Ketik Materi yang anda cari !!

HARTA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, December 8, 2015

Mari kita sejenak memanjatkan puji syukur kepada Allah subhanahu wata'ala yang hingga saat ini memberikan nikmat iman, nikmat islam, nikmat kesehatan dan kesejahteraan.
 ﻻَ حَوْلَ ﻭَﻻَ ﻗُﻮَّة ﺍِﻻَّﺑِﺎﻟﻠّﻪ. Sholawat serta salam bagi Nabi shalallahu 'alaihi wassalam yang telah berjasa membimbing kita hingga kita sampai pada hidayahNya.

Senang rasanya saya berada ditengah-tengah sabahat jama'ah Hamba Allah ini. Di siang hari ini saya ingin mengangkat topik diskusi tentang Harta. Sesuatu yang pasti membuat kita suka dan tertarik jika memilikinya.

Pada prinsipnya memiliki harta adalah boleh-boleh saja, menggunakannya seperlunya juga tidak dilarang oleh Agama. Hanya saja sebagai hamba yang beriman kepada Allah subhanahu wata'ala kita harus mengikuti aqidah yang benar dalam menerima dan memanage harta yang kita miliki agar selalu sesuai dengan aturan Agama. Artinya ada 2 hal yang harus kita perhatikan dalam memandang Harta (material) duniawi, Yakni :

Secara Aqidah &
Secara Syariat

Secara singkat pemahaman tentang beraqidah yang benar dalam memange harta adalah :

1. Meyakini bahwa segala bentuk harta kekayaan kita adalah Allah yang telah menurunkannya.

2. Semua harta kita bukanlan milik kita yang sepenuhnya bisa kita perlakukan (belanjakan) semau kita.

3. Demikian juga perlunya memahami Aqidah bahwa ketika diri kita atau seseorag mengalami kesempitan dalam hal Harta, maka kita harus meyakininya sebagai perbuatan Allah pula lah yang telah berkehendak menyempitkannya.

3 Aqidah atau keyakinan diatas harus benar-benar terpatri pada diri kita, sehingga dalam keadaan banyak atau sedikitnya harta yang ada ditangan kita harus kita kembalikan atau harus selalu memgingatkan kita bahwa itu adalah pemberian (karunia) Allah subhanahu wata'ala. Sehingga ketika berlebih kita akan bersyukur kepadaNya. Dan ketika dalam keadaan sempit pun kita akan ingat bahwa Dia lah yang telah berkehendak menyempitkannya, tidak boleh kita kemudian mengeluh apalagi kesal/tidak terima. Karena jika keimanan kita baik, tentu kita pasti akan tetap bersabar. Tetap menerima dengan kesyukuran dan berkhusnudzan kepada Allah subhanahu wata'ala.

 ۞ وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ [الشورى : 27

Artinya :
Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.
(QS. Ash-Shūraá : 27)

Ayat diatas adalah menjadi Aqidah mengapa  kita tak perlu gelisah jika sedang dalam kesempitan harta. Karena, Allah sudah mengukur berapa keperluan kita saat keperluan itu mencukupi dan membuat keadaan kita berada dalam ridhoan dihadapanNya. Artinya, jika manusia tidak mau mengerti tentang Aqidah ini, maka dia akan selalu mengeluh dengan keadaan kekurangannya. Dia juga akan selalu merasa kekurangan dari berapapun yang Allah berikan. Mengapa ? Karena aqidahnya tentang ayat diatas tipis atau bahkan tidak ada. Sehingga ia selalu menuntut harta yang ingin dia miliki sebagaimana nafsu dirinya. Tidak berfikir bahwa sedikit atau banyaknya yang dia terima sesungguhnya sudah menjadi kehendak Allah yang Dia telah ukur kebaikannya bagi kita.

 لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Milik-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS. Asy Syuraa : 12)

Sedangkan ayat 12 dari Surat Asy Syuraa tersebut diatas sudah cukup menjadi dasar Aqidah kita bahwa Allah lah yang telah berkehendak melapangkan atau menyempitkan rizki yang kita trima. ...

In syaAllah sampai disini semoga cukup jelas yaaah
Selanjutnya setelah kita menelita Aqidah kita dalam menerima harta kita...
Kita harus benar juga dalam membelanjakannya ...
Naaah inilah yang dimaksud harus sesuai syariat atau aturan dan tuntunan Islam.
Dari paparan diatas ... Sebenarnya saya ingin mengajukan suatu paparan yang menggambarkan bagaimana jika seseorang yang jatuh pada gila terhadap harta. Saya share transkrip lengkapnya yaa ...

Bijak terhadap Harta & Therapy Gila Harta
===============
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم 

✔️ Bahaya Gila Harta :
Rasulullah dalam hadist hasan shahih yang diriwayatkan oleh At Thirmidzi :

ما ذئبان جائعان أرسلا في غنم بأفسد لها من حرص المرء على المال والشرف لدينه

"Dan 2 ekor Srigala yang lapar, kemudian dilepas menuju seekor kambing, maka (kerusakan yang terjadi pada kambing itu) tidak lebih besar dibandingkan dengan kerusakan yang terjadi pada agama seorang yang diakibatkan karena gila harta." (HR.Thirmidzi)

✔️Ada 2 bentuk Prilaku Manusia yang mengidap Cinta Harta :

Pertama,
Cintanya kepada harta secara berlebihan, sebagian waktu dan tenaganya terkuras untuk mencari dan mengumpulkan harta walaupun jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang halal. Semboyan mereka, seperti :
"Waktu adalah Uang"
"Hidup untuk Bekerja" - dll.

Mereka enggan bertemu dengan seorang yang menurutnya tak akan menghasilkan celah penambah incomenya.
Akibatnya :
Hatinya kelu tak biasa berfikir tentang akhirat. Karena harta dan kemewahan duniawi telah memenuhi hatinya.
Keadaan inilah seperti yang disebutkan dalam Qur'an :
"Adapun orang-orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya neraka tempat tinggalnya." (QS. An Nazi'at : 37 - 39)
Kedua,
Kecintaan seseorang terhadap harta secara berlebih-lebihan. Dia menuntut orang lain untuk mencari dan menghimpun harta baik secara halal maupun yang haram dan menahan hak-hak yang wajib dia serahkan kepada orang lain. Apabila penghasilannya dirasa kurang cukup maka dia tidak ragu untuk mengambil cara-cara yang haram. Kunci mereka adalah menempuh segala cara untuk mendapatkan harta incarannya.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam telah menyebut fenomena ini dalam hadist beliau :

عن أبي هريرة - رضي الله عنه - أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال:((يأتي على الناس زمان لا يبالي المرء ما أخذ منه، أمن الحلال أم الحرام))؛ رواه البخاري.

"Akan datang pada manusia satu zaman, seorang tidak perduli darimana dia memperoleh harta, apakah dari jalan halal atau haram." (HR. Bukhari).

Bagaimana agar diri kita bijak terhadap nikmat yang Allah berikan yang berupa Harta (kekayaan). Sehingga kita tidak sampai diperbudak syetan sebagai pecinta Harta :

1. Ingatlah bahwa hidup didunia ini hanya sementara. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala , yang artinya :
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Al Hadid : 20).
2. Perbanyak ingat Kematian.
Perhatikan firman Allah subhanahu wata'ala yang artinya :
“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya balasan atas kalian akan disempurnakan kelak pada hari kiamat. Barangsiapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah beruntung. Tidaklah kehidupan dunia itu melainkan kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran : 185).
3. Janganlan mencintai kehidupan Dunia daripada kehidupan Akhirat. Karena kehidupan Dunia adalah Fana sedang kehidupan Akhirat adalah Kekal. Memilih kebahagiaan yang Fana daripada yang Kekal adalah suatu kenaifan. Perhatikan Firman Allah subhanahu wata'ala yang artinya :
"Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia serta perhiasannya maka Kami akan sempurnakan bagi mereka balasan atas amal-amal mereka di dunia itu dalam keadaan mereka tidak dirugikan sama sekali. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan balasan apa-apa di akherat kecuali neraka, lenyaplah sudah apa yang dahulu mereka perbuat di sana, dan sia-sia amal yang dahulu mereka lakukan.” (QS. Hud: 15)
4. Berfikirlah dengan hati bersih, ingatlah bahwa sesungguhnya sebagian besar kebahagiaan dunia yang berasal dari unsur Harta adalah melalaikan dan menjerumuskan manusia kepada kekufuran terhadap nikmat dan juga kelalaian dalam beribadah. Ketika nikmat harta yang Allah ta'ala izinkan untuk dimiliki manusia tidak menjadikan dirinya semakin bersyukur dan semakin kuat keimanan hati dan amal ibadahnya, maka bisa dipastikan bahwa Harta itu akan membawa dirinya ke jalan-jalan bencana bahkan kehancuran.
Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya, “Bukanlah kemiskinan yang kukhawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi sesungguhnya yang kukhawatirkan menimpa kalian adalah ketika dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian sehingga kalian pun berlomba-lomba untuk meraupnya sebagaimana dahulu mereka berlomba-lomba mendapatkannya. Dan dunia mencelakakan kalian sebagaimana dulu dunia telah mencelakakan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Selalu mengingatkan diri sendiri agar tidak menjadi budak syetan. Karena setiap ketertarikan diri terhadap Harta secara berlebihan berarti membuka jalan-jalan syetan masuk kedalam diri kita dan memperbudak kita hingga menjadi pemuja harta. Jika kondisi seperti ini sudah terjadi maka kepuasan terhadapa berapa pun harta yang diperoleh tak akan pernah memghasilkan kepuasan.

Rayuan Syetan selalu berhasil memperdaya seseorang yang punya penyakit gila harta.
Sebagaimana Sabda Rasulullah yang artinya :
"(Syetan berkata), "Pemilik harta tidak akan selamat dari salah 1 diantara 3 godaanku. Aku akan mendatanginya dengan membawa ketiga godaanku, Pertama, agar ia mendapatkan harta melalui jalan yang tidak halal, Kedua, agar ia membelanjakan hartanya di jalan yang tidak benar, Ketiga, agar dia mencintai hartanya hingga dia menahan hak hartanya." (HR. Ath Thabrani).
Demikian diantara Therapy yang insyaAllah bisa meredam diri untuk menahan kecintaan terhadap harta secara berlebihan. Islam tidak melarang seorang Muslim berihtiar mencari harta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Akan tetapi jika sudah berlebihan porsi kecintaannya maka hal ini akan menjadi suatu kehinaan.

Dari pencerahan diatas, maka seharusnya kita telah memiliki banyak catatan hati agar terhindar dari berbagai keburukan cinta harta yang berlebihan. Adapun 3  hal yang sebaiknya kita terapkan ketika mengelola harta :

1. Memandang Harta sebagai karunia Nikmat dari Allah.
Kesyukuran kita harus terus bertambah seiring dengan bertambahnya nikmat harta yang Allah subhanahu wata'ala limpahkan kepada kita.

2. Memandang Harta sebagai obyek Ujian dari Allah.
Jika harta terus ditambah oleh Allah subhanahu wata'ala maka jangan membuat kita lengah.

3. Memenuhi hak-hak Harta, yakni untuk disalurkan dijalan Allah dan dijauhkan dari sikap pembelanjaan yang justru bermaksiat kepadaNya.
Diantara hak-hak harta adalah untuk dibersihkan melalui zakat, dimanfaat sebagai pemberian nafkah yang utama bagi orangtuanya, anak dan istri, kerabat dekat dan orang-orang mukmin yang sedang memerlukan pertolongan serta bagi hewan ternak yang dipeliharanya. Serta untuk menyokong perjuangan dakwah Islam.
~~~~~~~  وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ  ~~~~~~~

Akhir kata ... Semoga kita semua, terselamatkan dari fitnah harta yang mungkin bisa jadi dalam suatu kondisi akan sangat menggiurkan kita. Jika kita diberi banyak maka bertambahlah kesyukuran kita baik dari keimanan, amal sholih dan pembelanjaannya dijalan Allah. Sedangkan jika sedikit yang kita terima maka bersabarlah, dan terimalah dengan ihlas seraya terus berprasangka baik kepada Allah, beginilah cara Allah ta'ala melindungi kita dari fitnah yang lebih buruk. Terus taat dan istiqomah dalam keimanan yang bersih dan ihlas kepada Allah subhanahu wata'ala.
In syaAllah kita akan selamat.
Billaahi taufiq wal hidayah
والسلام عليكم ورحمةاللّٰه وبركاته

TANYA JAWAB

Pertanyaan M02

1. Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam telah menyebut fenomena ini dalam hadist beliau :

عن أبي هريرة - رضي الله عنه - أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال:((يأتي على الناس زمان لا يبالي المرء ما أخذ منه، أمن الحلال أم الحرام))؛ رواه البخاري.

"Akan datang pada manusia satu zaman, seorang tidak perduli darimana dia memperoleh harta, apakah dari jalan halal atau haram." (HR. Bukhari). Tentang Hadits diatas masa itu telah datang atau masih bisa dihindari?
Jawab :

بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Jelas bisa sayang. Seperti kita lihat hari ini. Ketika kehidupan manusia sudah banyak terprofokasi pada kegilaan atau kerakusan terhadap harta kekayaan sehingga tatanan hidup penuh benturan sistem persaingan yang ketat. Manusia berlomba-lomba mengalahkan satu sama lain untuk mendapatkan yang lebih banyak hingga ia tak lagi memperdulikan masalah halal haram. Tetapi banyak juga mereka yang zhud kepada dunia, berhati-hati dalam memperoleh harta baik dalam urusan mencarinya maupun membelanjakannya ia tetap berpegang pada aturan Agama Islam. Maka mereka itulah yang selamat.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M03

1. Benarkah islam membenarkan kita untuk mencari harta berkah agar kita mempunyai kekuatan untuk membantu muslim lain yang membutuhkan? gimana pendapatnya?
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Saya setuju sekali dengan pendapat itu. Karena jika dilihat dari kehidupan para sahabat Rasulullah ﷺ mereka yang dekat dengan Rasulullah ﷺ adalah pada saudagar yang kekayaannya berlimpah, seperti Abu Bakar As Shiddiq, ra , Ustman bin 'Affan dan 'Abdurrahman bin 'Auf mereka sudah kaya tetapi tidak juga berhenti berdagang... Mengapa, karena dengan hasil perdagangan, mereka bisa membantu perjuangan Rasulullah ﷺ dan juga menolong kaum Muslimin yang membutuhkan. Demikian ...   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

2. Membahas tentang harta, ketika seseorang telah bekerja dan penghasilan tetapnya itu diatas 1jt namun dibawah 1,5jt apakah termasuk wajib zakat penghasilan? Atau diniatkan sedekah bila mendapat rezeki lebih dari sebagian harta yang didapatkannya karna dapat dikatakan untuk memenuhi kebutuhan perbulannya pun pas pasan?
Jawab :

Jika nilai segitu dan itupun tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup maka ybs tidak termasuk muzaki (orang yang wajib mengeluarkan zakat). Karena nilai tersebut belum masuk nishab zakat. Jika ia tetap ingin mengeluarkan maka sifatnya shodaqoh dan tidak harus 2,5% dan tidak pula harus memenuhi haul.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب 

Pertanyaan M05

1 اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ustadzah
"Diantara hak-hak harta adalah untuk dibersihkan melalui zakat"

Ibu saya punya warisan 2 bidang sawah dan kebun yang amat luas di padang, d karenakan kita semua domisili jakarta, dari dulu semua sawah dan kebun di serahkan pengerjaan-ny kepada sanak saudara di kampung tanpa ibu menerima hasilnya 1 rupiah pun. Yang saya tanyakan: wajib kah ibu saya mengeluarkan zakat untuk 2 petak sawah dan kebun itu ustadzah? karena semua hasil tidak pernah ibu terima?
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Saya kira pembebanan kwajiban zakat tentu melekat pada pihak yang memanfaatkan tanah tersebut. Apalagi jika harta waris berupa tanah garapan tersebut tidak disewakan. Akan tetapi keluarga Ahli waris wajib mengingatkan penggarap tanah tersebut untuk mengeluarkan zakatnya. Agar ia tidak lalai. Dan jika harta tersebut dalam keadaan dikuasakan kepada pihak lain - sementara tidak ada upaya dari ahli waris untuk segera membaginya maka ini juga sudah merupakan kesalahan juga. Saran saya pihak ahli waris (istri dan anak2nya) harus segera mengurus pengembalian penguasaan tanah tersebut kepada keluarga ahli waris. Untuk kemudian segera dibagi secara hukum Islam.
Pembagian bisa dilakukan secara de jure dulu , artinya pelaksanaan pembagian waris tetap dilaksanakan sehingga masing2 ahli waris mengetahui porsi bagian mereka. Sedangkan untuk penyerahannya silahkan siatur bagaiamana baiknya. Sesuai kesepakatan. Perintah pembagian waris sesuai dengan hukum islam ini tidak bisa diremehkan. Karena mentaati hukum-hukum Allah adalah suatu kwajiban Muslim.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

2. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته. saya mau bertanya tentang pembagian warisan juga ustazah. Seorang bapak meninggal dengan meninggalkan 1 istri dan 1 anak laki 4 anak perempuan. Ada pula 6 orang anak tiri dari ibu yang berbeda.
a. Bagaimana hak waris secara syar'i bagi istri dan 5 anak anak kandungnya
b. Bagaimana hak waris anak tiri Tsb.      nb ; ibu tiri tsb sdh meninggal.
c. Bagaimana cara kita memperbaiki diri bila selama ini sudah terlanjur berhutang????
Jawab :


بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Anak tiri tidak dapat bagian waris, tetapi keluarga keluarga istri yang satu lagi beserta anak-anak bisa memberikan sebagian dari harta warisan bapak mereka uuntuk tetap menjalin silaturrahim. Sedangkan bagian bagi istri 1/8 sisanya buat anak-anaknya dengan perbandingan 2 banding satu antara anak laki dan anak perempuan. Berhutang dibolehkan, apalagi kalo memang sedang mebutuhkan,  tentu harus dengan niat yang kuat untuk membayarnya dilain waktu. Tetapi tidak dianjurkan juga (untuk berhutang) - karena akan membuat hati resah dan gelisah. Kalaupun sudah terlanjur berhutang, tentu harus berniat kuat dan berusaha untuk membayar. in syaa Allah jika  kita berniat kuat utk membayar dan berdoa sebagaimana yg diajarkan Rasulullah, Allah akan memampukan kita untuk melunasinya.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب 

Pertanyaan M07

1. Seringkali kita ingin memanjakan anak kadang kalo anak meminta sesuatu terus kita tidak bisa memenuhi keinginannya,ada rasa menyesal karena tidak bisa membelikan. Apakah ini juga termasuk godaan harta? Dilain pihak kita ingin membelikan dilain pihak ada kepentingan yang lain namun 2 hal pilihan ini sering bergejolak di dalam hati. Bagaimana menyikapinya ?
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Dalam hal ini sebagai orang tua kita harus cerdas dan bijaksana. Teliti dulu seberapa urgent permintaan anak tersebut. Kemudian sejauh mana manfaatnya dan juga pikirkan Mudhafatnya. Karena terkadang karena anak masih kecil tidak faham kerepotan orang tuanya. Kemudian mereka juga tak tahu apakah yang diminta tersebut prioritas atau tidak. Perhatikan terutama jika barang tersebut jika dibelikan akan menambah anak taat kepada Allah dalam memjalankan kwajibannya atau justru kemungkinan besar akan melalaikannya. Dan seterusnya.


Sehingga dengan berbagai pertimbangan tersebut kita akan dapat mengambil kesimpulan mana yang terbaik. Sebaiknya anak harus diberi pengertian agar faham juga masalah hal seperti ini. Karena hal ini juga bagian ilmu yang insyaAllah akan bermanfaat untuk dirinya kelak ketika dewasa.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M10

1. Bagaiman agar kita tidak termasuk orang yang gila harta? Karena kebanyakan orang kalo sudah dapat rejeki Misal punya sepeda pingin motor, puny motor pingin mobil. 
Jawab :
a. بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم . Ingatlah bahwa hidup didunia ini hanya sementara. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala , yang artinya :
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Al Hadid : 20).
b. Perbanyak ingat Kematian.
Perhatikan firman Allah subhanahu wata'ala yang artinya :
“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya balasan atas kalian akan disempurnakan kelak pada hari kiamat. Barangsiapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah beruntung. Tidaklah kehidupan dunia itu melainkan kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran : 185).
c. Janganlan mencintai kehidupan Dunia daripada kehidupan Akhirat. Karena kehidupan Dunia adalah Fana sedang kehidupan Akhirat adalah Kekal. Memilih kebahagiaan yang Fana daripada yang Kekal adalah suatu kenaifan.
Perhatikan Firman Allah subhanahu wata'ala yang artinya :
"Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia serta perhiasannya maka Kami akan sempurnakan bagi mereka balasan atas amal-amal mereka di dunia itu dalam keadaan mereka tidak dirugikan sama sekali. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan balasan apa-apa di akherat kecuali neraka, lenyaplah sudah apa yang dahulu mereka perbuat di sana, dan sia-sia amal yang dahulu mereka lakukan.” (QS. Hud: 15)
d. Berfikirlah dengan hati bersih , ingatlah bahwa sesungguhnya sebagian besar kebahagiaan dunia yang berasal dari unsur Harta adalah melalaikan dan menjerumuskan manusia kepada kekufuran terhadap nikmat dan juga kelalaian dalam beribadah. Ketika nikmat harta yang Allah ta'ala izinkan untuk dimiliki manusia tidak menjadikan dirinya semakin bersyukur dan semakin kuat keimanan hati dan amal ibadahnya, maka bisa dipastikan bahwa Harta itu akan membawa dirinya ke jalan-jalan bencana bahkan kehancuran.
Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya, “Bukanlah kemiskinan yang kukhawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi sesungguhnya yang kukhawatirkan menimpa kalian adalah ketika dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian sehingga kalian pun berlomba-lomba untuk meraupnya sebagaimana dahulu mereka berlomba-lomba mendapatkannya. Dan dunia mencelakakan kalian sebagaimana dulu dunia telah mencelakakan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
e. Selalu memgingatkan diri sendiri agar tidak menjadi budak syetan. Karena setiap ketertarikan diri terhadap Harta secara berlebihan berarti membuka jalan-jalan syetan masuk kedalam diri kita dan memperbudak kita hingga menjadi pemuja harta. Jika kondisi seperti ini sudah terjadi maka kepuasan terhadapa berapa pun harta yang diperoleh tak akan pernah memghasilkan kepuasan. Rayuan Syetan selalu berhasil memperdaya seseorang yang punya penyakit gila harta. Sebagaimana Sabda Rasulullah yang artinya :
"(Syetan berkata), "Pemilik harta tidak akan selamat dari salah 1 diantara 3 godaanku. Aku akan mendatanginya dengan membawa ketiga godaanku, Pertama, agar ia mendapatkan harta melalui jalan yang tidak halal, Kedua, agar ia membelanjakan hartanya di jalan yang tidak benar, Ketiga, agar dia mencintai hartanya hingga dia menahan hak hartanya." (HR. Ath Thabrani).

Demikian diantara Therapy yang insyaAllah bisa meredam diri untuk menahan kecintaan terhadap harta secara berlebihan.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M15

1. Assalamualaikum ustadzah orang yang kaya kadang berprinsip jangan berlebihan,maka orang itu akan menjadi pelit dikit-dikit di hitung, bagaimana sikap kita&apakah ada hadisnya.
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Untuk menjadi orang kaya itu dalam Islam tidak dilarang. Karena sebagaimana penjelasan saya terdahulu bahwa sebagai seorang mukmin kita harus meyakini bahwa sumber pemberi rizki adalah Allah subhanahu wata'ala. Yang melapangkan atau menyempitkan rizki adalah Allah. Sebagaimana ayat berikut :
42.Asy-Syūrā : 12

لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Milik-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Hanya saja kita dilarang berlebih-lebihan atau bersikap boros. Karena perbuatan boros adalah termasuk pengaruh syetan. Allah tidak suka perbuatan tersebut. Terhadap harta yang ada sebaiknya kita bersikap sejawarnya, mengambil dan memanfaatkan secukupnya saja. Atau setidaknya ada 3 bagian dari siatem mengelolaan harta kita, yakni :
- sepertiga untuk sikonsumsi (dipakai untuk keperluan hidup).
- sepertiga untuk ditabung.
- sepertiga lagi untuk modal kerja.

Pembagian diatas tentu setelah kita mengalokasikan untuk kwajiban zakat ya. Adapun kita sudah cukup dengan sejumlah sekian maka jangan terlalu dipaksakan alokasi pada 3 pos tersebut secara berlebihan. Siapkan juga untuk dana yang bisa kita siapkan untuk shodaqoh, infaq dakwah dll.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

2.  Asslmkmwrwb ustadzah mau tanya didalam harta kita ada hak org lain bagaimana akhsannya dalam pemberian harta tersebut umpamanya ketika moment idul adha ada diantara kita yang besedekah  katakanlah untuk masjid ada yang minta disebutkan namanya si fulan bin fulan tapi ada juga yang tidak karena kebanyakan kalo yang  niminalnya banyak minta disebutan namanya tapi kalo sedikit  hambah Allah saja kadang-kadang jadi omongan juga di masyarakat. Mohon pencerahannya.ustadzah..jazakillah
Jawab :
Dalam bershodaqoh itu yang penting adalah niat kita dan penjagaan kita agar serapat mungkin tidak diketahui orang lain - hal ini untuk menjaga keihlasan kita. Jikalau toh ada yang tahu juga tak mengapa, hanya saja kita harus tetap istiqomah menjaga kehilasan amal tersebut agar terhindar dari riya'. Termasuk memgenai penilaian orang lain tak perlu kita risaukan. Karena urusan ihlas berarti tidak terpancing fitnah jika ada yang mengeluarkan sindiran yang kurang enak. Biarlah dia dengan amalnya. Dan diri kita dengan Allah. Saya kira dengan demikian akan lebih aman bagi kita.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

3. Assalamualaikum uztadzah mau tanya misal kita memberi sejumlah uang dengan niat zakat pendapatan idak dihitung sesuai aturan Islam, itu bisakah disebut zakat pendapatan ustadzah?atau termasuk sedekah aja ya?  jazakillah.
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Zakat itu ada nishabnya. Jika kita hendak mengeluarkan ya sebaiknya mengacu pada aturan islam. Setidaknya telah ditetapkan 2,5% maka jangan kurang dari itu. Adapun jika lebih dari itu, maka jatuhnya shodaqoh.
  وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan  M17

1. Ustadzah, ada sebuah kisah. Fulan yang oleh Alloh diberikan kelapangan rezeki. Namun seiring dengan itu hatinya sering merasa khawatir. Dia menyadari jika semua hanya titipan dr Alloh. Dia takut dia akan lalai. Semakin dia menyadari itu, justru semakin banyak godaan yg dia rasakan. Bagaimana dgn kondisi yg seperti itu? Syukron nasehatnya?
Jawab ;


Jika seorang ingin melakukan sesuatu yang ditujukan untuk menjaga kwajiabannya kepada Allah dan mengharap ridhoNya, maka akan selalu dihadapkan pada ujian-ujian. Ujian ini adalah untuk membuktikan apakah niat ibadah dan keimanan tersebut benar2 kuat atau hanya sebatas mukut saja. Jika ujian tersebut sudah lulus insyaAllah perasaan seperti itu tidak akan terlalu menganggu dirinya apalagi sampai pada rasa takut yang berlebihan. Perlu  melazimkan dzikir dan mohon kekuatan ruhiyah serta permohonan agar hati diberikan istiqomah dalam melaksanakan ketaatan demi ketaatan kepada Allah subhanahu wata'ala.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M20

1.  Assalamualaikum ustadz, di sebuah perusahaan, karier karyawan A yang dekat dengan atasan (dekat, sering diajak karaoke, ke cafe dll) lebih cepat di banding B yang lebih kompeten. Apakah hal tersebut termasuk keadaan seperti yang dimaksud dalam QS. Ash-shuraa; 27 tersebut ustadz? Mohon penjelasan.
Jawab :
Secara umum memang kondisi yang digambarkan tersebut tampak memenuhi kriteria kecaman dari ayat tersebut. Karena jelas kondisi mereka adalah tentu dalam keadaan kelapangan harta, seharusnya rizki lebih tersebut tidak justru untuk bermaksiat tetapi untuk menambah kesyukurannya dengan meningkatkan amal sholih. Sedangkan bagi yang tidak diajak itulah yang seharusnya bersyukur, karena telah dijaga oleh Allah dari perbuatan yang tidak dibenarkan Islam.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

2. Assalamu'alaikum, bagaimana karakteristik harta yang barokah itu? Lalu bagaimana cara mengaplikasikan hemat harta tanpa harus di pandang "pelit" oleh orang lain, padahal niatan kita adalah hemat ?
Jawab :

بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Secara singkat penjelasan harta yang berkah adalah :
1. Yang menambah ketaatan kepada Allah bagi pemiliknya.
2. Menambah rasa takut dan kehati-hatian dalam beramal, selalu memperhatikan batasan-batasan syariat Islam.
3. Menambah rasa cukup mengambil seperlunya, zuhud terhadap dunia.  Tidak terpancing syetan untuk larut pada gaya hidup yang jauh dari milai-nilai Islam.
4. Membawa ketenangan hati pemiliknya.
5. Menunjukkan adanya kepalangan hati untuk menuju kepada perintah-perintah Agama.
6. Menjadi suka menuntut ilmu agama.
7. Ringan bersedekah dan menolong saudaranya yang memang layak dibantu.
8. Harta tersebut banyak bermanfaat bagi dirinya dan orang yang ada disekitarnya.
9. Harta tersebut berkembang secara materi.
10. Harta tersebut menghasilkan amal2 jariyah yang akan berbekas sebagai penghasil pahala sampai pemiliknya wafat.

Pertanyaan M21

1. Apa hukumnya bila ada seorang bapak yang sudah cerai dengan ibu tapi dia pilih kasih untuk memberi harta atau biaya sekolah anak-anaknya? Di lain pihak ibu tidak nikah lagi, bapak nikah lagi. Misal dengan gaji bapak kurang lebih 10 jt. Dan dikeluaran paling banyak 500rb buat anak-anaknya.
Jawab :
Peristiwa perceraian orangtua tidak berarti menghapus kwajiban seorang ayah menghidupi anak-anak kandungnya. Jika uang yang dikirim tersebut dalam faktanya kurang untuk mencukupi kebutuhan hidup anaknya, sementara kenyataannya sebenarnya si ayah tadi harusnya mampu mencukupinya maka tentu ia telah berbuat dzalim kepada anak-anaknya tersebut. Sebaiknya mengungkapkan kebutuhan yang riilnya kemudian sampaikan dengan cara yang baik kepada sang ayah. Jika hal ihtiar tersebut sudah dilakukan tetapi tidak juga membawa hasil, maka memohonlah rizki kepada Allah subhanahu wata'ala. Karena sesungguhnya dialah sebaik-baik pemberi rizki hambaNya. Bisa jadi keadaan ini adalah ujian semata. InsyaAllah kebaikan-kebaikan yang lain sudah Allah siapkan sebagai pengganti kesabaran atas keadaan ini.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب


2. Bolehkah kita bersikap "pelit" terhadap orang yng mau meminjam uang, memang kondisinya prihatin, tetapi setiap kali orang tersebut meminjam tidak dikembalikan. Sementara kondisi kita juga pas bukan berlebihan. Apakah kita harus qonaah terhadap harta juga?
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Boleh. Asal kita tetap punya alokasi sejumlah uang tertentu yang kita niatkan untuk menolong yang lebih membutuhkan. Namun jika keadaan orang pertama memang benar-benar memprihatinkan. Maka tolonglah dia. Jangan hitung-hitung kepadanya. Agar Allah juga tidak menghitung-hitung rizki yang hendak Ia berikan kepada kita. Sesungguhnya amal menolong (meminjami) dengan sejumlah uang adalah berat bagi yang memang keadaannya sediri tidak dalam kondisi luang. Akan tetapi jika amal tersebut dilakukan dengan keihlasan yang dalam dan hanya berharap balasan dari Allah. Maka Allah pasti akan membalas kebaikan tersebut dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Ingat bahwa , Allah subhanahu wata'ala akan menolong hambaNya selama si hamba tersebut mau menolong kesulitan saudaranya yang lain. Ingat bahwa setiap orang yang ada disekitar kita adalah ujian bagi kita. Jika kita ingin meminjami orang yang sering pinjam tak kembali maja ada dua pilihan untuk kita :
a. Tidak meminjami dengan menolak cara halus.
b. Atau meminjami tetapi dengan adanya pencatatan.

Masalah jika dikemudian hari akan kita bebaskan ya itu akan menjadi amal yang besar nilainya disisi Allah. Sebaiknya kita sering melihat keadaan orang-orang yang ada disekitar kita dan berempati kepada mereka, sehingga memiliki perasaan ringan untuk menolong. Dan juga akan menimbulkan rasa syukur kepada Allah subhanahu wata'ala karena kita diberi keadaan yang lebih baik. وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ 

Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Senin, 07 Desember 2015
Narasumber : Ustadzah Endria Sari Hastuti
Tema : Kajian Muslimah
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Whatsapp Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala
Link Bunda

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment