Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , » RINTANGAN YANG DIHADAPI ORANG YANG INGIN MENDEKAT PADA ALLAH

RINTANGAN YANG DIHADAPI ORANG YANG INGIN MENDEKAT PADA ALLAH

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, October 14, 2015


Saya ingin berbagi sedikit, tentang rintangan-rintangan yang dihadapi orang-orang yang ingin mendekat kepada Allah.

Bismillahirrahmanirrahim ...
Adalah sesuatu hal yang sangat patut disyukuri manakala kita telah medapatkan hidayah, akan tetapi, manakala kita ingin mendekat kepada Allah, tentu akan banyak rintangan di sepanjang perjalanan. Ada banyak penyakit yang akan menimpa, seperti ujub, riya', dan lain sebagainya.

Penyakit-penyakit inilah yang bisa membuat seseorang lupa terhadap aib dan kewajiban-kewajiban mereka, tetapi ingat kepada aib dan kewajiban-kewajiaban orang lain. Lalu kita memandang diri kita telah sampai kepada kesempurnaan dan puas kepadanya, lalu memandang sebelah mata dan remeh orang lain. Sungguh kesombongan yang nyata.

Ketika seseorang menapaki jalan menuju Allah, mulai haus ilmu dan amal, membuka pelataran hatinya, maka waspadalah!!!! akan tumbuh penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti perasaan lebih tinggi dari makhluk, dan memandang setiap orang itu lalai maka janganlah kita lalai akan aib dan borok diri sendiri. Mengingat dan berhitung akan aib diri sendiri, adalah tonggak dasar dalam perjalanan menuju Allah.

Para sahabat Nabi, bahkan ahli badar sekalipun, selalu khawatir setiap saat kemunafikan menyergap mereka padahal mereka telah diberi kabar gembira akan dimasukkan ke dalam surga. Maka berhentilah sejenak.... sejenak lepaskan pandangan dari tempat lain. Sejenak, pandangi diri kita beserta aib dan boroknya. Lihatlah aib-aib yang tersembunyi pada diri kita, yang Allah halangi orang lain melihatnya. Pertemanan kita dengan orang bodoh yang tidak ridha dengan nafsunya, adalah lebih baik dari berteman dengan orang alim yang ridha dengan nafsunya, begitu nasihat ibnu atha'illah. Kita adalah manusia yang oleh rasulullah dikabarkan begini..

"Jika kalian selalu berada dalam keadaan sebagaimana waktu kalian berada di sisiku, dan senantiasa dalam dzikir, maka kalian akan diajak berjabat tangan oleh para malaikat"

Jadi sudah semestinya kita bergantung kepada Allah untuk mengampuni aib-aib kita, dan selamat darinya maka kita akan merasakan manisnya memohon kepada Allah bahwa kita adalah makhluk yang teramat lemah namun sering lupa kepada aib dan menjadi sombong tidak ada daya menghindari dari maksiat, kecuali dengan pertolonganNya. Juga tidak ada daya untuk taat, kecuali dengan pertolonganNya.

Maka dari itu perlunya kita berdoa, sebagai ibadah dan penghambaan atas kebergantungan kita kepada Allah. Membebaskan kita dari aib-aib dan ketundukan kepada nafsu. Salah seorang dari sahabat Nabi berkata:

"Aku menemui 30 orang dari ahli badar, dan tak seorang pun dari mereka melainkan khawatir  terjadi kemunafikan pada dirinya."

Orang beriman melakukan segala kebaikan dengan hati yang cemas, sementara orang kafir melakukan kerusakan dengan hati yang tenang dan ridha kepada nafsunya. Orang beriman selalu takut, takut dari ujub, dan cemas kalau-kalau batal lah amalnya. Ingin populer, senang prestise, cinta kemegahan, dan suka pujian dari orang lain, adalah buah dari ridha kepada nafsu. Sedangkan tidak ridha (menuruti) hawa nafsu, akan melahirkan iffah, kesadaran dan ketaatan. Ia selalu berusaha, bermujahadah, melepaskan diri dari syahwat. Syahwat ujub, riya', berbangga-bangga, berbantah-bantahan, merendahkan orang lain, sombong, dan sebagainya.

Dalam dakwah pun kita harus berusaha menciptakan suasana yang mengikis penyakit-penyakit ini jika tidak, maka dakwah akan diliputi oleh akhlak yang rendah. Keridhaan kepada nafsu, bisa mendorong kita mengkritik yang tidak konstruktif, dan inilah kehancuran. Maka setiap diri haruslah selalu melihat aib-aibnya, menyelidikinya dan bersungguh-sungguh dalam bermawas diri ketika kita sedang mendaki menuju Allah, hati-hatilah akan sifat takabur, hasad, dengki, marah, bengis, kekacauan pikiran, kecongkakan, haus pujian, mengagungkan kelompoknya dan meremehkan orang-orang diluar kelompoknya. Apabila kita para penuntut ilmu ini telah selamat dari akhlak-akhlak tercela, maka in sya Allah akan tumbuh sikap zuhud, wara', qona'ah dan iffah. Ia akan berkepribadian tawadhu, hati yang sehat, sabar, tenang, tabah, tentram, mudah, kalem, lunak, tidak haus popularitas, berkasih sayang, menghormati makhluk.

Marilah kita selalu berdoa selamat dari jajahan hawa nafsu, sebagaimana orang yang mulia, anak dari orang mulia, berkata:

"dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), sebab sesungguhnya nafsu itu selalu mmerintah kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku" (Yusuf:53)

Wallahua'lam bishawab ...

DISKUSI

1. Tanya dong pak dian, jadi lebih utama manakah antara mengambil ilmunya atau lebih baik menghindar karena akhlak nya yang kurang terpuji?
Jawab
Utamakan yang berilmu dan berakhlak mulia

2. Gimana cara kita bersikap jika ada orang yang selalu menjelekan kita di bilang dan bermanis di depan?
Jawab
Introspeksi kalau kejelekan itu benar, kita perbaiki, kalau salah, jadi penghapus dosa. Ulama seperti hasan al bashri diriwayatkan pernah memberi hadiah kepada orang yang menjelekan dirinya. Ringan di tulisan tapi berat yah :D

>jadi untuk menghadapinya gimana ya? apa kita harus selalu berfikiran positif? ambil hikmahnya dan buang semua sifat buruknya?
Jawab
Iya selama tidak merugikan keuangan dan membahayakan nyawa

3. "Ia akan berkepribadian tawadhu, hati yang sehat, sabar, tenang, tabah, tentram, mudah, kalem, lunak, tidak haus popularitas, berkasih sayang, menghormati makhluk"

Untuk memperoleh itu semua gimana caranya? tidak dipungkiri kadang hati semakin kita belajar seperti itu semakin banyak godaannya.
Jawab
a. Berdoa
b. banyak istighfar
c. saling nasehat menasehati


Kadang saya meminta istri/sahabat untuk memberi nasehat, bertanya apakah ada yang harus saya perbaiki


4. Ustadz...benarkah keimanan seseorang terlihat saat ia mendapat teguran?
Jawab
Keimanan bisa terpancar dari perilaku, walaupun tidak mutlak


Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Rabu, 14 Oktober 2015
Narasumber : Ustadz Dian Alamanda
Tema : Kajian Islam
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Telegram Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment