Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

HAK - HAK TETANGGA DALAM ISLAM

Di antara hal-hal yang juga perlu diingatkan dan banyak dilalaikan adalah hak-hak tetangga. Sudah dimaklumi, seorang anak Adam tidak bisa hidup sendiri dan merasa susah bila sendiri. Manusia sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi dengan yang lain untuk memenuhi kebutuhan dan mendapatkan kemaslahatannya.

Kehidupan sosial ini memuntut adanya tetangga yang hidup disekitarnya yang sangat mempengaruhi kenyamanan hidup bermasyarakat. Oleh karena itu di antara kenikmatan dunia yang terbesar adalah apabila Allah mempertemukan Anda dengan tetangga yang baik. Sebaliknya, jika Allah telah menentukan kehidupan yang tidak enak atas diri Anda, maka Ia akan memberikan kepada Anda tetangga yang jahat yang tidak mau menutupi kekeliruan Anda, tidak mau memaafkan kesalahan Anda, dan tidak pula bersikap toleran kepada Anda. Siang dan malam ia selalu membuntuti untuk mencari kesalahan Anda.

Asiyah, istri Fir'aun ketika menjelang wafat mengatakan sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur'an, "Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah." (QS. at-Tahrim: 11) Kata Ibn al-Qayyim, "Lihatlah, bagaimana ia meminta tetangga dahulu sebelum rumah."

Orang Arab mengatakan, "Tetangga dulu, baru kemudian rumah. Janganlah engkau tempati sebuah rumah, kecuali setelah tahu siapa tetangganya."

Karena urgensi tetangga ini Islam memberikan perhatian dan mengatur hak-hak mereka agar bisa sinergi dan dinamis kehidupan kita.

SIAPAKAH TETANGGA ITU?

Tentunya sangat perlu sekali mengenal siapa tetangga kita. Para ulama berselisih pendapat tentang batasan tetangga. Sebagian mengatakan tetangga adalah ‘orang-orang yang shalat subuh bersamamu’, sebagian lagi mengatakan ’40 rumah dari setiap sisi’, 10 rumah dari tiap sisi’ dan beberapa pendapat lainnya. (Lihat Fathul Baari, karya Al-Imam Ibn Hajar Al-Asqolany: 10 / 367)

Akan tetapi pendapat yang rajih wallahu a’lam, sebagaimana yang dikatakan Syaikh Al-Albani rahimahullah bahwa batasan tetangga adalah sesuai ‘urf” (yakni sesuai adat masyarakat setempat) (lihat: Silsilah Ahadits Dha’ifah, 1/446).

Sebagaimana dikatakan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah:”Telah datang beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa tetangga adalah empat puluh rumah dari semua sisi. Dan tidak diragukan lagi bahwa yang menempel dengan rumah kita adalah tetangga, dan adapun yang selain itu, jika riwayat-riwayat tersebut shahih dari Nabi rahimahullah maka diberlakukan hukumnya (hukum tetangga), dan jika tidak maka hal ini (batasan tetangga) dikembalikan ke ‘urf (kebiasaan). Maka (batasan) apa saja yang dianggap oleh masyarakat sebagai tetangga maka ia adalah tetangga.” (Syarh Riyadhus Shalihin; 1/364)

URGENSI TETANGGA

Allah berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” QS. An-Nisa [4]: 3

KEDUDUKAN TETANGGA

Islam memandang tinggi kedudukan tetangga. Ini dapat di lihat dari:

1. Tetangga menjadi sebab kebahagiaan atau kesengsaraan seorang hamba. Demikian besarnya peran tetangga dalam memudahkan munculnya kebahagian pada diri kita, sehingga Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ؛ وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ: الْجَارُ السُّوْءُ، وَالْمَرْأَةُ السُّوْءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوْءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ

“Empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan seseorang: tetangga yang jelek, istri yang jelek, kendaraan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 1232. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib, Shahih Mawarid Al-Zham’an: 1033)

2. Persengketaan pertama yang akan diadili pada hari kiamat adalah sengketa antar tetangga.

Ini juga perkara penting yang menunjukka kedudukan tetangga dan pengaruhnya kepada kita. Sahabat Uqbah bin Amir radhiyallahu'anhu menyampaikan bahwa Nabi shallallahu'alahi wa sallam bersabda,

أَوَّلُ خَصْمَيْنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جَارَانِ

sengketa antara dua orang yang pertama diputuskan pada hari kiamat adalah sengketa dua orang bertetangga. (HR. Ahmad, Shahih Al-Jami’: 2563)

3. Tetangga menjadi saksi atas baik atau buruknya seseorang.

Rasulullah shallallahu'alahi wa sallam bersabda:

إِذَا قَالَ جِيرَانُكَ: قَدْ أَحْسَنْتَ، فَقَدْ أَحْسَنْتَ، وَإِذَا قَالُوا: إِنَّكَ قَدْ أَسَأْتَ، فَقَدْ أَسَأْتَ

“Jika tetanggamu berkomentar, kamu orang baik maka berarti engkau orang baik. Sementara jika mereka berkomentar, engkau orang tidak baik, berarti kamu tidak baik.” (HR. Ahmad 3808, Ibn Majah 4223 dan dishahihkan Al-Albani, Shahih Al-Jami’: 610).

4. Menyakiti tetangga salah satu penyebab seseorang masuk neraka.

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِيْ النَّارِ قَالَ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنَ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِيْ الْجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah beliau berkata seseorang telah bertanya kepada Rasulullah: fulanah diceritakan memiliki shalat, puasa dan shodaqoh yang banyak, tetapi dia mengganggu tetangganya dengan lisannya. Beliau menjawab: dia di neraka. Lalau bertanya lagi: wahai Rasulullah si fulanah diceritakan memiliki puasa dan shodaqoh serta shalat sedikit. Dia bershodaqoh sedikit dari tepung gandum dan tidak mengganggu tetangganya dengan lisannya. Beliau menjawab dia di syurga. (Riwayat Ahmad 2/440 dengan sanad yang shohih. Lihat Huququl Jaar Fi Shohihis Sunnah wal Atsar karya Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid hal. 31)

5. Berbuat baik kepada tetangga adalah wasiat Malaikat Jibril  'alahis salaam kepada Nabi.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu'anha, Nabi shallallahu'alahi wa sallam menuturkan,

مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Jibril selalu berpesan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengira, tetangga akan ditetapkan menjadi ahli warisnya.” (HR. Bukhari 6014 dan Muslim 2624)

6. Rasulullah berlindung dari tetangga yang jelek.

Dari Abu Hurairah rahhiyallahu'anhu, Nabi shallallahu'alaihi wa sallam berpesan,

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ، مِنْ جَارِ السَّوْءِ فِيْ دَارِ الْمُقَامِ

“Mintalah perlindungan kepada Allah dari tetangga yang buruk di tempat tinggal menetap.” (HR. Nasa’i 5502 dandishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’: 2967).

JENIS TETANGGA

Dari keterangan tentang tetangga diatas maka tetangga itu ada tiga macam:

1.  Tetangga muslim yang memiliki hubungan kerabat. Maka ia memiliki 3 hak, yaitu: hak tetangga, hak kekerabatan, dan hak sesama muslim.

2. Tetangga muslim yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Maka ia memiliki 2 hak, yaitu: hak tetangga, dan hak sesama muslim.

3. Tetangga non-muslim. Maka ia hanya memiliki satu hak, yaitu hak tetangga. (lihat: Tabshiroh Al-An-am bi Al-Huquq fi Al-Islam karya: Abu Islam hal: 145)

Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Jumat, 11 Desember 2015
Narasumber : Ustadz Kholid Syamhudi Al Bantani
Tema : Hadist
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Telegram Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala