Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

CARA RASULULLAH DAN SAHABAT MENYAMBUT RAMADHAN (grup Nanda)

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Selasa, 12 April 2016
Rekapan Grup Nanda 
Tema : Syakhsiyah Islamiyah
Editor : Rini Ismayanti


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya.
Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaAllah aamiin.

CARA RASULULLAH DAN SAHABAT MENYAMBUT RAMADHAN

Pada detik-detik menjelang kehadiran bulan Ramadhan, kita seringkali melakukan berbagai seremonial dan acara-acara keagamaan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Ya, itulah yang biasa kita kenal dengan istilah tarhib Ramadhan alias menyambut Ramadhan.

Istilah tarhib yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan "menyambut" memiliki makna filosofis yang cukup dalam. Ramadhan yang kita sambut ini berarti sesuatu yang memang kita tunggu-tunggu kehadirannya. Entah bagaimana perasaan kita ketika sedang menunggu saat-saat yang mendebarkan hati? Apalagi sudah ditunggu-tunggu selama sebelas bulan. Sikap tersebut adalah wujud begitu besarnya cinta kita terhadap bulan ini.

Di lingkungan kita, pada saat menjelang bulan Ramadhan, terdapat tradisi unik untuk mengungkapkan kebahagiaan luar biasa. Ada yang berpawai ria dan konvoi, ada pula yang melakukan long march, ada yang menyebar jadwal imsak, ada yang silaturahim seperti halnya lebaran, ada yang bermaaf-maafan, ada yang kumpulan, ziarah ke makam keluarga alias nyekar, ngariung, megengan, munggahan, kirab, dan masih banyak lagi tradisi sejenis lainnya. Bahkan tidak sedikit pedagang yang menabung hasil jerih payahnya selama sebelsa bulan hanya untuk persiapan Ramadhan. Selama Ramadhan ia memilih mudik dan tidak berjualan agar bisa fokus beribadah.

Lalu, bagaimanakah cara Rasulullah saw menyambut Ramadhan, alias tarhib Ramadhan? Beliau melakukan tarhib Ramadhan jauh-jauh hari sebelum datangnya Ramadhan. Pada bulan Sya’ban, Rasulullah saw pun semakin meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya. Beliau saw, misalnya, tidak pernah melakukan puasa sunah sebanyak yang dilakukan di bulan Sya’ban. Salah satu dari hikmah memperbanyak puasa di bulan Sya'ban adalah sebagai latihan puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Apakah itu bukan sebuah tarhib? Ya, begitulah salah satu cara Nabi menyambut kehadiran Ramadhan, sebulan sebelumnya telah dipersiapkan matang-matang.

Di samping itu, jika kita baca hadis-hadis Rasulullah saw yang lain, pasti kita juga akan mendapati cara-cara beliau yang lain menyambut kehadiran bulan suci ini. Adalah baginda Nabi Muhammad saw yang benar-benar melakukan tarhib Ramadhan paling meriah dan paling lama. Beliau melakukan tarhibRamadhan tidak cukup sehari atau dua hari saja. Beliau mempersiapkan penyambutan Ramadhan mulai dari menjelang kedatangannya hingga kepulangannya. Ketika sudah datang pun, Ramadhan masih juga beliau sambut dengan meriah. Dengan demikian, setiap hari di bulan Ramadhan adalah tamu agung yang berbeda-beda. Hari-hari Ramadhan bak tamu agung yang datang silih berganti.

Penyambutan Ramadhan tidak dilakukan dengan sekadar mengungkapkan rasa bahagia atau gembira saja, melainkan dengan persiapan matang secara fisik dan mental agar kuat dalam menjalankan ibadah spesial selama sebulan penuh itu. Riwayat tentang jaminan bebas neraka karena kegembiraan dalam menyambut bulan Ramadhan sebagaimana yang popular di kalangan kita adalah tidak berdasar alias palsu.

النِّيْرَانِ عَلَى جَسَدَهُ اللهُ حَرَّمَ رَمَضَانَ بِدُخُوْلِ فَرِحَ مَن
“Siapa yang bergembira karena menyambut datangnya bulan Ramadhan, niscaya Allah haramkan jasadnya dari neraka.”

Riwayat tersebut hanya dapat dijumpai dalam kita Durratunnasihin, namun tanpa sanad. Sementara itu, untuk bisa menyatakan bahwa hadis tersebut sahih dari nabi Muhammad saw adalah dengan sanad tersebut. Siapa yang menyampaikan hadis tersebut menjadi penting untuk diketahui dan dikaji. Karena tidak juga ditemukan, maka para ulama menegaskan bahwa ungkapan tersebut bukan sebuah hadis Nabi saw. Entah siapa yang pertama kali mengucapkan ungkapan itu, namun yang jelas, bila ungkapan itu dinisbahkan kepada Nabi saw, maka hal itu menjadi hadis palsu dan kebohongan atas nama nabi yang pelaku dan pengedarnya diancam neraka. Na'udzubillah wa nastaghfiruh.

Bergembira menyambut Ramadhan adalah sesuatu yang sah-sah saja dilakukan. Namun, jika menjadikan hadis palsu di atas sebagai dasarnya, hal ini menjadi masalah baru dalam beragama. Masih banyak hadis-hadis sahih dari Nabi yang menyatakan kegembiraan akan kedatangan bulan Ramadhan selain hadis palsu di atas. Cukuplah bagi kita dasar-dasar dari al-Quran dan sunnah-sunnah nabi yang sahih sebagai acuan beragama kita, di dalam maupun di luar Ramadhan.

Adalah Nabi Muhammad saw orang yang selalu memotivasi para sahabatnya dalam berbagai hal, khususnya masalah keislaman dan Ramadhan. Beliau selalu menyemarakkan malam-malam Ramadhan untuk qiyamullail. Beliau bersabda,

ذَنْبِهِ مِنْ تَقَدَّمَ مَا لَهُ غُفِرَ وَاحْتِسَابًا إِيْمَانَا رَمَضَانَ قَامَ مَنْ
“Siapa yang bangun (menyemarakkan malam-malam) Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, pasti akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Tentu, yang dosa yang diampuni sebagaimana janji Allah tersebut adalah dosa-dosa kecil, karena kalau dosa besar seperti syirik, zina, membunuh orang, dan sejenisnya diperlukan taubat nasuha. Apalagi jika dosa tersebut menyangkut hak orang lain, maka harus minta maaf terlebih dahulu kepada yang berhak. Nah, begitulah cara Nabi menyambut ramadhan di malam hari.

Lalu, bagaimana cara beliau menyambut hari-hari Ramadhan kala siang hari?
Rasulullah saw bersabda,

ذَنْبِهِ مِنْ تَقَدَّمَ مَا لَهُ غُفِرَ وَاحْتِسَابًا إِيْمَانَا رَمَضَانَ صَامَ مَن
“Siapa yang puasa (di siang) Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, pasti akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Kalau di malam hari, Nabi memotivasi kita untuk bergadang yang diisi dengan ibadah alias qiyamullail, maka pada siang harinya, kita diperintahkan untuk berpuasa. Awas jangan sampe bolong kalau tidak benar-benar dalam kondisi darurat karena sakit, musafir, atau datang bulan bagi wanita. Itu pun harus diganti. Demikianlah, kalau semua itu kita lakukan dengan ikhlas karena Allah, pasti bakal diampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Dengan ampunan itulah, kita bisa selamat dari lahapan Neraka, Si jago merah itu. Mudah, bukan?

Kalau biasanya di saing hari kita makan-minum, jalan-jalan, maka pastilah hal itu menguras tenaga dan juga kantong. Nah, dengan puasa kita tidak menguras apa-apa. Berarti lebih mudah dong! Di samping itu, pada malam hari kita juga biasa bergadang, apalagi kalau ada pertandingan bola, maka pada malam Ramadhan kita juga melakukan hal yang sama, bergadang juga. Malahan, kali ini bisa rame-rame lagi bareng keluarga dan masyarakat. Tidak perlu berlama-lama, asalkan dilakukan dengan penuh keihlasan dan istikamah, yang penting bergadangnya tidak disalahgunakan. Begitulah kanjeng Nabi kita menyambut hari per hari di bulan Ramadhan.

Berikut adalah testimonial istri-istri beliau mengenai amaliyah Nabi saw di bulan suci,
مِئزَرَهُ وَشَدَّ أهْلَهُ وَأيْقَظَ لَيْلَهُ أحْيَا رَمَضَانَ مِنْ الأَوَاخِرَ العَشْرَ دَخَلَ إِذَا وَسَلَّمَ عَلَيْهِ اللهُ صَلَّى اللهِ رَسُوْلُ كَان
((متفقٌ عَلَيْهِ))
“Dulu, Nabi saw ketika sudah memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) selalu menghhidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan sarungnya (tidak menggauli istri-istrinya)." (HR. Bukhari dan Muslim)

لا مَا مِنْهُ الأوَاخِرِ العَشْرِ وَفِي ،غَيْرِهِ في يَجْتَهِدُ لاَ مَا رَمَضَانَ في يَجْتَهِدُ - وَسَلَّمَ عَلَيْهِ اللهُ صَلَّى- اللهِ رَسُوْلُ كَان
(رواه مسلم).غَيْرِهِ في يَجْتَهِد
“Dulu, Nabi saw selalu bersungguh-sungguh (ibadah) di bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di bulan lain. Dan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, juga melebihi hari-hari selainnya." (HR. Muslim)

Malam-malam ramadhan selalu disemarakkan dengan beribadah, qiyamullail: Shalat malam, membaca al-Quran, daibadah-ibadah lainnya. Semarak malam-malam ramadhan juga diramaikan oleh keluarga beliau dan bahkan masyarakat sekitarnya.

Pernah suatu ketika, Nabi sedang menyemarakkan malam-malam Ramadhan, kemudian diketahui oleh para sahabat, maka pada malam berikutnya, beliau dikejuntukan dengan banyaknya sahabat yang turut mengikuti beliau di masajaid. Lalu, nabi pun kasihan terhadap mereka sehingga beliau melaksanakannya di rumah agar hal tersebut tidak diwajibkan bagi umatnya. Begitulah cara Nabi dan masayarakatnya melakukan tarhib ramadhan hingga paripurna. Adakah di antara kita yang menyambut Ramadhan lebih semarak dan meriah dibanding Nabi dan sahabatnya itu?

Demikianlah, wujud kegembiraan yang hakiki dalam menyambut hadirnya bulan Ramadhan. Ketika yang disambut, dirindukan dan dinanti-nanti telah tiba, ia tidaklah dilewatkan begitu saja. Begitu istimewanya bulan Ramadhan, maka sepuluh malam terakhir itu pun oleh nabi sekaligus dijadikan sebagai malam perpisahan, Farewell party dengan ramadhan. Entah, kegiatan apakah di seluruh belahan dunia ini yang acara pesta penutupan dan perpisahannya dilakukan selama sepuluh hari? Apalagi di malam-malam farewell party itu ada satu malam penganugerahan seribu bulan. Itulah malam teristimewa yang tidak di dapati di malam-malam yang lain, lailatul qadar. Pasti seru, beramai-ramai setiap malam bersama keluarga di bulan Ramadhan yang kita sayangi, kita nanti-natikan sampai kedatangannya saja dirayakan secara besar-besaran. Sebenarnya, kita semua sudah mengetahui dan bahkan menyadari betul akan hal tersebut. Namun, kita seringkali lupa bahwa itulah esensi tarhibRamadhan, penyambutan bulan Ramadhan yang hakiki. Bukan, sekadar mengungkapkan kegembiraan saat menjelang Ramadhan atau di awalnya saja, melainkan setiap hari dan setiap saat hingga Ramadhan itu pulang dan akan datang kembali..

Tentu kita seharusnya juga masih ingat dan sadar betul atas apa yang selalu kita minta selama dua bulan penuh menjelang Ramadhan. Ya, di bulan Rajab dan Sya'ban kita hampir setiap hari diajari sebuah doa agar disampaikan pada bulan Ramadhan.

رَمَضَانَ وَبلِّغْنَا وَشَعْبَانَ رَجَبَ فِيْ لَنَا بَارِكْ اَللَّهُمَّ
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah (umur) kami kepada bulan Ramadhan.”

Lalu, apa esensi doa tersebut? Buat apakah doa tersebut? Tentu kita memohon-mohon selama dua bulan penuh itu tidak lain adalah agar bisa menyantap keberkahan tak terhingga di bulan Ramadhan ini. Maka, kini adalah saat yang tepat untuk menepati janji kita karena doa kita telah dikabulkan oleh Allah. Kini kita masih sempat membaca tulisan ini, berarti kita benar-benar diberikan kesempatan menikmati Ramadhan. Waffaqanallahu Lima yuhibbuhu wa yardlah. Amin…

Wallahua'lam bish showab
Sumber :
Diadaptasi dg perubahan seperlunya dari Ustadz Ahmad Ubaydi Hasbillah - Pengajar Quran Learning Centre


TANYA JAWAB

M103 by Ustadzah Runie
Q : Bunda seperti yang saya lihat di lingkungan jika wanita hamil kebanyakan memilih tidak puasa sudah diberi tahu bahwasannya wanita hamil masih d wajibkan untuk berpuasa tapi tidak dengan alesan takut debaynya kenapa napa nah cara nasehati yang baiknya gimana ya bun? Dan cara membayarnya apakah  dengan puasa atau membayar fidiyah
jazzakillah bund
A : Afwan konteks "kebanyakan.." terkesan men-generalisir, baiknya dikonfirmasi langsung dulu ke yang terkait, bisa jadi karena suaminya yang meminta karena tahu kondisi aktivitas istri, atau pun faktor cuaca seperti saat ini yang jadi pertimbangan calon ibu atau pun faktor lain yang baiknya prasangka baik kita utamakan.
a. Shaum di bulan ramadhan adalah kewajiban yang harus dipenuhi seorang muslim. Ada kondisi seperti seorang muslim yang sakit dan tidak mampu berpuasa, lansia, ibu menyusui, ibu hamil ataupun musafir yang dapat mengambil rukhshah keringanan untuk tidak berpuasa, namun tidak menggugurkan kewajiban tsb.
b. Ada jumhur ulama yang berpendapat kewajiban tsb sudah tergantikan bila sudah membayar fidyah. Namun, ada juga yang berpendapat untuk ibu hamil, ibu menyusui bahwa membayar fidyah tidak menggugurkan kewajiban, sehingga masih ada hutang yang harus ditunaikan.
c. Jadi pilih yang mana? Pilih yang paling memudahkan untuk dilakukan sesuai kapasitasnya. Wallahu'alam

Q : Bunda..gimana cara nya menumbuhkan rasa cinta dan semangat dalam diri saat tarhib ramadhan?
A : Berada di lingkungan kondusif, berada di antara orang-orang yang menghidupkan mesjid, bercahaya karena lisan yang tak  lepas dari dzikir dan mengutamakan tilawah. Masya Allah, rindunya hati ini... Semoga kita bisa menjadi pionir tsb. Afwan

Q : Bunda..Kalau wanita ada beberapa hal hingga ad rukhshah yang didapat. Seperti ibu hamil atau menyusui, datang bulan dll. Kalau laki-laki apakah ada selain sakit n musafir?
A : Lansia,sakit,musafir ya mbak.. Laki-laki adalah imam untuk mberi teladan (qawam).

Q : Bunda dalam materi kan ada beberapa hadis palsu yang beredar tentang tarhib ramadhan. Ana  yang masih awam dan sedikit ilmu ini, adakah tips atau cara agar kita tahu mana yang hadis palsu,dhaif atau hasan?  Karena nanti bukan hanya hadis tentang tarhib ini saja,bisa saja yang lain ana baca. Takut ntar salah kaprah.
A : Siapa yang meriwayatkan, apakah awal riwayatnya k rasulullah?

Q : Belum paham bun..Bisa kah di contohkan bun?
A : Coba lihat penjelasan nya di materi, bagian " siapa yang bergembira menyambut ramadhan, maka diharamkannya api neraka.."

Q : Owh iya bun.. gak ada perawi nya. Kalau misalnya hadis riwayat HR. Bukhari. di belakang nya. Berarti itu asli ya bun..
A :  Lanjut ya, misal di belakangnya tertulis siapa yang meriwayatkan, kita bisa chek apa ini  diriwayatkn langsung  dari rasulullah atau misal melalui aisyah atau melalui sahabat.
Tujuannya; kita mengetahui sumber nya dengan jelas.

Q : Bunda apa yang spesial dari bulan Rajab dan Sya'ban ?
A : Dua bulan ini sama spesialnya dengan bulan-bulan yang lain.
Bulan Rajab, pada jaman jahiliyah adalah termasuk dari 4 bulan yang dharamkan untuk berperang. Tidak ada hadist yang mengkhususkan ibadah pada bulan ini, misal puasa di hr kamis pertama, lanjut besok nya ini bid'ah.
Pun pada  bulan sya'ban. Kecuali ada hadist yang meriwayatkan kebiasaan-kebiasaan rasulullah di bulan sya'ban, sperti;
Hadits diriwayatkan dr Aisyah ra, beliau berkata,
لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ وَكَانَ يَقُولُ خُذُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ
“Nabi tidak pernah berpuasa pada satu bulan lebih banyak dari Sya’ban, karena beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh dan beliau menyatakan, ‘Beramallah sesuai kemampuan kalian.’” (Riwayat Al-Bukhari)
Klo kita mau ibadah pada  bulan ini niatnya bukan karena mengejar kekhususan, luruskan niat untuk Allah dan  RasulNya. 

Q : Jika shalat tarawih d masjid tetapi imam membacanya cepat sekali sehingga mengurangi kekhusyukan. Apakah lebih baik shalat tarawih d rumah sendiri atau tetap shalat di masjid ya ?
A : Wanita diperbolehkan shalat di mesjid, namun lebih baik shalat di rumah.
Diperbolehkan dengan catatan menjaga diri. Insyaa Allah, Shalat tarawih di rumah juga bisa diupayakn untuk jamaah jika kita kondisikan. Perihal imam shalat, biasanya pihak mesjid yang sudah mengatur jadwal. Hikmah nya, mungkin kita dapat lebih sabar terhadap sesuatu yang kurang kita sukai.
Alternatifnya, APA ada mesjid lain yang imamnya lebih pas?

Q : Karena itu masjid yang paling dekat, bunda. Klo ke masjid lain lebih jauh & karena saya sendirian kl0 shalat d masjid.
A :  Oh gtu mbak..Daripada pilih mesjid yang jauh, Ahsan di rumah saja ya mbak, ajak barengan shalat sama yang ada d rumah. Insyaa Allah program jamaah di rumahnya tahun Ini sukses dan berkah, aamiin.

Q : Ustadzah ijin bertanya .. apakah ada hadist shahih tentang menjalankan puasa selama 3 bulan berturut-turut ? Boleh dikasih tau penggalan hadist nya ? Karena kan kalo puasa 3 bulan berturut-turut itu gak ada jeda waktu nya sedangkan menurut Rasululloh pun puasa yang apabila kita kuat yang paling tinggi itu puasa Daud . Mohon Penjelasannya ustdzah . Syukron
A :  Seperti yang kita tahu perintah puasa yang Allah sampaikan selain puasa wajib yaitu puasa Ramadhan..ada pula puasa2 sunnah yang Allah perintahkan dan dicontohkan oleh Rasulullah antara lain puasa senin-kamis,puasa ayamul bidh,puasa daud,puasa di bulan muharram,ataupun puasa-puasa di bulan Haram. Namun tidak ada dalil shohih yang menyampaikan bahwa Allah perintahkan untuk puasa 3 bulan berturut-turut pun juga yang dicontohkan Rasulullah....
Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Aku tidak suka jika ada orang yang menjadikan menyempurnakan puasa satu bulan penuh sebagaimana puasa di bulan Ramadhan.” Beliau berdalil dengan hadits ‘Aisyah yaitu ‘Aisyah tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh pada bulan-bulan lainnya sebagaimana beliau menyempurnakan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. (Latho-if Ma’arif, 215).

M110 by Ustadzah Lien 
Q : Kalo dikampung itu menyambut ramadhan masak makanan  banyak-banyak, terus berkunjung kesana kemari, datang ketempat sodara A makan ke tempat B makan lagi. Apakah ini juga merupakan wujud cinta atau malah pemborosan Bun?
A : Islam tidak mengajarkan demikian mb sebenarnya. Dan itu termasuk kategori pemborosan. Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri. Akan lebih baik uangnya/dananya jika dbuatkan makanan dibagikan pada fakir miskin ato anak yatim. Kesempatan momentum bagi kita berbagi pada sesama. Rasulullah justru mengajarkan kita hemat dan lebih banyak ibadah untuk mempersiapkan ruhiyah kita.

Q : Bunda kalau d kampung itu kalau ada kupatan 1 minggu sebelum ramadhan dan sesudah ramadhan,,trus syukuran juga bun,,apa itu d perbolehkan ya bun,,???
A : Itu termasuk tradisi mb,  dalam islam tidak diajarkan, apalagi jatuhnya itu sebuah keharusan bahwa tiap memasuki ramadhan dan akhir ramadhan ada acara itu. Jadinya mensakralkan acara tersebut. Itu termasuk tidak benar secara syari'at
Allahu'alam

Q : Bunda..gimana caranya menumbuhkan rasa cinta dan semangat dalam diri kita saat tarhib ramadhan?
A : 1. Mengetahui keutamaan puasa ramadhan, dosa dan pahalanya agar ketika melakukannya karena cinta pada Allah
2. Niatkan karena Allah
3. Siapkan ruhiyahnya dari sekarang
4. Shaum wujud cinta pada Allah

Q : Bunda mau bertanya... kadang kita sangat gembira sekali menyambut 10 hari terakhir bulan ramadhan. tapi gimana ketika kita sudah bersiap-siap di 10 hari terakhr eh tamu bulanan malah datang. Kadang kita suka kesel, menurut bunda hal-hal apa saja yang bisa kita lakukan untuk menyambut lailatul qodar tapi keadaan sedang tidak suci. terimakasih bun.
A : Tetap bisa melakukan ibadah seperti biasanya mb, kecuali shaum dan shalat. Lailatul qadar bisa dengan banyak zikir, istighfar, tafakur, tadabbur ayat-ayat qur'an, tilawah... semua itu masih dlakukan. Jadi bisa dimaksimalkan. In syaa Allah terctat pahalanya sama

Q : Afwan bunda mau tanya, Rasulullah SAW dalam menyambut ramadhan memperbanyak puasa sunnahnya.. Nah bagaimana cara kita menjalankan puasa sunnahnya bunda?  Misal senin selasa rabu kamis puasa, lalu jumatnya tidak. Apakah boleh seperti itu? Lalu niat apa yang harus diucapkan ketika hendak melakukan puasa tsb?
A : Tetap ada aturannya mb. Bisa puasa daud, selang sehari. Bisa senin-kamis. Bisa juga ayyamul bidh puasa 13,14,15 bulan hijriah. Niat tetap diucapkan dihati mb, karena amalan itu trgantung niatnya

Q : Bunda, keutamaan bulan rajab & sya'ban  itu apa ya?
A :
الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Zaman telah beredar seperti bentuknya pada hari Allah ciptakan langit dan bumi. Setahun dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan suci (haram); tiga berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram serta Rajab Mudhar yang ada antara Jumadal Tsani dan Sya’ban.”(Riwayat Al-Bukhari).

Bulan Rajab adalah salah satu dari bulan-bulan suci (haram) yang diagungkan bangsa Arab terdahulu dan diharamkan berperang pada bulan tersebut. Bulan ini dinamakan Rajab karena diagungkan di zaman jahiliyah dengan tidak mengadakan peperangan.

Namun tidak ada satu pun hadits yangshahih dan dapat dijadikan hujjah tentang keutamaan khusus untuk bulan ini dan juga pengkhususan puasa atau shalat padanya.

Ibnu Hajar menyatakan, “Tidak ada satu hadits shahih yang dapat dijadikan hujjah tentang keutamaan bulan Rajab, berpuasa di bulan tersebut dan pada hari tertentu pada bulan tersebut. Juga dalam menegakkan satu malam tertentu dengan shalat.

كَانَ أَحَبَّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَصُومَهُ شَعْبَانُ ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ

 “Bulan yang paling disukai Rasulullah n untuk berpuasa adalah Sya’ban kemudian menyambungnya dengan Ramadhan.” (Riwayat Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani)

Dengan demikian diperbolehkan berpuasa pada bulan Rajab tanpa ada pengkhususan harus dilakukan pada bulan tersebut dan akan adanya keutamaan tertentu.

Q : Bun, bagaimana dgn hutang puasa di tahun lalu, harus dibayar dulu sebelum ramadhan datang ya?
Adakah dalilnya?
A :
كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ

 “Dahulu aku memiliki utang puasa Ramadhan, lalu aku tidak mampu mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban.” (Riwayat Al-Bukhari)

Sebaiknya demikian mb, karena kita ga tau kapan usia berakhir

Q : Bunda, apa boleh niat puasa sunnah trus d gabung dengan qodho'?
A : Tidak boleh menggabungkan 2 niat dalam 1 puasa

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ