PENGANTAR KEDOKTERAN ALA NABI

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, January 11, 2016

Bismillah walhamdulillah washsholatu wassalamu 'ala rasulillah
Kali ini saya sedikit bawakan prinsip pengantar memahami kedokteran ala nabi. Sebagai pengantar memahami kedokteran ala Nabi, ada baiknya kita perhatikan prinsip dasar berikut:


1. Kedokteran ala Nabi bukanlah perkara yang sempit dan terbatas pada contoh praktis tertentu, tapi juga mencakup kaidah-kaidah yang menjadi dasar untuk pengembangan medis secara lebih luas. Dalil utama dari prinsip ini adalah apa yang sering disebutkan Nabi saw dalam beberapa hadits beliau;
"Tidaklah Allah menurunkan penyakit, kecuali Allah menurunkan obatnya" (Hr. al Bukhari).
Maksud "obatnya" di sini tidaklah terbatas apa yang pernah Nabi saw praktikkan, namun lebih luas dari itu. Jika kita hanya berpegang pada praktik medis Nabi saw, maka rujukan dalam kedokteran Nabi akan menjadi sangat terbatas, padahal kedokteran itu mencakup hal yang sangat luas. Tidaklah mungkin semuanya dirangkum dalam praktik keseharian Nabi saw.

Hal ini serupa dengan bahasan fiqih. Tidak bisa disangkal bahwa banyak perkara-perkara yang belum terjadi di zaman Nabi saw sehingga tidak diketahui dalil langsungnya. Namun Nabi saw telah memberikan kaidah-kaidah -yang disimpulkan oleh para ulama- sehingga menjadi bahan untuk memutuskan perkara fiqih kontemporer.

2. Tidak boleh mengalamatkan sesuatu pada Nabi saw sampai ada bukti yang jelas. Akibat kesalahpahaman pada prinsip no.1, sebagian kita jadi mudah menerima dalil-dalil kedokteran ala Nabi yang belum jelas dasarnya. Padahal metode berdalil dalam Islam sudah sangat jelas, tidak boleh sembarangan.
Dari Anas bin Malik radhiallahu `anhu, ia berkata. "Sesungguhnya yang mencegahku menceritakan hadist yang banyak kepada kamu, (ialah) karena Rasulullah shallallahu `alayhi wasallam telah bersabda : "Barangsiapa yang sengaja berdusta atasku (yakni atas namaku), maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka". (Hr. Bukhari dan Muslim)
Maka tidak boleh terbuai dalam ungkapan bahwa buah ini bagus kata Nabi, ini food combining ala Nabi, Nabi makan ini itu begini, dst, padahal tidak ada sumber yang jelas tentangnya. Mari kita mengambil pelajaran dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu yang sangat berhati-hati berkata bahwa sesuatu itu "ala Nabi", padahal beliau adalah seorang sahabat!

3. Nabi tidak mempertentangkan kedokteran modern dan kedokteran versi beliau saw sendiri. Terkait hal ini bisa kita temukan langsung beberapa bukti dalam sejarah beliau;
  • Beliau tidak menolak kedatangan dokter dari Persia yang mengunjungi Madinah untuk buka praktik (walaupun akhirnya dokter itu pulang kembali karena tidak berhasil menemukan orang sakit)
  • Dalam banyak hadis beliau memuji pengobatan bekam, padahal itu adalah metode pengobatan yang ada jauh sebelum masa beliau.
  • Disebutkan juga bahwa Nabi saw pernah menerima kedatangan 2 lelaki yang akan mengobati seorang rekannya yang sakit, lalu beliau bertanya; "Siapa di antara kalian yang lebih ahli dalam hal medis?" (Al Muwatha', hadis mursal).

Dan seterusnya akan kita temukan contoh-contoh di mana Nabi saw tidak mempertentangkan antara ilmu kedokteran yang sudah ada dengan apa yang beliau praktikkan (baik karena wahyu maupun alasan keilmuan dunia). Ingat, kedokteran adalah keilmuan dunia, keilmuan yang bersifat muamalah. Berbeda dengan ibadah yang harus 100% memakai dalil.
Wallahu a'lam
Referensi:
- Kedokteran Nabi saw, Antara Realitas dan Kebohongan
  (Abu Umar Basyier)
- dll

DISKUSI

1. Pengobatan alan nabi dan modern harus seimbangkah?
Jawab
Harus proporsional. bahasa kerennya "wasathon"

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu, umat yang adil dan pertengahan (wasathon) agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu. al Baqarah 143


2. Kedokteran ala nabi apakah harus identik dengan Muhammad Rasullullah saja pak? Sebagai kita ketahui, beliau hanya 2 x sakit = sehat. Jadi dengan mengikuti sunah beliau diharapkan sehat juga. Sebelumnya kan sudah tentang manfaat bahan-bahan alami spt madu, bawang dll....itu bukan 'ala' nabi jadinya ya ustadz? Afwan...jadi kesimpulan materi ustadz kali ini apa ya?

Jawab

bunda Rusni, seperti pada poin 1 yang saya sebutkan, kedokteran ala nabi tidak sempit pada apa yang dipraktikkan Nabi saja, tapi luas, selama sesuai kaidah yang beliau ajarkan. Pemakaian hasil alam dalam pengobatan merupakan salah satu kaidah yang dicontohkan secara umum. Selama metode pengobatan itu sesuai dengan penyakitnya, maka itu sesuai dg dalil:
"Tidaklah Allah menurunkan penyakit, kecuali Allah menurunkan obatnya"
3. Intinya kan walaupun kita percaya pengobatan ala nabi tapi jangan pula meninggalkan ala medis, contoh kasus imunisasi karena tanik adalah sunah bukan obat 100%?
Jawab
Mba Mae, menurut saya (sebagian) medis modern juga termasuk "ala Nabi". mksudnya bukan karena dipraktikkan Nabi, tapi karena tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah umum aththibbun nabawyi. Coba kita lihat ath thibbun nabawy sebagai bagian dari khasanah islam yang luas. Tuk perbandingan kita ambil contoh; berdagang. Apakah yang dimaksud berdagang ala nabi hanya berdagang benda-benda yang pernah Nabi dagangkan? ternyata kan tidak. Yang disebut berdagang ala Nabi adalah berdagang yang memenuhi kaidah-kaidah berdagang yang beliau ajarkan; jujur, terbuka, dll. Tapi memang ada sesuatu yang bersifat wahyu dalam ath thibbun nabawy, ini harus kita imani. Keutamaan jinten hitam misalnya, ini sifatnya wahyu. Namun bukan berarti kita bilang, minum jinten hitam aja, semua penyakit pasti sembuh. Wahyunya benar: jinten hitam mengobati segala penyakit (jika kita pahami tekstual), tapi metodenya kan tidak dijelaskan Nabi. Kapan minumnya, berapa banyak, ekstraksinya seperti apa, perlu dicampur zat lain atau tidak dll.


4. Ustadz untuk pandangan ustadz sendiri soal imunisasi bagaimana?

Jawab
Hukum imunisasi menurut hemat saya, yang rajih adalah, mubah. Terlebih jika ada pandangan pihak berwenang terkait bahaya wabah penyakit tertentu di suatu daerah, maka imunisasi atau vaksin bisa sangat dianjurkan demi menyelematkan nyawa. Di antara tujuan syariah yang disepakati ulama adalah menyelamatkan nyawa. Setahu saya para ulama indonesia maupun dunia cenderung membolehkan vaksin dan imunisasi. Silahkan cek Fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyyah, Fatwa Lembaga Bahtsul Masail NU. Fatwa Syaikh Sholih al Munajjid, Fatwa Majelis Ulama Eropa, dsb

5. Bolehkah kita minum obat penahan haid selama ibadah umroh dan haji?
Jawab
Perhatikan benar-benar pola haid selama beberapa bulan terakhir, dan konsultasi dengan ahli medis terkait penggunaannya. Terkait haji, yang biasanya dilakukan dalam waktu lama (30hari), bisa jadi lebih baik dihindari, karena thawaf ifadhah bisa dilakukan di hari tasyrik bahkan sebagian ulama membolehkan sampai akhir dzulhijjah. Adapun ritual lain selain thawaf, boleh dilakukan wanita haid. Bahkan jika sampai kembali ke tanah air tetap tidak bisa thawaf karena haid, sebagian ulama tetap menganggap sah hajinya karena jelas uzurnya syar'i. Tapi tetap, hukumnya boleh saja kalo mau minum. Adapun umroh, waktunya lebih pendek hanya 10-14 hari. karena itu, jika hasil konsultasi medis dan melihat pola haid beberapa bulan ke belakang, agar bisa minum obat sesuai waktunya. lebih baik minum obat penunda haid jika umroh. (lihat kondisinya dan konsultasikan dengan ahli medis). Pastinya, jangan sudah repot-repot pakai pil penunda haid, tapi malah lebih banyak belanja dan jalan-jalannya dibanding ibadah di tanah suci

6. Terkait vaksin kalo sebelum menikahkan jaman sekrang harus suntik vaksin juga ya? Apa hukumnya tadz jika dipandang dari segi agama?
Jawab
Hukum vaksin sudah jelas di atas. Saya pribadi lihat sikon saja. Vaksin wajib sebaiknya diambil, karena ketika pemerintah menyebutnya wajib, berarti kondisi keindonesiaannya memang menganjurkan demikian. wallahu a'lam.

Tanggapan dokter
Izin berkomentar,
Vaksin.
Titik permasalahan halal haramnya selama ini ada di enzim. Enzim itu menggunakan bahan babi, non babi, atau nabati. Sedangkan sepaham saya, enzim tetaplah enzim. Dia katalisator, ada di awal reaksi, hilang saat reaksi, terus ada lagi di akhir dalam jumlah yang sama. Kebenaran ilmiahnya begitu, jadi tidak bercampur sama sekali. Lalu dimana potensi haramnya meskipun menggunakan bahan babi? Ini beda dengan kapsul yang memang gelatin merupakan komponen vital kekeyalannya.

Dulu saya pernah paparkan ini kala di panel dengan seorang profesor anggota tim audit halal MUI. Harapan saya dapat diskusi lain, tapi beliau justru mendukung pernyataan saya. Maka di forum ini, kepada assatidz mohon berkenan meluruskan jika pemahaman saya salah. Jika tidak, berarti sesuai kebenaran ilmiah yang ada, tak perlu lagi mempertanyakan kehalalan vaksin.

> Berarti semua vaksin halal ya dok?
“Titik kritis keharaman vaksin ini terletak pada media pertumbuhannya yang kemungkinan bersentuhan dengan bahan yang berasal dari babi atau yang terkontaminasi dengan produk yang tercemar dengan najis babi,” kata Ketua MUI KH Ma`ruf Amin di Jakarta, Selasa (20/7).
Suatu Sore (jam : 17.30) di Selatan Jakarta


Doa penutup majelis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Senin, 11 Januari 2016
Narasumber : Ustadz Syaikhul Muqorabbin
Tema : Kajian Islam
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Telegram Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT