Ketik Materi yang anda cari !!

HADIST 28 : MENSUCIKAN KENCING BAYI

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, February 12, 2016

Assalamualaikum wr wb
Mensucikan Kencing Bayi

28. وَعَنْ أَبِي السّمْحِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ، ويُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الغُلامِ)). أخرجه أبو داود والنسائي، وصححه الحاكمُ .

28. Dari Abus Samhi Radhiyallahu ‘Anhu , ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kencing bayi perempuan dicuci dan kencing bayi laki-laki cukup dibasahi saja dengan air.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa-i dan telah di-shahih-kan oleh Al Hakim).

Biografi singkat perawi hadits.

Beliau adalah Abu Samhu maula Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan ada yang menyatakan beliau adalah khadim (pembantu) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Nama beliau adalah Iyaad. Beliau hanya meriwayatkan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam satu hadits saja dan diantara murid beliau adalah Muhillu bin Khalifah ath-Tha’I. Ibnu Abdilbar berkata: Beliau tersesat jalan dan tidak diketahui dimana wafatnya. (al-Isti’ab 11/311 dan lihat juga biografinya di al-Ishaabah 11/179).

Takhrij Hadits

Hadits ini telah dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. 376), Nasa-i (1/158), Ibnu Majah (no. 526), Ibnu Khuzaimah (no. 283), Ad Daruquthni (1/130) dan Hakim (1/166). Semua dari beberapa jalan dari Abdurrahman bin Mahdi, (ia berkata): Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Walid, (ia berkata): Telah menceritakan kepadaku: Muhil bin Khalifah Bath-Thaa’i, (ia berkata): Telah menceritakan kepadaku Abu Samhi, ia berkata :

كنتُ أخدُمُ النبيَّ - صلى الله عليه وسلم -، فكانَ إذا أرادَ أن يَغتَسِلَ قال: "وَلِّني قَفاكَ" فاُولِّيهِ قَفايَ فأستُرُه به، فأُتِيَ بحَسَنٍ أو حُسينِ رضي الله عنهما، فبالَ على صَدرِه، فجئتُ أَغسِلُه، فقال: "يُغسَلُ مِن بَولِ الجاريةِ، ويُرَشُّ مِن بَولِ الغُلام"

Aku menjadi pelayan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau apabila ingin mandi berkata: Berpalinglah! maka aku berpaling lalu menutupi beliau. kemudian dibawakan kepada beliau Hasan atau Husein lalu mengencingi dada beliau, lalu aku datang untuk mencucinya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berkataL Dicuci dari kencing bayi perempuan dan di basahi dari kecing bayi lelaki.

Al-Baihaqi telah menukilkan pernyataan imam al-Bukhari: “Hadits abu as-Samh (ini) adalah hadits hasan.” (as-Sunan al-Kubra 2/41). Juga hal ini dinukil oleh Al Hafizh Ibnu Hajar di kitabnya Talkhisul Habir (1/28).

Hadits ini sanadnya hasan karena Yahya bin Walid Ath Tha-i (يحيى بن الوليد الطائي) seorang rawi yang hasanul hadits (حسن الحديث), haditsnya hasan. Nasa-i berkata: “Laisa bihi ba’s (لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ)”. Ibnu Hibban telah men-tsiqah-kannya. Dan jama’ah telah meriwayatkan darinya. Lihat Tahdzibut Tahdzib (2/296).

Ibnu Hajar di dalam Taqrib-nya menyatakan “La ba’sa bihi (لاَ بَأْسَ بِهِ)” mengikuti Nasa-i.
Hadits ini diperselisihkan keabsahannya oleh para ulama. Diantara yang menshahihkan adalah:
1.  Ibnu Khuzaimah
2.  al-Haakim
3.  al-Bukhari
4.  al-Qurthubi dalam al-Mufhim 2/643.
5.  Ibnu al-Mulaqqin dalam al-badrulmunir 2/304
6.  al-Albani dalam Shahih an-Nasaa’i 2/62.

Diantara yang menghukuminya sebagai hadits lemah adalah:
1.  Ibnu Abdilbarr dalam at-Tamhid 9/112. Beliau berkata: Hadits al-Muhil yang ada padanya keterangan membasahi (hadits ttg membasahi dari kencing bayi lelaki (pen)) tidak bisa dijadikan hujjah sebab al-Muhil seorang perawi lemah. Pernyataan Ibnu Abdilbarr ini dibantah al-Haafizh Ibnu Hajar dalam Tahdzib at-Tahdzib 10/54 pada biografi Muhil bin Khalifah : Ibnu Abdilbarr tidak ada yang mendukungnya dalam hal ini.
Yang sahih hadits ini hadits yang sahih karena memiliki sejumlah syawahid (riwayat penguat) dari jama’ah para sahabat, diantaranya:

Dari jalan Ali bin Abi Thalib secara mauquf dan marfu’.
Riwayat mauquf:

عَنْ عَلِيٍّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ وَيُنْضَحُ مِنْ بَوْلِ الْغُلاَمِ مَا لَمْ يُطْعِمْ . رواه أبو داود (رقم : 377)

a. Dari Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Dicuci dari kencing anak perempuan dan dipercikkan dengan air dari kencing anak laki-laki selama belum memakan makanan.” (Riwayat Abu Dawud, no. 377 dengan sanad yang shahih.
Riwayat yang marfu’:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي بَوْلِ الْغُلاَمِ الرَّضِيعِ : ((يُنْضَحُ بَوْلُ الْغُلاَمِ وَيُغْسَلُ بَوْلُ الْجَارِيَةِ)) . رواه أبو داود والترميذي وابن ماجة وغيرهم .

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu , dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang kencing anak laki-laki yang masih menyusu (asi), (Beliau bersabda): “Kencing anak laki-laki dipercikkan dengan air dan kencing anak perempuan dicuci.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. 378), Tirmidzi (no. 610), Ibnu Majah (no. 525), Ahmad (no. I/76, 97, 137), Abdullah bin Ahmad di Zawa-id Musnad (I/137), Ibnu Khuzaimah (no. 284), Thahawi di kitab Syarah Ma’anil A-tsar (I/92), Daruquthni (I/129) dan Hakim (I/165-166), dari jalan Hisyam (Ad Dastawa-i), dari Qatadah, dari Abi Harb bin Abi Aswad, dari bapaknya (yaitu Abu Aswad Ad Diyliy atau Ad Du-ali), dari Ali bin Abi Thalib (seperti di atas). Lafazh hadits dari Tirmidzi.
Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.” Dan telah dishahihkan oleh Bukhari dan Ibnu Khuzaimah.

Hakim telah men-shahih-kannya atas syarat Bukhari dan Muslim. Dan telah disetujui oleh Dzahabi.

Sanad hadits ini shahih atas syarat Muslim saja tanpa Bukhari menyalahi takhrij Hakim dan Dzahabi. Karena Abu Harb bin Abu Aswad tidak dikeluarkan oleh Bukhari. Wallahu a’lam.

b.  Dari jalan Ummu Kurz.

عَنْ أُمِّ كُرْزٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ((بَوْلُ الْغُلاَمِ يُنْضَحُ وَبَوْلُ الْجَارِيَةِ يُغْسَلُ)) . رواه ابن ماجة وأحمد .

Dari Ummu Kurz, Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Kencing anak laki-laki (cukup) dipercikkan saja, sedangkan kencing anak perempuan (wajib) dicuci.”

Riwayat Ibnu Majah (no. 527) dan Ahmad (VI/ 422, 440, 464), dari jalan Amr bin Syu’aib, dari Ummu Kurz (seperti di atas).

Hadits ini dha’if munqathi’ (terputus), karena Amr bin Syu’aib tidak pernah mendengar dari Ummu Kurz. Ibnu Hajar di Talkhis-nya (I/28) menyatakan: “Pada (sanad)nya terdapat inqitha’ (terputus sanadnya).”

c.  Dari jalan ‘Aisyah.

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ فَأُتِيَ بِصَبِيٍّ [يَرْضَعُ] فَبَالَ عَلَيْهِ (وَفِيْ رِوَيَةٍ : فَبَالَ فِي حَِجْرِهِ) (وَفِيْ رِوَيَةٍ : فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ) فَدَعَا بِمَاءٍ فَأَتْبَعَهُ بَوْلَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ *

Dari ‘Aisyah isteri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam (ia berkata): “Bahwasanya pernah dibawa kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam beberapa anak laki-laki, kemudian Beliau mendo’akan keberkahan atas mereka dan mentahnik mereka. Lalu dibawa kepada Beliau seorang anak laki-laki yang masih menyusu, lalu anak itu mengencingi Beliau.” Dalam riwayat yang lain: Lalu anak itu kencing di pangkuan Beliau. Dalam riwayat yang lain: Lalu anak itu mengencingi pakaian Beliau. Kemudian Beliau meminta air, lalu Beliau memercikkan kencing bayi laki-laki itu dan Beliau tidak mencucinya.”

Hadits ini diriwayat Malik (I/83 dalam Tanwirul Hawalik Syarah Muwaththa oleh Suyuthi), Bukhari (no. 222, 5.468, 6.002, 6.355), Muslim (I/163-164), Nasa-i (I/157), Ibnu Majah (no. 523), Ahmad (VI/ 46), Thahawi di Syarh Ma’anil A-tsar (I/ 92, 93), Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya (no:   ) dan Ibnu Jarud (no. 140). Semua dari beberapa jalan dari Hidyam bin ‘Urwah dari bapaknya, dari ‘Aisyah (seperti di atas).

d.  Dari jalan Ummu Qais binti Mihshan.

عَنْ أُمِّ قَيْسٍ بِنْتِ مِحْصَنٍ أَنَّهَا أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيرٍ لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَجْلَسَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حُِجْرِهِ ، فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ.

Dari Ummu Qais binti Mihshan, bahwa dia pernah membawa anak laki-laki yang masih kecil (bayi) kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam , lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mendudukkannya di pangkuan Beliau. Kemudian bayi laki-laki itu mengencingi pakaian Beliau. Lalu Beliau meminta air, kemudian memercikkannya dan Beliau tidak mencucinya.

Hadits diriwayat oleh Malik (I/83), Bukhari (no. 223, 5693), Muslim (1/164), Abu Dawud (no. 374), Tirmidzi (no. 71), Nasa-i (I/157), Ibnu Majah (no. 524) dan lain-lain banyak sekali.

e.  Dari jalan Ummu Fadhl Lubabah binti Harits.

عَنْ لُبَابَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ قَالَتْ كَانَ الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ فِيْ حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَالَ عَلَيْهِ فَقُلْتُ الْبَسْ ثَوْبًا وَأَعْطِنِيْ إِزَارَكَ حَتَّى أَغْسِلَهُ  قَالَ : ((إِنَّمَا يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ اْلأُنْثَى وَيُنْضَحُ مِنْ بَوْلِ الذَّكَرِ)). رواه أبو داود وابن ماجة وأحمد وغيرهم .

Dari Lubabah binti Harits, ia berkata: Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhu pernah berada di pangkuan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam , lalu dia mengencingi Beliau, maka aku berkata (kepada Beliau): “Pakailah pakaian yang lain, dan berikanlah kainmu kepadaku agar aku dapat mencucinya.” Beliau bersabda: “Yang dicuci itu hanya kencing anak perempuan, sedangkan kencing anak laki-laki (cukup) dipercikkan.”

Hadits diriwayat Abu Dawud (no. 375), Ibnu Majah (no. 522), Ahmad (6/ 339), Thahawi di Syarah Ma’anil A-tsar (1/ 92, 94), Ibnu Khuzaimah (no. 282) dan Hakim (1/166). Semuanya dari tiga sanad periwayatan dari Lubabah binti Harits. Dua sanadnya shahih dan satunya hasan karena ada Qabus bin Mukhariq (قَابُوس بن الْمُخَارِق) seorang rawi yang hasanul hadits (حسن الحديث) (hasan haditsnya).

Al Hafizh di Taqrib-nya berkata: “Laa ba’sa bihi (لابأس به).”
Tetapi hadits ini shahih, (yang) disebabkan: Pertama. Telah datang dua jalan yang lain yang dikeluarkan oleh Ahmad (VI/ 339, 340) dengan sanad shahih. Kedua. Telah ada sejumlah syawahidnya dari hadits-hadits yang telah lalu.

Hadits ini dishahihkan al-Haakim (al-Mustadrak 1/166) dan disepakati adz-Dzahabi. Syeikh al-Albani dalam kitab takhrij al-Misykah 1/156 menshahihkannya. Al-Baihaqi berkata (as-Sunan al-Kubra 21/416): Hadits-hadits yang musnad dalam pembedaan antara kencing lelaki dan kencing bayi wanita dalam masalah ini apabila digabungkan maka akan menjadikannya kuat).

Faedah Takhrij

Penggunaan istilah “Hasan” menurut imam al-Bukhori menjadi bahan perselisihan pengertiannya diantara para ulama. Beberapa peneliti hadits kontemporer menetapkan setelah melalui penelitian panjang bahwa yang di nilai Hasan dengan ungkapan “Hasan” secara tegas oleh imam al-Bukhori atau dinukilkan dari beliau oleh imam at-Tirmidzi berarti Hadits mahfuzh yang shahih yang diriwayatkan perawi tsiqah atau rowi yang masih ada celaannya, apabila diketahui hadits itu dari hadits shahih orang tersebut yang dia hafal dan betul-betul perhatikan. Sedangkan yang dihukumi dengan ungkapan “lebih baik (أحسن)” maka maksudnya akan jelas dari kontek kalimatnya. Imam al-Bukhori menggunakannya kadang dengan pengertian Lemah yang paling ringan (أقل الضعيف), kadang bermakna hadits yang rojih (الحديث الأرجح) yaitu lebih benar. Adapun hasan yang al-Bukhori tidak jelas-jelas namun at-Tirmidzi menukilkannya maka itu penukilan at-tirmidzi sesuai yang beliau fahami dan butuh penelitian lahi. (Lihat al-Hadits al-Hasan karya DR. Khalid ad-Duraisy 2/686).

Pengertian Kosa kata Hadits.

(الجارية) adalah anak kecil dari kalangan wanita, dinamakan demikian karena lincahnya. Yang dimaksud adalah anak kecil yang masih dimasa menyusui.

(ويرش) menyiram air hingga membasahi seluruh yang terkena air kencing. Perbedaan antara (الغسل) dengan (النضح) adalah klo (الغسل) adalah membasahi pakaian dengan air hingga menetes dan (النضح) adalah membasahi pakaian dengan memperbanyak air yang tidak sampai air mengalir dan menetes.

(الغلام) adalah anak kecil lelaki dari lahir hingga baligh dan yang dimaksud disini adalam yang masih menyusui.

Pengertian Umum Hadits

Sahabat Abu as-Samh mengisahkan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam membedakan kencing bayi perempuan dengan kencing bayi lelaki dalam tingkatan najisnya. Padahal asalnya hukum kencing adalah najis, namun diringankan pada kecing bayi lelaki yang masih menyusui dengan cukup dibasahi yang terkena kencingnya. Sedangkan kencing bayi wanita tetap seperti yang lainnya.

TANYA JAWAB

1. Ustadz mau tanya, untuk anak yang pake diapers yang sudah da pipisnya  terkadang ketika sholat anak nangis kita gendong .bolehkah itu?
Jawab
Boleh, selama tidak mengotori badan atau pakaian kita.

2. Kalo anak perempuan yang ngompol di tempat tidur gimana ustadz (sudah tidak asi)?
Jawab
Wajib dihilangkan najisnya baik dengan air

Doa penutup majelis :


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamualaikum wr.wb

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Jumat, 12 Februari 2016
Narasumber : Ustadz Kholid Syamhudi Al Bantani
Tema : Hadist
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Telegram Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment