Home » , , , » AGAR AMALAN DI BULAN RAMADHAN OPTIMAL (Grup Nanda)

AGAR AMALAN DI BULAN RAMADHAN OPTIMAL (Grup Nanda)

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, April 26, 2016

Kajian Online WA Hamba الله SWT

Selasa, 26 April 2016
Rekapan Grup Nanda
Tema : Syakhsiyah Islamiyah
Editor : Rini Ismayanti


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya.
Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaAllah aamiin

AGAR AMALAN DI BULAN RAMADHAN OPTIMAL

Tak terasa, dalam hitungan jari, Ramadhan akan kembali menyapa kaum Muslimin. Bulan mulia, bulan yang kehadirannya selalu dinantikan oleh orang-orang yang beriman dan kepergiannya selalu ditangisi oleh mereka. Bulan yang penuh dengan berbagai limpahan keutamaan dan keberkahan dari Allah Swt. 

Ramadhan, Allah Swt menganugerahi keutamaan padanya berupa turunnya kitab suci Alquran (QS. Al Baqarah: 185), kitab yang mulia sebagai petunjuk (al-huda) kepada umat manusia, petunjuk kepada jalan yang lurus dan penyuluh ke jalan yang benar serta sebagai obat penawar (as-syifa’) untuk kaum Muslimin.

Pada bulan Ramadhan sajalah, pintu-pintu rahmat dibuka, pintu-pintu jahannam ditutup dan setan-setan dibelenggu. Selain itu, Allah Swt juga memberikan kemuliaan kepada Ramadhan sebagai bulan yang terdapat satu malam di dalamnya malam seribu bulan(Lailatul Qadar). 

Sementara itu, bagi orang-orang yang beriman, yang menunaikan puasa di bulan Ramadhan dengan iman dan ikhlas maka Allah Swt akan memberikan pengampunan atas dosa-dosanya yang telah lampau. Bahkan dalam kitab Shahih Jami’us Shagir disebutkan “termasuk yang akan datang.”

Sayangnya, kedatangan bulan yang mulia ini kini dianggap biasa-biasa saja oleh umat Islam. Jelang Ramadhan, yang diperbincangkan umat Islam bukan lagi program-program ibadah selama satu bulan, tetapi kebanyakan membicarakan naiknya harga kebutuhan pokok, bagaimana mereka akan membeli pakaian baru serta kebutuhan-kebutuhan fisik lainnya, termasuk memikirkan bagaimana mereka bisa mudik ke kampung halaman. Pun demikian dengan industri televisi yang memanfaatkan Ramadhan sebagai momentum untuk menayangkan berbagai hiburan yang isinya jauh dari nuansa Ramadhan. Tujuan mereka hanya satu, bagaimana menarik keuntungan materi sebesar-besarnya di bulan Ramadhan.

Akhirnya, Ramadhan yang mestinya menjadi bulan ibadah (syahrul ibadah) itu menjadi bulan yang sangat biasa yang tidak berbeda dengan 11 bulan lainnya. Tidak terasa istimewanya, tidak membekas pengaruhnya dan bahkan terasa hampa. Kondisi ini lebih diperparah dengan makin banyaknya orang-orang yang tidak memahami hukum-hukum syara’ di bulan Ramadhan. Banyak sekali mereka-mereka yang tidak memiliki uzhur apapun, makan dan minum seperti biasa di siang hari di bulan Ramadhan.

Oleh karena itu agar kita bisa mengisi bulan Ramadhan dengan amalan ibadah secara maksimal, maka kita harus melakukan sejumlah persiapan. Menurut M Ramadhan Al Muhtasib dalam bukunya “Fikih Praktis Puasa: Berpuasa Seperti Rasulullah Saw”, ada lima hal yang wajib dipersiapkan, yakni persiapan nafsiyah, tasaqafiyah, jasadiyah, maliyah dan mempersiapkan anggota keluarga, termasuk anak-anak. 

1. Persiapan Nafsiyah

Persiapan nafsiyah maksudnya menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan hati gembira bahwa Ramadhan telah datang sebagai bulan untuk taqarub kepada Allah Swt. Sehingga pada bulan ini kita akan berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meraih derajat tertinggi di sisi Allah Swt.

Salah satu cara untuk mempersiapkan jiwa dan spiritual untuk menyambut Ramadhan adalah dengan jalan melatih dan memperbanyak ibadah di bulan-bulan sebelumnya (minimal di bulan Sya’ban).

2. Persiapan Tsaqafiyah

Untuk meraih amalan di bulan Ramadhan secara maksimal diperlukan pemahaman yang mendalam tentang fiqh puasa. Oleh karena itu, persiapan tsaqafiyah tidak kalah penting bagi seseorang untuk mendapatkannya. Sebab dengan memahami fiqh puasa dengan baik seseorang akan  memahami dengan benar mana perbuatan-perbuatan yang dapat merusak nilai puasanya dan mana perbuatan yang dapat meningkatkan nilai dan kualitas puasanya. Karenanya kita harus terus menambah tsaqafah kita tentang fiqh shiyam.

3. Persiapan Jasadiyah

Tak dapat dipngkiri bahwa aktifitas Ramadhan banyak memerlukan kekuatan fisik. Misalnya untuk puasa, qiyamullail, membaca Alquran dan berbagai macam ibadah lainnya. Dengan kondisi fisik yang prima kita dapat melakukan ibadah tersebut tanpa terlewatkan sedikitpun. Karena jika kondisi fisik tidak baik, maka kemungkinan besar kita  tidak akan melakukan amalan Ramadhan dengan maksimal, bahkan akan terlewatkan sia-sia. Padahal amalan di bulan Ramadhan tak dapat digantikan dengan amalan di bulan-bulan yang lain. Oleh sebab itu, sebaiknya kita menyiapkan kondisi fisik dari jauh-jauh hari sebelum Ramadhan.

4. Persiapan Maliyah 

Persiapan keuangan bukanlah untuk membeli pakaian baru di hari lebaran atau menyiapkan bekal untuk mudik. Yang dimaksud dengan persiapan keuangan adalah menyiapkan dan mengatur keuangan untuk berinfak, sedekah dan membayar zakat. Rasulullah pernah ditanya, ‘Sedekah apakah yang paling utama? Beliau menjawab,

“Seutama-utamanya sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan”. (HR Tirmidzi)

5. Mempersiapkan Keluarga

Jangan lupa, selain menyiapkan diri sendiri, kita juga harus menyiapkan anggota keluarga. Termasuk anak-anak kecil kita yang baru akan belajar puasa. Sebab mengantarkan anak untuk berpuasa dan memahami maksudnya bukanlah pekerjaan yang mudah. Kesuksesan mengondisikan anak memerlukan persiapan sejak jauh hari. Oleh karena itu orang tua harus merancang pola pendidikan terbaik untuk putra-putrinya selama bulan Ramadhan. Misalnya melalui cerita dan mainan, membangun suasana keluarga yang kondusif, menyusun menu makanan yang bergizi dan mengajak sahur bersama keluarga.

Demikianlah, secara ringkas, persiapan-persiapan yang hendaknya kita lakukan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Insya Allah, bila persiapan-persiapan itu kita lakukan secara optimal, maka kita akan menjalankan ibadah Ramadhan dengan khusyu’, penuh keimanan dan pengharapan kepada Allah Swt. Sehingga kita mampu meraih derajat takwa, sebagai tujuan orang-orang berpuasa. 
Amin ya mujibassailin.

Wallahu a’lam

Dari berbagai sumber

TANYA JAWAB

M110 by Ustdzh. Lien
Q : Assalamu'alaikum bunda, saya mau tanya.. Bunda apa bedanya malam nuzulul qur'an sama malam lailatul qodr..?
A : Malam lailatul qadar malam diturunkanya Al qur'an secara berangsur angsur dan terdapat di malam-malam terakhir ramadhan ditanggal ganjil. Malam nuzulul Qur'an malam dimana diyakini pertama kali turunnya ayat al qur'an yaitu surah Al Alaq, dimana turun tanggal 17 ramadhan
Allahu'alam

Q : Assalamuallaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ummi..ijin bertanya, apa saja sunah yang biasa Rasullullah lakukan disaat bulan ramadhan?
A : 1. Berpuasa (Shiyam)
Amalan yang utama di bulan Ramadhan tentu saja berpuasa. Hal ini diperintahkan Allah SWT. dalam Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 183-187. Karena itu, agar puasa kita tidak sia-sia, perdalamlah wawasan kita tentang puasa yang benar dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya.
Sebab, puasa bukan sekadar tidak makan dan tidak minum. Tapi, ada rambu-rambu yang harus ditaati. Kata Rasulullah SAW, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yagn semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)
2. Membaca Al-Qur’an (Tilawah)
Al-Qur’an diturunkan perama kali di bulan Ramadhan. Maka tak heran jika Rasulullah saw. lebih sering dan lebih banyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dibandingkan di bulan-bulan lain. Imam Az-Zuhri berkata, “Apabila datang Ramadhan, maka kegiatan utama kita selain berpuasa adalah membaca Al-Qur’an.” Bacalah dengan tajwid yang baik dan tadabburi, pahami, dan amalkan isinya. Insya Allah, kita akan menjadi insan yang berkah.
Buat target. Jika di bulan-bulan lain kita khatam membaca Al-Qur’an dalam sebulan, maka di bulan Ramadhan kita bisa memasang target dua kali khatam. Lebih baik lagi jika ditambah dengan menghafal satu juz atau surat tertentu. Ini bisa dijadikan program unggulan bersama keluarga.
3. Memberikan makanan untuk berbuka puasa (Ith’amu ath-tha’am)
Amal Ramadhan yang juga dianjurkan Rasulullah SAW adalah memberikan santapan berbuka puasa kepada orang-orang yang berpuasa. “Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.” (HR. Turmudzi dan An-Nasa’i).
Sebenarnya memberi makan untuk orang berbuka hanyalah salah satu contoh bentuk kedermawanan yang ingin ditumbuhkan kepada kita. Masih banyak bentuk sedekah yang bisa kita lakukan jika kita punya kelebihan rezeki. Peduli dan sigap menolong orang lain adalah sifat yang ingin dilatih dari orang yang berpuasa.
4. Berdakwah
Selama Ramadhan kita punya kesempatan berdakwah yang luas, karena, siapapun di bulan itu kondisi ruhiyahnya sedang baik sehingga siap menerima nasihat. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan ini. Rasulullah SAW bersabda, barangsiapa menunjuki kebaikan, baginya pahala sebagaimana orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun.
5. Shalat Tawawih (Qiyamul Ramadhan)
Ibadah sunnah yang khas di bulan Ramadhan adalah shalat tarawih (Qiyamul Ramadhan). Rasulullah saw pernah merasa khawatir karena takut shalat tarawih dianggap menjadi shalat wajib karena semakin hari semakin banyak yang ikut shalat berjamaah di masjid sehingga beliau akhirnya melaksanakan shalat tarawih sendiri di rumah.
Ada yang meriwayatkan beliau melaksanakan shalat tarawih berjamaan hanya tiga hari. Saat itu Rasulullah SAW melakukannya secara berjamaah sebanyak 11 rakaat dengan bacaan surat-surat yang panjang. Tapi, di saat kekhawatiran akan diwajibakannya shalat tarawih sudah tidak ada lagi, Umar bin Khattab menyebutkan jumlah rakaat shalat tarawih adalah 21 atau 23 rakaat (HR. Abdur Razzaq dan baihaqi).
6. I’tikaf
Inilah amaliyah ramadhan yang selalu dilakukan Rasulullah saw. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribada kepada Allah SWT. Abu Sa’id Al-khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. pernah beri’tikaf pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan, dan paling sering di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Sayangnya, ibadah ini dianggap berat oleh kebanyakan orang Islam, jadi sedikit yang mengamalkannya.
Hal ini dikomentari oleh Imam Az-Zuhri, “Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan i’tikaf padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak beliau datang ke Madinah sampai beliau wafat.”
7. Lailatul Qadar
Ada bulan Ramadhan ada satu malam yang istimewa: Lailatul Qadar, malam yang penuh berkah. Malam itu nil

Q : Sebelum bulan Ramadhan , biasanya ada malam nisfu syaban, biasanya pada berbondong-bondong ke masjid dan membawa sebotol air minum yang dibacakan surat yasin, untuk diminum... Apakah itu hanya kebiasaan / adat? Ataukah memang dianjurkan?
A : Itu tradisi, dan sebenarnya tidak pernah dicontohkan oleh Rasul. Bahkan malam nisyfu sya'ban itu ga da hukumnya.. afwan

Q : Bunda apa saja yang dilakukan rosulullah  untuk menyambut bulan ramadhan? Lalu bagaimana pandangan islam tentang takbir keliling?
A : Sudah ada sy jawab y mb... lihat di no 2. Takbir keliling, itu syiar bagaimana kita menyambut ramadhan, dan itu sah-sah saja selama caranya benar mb 

Q : Bunda maksut pertanyaan saya persiapan yang dilakukan rosulullah menjelang ramadhan, jadi ketika bulan sya'ban
A : Rasulullah banyak berpuasa sunnah mb, menguatkan sholat malam juga tilawahnya... agar saat ramadhan ga kaget lagi

Q : Prioritas mana puasa Ramadhan atau mempertahankan asupan nutrisi buat calon baby?  Karena kan ada masa-masa dimana pembentukan organ tubuhnya. Saran dokter ditunda dulu puasanya , karena mual juga kadang kala masih aku rasakan jadi bikin malas makan. Aku mau mencoba puasa selama aku mampu.
Jazakillah bunda 
A : Jika khawatir bayinya akan sakit misalnya maka sebaiknya tidak brpuasa dulu mb dan bisa diganti saat sudah melahirkan

Q : Bund, terkait puasa yang diganti sesudah lahiran apakah diganti sebanyak yang tertinggal atau bayar fidyah saja Bun?
A : Diganti tetap dengan puasa mb 

Q : Kalo sebulan penuh gimana Bun? Terus tahun depannya hamil lagi?
A : Nah itu beda kondisi mb.. jika demikian diperbolehkan membayar fidyah walaupun ada yang berpendapat tetap harus membayar puasanya dengan puasa.

Q : Bunda mau tanya pernah dengar katanya klo hutang puasa tahun lalu belum di bayar maka tahun selanjutnya itu dibayar double benarkah bunda atau bagaimana ?
A : Klo dibayar itu harus mb, cuma ko bayar dobel itu ga da sunnahnya. Bayar hutang puasa sesuai dengan berapa hari ga puasanya... kayak riba aja mb berbunga puasanya 2x lipat

M115 by Ustdzh Fina
Q : Cara menjaga hati itu bagaimana ukhti, agar ibadah kita diterima Allah swt..?
A : "Dan katakanlah,'Beramallah kalian,maka Allah dan RasulNya serta orang-orang  beriman akan melihat amal kalian itu,dan kalian akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata,lalu diberitakanNya kepada kalian apa yang telah kalian amalkan"(QS. At-Taubah:105)
Bahwa dikatakan oleh Imam As-Syahid,yang dimaksud dengan amal adalah buah dari ilmu(dari kepahaman) dan keikhlasan. Dan syarat agar amalan kita diterima hanyalah ketika memenuhi dua hal saja yaitu :
1. Keikhlasan dan lurusnya niat
2. Sejalan dengan sunnah dan syariat
Maka tidak cukup amalan itu hanya diikuti oleh keikhlasan saja melainkan harus sesuai dengan syariat dan begitu pula sebaliknya. Lalu bagaimana agar kita dapat selalu menjaga hati kita dari riya dst maka patutlah kita contoh bagaimana para ulama dan sahabat dalam menjaga keikhlasan amalnya. Dahulu sebagian orang sholih menangis pilu saat sedang sakit,lantas sebagian orang yang menjenguknya bertanya," Mengapa engkau menangis,padahal engkau telah puasa,sholat malam,berjihad,bersedekah,haji,umrah,mengajarkan ilmu dan berdzikir." Ia menjawab," Siapa yang dapat menjamin bahwa itu semua memperberat timbangan amal baikku,dan siapa yang menjamin bahwa amalku diterima disisi Tuhanku? Sementara Allah berfirman," Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa."(QS. Al-Ma'idah:27)
At Tirmidzi meriwayatkan bahwa Aisyah istri Nabi Shollallohu 'alaihi wasallam berkata," Saya bertanya kepada Rasulullah tentang ayat,"Dan orang-orang yang telah memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut."(QS. Al-Mu'minun:60), Aisyah berkata,"Apakah mereka itu orang yang meminum khamar dan mencuri?" Rasulullah menjawab,"Tidak,wahai putri (Abu Bakar) Ash-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa,sholat,dan bersedekah,tetapi mereka takut kalau amal mereka tidak diterima (oleh Allah). Mereka itulah orang-orang yang bersegera menuju kepada berbagai kebajikan."(HR. Tirmidzi,5/306,no. 3715)

Q : Ustadzah gimana caranya kita membedakan riya dan ibadah yang lillah , afwan .  Kadang niat seseorang itu kan berbeda .. bagaimana caranya kita agar jauh terhadap riya di bulan  ramadhan atas amalan" yang kita kerjakan ?
A : Untuk itu kita perlu tahu apa saja indikator seseorang dikatakan ikhlas dalam beramal.
Ada 5 indikator ikhlas dalam beribadah kepada Allah antara lain:
1. Abaikan dunia dalam beribadah
Sahabat-sahabat semua, ketika kita beribadah kepada Allah cukupkan niat ibadah kita hanya karena dan untuk Allah saja. Tidak mencampuri niat tersebut dalam urusan dunia. Misalnya saja ketika kita mampu untuk beramal sekian miliar rupiah kepada sebuah yayasan atau masjid atau lainnnya, maka bersihkan hati kita dari niatan untuk mendapatkan derajat yang tinggi di mata manusia lainnya. Beramal shodaqohlah karena Allah bukan karena ingin dibilang kaya, bukan karena ingin dan berharap dapat meninggikan status sosial dalam masyarakat. Atau juga ketika kita shalat, maka niatkan shalat kita hanya karena dan untuk Allah. Bukan karena ingin mendapatkan pujian dari calon mertua atau ada orang kita kagumi. Beribadahlah karena Allah bukan karena dunia. Naah... untuk indikator pertama ini, sudah sampaikah diri kita??? Jawab di hati saja yaa..
2. Cenderung suka merahasiakan amal-amalnya
Indikator yang kedua ini adalah indikator keikhlasan yang terbilang cukup sulit. Merahasiakan amalan-amalan yang kita lakukan terkadang membutuhkan suatu keikhlasan yang cukup tinggi. Bayangkan saja, ketika kita ditanya oleh teman, "lagi ngapain?" maka sengaja atau tidak terkadang kita terbiasa memberi tahu amalan yang baru saja kita kerjakan, kita jawab, "habis shalat dhuha, lalu mengaji." Memang ketika kita menjawab dengan jawaban jujur tersebut tidaklah ada niatan melenceng dalam hati sehingga menjadi riya, namun Syaithan itu gemar sekali menggoda manusia, kemungkinan ada sedikit rasa riya juga pasti ada. Karenanya demi menghindari riya tersebut yang pada akhirnya akan memakan pahala dari amalan kita tadi, maka alangkah lebih baiknya jika cukup kita dan Allah saja yang tahu amalan apa yang telah kita lakukan. jika memang orang lain harus tahu, biarlah mereka tahu sendiri.
3. Keadaan disaat kita sendiri itu lebih baik daripada ketika di hadapan orang lain
Nah, indikator ini juga kurang lebih melibatkan sifat buruk riya lagi. Orang yang hatinya ikhlas dalam beribadah kepada Allah , maka ia akan beribadah dengan lebih khusyu ketika ia seorang diri daripada ketika ia tengah bersama-sama orang lain. Karena sesungguhnya saat kita seorang diri itulah saat dimana kita tengah berduaan dengan Allah . Berbeda dengan orang yang tidak ikhlas dalam beribadah. Misalnya ketika ia akan shalat kemudian ada sahabat atau orang yang ia sayangi dan kagumi, maka ia akan berusaha shalat sebaik-baiknya di hadapan orang-orang tersebut. Sedangkan ketika ia shalat sendirian di kamarnya dan tidak ada orang yang melihatnya, ia shalat hanya tiga menit dengan gerakan dan bacaaan yang super duper ekspress. Masya Allah, semoga kita bukan orang seperti itu ya, kawan!
4. Memiliki rasa takut yang luar biasa terhadap Allah
Orang yang ikhlas dalam beribadah itu memiliki tingkat ketakutan terhadap Allah yang begitu tinggi. Ia takut amalannya hari ini tidak diterima Allah  karena ia merasa ia adalah manusia biasa yang pasti tidak sempurna  dalam beribadah. Ia takut dosa-dosa yang sering ia perbuat tidak mendapat ampunan dari Allah swt karena ia sadar ketika ia memohon ampun kepada Allah ia masih memiliki kemungkinan untuk melakukan kembali dosa-dosanya tersebut.
5. Tidak mau dipuji orang lain tapi tidak takut dicela orang lain
Masih dalam lorong-lorong sifat riya yaitu ingin dipuji orang lain. Orang yang memiliki hati ikhlas malah tidak nyaman apabila ia mendapat pujian dari orang lain terutama dalam hal ibadahnya. Karena ia merasa ibadah yang ia lakukan belumlah ada apa-apanya dibandingkan dengan ibadah Rosulullah dan para sahabat beliau. Tapi ia juga tidak takut dicela orang karena misalnya ia tidak pernah terlihat shalat, padahal sebenarnya ia sangat rajin shalatnya. Atau ia tidak pernah terlihat bershodaqoh padahal sebenarnya ia sering sekali bershodaqoh hanya saja ia tidak mencantumkan namanya sehingga tidak dapat diketahui oleh orang lain

Q : Bunda, kalau ada yang berpuasa tapi tidak menunaikan kewajiban yang lain seperti sholat gimana ya,,
A : Silahkan dicoba saat ini yang sedang luang untuk bisa visualisasikan percobaan sederhana yang ana berikan. Pertama ambil segelas air mineral, atau gelas plastik berisi air, atau botol air minum dan semacamnya..pastikan bukan terbuat dari kaca ya.....
Kemudian yang kedua...genggam erat gelas tersebut dengan 5 jari kita... kemudian
1. Lepaskan jari kelingking,apa yang terjadi?
2. Lepaskan jari manis,apa yang terjadi?
3. Lepaskan jari tengah apa yang terjadi?
4. Sekarang tentu hanya tersisa jari telunjuk dan ibu jari,maka kemudian lepaskan jari telunjuk apa yang terjadi????
Maka jika diibaratkan dengan rukun islam, ada jari kelingking sebagai ibadah haji, jari manis sebagai zakat, jari tengah sebagai puasa, jari telunjuk sebagai sholat dan ibu jari sebagai syahadat. Maka keseluruhan itu adalah wajib dilakukan, namun untuk ibadah haji hingga puasa ada rukhsoh/keringanan bagi manusia dengan syarat-syarat tertentu..misal ibadah haji wajib bagi yang mampu, zakat wajib dikeluarkan bagi muzakki dan disisi lain ada mereka yang tidak wajib mengeluarkan melainkan mereka menerima zakat, dan puasa wajib bagi seluruhnya namun ada keringanan untuk orang tua, wanita hamil/menyusui, sakit, safar dst
Sedangkan sholat hukumnya wajib dalam keadaan apapun, ketika ia tidak dijaga kesempurnaannya, ketika ia tidak dilaksanakan maka runtuhlah agama kita, runtuhlah tiang agama ini. Tidak peduli sebanyak apapun amalan ibadahnya. Dan dia adalah amalan yang pertama kali dihisab sebelum amalan yang lain.

M111 by Ustdzh Evi
Q : Bun mau tanya, tapi sedikit keluar dari materi, kalo di rumah aku imam shalat tarawihnya cepet banget, jadi ga khusyuk gitu buat sholatnya. Aku baru takbir imam udah rukuk. Nah setahun kmarin aku memutuskan untuk shalat tarawih di rumah, kalo kondisinya begitu boleh ga??
A : Rasul 1 tahun pertama yang melakukan tarawihnya di mesjid. Berikutnya beliau melakukan di rumah. Kekhawatiran para sahabat menganggapnya sebagai kewajiban. Dimasa Umar shalat tarawih di mesjid disyiarkan kembali karena banyak yang mulai melalaikannya.  Jadi nanda tidak mengapa untuk sholat tarawih dirumah. Digiatkan di mesjid atau musholah karena sebagian orang justru melalaikan jika dilaksanakan sendiri dirumah. Ya nanda

M103 by stadzah runie
Q : Assalamualaikum bunda,senantiasa sehat yah bun  aku mau tanya masalah materi di atas. Bagaimana cara memperoleh malam lailatul qodar, dan ciri-ciri malam laialtul qodar itu seperti apa? Kemudian dalam persiapan menjelang ramadhan ini, apa saran bunda untuk bagian persiapan amal ibadah salah satunya tadarus. Syukron bunda..
A : Waalaikumussalam nanda shalehah,
Dinamakan lailatul qodr karena pada malam itu malaikat diperintahkan oleh Allah swt untuk menuliskan ketetapan tentang kebaikan, rezeki dan keberkahan di tahun ini, sebagaimana firman Allah swt :

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ ﴿٣﴾
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ﴿٤﴾
أَمْرًا مِّنْ عِندِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ﴿٥﴾
Artinya : ”Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad Dukhan : 3 – 5)

Al Qurthubi mengatakan bahwa pada malam itu pula para malaikat turun dari setiap langit dan dari sidrotul muntaha ke bumi dan mengaminkan doa-doa yang diucapkan manusia hingga terbit fajar. Para malaikat dan jibril as turun dengan membawa rahmat atas perintah Allah swt juga membawa setiap urusan yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di tahun itu hingga yang akan datang. Lailatul Qodr adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya tanpa ada keburukan hingga terbit fajar, sebagaimana firman-Nya :

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾

Artinya : ”Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qodr : 4 – 5)
Diantara hadits-hadits yang menceritakan tentang tanda-tanda lailatul qodr adalah :
1. Sabda Rasulullah saw, ”Lailatul qodr adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah yang dishahihkan oleh Al Bani.
2. Sabda Rasulullah saw, ”Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qodr lalu aku dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar setannya hingga terbit fajarnya.” (HR. Ibnu Hibban)
Syaikh Yusuf qardhawi mnjlskan bahwa kondisi cuaca di tiap negara berbeda, namun setiap bagian dapat memperoleh malam lailatul qadr ini, oleh karena itu malam lailatul qadr adalah rahasia Allah.
Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dai Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa melakukan qiyam lailatul qodr dengan penuh keimanan dan pengharapan (maka) dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.”
Juga doa yang diajarkan Rasulullah saw saat menjumpai lailatul qodr adalah ”Wahai Allah sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi Maaf, Engkau mencintai pemaafan karena itu berikanlah maaf kepadaku.” (HR. Ibnu Majah)
Dari kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa dianjurkan bagi setiap yang menginginkan lailatul qodr agar menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah, seperti : shalat malam, tilawah Al Qur’an, dzikir, doa dan amal-amal shaleh lainnya. Dan orang yang menghidupkan malam itu dengan amal-amal ibadah akan merasakan ketenangan hati, kelapangan dada dan kelezatan dalam ibadahnya itu karena semua itu dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridho Allah swt.

Q : Assalamualaykum  Bunda. Mau nanya. Bagaimana mau khatam alquran dalam masa sebulan itu di masa bulan ramadhan?
A : Waalaikumussalam nanda shalehah, masya Allah, ramadhan sbg tarbiyah qurani jadi moment yang pas untuk semakin dekat dengan Al Qur'an. Siapkan energi, cinta yang besar untuk terus dapat berinteraksi dengan Al Qur'an. Siapkan target per hari/ per shalat/per aktivitas untuk dapat berinteraksi dengan Al Qur'an. (Pertimbangkn kapan waktu haid kita). Slalu lafadzkan doa , semoga Allah memudahkan kita untuk bisa mengkhatamkan Al Qur'an di bulan ramadhan ini. Aamiin ya rabbal alamin

Q : Assalamu'alaikum bunda, ana mau Tanya, amalan apa yang bisa di lakukan pada wanita sedang haid di malam lailatul qodar ??
A : Waalaikumussalam nanda shalehah. malam lailatul qadr adalah rahasia Allah, namun cirinya sudah banyak dijelaskan oleh rasulullah pun para sahabat.
Point nya adalah lakukan ibadah dengan grafik kualitas meningkat,dmulai dari 10 hari pertama, kedua dan ketiga; sekalipun diantara hari itu ada bagian kita dalam kondisi haid. Sudahkah hati kita semakin ikhlas, ridha dgn semua kondisi yang telah dtetapkan Allah. Di posisi inilah kita bisa merasakan malam lailatul qadr. In syaa Allah

Q : Assalamu'alaikum Bunda. Ana mau tanya gimana ya cara agar bulan puasa ini dapat menjadikan pribadi yang lebih baik lagi dan tidak hanya rajin menjalankan di bulan ramadhan saja tapi di bulan-bulan lainnya juga? Gimana bun tipsnya kalo mau jadi wanita yang sholehah itu?
A : Waalaikumussalam nanda shalehah, bulan Ramadhan mnjd begitu spesial karena syaithan yang ada di luar di bulan ini telah  'dipenjara' dan Rahmat Allah hadir lebih besar; yang menjadi momentum untuk kita dalam beribadah lebih khusyuk, tinggal mengalahkan syaithan dalam diri sendiri 'nafsu'.
Konsistensi di bulan slanjutnya tergantung dari bagaimana sikap kita. Kita telah mengenal ujian-ujian syaithan diluar tinggal bagaimana kita mengenali syaithan dalam diri, cara untuk tetap istiqamah. Hal paling mudah adalah slalu bersama orang-orang shaleh dalam kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Wangi nya orang shaleh mampu menjadikn kita 'shaleh', selanjutnya harumkanlah diri pribadi dengan dzikr dan menjaga kualitas ibadah.

Q : Assalamu'alaykum bunda, saya mau tanya do'a buka puasa yang diajarkan Rasulullah ??
A : Waalaikumussalam mbak sayang,  doa terkait berbuka ada dua:
a. Doa menjelang berbuka. Doa ini dibaca sebelum qt mulai berbuka. Doa ini bebas, anda bisa membaca doa apapun, untuk kebaikan dunia dan akhirat Anda.
b. Doa setelah berbuka. Ada doa khusus yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dinyatakan dalam riwayat dari Ibnu Umar. Lafadz doanya adalah

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ
Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah

Sebagai muslim yang baik, selayaknya kita cukupkan doa setelah berbuka dengan doa yang shahih ini, dan tidak memberi tambahan dengan redaksi yang lain.
Allahu a’lam

Q : Assalamualaikum bunda saya mau Tanya gimana hukumnya.... jika seperti ini, saya anak kosan sering bergadang dan lewat sahur. Kalau tidak sahur, puasanya pasti demam lemas sekali menjalani puasa..Tapi saya msh sanggup bertahan smpai berbuka. Ada yang bilang puasa saya jadi makruh... Ada yang bilang jadi ga sah...? Benarkah?
A : Waalaikumussalam mbak sayang, sahur hukumnya dianjurkan ketika shaum, namun bukan inti puasa dan bukan diantara syarat sah puasa. Jadi puasa seseorang tetap sah skalipun paginya tidak sahur. Usahakan sahur untuk menopang aktivitas dan kondisi tubuh kita, supaya maksimal hingga 10 hari terakhir.


M101 by Ustadzah Riyanti
Q : Bagaimana hukumnya bila ada orang yang belum melaksanakn qodo puasanya yang tahun lalu? Sedangkan misalnya skarang sudah masuk waktu puasa ramadhan?
A : Perbanyak taubatan, istighfar karena sudah melalaikan yang wajib. Tetap dibayar utang puasanya di tahun berikutnya sesuai jumlah hutangnya. Beri makan orang miskin semampunya.

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:



سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!