Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

MEMBANGUN ISTIQOMAH


بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ ﴿١﴾ الْحَمْدُ لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٢﴾ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ ﴿٣﴾ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿٤﴾ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧

Jika seorang hamba benar-benar menjiwai rasa cintanya kepada Allah سبحانه و تعالى‎  pasti ia mencintai segala perbuatan baik yang membuat Allah ridho kepadanya. Baginya perbuatan baik atau amal sholih bukankah suatu beban, tetapi justru suatu kebutuhan yang dengannya Ruhiyah merasakan kepuasan yang sejati.

Dan jika saja ia ditanya tentang sumber kebahagiaannya, maka ia akan mengungkapkan bahwa kebahagiaannya adalah saat ia melakukan amal sholih, karena  setiap amal sholih yang ia lakukan akan selalu mengahadirkan spirit iman yang akan terus menerus menambah rasa cintanya kepada Allah subhanahu wata'ala.

Memang demikianlah adanya, setiap amal sholih yang dilakukan secara ihlas karena Allah, akan selalu berefek pada keimanan hati. Setiap tambahan iman ini bagaikan batu bata yang akan menjadi bahan konstruksi keimanan secara global dalam diri seseorang. Keimanan inilah yang akan mengokohkan rasa cinta kepada Allah. Hingga tak masuk akal, jika seseorang yang mencintai Allah tidak memperhatikan keadaan dirinya dan bahkan tak faham bagaimana harus istiqomah.

Kita awali dari ilustrasi ketika seseorang melakukan amal sholih. Maka pada saat itu terjadilah kontak atau komunikasi langsung antara hatinya dengan Allah yang teriring didalam niat yang ia ikrarkan dari hatinya. Ini konsep dasar keimanan dalam melaksananakan setiap ibadah. Fokus pada Niat, lurus menujukannya untuk Allah semata-mata, dengan tujuan kita agar DiriNya ridho terhadap diri kita. Kemudian ketika suatu proses ibadah sedang dilaksanakan, disaat itulah seseorang seharusnya merasakan kedekatan antara dirinya dengan Allah. Dan inilah indikasi dari kekhusyuk'an dan keihlasan dalam beribadah. Dari sejak awal ia mulai melaksanakan ibadahnya hingga akhir ibadah tersebut hatinya harus selalu menghadirkan Allah, dirinya seolah melihat kehadiranNya, atau jika ia tidak dapat melihatNya, maka hatinya harus meyakini bahwa Allah sedang memperhatikan dirinya. Ini adalah konsep Ihsan. Seperti inilah hendaknya kondisi kita setiap kali melaksanakan suatu ibadah. Tidak hanya pada ibadah sholat saja, ihsan harus berlaku pada semua jenis ibadah yang kita lakukan.

Kondisi Ihsan dalam melaksanakan setiap ibadah ini harus terus menerus dijaga agar hubungan antara diri kita dengan Allah tidak pernah terputus. Agar ibadah kita benar-benar menjadi ajang komunikasi antara diri kita selaku hamba dengan Allah sebagai Robb kita.

Pada prinsipnya, ketika kita ingin menemukan jawaban bagaimana cara membangun istiqomah dalam diri kita, maka titik pelaksanaan ibadah dalam kondisi ihsan seperti gambaran diatas yang harus selalu kita perjuangkan. Dan ketika kondisi tersebut telah menjadi tabiat dalam diri kita, maka keistiqomahan akan mudah terbangun, mengapa ?
Setidaknya ada 3 alasan mendasar yang bisa mewakilinya :

🔲 Pertama, Karena ketika ihsan telah terbangun pada setiap ibadah kita, kenikmatan saat berdekatan dengan Allah akan menjadi moment yang sangat berharga dalam, disaat tersebut kita akan menemukan kebahagiaan yang hakiki. Tentu kondisi seperti  ini sangatlah mahal, sehingga tak mudah seorang yang telah mendapatkannya akan mudah melepaskannya. Dia akan mempertahankan dan selalu menjaganya. Maka ia akan beristiqomah.

🔲 Kedua, Dengan ihsan, otomatis kita akan mendapatkan karunia dari Allah berupa bertambahnya rasa iman dan kecintaan kita kepadaNya dan RasulNya. Kekuatan cinta ini sekaligus menjadi benteng yang kuat sehingga syetanpun akan sulit menembusnya. Kondisi menjauhnya syetan karena kekuatan cinta kepada illahi inilah yang akan semakin memudahkan seseorang untuk mencapai istiqomah diri. Kondisi ini bisa kita lihat pada keadaan keumuman seorang Muslim yang telah bertekad untuk Hijrah, meniti sisa jalan hidupnya dengan kembali mengikuti Syariat Islam secara konsisten. Dari waktu ke waktu biasanya mereka akan tampak semakin sholih, karena hidayah yang ia dapatkan semakin hari semakin bertambah hingga terpancar pada pola pikir dan prilaku kesahariannya, baik dari tampakan fisik maupun hatinya. Ini adalah perolehan keberuntungan yang sangat besar, yang hanya akan diperoleh seseorang istiqomah.

🔲 Ketiga, Seseorang yang telah menempa dirinya dengan ketaatan hingga terbentuk pribadi yang Robbani, yang penuh keimanan hati kepada Allah, dan ketaatan amalnya mengikuti ajaran Syariat Rasulullah ﷺ maka secara otomatis telah masuk dalam jaminan Allahu ta'ala. Yakni jaminan atas ridhoNya, perlindungan dan penjagaanNya ketika ia masih hidup didunia dan berhak mendapati pemenuhan janji-janji Allah ketika masa kehidupan akhirat kelak.

Dari ketiga alasan penting diatas,  bagi seorang Muslim yang berfikir,  pasti tak ingin dirinya termasuk orang-orang yang tak mendambakannya. Jika sudah memiliki wawasan dan azzam (niat yang kuat) untuk mencapai kondisi seperti gambaran diatas, maka pada saat yang bersamaan dengan itulah bisa dikatakan ia telah memulai membangun istiqomah pada dirinya. Karena setiap perjalanan ibadahnya  akan menjadi semacam proses pembangunan infrastrukur yang kokoh untuk sebuah bridge (jembatan) yang akan menjadi penghubung antara dirinya dan Allah, yang mana jembatan ini tak akan terbangun kokoh tanpa ada perjuangan istiqomahnya hati dalam membangun keimanan dan amal sholih, setiap saat dan dimana saja serta kapan saja yang bisa ia lakukan. Oleh karena itu, hal apa saja yang dapat membuat dirinya bisa menjadi istiqomah dalam keimanan dan dalam beramal sholih akan selalu menarik baginya, gerakan hatinya akan selalu mengikuti arah petunjuk yang dapat mengantarnya kesana.

Dari paparan diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa untuk meniti jalan istiqomah kita harus berangkat dari pertanyaan :
Apakah kita sungguh-sungguh mencintai Allah ?
Jika kita mencintai Allah, berarti kita harus ridho sepenuhnya bahwa Allah sebagai Robb kita, dan juga kita siap beribadah kepadaNya sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.

Mencinta Allah ta'ala berarti :

1. Ridho, Allah sebagai Robb (Tuhan) dan illaah (Sesembahan) kita satu-satunya. Dan kita tidak akan menyekutukanNya dengan apapun. Apakah dengan melakukan perbuatan2 Syirik yang nyata, ataupun menyekutukan dengan suami kita, anak kita, harta kita, pekerjaan kita, hobby kita, dlsb.

2. Siap bersungguh-sungguh dalam mengikuti setiap ibadah dari jenis dan segala tata caranya sebagaimana yang dituntunkan oleh Rasulullah ﷺ .

Setelah 2 hal utama diatas kita sepakati, ada sesuatu hal yang kita harus kita upayakan agar cinta kita benar-benar sampai kepada Allah, dan dengannya pula kita akan mampu menyangga keberlangsungan perasaan cinta itu. Hal tersebut adalah : Niat dan Tekad untuk Istiqomah.

Istiqomah jika kita fahami dengan bahasa sederhana merupakan suatu amalan hati berupa keteguhan seseorang terhadap sesuatu yang ia yakini akan membawa keselamatan dan kebahagiaan dirinya. Bagi seorang Mukmin tingkat istiqomah yang paling utama adalah Memegang teguh kalimat Tauhid :

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ

Laa  illaaha illaallah, Muhammadaar Rasuulullah.

Memegang dalam arti :
Mengimani Allah sebagai sesembahan kita dengan penuh keihlasan dan rasa cinta yang dahsyat - tidak mensyekutukannya dengan apa pun dan juga rasa cinta itu kita wujudkan dalam bentuk ketaatan dalam melaksanakan apa saja yang dibawa oleh Rasulullah saw (Al Qur'an dan AS Shunnah). Serta Mengimani - meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah ﷺ (utusan) Allah.

Dengan menjaga istiqomah dalam bertauhid kepada Allah akan tercipta rasa cinta kepadaNya, hal ini adalah  anugrah hidayah yang termahal, karena darinya akan muncul semangat-semangat beribadah yang lebih rajin yang darinya pula akan semakin menguatkan rasa cinta tadi.

Hal yang paling utama bagi para pecinta dari apapun yang dia impikan dalam kehidupan dunia ini, adalah menjadi hamba yang Istiqomah, karena kemuliaan dan kebahagiaan dunia akan dia peroleh sedangkan jaminan kehidupan yang lebih baik di akhirat juga akan ia raih atas rahmat Allah subhanahu wa'ala.

Betapa bahagianya jika seseorang yang telah mendapatkan  jaminan penjagaan oleh Allah ta'ala. Hal ini harus menjadi bahan renungan kita, sehingga hiruk pikuk dunia tak melupakan diri kita untuk terus menerus bertafakur (berfikir secara mendalam) arti dari sebuah istiqomah. Dari perenungan tersebut    akan menghasilkan berbagai pencerahan hati yang akan langsung turun dari Allah sebagai karuniaNya kepada kita, hingga pencerahan (hidayah) itu akan menjadi penyinar hati kita yang dengannya kita mampu dengan jelas melihat kebenaran-kebenaran yang harus ia tuju dalam hidup ini. Dan juga kita mampu melakukan penolakan secara spontan dan tegas terhadap sesuatu keburukan yang bisa jadi menghampiri diri kita.

Inilah diantara bentuk penjagaan Allah kepada orang2 yang istiqomah dalam keimanannya kepada Allah سبحانه و تعالى‎ . Demikian semoga tulisan sederhana ini cukup membangkitkan kita semua untuk terus mengusahakan diri kita masing-masih agar menjadi Pribadi yang Istiqomah.

وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَفِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِي الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
  ​
Endria🌴
Jakarta, 10 November 2015
10.42 wib

TANYA JAWAB

Pertanyaan M04

1. Assalamualaikum ustadzah...bagaimana agar khusu' dalam ibadah dan tidak mudah tergoda pada gemerlap dunia? karena terkadang ada rasa jenuh dan butuh sesuatu yang baru, tapi ketika ritual ibadah di tambah jenisnya jadi keteteran dan susah bagi waktu
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. Pertama adalah perbanyak ingat mati. Kematian itu pasti akan menghampiri kita, kapan dan dimana kita tidak tahu. Yang jelas waktu kita hidup didunia ini sangat sedikit. Janganlah kita sia-siakan. Ingatlah hari kemaren... Renungi diri kita, serasa baru beberapa hari yang lalu kita kanak-kanak, kemudian memasuki remaja, dan saat ini kita sudah benar-benar tinggal menunggu saatnya giliran untuk dipanggilNya kembali. Jangan berpanjang angan-angan memastikan bahwa hidup kita pasti akan sekian atau sekian tahun lagi sesuai kehendak kita. Tidak ! Diri kita ini milik Allah, hidup dan kematian kita hanya didalam ilmu Allah, siapkan sebaik-baiknya bekal kematian kita. Jangan terlena dunia. Tuntutlah ilmu agama sebanyak-banyaknya, karena dengannya akan membimbing kita mengenal Rabb kita Allahu azza wa jallaa. Kita juga akan faham siapa diri kita. Dan apa saja yang seharusnya kita lakukan.

Kedua, Ingatlah bahwa waktu hidup kita sesungguhnya sangat sedikit dibandingkan dengan kwajiban yang harus kita tunaikan. Oleh karena itu, betapa naifnya kita jika sampai kita jenuh dengan urusan ibadah , dengan dalih butuh penyegaran dll. Semua itu hanya bisikan syetan yang berusaha untuk membuat kita agar terus menerua menjadi orang yang lalai... Yang malas hingga waktu kita habis karena ajal tiba, diri kita masih belum banyak berbuat apa-apa untuk bekal kematian itu.

Ketiga, Ingatlah bahwa dalam hidup kita ini Allah takdirkan syetan untuk diberi waktu hidup hingga kiamat tiba. Dan mereka selalu berusaha memggoda kita manusia dengan berbagai cara dan usaha. Jika benar-benar berusaha melatih diri untuk selalu khusyuk dalam ibadah maka Allah akan menurukan ilham keimanan dalam diri kita serta semacam sensor jiwa yang akan sangat peka ketika membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Akan tetapi hal ini hanya akan bisa kita dapatkan jika dari diri kita benar-benar punya tekad yang kuat dan istiqomah untuk menyakin bahwa Allah adalah Robb kita yang Maha Agung yang Maha Perkasa dan sangat berkuasa atas segala sesuatu. Hingga kita menemukan diri kita adalah sangat kecil dan hina. Darinya kita akan berfikir , maka pantaskah jika kita lebih suka mengikuti bisikan syetan musuh Allah daripada kita mendatangi dan mendekat kepada Allah.

Dengan membangun hubungan kedekatan diri kita dengan Allah secara intensif dan istiqomah, maka tidak ada celah lagi bagi syetan untuk merasuki jiwa kita, dan membisikkan berbagai bentuk kebodohan dan kemalasan ibadah. Juga berbagai bentuk-bentuk penyesatan yang lain. Seperti terseretnya pemuda dalam pergaulannya. Pergaulan adalan sarana yang sangat mudah bagi syetan untuk masuk dan merubah pola pikir seorang Muslim hingga ia menjadi rusak dan bodoh, malas dan berpanjang angan-angan. Oleh karena itu segera tengok dan cari - temukan teman-teman pergaulan yang Islami yang mereka telah tampak ke istiqomahannya dalam beragama. Rubah diri kita minimal seperti mereka atau targetkan agar bisa lebih baik lagi. Dengannya insyaAllah syetan tak akan lagi menjadikan diri kita sebagai teman karibnya. وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

2. Bagaimana kalo kita semangat melakukan satu ibadah tapi ibadah yang lain tidak rutin? Contoh tahajjud tiap malam bisa di kerjakan tapi dhuha tidak tiap hari?
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. Tidak apa seperti itu. Lakukan semampu yang kita bisa saat ini dalam ibadah. Asal niat kita benar dan kita melaksanakan dengan khusyuk serta istiqomah. Karena Allah tidak mencintai ibadah yang banyak tetapi tidak dilakukan dengan istiqomah. Dia mencintai ibadah yang sedikit tetapi istiqomah, berkwalitas dan benar-benar dilakukan dengan hati yang khusyu mengharap ridho dan kasih sayangNya semata.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M06

1. Bagaimana menjaga keistiqomahan yang awalnya sangat bersemangat dengan seiringnya waktu kok agak kendor ya ustadzah?
Jawab :
Mungkin tidak bisa serta merta dikatakan tidak istiqomah ya jika memang kadang terjadi fluktuasi seperti itu, asal kondisi seperti itu tidak kita biarkan berlarut-larut. Karena jika kita biarkan maka jika kita tidak melakukan amal ibadah lalu apa artinya ? Artinya waktu dan pikiran kita bisa jadi kita penuhi dengan hal-hal yang berlawanan dengan ibadah, yakni maksiat. Jika kebiasaan maksiat ini kita beri toleransi maka akan membuat hati kita mengeras. Sehingga akan semakin enggan dalam melaksanakan amal ibadah dan lebih suka bermalas-malasan atau sekedar mengajukan berbagai alasan untuk mencari pembenaran dirinya. Hal ini jelas sudah tampak intervensi syetan yang kita telah turuti bisikan-bisikannya. Oleh karena itu. Agar diri kita tidak semakin larut pada bisikan syetan, maka ada beberapa tips yang mungkin bisa bernanfaat :
a. Jangan lepas dari dzikir kepada Allah.
b. Jika pun kita mengalami futur maka - jangan sampai lebih dari 3 hari. Segeralah beranjak , usir syetan dengan bersegera melakukan amal ibadah dengan hati ihlas dan penuh kekhusyukan.
c. Usahakan agar sefutur-futurnya kita tidak meninggalkan amalan ibadah sunnah, seperti, sholat shunnah rawatib, tilawatil Qur'an dlsb. Jika tidak bisa banyak - setidaknya tidak meninggalkan sama sekali.
d. Teruslah menuntut ilmu Agama. Agar wawasan kita semakin banyak, dan motivasi kita untuk menjadi lebih baik akan semakin menggelora.
e. Bersamalah teman-teman yang baik yang selalu setia mengingatkan kita dalam kebaikan dan amal Sholih.
f. Perbanyak Istighfar, agar hati semakin bersih dan hidayah yang ada disekitar kita bisa segera kita raih.

وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

Pertanyaan M07

1. Bagaimana menurut ustad untuk mengawali istiqomah dari hal yang kecil, misalkan mengaji ,kadang saya tidak bisa istiqomah karena aktifitas saya yang tidak tentu. Kadang kadang jam segini anak tidur bisa sholat terus mengaji. Kadang-kadang sudah bangun tidur jadi ngaji tertunda. Istiqomah nya bagaimana?
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. Pada dasarnya istiqomah adalah sebuah proses perjalanan seseorang dalam membangun tabiat taqwa kepada Allah. Karena merupakan suatu proses, maka bisa saja seseorang memulainya dari jenis ibadah yang mudah untuk dia lakukan. Akan tetapi yang penting kita juga harus memasang niat kesungguhan untuk bisa meningkatkannya. Karena bisa jadi kesibukan dunia, apapun itu bentuknya akan selalu menjadi kendala kita dalam meningkatkan ibadah kita. Oleh karena itu saran saya. Berdoalah kepada Allah setiap sehabis sholat agar Allah berikan kepada kita untuk dapat melakukan ibadah-ibadah yang utama nilainya disisi Allah. Mintalah agar Allah melindungi kita dari godaan syetan yang selalu menghambat dan memberat-beratkan kita untuk beribadah. Bacalah dzikir setiap pagi dan petang, seperti :

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Minimal baca dzikir diatas 100x setiap harinya.
Untuk lebih lengkapknya baca dzikir-dzikir yang ada di kumpulan dzikir al ma'tsurat. In sya Allah dengannya penjagaan Allah akan senantiasa meliputi kita. Aamiin. وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

2. Bagaimanakah cara kita memulai istiqomah? Dari hal kecil dahulu.. Adakah hal hal yang bisa mendorong kita untuk tetap istiqomah. Karena saya masih belum bisa  istiqomah?
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. Mulailah dengan khusyuk dalam setiap sholat kita. Setelah sholat siapkan hati untuk berzikir sejenak, bertasbih , bertahmid dan takbir. Istighar dengan penuh kekhusyu'an. Dan panjatkan doa-doa yang menjadi hajad kita. Hal-hal yang bisa mendorong kita untuk istiqomah yang utama adalah ILMU. Ilmu yang kita peroleh kemudian kita amalkan, dengan mengamalkan ilmu tersebut akan banyak amal ibadah yang bisa kita lakukan, dari amal ibadah inilah yang akan semakin mengokohkan iman kita dan membuat kita istiqomah dalam ketaatan dan kecintaan kepada Agama. Berdoalah selalu agar Allah menambahkan hidayah kepada kita dan menjaga selalu hati kita dari keterbelakangan. Bacalah doa berikut :
QS. Ali Imron 8-9 :

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةً‌ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ (٨) رَبَّنَآ إِنَّكَ جَامِعُ ٱلنَّاسِ لِيَوۡمٍ۬ لَّا رَيۡبَ فِيهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخۡلِفُ ٱلۡمِيعَادَ (٩)۔

Arti:
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji

وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

Pertanyaan M11

1. Assalamualaikum ustadzah, ketika seseorang yang berhijrah kemudian menemukan kendala baik dari dalam dan luar diri. Apa yang harus dilakukan agar niat berhijrah kita ini lurus di jalan Allah SWT?
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. Ya disinilah perlunya tekad untuk tetap istiqomah dijalan kebenaran. Sebagaiamana firman Allah ta'ala yang menerangkan bahwa, apakah kita sebagai orang yang telah mengaku beriman akan bisa langsung masuk syurgaNya sebelum diuji ?

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: Bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al-Baqarah : 214)



Disinilah letak titik perhatian kita, bahwa setiap diri kita yang telah mengaku beriman kepada Allah, atau kita sudah bertekad untuk hijrah dijalan Allah maka kita pasti kita akan diuji. Diuji dengan berbagai bentuk ujian, bisa dari diri kita sendiri ataupun dari luar  diri kita. Semua ujian tersebut adalah untuk membuktikan bahwa keimanan kita sungguh-sungguh atau hijrah kita benar-benar kita tekadkan untuk menuju jalan Allah. Oleh karena itu tidak perlu menjadi suatu yang terlalu menggelisahkan hati kita. Yang penting kita tetap berusaha istiqomah, teguh hati dalam mencapai tekad kita - lurus menghadapkan hati kita kepada Allah, untuk Allah dan dengan memgikuti syariat Allah. Ini saya rasa cukup bagi bekal kita menghadapi berbagai kendala yang mungkin kita temui dalam proses perjalanan hijrah kita.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M13

1. Ustadzah saya ini dulu seorang yang kita orang judes ketus kalo bicara selalu menyakiti semua itu tanpa saya sadari, tanpa sengaja ada yang memberi saya buku almasuro semua mulai berubah sekarang saya sadar kalo saya sudah banyak berbuat dosa sekarang saya mulai menata hidup saya menjadi lebih baik lebih mendekat kan diri pada Allah SWT, apa ini sebuah hidayah dari Allah memberi kesempatan pada saya untuk berubah apakah kita bisa  mngetahui kalo kita sudah istiqomah atau belum?
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Masya Allah  ﻻَ حَوْلَ ﻭَﻻَ ﻗُﻮَّة ﺍِﻻَّﺑِﺎﻟﻠّﻪ
Benar sekali ukhti ... Demikianlah kita buktikan apa yang anti alami adalah sebuah proses penganugrahan Allah kepada seorang yang ingin menuju kepada Robb nya. Dari buku yang anti baca itu, insyaAllah isinya tidak jauh dari mengajak kita untuk berdzikir kepada Allah mengingat Allah. Sehingga buahnya adalah kasih sayang Allah kepada kita. Diantara bentuk kasih sayang ini adalah seperti yang anti alami, yakni :

a. Pelurusan hati kembali menuju jalan hidup yang diridhoiNya.
b. Membuat hati kita lebih peka terhadap sesuatu, jika hal itu baik maka hati akan tergerak untuk ingin bersegera melakukannya, tetapi jika hal itu tidak baik, maka ia akan segera menjauh karena merasa tidak nyaman.
c. Penjagaan Allah kepada diri kita. Apa yang dulu anti alami dengan sensitivitas yang tinggi terhadap gejolak emosi itu sesungguhnya adalah dari bisikan syetan.

Dengan melazimkan dzikir al Ma'tsurat, syetan itu menjauh karena penjagaan Allah meliputi diri kita. Hingga kondisi emosi kita kembali stabil tidak ada profokasi dari syetan lagi. Adapun untuk mengetahui apakan dengannya kita sudah bisa dikatakan istiqomah atau belum, saya kira selama kita sudah benar-benar kembali kepada Allah, dengan bertaubat dan berusaha untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita dan terus menerus meningkatkan kwalitas dan kwantitas amal sholih. InsyaAllah itulah buah dan bagian dari indikasi istiqomah. Namun kesuksesan istiqomah seseorang hanya akan dapat dilihat pada akhir hayatnya.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M14

1. Bagimana menjaga keistiqomahan suatu perbuatan baik. misal sholat duha dan tahajjud rutin. Namun kadang-kadang selalu digoda oleh hal-hal keduniaan yang lain? Mohon motivasi nya. Terima kasih.
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. Silahkan banyak membaca buku-buku literatur atau bisa juga dari internet tentang keutamaan amal. Sesungguhnya setiap amal. Sholih itu akan menambah keimanan hati. Ketika keimanan hati semakin kuat maka cinta kepada Allah semakin besar. Jika kita mencintai Allah maka Allah pasti akan ridho dan mencintai kita. Kemudian silahkan dibayangkan apabila Allah sudah mencintai seseorang hambaNya, padahal Dia maha segalanya. Tentu berbagai kebaikan yang kita perlukan telah termasuk didalam jaminanNya. Artinya, kita tidak perlu bersedih hati, karena kecintaan dan ridho Allah sudah cukup menjadi harapan kita untuk bisa memasuki SyurgaNya. Permasalahannya, bagaimana kita bisa mempertahankan rasa cinta dan ketaqwaan kita kepada Allah itu hingga akhir hayat kita ? Disinilah perlunya management hati untuk tetap istiqomah dalam segala ketaatan kepada Allah dan Rasulullah ﷺ sehingga kita layak mendapatkan khusnul khotimah.  وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

2. Ustadzah, bagaimana membersihkan hati dari keduniawian,dalam ibadah lebih banyak diembel-embelin supaya terkabul hajadnya?
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. Setiap Amal sholih tentu akan mendapat balasan sesuai dengan tingkat keihlasan dan tingkat kesulitannya. Dua Hal tersebut harus kita fahami agar kita selalu waspada dalam melaksanakan setiap Amal sholih. Tidak terpancang dengan kegigihan dalam mengamalkannya saja tetapi Amal tersebut benar2 sebaiknya diperhitungkan secara matang tentang siapa yang dituju. Jika yang dituju hanya Allah semata, maka jelas jika Amal tersebut memenuhi Syariat Islam maka Akan menduduki peringkat tertinggi dari setiap Amal yang lain.
Misal : Kita melakukan shodaqoh dalam waktu sempit akan mendapat balasan yang berbeda jika kita melakukannya dalam keadaan lapang. Demikian pula jika shodaqoh tersebut jika kita berikan kepada kerabat keluarga (orang tua kita) Akan berbeda jika kita berikan kepada orang lain. Terkait dengan pertanyaan bagaimana jika kita melakukan suatu ibadah dengan niat untuk Allah dan mengharap kebaikan dunia dan akhiratnya. Tentu ini Boleh. Karena Allah mengajarkan Kita agar senantiasa meminta pertolongan kepadaNya dengan dua ibadah yang utama, yakni Bersabar dan Sholat. Bersabar disini sebagian ulama berpendapat sebagai suatu bentuk ibadah yang berupa Shaum (puasa). Kemudian Sholat. Yakni selain meningkatkan kwalitas Sholat Kita juga memperbanyak Sholat (kwantitasnya). Dengan memperbanyak Sholat berarti Kita sedang Membangun hubungan yang dekat dengan Allah. Karena Sholat adalah bentuk ibadah yang sangat dicintai Allah dan sangat efektif dalam Membangun hubungan Kedekatan antara hamba dengan DiriNya. Kemudian juga di dalam Al Qur'an Kita juga diajarkan oleh Allah untuk bertawassul dengan melakukan amal-amal ibadah yang mendatangkan keridhoanNya agar segala dari apa yang kita harapkan baik urusan dunia dan akhirat kita berhasil dan diberkahiNya. Rasululallah shalallahu 'alaihi wassalam juga mengajarkan bahkan sekedar urusan sendal jepit kita yang terputuspun, agar memohon pertolongan Allah subhanahu wata'ala, dari sini dapat kita simpulkan bahwa :


Ketika Amal sholih Itu Kita Niatkan dan Kita tujuan kepada Allah subhanahu wata'ala maka Boleh kita selain mengharap ridhoNya, Kita sekalian menjadikannya sebagai suatu alasan untuk memohon pertolongan kepadaNya atas urusan kita. Baik untuk urusan akhirat maupun urusan duniawi kita. Adapun tentu bentuk permohonan yang selalu mengedepankan urusan dunia hendaknya juga jangan terlalu berlebihan, karena kebaikan  hakiki adalah yang sifatnya mencerminkan keaikan akhirat. Oleh sebab itu kita perlu menerapkan doa-doa yang Allah ajarkan dari Al Qur'an yang mana didalam maknanya selalu mengandung permohonan kebaikan urusan akhirat. Karena sebebarnya jika kita hidupndan memiliki orientasi hidup untuk akhirat kita maka kebaikan duniawi kita pasti akan selalu menyertai.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M15

1. Ustadzah mau tanya sebagai orang yang beriman kita tentukan sangat meninginkan istiqomah setiap saat tapi kadang terjadi fluktuasi keimanan, bagaimana kiat" agar kita selalu terjaga keistiqomahan kita walaupun banyak godaan yang menghadang?
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. Pertama adalah perbanyak ingat mati. Kematian itu pasti akan menghampiri kita, kapan dan dimana kita tidak tahu. Yang jelas waktu kita hidup didunia ini sangat sedikit. Janganlah kita sia-siakan. Ingatlah hari kemaren... Renungi diri kita, serasa baru beberapa hari yang lalu kita kanak-kanak, kemudian memasuki remaja, dan saat ini kita sudah benar-benar tinggal menunggu saatnya giliran untuk dipanggilNya kembali. Jangan berpanjang angan-angan memastikan bahwa hidup kita pasti akan sekian atau sekian tahun lagi sesuai kehendak kita. Tidak ! Diri kita ini milik Allah, hidup dan kematian kita hanya didalam ilmu Allah, siapkan sebaik-baiknya bekal kematian kita. Jangan terlena dunia. Tuntutlah ilmu agama sebanyak-banyaknya, karena dengannya akan membimbing kita mengenal Rabb kita Allahu azza wa jallaa... Kita juga akan faham siapa diri kita. Dan apa saja yang seharusnya kita lakukan.

Kedua, Ingatlah bahwa waktu hidup kita sesungguhnya sangat sedikit dibandingkan dengan kwajiban yang harus kita tunaikan. Oleh karena itu, betapa naifnya kita jika sampai kita jenuh dengan urusan ibadah , dengan dalih butuh penyegaran dll. Semua itu hanya bisikan syetan yang berusaha untuk membuat kita agar terus menerua menjadi orang yang lalai... Yang malas hingga waktu kita habis karena ajal tiba, diri kita masih belum banyak berbuat apa-apa untuk bekal kematian itu.

Ketiga, Ingatlah bahwa dalam hidup kita ini Allah takdirkan syetan untuk diberi waktu hidup hingga kiamat tiba. Dan mereka selalu berusaha memggoda kita manusia dengan berbagai cara dan usaha. Jika benar-benar berusaha melatih diri untuk selalu khusyuk dalam ibadah maka Allah akan menurukan ilham keimanan dalam diri kita serta semacam sensor jiwa yang akan sangat peka ketika membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Akan tetapi hal ini hanya akan bisa kita dapatkan jika dari diri kita benar-benar punya tekad yang kuat dan istiqomah untuk menyakin bahwa Allah adalah Robb kita yang Maha Agung yang Maha Perkasa dan sangat berkuasa atas segala sesuatu. Hingga kita menemukan diri kita adalah sangat kecil dan hina. Darinya kita akan berfikir , maka pantaskah jika kita lebih suka mengikuti bisikan syetan musuh Allah daripada kita mendatangi dan mendekat kepada Allah. Dengan membangun hubungan kedekatan diri kita dengan Allah secara intensif dan istiqomah, maka tidak ada celah lagi bagi syetan untuk merasuki jiwa kita, dan membisikkan berbagai bentuk kebodohan dan kemalasan ibadah. Terus berusaha untuk memperjuangan ibadah apa saja yang kita bisa lakukan dengan penuh keksyu'an hingga tertutuplah celah syetan yang selalu memggembosi semangat ibadah dan keimanan kita. Hal inilah yang menyebabkan seseorang merasa imannya ber fluktuatif. Karena syetan berhasil masuk kedalam dirinya dan membuat kita malas. Cara memutuskannya harus dengan perbanyak dzikir. Baca dzikir al ma'tsurat secara rutin. InsyaAllah kondisi keimanan kita akan terjaga. Aamiin وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

2. Assalamualaikum... Apa saja contoh menyekutukan Allah dengan suami dan anak? Gimana supaya rasa cinta kita kepada Allah tetap lebih besar drpada cinta kepada suami? Apa benar jika suami tidak ridho pada perbuatan istri maka Aĺlah juga tidak meridhoinya?
Jawab :
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Contoh menyekutukan Allah dengan suami, misalnya : Ketika diri kita memiliki rasa cinta kepada suami yang berlebih-lebihan, hingga aturan-aturan yang ditetapkan Allah berani kita langgar demi membahagiakan suami kita. Atau juga perintah-perintah suami (yang bertentangan dengan syariat Islam) - lebih kita taati daripada perintah Allah. Contoh menyekutukan Allah dengan anak, ini banyak sekali contohnya, dan seringkali kita tak sadar telah melakukannya. Dasarnya sama dengan contoh diatas, karena cinta yang berlebihan, melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasulullah ﷺ hingga kita berani melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah dan Rasulullah ﷺ .
Misal : Kita lebih memilih tinggalkan sholat daripada membuat anak kita menangis, atau ketika ia minta sesuatu barang atau makanan yang jelas diharamkan Agama, kita turuti mereka karena saking cintanya kita kepadanya dll. Intinya bahwa cinta dan ketaatan seorang Mukmin itu tidak layak jika mendahulukan selain Allah, Rasulullah ﷺ dan Jihad fii sabilillah (Agama). Hal ini sebagaimana firman Allahu ta'ala betikut :

قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ ﴿٢٤

"Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Q.S At Taubah : 24)
  وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

3. Ustadzah, bagaimana mengatasi emosi sesaat ketika kita sudah mengerjakan sesuatu dengan senang dan ikhlas tiba-tiba ada yang mempertanyakan pekerjaan kita/ mengungkapkan kebalikan yang sudah kita kerjakan. Hal ini kadang-kadang memancing emosi tanpa sempat untuk.berpikir ini ujian?
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. Ukhti... Sadarlah selalu bahwa setiap orang yang ada disekitar kita adalah ujian bagi diri kita. Terkadang orang-orang yang ada disekitar kita itu, apakah itu orang tua kita, anak kita, suami kita, saudara kandung kita, rekan kerja kita, tetangga kita, pembantu rumah tangga kita. Pendek kata semua manusia yang ada disekitar kita adalah akan menjadi ujian bagi diri kita. Kemudian setelah memahami hal itu, kita perlu mawas diri, tidak harus menjauh dari mereka, tetapi yang penting adalah selalu beraikap bijak terhadap mereka, bagaimana caranya ? Yakni dengan selalu merasa bahwa apa saja yang kita lakukan ini adalah dilihat oleh Allah. Dia selalu memgawasi gerak-gerik kita termasuk ketika kita sedang berinteraksi dengan orang-orang yang ada disekitar kita. Allah akan memberi penilaian kepada kita, siapa diantara kita yang paking baik ahlaqnya. Maka dialah yang akan mendapatkan kedudukan yang paling mulia baik didunia maupun jelaj di akhirat selagi hatinya dalam keadaan beriman kepadaNya. Itu saja kucinya yang harus selalu kita ingat. Adapun untuk menyempurnakan hasil agar kita benar-benar menjadi seorang mukmin yang berahlaq mulia maka sering-seringlah kita membersihkan hati kita dari sifat dan prilaku yang tidak baik, seperti dengan memperbanyak Istighfar. Kemudian banyak melakukan Tafakur, merenung memikirkan secara dalam tentang Allah dan penciptaanNya. Kemudian juga denga membaca buku-buku Tazkiyatun Nafs (pensucian jiwa) serta Fadhillah 'Amal (keutamaan 'amal) - insyaAllah akan mempercepat proses perbaikan pribadi kita. وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

4. Bagaimana menjaga ke-istiqomahan kita agar senantiasa istiqomah? & bagaimana caranya mmbangkitkan ke-istiqomahan apabila kalah sama yang namanya futur?
Jawab :
Mungkin tidak bisa serta merta dikatakan tidak istiqomah ya jika memang kadang terjadi fluktuasi seperti itu, asal kondisi seperti itu tidak kita biarkan berlarut-larut. Karena jika kita biarkan maka jika kita tidak melakukan amal ibadah lalu apa artinya ? Artinya waktu dan pikiran kita bisa jadi kita penuhi dengan hal-hal yang berlawanan dengan ibadah, yakni maksiat. Jika kebiasaan maksiat ini kita beri toleransi maka akan membuat hati kita mengeras. Sehingga akan semakin enggan dalam melaksanakan amal ibadah dan lebih suka bermalas-malasan atau sekedar mengajukan berbagai alasan untuk mencari pembenaran dirinya. Hal ini jelas sudah tampak intervensi syetan yang kita telah turuti bisikan-bisikannya. Oleh karena itu. Agar diri kita tidak semakin larut pada bisikan syetan, maka ada beberapa tips yang mungkin bisa bermanfaat :
a. Jangan lepas dari dzikir kepada Allah.
b. Jika pun kita mengalami futur maka - jangan sampai lebih dari 3 hari. Segeralah beranjak , usir syetan dengan bersegera melakukan amal ibadah dengan hati ihlas dan penuh kekhusyukan.
c. Usahakan agar sefutur-futurnya kita tidak meninggalkan amalan ibadah sunnah, seperti, sholat shunnah rawatib, tilawatil Qur'an dlsb. Jika tidak bisa banyak - setidaknya tidak meninggalkan sama sekali.
d. Teruslah menuntut ilmu Agama. Agar wawasan kita semakin banyak, dan motivasi kita untuk menjadi lebih baik akan semakin menggelora.
e. Bersamalah teman-teman yang baik yang selalu setia mengingatkan kita dalam kebaikan dan amal Sholih.
f. Perbanyak Istighfar, agar hati semakin bersih dan hidayah yang ada disekitar kita bisa segera kita raih.

وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

Pertanyaan M17

1. Istiqomah yang paling utama adalah memegang teguh kalimat tauhid. Apakah ada tingkatan dalam istiqomah? adakah doa khusus untuk menjaga kita selalu istiqomah,  mengingat rasa lelah dan malas kadang mendera?
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. Secara porsi maka pelaksanaan istiqomah bisa jadi sama, atau juga tergantung pada skala prioritas keutamaan amal ibadah itu sendiri. Atau bahkan bisa jadi ketika sama-sama utama, bisa dipilih salah satu atau keduanya dilaksanakan.
Misal : Antara sedekah ke orang lain dengan memenuhi kebutuhan hidup orang tua itu mana yang harus diprioritaskan untuk istiqomah. Keduanya utama, akan tetapi berbakti kepada orang tua dan memeuhi segala hajadnya adalah lebih utama, kecuali jika orang tua sudah terpenuhi kebutuhannya, maka kita boleh secara istiqomah mensedekahkan sebagian harta kita untuk shodaqoh. Kalau Zakat, karena sudah menjadi kwajiban tentu sudah tidak bisa ditawar lagi.
Kemudian untuk amalan ibadah  yang sebanding , misal : Mana yang sebaiknya kita istiqomahkan antara sholat Shunnah Rawatib atau Sholat Tahajud. Keduanya sangat utama, sebaiknya dilaksanakan dua-duanya.
Doa memohon istiqomah :


رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةً‌ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ (٨) رَبَّنَآ إِنَّكَ جَامِعُ ٱلنَّاسِ لِيَوۡمٍ۬ لَّا رَيۡبَ فِيهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخۡلِفُ ٱلۡمِيعَادَ (٩)۔

Arti:
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia), Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji
وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

Pertanyaan M18

1. Ustadzah.. Soal baca al matsurat kan di sana ada keterangan di baca 3x,10x,100x. Apakah harus di baca seperti tertera di ket itu atau boleh hanya 1x?? karena kadang waktu mepet pas baca nya
Jawab :


Jika kita ingin sesuai hadistnya, memang sunahnya demikian. Akan tetapi jika dalam kondisi kurang memingkinkan tidak apa juga hanya dibaca semampu kita. Akan tetapi kondisi kepepet ini jadi suatu kelaziman kita juga ya. Karena untuk mendapatkan hasil kesempurnaan kondisi perbaikan ruhiyah kita sebaiknya kita mengikuti sebagaimanya yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ . Angka-angka tersebut sudah disebutkan didalam hadist yang meriwayatkan lafaz (bacaan) nya. Jasi sekali lagi afdhalnya adalah sesuai tuntunan sunnah Rasulullah ﷺ .   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M20

1. Mohon penjelasan tentang "maksiat", yang sangat berpengaruh dalam menjaga istiqomah,  gagal dalam beristiqomah bila kita melakukan kemaksiatan. Lalu bagaimana dengan keimanan pemuda? Ketika muda banyak cobaan dan godaan untuk bermaksiat. Gimana cara agar diri mereka sendiri bisa  menjaga keimanan dengan penuh kesadaran?
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم MasyaAllah bertanyaan yang sangat bagus dan mendasar...
Baik... Pertama kita harus berangkat dari pemahaman bahwa istiqomah yang paling tinggi nilainya diantara istiqomah yang harus kita perjuangkan dalam sebuah aktivitas ibadah adalah :
Memegang teguh kalimat Tauhid : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ (Laa  illaaha illaallah, Muhammadaar Rasuulullah.)

Memegang dalam arti :
Mengimani Allah sebagai sesembahan kita dengan penuh keihlasan dan rasa cinta yang dahsyat - tidak mensyekutukannya dengan apa pun dan juga rasa cinta itu kita wujudkan dalam bentuk ketaatan dalam melaksanakan apa saja yang dibawa oleh Rasulullah saw (Al Qur'an dan AS Shunnah). Serta Mengimani - meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah ﷺ (utusan) Allah. Darinya kita akan dapat berfikir balik, bahwa jika kita ingin tahu maksiat yang paling dahsyat pengaruhnya terhadap keseluruhan pribadi keislaman seorang Muslim adalah ketika ia melakukan suatu kemusyrikan terhadap Allah. Ia melakukan pemyelewengan Aqidahnya. Baik dalam porsi yang besar maupun yang kecil, jika penyakit kemusyrikan sudah menjangkit seseorang Muslim, maka rusaklah ia. Apapun kebaikan dan amal ibadah yang dilakukan dalam keadaan kemusyrikan itu tidak akan diterima oleh Allah. Sampai ia bertaubat kepada Allah atas kemusyrikannya itu.

Oleh karena itu terkait dengan Aqidah ini, kita tidak bisa main-main. Perlu adanya sistem koreksi diri secara berkala. Kapan waktunya ? Setiap saat tentunya, dan terutama jika kita seteleh melakukan sholat, maka perbaharuilah Syahadat kita sehingga keimanan kita tetap terjaga. Lakukan juga introspeksi diri secara ketat terhadap perbuatan-perbuatan yang oleh syariat dimasukkan sebagai perbuatan Syirik.

Kemudian bermaksiat terhadap kerasulan Nabi Muhammad ﷺ . Penghianatan terhadap Rasulullah ﷺ merupakan suatu maksiat yang sangat dahsyat pengaruhnya terhadap keislaman seseorang. Sebuah tuntunan ayat Al Qur'an mengisyaratkan bahwa ketika seseorang benar-benar ingin mencintai Allah, maka pembuktiannya adalah cukup dengan mencintai Rasulullah ﷺ . Hal ini sangat jelas, sebagaimana bunyi firman berikut :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imron : 33)

Adapun bentuk penghianatan seseorang Muslim terhadap Rasulullah ﷺ yang perlu kita waspadai adalah perbuatan Bid'ah. Dalam pemahaman sederhananya adalah penyimpangan pelaksanaan tata cara atau pengadaan hal-hal yang baru dalam urusan ibadah dari apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ . Kemudian juga pengingkaran-pengingkaran terhadap para Sahabat Rasulullah ﷺ rodhiallahu 'anhum. Selain kedua maksiat terbesar itu kita juga bisa mempelajarinya dari beberapa jenis dosa besar yang disebutkan oleh Hadist Rasulullah ﷺ . Seperti :
>Durhaka kepada Orang tua,
>Membunuh jiwa dengan cara bathil,
>Berzina, Mempraktikkan Riba, Memberi kesaksian palsu (berdusta) dlsb.
Semua maksiat besar itu tidak saja memporak poradakan sistem istiqomah pada diri seseorang, akan tetap benar-benar merusak keislamannya. Oleh sebab itu, mari kita semua selalu berdoa memohon perlindungan kepada Allah dan memohon pertolonganNya ada selalu diberi tambahan hidayah dan dijauhkan dari berbagai keburukan ahlaq dan maksiat baik yang berasal dari bisikan syetan maupun yang timbul dari diri kita sendiri.

Dan sebagai seorang Muslim yang baik, tentu tidak harus kekhawatiran seperti diatas baru muncul setelah kita melakukannya, akan tetapi penjagaan diri untuk terus menerus istiqomah dalam taqwa dan istiqomah dalam menjaga diri dari hal-hal maksiat harus terua kita perjuangkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena tentu maksiat itu bisa jadi datang tidak secara tiba-tiba. Tetapi sangat bisa terjadi karena terbentuk dari situasi lingkungan dan atmosfir yang ada dalam kehidupan sekeliling kita. Misalkan saja, tentu akan lebih mudah seseorang membangun istiqomah dirinya ketika ia berada dilingkungan yang baik, pergaulan yang islami daripada ia berada ditengah kondisi tempat  kerja atau pergaulan yang jauh dari Islam. Konteks pembicaraan terkait pergaulan ini termasuk untuk gaya hidup saat ini ya yang mana pergaulan online juga sangat rawan bahkan sangat massif menyeret para menggemarnya kepada dunia pergaulan yang menjauhkan dari keisalamnya.

Dan tempat yang ideal untuk mencari lingkungan dan pergaulan yang kondusif adalah Masjid. Cintailah Masjid, kunjungilah sesering mungkin yang kita bisa. InsyaAllah dari sana akan banyak hal keberkahan yang bisa kita dapatkan. Doa yang baik untuk kita baca, untuk memohon kebaikan kepada Allah :

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“

Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilahKami dari siksa neraka.” (QS. al-Baqarah : 201).



Demikian jawaban seserhana ini untuk menjawab dua point pertanyaan tersebut diatas. Semoga cukup memberi pencerahan bagi penanya dan jama'ah yang lain.    وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

2. Assalamualaikum ustadzah. Mohon tips untuk tetap bisa menetapi istiqomah dengan kondisi hati yang ihsan bagaimana? Kadang rutinitas ibadah rasa hati mengejar istiqomah tapi essensi dalam ibadah belum masuk kehati. Seperti misalnya salat, apa yang harus dilakukan  supaya dalam sholat khusyuk, sebab disaat mencoba untuk khusuk baru mampu 1 atau 1/2 rakaat pada selanjutnya pikiran sudah kemana-mana, begitu juga dengan berzikir. Mohon bimbingannya ustadzah..Syukron katsiir
Jawab :
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته. بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. 
Setiap kita melaksanakan suatu ibadah usahakan selalu dalam kondisi ihsan. Untuk mencapai kondisi ihsan ini perlu diupayakan riyadhoh atau latihan yang terus menerus, hingga akhirnya menjadi kebiasaan yang sudah menetap. Usaha membangun hati yang ihsan ini bisa dimulai dari mana saja yang sekiranya kita bisa meraih kekhusyu'an. Seperti ketika Sholat. Sholat adalah bentuk ibadah kepada Allah yang paling utama, hingga disebut sebagai tiang Agama. Dengan sholat manusia menghadap dan berkomunikasi secara langsung dengan Allah.
Setiap gerakan Sholat adalah doa. Jadi sebaiknya ketika kita sedang sholat kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar kekhusyu'an bisa terwujud dan ibadah kita benar-benar kita lakukan dalam keadaan ihsan sehingga pengaruh dari Sholat akan dapat kita peroleh. Demikian juga dengan ibadah-ibadah yang lain. Pelajari dan fahami dengan baik syariatnya. Kemudian mulai coba laksanakan satu persatu dengan mengatur alokasi waktu yang sebaik-baiknya, agar masing-masing ibadah yang akan kita laksanakan mendapat porsi yang seimbang baik dalam ukuran waktu dan kesungguhan hati dalam melaksanakannya. Ada hal yang perlu kita pikirkan juga terkait upaya agar setiap ibadah kita muncul perasaan ihsan. Yakni kewaspadaan diri kita terhadap intaian syetan.
Syetan tidak akan pernah ridho kepada kita ketika kita berusaha ihsan dalam setiap ibadah kita. Mereka akan selalu berupaya menggangalkan atau mengacaukan pikiran kita agar ibadah yang kita lakukan tak bernilai disisi Allah ta'ala karena tidak ada kekhusyuk'an didalamnya. Oleh sebab itu jangan lupa kita selalu minta perlindungan kepada Allah dari gangguan syetan terutama ketika kita hendak melaksanakan suatu ibadah.

Hal/tips penjelasan diatas berlaku pada ibadah apapun. Prinsipnya ada 3 :
a. Ilmu, persiapkan ilmu tentang amal ibadaj yang hendak kita lakukan.
b. Niat untuk ihsan dalam melaksanakannya.
c. Mohon perlindungan kepada Allah dari gangguan syetan.
Demikian bunda ringkasnya jawabab saya.
  وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan. Kita tutup majlis hari ini dengan hamdalah dan kaforatul maajlis


Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Selasa, 10 November 2015
Narasumber : Ustadz Endria Sari Hastuti
Tema : Kajian Islam
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Whatsapp Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala
Link Bunda