Ketik Materi yang anda cari !!

AR RIDHA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, December 2, 2015

Kajian Online WA Hamba الله SWT

Rabu, 2 Desember 2015
Narasumber : Ustadz Tri Satyahadi
Rekapan Grup Bunda M6
Tema : Syakhsiyah Islamiyah
Editor : Rini Ismayanti


AR RIDHA

Ridha adalah hasil dari cintanya mukmin kepada Allah SWT. Cinta berarti menerima semua keinginan dan tuntutan dari yang dicintainya (Allah SWT). Tuntutan dan kehendak Allah SWT ini terdapat di dalam Al-Quran. Kehendak Al­lah SWT terhadap ma-nusia, alam semesta dan dari diri kita.Kehendak Allah SWT terhadap manusia yaitu diberikan ketentuan-ketentuan yang pasti seperti qadha' dan qadar. Terhadap alam, Allah SWT menghendaki alam sebagai kajian untuk dikaji dan mengambil manfaat darinya, juga meng-gambarkan kehe-batan dan kekuasaan Allah SWT dialam. Yang Allah SWT kehendaki dari diri manusia adalah melaksanakan petun-jukNya, menjalankan syariat dan iltizam. Dengan menerima semua ketentuan-ketentuan yang diberikan kepada kita, alam dan yang dikehendaki dari kita, maka individu tersebut beriman sebenarnya.

1. Ar-Ridhaa (Rela)
Makna ridha adalah menerima ketentuan Allah SWT atas dirinya. Sehingga apapun yang diputuskan kepada dirinya akan ikhlas atau rela diterimanya sebagai sesuatu kebaikan atau cobaan yang perlu dihadapinya.
Dalil :
QS. 2:207. Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.
QS. 76:31. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya (surga). Dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih.

2. Maa Araadallah (Apa yang Allah Kehendaki)
Maa Araadallahu Binaa' (Kehendak dan Kemauan Allah SWT Terhadap Kita/Manusia). Kehendak Allah SWT terhadap kita yaitu kejadian yang telah berlangsung, tidak dapat dihindarkan, tidak diketahui sebelumnya (ghaib) seperti kelahiran, kematian, perni-kahan dan kehidupan dengan segala seginya seperti kekayaan, kemis-kinan, kemenangan, kekalahan, keimanan, kekafiran. Semua yang telah terjadi ini tidak mungkin berlangsung kecuali dengan kehendak Allah SWT Semua kejadian apakah kebaikan maupun keburukan merupakan dari sisi Allah SWT, misalnya kematian. Kita sebagai manusia wajib mengimani dan menerimanya. Tak ada seorangpun yang dapat menghindari rahmat Al­lah SWT dan kecelakaan yang dikenakanNya pada seseorang. Kita pasrah dan ridha terhadap apapun yang diputuskan Allah kepada kita. Semua kejadian pada diri orang-orang mukmin adalah ketentuan Allah SWT bagi mereka dan tidak ada satupun yang mampu mencegahnya.
Dalil:
QS 4:78, QS 35:2, QS 11:6, QS 9:52

a. Aalam Al-Ghaib (Alam Ghaib)
Kehendak Allah SWT tersebut sebelum terjadinya meru-pakan sesuatu yang ghaib bagi manusia. Tidak dapat di-tangkap dengan indra. Tidak dapat diketahui dengan jalan apapun. Ketentuan ini hanya Allah SWT saja yang menge-tahui-Nya, semua telah tercatat dalam kitab yang nyata. Hanya di sisi Allah SWT pengetahuan yang ghaib. Allah sebagai pencipta manusia dan makhluk maka Allah mengetahui segala sesuatunya baik yang nyata ataupun yang ghaib. Kelahiran dan kematian adalah ketentuan yang terdapat dalam pengetahuan Allah SWT Walaupun manusia ataumakhlukNya tidak mengetahui sama sekali ketentuan tersebut. Allah SWT mengetahui tempat-tempat aktivitas makhlukNya, semua tercatat dalam kitab yang nyata. Luhul Mahfuzh tidak meninggalkan sedikitpun melainkan dicatatnya.
Dalil :
Hadits. Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda," Kunci-kunci kegaiban ada lima dan hanya diketahui Allah, "sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat. Dan Dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim . Dan dada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya esok. Dan tiadaseorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana is akan mati. Sesunguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
QS 6:59,QS 31:34,QS 11:6, QS 6:38

b. Al-Qadhaa' wa AI-Qadar (Qadha dan Qadar)
Kejadian yang pasti dan tak dapat dihindari ini disebut Qadha' dan Qadar. la merupakan bahagian dari rukun iman yang enam. Setiap muslim wajib mengimaninya merupakan kebaikan (menguntungkan) maupun keburukan (meru-gikan) terhadap dirinya. Iman ini membuat kita sadardan tidak sombong terhadap apa-apa yang dimiliki serta tidak kecewa terhadap apa-apa yang lepas dari kita. Ketentuan Allah SWT membuat kita tdak sombong dengan apa yang diperoleh dan kita tidak kecewa dengan apa yang tidak kita dapati.
Dalil :
Hadits. Pernyataan Rasulullah tentang Iman, " dan engkau beriman dengan Qadar baik maupun buruk".
QS. 57:22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tdak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Hadits. Allah SWT telah menentukan bagi manusia di dalam rahim ibunya ketentuan. Lahir, mati, celaka, bahagia dan sebagainya.

c. Laa Yus'alu `Ammaa Yaf'al (Allah SWT Tidak Ditanya Tentang Apa yang Dikerjakannya)
Dalam bersikap terhadap qadha' dan Qadar Allah SWT, manusia tidak berhak menyalahkan atau menuduh Allah SWT Sebab sebagai yang maha pencipta dia berbuat sesuai dengan kehendakNya tanpa seorangpun dapat mempro-sesNya. Allah SWT tdak dapat ditanya tentang apa yang diperbuatNya terhadap makhluk. Allah SWT berbuat sekehendakNya tidak mengikuti peraturan siapapun selain diriNya.Semua kepunyaan Allah SWT, Allah SWT bebas memberi ampun ataupun mengazab hambaNya yang durhaka dan menentang Allah.
Dalil :
Hadits. Jika Allah SWT menghendaki kebaikan bagi seseorang maka diberikan cobaan. Maka siapa yang ridha (dengan cobaan itu) baginya keridhaan Allah SWT Dan barang siapa yang keberatan maka baginya kemarahan Al­lah SWT
QS 21:23. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat­Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.
QS 85:16. Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.
QS 2:284

d. Al-Hikmah (Hikmah)
Allah SWT tidak bertindak melainkan di dalamnya terdapat suatu hikmah. Tetapi sedikit dari manusia yang dapat me-mahaminya. Karena itu, terhadap kejadian yang mengena-nya mukmin berupaya mencari hikmah Allah SWT tersebut. la senan-tiasa berbaik sangka kepada AllahSWT karena meyakini bahwa Allah SWT maha pengasih lagi maha penyayang kepada hamba-hambaNya. Hikmah Allah SWT dalam disyariatkannya berperang. Dalam berperang juga banyak terdapat hikmah yang diambil, bahkan dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengambil hikmah yang besar.
Dalil:
Hadits. Orang mukmin itu mengagumkan karena semua urusan mendatangkan kebaikan baginya. Jika dia diberi kebaikan ia bersyukur dan itu baik baginya, jika is tertimpa musibah ia bersabar dan itu baik pula baginya.
Hadits Qudsi. Sesungguhnya aku tergantung sangkaan hambaKu terhadapKu. Jika dia bersangka baik maka baik pula baginya, jika dia bersangka buruk maka buruk pula baginya.
QS 2:216

e. Maa Aradallahu bil-Kaun (Apa yang Allah SWT Kehendaki Terhadap Alam Semesta)
Allah SWT mengatur, menetapkan, menentukan seluruh kejadian di alam semesta secara pasti dan tepat. Tidak ada satu makhlukpun yang lepas dari aturan Allah SWT ini. Setiap fenomena yang terjadi merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT dan keagunganNya. Allah SWT menentukan qadar alam seluruh ciptaanNya dengan sangat rapih dan teratur. Allah telah menentukannya dengan kepastian, ketepatan danterencana. Tidak ada satupun manusia yang mampu mengelak dari ketentuan Allah tersebut.
Dalil :
QS 25:2; QS 54:49; QS 87:1-2; QS 15:20; QS 36:38-40; QS 55:7
Hadits. Dalam Hadits Muslim, Abdullah bin Amr berkata Rasulullah SAW bersabda,"Allah telah menurunkan kadar­kadar makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Dan Arsy-Nya berada diatas air." (HR.Muslim).

f. 'Aalam At-Tajribah (Alam Kaftan)
Ketentuan Allah SWT tersebut bukan merupakan sesuatu yang ghaib tetapi juga tidak mudah untuk difahami dan diketahui. Manusia akan memahaminya dengan jalan belajar dan mela-kukan berbagai kajian tentang ketentuan­ketentuan Allah SWT tersebut.
Dalil :
Hadits. Mengenai seseorang yang mendapat petunjuk Rasulullah cara bertanam korma. Ternyata hasil petikannya tidak memuaskan kemudian dia datang kepada Rasul untuk melaporkan. Jawab Rasulullah SAW, "kamu lebih tahu urusan duniamu"

g. Sunnatullah fil-Kaun (Ketentuan Allah SWT Di Alam Semesta)
Semua ketentuan dan peraturan Allah SWT yang tidak tertulis di alam semesta itu disebut Sunnatullah. Sifatnya tetap, tidak berubah dan tidak berganti. Tetapi Allah SWT sendiri dapat meru-bahnya seperti pada mukjizat para Nabi. Kita mesti me-nyebutnya Sunnatullah dan bukan hukum alam atau hukum sains eksak. Sunnatullah tidak mengalami perubahan atau pergantian sedikitpun karena sunnatullah bersifat tetap, pasti, objketif dan tepat. Seperti halnya yang disebut hukum alam yang memiliki karakteristik tepat dan pasti itu sebenarnya sunnatullah kauniyah yang ada di alam. sunnatullah qauliyah tun tidak memiliki perubahan.Ketentuan Allah ini mengena kepada semua manusia kecuali yang dikehendakiNya seperti Nabi Ibrahim yang tidak hangus dimakan api bahkan selamat dengan izin Al­lah SWT Walaupun demikian, Nabi Ibrahim juga mengikuti sunnatullah sehingga terselamat dari api di antaranyasunnatullah qauliyah yang Allah janjikan. Nabi Musa mampu membelah laut dengan izin Allah SWT, dan ini merupakan sunnatullah yang secara teknologi dan pengetahuan dapat dijelaskan secara baik, walaupun padasaat itu sulit untuk diterangkan. Walaubagaimanapun Al­lah memberikan kekecualian kepada para Rasulnya berupa mukjizat.
Dalil : 
QS 35:43, QS 33:62, QS 48:23, QS 21:68-69, QS 20:77-78
Hadits
. Said bin Jubeir berkata-dia juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas berkata,"Tatkala Ibrahim dilemparkan, maka malaikat penjaga hujan berkata,"begitu aku diperintahkan menurunkan hujan, langsung aku menurunkannya."Ibnu Abbas berkata,"Adalah perintahAllah lebih cepat dari perintah malaikat. Allah berkata,"Hai api, dinginlah dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim." Ibnu Abbas berkata,"Kalaulah Allah Azza wa Jalla tidak mencatakan,'dan menjadi keselamatan', niscaya dinginnya api melukai Ibrahim".

h. Al-Bahts (Mengkaji)
Sunnatullah hanya dapat difahami setelah diselidiki, dipe-lajari, dianalisa dan dikaji. Sifatnya netral. Dapat dipelajari siapa saja. Tetapi orang mukmin lebih berhak untuk mem-perolehnya. Itulah mengapa kitabullah banyak sekali mengan-jurkan mukminin melakukan pengamatan terhadap alam semesta. Contoh-contoh anjuran dan rangsangan Allah SWT untuk memperhatikan alam semesta sangat banyak sekali dalam Al Quran. Sehingga sangat aneh apabila mukmintidak memiliki pengetahuan dan ilmu, padahal Allah berkali-kali dalam Al Quran menyuruh kita memikirkan alam semesta. Mengamati sejarah kehidupan manusia adalah perintah Allah SWT Karena banyak ibrah, hikmah dan pelajaran yang dijadikan contoh bagi kita semua. Dengan melihat sejarah kita mampu memperbaiki diri di masa depanberdasarkan pengalaman orang lain.
Dalil : 
QS 3:190-191, QS 10:5-6, S 30:20-25, QS 30:8, QS 3:137
Hadits
. "Hikmah itu kepunyaan orang mukmin, dimana saja mereka jumpai hikmah itu, merekalah yang paling berhak atasnya".

i. Al-Intifaa' (Pemanfaatan)
Dengan mengkaji sunnatullah kita mengambil manfaat sebesar-besarnya dari potensi alam untuk memperkuat barisan kaum muslimin. Ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berguna untuk menjadi sarana dakwah. Karenanya kaum muslimin wajib menggalakkan kembali pengamatan dan pengkajian terhadap alam semesta ini Allah SWT menyuruh memanfaatkan kekuatan besi (teknologi) untuk menegakkan Islam. Bahkan Allah menyuruh semua potensi alam digunakan untukmembangun alam dan memliharanya dengan baik. Alam dan seisinya perlu dimanfaatkan untuk mempersiapkan sarana-sarana jihad di jalan Allah SWT Ini tidak dapat berlangsung tanpa pemanfaatan ilmupengetahuan dan teknologi.
Dalil: QS 57:25, QS 8:60
Hadits. Uqbah bin Amir berkata,"Aku mendengar dari Rasulullah SAW ketika beliau di atas mimbar berkata, "Da siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah, kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, kekuatan itu adalah memanah. (HR. Muslim, Abu Daud, dan Ibnu Majah).

j.  Maa Araadallahu Minna (Yang Allah Kehendaki dari Din Kita)
Yaitu rela melaksanakan petunjuk hidup yang di dalamnya ada perintah dan larangan, halal dan haram, peringatan dan anjuran, dan sebagainya. Kesemuanya dapat kita jumpai dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah. Setiap muslim wajib menerima undang-undang Allah SWT yang telahtertulis ini dengan tanpa keraguan. Aturan hidup (dien) yang diterima disisi Allah SWT hanyalah Islam. Ia merupakan kumpulan kehendak Allah SWT dari diri kita. Di sinilah Allah SWT mengatur danmengendalikan hambaNya. Disyariatkannya then bagi kita untuk ditegakkan dengan tidak bercerai-cerai. Agama Islam akan tegak dengankesatuan dan persatuan.
Dalil: QS 3:19, QS 3:85, QS 42:15
Hadits. Dikatakan dalam sebuah hadits shahih,"Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak sejalan dengan syarit kami maka amalannya ditolak.". Abdur Razak meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW Bahwa beliau bersabda,"Demi yang jiwaku dalam genggaman-Nya, tiada seorang yang mendengar tentang aku dari umat ini: orang Yahudi atau Nasrani, lalu dia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada (risalah) yang aku diutus untuknya melainkan dia termasukpenghuni neraka. (HR. Abdur Razak).

k.  'Aalam Asy-Syahaadah (Alam yang Nyata)
Perintah-perintah dan larangan-larangan Allah SWT merupakan sesuatu yang jelas dan dapat difahami dengan mudah. la berbicara tentang realitas yang ada di sekitar manusia tentang hubungan manusia dengan penciptanya dengan alam, hakikat kehidupan, hakikat manusia itusendiri, dan hakikat pengab-dian. Semua sangat diperlukan oleh setiap manusia. Rasulullah bagaikan cahaya yang terang membawa kitab yang sangat jelas bagi kehidupan. Dengan kitab itulah Al­lah SWT menunjuki orang yang mencari keridhaanNya ke jalan keselamatan. Membebaskan mereka dari kegelapan (jahiliyah) menjadi terangbenderang (Islam).
Dalil: QS 5:15-16
Hadits. Pernyataan Rasulullah, "yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas, dan di antara keduanya ada yang mutasyabihat".

l.  At-Taqdiir Asy-Syar'ii (Ketentuan Syariah)
Peraturan dan petunjuk hidup Allah SWT merupakan ketentuan syariah bagi kebahagiaan manusia. Manusia diberi kebebasan untuk menerima atau menolaknya. Mereka yang menerima menjadi orang beriman danhidupnya akan bahagia. Se-dangkan yang menolak disebut orang kafir dan hidupnya akan celaka. Yang haq adalah yang datang dari Allah SWT, manusia boleh memilih iman atau kafir. Bila kafir maka ancamannya adalah neraka. Sedangkan mereka yang beriman kepada Allah akan mendapatkan balasan surga. Islam memerintahkan dan mewajibkan untukmelaksanakan syariat bagi mereka yang mengaku beriman.
Dalil : QS 2:256, QS 18: 29, QS 24:1, QS 28:85

m.  Wa Hum Yus'Aluun (Mereka Akan Ditanya)
Pengetahuan tersebut akan melahirkan amal yang kelak dipertanggung-jawabkan. Setiap insan mesti bertanggung­jawab terhadap pelaksanaan perintah dan larangan Allah SWT Mukmin menerima qadha' dan qadar tetapi iapun menyadari bahwa taqdir syar'i menghendaki adanya sikaptanggung jawab. Contohnya tatkala sakit (qadha) maka syariat menen-tukan untuk berubat, tatkala is kufur syariat menyuruhnya mencari hidayah, ketika dalam keadaan maksiat maka syariat memerintahkannya bertaubat tatkala kaya ia diharuskan bersyukur dan tatkala miskin iadiperintah untuk sabar. Setiap manusia akan ditanya apakah ia melaksanakan ketentuan syariah atau tidak. Mereka yang tidak berimanakan tidak mampu menjawab bahkan mereka menyalahkan para pemimpinnya dan menyesali dirinya, manakala orang yang beriman akan mampu menjawabnya serta dimasukkannya ke dalam surga. Semua manusia akan diminta pertanggung-jawabannya di akhirat. Oleh karena itu setiap manusia yang sudah berusia baligh harus menjalankan semua perintah Allah dan bertanggung jawab terhadap dirinya. Allah SWT menyalahkan mereka yang tidak berikhtiar mengikuti syariat. Tanpa ikhtiar maka mereka tidak akan mendapatkan apa yang diingininya.
Dalil :
QS 21:23, QS 102:8, QS 4:79, QS 42:30
Hadits. Sabda Rasulullah, "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya tentang tanggung jawabnya ... ".
Hadits. Sabda Rasulullah SAW, "Setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah kamu".

n. Al-lltizaam (Komitmen)
Untuk terwujudnya semua ketentuan Allah SWT maka kewajiban kita adalah senantiasa iltizam (komitmen) baik terhadap pengetahuan maupun pelaksanaan syariah. Semua yang dapat dilakukan secara individu wajib dilaksanakan. Sedangkan yang belum dapat dilaksanakan kecuali telahadanya wasilah (sarana) wajib diperjuangkan. Komitmen mukmin terhadap aturan Allah SWT merupakan kewajiban seorang mukmin, hal ini akan membawa kepada kebaikan dunia dan akhirat. Bila AllahSWT telah menetapkan sesuatu maka tidak boleh ada pilihan lain baginya. Syarat iman ialah menerima keseluruhan yang berasal dariRasulullah dan tidak ada keberatan terhadap keputusan Rasul itu. Sikap mukmin terhadap keputusan Allah SWT dan Rasul adalah "mendengat dan taat". Tidak ada cara lain kecuali mengamalkan yang diperintahkan Allah dan Rasul. Perintah bertakwa yang diberikan Allah adalah mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, serta berjihad di jalan-Nya.
Dalil :
QS 33:36, QS 4:65, QS 24:51, S 5:35
Hadits. Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, diaberkata,"Bahwasanya Rasulullah SAW pergi melamar untuk Zaid bin Haritsah. Beliau masuk ke rumah Zainab binti Jahsy Al-Asadiyah R.A. beliau melamar Zainab. Zainab berkata,"Aku tidak mau menikahdengannya"Rasulullah bersabda,"Justru menikahlah dengannya." Zainab Berkata,"Ya, Rasulullah, apakah engaku menyuruh diriku ?"Tatkala keduanya berbincang, Allah SWT menurunkan ayat ini kepada Rasulullah SAW Zainab Berkata,"Wahai Rasulullah , apakah engkau ridha dia menikahi aku ?" Rasulullah mengiyakannya. Kemudian zainab berkata,"Jika begitu aku tidak akan menentang Rasulullah. Aku bersedia menikahinya."

3. Al-Iimaan (Keyakinan)
Penerimaan dan keridhaan terhadap ketiga unsur taqdir diatas itulah yang disebut iman yang sebenarnya. Dengan rela menerima apa yang Allah SWT tentukan bagi dirinya dan alam semesta, maka mukmin berupaya menegakkan tuntutan Allah SWT pada dirinya. Sehingga hidupnyasepenuhnya dalam bimbingan dan pimpinan Allah SWT.
Wallahu a'lam
Sumber: Al Qur'anul kariim, Al Hadits dan sumber yg lain

TANYA JAWAB
Q : Ada seorang mukmin menikah dengan non muslim... Akhirnya mukmin ini mengikuti agama pasangannya... Sampai ajal memanggil dia belum kembali memeluk islam. Apakah ini termasuk takdir? Lalu bagaimana amal ibadahnya sebelum keluar dari islam?
A
: Dia dihisab dengan amal yang terakhir, jika dalam kekufuran amal yang terdahulu habis sia-sia. Sebaliknya sepanjang hidupnya dia bergelimang dosa dan kekufuran, namun saat ajal menjemput dia dalam posisi bertobat dan beriman, maka ia dg rahmat allah masuk surga...wallahu a'lam.

Q : Ada akhwat menikah dengan mualaf, ketika sudah mempunyai anak 5,
 dan masih kecil-kecil, suaminya mengajak ke agamanya. Bila tidak mau akan dicerai. Maka dengan terpaksa si istri murtad. Lalu si suami meninggal dan si istri itu kembali lagi ke islam bersama anak-anaknya..Bagaimana itu tadz?
A : Tidak ada kata terlambat dalam taubat, hingga ruh sampai di kerongkongan,  taubatan nasuha : rasa menyesal yang dalam dengan istighfar, dan berazam kuat tidak pernah lagi mengulanginya...in syaa Allah, dia dan anak anak diampuni dan selamat dalam ke islaman.

Q : Ustadz, apa beda nya ridho dengann ikhlas ?
A : Ridho adalah menerima ketentuan Allah. Ikhlas adalah beramal dengan hanya berharap kepada Allah. Sering salah di kita, ketika dizhalimi, atau misalnya ditipu, terus kita bilang saya ikhlasin aja dah. Walaupun tidak 100% salah, yang lebih tepat sbenarnya saya Ridho. Ridho juga bermakna rela terhadap takdir Allah.

Q : Kalau misalnya temen ada yang ngutang, terus temen ga bayar-bayar, ntah ga inget atau sengaja. Karena segan mau mintanya, jadi kita mau ikhlasin aja. Apa iya harus di akad kan juga? Pernah denger katanya kita harus bilang ke temen itu kalau kita udah ikhlasin. Tapi dianya aja ga ada ngontak, kayaknya rada ga enak tiba-tiba bialaang udah ikhlas sm utang kemarin. Hehe
A : Kalau sudah diridhokan utangnya ga usah dibayar, ya sudah relakan saja. ga perlu bilang gpp.

Q : Itu nmanya ridho ya ustadz? bukan ikhlas? Hehe
A : iya, kan diRELAkan. rela itu artinya ridho

Q : Ustadz maksud dari QS Albaqarah 216 menjual dirinya karena mengharap keridhaan allah, menjual diri seperti apa?
A : Menjual diri maksudnya mengorbankan dirinya. Makna menjual diri kepada Allah adalah mengorbankan jiwanya demi ketaatan kepada Allah. Contohnya adalah: ulama yang menghabiskan usianya untuk mengkaji dan menyebarkan ilmu islam dan berdakwah, mujahid palestina yang berperang membela agama Allah, atau ketika seseorang berusaha mati-matian meninggalkan riba misalnya, maka ia pun telah berkorban demi ketaatan kepada Allah. Intinya setiap pengorbanan dalam ketaatan kepada Allah termasuk ke dalam makna tersebut. wallahu a'lam.

Q : Ustd mau tanya lagi mengenai ikhlas ust. Kata nya Kalo ikhlas itu kagak boleh diucapin ya ust?
A : Enggak. ikhlas itu amalan hati. Diucapkan atau tidak, tidak berpengaruh. selama hatinya benar.

Q : Misalnya ada yang kasih kita uang sebab uda kita tolong, trus kita bilang "gpp, saya ikhlas kok ". Pernah ada yang bilang, Kalo nilai ikhlas jadi hilang Kalo dibilang gitu ya?
A : Klo gitu tanya yang bilang aja, tidak ada dalil yang mengatakan demikian. Ikhlas itu amalan hati, bukan amalan lisan. Jika dengan mengatakan "ikhlas" jadi timbul riya dalam hati, tentu akan merusak keikhlasan kita. Tapi tidak serta merta, setiap orang ngomong ikhlas berarti ikhlasnya rusak. Semua kembali pada hatinya.


Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Moga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ




Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment