Home » , , , » ZIARAH KUBUR YANG TIDAK DIBENARKAN SYARIAT

ZIARAH KUBUR YANG TIDAK DIBENARKAN SYARIAT

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, January 14, 2016

Dari Sisi Maksud dan Tujuan

a. Ziarah ke kubur orang saleh (wali) untuk beribadah kepada Allah dan mendapatkan barokah dari kuburan itu.

Banyak masyarakat yang melakukan ziarah ke kubur tertentu dengan keyakinan bahwa pada kuburan tersebut memiliki barokah dan keramat, karena orang yang dikuburnya adalah orang saleh. Dengan keyakinan tersebut, mereka shalat, berzikir atau membaca Al-Quran di sana, bahkan ada pula yang mengusap-usap dan menciumnya. Menetapkan sesuatu memiliki barokah dalam urusan agama, sehingga beribadah di dalamnya dianggap mendapatkan keutamaan dan berdoa padanya akan dikabulkan, haruslah berdasarkan dalil yang jelas. Dan nyatanya tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa kuburan tertentu memiliki barokah dengan segala keutamaannya. Lagi pula, berdasarkan hadits-hadits yang akan disebutkan berikut, kuburan bukanlah tempat untuk shalat atau membaca al-Quran.

b. Ziarah kubur dengan maksud memohon kepada orang yang dikubur, baik dalam hal mendatangkan manfaat ataupun menolak bahaya.

Ziarah semacam ini bernilai syirik yang nyata kepada Allah. Karena berdoa adalah ibadah, dan ibadah hanya boleh diarahkan kepada Allah Ta’ala semata. Maka mengarahkannya kepada selain Allah merupakan perbuatan syirik. Firman Allah Ta’ala:
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu” (QS. Al-Mu’min: 60)
Rasulullah saw bersabda,

« الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ  » [رواه أبو داود، صحيح أبو داود، رقم 1312

“Doa adalah ibadah”(HR. Abu Daud, Shahih Abu Daud, no. 1312)

Disamping, dengan berdoa seperti itu, maka orang tersebut berkeyakinan bahwa ada selain Allah yang dapat menentukan kehidupannya. Ini jelas merupakan keyakinan syirik karena bertentangan dengan Aqidah Islam yang menyatakan bahwa hanya Allah Ta’ala yang dapat menentukan kehidupan ini, tidak ada sekutu bagi-Nya. Firman Allah Ta’ala:  
“Allah mengatur urusan (makhluk-Nya)”(QS. Ar-Ra’d: 3)
Allah memerintahkan Rasulullah saw untuk berkata kepada umatnya :
“Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan”. (QS. Al-Jin: 21)
Rasulullah saw berdoa:

« اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَناً يُعْبَدُ  » [رواه مالك في الموطأ، وصححه الألباني في مشكاة المصابيح، رقم 750

“Ya Allah, Jangan jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah.”(HR. Malik. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam kitab Misykatul Mashabih, no. 750)


Maka siapa yang meminta-minta kepada Rasulullah saw di kuburnya, berarti dia telah menjadikannya sebagai berhala. (Al-Qaulul Mufid, Syekh Utsaimin,  I/423)

c. Berziarah kubur dengan tujuan bertawasul (menjadikannya perantara dalam berdoa) kepada penghuni kubur. Misalnya dengan berkata: “Ya Allah… dengan kemuliaan Syekh fulan dan syekh fulan… atau Ya Allah, dengan kemuliaan penghuni kuburan ini……”.

Bertawassul kepada orang yang sudah meninggal, tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Karena tidak ada contohnya dari Rasulullah saw. Tawassul yang benar terhadap orang saleh adalah mendatangi semasa hidupnya kemudian meminta dia mendoakannya kepada Allah Ta’ala.  Hal inilah yang dilakukan para shahabat terhadap Rasulullah saw, di mana mereka mendatanginya semasa hidupnya dan memintanya untuk mendoakannya kepada Allah Ta’ala.

Diriwayatkan bahwa pada suatu saat terjadi musim kemarau yang berkepanjangan, lalu para shahabat mendatangi Rasulullah saw  dan meminta beliau berdoa kepada Allah agar diturunkan hujan, lalu Rasulullah saw berdoa sebanyak tiga kali: “Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami” (Muttafaq alaih)


Karena itu, ketika pada zaman Umar bin Khattab ra terjadi musim kemarau juga, dia tidak bertawassul kepada Rasulullah karena saat itu beliau telah wafat, tetapi dia bertawasul kepada paman beliau, yaitu Abbas ra. (HR. Bukhari)

Maka kemudian Abbas ra berdoa kepada Allah Ta’ala agar segera diturunkan hujan. Seandainya tawassul kepada orang yang telah wafat dibolehkan, tentu Umar ra akan memilih bertawasul kepada Rasulullah saw daripada bertawasul kepada pamannya, karena jelas Rasulullah saw jauh lebih mulia dari pamannya.

Dari Segi Waktu dan Cara Pelaksanaan


a. Membaca zikir-zikir tertentu (biasa disebut tahlilan) atau surat-surat tertentu dari al-Quran, seperti al-Fatihah, Yasin, dll.

Dari riwayat yang ada, tampak jelas bahwa Rasulullah saw tidak melakukan hal tersebut. Bahkan ketika Aisyah ra bertanya tentang apa yang semestinya dibaca, Rasulullah saw hanya mengajarkan salam sebagaimana telah disebutkan di atas.

Kalaulah membaca zikir-zikir atau surat-surat tertentu diperintahkan dalam agama, niscaya hal tersebut telah Rasulullah saw sampaikan ketika Aisyah ra bertanya tengan hal itu kepadanya. 

Di samping itu, kuburan bukan tempat yang dikhususkan untuk beribadah, khususnya membaca al-Quran dan shalat. Rasulullah saw bersabda:


« لاَ تَجْعَلُوا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي يُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ »

“Jangan jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya setan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim)

Tersirat dalam hadits ini bahwa kuburan bukan tempat membaca Al-Quran dan shalat berdasarkan syariat. Karenanya kita diingatkan agar tidak menjadikan rumah kita seperti kuburan yang tidak dibacakan Al-Quran atau dilakukan shalat (sunah) di dalamnya.

b. Menetapkan hari-hari tertentu untuk ziarah kubur.

Menetapkan waktu dan hari khusus serta menganggapnya ada keutamaan berziarah kubur pada waktu itu, seperti hari Jum’at, hari Raya, sebelum puasa Ramadhan, haul (setahun setelah kematian), dll, adalah perkara yang tidak ada landasannya dalam agama. Bahkan hal tersebut Rasulullah saw larang semasa hidupnya terhadap kuburan beliau, sebagaimana sabdanya:

لاَ تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيْداً  » [رواه أبو داود، صحيح أبو داود، رقم 1796

“Jangan kalian jadikan kuburanku sebagai Ied.” (Shahih Abu Daud, no. 1796)

Makna ‘Ied di sini adalah sesuatu yang dikunjungi berulang-ulang dalam waktu-waktu yang dikhususkan, baik tahunan, bulanan atau pekanan. (Al-Qaulul Mufid, I/447)

Adapun hadits yang menyatakan bahwa: “Siapa yang berziarah ke kubur kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari Jum’at, Allah akan mengampuninya dan mencatatnya sebagai anak yang berbakti”.

Al-Albany menyatakan dalam kitabnya: Ahkamul Jana’iz (hal. 187) bahwa hadits ini sangat lemah, bahkan maudhu’ (palsu).

c. Menaburkan bunga ketika berziarah.

Perbuatan tersebut tidak ada landasannya dan tidak dikenal di kalangan salafus-shaleh.  Adapun riwayat yang sering digunakan sebagai dalil atas perbuatan tersebut yaitu bahwa Rasulullah saw pernah melewati dua kuburan yang menurut beliau penghuninya sedang disiksa, lalu beliau meletakkan pelepah kurma kemudian bersabda :

“Semoga dapat meringankan azab keduanya selama belum kering.” (Muttafaq alaih).
Para ulama menyimpulkan bahwa apa yang Rasulullah saw lakukan tersebut adalah kekhususan beliau. Karena atas petunjuk Allah Ta’ala beliau dapat memastikan bahwa penghuni kuburan tersebut sedang disiksa. Dan hal itu tidak beliau lakukan pada kuburan lainnya. Di samping, bahwa yang menyebabkan ringannya siksaan penghuni kubur tersebut bukanlah pelepah kurma yang beliau letakkan, akan tetapi doa Rasulullah saw kepadanya. Karenanya para ulama tidak menjadikan hal tersebut sebagai sebuah sunah khusus terhadap kuburan atau mengkiaskannya dengan bunga. (Ahkamul Jana’iz, hal. 200). Yang  nyata bermanfaat bagi mayat dan ada landasannya dalam syariat adalah bershadaqah yang pahalanya diniatkan untuk mayat.

d. Mencium dan mengusap kuburan untuk mendapatkan barokah

Imam Ghazali berkata tentang mengusap atau mencium kuburan: “Itu merupakan kebiasaan orang Nashrani dan Yahudi.” (Ihya Ulumuddin, I/271)

e. Safar untuk tujuan ziarah kubur

Di masyarakat kita, hal ini sering dilakukan terhadap kuburan yang sering disebut sebagai kuburan para wali.

Melakukan safar ke sebuah tempat untuk maksud ibadah di tempat tersebut (termasuk ziarah kubur) tidak dibenarkan dalam ajaran Islam kecuali ke ketiga masjid, sebagaimana sabda Rasulullah saw :

« لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ؛ الْمَسْجِدِ الْحَراَمِ، وَمَسْجِدِي هَذَا،. وَالْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى » رواه أحمد، السلسلة الأحاديث الصحيحة، رقم 997

“Janganlah kalian menempuh perjalanan (safar untuk tujuan ibadah) kecuali ke tiga Masjid; Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsa.”

Diriwayatkan bahwa Abu Bashrah Al-Ghifari mengutip hadits di atas ketika menegur Abu Hurairah ra yang berziarah ke (bukit) Tursina untuk shalat di sana.(HR. Ahmad, Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no.997)

f. Duduk di atas kuburan atau menginjaknya.

Duduk di atas kuburan atau menginjaknya merupakan penyimpangan lain yang sering dilakukan oleh orang yang sedang ziarah kubur. Jabir ra berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah  saw  melarang terhadap kuburan; disemen, diduduki serta dibangun di atasnya.” (HR.  Muslim)
Dalam riwayat Tirmizi disebutkan: “Dan (kuburan) tidak boleh diinjak.”  (HR. Tirmizi, Misykatul Mashabih, no. 1709)
Berziarah Ke Makam Rasulullah saw

Apa yang disyariatkan dan yang dilarang dalam ziarah kubur, berlaku pula terhadap kubur Rasulullah saw Karena ketentuan yang ada bersifat umum dan tidak ada petunjuk yang mengkhususkannya.
    
Bahkan, Rasulullah saw –sebagaimana hadits-hadits di atas- justru memberikan peringatan khusus semasa hidupnya terhadap berbagai kemungkinan penyimpangan yang terjadi terhadap kuburnya kelak. Hal itu memberikan kesimpulan, bahwa jika perbuatan tersebut terlarang pada kuburan Rasulullah saw, apalagi terhadap kuburan selainnya. Namun kita tetap disunnahkan berziarah ke kuburan Rasulullah saw dengan berpedoman kepada adab-adabnya;


Adab Berziarah Ke Kubur Nabi saw:

1- Bagi orang yang jauh dari Madinah, hendaknya niat utama ziarahnya adalah ke Masjid Nabawi, sedangkan ziarahnya ke kubur Rasulullah saw, adalah sebagai kelanjutan dari ziarahnya ke Masjid Nabawi. Berdasarkan hadits yang mengkhususkan ketiga mesjid sebagai tujuan safar yang dibolehkan dengan maksud ibadah. Sedangkan bagi orang yang tinggal di Madinah, dia dapat berziarah kapan saja.

2- Disunahkan baginya melakukan apa yang disunahkan ketika masuk masjid, seperti masuk dengan kaki kanan, membaca doa masuk masjid dan shalat tahiyatul masjid.

3- Setelah shalat, jika dia hendak berziarah ke kubur Nabi saw, hendaklah dia berdiri di depan kuburnya dengan penuh adab dan khusyu dan tidak mengeraskan suara, lalu sampaikan salam kepadanya:

« السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ »

"Keselamatan untukmu wahai Rasulullah, juga rahmat Allah dan barokah-Nya."
Rasulullah saw bersabda: “Jika seseorang memberikan salam kepadaku, niscaya Allah mengembalikan ruh kepadaku hingga aku dapat menjawab salamnya.”  (HR. Abu Daud, Shahih Abu Daud, no. 1795)
Kemudian bergeser sedikit ke kanan untuk menyampaikan salam kepada Abu Bakar ra dan mendoakannya, lalu bergeser ke kanan lagi untuk menyampaikan salam kepada Umar ra dan mendoakannya.

Atau cukup dengan mengucapkan:

« السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا أَبَا بَكْرٍ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا عُمَرُ »

"Keselamatan untukmu wahai Rasulullah, keselamatan untukmu wahai Abu Bakar, keselamatan untukmu wahai Umar."

Doa penutup majelis :


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Kamis, 14 Januari 2016
Narasumber : Ustadz Abdulllah Haidir
Tema : Fiqh
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Telegram Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!

Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT