Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , » BUKTI KEBERADAAN ALLAH by Ustd. Abdurrahman Wahid

BUKTI KEBERADAAN ALLAH by Ustd. Abdurrahman Wahid

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, February 10, 2016

Kajian Online WA Hamba الله SWT

Rabu, 10 Februari 2016
Narasumber : Ustadz Abdurrahman Wahid
Rekapan Grup Bunda M3 (Bd. Melia)
Tema : Syakhsiyah Islamiyah

Editor : Rini Ismayanti


BUKTI KEBERADAAN ALLAH



بسم الله الرحمن الرحيم

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْه
ِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَهَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.


Kewujudan Allah SWT adalah sesuatu yang cukup jelas sehingga sebagian pihak yang ekstrem berpendapat wujud Allah tidak perlu dijabarkan lantaran terlalu jelas. Walau bagaimanapun dalil-dalil yang membuktikan wujud Allah ini boleh kita lihat dari berbagai aspek, diantaranya dari aspek fitrah, aspek pancaindera, dari aspek logika /aqal, dari aspek nas/naql dan juga dari aspek sejarah. Bila kita membicarakan dalil-dalil kewujudan Allah, kita tidak bermaksud membicarakan falsafah yang rumit,akan tetapi bagaimana dalil-dalil itu dapat difahami dengan mudah dan menunjang keyakinan terhadap Allah SWT.

1Dalil Fitrah
Adalah dalil yang lahir dari fitrah asal manusia itu sendiri. Hal ini banyak tertulis di dalam al-Quran, bagaimana manusia umumnya mengakui kewujudan Allah.Dalil
Adalah dalil-dalil yang dapat dinikmati, dilihat, dirasa atau disentuh oleh indera.
Dalil
Adalah dalil-dalil yang berasaskan akal.
Dalil
Adalah dalil-dalil yang bersandarkan kepada nas-nas.
Dalil
Adalah dalil-dalil kekuasaan dan keagungan Allah yang diambil dari peristiwa-peristiwa yang telah berlaku di atas muka bumi.
Dalil
Dari semua dalil-dalil yang dapat dilihat di atas itu adalah berfungsi menguatkan pandangan kita betapa keagungan Allah SWT begitu luar biasa dan menundukkan kita sendiri di hadapan keagungan ini. Langsung melahirkan tauhidullah yang luar biasa.
Dalil
Apakah Allah berkaki? Mempunyai otak? Kok Allah bisa maha tau? bla...blaa...blaa... Kadang suka speechless tadz, gimana baiknya menjelaskannya tadz

Ø  7:172 : Allah bertanya: Bukankah Aku Tuhan kamu ? Sahutnya: Ya, Kami menjadi saksi
Ø  29:61 :jika engkau tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan, niscaya mereka menjawab: Allah.
Ø  43:9 :  jika engkau tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka menjawab: yang menciptakan semuanya adalah (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Ø  75:14-15: Bahkan manusia jadi saksi atas dirinya sendiri meskipun ia menerangkan beberapa alasan

2. Dalil Indera
Ø  54:1: Telah hampir saat kiamat dan bulan pun terbelah
Ø  17:1 : Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya di malam hari dari Masjidil Haram
Ø  8:9 : Sesungguhnya Aku menolong kamu dengan seribu malaikat yang beriringan
Ø  3:125: Ya, jika kamu sabar dan taqwa dan datang orang-orang kafir itu bersegera kepadamu tuhanmu menolongmu dengan lima ribu malaikat

3. Dalil Aqli
Ø  41:53: Nanti akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Kami di ufuk-ufuk dan pada diri mereka sendiri.
Ø  27:88 : Engkau lihat gunung-gunung, engkau kira ia tetap padahal ia lari seperti larinya awan
Ø  87:1-4: Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi yang menciptakan semua alam lalu meyempurnakan kejadiannya, dan yang menentukan dan memberi petunjuk dan yang menumbuhkan padang rumput (tanam-tanaman).

4Dalil Naqli
Ø  4:82 : Tidakkah mereka mentadabbur al-Quran ? Sekiranya al-Quran itu dari sisi selain Allah niscaya mereka mendapati banyak perselisihan di dalamnya.
Ø  17:88 : Katakanlah: jika berhimpun manusia dan jin hendak membuat seperti al-Quran ini, niscaya mereka tidak dapat membuat yang mirip dengannya.
Ø  15:9: Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Quran dan dan Kami memeliharanya.

5Dalil Sejarah
Ø  3:137 : Sesungguhnya telah lalu beberapa peraturan (Allah) sebelum kamu, maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah, bagaimana akibatnya orang-orang yang mendustakan agama.
Ø  7:176 : Demikianlah umpamanya kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sebab itu kisahkanlah kisah itu, mudah-mudahan mereka berfikir.
Ø  12:111: Sesungguhnya dalam kisah-kisah mereka itu ada ibrah (pengajaran) bagi orang-orang yang berakal.
Ø  11:120: Setiap riwayat kami kisahkan kepadamu di antara berita yang dibawa para rasul supaya Kami tenteramkan hatimu dengannya.
6. Mengagungkan Allah dan Mentauhidkan Allah
Ø  21:92 : Sesungguhnya ini, umat kamu (hai mukminin) umat yang satu dan Aku tuhanmu, sebab itu sembahlah Aku.



Wallahu'alam bish showab

TANYA JAWAB 

Q : Yang dimaksud dengan sabar pada ayat 3:125 itu seperti apa ustadz? Apakah berarti kita diam saja ketika orang-orang kafir itu mendzolimi kita? Apakah kita tidak boleh melawan ketika mereka menghina qta? Apakah gerakan nahi mungkar seperti yang dilakukan FPI itu salah karena berarti tidak sabar?
A : Sabar merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, dan sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah "Shobaro", yang membentuk infinitif (masdar) menjadi "shabran". Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qur'an:
Dan bersabarlah kamu bersama- sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi/ 18  : 28)
Perintah untuk bersabar pada ayat di atas, adalah untuk menahan diri dari keingingan 'keluar' dari komunitas orang- orang yang menyeru Rab nya serta selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah sabar di atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah SWT.
Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.
Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam al- Khowas, bahwa sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan al-Qur'an dan sunnah. Sehingga sesungguhnya sabar tidak identik dengan  kepasrahan dan ketidak mampuan. Justru orang yang seperti ini memiliki indikasi adanya ketidak sabaran untuk merubah kondisi yang ada, ketidak sabaran untuk berusaha, ketidak sabaran untuk berjuang dan lain sebagainya.
Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang). Artinya untuk berbuat seperti itu perlu kesabaran untuk mengeyampingkan keiinginan jiwanya yang menginginkan rasa santai,  bermalas-malasan dan lain sebagainya. Sabar dalam jihad juga berarti keteguhan untuk menghadapi musuh, serta tidak lari dari medan peperangan. Orang yang lari dari medan peperangan karena takut, adalah salah satu indikasi tidak sabar.
Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam Al-Qur'an
Dalam al-Qur'an banyak sekali ayat-ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri secara keseluruhan, terdapat 103 kali disebut dalam al-Qur'an, kata-kata yang menggunakan kata dasar sabar; baik berbentuk isim maupun fi'ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah SWT, yang Allah tekankan kepada hamba-hamba- Nya. Dari ayat-ayat yang ada, para ulama mengklasifikasikan sabar dalam al-Qur'an menjadi beberapa macam;
1 . Sabar merupakan perintah Allah SWT. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam QS.2 : 153: "Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."
Ayat-ayat lainnya yang serupa mengenai perintah untuk bersabar sangat banyak terdapat dalam Al-Qur'an. Diantaranya adalah dalam QS.3 : 200 , 16 : 127 , 8 : 46 , 10 :109 , 11 : 115 dsb.
2 . Larangan isti'ja l(tergesa-gesa/ tidak sabar), sebagaimana yang Allah firmankan (QS. Al-Ahqaf/ 46 : 35): "Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka..."
3 . Pujian Allah bagi orang-orang yang sabar, sebagaimana yang terdapat dalam QS. 2 : 177: "...dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa."
4 . Allah SWT akan mencintai orang-orang yang sabar. Dalam surat Ali Imran (3 : 146) Allah SWT berfirman : "Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar."
5 . Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah SWT senantiasa akan menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. Allah berfirman (QS. 8 : 46) ; "Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar."
6 . Mendapatkan pahala surga dari Allah. Allah mengatakan dalam al-Qur'an (13 : 23 - 24); "(yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama- sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri- isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun `alaikum bima shabartum" (keselamatan bagi kalian, atas kesabaran yang kalian lakukan). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu."
Inilah diantara gambaran Al- Qur'an mengenai kesabaran. Gembaran-gambaran lain mengenai hal yang sama, masih sangat banyak, dan dapat kita temukan pada buku-buku yang secara khusus membahas mengenai kesabaran.
Kesabaran Sebagaimana Digambarkan Dalam Hadits.
Sebagaimana dalam al-Qur'an, dalam hadits juga banyak sekali sabda-sabda Rasulullah SAW yang menggambarkan mengenai kesabaran. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 29 hadits yang bertemakan sabar. Secara garis besar, hadits-hadits tersebut menggambarkan kesabaran sebagai berikut;
1. Kesabaran merupakan "dhiya' " (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah SAW mengungkapkan, "...dan kesabaran merupakan cahaya yang terang..." (HR. Muslim)
2. Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimal. Rasulullah SAW pernah menggambarkan: "...barang siapa yang mensabar- sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar..." (HR. Bukhari)
3. Kesabaran merupakan anugrah Allah yang paling baik. Rasulullah SAW mengatakan, "...dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran." (Muttafaqun Alaih)
4. Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mu'min, sebagaimana hadits yang terdapat pada muqadimah; "Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (ia mengatahui) bahwa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya." (HR. Muslim)
5. Seseorang yang sabar akan mendapatkan pahala surga. Dalam sebuah hadits digambarkan; Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah berfirman, "Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian diabersabar, maka aku gantikan surga baginya." (HR. Bukhari)
6. Sabar merupakan sifat para nabi. Ibnu Mas'ud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan: Dari Abdullan bin Mas'ud berkata"Seakan-akan aku memandang Rasulullah SAW menceritakan salah seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, kemudia ia mengusap darah dari wajahnya seraya berkata, 'Ya Allah ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." (HR. Bukhari)
7. Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat. Rasulullah SAW pernah menggambarkan dalam sebuah hadits; Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah." (HR. Bukhari)
8. Kesabaran dapat menghapuskan dosa. Rasulullah SAW menggambarkan dalam sebuah haditsnya; Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullan SAW bersabda, "Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, mara bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa- dosanya dengan hal tersebut." (HR. Bukhari & Muslim)
9. Kesabaran merupakan suatu keharusan, dimana seseorang tidak boleh putus asa hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa hendaklah ia berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan hal yang terbaik baginya; apakah kehidupan atau kematian. Rasulullah SAW mengatakan; Dari  Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah salah seorang diantara kalian mengangan-angankan datangnya kematian karena musibah yang menimpanya. Dan sekiranya ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, 'Ya Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik  unttukku. Dan wafatkanlah aku, sekiranya itu lebih baik bagiku." (HR. Bukhari Muslim)
Bentuk-Bentuk Kesabaran
Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga hal; sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar untuk meninggalkan kemaksiatan dan sabar menghadapi ujian dari Allah:
1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Merealisasikan ketaatan kepada Allah, membutuhkan kesabaran, karena secara tabiatnya, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau dari penyebabnya, terdapat tiga hal yang menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Kedua karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infaq. Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad.
Kemudian untuk dapat merealisasikan kesabaran dalam ketaatan kepada Allah diperlukan beberapa hal,
(1) Dalam kondisi sebelum melakukan ibadah berupa memperbaiki niat, yaitu kikhlasan. Ikhlas merupakan kesabaran menghadapi duri-duri riya'.
(2) Kondisi ketika melaksanakan ibadah, agar jangan sampai melupakan Allah di tengah melaksanakan ibadah tersebut, tidak malas dalam merealisasikan adab dan sunah-sunahnya.
(3) Kondisi ketika telah selesai melaksanakan ibadah, yaitu untuk tidak membicarakan ibadah yang telah dilakukannya supaya diketahui atau dipuji orang lain.
2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (baca; ngerumpi), dusta, memandang sesuatu yang haram dsb. Karena kecendrungan jiwa insan, suka pada hal-hal yang buruk dan "menyenangkan". Dan perbuatan maksiat identik dengan hal-hal yang "menyenangkan".
3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi ataupun inmateri; misalnya kehilangan harta, kehilangan orang yang dicintai dsb.
Aspek-Aspek Kesabaran sebagaimana yang Digambarkan dalam Hadits
Dalam hadits-hadits Rasulullah SAW, terdapat beberapa hadits yang secara spesifik menggambarkan aspek-aspek ataupun kondisi-kondisi seseroang diharuskan untuk bersabar. Meskipun aspek-aspek tersebut bukan merupakan 'pembatasan' pada bidang- bidang kesabaran, melainkan hanya sebagai contoh dan penekanan yang memiliki nilai motivasi untuk lebih bersabar dalam menghadapi berbagai permasalahan lainnya. Diantara kondisi-kondisi yang ditekankan agar kita bersabar adalah :
1. Sabar terhadap musibah.
Sabar terhadap musibah merupakan aspek kesabaran yang paling sering dinasehatkan banyak orang. Karena sabar dalam aspek ini merupakan bentuk sabar yang Dalam sebuah hadits diriwayatkan, :
Dari Anas bin Malik ra, bahwa suatu ketika Rasulullah SAW melewati seorang wanita yang sedang menangis di dekat sebuah kuburan. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, 'Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah.' Wanita tersebut menjawab, 'Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui  dan tidak bisa merasakan musibah yang menimpaku.' Kemudian diberitahukan kepada wanita tersebut, bahwa orang yang menegurnya tadi adalah Rasulullah SAW. Lalu ia mendatangi pintu Rasulullah SAW dan ia tidak mendapatkan penjaganya. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah SAW, '(maaf) aku tadi tidak  mengetahui engkau wahai Rasulullah SAW.' Rasulullah bersabda, 'Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama.' (HR. Bukhari Muslim)
2. Sabar ketika menghadapi musuh (dalam berjihad).
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda : Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Janganlah kalian berangan-angan untuk menghadapi musuh. Namun jika kalian sudah menghadapinya maka bersabarlah (untuk menghadapinya)." HR. Muslim.
3. Sabar berjamaah, terhadap amir yang tidak disukai.
Dalam sebuah riwayat digambarkan; Dari Ibnu Abbas ra beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa yang melihat pada amir (pemimpinnya) sesuatu yang tidak disukainya, maka hendaklah ia bersabar. Karena siapa yang memisahkan diri dari jamaah satu jengkal, kemudian ia mati. Maka ia mati dalam kondisi kematian jahiliyah. (HR. Muslim)
4. Sabar terhadap jabatan & kedudukan.
Dalam sebuah riwayat digambarkan : Dari Usaid bin Hudhair bahwa seseorang dari kaum Anshar berkata kepada Rasulullah SAW; 'Wahai Rasulullah, engkau mengangkat (memberi kedudukan) si Fulan, namun tidak mengangkat (memberi kedudukan kepadaku). Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya kalian akan melihat setelahku 'atsaratan' (yaitu setiap orang menganggap lebih baik dari yang lainnya), maka bersabarlah kalian hingga kalian menemuiku pada telagaku (kelak). (HR. Turmudzi).
5. Sabar dalam kehidupan sosial dan interaksi dengan masyarakat.
Dalam sebuah hadits diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, 'Seorang muslim apabila ia berinteraksi dengan masyarakat serta bersabar terhadap dampak negatif mereka adalah lebih baik dari pada seorang muslim yang tidak berinteraksi dengan masyarakat serta tidak bersabar atas kenegatifan mereka. (HR. Turmudzi)
6. Sabar dalam kerasnya kehidupan dan himpitan ekonomi
Dalam sebuah riwayat digambarkan; 'Dari Abdullah bin Umar ra berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, 'Barang siapa yang bersabar atas kesulitan dan himpitan kehidupannya, maka aku akan menjadi saksi atau pemberi syafaat baginya pada hari kiamat. (HR. Turmudzi).
* Pertanyaan balik? yang dilakukan FPI seperti apa?

Q : Bismillah uztazah suami saya kerja di perusahaan asing, perusahaan dalam bidang penanam saham, yang pernah saya dengar itu haram apa benar? Tapi suami saya dibagian supir oprasionalnya, mohon jawabannya, syukron
A : Perusahaan sahamnya bergerang di bidang haram ya haram.. kalau sahamnya bergerang di bidang yang halal ya halal.. contohnya saham buat MIRAS ya haram.. tapi kalau saham dalam pabrik kain maka halal..

Q : Teman saya malas baca terjemahan alquran sebab terkadang jadi timbul keraguan ketika membacanya?  Apakah dia otomatis menjadi murtad ustadz? Atau ini hanya tipu daya syetan sehingga sebaiknya kita tidak mempelajari alquran sendiri karena akan disesatkan oleh syaithan?
A : Tidak mau membaca terjemahnya seperti apa? Masalah murtad atau tidak tidak bisa di jawab dari pertanyaan seperti itu... harus detail tidak maunya..
Yang jelas kewajiban seorang muslim terhadap alquran 1. membaca, 2 menghafal, 3. memahami isi alquran (salah satu sarana untuk memahami alquran adalah dengan membaca terjemah), 4. mengamalkan, 5. Mendakwahkannya

Q : Ust mohon bantuannya...anak saya suka bertanya seperti apa wujud Allah?
A : Ini tantangan juga buat para bunda semua untuk lebih rajin lagi belajar.. ada artikel yang bagus tentang ini..
ANAK usia dini umumnya memiliki karakteristik yang unik, egosentris, spontan, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (hubbul istithla’). Ketika anak memiliki rasa ingin tahu terhadap suatu hal, umumnya anak akan selalu melontarkan banyak pertanyaan kepada orang terdekat terutama ibunya. Anak akan selalu mengaitkan hal tersebut dengan apa yang dibicarakannya.
Selain itu tak jarang anak pun akan memikirkan dan membayang-bayangkan sesuatu hal baru yang ingin ia ketahui. Ketika anak bertanya ini dan itu dengan penuh antusias, tentu ibunya mudah sekali menjawab dengan bahasa dan jawaban yang sederhana dan mudah difahami oleh anak. Perlu diperhatikan kembali, jangan sekali-kali ibu memarahi atau membentak ketika anak bertanya sesuatu sekalipun itu sesuatu yang tidak seharusnya ditanyakan, karena itu akan menghambat kecerdasan dan berpengaruh negatif terhadap psikologi anak.
Lantas bagaimana saat anak bertanya: “Mama, Allah itu dimana? Allah itu seperti apa?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang tentunya membuat ibu terhenyak dan mengernyitkan dahi. Seorang ibu tidak mungkin menjawab asal-asalan terhadap pertanyaan si kecil yang satu ini, karena tentunya akan memengaruhi pola pikir anak kedepannya. Ibupun tidak mungkin menjelaskan dengan dalil naqli atau dalil ‘aqli karena tentunya mereka tidak akan mengerti. Lalu apa yang harus ibu lakukan?
Pertama, bila anak bertanya: “Mama Allah itu dimana?”. Jangan jawab begini:“Nak, Allah itu ada diatas langit atau Allah itu ada di surga”. Jawaban seperti itu akan menyesatkan logika anak. Jika Allah ada di langit, apakah di bumi Allah tidak ada? Jika dikatakan di surga, berarti lebih besar surga daripada Allah. Juga jangan menjawab “Nak, Allah itu ada dimana-mana”. Dengan jawaban seperti itu kemungkinan besar si kecil yang mempunyai daya imajinatif yang tinggi akan berfikiran bahwa Allah itu banyak.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat”.(Q.S. Al-Baqarah (2) : 186) Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.(Q.S. Al-Hadiid: 4)
Alangkah baiknya, jawab saja seperti ini: “Nak, Allah itu ada. Keberadaannya sangat dekat dengan kita. Apalagi terhadap orang-orang yang shaleh termasuk di dekat anak ibu tersayang yang selalu membantu ibu dan ayah, bersikap baik terhadap teman-teman, dan rajin shalat serta mengaji. Jadi, Allah itu selalu bersama kita kapanpun dan dimanapun”. Dengan jawaban seperti ini diprediksikan anak akan berpikir untuk selalu melakukan kebaikan dan beramal shaleh agar selalu dekat dengan Allah.
Kedua, bila si kecil bertanya: “Mama Allah itu seperti apa?”. Lebih baik jawab seperti ini: “Coba sekarang, anak ibu yang pintar tahu kan bentuk kucing, pohon, sungai, matahari, batu, rumah? Nah apapun yang kamu bayangkan, apapun yang ada di dalam pikiran kamu itu bukan Allah sayang. Karena, Allah itu tidak sama dengan makhluk ciptaan-Nya”. Dengan seperti itu anak tidak akan membayangkan bahwa Allah itu seperti kiyai, seperti patung, atau seperti apapun yang ia lihat. Dengan seperti itu dia tidak akan berimajinasi tentang bentuk Allah.
“[Dia] Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan [pula], dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Asy-Syura:11)

Saat menghadapi pertanyaan-pertanyaan anak yang lebih ekstreem dan membuat ibu kebingungan, berusahalah bersikap tenang dengan tatapan yang teduh di depan mereka dan berikanlah jawaban yang membuat mereka mudah paham dan tentunya tidak melenceng dari syari’at islam. [retsa/islampos/kisahislami/ukhtyan/Yusuf, Syamsu, Nani M. Sughandi. 2012. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada]

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment