Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

HATI YANG HIDUP DAN HATI YANG LALAI

 بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Alhamdulillah ... 
Wasyukurillah ...
Terimakasih kepada seluruh pengurus kajian HA yang semoga dirahmati Allah juga kepada segenap jama'ah HA yang semoga selalu mendapat tambahan hidayah dan keberkahan hidup. Saya ucapkan selamat siang ... Bagi yang beraktivitas semoga semua amal dan usahanya hari ini mendapat ridho Allah subhanahu wata'ala. Tak lupa mari kita ditempat masing-masing mengirimkan sholawat kepada nabi shalallahu 'alaihi wassalam yang telah menuntun kita semua ke jalan hidayah.  Jalan yang menyebabkan kita selamat di dunia ini dan insyaAllah akan aman kelak di kehidupan akhirat.

Jama'ah majelis rohimakumullah ...

Dipagi menjelang siang ini, kembali saya ingin mengajak diri saya sendiri dan kita semua kembali sejenak memikirkan tentang keadaan ruhiyah kita ... Jiwa kita. 
Bagaimana kiranya keadaannya saat ini ... ?

Berbicara hati ...
Maka tak akan jauh dari keadaan bersih dan kotor ? 
Tenang dan gelisah ...

Ketika hati dalam keadaan bersih maka bisa dipastikan kondisinya sedang tenang, jernih, mudah menerima nasihat dan semangat dalam melakukan segala amal yang berdampak kebaikan bagi dirinya. Terutama yang bisa semakin mendekatkan dirinya kepada Robb nya. Ini kaidah dasar yang harus kita fahami terlebih dahulu. Agar kita siap berdialoq dengan tema yang terkait hati, jiwa (ruh) dan kebahagiaan hakiki.

Majelis rohimakumullah ..

Senada dengan apa yang telah saya ungkapkan diatas, terkait dengan kepekaan hati mungkin kajian siang ini bisa saya ambil sebuah gambaran tema atau judul sbb :
"Sadar Dosa setiap saat, menjadi Pintu Kemuliaan Jiwa."

InsyaAllah kita akan berbicara tentang gambaran hati yang hidup dan hati yang lalai ..
Sebagaimana kita ketahui ... Seorang Mukmin memiliki karakter dan tingkat kemuliaan yang berbeda-beda, semua tergantung pada keadaan jiwanya dan amalnya. Karakter seorang Mukmin di antaranya selalu menjaga kesadarannya dalam urusan setiap tingkah laku dan pikirnya. Setiap saat menjadi berharga bagi dirinya untuk sibuk memikirkan dirinya sendiri. Bagaimana keadaannya, seberapa dekat hubungannya dengan Robb nya, dan sejauh mana kelalaian dirinya dalam urusan kewajiban agamanya. Singkat kata setiap tingkah polah jiwa dan raganya selalu menjadi bahan kesibukan dirinya untuk dipikirkan, direnungi dan selanjutnya ia perbaiki secara perlahan tetapi pasti.

Ketika seorang Mukmin bermaksiat, maka kelezatan kemaksiatannya hanya ia dirasakan sesaat waktu saja yang sangat singkat, sedangkan hakekatnya kenikmatan kemaksiatan tersebut baginya adalah suatu siksaan yang sangat memberatkan jiwanya. Sedangkan jika kita tengok keadaan orang-orang yang lalai. Maka gambarannya tentu akan sangat berbeda lagi. Keadaan orang yang terbiasa melalaikan agamanya, maka ia tidak akan perduli dengan keadaan keimanannya. Serta tidak pula ia mau mengindahkan syariat yang berlaku pada kehidupannya, biasanya mereka justru sangat menghayati kenikmatan maksiat yang ia lakukan. Dan bahkan sebagian ada yang menganggapnya sebagai suatu keadaan dimana ia merasa telah menemukan kebahagiaan.

Inilah beda orang Mukmin yang dengan orang yang lalai. Kesadaran atas dosa-dosa yang mereka lakukan sangat berbeda jauh dalam sikap penilaiannya. Kesadaran atas dosa yang kita lakukan sebaiknya selalu terjaga di setiap saat dari waktu hidup kita. Sehingga hati kita akan senantiasa hidup. Hati yang hidup bisa dipahami sebagai hati yang selalu sadar terhadap segala kejadiannya baik yang menimpa dirinya maupun apa saja yang sedang terjadi dilingkungan sekitarnya, kemudian ia menghubungkannya dengan norma nilai agama, apakah hal-hal tersebut telah sejalan dengan aturan dan kaidah-kaidah yang ada didalam Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah ﷺ ataukah menyalahinya. Dan khususnya terkait diri pribadinya ia akan selalu waspada dan bersikap kritis menjaga agar tingkah prilakunya selalu terkontrol dalam koridor yang sesuai dengan tatanan agama. Jika suatu ketika ia melalukan penyelewengan maka dua hal yang akan segera ia lakukan, banyak beristighfar nenohon ampun kepada Allah di setiap saat dan di manapun ia berada serta segera berpikir keras untuk beranjak dari kesalahannya dengan merencanakan amal-amal sholih untuk memperbaiki kesalahannya.

Itulah mengapa seorang Mukmin tak kan pernah bisa menikmati maksiatnya. Karena ketika ia mengerjakannya, jelas ia mengalami tekanan batin yang sangat dahsyat sebagai penolakan dirinya atas dasar keimanannya yang telah terbangun didalam dirinya serta ilmunya yang selama ini telah menuntunnya pada rasa takut terhadap akibat maksiat yang telah diancamkan oleh Allah. Apabila pengetahuannya sudah mengakar didalam jiwanya, sebagai penghias keimanan hatinya, maka seorang Mukmin akan merasakan kedekatannya dengan Dzat yang telah melarang perbuatan dosa langsung dari mata batinnya. Hatinya yang berilmu akan selalu setia menjadi penasihat utama jiwanya.

Kondisi penjagaan hati atas ilmu dan hidayahNya inilah yang menjaga dan menguatkan kedudukannya disini Allah hingga ia senantiasa menjadi seorang hamba yang mulia disisiNya. Penjagaan ini tentu tidak mungkin serta merta terjadi, seseorang butuh proses dalam membangun sistem kesadaran ini. Adapun setiap proses menuju ke arah kematangan jiwa sehingga memiliki sistem kesadaran/kepekaan yang tinggi terhadap segala amal prilaku adalah harus menjadi perhatian bagi seorang yang merindukan kebagiaan sejati. Dengan terjaganya diri dari noda dosa berarti memberikan jaminan kebersihan hatinya yang akan menghasilkan ketenangan bathin dan kemantapan pribadi dalam menjiwai Agama ini. Walapun semua butuh proses tetapi setiap mukmin memilki kesempatan yang sama untuk dapat mencapainya. Yang akan membedakan adalah justru terletak pada kekuatan Niat , ketahanan Mental dalam menjalani proses tersebut serta mental Istiqomah yang terpatri didalam dirinya.


Sebelum mengakiri materi kajian ini... Sebagai pesan terakhir yang ingin saya sampaikan agar setiap diri kita sebaiknya segera tersadar dan kembali menengok hati kita masing-masing ... Sudahkah kita memiliki kepekaan atau sensitivitas ketika kita melakukan sebuah maksiat (dosa) ? Jangan-jangan hati kita hanya hidup dan sibuk memikirkan dan menghitung-hitung amal kebaikan kita, lupa bahwa setiap dosa yang muncul sejatinya menggugurkan kebaikan-kebaikan yang ada. Sehingga sebaiknya jika kita selalu waspada dan sadar akan dosa-dosa kita maka pintu-pintu penyebab keruhnya hati akan segera bisa kita persempit. Syetanpun akan susah masuk kedalam diri kita. Sehingga siapa lagi yang akan mengelilingi kita. Tentu Malaikat-malaikat yang akan selalu mengiri kita dan menjadi saksi serta penjaga diri kita atas berkat izin dan bentuk ridhoNya Allah ta'ala terhadap diri kita.

Jika kondisi seperti ini bisa kita pertahankan hingga akhir hayat kita. Maka layaklah kita termasuk yang diseru Allah untuk memasuki SyurgaNya dengan jiwa yang penuh ketenangan dan kemuliaan. 
Sebagaimana firmanNya :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ  ﴿٢٧
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً  ﴿٢٨
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي  ﴿٢٩
وَادْخُلِي جَنَّتِي  ﴿٣٠


Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku
(QS. Al Fajr : 27 - 30)

Billaahi taufiq wal hidayah

والسلام عليكم ورحمةاللّٰه وبركاته

TANYA JAWAB

Pertanyaan M02 

1. Bagaimana kita mengembalikan rasa percaya kita kepada teman, jika beberapa kali kita sering dibohongi ( terutama dalam hal uang). Padahal kita sudah berusaha untuk sabar dan sabar....?! Biar kita terhindar dari rasa su'udzon...
Jawab:


بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Dalam bermuamalah tentu kita harus teliti dan berhati-hati. Jika terjadi seperti itu, mungkin yang tetap perlu dijaga adalah hubungan tali silaturahim jangan sampai terputus. Sedangkan untuk menjalin hub kerjasama yg terkait uang , stop saja. Kecuali akad kerjasama jelas dan masing2 ada sudah dapat saling percaya dan mempercayai.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M03

1. Apa saja proses yang dapat kita tempuh menuju ke arah kematangan jiwa sehingga memiliki sistem kesadaran/kepekaan yang tinggi terhadap segala amal perilaku kita? Mohon diberikan langkah-langkah konkritnya ya ustadzah.. Jazakillah khoir
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
a. Mantabkan Urusan Aqidah. Urusan Aqidah adalah urusan yang sangat penting yang harus disekesaikan terkebih dahulu sebelum kita melsngkah pada perbaikan-perbaikan urusan yang lainnya. Dalam arti konkrit pada point ini adalah : Bahwa setiao diri harus bisa memastikan bahwa Aqidah yang ia yakini adalah benar , lurus , murni sebagaimana yang dituntunkan Islam, yakni tidak berbau musyrik. Bersih dari mempersekutukan Allah dari apapun. Men-tauhidkan Allah (meng-esakan) Allah. MenyembahNya dengan ihlas dan istiqomah dalam ketaatan dalam menjalankan SyariatNya yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ sebagai manusia yang ia yakini sebagai utusan Allah yang membawa risalah Agama Islam untuk menuntun manusia menuju jalan kebenaran.

b. Setelah kita pastikan Aqidah yang kita yakini lurus, maka selanjutnya kita perlu melakukan upaya menuntut ilmu, sehingga dengan ilmu tersebut kita akan menjadi tahu apa saja tugas dan kwajiban kita sebagai seorang hamba. Berbagai amal ibadah apa saja yang bisa mengantarnya pada kedekatan dirinya kepada Allah subhanahu wata'ala. Termasuk kita juga akan mengetahui hal apa saja yang harus kita jauhi karena jika kita melanggarnya kita akan mendapat resiko dosa dan ancaman azab dari Allah. Semua sumber ilmu dan hukum islam dari Al Qur'an dan Hadist Rasulullah ﷺ wajib kita pelajari dan kita amalkan. Karena hal tersebut merupakan pembuktian kebenaran dan kesungguhan kita dalam mengakui Allah sebagai Tuhan kita dan Nabi Muhammad sebagai  Rasulullah (utusan Allah).

c. Setelah Aqidah dan Syariah kita fahami berdasarkan ilmu dan kita amalkan dengan sungguh-sungguh apa yang ada didalamnya. Maka langkah selanjutnya adalah perjuangan kita dalam mendidik diri menjadi pribadi yang akrab dengan dzikrullah. Rajin melafadzkan kalimat-kalimat dzikir yang selain bisa membersihan diri juga yang utama adalah untuk membangun hubungan kedekatan dengan Allah subhanahu wata'ala.

d. Memperhatikan hubungan diri kita dengan sesama manusia. Terutama perhatikan ahlaq kita terhadap orang tua kita, kepada suami kita, kepada anak kita , kepada family , tetangga , teman kerja dlsb.  Semua area pergaulan dari range yang terdekat sampai yang terjauh harus selalu menjadi perhatian kita dimana kita harus berusaha untuk menjadi orang yang tidak merepotkan mereka apalagi mendzalimi. Sebaliknya usahakan agar kita selalu bisa menjadi orang yang bisa memberi manfaat kepada mereka baik untuk urusan besar maupun urusan yang sepele-sepele. Dalam proses semua langkah diatas harus kita lakukan dengan sadar dan niat yang kuat untuk menjadi manusia yang lebih baik, yang berbakti kepada Robb nya. Dan bermanfaat bagi manusia sekelilingnya. Dengan menjalani tahapan diatas secara istiqomah, insyaAllah kita akan menemukan suatu bangunan pribadi yang kokoh pada diri kita, termasuk terbangunya sistem kesadaran diri yang selalu peka terhadap setiap amal-amal yang kita lakukan. Sekecil apapun dosa yang kita lakukan akan menjadi perhatian besar bagi diri kita, karena kematangan jiwanya akan menjaga segala kemungkinan hal yang dapat menjauhkan dirinya dengan Robb nya dan yang menjatuhkan kemuliaan dirinya dihadapan Robb nya. Demikian kiranya jawaban, semoga bisa dicerna dengan baik.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

2. Ustadzah, bagaimana cara me-"mindset" perasaan/hati kita agar tidak sibuk menghitung-hitung amal kebaikan agar terhindar sifat manusia yang sombong dan selalu ingin dipuji?
Jawab:
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Mengingat besar dan banyaknya dosa yang telah kita perbuat adalah lebih aman bagi kita daripada menghitung-hitung amal yang pernah kita lakukan. Karena hal itu akan menimbulkan rasa puas diri dan kesimbongan. Ini adalah celah yang sangat mudah untuk dimasuki syetan kemudian memperdaya kita dengan membisikkan kebohongan yang intinya kita tak perlu lagi bersusah payah ibadah karena amal kita sudah banyak. Seperti itu kira-kira bisikan-bisikan syetan yang akhirnya bisa melemahkan semangat kita. Membuat kita malas dan lebih suka dalam keadaan santai dan lalai. Dengan berfikir cerdas dan selalu waspada terhadap bisikan syetan yang setiap saat bisa menghembus pada aliran darah kita sebaiknya kita segera menutup pintu-pintu masuknya dengan berbagai cara , diantaranya :
a. Melazimkan membaca dzikir disaat pagi dan sore hari.
b. Banyak merenung, tafakur, berfikir secara mendalam akan keadaan diri kita. Bertanya, apa yang sudah kita persiapkan dihadapan Allah jika esok hari atau mungkin hari ini ajal kita datang.  Jika kita merasa telah berbuat amal sholih, apakah kita bisa menjamin amal2 tersebut diterima oleh Allah ?
c. Dalam perenungan itu iringin dengan rencana-rencana untuk segera hijrah menjadi manusia yang tawadhu' dan bertekad untuk terus menerus beribadah dengan khusyu' dan ihlas kepada Allah.
d. Rajin melakukan introspeksi diri atau muhasabah sehingga kita tidak tertipu oleh tipu daya syetan yang selalu mengajak kita lalai dari ketaatan kepada Allah yang menyebabkan kehinaan dirinya.


e. Untuk lebih mematangkan jiwa tidak lain kecuali kita harus bertekad untuk hidup dibawah naungan Al Qur'an.  Membaca dan mempelajari maknanya serta mengamalkan seluruh nilai-nilai yang ada didalamnya dalam praktek kehidupan kita sehari-hari.  وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M04

1. Assalamualaikum ustadzah, apa syarat yang harus dipenuhi agar di terima tobat nya setelah  seseorang melakukan dosa besar karena di indonesia tidak berhukum islam?
Jawab:
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته Syarat diterimanya taubat yang utama adalah Niat yang sungguh-sungguh. Serta kesungguhan ia menjauhi apa yang dipertaubatkan. Tidak mengulanginya dan ada rasa penyesalan. Walsupun penyesalan ini juga tidak harus terus menerus akan tetapi cukup dibuktikan dengan kesungguhannya menjauhi apa-apa yang menyebabkan dirinya bisa tergelincir pada pengulangan maksiat tsb. Kemudian perlu pula pembuktian upaya perbaikan ahlaq dan tingkah laku yang menunjukkan kesholihan diri. Sehingga tampak pribadi yang taqwa terpancar pada dirinya.  وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

2. Kalo orang dah tua maksiat terus juga di nasehati ngeyel ntar besok mulu kek mana mau bicara dengan hati gimana tuh ustadzah ?
Jawab:
Tetap sampaikan nasihat yang baik dengan sikap yang lembut dan hormat. Serta doakan orang tua agar Allah memberi hidayah. Bersabar menghadapinya dan tetaplah berbuat taqwa (taat) kepada Allah terutama dalam beradab dan berahlaq terhadap orang tua. Sebesar apapun kesalahan orang tua maka anak tetap wajib berbakti dan menghormatinya.  وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M05

1. Mau tanya Ustadzah,  cara membersihkan hati yang paling efektif?    Kita ingin selalu dekat dengan Allah, tapi kadang kondisi ruhiyah tdk mendukung,  tdk bisa khusyuk,  apakah itu karena kotornya hati?
Jawab :


Perbanyak istighfar dan membaca dzikir yang insyaAllah akan sangat efektif melembutkan hati kita. Lakukan berbagai amal ibadah semampu kita dengan ihlas dan istiqomah. InsyaAllah keadaan akan segera membaik, hubungan kedekatan dengan Allah juga akan terjalin. Hidup tertata dan hati jauh dari kegelisahan. Masalah terurai dan hidup akan lebih berkwalitas. Demikianlah ketika seorang yakin kepada Allah, kembali kepadaNya dan berusaha mendekatkan diri dengan berbagai ibadah-ibadahnya. وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

2. Apakah keterkaitan ilmu dengan akhlak selalu selaras? Bahwa dengan bertambahnya ilmu maka akan semakin bagus pula akhlaknya. Bagaimana jika realitasnya tidak demikian, yaitu tidak memberi efek apapun....
Jawab:
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Seharusnya ketika seseorang bertambah ilmunya maka akan semakin mempertinggi nilai budi ahlaqnya. Karena hakikat tujuan ilmu adalah memoerbaiki ahlaq.
Jika yang terjadi tidak demikian adanya, bertambahnya ilmu tidak menambah kebaikan ahlaqnya berarti ilmu yang dia dapatkan tidak berkah. Ketidakberkahan ini banyak penyebabnya. Diantaranya bisa jadi karena niatnya dalam menuntut ilmu salah atau tidak jelas.  Kemudian juga bisa jadi dalam proses menuntut ilmu seseorang enggan langsung mengamalkannya. Atau sementara ia menuntut ilmu, tetapi maksiat tetap dia lakukan. Sehingga ilmu tersebut tidak bermanfaat baik perbaikan dirinya. Hal seperti diatas hendaknya dihindari karena ilmu kelak akan dimintai pertanggungjawaban terhadap pemiliknya apakah sudah diamalkan atau tidak. Menambah ketaatanya kelada Allah atau menambah maksiatnya kepada Allah ; semua kelak akan diperthitungkan dengan teliti.  وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M07

1. Ustadzah bagaimana cara menghadapi orang yang selalu berbuat maksiat, kita sudah selalu mengingatkn namun yang di ingatkan hanya di bibir saja ga pernah di laksanakan, apakah sudah gugur kewajiban kita sebagai pengingat??
Jawab:
a. Perbanyak istighfar.
b. Ingat bahwa setiap orang yang ada disekitar kita adalah ujian bagi kita. Ujian apakah kita kuat bersabar dan jika kita lebih faham maka kita ihlas membimbingnya. Jika ia susah diluruskan maka apakah kita siap mendoakan ? dan seterusnya.
c. Ingat juga bahwa setiap orang selain diri kita bisa jadi berbeda-beda kadar keimanan dan hidayah serta ilmunya. Oleh karena itu jangan bosan dan berhenti mendakwahkan suatu kebaikan dengan cara yang baik. 
Jika kita melakukan nya dengan sikap yang keras maka tentu akan menjadikan situasi lebih tidak baik. Hal seperti ini sebaiknya dihindari.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

2. Assalamu alaikum Ustadzah, kadang saya tidak bicara kalo ketemu orang-orang untuk jaga lisan karean biasa saya salah bicara tapi saya dikatai 'sombong' apa yang seharusnya saya lakukan ustadzah?
Jawab:
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Berbicaralah yang baik atau diam. Artinya jika kita berbicara maka pastikan apa yang kita sedang bicarakan adalah suatu tentang kebaikan semata. Atau kita berbicara dengan baik. Jika tidak, maka lebih baik kita menahan dari berbicara atau diam. Jadi seharusnya kita berbicara harus atas dasar ilmu. Dan diam pun harus diatas ilmu pula. Jadi jika menurut anti, diamnya anti adalah suatu kebaikan dan menghindari dati suatu keburukan, maka bisa jadi mungkin seperti itu lah yang terbaik.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M09

1. Ustadz saya merasa susah sekali untuk sholat khusyu. ketika sholat selalu teringat sesuatu apakah ini pertanda hati yang tidak tenang atau tidak bersih? bagaimana ya caranya supaya hati tenang? dan bagaimana kita tau hati kita bersih?
Jawab:
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Bisa jadi jauhnya hati dari kekhusyuk'an karena banysknya noda dosa yang melekat pada diri kita. Jika seseorang dalam keadaan membiarkan dirinya berlumuran dosa maka sesungguhnya ia sedang menjalin persahabatan dengan syetan. Jika ia ingin kembali pada kebenaran (jalan yang lurus) maka ia harus bertekad kuat memutuskan hubungan dirinya dengan syetan , dengan mengambil langkah sbb :
a. Bertaubat kepada Allah subhanahu wata'ala. 
b. Perbanyak istighfar.
c. Lakukan dzikir yang istiqomah baik dipagi hari maupun petang. (Al Ma'tsurat).
d. Jauhi sekuat tenaga apa saja hal-hal yang dilarang oleh Agama.
Tentu dalam proses perjalan membersihkan hati ini pasti akan banyak godaan yang menghampiri, itulah rayuan syetsn yang tentu enggan berpisah dengannya, syetan akan keberatan jika hubungan persahabatan dengan dirinya akan terputus. 


Oleh karena itu seseorang harus sadar akan keadaan ini dan meneruskan perjuangannya tanpa menoleh kebelakang.وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

2. Ciri-ciri dari hati yang bersih itu gimana Ustadzah? Dan trik-trik apa yang harus di lakukan agar hati ini selalu bersih? Mengingat kita hanyalah manusia biasa yang terkadang emosi tak terkendali dan rasa ego yang selalu menyertai. Jazakillahu atas jawabnya
Jawab :
Ciri-ciri hati yang bersih : Secara umum bisa sangat banyak untuk dijelaskan. Tetapi saya hanya beri gambaran singkat saja tetapi merupakan jawaban yang vital. Yakni :

a. ketika diri kita merasakan nikmatnya berinteraksi dengan Al Qur'an. 
Karena ukuran kedekatan manusia dengan Allah adalah diukur dari sejauh mana kedekatan dirinya dengan Al Qur'an.
b. Ketika hatinya lembut, mudah tersentuh dengan hal-hal yang mengajak pada kebaikan.
c. Tidak mudah tersinggung. Jikapun ada yang menyakitinya maka ia sangat mudah menaafkan.
d. Memiliki jiwa dermawan dan rasa iba (suka menolong) terhadap segala kesulitan orang lain.
e. Mulut dan hatinya akrab dengan lantunan dzikir kepada Allah ta'ala.
f. Mencintai perdamaian, sangat menjaga hubungan tali silaturahim.


Itu diantaranya. وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M10

1. Ustadzah...saya pernah jumpai orang yg merasa mendapat petunjuk karena itu dia merasa dijalan yang benar padahal jelas-jelas sedang dalam kondisi yang hampir tertipu. Tapi dia merasa yang menipu itu adalah doa yang diijabahi. Susah untuk diyakinkan karena keyakinanyaa itu adalah petunjukNya. Alhamdlh ditunjukan bahwa itu penipuan sayangnya sudah terjadi. Mungkin karena saya kurang pintar dalam memberikan penjelasan. Bagaimana kalau ada kasus semacam itu?
Jawab:
Semua kejadian yang sudah terjadi itu ... Namanya Takdir / Qadarullah - kehendak Allah.
Jadi tak perlu disesali yang sampai menyebabkan kita mengalami kemunduran dalam hal kebaikan. Ambil saja pelajaran darinya. Agar kedepan bisa lebih baik lagi. Dan jika memang merasa telah melakukan kesalahan maka segera mohon ampunan kepada Allah dan minta tambahan Hidayah keoadaNya.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

2. Bagaimana mengatasi hati yang keras dan mudah emosi dalam menghadapi situasi susah maupun senang, mengatasi ego menghadapi orang yang keras kepala padahal  dalam menentukan suatu pilihan yang jelas-jelas itu pilihan yang salah?  makasih
Jawab:
a. Perbanyak istighfar.
b. Ingat bahwa setiap orang yang ada disekitar kita adalah ujian bagi kita. Ujian apakah kita kuat bersabar dan jika kita lebih faham maka kita ihlas membimbingnya. Jika ia susah diluruskan maka apakah kita siap mendoakan ? dan seterusnya.


c. Ingat juga bahwa setiap orang selain diri kita bisa jadi berbeda-beda kadar keimanan dan hidayah serta ilmunya. Oleh karena itu jangan bosan dan berhenti mendakwahkan suatu kebaikan dengan cara yang baik. Jika kita melakukan nya dengan sikap yang keras maka tentu akan menjadikan situasi lebih tidak baik. Hal seperti ini sebaiknya dihindari.  وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M12

1. Ustadzah, bagaimana dengan jiwa yang selalu merasa benar atas apa yg diucapkan dan dilakukan tidak selalu menerima kritik atau saran dari orang lain apa yang sebaiknya dilakukan agar hati dan jiwa nya bersih? jazakillaah
Jawab:
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Merasa selalu benar dan enggan menerima nasihat adalah bagian dari antara ciri-ciri kesombongan yang dimunculkan oleh hati. Jika seseorang merasa memilki kecenderungan atau sifat seperti ini maka sebaiknya banyak beristighfar dan segera memperbaiki diri. Karena sifat sombong adalah penyakit hati yang sangat dibenci oleh Allah.
Bagaimana terapinya :
a. Menuntut ilmu, dan mengamalkannya.
b. Meneladani para ulama yang tinggi ilmunya namun mereka tetap tawadhu'.


c. Menahami bahwa Allah sangat memuliakan hambaNya yang memiliki sifat tawadhu' (rendah hati).   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M13

1. Ustadzah saya mau tanya ketika kita telah melakukan maksiat baik mata atau fikiran rasa bersalah selalu menghantui walaw sudah tobat dsb. bagaimana supaya hati kita tentram dan hilang rasa bersalah tersebut. Apa indikasi jika tobat kita d terima Allah swt.
Jawab:
a. Yakini bahwa setiap taubat yang diiringi dengan niat yang sungguh-sungguh, rasa penyesalan, permohonan ampunan kepada Allah dan tekad untuk melakukan berbagai amal sholih InsyaAllah pasti diterima oleh Allah (taubatnya).
b. Indikasi diterimanya Taubat diantaranya, kita bisa melaksanakan berbagai amal sholih dengan adanya peningkatan baik dari segi kwalitas maupun kwantitasnya. Hati merasa tentram, lidah sering berdzikir, lafadz istighfar sering terucap.  Dan ahlaq semakin tampak baik dan sholih.  وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan  M14

1. Bagaimana agar keluarga kita bisa istiqomah dalam kebaikan. Agar berjuang bersama,sedangkan dalam kenyataanya kita berjuang sendiri menjadi istiqomah masih berat??
Jawab:


بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Pelopori dari diri kita sendiri. Lakukan perubahan yang nyata sebagai hamba Allah yang taat, yang sholih. Dan jagalah ketaatan tersebut. Istiqomah. Mulai dari perbaikan penampilan dan ahlaq kita. Kemudian mendekatlah kepada Al Qur'an, baca dengan rutin, pelajari maknanya dan amalkan nilai-nilainya. Cintai menuntut ilmu dan segera amalkan ilmu telah didapat. InsyaAllah dengan demikian keluarga akan melihat perubahan ini dan merasakan manfaat atau pengaruh kesholihan anti. Selanjutnya dengan dorongan doa anti InsyaAllah keluarga anti akan bisa berjalan bersama nenuju keluarga yang islami. Hanya saja semua itu perlu kesabaran krn tidak mungkin berubah serta merta. Perlu waktu untuk berproses. Ok. وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

Pertanyaan M15

1. Assalamualaikum wr wb Ustadzah... Mau bertanya... Parameter hati yang rusak dalam pandangan islam? Kadangkalah kita khilaf melakukan kesalahan, memang biasannya sadar setelah kita melakukan kesalahan itu, bagaimana kiat agar hati kita senantiasa istiqomah dalam melakukan kebaikan step by step untuk memperbaiki kekhilafan yang pernah dilakukan? Jazakillah Ustadzah.. Mohon pencerahannya ya...
Jawab:
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Parameter yang mudah kita dapatkan untuk mengetahui rusaknya hati adalah :
a. Ketika hati kita keras dalam menerima nasihat (pesan-pesan Agama terutama). Jika membaca ayat-ayat Al Qur'an atau Hadist Rasulullah ﷺ tidak tergerak untuk memperhatikan dengan seksama apalagi mengikuti petunjuk-petunjuk tersebut.
b. Kemudian juga jika mendapat nasihat yang baik dari orang-orang disekitar kita terutama orang tua kita.
c. Enggan melakukan amal sholih yang utama, seperti sholat, kalaupun melakukan juga serampangan. Tidak memperhatikan fiqh yang benar dan juga tidak menjaga kekhusyuk'an.
d. Mudah emosi, cepat tersinggung dan keras hati, tidak lembut dan tidak mudah memaafkan.
e. Sangat ringan dalam melakukan maksiat, baik maksiat besar maupun maksiat yang ringan-ringan.
f. Terlalu cinta dengan harta benda atau urusan duniawi yang lainnya.
dst.  وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M16

1. Mau tanya ustadz bagai mana cara bertaubat orang yang sudah melakukan maksiat?syukron ustadz.
Jawab :
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Mari kita perhatikan Firman Allah subhanahu wata'ala berikut :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَٰنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَٱغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu" (QS. At-Tahriim : 8)

Diatara cara-cara bertaubat.
Pertama, Bertaubat haruslah diawali dengan niat kita melakukannya karena ingin mendapat ampunan Allah ta'alaa.

Kedua, Menyesali perbuatan-perbuatan buruk yang pernah kita lakukan. Meninggalkan perbuatan buruk itu dan juga segala perbuatan-perbuatan maksiat yang lain. Melakukan segala perbuatan-perbuatan baik yang berlawanan dengan perbuatan maksiat.

Ketiga, Meninggalkan alat atau orang (komunitas) yang telah menjadi penyebab munculnya keinginan untuk melakukan kembali kemaksiatan yang sudah kita taubatkan itu. 

Keempat, Sabar dalam menjalani segala ujian selama melakukan proses Taubat. 
Karena bisa jadi nanti akan muncul  ujian yang nenuntut pembuktian apakah tekadnya untuk bertaubat benar-benar kuat atau tidak.

Kelima,
Banyak mengucapkan kalimat-kalimat Taubat dimanapun berada dengan penuh kekhusyukan dan peresapan hati.

Untuk mencapai kesempurnaan Taubat itu sendiri kita sebagai orang yang beriman harus terus menerus melakukannya secara kontinyu sampai akhir hayat.
Dalam Al Qur'an Allah ta'alaa berfirman :

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ

"Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat" (QS. Huud : 114)

Keenam, Mencari lingkungan dan teman-teman yang banyak mengingatkan dirinya pada kebaikan dan amal sholih yang mendekatkan dirinya kepada Allah dan juga mengajak pada kemuliaan hidup.

Ketujuh, Kejar sisa usia kita dengan banyak melakukan amal sholih (ibadah), dengan sungguh-sungguh, karena sebagaimana Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam berpesan kepada kita tentang 3 hal penting, yakni :
a. Ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik. 
Karena sesungguhnya setiap perbuatan baik (amal sholih) itu menggugurkan perbuatan buruk (menghapus dosa).
b. Bertaqwalah kalian dimanapun berada. 
Karena sesungguhnya bertaqwa itu adalah suatu hal yang sangat penting dan utama dalam hidup ini. 


c. Pergaulilah manusia dengan ahlaq yang baik.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M19

1. Bagaimana cara menyikapi orang yang selalu buruk sangka terhadap kita? Padahal kita tak tau menau dengan apa yang dia sangkakan. Ketika diajak komunikasi pun mnghindar.
Apa sebaiknya yang dilakukan?
Jawab:


بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Tetap bersabar, jangan membalas dengan keburukan yang sama. Maafkan dia. Ingatlah bahwa Allah mencintai hamba-hambaNya yang sabar.  Dan Dia juga sangat mengetahui keadaan setiap hambaNya. Jadi tak perlu risau dengan prasangka orang lain selama diri kita tidak bermaksiat kepada Allah.  Itu semua hanya ujian saja.  InsyaAllah suatu saat keasaan bisa akan berbalik dengan izin Allah.  وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Pertanyaan M20

1. Assalaamualaikum. Ustadzah, kan kita bisa bertanya fatwa baik buruk benar salah ke hati nurani. Bagaimana jika hatinya telah kotor? Apa indikasi bahwa hati kita masih bisa dimintai fatwa?
Jawab:
والسلام عليكم ورحمةاللّٰه وبركاته. بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Ukhti penanya, memang benar, ketika kita berada dalam persimpangan pilihan maka kita dianjurkan untuk bertanya kepada hati kita. Karena didalam setiap hati dari orang yang beriman pasti tersimpan suatu kejujuran. Mana atau apa sejatinya yang benar diantara pilihan yang ada. Jika toh kita memaksakan memilih sesuatu yang menyeleng dari tuntunan agama kita, tentu kalaupun fisik kita memgikuti bisikan nafsu kita maka hati kita akan protes tidak terima, hal ini biasanya ditunjukkan dengan munculnya sikap gelisah. Contohnya saja, jika kita melakukan sebuah maksiat, maka kita biasanya melakukannya dengan sangat tertekan bathin kita. Pikiran gelisah tidak tenang. Tetapi jika ketika melakukan maksiat tersebut hati kita enjoy , menikmati maka ini adalah hanya pura-pura saja karena hati kita kotor. Sehingga dengan ringan kita memgikuti bisikan syetan untuk menikmati maksiat yang kita sedang lakukan. Semakin kotor hati maka akan semakin menikmati maksiat yang dilakukan. Dan semakin bersih hati akan semakin sensitive dengan maksiat yang terjadi baik oleh diri kita sendiri maupun yang dilakukan oleh orang-orang yang ada disekeliling kita. Adapun cara menjaga kebersihan hati ini diantaranya adalah dengan memperbanyak memgucap istighfar. Merenungi segala ahlaq diri kita dan memohonkan ampunan kepada Allah subhanahu wata'ala , menyesali dan segera bangkit melakukan perbaikan-perbaikan.   وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

2. Mana yang kita kuatkan antara nurani dengan kebutuhan. Misalnya seorang irt bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak-anak, padahal nuraninya ingin dia lebih banyak dekat dengan anak-anak. Tapi dia tidak mungkin tidak bekerja karena keadaan ekonomi. Maka untuk menghibur anak-anaknya dibelikanlah mainan dan gadget.    Kalo demikian, apa yang harus dibenahi ?
Jawab:
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. Pada prinsipnya setiap bisikan nurani adalah bisikan yang tertuntun bagi seorang yang beriman. Karena disanalah tempat khasanah hidayah. Hanya saja dalam penerapan hidayah tersebut seseorang akan bermacam-macam aplikasi pengembangannya. Ketika dasar hidayah yang diperoleh sama maka yang membedakan hasilnya adalah tingkat keimanannya kepada Allah (kedekatan hatinya kepada Allah) dan tingkat ilmu yang dimiliki. Seseorang mukmin yang berilmu tentu akan memiliki kekuatan nurani yang lebih berkwalitas dibanding yang tidak. Sehingga dalam menerapkan pada pemecahan solusi masalahnya selalu lebih tepat dan lebih sesuai dengan jalan Agama. Seperti yang ditanyakan diatas, keinginan dekat dengan anak, ini tuntutan nurani yang benar. Mengikuti tuntutan kerja untuk kehidupan anak yang layak juga sudah benar insyaAllah. Akan tetapi dari tindakan bekerja ini harus memenuhi persyaratan syariat : 
Misal , karena terpaksa dimana penghasilan suami benar-benar tidak mencukupi. Itupun jika harus bekerja, maka seorang muslimah harus tetap memperhatikan batasan syariatnya, seperti : menutup aurat, menjaga pergaulan dengan lawan jenis, menjaga kehormatan diri dan suaminya, bekerja yang produk atau jasanya tidak berkaitan dengan maksiat atau mengandung pelanggaran nilai2 agama dll.
Kemudian yang perlu dikoreksi adalah ; 
Pertama, Jika tuntutan kerja tersebut tidak mendesak. 
Kedua, Kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan sekunder apalagi tersier, maka seorang istri sebaiknya bekerja diluar rumah. Karena jihad utama seorang istri adalah berhikmad didalam rumah mengabdi kepada suami dan anak-anaknya.

Tindakan memenuhi kebutuhan anak dengan gadget adalah suatu tindakan yang sangat kurang bijaksana, saya katakan demikian karena dalam kajian saya beberapa waktu yang lalu yang bembahas tentang betapa besarnya pengaruh negatif dari gadget bagi anak-anak kita. Singkat kata, mudhara jauh lebih besar dibandingkan manfaatnya. Jadi pertanyaan saya kembalikan kepada penanya, silahkan bertanya kepada hati nurani bunda, jika niat bunda bekerja diluar rumah dengan segala pengorbanan yang telah bunda keluarkan dan juga kehilangan kesempatan mendapatkan pahala jihad seorang istri ketika berada dirumah, apakah kira2 terbayarkan jika hasilnya hanya untuk sekedar membelikan gadget agar anak bunda senang.... ? Sementara hakekatnya bukanlah kita membahagiakan anak kita dalam arti yang sebenarnya jika demikian, karena jelas akibat pengaruh gadget sungguh luar biasa merusak perkembangan moral dan spiritual anak kita. Naaah kalo sudah demikian apakah ini yang dinamakan memberi kasih sayang ? Atau justru menjerumuskan ? Semoga bunda bersedia berfikir kembali tentang keadaan ini. Mintalah pertolongan kepada Allah dengan mendahuluinya dengan memperbanyak ibadah sholat dan puasa sehingga doa-doa kita akan lebih didengarNya. وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

Pertanyaan M21

1. Seringnya ketika melakukan dosa membela diri dengan melihat dosa orang yang kita anggap lebih besar, jadi rasa bersalahnya berkurang umm...bagaimana menyikapinya ustazah biar itu tidak dilakukan lagi?
Jawab:
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. Kalukan banyak mengucap istighfar kepada Allah. Sesungguhnya bisikan seperti itu adalah berasal dari syetan. Dengan dalih mengalihkan perhatian kita untuk fokus pada dosa-dosa orang lain yang lebih besar sehingga kita menganggap remeh dosa-dosa yang ada pada diri kita. Bahkan menganggap kita masih melakukan dosa2 kecil dibanding orang lain. Na'udzubillahi mindzalik. Segera kita bertaubat, semoga Allah mengampuni dan memperbaiki keadaan kita semua. Namun diri kita juga harus bercermin, menyesal dan berindak mengadakan perbaikan-perbaikan. Ingat bahwa usia kita tidak adak yang mengetahui, bisa saja tak lama lagi ajal kita menjemput, kapan lagi kita mnegejar segala keterbelakangan kita. Belum tumpukan dosa yang mungkin belum sempat terampuni olehNya. Jangan pandang sepele setiap dosa. Karena kita tidak tahu hakekat sebenarnya, bisa jadi dosa yang kita anggap sepele itu sejatinya telah menjadi sebab kita terlempar kedalam api nereka yang sangat jauh jaraknya. Demikian pula jangan kita meremehkan setiap amal sholih. Lakukan setiap amal dengan ilmu dan keihlasan mengharap keridhoan Allah. InsyaAllah semua akan menjadi lebih baik. Atas berkat rahmat dan kasih sayang Allah subhanahu wata'ala ... Aamiin.
Waallahu ghofuururrohiim.

2. Assalamalaikum.. Terima kasih materi yg sangat bermanfaat.
Saya mau tanya nih.. Bagaimana cara menghilangkan rasa benci dalam hati ini? benci dari saya kanak-kanak sampai sekarang belom hilang. Benci kepada ayah saya yang telah meninggalkan kami sekeluarga, menikah lagi tapi tidak peduli dengan anak-anaknya. Padahal jarak rumah ayah sekarang masih 1 desa.
Jawab:
بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Caranya yang utama adalah dengan bertaubat dulu kepada Allah subhanahu wata'ala. Karena tindakan membenci orang tua adalah Sangat bertentangan dengan perintah Allah ta'alaa. Apapun kesalahan orang tua maka tak layak seorang anak membenci mereka. Bersikap hormat, penuh kelembutan, membimbing mereka jika kita lebih faham adalah yang diperintahkan kepada kita sebagai orang yang bertaqwa. Buat penanya... InsyaAllah masih ada waktu bagi anti untuk bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah meminta bimbingan agar ditambahkan hidayah dan kekuatan hati dalam mempertahankan keimanan diri agar syetan tidak mudah masuk dan memperdaya kita hingga menancapkan rasa dendam dan kebencian yang sedemikian rupa. Jangan diikuti bisikan syetan itu.... Kembalilah kepada rahmat dan ampunan Allah ... Kembalilah segera kepada taat apa saja yang diperintahkam Al Qur'an kepada kita terutama bagaimana ahlaq kita terhadap orang tua kita. Agar Allah kembali ridho kepada kita dan kehidupan kita mendapat jaminanNya. Waallaahu ghofuuruurohiim.

Marilah kita tutup majelis ilmu kita hari ini dengan membaca istighfar, hamdallah serta do'a kafaratul majelis

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

dan istighfar

أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ

Doa penutup majelis : 


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Senin, 05 Januari 2016
Narasumber : Ustadzah Endria Sari Hastuti
Tema : Kajian Islam
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Whatsapp Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala
Link Bunda