Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

Menjadikan Anak Mencintai Al-Qur'an

:: Embun Pagi ::

Ahad, 04 Oktober 2015

Menjadikan Anak Mencintai Al-Qur'an

Bunda Rochma Yulika (Pengurus dan muwwajih Kajian Online Hamba Allah)



Membangun keluarga yang mencintai Al Qur’an adalah cita-cita mulia, sebab Al Qur’an adalah firman Alloh yang menjadi pedoman hidup manusia. Sayangnya dari ratusan juta umat Islam di Indonesia, tidak banyak yang memahami, menghafalkan, dan menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup.

Berkaca pada hadits Nabi Muhammad SAW bahwa orang yang beruntung adalah ketika berhasil menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin. Maka jika sebagai orangtua kita berhasil mendidik anak menjadi akrab dan mencintai Al Qur’an, bahkan lebih baik dari pada orangtuanya maka In sya Alloh kita termasuk orang-orang yang beruntung.

Mungkin saya belum kategori berhasil karena anak saya SMP kelas 2 baru 10 juz dengan mandiri di rumah

Bisa jadi yang di pesantren sudah terlampaui
Bukan waktu yang singkat menjadikan anak hafal tetapi bagaimana mereka bisa mencintai Al Quran

Seperti apa keadaan rumah kita..?
Sudah kah terbiasa tangan kita menarik Quran dibanding remote televisi

Butuh perjuangan juga dari orangtua jika ingin mendekatkan anak-anak kita mencintai Quran

Biasakan ada majlis Quran di rumah
Di waktu asasi yakni habis maghrib atau malam hari atau pagi hari

Bi’ah Qurani harus kita ciptakan
jika tak bisa atau belum menyekolahkan anak-anak ke pesantren kenapa enggak rumah kita yang dijadikan pesantren?

🔷 Mulai dari Orangtua

Agar anak akrab dengan Al Qur’an maka orangtua sebagai pendidik harus terlebih dahulu memahami apa itu Al Qur’an, apa saja keutamaannya, serta apa saja kewajiban kita terhadap Al Qur’an. Orangtua sebisa mungkin menghayati perannya, semisal jika ingin mencetak anak menjadi penghafal Al Qur’an maka orangtua rela keliling pulau dalam rangka mencarikan pesantren penghafal Al Qur’an yang terbaik untuk putra-putrinya, juga rela berpisah dengan mereka untuk sementara waktu.

🔷 Mulai dari Rumah

Rumah adalah Madrasah pertama putra-putri kita, oleh sebab itu penting untuk mengkondisikan rumah akrab dengan Al Qur’an. Mulai dari murottal setiap hari, tidak ada gambar-gambar syubhat atau yang dilarang, memasang kaligrafi ayat-ayat, menciptakan situasi bacaan-bacaan Islami, musik-musik Islami (nasyid), serta menjauhi perkataan dan perbuatan fahisyah. Suasana Qur’ani harus dibangun agar anak merasa nyaman.

Biasakan keluarga kita untuk bangun sebelum shubuh, budayakan sholat berjamaah (utamakan di masjid). Selanjutnya upayakan tidak ada kegiatan lain setelah sholat shubuh selain interaksi dengan Al Qur’an yang diakhiri dengan do’a, baru kemudian berlanjut pada aktivitas yang lain.

Sama halnya dengan ba’da shubuh, upayakan tidak ada kegiatan lain ba’da maghrib selain interaksi dengan Al Qur’an kemudian mengkajinya hingga datang waktu Isya.

Lawanlah kebosanan dan kemalasan dengan kegiatan variatif, dinamis, fresh, dan beri penghargaan terhadap setiap usaha putra-putri kita meski sedikit. Selalu dahulukan pujian daripada celaan, semisal ketika anak membawa piring lalu pecah sekali terkadang diomeli habis-habisan padahal ketika anak membawa piring lima kali dan tidak pecah tidak pernah dipuji.

Yang tak kalah pentingnya adalah mengatur dan mengurangi interaksi dengan TV, games di komputer, juga play station. Akan lebih baik jika bisa melibatkan anak dengan aktivitas orangtua terkait interaksi dengan Al Qur’an, lebih bagus lagi jika bisa diprogram.

🔷 Mulai dari Sekolahnya

Sekolah juga punya andil dalam membentuk kepribadian dan kualitas anak. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk mengajak dialog anak, mengarahkan, dan memilihkan sekolah/lembaga pendidikan yang mendukung. Bangunlah komunikasi dan kerjasama yang baik dengan guru dan sekolah.

Upayakan untuk memfasilitasi kebutuhan anak, mengarahkan keinginannya, serta membentuk jiwanya sebelum habis waktunya (ketika masuk masa remaja yakni usia 11-15 tahun, adalah jelang berakhirnya masa usia anak).

🔷 Mulai dari Teman-Temannya

Jika ingin mengetahui kualitas seseorang, maka perhatikanlah dengan siapa dia berteman, begitu kata Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk mengontrol teman sepermainan putra-putrinya, dengan siapa dia berteman, dan tanyakan siapa teman dekatnya. Orangtua turut mengarahkan, membimbing, dan membentuk lingkungan teman-temannya.

Orangtua ikut mengontrol waktu dan tempat bermain dengan teman-temannya. Bisa juga dibuatkan program yang mendukung bersama dengan teman-teman lingkungannya, semisal saat liburan diisi dengan piknik Tahfidz Qur’an yang dikemas menyenangkan.

Masa anak-anak adalah masa yang penting, karena bagi orangtua mendidik anak itu diibaratkan seperti membentuk keramik. Saat anak masih kecil, dibentuk menjadi apapun akan mudah bagi orangtua untuk mengarahkannya. Namun jika sudah besar, ibaratnya bahan baku (tanah liatnya) sudah kering, sehingga sudah sulit untuk dibentuk, bahkan bisa retak dan pecah jika dipaksa.

Lebih-lebih pada seorang anak, yang retak bukanlah fisiknya melainkan jiwanya. Jika yang retak jiwanya, maka anak akan tumbuh menjadi pemberontak yang suka melawan.


Div BBnA-HA/A/ 21/04/X/2015

==========================================

Follow us

 twitter : @kajianonline_HA
 fb : KAJIAN ON LINE-HAMBA ALLAH
Web : www.hambaAllah.net

Ayo kirim karyamu


Akhwat
Tuwuh +6281290734391
Ana +6287788217444

Ikhwan
Ridho +6289623801053
Jaka +6285716479466

posted by
:: EmbunPagi
www.HambaAllah.net