Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

SEHATNYA MENIKAH

Penelitian mengenai hubungan antara pernikahan dan kesehatan sebenarnya sudah dilakukan sejak awal abad 19. Hingga kini, topik ini masih tetap menarik untuk dikaji. Faedah yang coba ditonjolkan juga kian banyak, mengingat penelitian sebelumnya acap kali menunjukkan korelasi positif antara pernikahan dengan beragam sisi kesehatan yang dikaji.

Tengoklah pada sisi kesehatan mental dan imunitas tubuh. Psikolog University of Otago, New Zealand, Kate Scott mengatakan bahwa orang yang menikah memiliki daya tahan tubuh yang lebih tinggi terhadap penyakit. Melalui penelitiannya yang dipublikasikan dalam Jurnal of Psychological Medicine, disampaikan bahwa pernikahan memberikan keuntungan bagi kesehatan mental pasangan suami istri. Dibandingkan orang yang tidak pernah menikah, pasangan menikah cenderung jauh dari gangguan kejiwaaan. Kecenderungan depresi meningkat 9 kali lipat pada seseorang yang hidup sendiri. Hal senada juga diungkapkan Ross dalam penelitiannya di tahun 1990.

Dario Maestripieri, Professor di Comparative Human Development University of Chicago menemukan bukti senada lainnya. Meskipun gejolak rumah tangga mendatangkan kondisi stres tersendiri, tapi kedewasaan mental yang tertempa darinya menjadikan orang yang telah menikah lebih bijak dan stabil dalam mengarungi kehidupan.

Penelitian yang dilakukannya melibatkan 500 mahasiswa master (S2) yang diberikan serangkaian permainan komputer dengan stresor tinggi. Dari 500 mahasiswa tersebut, terdapat 40% pria dan 53% wanita yang telah menikah. Peneliti kemudian mengumpulkan sampel ludah (saliva) untuk mengukur kadar kortisol—hormon yang jika meningkat dalam kadar tertentu menunjukkan kondisi stres—sebelum dan sesudah permainan. Hasilnya, pria dan wanita yang belum menikah memiliki kadar kortisol lebih tinggi daripada yang telah menikah.

Pada jantung, Kathleen B. King, PhD, RN, dari University of Rochester, New York menyimpulkan, saat harus menjalani operasi bypass arteri koroner, peluang seseorang yang telah menikah untuk bertahan hidup 15 tahun setelahnya adalah sebesar 2,5 kali dibanding orang yang tidak menikah. Angka ini akan meningkat saat pernikahan tersebut dipenuhi kebahagiaan.

Terhadap tekanan darah seseorang, Brian Baker menemukan, kian bahagia pernikahan, potensi tekanan darah tinggi kian sedikit. Faktor tekanan darah ini juga diteliti oleh Profesor Julianne Holt-Lunstad dari Brigham Young University, di mana pria dan wanita yang bahagia dengan pernikahannya, memiliki tekanan darah lebih rendah dan stabil dibanding mereka yang hidup sendiri. Pengujian dilakukan dengan memasang alat pencatat dan pengukur tekanan darah portabel selama 24 jam yang menempel di pakaian mereka.

Uniknya, selama ini diketahui bahwa hubungan sosial juga berefek positif pada kestabilan mental. Kala hubungan sosial disertakan dalam uji tekanan darah tersebut, hasilnya tetap saja tak bisa menguatkan mereka yang sendiri bila dibandingkan dengan yang sudah menikah.

Kajian yang lebih luas dilakukan oleh dua peneliti: John Gottman, PhD dan Scott Haltzman, MD. Gottman menemukan bahwa dengan menikah kesehatan mental lebih ideal; depresi, gangguan cemas atau psikotik, dan stres pascatrauma ataupun fobia berkurang. Kesehatan fisik pun menjadi lebih baik; ketahanan infeksi, berkurangnya peluang meninggal karena kanker, sakit jantung, ataupun semua penyebab mayor lainnya.

Sementara Haltzman, profesor psikiatri dari Brown University melaporkan hasil yang identik. Senada dengan Gottman, kajiannya juga luas. Mulai dari kemampuan bertahan hidup hingga peluang lebih lama meninggal dunia. Orang yang tidak menikah, kemungkinan dirawat di rumah sakit meningkat 2 kali lipat. Saat ia mengalami gangguan jantung, peluangnya untuk hidup jika telah menikah mencapai 4 tahun lebih lama. Demikian pula dalam terapi kanker, status pernikahan memberi peluang kesembuhan 7-8% lebih baik dibanding yang tidak. Hal ini setara dengan ketahanan pada usia 10 tahun lebih muda.

Terkait peluang hidup telaah Gottman menemukan bahwa wanita yang menikah, peluang kematiannya lebih rendah 50%. Adapun pria yang berusia 48 tahun berpeluang 90% mencapai usia 65 jika telah menikah, dan berkurang menjadi 60-70% saat pria tersebut memilih untuk melajang.
(disadur dari: Ramadhani, Egha Zainur. 2012. Sehat dan Sukses Pranikah. Pro-U Media: Yogyakarta, hal 22-24)

Mohon maaf disertakan referensi, terkait legal dan etis dengan rekan penerbit.
Semoga bermanfaat.


Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Sabtu, 05 Desember 2015
Narasumber : dr. Egha Ramadhani
Tema : Kesehatan
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Telegram Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala