Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , » HAL-HAL YANG MENGUATKAN IMAN

HAL-HAL YANG MENGUATKAN IMAN

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, January 19, 2016

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Selasa, 19 Januari  2016
Narasumber : Ustadzah Azizah
Rekapan Grup Nanda M116 (Sari)
Tema : Syakhsiyah Islamiyah
Editor : Rini Ismayanti


HAL-HAL YANG MENGUATKAN IMAN


Hal-hal yang dapat menguatkan iman adalah :
1.Menuntut ilmu, yaitu ilmu yang menyebabkan bertambahnya pengetahuan dan keyakinan tentang iman (QS.35 : 28)

2.Menyimak atau mentadaburkan Al-Qur’an (QS.17 : 282)

3.Dzikir dan Fikir

4.Dzikir adalah mengingat Allah beserta sifat-sifatnya, hal-hal yang menyangkut keagungannya dan membaca kalam-Nya (QS.33 : 41, 8:4)

5.Fikir adalah aktivitas yang mengacu kepada renungan terhadap ciptaan Allah, ayat-ayat-Nya dan mukjizatnya (QS.3 : 190-191)

6.Mengikuti dan komitmen terhadap Halaqah dzikir. ” Tidaklah segolongan orang duduk seraya menyebut Allah melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, ketentraman hati turun kepada mereka dan Allah menyebut mereka termasuk ke dalam golongan yang berada disisinya.” (HR. Muslim)

7.Memperbanyak amal saleh. Dalam memperbanyak amal saleh yang harus diperhatikan yaitu :
a. Sesegera mungkin melaksanakan amal-amal saleh (QS.3 : 33, 57 : 21, 22: 90) dan hadits : ” Pelan-pelan (berhati-hati) dalam segala sesuatu adalah baik kecuali didalam amal akhirat ( HR.Abu Daud)
b. Melakukannya secara terus menerus ” Allah menyukai amalan yang walaupun sedikit tapi dikerjakan secara terus menerus (HR.Bukhari)
c. Tidak merasa bosan. maksudnya kerjakanlah ibadah sesuai dengan kemampuan ” Sesungguhnya agama itu adalah mudah dan tidaklah agama itu dikeraskan oleh seseorang melainkan justru ia akan dikalahkan. Maka berbuatlah yang lurus dan sederhana.” (HR Bukhari)
d. Mengulang amalan yang tertinggal dan terlupakan. ” Barang siapa yang tertidur hingga ketinggalan bacaan wiridnya dari sebagian malam atau dari sebaian bacaan wirid, lalu di membacanya lagi antara shalat subuh dan shalat dzuhur maka ditetapkan baginya seakan-akan ia membacanya pada waktunya. ” (HR. An-Nasai’)

8.Berharap amalnya diterima Allah dan merasa cemas jika amalannya tidak diterima Allah Swt

9.Lakukan berbagai macam ibadah. ” Barang siapa yang menafkahi dua istri dijalan Allah, maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu sorga,’ Wahai hamba Allah ini adalah baik’ lalu barangsiapa yang menjadi orang yang benyak mendirikan shalat maka ia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa menjadi orang yang banyak berjihad maka ia dipanggil dari pintu jihad. Barang siapa menjadi orang yang banyak melakukan shaum, maka ia dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Barang siapa menjadi orang yang banyak menge luarkan shodaqoh maka ia dipanggil dari pintu shadaqah.” (HR. Bukhari). Berbakti kepada orang tua adalah pertengahan dari pintu surga.”(HR Tirmidzi)

10. Dzikrul maut.” Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi) “Dulu aku melarangmu menziarahi kubur, ketahuilah, sekarang ziarahilah kubur karena hal itu dapat melunakkan hati, membuat mata menangis, mengingatkan hari akhirat dan janganlah kamu mengucapkan kata-kata yang kotor.” (HR.Hakim)

11. Mengingat akhirat, yaitu mengingat nikmatnya surga dan keras atau pedihnya neraka (QS.56 : 75, 78)

12.Bermunajat kepada Allah dan pasrah kepada-Nya. Maksudnya : memohon kepada Allah dengan ketundukkan dan kepasrahan yang sedalam-dalamnya.

13.Tidak berangan-angan secara muluk-muluk (QS.26 : 205-207,10 :45)

14.Memikirkan kehinaan dunia(QS.3 : 185) Hadits : ” Dunia itu terlaknat, dan terlaknat pula apa yang ada didalam nya, kecuali dzikrullah dan apa yang membantunya atau orang yang berilmu atau orang yang mencari ilmu.” (HR. Ibnu Majah)

15. Mengagungkan hal-halyang terhormat disisi Allah . (QS.22 : 30,32)

16.Al Wala Wal Bara artinya : saling tolong menolong dan loyal kepada sesama muslim dan memusuhi orang-orang kafir (QS.5 : 2)

17.Tawadu ( rendah hati ). ” Barang siapa menanggalkan pakaian karena merendahkan diri kepada Allah padahal ia mampu mengenakannya maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat bersama para pemimpin makhluk, sehingga ia diberi kebebasan memilih diantara pakaian-pakaian iman mana yang dikehendaki untuk dikenakannya.” (HR. Ath.Thirmidzi)

18.Muhasabah diri ( QS.59 : 18)

19.Doa (QS.2 : 186)

TANYA JAWAB

Q : Bunda, saya mau tanya jika kita sedang haid bolehkah kita masuk ke dalam masjid dalam rangka mengikuti majelis ilmu? Apakah boleh wanita duduk dalam masjid saat haid?
A : 1. HUKUM
Hukum yang dipegang oleh kebanyakan ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafie, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal ialah haram bagi wanita haid duduk di dalam masjid.
Pendapat Imam Dawud Zahiri, Imam Muzani, Ibn Hazim Zahiri serta beberapa orang lain lagi pula ialah diharuskan.
DALIL YANG MENGHARAMKAN:
Dalil mereka yang mengharamkan ialah dua hadis Nabi saw:
Pertama: Hadis `Aisyah radiyallahu `anha
جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوُجُوهُ بُيُوتِ أَصْحَابِهِ شَارِعَةٌ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ وَجِّهُوا هَذِهِ الْبُيُوتَ عَنْ الْمَسْجِدِ ثُمَّ دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَصْنَعْ الْقَوْمُ شَيْئًا رَجَاءَ أَنْ تَنْزِلَ فِيهِمْ رُخْصَةٌ فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ بَعْدُ فَقَالَ وَجِّهُوا هَذِهِ الْبُيُوتَ عَنْ الْمَسْجِدِ فَإِنِّي لَا أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلَا جُنُبٍ
Maksudnya: “Nabi saw datang ke Masjid Nabawi. Di kala itu muka pintu rumah para sahabat Nabi saw bersambungan dengan Masjid Nabawi. Baginda lantas bersabda: “Palingkan rumah-rumah kamu ke arah lain daripada masjid” Kemudian baginda memasuki masjid. Orang ramai belum mengambil apa-apa tindakan pun kerana mengharapkan agar turun kepada mereka kelonggaran. Setelah itu baginda keluar bertemu mereka. Baginda lantas bersabda lagi: “Palingkan rumah-rumah kamu ke arah lain daripada masjid, kerana sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid ini untuk perempuan haid dan orang yang berjunub” [1]

Kedua : Ummu Salamah radiyallahu `anha.
دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَرْحَةَ هَذَا الْمَسْجِدِ فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ إِنَّ الْمَسْجِدَ لَا يَحِلُّ لِجُنُبٍ وَلَا لِحَائِضٍ

Maksudnya: “Baginda saw masuk ke pintung gerbang masjid lalu menyeru dengan suara yang lantang: “Sesungguhnya masjid ini tidak halal untuk perempuan haid dan orang yang berjunub.” [2]

Kedua-dua hadis di atas menunjukkan bahawa perempuan haid dan orang yang berjunub lelaki atau perempuan tidak boleh duduk di dalam masjid.
Adapun melintasinya kebanyakan ulama mengharuskan dengan dua syarat iaitu ada keperluan-keperluan tertentu dan kedua diyakini masjid tidak dikotori dengan najis darah haid yang akan menitis. Dalilnya dua:

Pertama: firman Allah:
{ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ }
Maksudnya: “(jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub melainkan orang yang melintasinya.” [3]

Kedua: hadis `Aisyah yang mana baginda ketika berada di seberang sana masjid mengarahkan beliau menghulurkan kepada baginda hamparan solat. `Aisyah lalu memberi alasan bahawa beliau kedatangan haid. Nabi lantas bersabda:
لَيْسَتْ حَيْضَتُكِ فِي يَدِكِ
“Haid kamu bukan pada tangan kamu.” [4]

DALIL YANG MENGHARUSKAN:
Dalil mereka ialah kedua-dua hadis `Aisyah dan Ummu Salamah di atas adalah lemah. Dengan itu tiada dalil yang kuat yang boleh mengharamkan. Rentetan itu, hokum duduk di dalam masjid adalah kembali kepada hokum asal dalam melakukan sesuatu iaitu harus.[5]
PERBINCANGAN DALIL
Hujah yang mengatakan bahawa hadis Aisyah dan Ummu Salamah di atas adalah lemah telah dibantah oleh para ulama terkemudian antaranya Imam Syaukani. Bagi beliau kedua-dua hadis di atas samada berstatus Hasan atau Sahih dan kedua-duanya boleh dijadikan hujah dalam hokum.[6]
KESIMPULAN/HUKUM YANG DIPEGANG
Merujuk kepada soalan di atas, wanita haid yang ingin menuntut ilmu di masjid tidak boleh duduk di dalam masjid. Namun, mereka boleh berada di tempat yang tidak dikhususkan untuk solat seperti dewan kuliah yang asing yang tidak dijadikan tempat solat, tempat rehat di tingkat bawah masjid, tempat berwudu’, kawasan persekitaran masjid dan lain-lainnya.
Sekiranya ada yang ingin berpegang dengan pendapat kedua yang mengharuskan, mudah-mudahan itulah antara rahmat keluasan fiqh dan perbezaan pendapat dalam fiqh Islam. Wallahu a`lam.
[1] Hadis riwayat Abu Dawud (no 201).
[2] Hadis riwayat Ibn Majah (no 637).
[3] Al-Qur’an, surah al-Nisa’, ayat 43.
[4] Hadis riwayat Ibn Majah (no 624).
[5] Syauqani, Nayl al-Autor, juz 2, hlm 94
[6] Ibid, hlm 95.
RUJUKAN
1. Fatawa Lajnah Daimah li al-Buhuth al`Ilmiyyah wa al-Ifta’, juz 8, hlm 284.Fatwa no 5167.
2. Himpunan Fatawa dan Tulisan Syeikh Ibn Baaz, juz 10, hlm. 221.
3. `Azim Aabadi, `Awn al-Ma`bud.
4. Syauqani, Nayl al-Autor

Q : Mau tanya bgamana cara nya biar selalu bisa istiqomah ???
A : Adapun kiat kiat untuk istiqomah:
1. Selalu menjaga kesucian fitrah dan jiwa : QS :'as syam : 7-9
2. Membangun rasa cinta pada semua kebaikan dan ajaran rasulullah saw
Ali Imran: 31
3.  Menanam sikap ikhlas dalam menghambakan diri pada Allah swt
Al bayyinah: 5
4. Mengetahui langkah langkah syetan dan menghindari dari mengikutinya ( QS: Annur dan al araaf )
Adapun langkah langkah syeithan yaitu :
A. Menghembuskan sifat buruk seperti takabur, hasad dan riya.
B. Menghadang semua langkah kebaikan.
C. Menipu dan merusak cara pandang kehidupan
D. Mendatangi dengan berbagai macam cara

Q : Bund, bagaimana cara menghindari kebosanan dalam beribadah? Syukron
A : Kebetulan ini bunda punya artikel yang bunda save tentang mengatasi kebosanan.
Cara Mengatasi Malas BeriBadaH !!!
Asy-Syeikh Al Munawar Abdul Kabir bin Abdullah Bahmid bertanya : “Apakah obat bagi orang yang merasa berat untuk melakukan kebaikan dan cenderung memperturutkan hawa nafsu, meskipun ia mencintai kebaikan dan para pelakunya serta membenci kejahatan dan para pelakunya ?”
Habib Abdullah Al Hadad ra menjawab : Ketahuilah bahwa malas beribadah dan cenderung memperturutkan hawa nafsu ini dapat disebabkan oleh empat hal :
1.Kebodohan, cara mengatasinya adalah dengan menuntut ilmu yang bermanfa’at.
2.Lemah iman, Cara mengobatinya dengan bertafakkur mengenai kekuasaan Allah di langit dan di Bumi serta tekun beramal Saleh.
3.Panjang angan-angan, cara mengobatinya dengan mengingat mati dan menyadari bahwa kematian dapat datang setiap saat.
4.Makan sesuatu yang syubhat, cara mengatasinya adalah dengan bersikap wara’ dan sedikit makan.
Siapa yang berhasil menghilangkan penyakit-penyakit itu dengan menerapkan pengobatan tadi, maka :
Ia tidak akan mudah merasa bosan dalam beribadah dan beramal saleh setiap waktu.
Ia tidak akan memperturutkan hawa nafsu dan tidak terlalu mengejar kenikmatan duniawi.
Janganlah mengharapkan kenikmatan ibadah pada tahap awal perjuangan, sebab hal itu tidak mungkin dapat dicapai sebelum seseorang benar-benar bermujahadah. Begitulah sunatullah :
Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan perubahan pada sunatullah (Al-Ahzab, 33:62).
Tahap awal perjuangan adalah menjauhi hal-hal yang diharamkan syariat, mengendalikan hawa nafsu dan memaksanya untuk taat kepada Allah. Semua itu akan terasa berat dan sulit. Apabila Allah Ta’ala telah mengakui kesungguhan hati dan ketulusan niat untuk menyucikan jiwa dan kelurusan budinya, maka saat itulah Allah akan melindungi orang itu dan meliputinya dengan luthf-Nya yang tersembunyi, sehingga dalam beribadah dan beramal, ia dapat merasakan kenikmatan dan kelezatan yang tiada tara, kenikmatan yang tidak akan membuatnya lalai lagi dari Allah. Sebaliknya, ia akan merasakan kepedihan yang dalam ketika bermaksiat, karena orang yang telah memiliki nafsu muthmainnah merasa heran ketika melihat sebagian manusia durhaka kepada Allah Ta’ala, padahal dalam ketaatan terdapat perasaan nyaman, kelapangan dada dan kenikmatan.
Orang-orang durhaka melakukan maksiat dan memperturutkan syahwat, padahal dalam kemaksiatan itu tersembunyi perasaan sedih, duka dan ketidak tentraman. Orang yang sudah mencapai tingkat nafsu muthmainnah menyangka bahwa orang lain tentu juga telah mencapai dan merasakan apa yang ia rasakan.
Kemudian setelah ia mawas diri dengan mengingat kembali segala yang pernah ia rasakan sebelumnya, yaitu ketika ia mengecap berbagai kenikmatan dalam memperturutkan hawa nafsunya, yaitu ketika ia merasakan pahit getirnya ketaatan, maka barulah ia sadar, bahwa ia tidak sampai ketingkatnya sekarang ini melainkan setelah melalui perjuangan panjang dan inayah yang banyak dari Allah Swt. Sehingga ia tidak akan tergoda dan tertipu oleh nafsunya.
Allah berfirman : “Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki”. (Al Jum’uah 62 :4)
Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridloan kami benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami”. (Qs. Al Ankabut 29:26)
(An-Nafaisul Uluwiyah 23-24)

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Terbaru