Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , » BAKTI MUSLIMAH SEBELUM DAN PASCA MENIKAH

BAKTI MUSLIMAH SEBELUM DAN PASCA MENIKAH

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, October 7, 2015

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Rabu, 7 Oktober 2015
Narasumber : Ustadzah Mida
Rekapan Grup Nanda M108 (Riza)
Tema : Kajian Umum
Editor : Rini Ismayanti


BAKTI MUSLIMAH SEBELUM DAN PASCA MENIKAH


Berbakti kepada orang tua / birul walidain
Berbakti artinya mengerahkan segala tenaga untuk berbuat baik, patuh, hormat, setia, dan menghambakan diri pada orang tua. Dalil yang menyerukan tentang berbakti kepada orang tua ada dalam :
a. QS. Al Israa ayat 23
b. QS.An Nisaa ayat 36
c. QS.Luqman 13-14

Abdullah bin Mas’ud RA : Aku pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab “Shalat tepat pada waktunya. Lalu apa? Berbakti pada kedua orang tua. Lalu apa? Jihad fi sabilillah” (HR. Muslim)

Berbakti sifatnya wajib bagi setiap anak laki-laki dan perempuan, terlepas orang tuanya muslim atau bukan. Batasan kepatuhan atau penghambaan anak pada orang tua adalah selama tidak meminta anak berbuat maksiat dan syirik kepada Allah. Durhaka pada orang tua termasuk dosa besar setelah dosa syirik. Bagi seorang anak laki-laki, kewajiban berbakti berlaku sepanjang masa. Bagi seorang anak perempuan, setelah ia menikah kewajiban berbakti kepada orang tua berpindah ke suami.

Kesalahan yang sering dilakukan tanpa sadar oleh Muslimah
a.  Bersikap kasar, berbicara ketus atau bahkan membentak pada kedua ibu bapak apabila kedua ibu bapak berlaku /berkata tidak sesuai harapan.
b.  Membebani kedua orang tua dengan permintaan diluar kesanggupan mereka.
c.   Mencela kedua orang tua apabila tidak sesuai keinginannya.
d.  Menjadikan kedua orang tua pengasuh cucu dengan alasan agar orang tua ada kegiatan atau tidak pikun atau mengambil keuntungan tidak membayar pengasuh anak.
e.   Tidak menghormati keinginan orang tua pada saat keduanya mulai lemah.
f.     Menggunakan nama belakangg suami ketika telah menikah.
g.  Menganggap kedua orang tua menjadi beban saat mereka lanjut usia.
h.   Jarang mendoakan.
i.      Menempatkan di panti jompo saat lanjut usia.
j.      Meminta orang lain untuk memandikan, menyalatkan, dan menguburkan jenazah orang tua.

Bakti anak perempuan setelah menikah
a.  Patuh dan taat kepada suami selama tidak mendurhakai Allah.
b.  Memelihara hubungan kasih sayang dengan kedua orang tua dan mertua dengan izin suami.
c.   Memelihara kehormatan dan menjaga harta suami.
d.  Memelihara diri untuk menjadi muslimah yang taat kepada Allah.

TANYA-JAWAB

Q : Pada bakti anak perempuan kan ada poin, memelihara kasih sayang dengan orang tua dengan izin suami. Nah bagaimana kalau suami malah tidak memperbolehkan memelihara kasih sayang pada orangtua dan sang istri menuruti suaminya? Alhasil perempuan itu jadi dipandang sebagai anak durhaka oleh orang-orang sekitar..
A : Memang sebuah dilema bagi seorang istri apabila ternyata mendapatkan seorang suami yang tidak paham bahwa istri juga memiliki hak untuk berbakti kepada orang tua kandungnya walau tidak secara langsung. Prinsipnya hubungan suami istri ini adalah taawun...saling tolong menolong dalam berbuat kebaikan. Ketika seorang muslimah telah bersuami, pada dasarnya ia telah diambil alih tanggung jawab perlindungan, pendidikan, dan pemeliharaannya dari orang tua oleh suami. Suami pada hakikatnya adalah pengganti orang tua. Bahkan Rasulullah saw bersabda dalam salah satu haditsnya bahwa jika diizinkan manusia itu bersujud pada manusia maka beliau saw akan meminta istri bersujud pada suaminya. Ketaatan istri pada pokoknya diberikan kpada suami. Apabila seorang istri mendapati suami tidak seperti yang seharusnya, mengayomi dan mendukung istri untuk bersilaturahim pada orang tuanya (konteks berbaktinya telah berubah ya Ukhti karena baktinya sudah ditujukan pada suami) maka perlu melakukan beberapa hal berikut :
Pertama: cari tahu mengapa atau apa alasan suami tidak mendukung istri untuk  silaturahim pada orang tuanya. Mohon dipahami konteks berbakti anak yang telah menjadi seorang istri ini bukan merawat dan tinggal bareng orang tua lagi ya. Karena kewajiban istri adalah mengikuti kemana suami pergi.
Konteks anak  durhaka bagi anak perempuan yang sudah menikah tidak bisa disamakan dengan anak perempuan yang belum menikah. Karena itu tadi...Allah memang sudah mengaturnya demikian.
Kedua : bila alasan suami bisa diterima..misal tidak mengizinkan istri pergi mengunjungi ayah ibunya karena mengkhawatirkan istri dalam perjalanan karena tidak ditemani suaminya atau muhrimnya, istri wajib patuh. Mintalah ia menemani jika suami sudah lapang waktunya.
Ketiga, jika orang tua istri memerlukan bantuan finansial...sebenarnya ini bukan kewajiban anak perempuan. Ini adalah kewajiban anak laki laki dalam menyantuni ayah dan ibunya. Jika istri diberi kelapangan rizki dan izin suami untuk memberikan pada orang tuanya maka itu sebuah kebaikan. Jika suami tidak mengizinkan, istri wajib patuh.
Pemahaman seperti ini yang sekarang hampir lenyap. Kebanyakan suami dan istri tidak memahami hak dan kewajibannya serta aturan perkawinan dalam Islam. Mengapa? Minimnya informasi mengenai hal tsb. Jika suami benar benar tidak mengizinkan istri sama sekali untuk bertemu orang tuanya, berbuat baik pada orang tuanya tanpa alasan, pada dasarnya istri bisa mencari bantuan pada orang yang dihormati suaminya untuk menasihati agar tidak bersikap zalim pada istri.
Cap anak durhaka sebenarnya tidak tepat karena istri tidak bermaksud melupakan orang tuanya. Tetapi karena kepatuhannya pada suaminya (yang merupakan kewajibannya sebagaimana ia dahulu memiliki kewajiban patuh pada ayah dan ibu sebelum menikah), ia terpaksa tidak bisa melakukan birrul walidain. Namun jika dari istri sendiri keinginan untuk tidak sering berkunjung pada orang tua dan abai pada orang tua, maka cap ini bisa disematkan padanya.
Kembali ke soal suami yang tidak memberi peluang istri berbuat baik pada orang tua, maka ini merupakan ujian bagi istri untuk melunakkan hati suami agar ia mau memberi kesempatan istri melakukan birrul walidain. Masanya bisa segera bisa panjang tergantung hidayah yang Allah berikan. Semasa itu sabarkanlah orang tua..bisa melalui sms atau telepon dan sampaikan bahwa ia tetap menyayangi ayah dan ibu. Jangan lupa mendoakan suami agar hatinya diberi hidayah dan untuk orang tua doakan agar mereka diberi kasih sayang Allah.
Soal beri memberi uang/berbagi rizki, jika menggunakan uang suami..harus izin ya. Jika menggunakan uang pribadi hasil kerja sendiri dipersilakan. Tanpa izin pun silakan. Akan lebih ahsan kalau memberitahukan suami agar tidak ada salah paham.

Q : Mau tanya bunda, ketika seorang anak ingin menikah dan membangun rumah tangga yang sesuai syariat, (mulai dari taaruf sampai penikahan yang islami) tetapi orang tua tidak mendukung walaupun sudah di ingatkan pelan2..
Bagaimana ustadzah solusinya?
A : Dalam hal ini, akhwat tsb tidak berdosa karena sudah mengingatkan kedua orang tuanya tentang proses taaruf yang sesuai syariat. Perlu dipahami menyampaikan nilai nilai Islam pada orang tua memerlukan cara dan proses yang panjang terlebih bila faktor sulitnya hidayah. Mengapa? Karena orang tua memiliki latar belakang pemahaman dan pemikiran yang tidak sama dengan kita yang saat ini telah banyak mendapat informasi tentang agama.
Bila orang tua sulit menerima cara yang Islami...saran saya jangan terlalu memaksakan diri. Apabila bukan hal prinsip mengalahlah demi kebaikan dan kemaslahatan pernikahan nanda kelak.
Misal jika perbedaan pendapatnya pada cara melakukan walimah dipisah atau tidak undangan laki-laki dan perempuan..itu masih bisa disiasati. Tidak harus saklek dipisah dengan tabir. Atau proses taaruf melalui murobi..
Pandai pandailah meminta murobi untuk bersikap luwes dan tidak kaku. Karena ini nanti akan mempengaruhi cara pandang orang tua pada Islam sendiri.
Seringkali terjadi...peran murobi lebih besar ketimbang orang tua. Orang tua tidak diajak musyawarah, semua melalui murobi. Nah hal ini perlu jadi perhatian. Orang tua bisa tersinggung dan sakit hati. Dalam pemikirannya...saya yang punya anak saya yang membesarkan...lho saat nikah kok lebih percaya murobi.
Nah yang begini zaman saya kuliah dulu banyak terjadi sehingga kasus retaknya hubungan anak dan orang tua sering ditemui. Bukan keberkahan yang didapat melainkan konflik. Jadi dalam menyampaikan pada orang tua soal nilai nilai Islam yang benar juga perlu cara yang baik dan proses. Bersabarlah dengan itu insyaaAllah, Allah akan memberikan jalan keluar.
Jika perlu, mintalah salah satu anggota keluarga besar yang dihormati orang tua untuk menyampaikan hal ini. Mudah-mudahan orang tua bisa menerima

Q : Ana pernah baca artikel, kalau perempuan sudah menikah yang yang diutamakan adalah patuh pada suami &  merawat orang tua suami...
Yang mau ana tanyakan kenapa harus orang tua suami lebih didahulukan daripada orangtuanya sendiri..?
Jazakillah bunda..
A : Jawabannya berkaitan juga dengan jawaban pertanyaan pertama tadi
ya... Mulai dari kewajiban istri berbakti pada suami lebih dahulu dari berbakti pada orang tua sendiri.
Karena dalam Islam telah diatur bakti istri itu pada suami...maka istri lebih mendahulukan merawat orang tua suami ketimbang orang tuanya sendiri.
Idealnya orang tua kandung istri nanti akan dirawat oleh istri dari anak laki laki orang tua. Karena yang wajib menyantuni orang tua itu adalah anak laki laki.
Dengan demikian tidak ada orang tua yang diabaikan. Semua mendapatkan penghormatan dan penghidmatan dari anak anaknya sesuai dengan porsinya yang telah diatur agama.
Memang kenyataan di lapangan seringkali berbeda dengan aturan yang seharusnya.  Karena prinsil perkawinan itu taawun tadi maka alangkah eloknya jika suami juga kemudian dapat mengizinkan orang tua istrinya dirawat oleh mereka. Tinggal di rumah mereka sebagaimana suami meminta orang tuanya tinggal bersamaan.
Pada dasarnya, ketika istri merawat mertuanya, ia telah berbakti kepada kedua ayah ibu kandungnya. Mengapa? Ia dapat menjaga kehormatan ayah ibunya, menunjukkan keshalihan sebagai istri  sebagai hasil pendidikan ayah ibunya, menyenangkan hati ayah dan ibu karena putrinya menjadi kebanggaan mertua, karena kesabarannya merawat mertua.
Nah inilah yang harus dipahami nanda semua sebelum menikah, jangan sampai setelah menikah, saat suami mengajak pindah rumah, tidak mau karena ibu atau ayah tidak mengizinkan. Atau suami mendapat promo ke luar daerah yang mengharuskan pindah provinsi atau pulau, karena ibu yang tidak mengerti bahwa kewajiban istri itu adalah taat pada suami, memaksa putrinya untuk tetap tinggal bersama ibu....hal ini jangan membuat risau. Yakinilah Allah tidak salah dalam memberikan aturan untuk hambaNya. Berikan pengertian pada ibu atau ayah..
Katakan saat ini kewajiban taat nanda ada pada suami. Jika ibu atau ayah bersikukuh memaksa tinggal, mohon maaflah pada mereka karena nanda tidak bisa mematuhinya. Meski ayah dan ibu menjadi marah.. Pada dasarnya nanda sudah bersikap benar.


Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Moga ilmu yang kita dpatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baikalauah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment