puasa wajib belum terpenuhi, dalam hal ini puasa ganti tentunya yang biasa dialami wanita. Misal puasa diniatkan untuk puasa rajab padahal puasa gantinya belum terpenuhi. Apakah boleh ust?? Terimakasih ust atas penjelasannya..
Jawab :
Puasa di bulan Haram itu sunnah, selain Rajab, juga Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram. Dalilnya umum kesunahan berpuasa di bulan bulan haram tersebut.Nah jadi niatnya begitu ya nanda, berpuasa sunnah di bulan haram sesuai perintah Nabi SAW dengan hadits yang shahih dan Rajab adalah salah satu dari 4 bulan tersebut. Kalau saya kasih nasihat sih baiknya Bulan Rajab ini digunakan untuk membayar puasa ramadhan yang batal, secara umum juga amal sholih di bulan haram ini dilipatgandakan pahalanya.Nah kalau sudah lunas, lanjut puasa sunnah, boleh senin kamis, ditambah puasa bulan haram dll yang sudah disepakati sunnahnya. Hanya saja tetap jangan sebulan penuh, agar berbeda dengan ramadhan. wallahualam

2. Assalamu'alaikum wr.wb ustadz saya mau tanya boleh tidak puasa sunah di bulan rajab niatnya puasa sunah rajab? Dan jika boleh kapan waktunya ustadz ? Jazakalah khoir ustadz
Jawab :
Tambahan dalil ya biar tetap bersemangat puasa di bulan haram ini, ikut urun rembug.
Dari Utsman bin Hakim Al Anshari, beliau berkata:

سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ

Aku bertanya kepada Sa’id bin Jubeir tentang shaum pada bulan Rajab, saat itu kami sedang berada pada bulan Rajab, Beliau menjawab: “Aku mendengar Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata: Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa (pada bulan Rajab) sampai-sampai kami mengatakan Beliau tidak meninggalkannya, dan Beliau pernah meninggalkannya sampai kami mengatakan dia tidak pernah berpuasa (Rajab). (HR. Muslim No. 1157)

Imam An Nawawi mengatakan:

وَلَمْ يَثْبُت فِي صَوْم رَجَب نَهْيٌ وَلَا نَدْبٌ لِعَيْنِهِ ، وَلَكِنَّ أَصْلَ الصَّوْمِ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ ، وَفِي سُنَن أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَدَبَ إِلَى الصَّوْم مِنْ الْأَشْهُر الْحُرُم ، وَرَجَب أَحَدهَا . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ .

“Tidak ada yang shahih tentang larangan berpuasa pada bulan Rajab, dan tidak shahih pula mengkhususkan puasa pada bulan tersebut, tetapi pada dasarnya berpuasa memang hal yang disunahkan. Terdapat dalam Sunan Abu Daud bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan berpuasa pada asyhurul hurum (bulan-bulan haram), dan Rajab termasuk asyhurul hurum. Wallahu A’lam (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/39)
Berkata Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih Hafizhahullah:

ومن خلال هذه النقول يتضح لنا جلياً أن المسألة خلافية بين العلماء، ولا يجوز أن تكون من مسائل النزاع والشقاق بين المسلمين، بل من قال بقول الجمهور من العلماء لم يثرب عليه، ومن قال بقول الحنابلة لم يثرب عليه.وأما صيام بعض رجب، فمتفق على استحبابه عند أهل المذاهب الأربعة لما سبق، وليس بدعة.
ثم إن الراجح من الخلاف المتقدم مذهب الجمهور لا مذهب الحنابلة.

Pada masalah ini, kami katakan bahwa telah jelas perkara ini telah diperselisihkan para ulama, dan tidak boleh masalah ini menjadi sebab pertentangan dan perpecahan di antara kaum muslimin. Bahkan, siapa saja yang berpendapat seperti jumhur ulama dia tidak boleh dicela, dan siapa saja yang berpendapat seperti Hanabilah dia juga tidak boleh dicela. Ada pun berpuasa pada sebagian bulan Rajab, maka telah disepakati kesunahannya menurut para pengikut empat madzhab sebagaimana penjelasan lalu, itu bukan bid'ah.
Kemudian, sesungguhnya pendapat yang lebih kuat dari perbedaan pendapat sebelumnya adalah pendapat jumhur, bukan pendapat Hanabilah. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 28322)

3. Saya mau tanya mengenai puasa di bulan sya'ban itu ketentuannya bagaimana ustadz? Pada tanggal berapa saja
Jawab :
Di Bulan syaban juga disunnahkan puasa, yang biasa senin kamis silakan dilanjut, yang biasa ayyamul bidh silakan di lanjut, yang biasa daud silakan dilanjut. Boleh diantara itu semua kita tambahkan puasa sunnah, namun hati hati, di akhir syaban ada yg di sebut hari syaq, ini dilarang berpuasa.... ya 2, 3 hari sebelum ramadhan.

4. Kemudian mengenai ifrad mohon penjelasannya lagi, contoh, Dan bagaimana agar kita tidak melakukan ifrad. Jazakallah atas jawabannya ustadz.
Jawab :
Ifrad artinya menyendiri, sebagaian ulama hanabilah memakruhkan jika menyendirikan, atau mengkhususkan puasa rajab, artinya makruh (menurut) ulama mazhab imam ahmad, berpuasa khusus bulan rajab

5. Mau tanya ustadz...kalau kita sudah terbiasa puasa daud dan di bulan rajab ingin puasa rajab juga gimana ya?
Jawab :
Puasa Daud saja diteruskan. kalau mau ditambah diantaranya sekali sekali puasa sunnah bulan haram silakan. Terkait menyatukan niat puasa sunnah, ada dua pendapat. Yang membolehkan juga ada..wallahualam

6. Kalau puasa senin kamis digabung dengan puasa daud itu bisa tidak ustadz? Ayyamul bidh itu apa ustadz? Saya belum mengerti
Jawab :
Ketika rutin daud dan bertepatan hari senin, silakan saja diniatkan juga dengan puasa di hari senin, lalu kamis puasa lagi. Semangat sekali berpuasa sunnah, masya Allah.Ayyamul Bidh, adalah salah satu puasa sunnah yang agung, 3 hari di pertengahan setiap bulan hijriah, tanggal 13, 14 & 15

7. Berarti kalau berpuasa khusus bulan rajab makhruh ya ustadz. Iya itu yang mau saya tanyakan kalau niat double begitu bagaimana, Atau jika misal pada Hari senin jatah puasa daud, kemudian kita niat hanya daud saja begitu bagaimana?
Jawab :
Yang memakruhkan hanya dari ulama hanabilah saja, sementara jumhur (mayoritas) ulama mensunnahkannya. ulama malikiyyah, ulama hanafiyyah dan ulama syafiiyah. Mayoritas ulama mensunnahkannya. Silakan puasa sunnah semampunya di dua bulan ke depan, yaitu rajab dan syaban, pahala sunnah akan didapat. Jangan lupa bayar dulu hutang puasa ramadhannya.

8. Berarti bayar dulu hutang puasa ramadhan nya baru boleh puasa sunnahnya ya ustadz?
Jawab :
Boleh saja bayar qadha diakhirkan, namun kewajiban ini sebaiknya, ahsan didahulukan, selagi sehat dan ada waktu, kuatir sudah dekat ramadhan. ada halangan, entah hamil, sakit dll

9. Ustad mau nanya lagi, Kalo puasa syawal itu sebaiknya melunasi hutang puasa dulu atau puasa syawal? dan jika harus melunasi hutang puasa takutnya bulan syawal sudah habis.
Jawab :
Ada keleluasaan dalam masalah ini, silakan saja syawal dulu. 6 hari, kemudian baru qadha puasa ramadhan yang luas waktunya sampai syaban.Namun jangan kaget juga jika ada ulama yang mengatakan harus qadha dulu baru syawal, dengan berbagai dalil dan alasan. biasa saja perbedaan pendapat dalam masalah fiqh seperti ini.wallahualam
Baik nanda sekalian, semoga kita bisa menjaga semangat dalam berpuasa dan beramal sholih sampai ramadhan nanti, dan sampai menghadap Allah kelak, dan berhak masuk pintu ArRayyan.
Jika ada ulama atau ustadz yang kemudian membidahkan puasa rajab, ya tenang saja, biarkan. Memang dikalangan hanabilah (mazhab yg dianut di saudi) memakruhkan, tak usah cemas dan khawatir. perbedaan dalam masalah fiqh sepeti ini biasa saja.Kalau sampai membidahkan dan merasa benar sendiri, maka itu bukanlah adab atau akhlaq ulama ahlu sunnah.
Wallahualam.

PENUTUP
Jazakallah khoiran katsiran ustadz atas ilmu dan jawabannya, sdh meluangkan wktu mngisi kajian digrup ini. Insya Alloh mjd ilmu yg brmanfaat n mmberikan pencerahan bagi kami.
Mari kita tutup majelis ini dengan membaca hamdalah..
Doa penutup majelis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭
Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”O:)
Wassalamualaikum wr.wb

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kajian Online Hamba اللهSWT M112Nanda
Selasa, 22 April 2015
Puasa Rajab (Ustadz Doli)
Admin: Dhifa dan Indah
Editor : Riski Ika Wati

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment