Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

ZUHUD

Mana yang lebih zuhud, Imam Hasan Al-Bashri atau Umar Bin Abdul Aziz?
Sebagian dari kalangan sufi memandang zuhud sebagai sama sekali meninggalkan urusan dunia untuk mengejar urusan akhirat. Ada pendapat dari imam Ahmad bin Hambal yang dikutip Ibnu Qoyyim dalam kitabnya madarijus salikin, bahwa zuhud didasarkan pada 3 perkara:
Pertama, meninggalkan segala yang haram (zuhud orang awam)
Kedua, meninggalkan hal-hal yang berlebihan dalam perkara yang halal (zuhud orang khusus)
Ketiga, meninggalkan kesibukan yang memalingkan diri dari Allah (zuhudnya orang ma'rifat)

Ketahuilah bahwa cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan, sedangkan zuhud terhadap dunia merupakan maqom yang mulia. Dan yang dimaksud dengan zuhud adalah memalingkan diri dari sesuatu yang disukai demi untuk sesuatu yang lebih baik.  Barangsiapa yang meninggalkan segala sesuatu selain ALLAH maka disebut zahid yang sempurna.

Bukanlah yang disebut Zuhud itu meninggalkan harta, tetapi yang disebut zuhud itu meninggalkan dunia karena tahu kerusakannya dan berpaling pada akhirat yang kekal. Firman ALLAH SWT: 
“Apa-apa yang di sisimu akan sirna, dan apa yang disisi ALLAH kan kekal” (QS An-Nahl 16/96). 
Berkata al-Fudhail: ALLAH menciptakan keburukan dalam satu rumah dan menjadikan cinta dunia sebagai kuncinya, dan ALLAH menciptakan kebaikan dalam satu rumah dan menjadikan Zuhud sebagai kuncinya.

Hakekat zuhud adalah mengosongkan hati dari cinta dunia dan mengisinya dengan cinta kepada akhirat. Seorang muslim yang zuhud tidak akan menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, tetapi hanya sebatas tempat persinggahan sementara. Sebab dunia ibarat pohon rindang yang sedang berbuah, kemudian didatangi oleh orang yang sedang melakukan perjalanan jauh untuk berteduh dan menyiapkan perbekalan secukupnya, lalu melanjutkan perjalanan hingga sampai di tujuan (akhirat).

Imam Abdullah bin Al Mubarak -rahimahulloh- , salah seorang pejuang terkenal di zamannya dan tokoh terkemuka dalam masalah zuhud, dengan bukunya yang berjudul Az-Zuhdu, yang menjelaskan hakekat zuhud melalui pemaparan hadits-hadits dan atsar sahabat. Tujuannya adalah menyadarkan umat agar terhindar dari penyakit mencintai dunia dan terlena dengan keindahannya, hingga lupa tujuan utama , yakni akherat.

Al Junaid pun berkata, "Zuhud adalah sebagaimana difirmankan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-
'(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamuf dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri ‘. (Qs. Al Hadiid [57]: 23)

Sehingga orang yang zuhud, ia  tidak pernah berbangga hati dan sombong atas apa yang Allah berikan padanya, dan tidak bersusah hati akan apa yang Allah luputkan/hilangkan darinya. Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang mempunyai seribu dinar, apakah dia orang yang zuhud? Maka dia menjawab, "Ya, dengan syarat dia tidak berbahagia jika dinarnya bertambah dan tidak bersedih jika dinarnya berkurang."

Yunus bin Maisarah -rahimahulloh- berkata, "Zuhud di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula membuang-buang uang, tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih percaya dengan apa yang ada ditangan Allah daripada apa yang ada ditanganmu, kemudian keadaanmu ketika engkau mendapat musibah dan ketika tidak mendapat musibah sama, dan sikapmu ketika ada orang yang memuji dan mencacimu dalam kebenaran sama."

Al Fudhail -rahimahulloh- berkata, "Asal (pangkal) dari zuhud adalah ridha terhadap ketentuan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- ."

Al Fudhail juga berkata, "Al Qunu' (merasa cukup dengan bagiannya) adalah orang yang zuhud dan dia orang yang kaya."

Zuhud adalah perjalanan hati dari negeri dunia dan menjadikannya di tempat-tempat akhirat.

Imam Abdullah bin Al Mubarak -rahimahulloh- adalah salah satu imam yang zuhud sekalipun hartanya banyak. Demikian pula, Al Laits bin Sa'ad -rahimahulloh- , dia adalah salah seorang dari para imam yang zuhud dan mempunyai modal kekayaan.

Kesempumaan zuhud itu bukanlah seorang hamba mengharamkan atas dirinya sesuatu yang telah dihalalkan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- , misalnya berpaling dari pernikahan hingga dia tidak senang menikah, atau dari harta sehingga ia meningalkan mencari harta yang halal, tetapi kesempurnaan ibadah itu adalah di dalam melaksanakan syukur kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- atas nikmat-nikmat-Nya.

Inilah Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- , pemimpinya orang-orang yang zuhud dan ahli ibadah menikahi  perempuan dan (beliau meninggal) dalam keadaan beristri sembilan. Beliau bersabda,
"Sesungguhnya aku dibuat mencintai tiga hal dari dunia kalian, yaitu: perempuan, minyak wangi, dan ketenangan hatiku dalam shalat. "

Beliau juga shalat malam hingga kedua betisnya bengkak dan kedua telapak kakinya pecah-pecah sampai dikatakan kepada beliau, “Kenapa engkau melakukan itu, padahal dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang sudah diampuni?" Beliau menjawab, "Apakah aku tidak boleh ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur? “ [HR. Al Bukhari (Shahih Al Bukhari, pembahasan: Tahajud, 3/41); Muslim dlm Shahih Muslim, pembahasan: Sifat-sifat orang munafiq, 17/162); At-Tirmidzi (Sunan At-Tirmidzi, pembahasan: Shalat, 2/204, 205); dan An-Nasai (Sunan An-Nasa 7, pembahasan: Qiyamullail, 3/219).

Selain itu, beliau pun melaksanakan puasa wishal dan melarang umatnya (melakukan puasa wishal). Namun, cita-cita dan keinginan para sahabat itu begitu tinggi dalam ibadah dan ketaatan dan mereka ingin melakukan puasa wishal dan berkata kepada beliau, “ engkau melakukan puasa wishal ?" Mendengar itu Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- kepada mereka, bersabda:
"Sesungguhnya keadaanku tidak seperti kalian, aku ada yang memberi makan dan minum. ‘ [HR. Al Bukhari (Shahih Al Bukhari, pembahasan: Puasa, bab: Wishal hingga sihr, 4/208)

Demikian uraian tentang zuhud hari ini, yang mana saya hanya mengutip perkataan para ulama salaf tentang definisi dan penjelasannya. Semoga bermanfaat, menjadikan kita seorang yang meletakkan dunia di genggaman sekedarnya saja, dan meletakkan akhirat sepenuhnya dalam hatinya.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik -Rodliallohu Anhu- , dia berkata: Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda,
"Barangsiapa yang akhirat menjadi tujuan utamanya maka Allah memberikan kekayaan di dalam hatinya, menyatukan persatuannya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan patuh keadanya. Barangsiapa yang dunia menjadi keinginan besarnya, maka Allah memberikan kemiskinan diantara kedua matanya (dihadapannya), memecah persatuannya, dan dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditentukan untuknya.”[ HR. At-Tirmidzi (Sunan At-Tirmidzi, pembahasan: Sifat Hari Kiamat dan diam darinya, no. 5283, Al Albani berkata, "Sanad hadits ini dha'if, tetapi naik derajatnya menjadi hasan di dalam AlMutaba'at, dan hadits ini mempunyai syahld(hadits penguat) dalam riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hibban."

Jadi orang yang zuhud bukanlah orang yang meninggalkan dunia begitu saja, tetapi ia menjadikan dunia sebagai sarana mengejar akhirat, dan meninggalkan apa-apa perkara yang tidak ada manfaatnya bagi akhiratnya.
wallahua'am ...

PS: jangan tangisi apa yang hilang darimu, dan jangan banggakan apa-apa yang ada padamu.

DISKUSI:

1. Jadi bukan seperti orang-orang sufi atau petapa ya pak? 
Jawab
Beberapa tareqat sufi memang terjebak ke sikap ghuluw padahal tidak begitu yang disyariatkan maka dari itu hindarilah sikap ghuluw (ekstrim). Ekstrim kanan dan ekstrim kiri
Seperti kerahiban di kalangan nasrani

2. Ustadz kasih contoh zuhud yang kedua donk?
Jawab
Kalau yang kedua, sudah bukan lagi menghindari yang haram. Tapi tidak berlebihan dalam yang halal. Misalnya makan secukupnya. Punya pakaian secukupnya. Punya kendaraan secukupnya. Punya gadget seperlunya. Tergantung kadarnya. Kalau berat bisa jadi penyakit dan berbahaya

3. Pak contoh ada ustad yang punya pesawat pribadi dia bilang itu karena kebutuhan, dia memang jam terbang kajiannya tinggi, nah ini bisa disebut zuhud kedua atau memang 'pamer' ? Dia juga banyak menyantuni anak yatim + memberdayakan lingkungan
Jawab
Kalau punya pesawat/kapal pribadi untuk sarana dakwah ya bagus

4. Bagaimana dengan hadist "tuntutlah ilmu sampa kee negeri china"?
Jawab
Setau saya hadits tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina itu hadits dhaif
“Bekerjalah untuk duniamu, seakan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu mati besok.” 
Ini sepengetahuan saya adalah atsar dari ibnu umar ra. Atsar itu berarti ia bukan perkataan Nabi. Ia hanya perkataan para sahabat. Akan tetapi para sahabat dijamin keadilannya
terkait atsar ibnu umar, ada penjelasan bagus dari syaikh utsaimin kira2 begini:
maknanya adalah mengajak untuk menyegerakan amalan akhirat serta menunda pekerjaan dunia. Karena perkataan, “bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya” bermakna bahwa sesuatu (urusan dunia) yang tidak dapat dikerjakan hari ini dapat dikerjakan besok dan yang tidak bisa dikerjakan besok bisa dikerjakan lusa. Maka bekerjalah pelan-pelan dan jangan tergesa-gesa. Andaikan hari ini terlewat, maka masih ada hari esok yang datang. Adapun tentang akhirat, “bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati besok”, maknanya adalah segeralah beramal, jangan sepelekan, seakan kamu akan mati besok. Bahkan saya (Asy-syaikh Ibn ‘Utsaimin –rahimahullah-) katakan, seakan kamu akan mati sebelum besok. Karena manusia tidak mengetahui kapan datangnya kematian. Ibnu ‘Umar –radhiallahu ‘anhumaa– berkata, “jika pagi telah datang, maka janganlah menunggu sore. Jika sore telah datang, maka janganlah menunggu pagi. Pergunakan saat sehatmu sebelum kamu sakit, dan pergunakan masa hidupmu sebelum kamu mati”. Demikianlah makna ucapan terkenal tersebut.

Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Selasa, 27 Oktober 2015
Narasumber : Ustadz Dian Alamanda
Tema : Kajian Islam
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Telegram Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala