Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , , , » TABARRUJ DAN ADAB TERKAIT WANITA DALAM PANDANGAN ISLAM

TABARRUJ DAN ADAB TERKAIT WANITA DALAM PANDANGAN ISLAM

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, March 7, 2016

Kajian Online WA Hamba الله SWT

Senin, 7 Maret 2016
Narasumber : Ustadzah Hayati
Rekapan Grup Bunda M17
Tema : Kajian Islam
Editor : Rini Ismayanti


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya.
Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaAllah aamiin

MUKADDIMAH
Islam adalah agama yang diyakini sebagai agama yang sesuai dengan fitrah dan kecenderungan manusia (QS. Ar-Rum: 30) dan juga  agama yang mengedepankan kemudahan. Banyak petunjuk dan praktek Rasulullah SAW yang menunjukkan bagaimana beliau sangat memperhatikan dan menganjurkan kemudahan beragama (QS Al-Baqarah:185 & QS Al-Hajj:78). Itu semua disebabkan ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad SAW tidak bertujuan kecuali membawa rahmat untuk sekalian alam.


DEFINISI TABARRUJ
Pengertian “Tabarruj” 
a. Menurut  bahasa berasal dari kata baraja yang berarti nampak dan meninggi, kemudian dapat dipahami juga dengan arti “jelas dan terbuka”. Dibangun dari kata tersebut lafad buruj  memiliki arti benteng atau bangunan yang  tinggi.
b. Menurut  istilah berarti menampakkan sesuatu  yang semestinya tidak ditampakkan maksud “sesuatu” disini dalam arti sikap atau tingkah laku

Menurut Imam Ibnu Mandzur, dalam Lisaan al-’Arab menyatakan: “al-tabarruj:  idzhaar al-mar`ah ziinatahaa wa mahaasinahaa li al-rijaal”. Tabarruj adalah seorang perempuan yang “menampakkan perhiasan dan anggota tubuh untuk menarik perhatian laki-laki non muhrim.”
Sedangkan menurut al-Zujaj: tabarruj adalah “menampakkan perhiasan dan semua hal yang bisa merangsang syahwat laki-laki.”

JENIS  TABARRUJ
a. Tabarruj Khilqiyyah, yaitu tabarruj fisik yang sifatnya melekat pada diri seseorang,  yakni menampakkan perhiasan fisik pada bagian-bagian tertentu yang tidak boleh ditampakkan  seperti memperlihatkan rambut, kulit, kaki, dll
b.   Tabarruj Muktasabah, yaitu tabarruj yang diupayakan (rekayasa) yakni menampakkan perhiasan yang dibuat atau diciptakan/direkayasa manusia dalam rangka menghias dirinya seperti mode pakaian, perhiasan (cincin, anting, kalung, gelang), ber-make-up dll.

HUKUM TABARRUJ
Dalil-dalil yang berkaitan dengan tabarruj didapatkan dalam Al-Qur’an pada dua ayat, keduanya menerangkan tentang larangan tabarruj, yaitu:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu...” (QS al-Ahzab:33)

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَآءِ الاَّتِي لاَيَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ


“Dan perempuan-perempuan tua (yang telah terhenti haid) yang tidak bermaksud menikah lagi maka tidak menjadi dosa atas mereka menanggalkan pakaian mereka dengan tidak bermaksud menampakkan perhiasan, dan menjaga diri adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.” (QS an-Nur: 60)

Larangan tabarruj pada surat al-Ahzab dikhususkan untuk istri-istri Nabi saja, sedangkan dalam surat an-Nur adalah larangan untuk seluruh kaum perempuan lainnya. Konteks pada ayat pertama berupa larangan langsung sedang pada ayat kedua berupa kalimat pernyataan (khobariyah) akan tetapi memiliki  konotasi yang sama yaitu  melarang melakukan suatu perbuatan.
Dalil-dalil al-hadits yang berkaitan dengan tabarruj selalu dikaitkan dengan peringatan-peringatan keras bahkan ancaman langsung dari Allah dan Rasulullah manakala manusia tidak menaati aturan tersebut sebagaimana akan dijelaskan pada buku ini di bagian lain.
Hal ini menunjukkan bahwa tabarruj itu dilarang dan hukum larangan tersebut adalah haram mengingat ancaman keras tersebut, selain mengacu pada kaidah ushul fiqh:

اَلأَصْلُ فِي النَّهْيِ للتَّحْرِيْم  


“Asal pada sesuatu larangan menunjukkan haram”

Jika larangan tabarruj pada QS al-Ahzab ditujukan kepada perempuan yang sudah menopause, maka dapat dipahami jika wanita-wanita tua yang telah menopause saja dilarang melakukan tabarruj, lebih-lebih lagi wanita-wanita muda dan masih punya keinginan nikah.

Permasalahan hukum tabarruj adalah berbeda dengan hukum menutup aurat dan hukum wanita mengenakan kerudung dan jilbab.  Walaupun seorang wanita telah berbusana muslimah dan menutup aurat, na­mun tidak menutup kemungkinan ia masih melakukan tabarruj.


HAL-HAL YANG  TERMASUK TABARRUJ
Tabarruj ada dan terjadi sejak  manusia ada dalam sejarah. Tabarruj merupakan gambaran dan hasil budaya manusia yang masing-masing zaman memiliki perkembangannya sendiri bahkan cenderung bergeser dari waktu ke waktu.
Islam menjelaskan tabarruj secara normatif dalam al-Qur’an dan juga secara realita yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW   dan masa-masa sebelumnya. Realita itulah yang diangkat dalam dalil-dalil al-hadits untuk menjelaskan bagaimana praktek tabarruj yang dimaksud, meskipun tidak menutup kemungkinan jenis tabarruj akan berbeda dari masa ke masa atau mungkin ada hal-hal yang sama dan mirip.
Akan tetapi dalil yang ada akan memberikan gambaran kepada umat perbuatan yang tergolongkan tabarruj untuk dijadikan tolok ukur dan acuan walau zaman terus berubah, diantaranya adalah sebagai berikut:


1.   Memamerkan aurat
Anggota tubuh perempuan seluruhnya tidak boleh diperlihatkan kepada yang bukan muhrimnya kecuali dua hal saja yakni wajah dan telapak tangan saja (termasuk bagian dalam dan luarnya), atau sampai batas telapak tangan. Adapun penjelasan pengecualian anggota tubuh yang boleh diperlihatkan atau tabarruj, Nabi SAW menjelaskannya secara global kemudian dibuatkan batasan dengan bahasa isyarat hal ini untuk lebih sampainya pesan dengan menunjukklan anggota tubuh yang dimaksud, yaitu

وَلاَيُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّمَاظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya.” 
(QS an-Nur: 31)

Dan hadits Nabi Saw.
عَنْ عَائِشَةَ ر.ع أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ اَبِيْ بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَي رَسُوْلِ اللهِ ص وَعَليْهَا ثِيِابٌ رِقَاٌقٌ فَاَعْرَضَ عَنْهَا رَسُوْلُ اللهِ ص وَقَالَ: يَا اَسْمَاْءَ اِنَّ الْمَرْأَةَ اِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيْضَ لَمْ تَصْتُحْ أَنْ يُرَي اِلاَّ هَذَا وَ هذَا وَاَشَارَ اِلَي وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ


“Dari ‘Aisyah r.a:Sesungguhnya Asma binti Abu Bakar masuk ke rumah Rosulullah dengan memakai pakaian tipis. Lalu Rasulullah berpaling darinya dan bersabda: Hai Asma! sesungguhnya saeorang wanita yang sudah balig tidak boleh terlihat auratnya kecuali ini dan ini dan Nabi SAW berisyarat menunjuk ke wajah dan telapak tangannya.” (HSR Abu Dawud)

Dalil di atas menjelaskan bolehnya tabarruj khilqiyah yakni memperlihatkan dua jenis anggota tubuh (wajah dan telapak tangan), dan juga sekaligus menjelaskan bolehnya tabarruj muktasabah yakni memperlihatkan diri dengan merias wajah serta memakai dan memperlihatkan perhiasan (mis. cincin) sebagaimana diperjelas oleh keterangan hadits Nabi Saw:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: وَالزِيْنَةُ الظّاهِرَةُ: الوَجْهُ وَ كَحْلُ العَيْنِ وَ حِضَابُ الكَفِّ وَالخَاتَمُ


“ Dari Ibnu Abbas berkata: perhiasan yang tampak itu adalah; muka, cela mata, bekas pacar di pergelangan tangan dan cincin.” (At-Thobari)

2.   Meliuk-liukkan tubuh, menggoyang-goyangkan kepala dan  mengenakan pakaian tipis dan ketat 
Meliuk-liukkan dan mengoyang-goyangkan tubuh merupakan bagian dari tabarruj meski tubuhnya terbungkus dengan pakaian, misalnya menari atau  berjalan berlenggok-lenggok  dengan tujuan mencari perhatian terutama dari lawan jenisnya.

Selain itu, mengenakan pakaian tipis, atau memakai busana ketat dan merangsang termasuk dalam kategori tabarruj.  Untuk kedua jenis perbuatan ini Nabi Saw bersabda:
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رع قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص صِنْفَانِ مِنْ اَهْلِ النَّارِ لَمْ اَرَهُمَا قَوْمُ مَعَهُ سِيَاطٌ كَاَذْنَابِ البَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّا سَ وَنِسَآءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوْسُهُنَّ كَاَسْنِمَةِ البُحْتِ الْمَائِلَةِ لاَيَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ ولاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَاِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا -مسلم-

“Dari Abu Hurairah r.a ia berkata, Rasulullah bersabda: Dua golongan dari ahli neraka aku belum pernah melihatnya yaitu; orang-orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi mereka memukul manusia dengannya dan perempuan yang memakai pakaian hampir telanjang dengan mengoyang-goyangkan pinggulnya, berlenggok-lenggok kepalanya seperti tengguk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan memperoleh harumnya. Dan sesungguhnya harumnya surga dapat dicium dari jarak sekian dan sekian (jarak yang sangat jauh).” (Hadits Shahih Riwayat  Muslim)

Ketika menafsirkan “mutabarrijaat” yang terdapat di dalam surat al-Nur ayat 60, Imam Ibnu al-’Arabiy menyatakan;
“Termasuk tabarruj, seorang wanita yang mengenakan pakaian tipis yang menampakkan warna kulitnya.  Inilah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah SAW yang terdapat di dalam hadits shahih di atas, sebab yang menjadikan seorang wanita telanjang adalah karena pakaiannya  dan ia disebut telanjang karena pakaian tipis yang ia kenakan.  Jika pakaiannya tipis, maka ia bisa menyingkap dirinya, dan ini adalah haram.”

3.   Mengenakan wewangian mencolok
Nabi saw bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

“Siapapun wanita yang memakai wewangian kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium baunya, berarti ia telah berzina.” (HR. Imam al-Nasaaiy)

Imam Muslim juga meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Nabi saw bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلَا تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ


“Siapa saja wanita yang mengenakan bakhur (wewangian), janganlah dia menghadiri shalat ‘Isya yang terakhir bersama kami.” (HR. Muslim)

Menurut Ibnu Abi Najih, wanita yang keluar rumah dengan memakai wangi-wangian termasuk dalam kategori tabarruj. Oleh ka­rena itu, seorang wanita mukminat dilarang keluar rumah atau berada di antara laki-laki dengan mengenakan wewangian yang dominan baunya.
Adapun sifat wewangian bagi wanita mukminat adalah tidak kentara baunya dan mencolok warnanya.   Ketentuan semacam ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW:
أَلَا وَطِيبُ الرِّجَالِ رِيحٌ لَا لَوْنَ لَهُ أَلَا وَطِيبُ النِّسَاءِ لَوْنٌ لَا رِيحَ لَهُ


“Ketahuilah, parfum pria adalah yang tercium baunya, dan tidak terlihat warnanya.  Sedangkan parfum wanita ada­lah yang tampak warnanya dan tidak tercium baunya.” (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud)

4.   Menyambung rambut
Menyambung rambut dapat dilakukan dengan cara memasang sanggul buatan atau memakai rambut palsu atau cara lainnya dengan tujuan menarik perhatian juga termasuk tabarruj. Dan Allah mengingatkan perbuatan tersebut dengan laknatnya. Laknat adalah menjauhkannya Allah dari  kasih sayang kepada seseorang. Hadits tersebut adalah:

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رع عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: لَعَنَ اللهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ )البخاري(

“Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi SAW bersabda: Allah telah melaknat wanita yang memakai cemara (rambut palsu) dan wanita yang minta dipakaikan cemara dan wanita yang mentato (mencacah) dan yang minta ditato.” (HSR Bukhori).

5.   Tatto, mencabut rambut dahi, menjarangkan gigi
Membuat tatto, mencabut bulu dahi (termasuk  bulu alis), dan menjarangkan atau meratakan gigi yang semuanya bertujuan untuk mempercantik diri dan sekaligus menarik perhatian yang lainnya terutama lawan jenis. Perbuatan-perbuatan di atas termasuk tabarruj yang juga mendapat laknat Allah SWT sebagaimana Nabi SAW bersabda dalam hadits:

عَنْ عَبْدِ اللهِ: لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ...

“Dari Abdullah: ”Allah telah melaknat wanita yang minta ditato dan wanita yang minta dicabut rambut dahinya dan yang menjarangkan giginya supaya cantik...” (HSR Bukhori)

6.   Israf  atau berlebihan dalam berpakaian atau berdandan
Berpakaian merupakan salah satu upaya agar dapat tampil cantik, dan menawan. karena salah satu fungsi pakaian adalah sebagai perhiasan,  sesuai dengan Firman Allah  dalam  Al Quran:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاساً يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشاً وَلِبَاسُ التَّقْوَىَ ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah Menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.”

Berdasarkan ayat tersebut dijelaskan bahwa fungsi pakaian adalah sebagai penutup aurat dan perhiasan. Pakaian terbaik adalah “pakaian taqwa”, yaitu pakaian yang dapat “menjaga dan melindungi” pemakainya dari berbagai gangguan yang merugikan dirinya di dunia dan akhirat, yaitu menjaga pemakainya dari adzab dan murka Allah swt.
Berpakain secara berlebihan misalnya menjulurkan/memanjangkan pakaian sampai menyapu lantai atau mode pakaian yang dianggap berlebih menurut pertimbangan akal dan nurani manusia atau melebihi ukuran biasa (tradisi setempat), dan berdandan atau merias wajah secara berlebihan (menor) itu juga termasuk bagian tabarruj.
يَابَنِي ءَادَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَتُسْرِفُوا اِنَّهُ لاَ يُحِبٌّ الْمُسْرِفِيْنَ


“Hai anak Adam! Pakailah pakaianmu yang indah di setiap kali shalat,makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS al-A’raf:31)

وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ

“Janganlah mereka memukul-mukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS Al-Nuur:31)

Oleh karena itu, berpakaian walaupun menutup aurat, tetapi berlebihan, atau busananya ketat dan merangsang karena untuk menarik perhatian seperti yang dijelaskan di atas, adalah tabarruj dan dilarang (haram).

Disarikan dari buku : Tabarruj dalam islam : Muhammad Iqbal Sant

TANYA JAWAB

Q : Bagaimana hukum bagi perias pengantin?
A : Selagi tidak melanggar semua larangan tabarruj dalam islam maka hukumnya boleh saja. Tapi kalau melakukan apa yang Allah larang, maka berdosa. Seperti mencukur atau mentato alis dll.

Q : Bagaimana hukumnya memakai baju dinas yang cenderung membentuk tubuh. ?
A : Hukumnya tidak boleh ya bun dengan alasan apapun. Seorang muslimah mesti menutup aurat dengan serapi mungkin. Baju dinasnya bisa disiasati agar tidak membentuk tubuh.

Q : Kadang ada suami yang menginginkan istri tampil cantik di luar...jadi ketika keluar rumah harus berdandan... bagimana menyikapinya Ustadzah?
A : Tidak mengapa asal tidak melanggar syariat.

Q : Ayat 33 surat al ahzab apakah bersambung dengan ayat 32. Maksud saya mengenai perintah tetaplah di rumahmu. Apakah itu perintah untuk istri istri nabi atau untuk seluruh kaum perempuan? Karena ayat 32 untuk istri istri Nabi.
A : Ayat menetap di rumah itu untuk istri istri Rasulullah.

Q : Satu lagi boleh bun.. Kalau perempuan memakai celana panjang yang tidak ketat dan memadukan dengan atasan yang longgar dan panjang di bawah lutut. Apakah ini juga dilarang? Tidak nampak bentuk tubuh  karena longgar.
A : Celana itu boleh bun asal tidak ketat dan atasannya panjang

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Terbaru