Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

DAMPAK BURUK MENJAUH DARI MAJELIS ILMU

DAMPAK BURUK MENJAUH DARI MAJELIS ILMU

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

#bismillah..

‼...


Menjauh dari majelis ilmu dan pertemuan dengan para ikhwah serta menjauh dari kunjungan-kunjungan da’wah dapat mengeraskan hati.

Al Hasan al Bashri berkata: “Sahabat-sahabat kami lebih mahal daripada keluarga kami. Keluarga kami mengingatkan kami kepada dunia sedangkan sahabat-sahabat kami mengingatkan kami kepada akherat.

Usahakan selalu hadir di majelis ilmu atau minimal dua majelis ilmu dalam sepekan di masjid. Jika anda beranggapan mendengar kaset (atau radio –red) saja sudah cukup maka anda keliru. Sesungguhnya anda butuh hadir di masjid. Ketika anda duduk di majelis ilmu dalam masjid, para malaikat akan mengelilingimu, sakinah (ketenangan) akan menaungimu, rahmat akan turun kepadamu dan Allah akan memujimu di hadapan para malaikatNya...

Demi Allah, ini sesuatu yang lain dari yang lain.

Oleh karena itu engkau dapati kebanyakan orang-orang yang tergelincir adalah orang-orang yang melalaikan majelis ilmu.

Rutinlah hadir di majelis ilmu, jagalah dan ikutilah jadwal-jadwalnya setiap pekan niscaya engkau memperoleh semangat keimanan yang baru. Jika di sana terdapat kekurangan maka akan segera membaik atau bila terdapat retak pasti tertutupi insya Allah.

Rahasianya, ketika engkau hadir di majelis-majelis ilmu, keimananmu akan meningkat. Kami dahulu selalu menyertai para masyaaikh di awal iltizam, lalu salah seorang sahabat kami absen. Syaikh bertanya tentangnya, mereka berkata: “Ia sedang asyik membaca sebuah kitab sehingga tidak bisa datang .” Syaikh berkta: “Kabarkan kepadanya bahwa pertemuanmu dengan sahabat-sahabatmu akan menambah keimanan dalam hatimu lebih banyak daripada engkau membaca kitab seorang diri.”

Memang benar, hadir di majelis-majelis ilmu untuk mencari berkah, barangkali ada salah seorang hadirin yang mustajab doanya. Apabila ia mengaminkan doa syaikh niscaya akan dikabulkan doa dan Allah akan merahmati seluruh hadirin. Dengan begitu engkau akan memperoleh kemenangan yang besar. Dalam hadits disebutkan:

هُمُ الْقَوْمُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ
“Mereka adalah satu kaum yang tidak akan rugi orang-orang yang bermajelis dengan mereka.” (Muttafaq ‘alihi)
Oleh karena itu seorang sahabat nabi berkata kepada temannya, “Bergabunglah bersama kami, kita meningkatkan iman sesaat.”

Kemudian apa yang engkau kerjakan apabila engkau tidak hadir?

Kesibukan-kesibukan dunia, kesenangan mata dengan memuaskan diri pada acara tv yg tdk bermanfaat, berasyik masyuk dengan ponsel anda sepanjang hari, ambisi-ambisi rendahan, bisikan-bisikan setan... Masjid adalah rumah bagi setiap orang yang bertaqwa, masjidlah tempat kembali kaum mu’minin.

Kembalilah ke masjid, hadirilah halaqah ilmu.

Berlindunglah kepada Allah niscaya Allah akan melindungimu. Janganlah berpaling, karena Allah akan berpaling darimu.

Dari terjemahan Min Asbaab Al-Futur wa 'Ilaajuhu karya Muhammad Husain Ya'qub Pustaka At-Tibyan Solo.

Seorang mukmin yang bekerja dalam dakwah dan ilmu baik sebagai ulama, ustadz dan penuntut ilmu seharusnya semangat dan antusias di awal keistiqamahan, taubat dan kecenderungan kepada kebaikan. Kemudian terjadi malas dan tidak istiqamah, sehingga melemah dan malas berbuat ketaatan. Kadang kala sampai berhenti dan jauh dari kataatan kepada Allah, seperti yang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan:

لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِيْ فَقَدْ اهْتَدَى وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ  رواه ابن أبي عاصم وابن حبان في صحيحه
Setiap amalan ada waktu semangat dan setiap masa semangat ada putusnya. Barang siapa yang masa putusnya itu kepada sunnahku maka telah mendapatkan petunjuk dan siapa yang masa putus (lemah) nya pada selainnya maka telah binasa. (HR ibnu Abi ‘Ashim dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya serta dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Targhib no. 56 dan Shahih al-Jaami’ 2152). Rasulullah juga menjelaskan bahwa iman akan hilang kelezatannya dan akan berubah bersama waktu, seperti dijelaskan dalam sabda beliau:

إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلِقُ فِيْ جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلِقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ
Sesungguhnya iman akan rusak dalam tubuh salah seorang kalian sebagaimana rusaknya pakaian maka mintalah kepada Allah untuk memperbaharui iman dalam hati kalian. (HR al-Haakim dan di hasankan al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no. 1590 dan Silsilah ahadits Shahihah no. 1585).
Oleh karena itu seorang muslim jangan merasa aman hanya karena telah selamat dari kemasiatan dan dosa serta mengenal kebenaran dan manhajnya yang haq. Sebab rasa aman tersebut menjadi sasaran empuk syaitan  untuk mengambalikannya kepada kelemahan dan ketidak istiqamahan (futur) .

Apa itu futur?

Futur (tidak istiqamah) adalah penyakit yang menyerang kalbu atau akal seorang muslim secara samar dan bertahap. Penyakit ini tidak seketika datangnya terkadang sangat lama dan tidak terasa gerakannya. Hal ini karena kesabaran syaitan menyesatkan manusai sangat hebat dan tipu dayanyapun beraneka ragam. Akhirnya kita meresa yakin berada dalam kebenaran walaupun sesungguhnya sudah jauh darinya dan berada dalam kesesatan. 

Dewasa ini sangat banyak dan beranekaragam sarana dan bentuk kefuturan dan jadilah masalah ini sebagai sesuatu yang memiliki tempat di kalbu penderitanya dan kadang dia sadar akan hal tersebut, atau biasa mengetahuinya dari pengaruh yang ada dalam dirinya. Bahaya penyakit ini bisa mengakibatkan perubahan keperibadian dan membuat seorang muslim susah, bingung atau ketakutan dan stres. 

Kata “FUTUR” berasal dari bahasa Arab dari kata (فترة)  yang berarti hancur dan lemah. Nampak sekali kata ini menunjukkan sebelum kelemahan ini sudah didahului dengan kekuatan dan semangat yang besar. Oleh karena itu para pakar ilmu bahasa Arab menyatakan: فَتْرٌ أِي سكن بعد حِدة و لان بعد شدة (Futur bermakna diam setelah kesungguhan dan lemah setelah kuat).

Kalau begitu “futur” adalah penyakit yang menyerang orang kuat dan meresap pada semua orang yang punya keinginan mencapai kesempurnaan agamanya. Oleh karena iti, penyakit ini menjadi lebih berbahaya karena tujuan dan obyeknya adalah orang-orang beriman yang akan menyelamatkan umat dan agama ini.
Karena urgensinya masalah ini dan banyaknya saudara-saudara seislam yang tertimpa penyakit ini, maka saya pertama kali ingin membekali diri saya dengan beberapa terapi prefentif melawan penyakit ini yang telah dijelaskan para ulama. Untuk menjaga diri saya kemudian membantu masyarakat kaum muslimin terhindar dari penyakit ini.

Fenomena Futur dan Tidak Istiqamah.

Fenomena dan tanda-tanda futur ini sangat banyak, karena tembok imam kita perlu diperbaharui catnya dan hubungan dengan Rabb selalu butuh penguat dan pengokoh.  
Futur ada dua keadaan:

1.    Seorang muslim terjerumus kedalam keadaan malas menunaikan ibadah dan berat melaksanakan ibadah-ibadah Sunnah serta merasa bosan dalam menuntut ilmu dan program-program kebaikan. Inginnya santai dan sibuk dengan yang sia-sia. Keadaan ini alami yang kadang menimpa setiap muslim dalam perjalanan hidupnya. Dalam keadaan seperti ini hendaknya seorang muslim harus tenang, percaya diri dan berusaha memberikan perhatian yang utama dan pertama dengan menjaga amalan-amalan wajib dan pokok, kemudian bertahap bangkit menuju peningkatan dengan memperbanyak amalan-amalan Sunnah. Jangan sampai membiarkan dirinya terjun kederajat terrendah.

Ibnul Qayyim berkata: Terjadinya futur pada orang yang beribadah adalah perkara yang mesti terjadi. Sia[a yang kefutunnya pada upaya dekat dan benar dan tidak keluar dari perkara wajib serta tidak melanggar hal-hal yang diharamkan, diharapkan akan kembali baik kepada semula.
Kedua: Turun drastic sampai derajat meninggalkan sebagian kewajiban dan melanggar sebagaian dosa besar dan senang bergaul dengan orang fasiq dan mengeras hatinya. Senang mendengarkan perkataan orang-orang menyimpang dan sesat serta pengikut hawa nafsu. Keadaan ini sudah berbahaya dan wajib seorang mukmin ketika itu untuk mengetahui dia berada dalam bahaya dan berusaha untuk menyelamatkan dirinya dengan sungguh-sungguh sesegera mungkin. Aoabila tidak, bisa berakhir kehidupan iman dan islamnya.
Oleh karena itu saya sampaikan sebagian dari fenomena dan tanda futur ini agar kita semua senantiasa merasakan ada atau tidak adanya dalam diri kita.
1.    Qaswatul Qalbu (kerasnya hati).
Qalbu yang keras menjadi penghalang kuat khusu’ kepada Allah, penahan air mata dan getaran kulit kita terhadap Allah. Sehingga Qalbu tidak mengenal setelah ini kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran. Keringlah mata air kecintaan kepada Allah dan tanduslah kebun rahmat Allah dan mengeringlah kehijauan perasaan di hati. 

فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Qsaz-Zumar : 22).
Qalbu yang keras ini terus mengeras hingga sampai pada derajat kronis yang lebih keras dari batu, seperti dijelaskan dalam firman Allah:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS al-baqarah : 74).
Keadaan hati yang demikian tentulah jauh dibandingkan dengan qalbu mukmin yang disampaikan dalam firman Allah :

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (QS az-Zumar: 23).

2.    Meremehkan dan bermalas-malas berbuat ketaatan, baik itu fardhu atau sunnah, baik itu mudah seperti dzikir atau yang lainnya.
Apabila seorang melihat dirinya berat menunaikan ibadah, malas mengerjakannya dan enggan melaksanakannya, maka hendaknya ia mengetahui penyakit futur telah merasukinya dan masuk ke jaringan darahnya. Allah telah mencela orang yang berbuat demikian dalam firmanNya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. [QS an-Nisaa` : 142]
3.    Membenci orang-orang shalih yang menampakkan sunnah, semangat menegakkan syiar-syiar agama dalam diri, keluarga dan masyarakatnya. Apabila kita melihat seseorang menjauhi majlis ilmu dan senang ngobrol tidak karuan. Ketahuilah ia hidup bergelut dengan nafsunya, karena napsunya melawannya untuk menggoyah imannya dan mengajak untuk melalaikannya serta futur. Kholifah Umar bin al-Khathab berkata: جالسوا التوابين فإنهم أرق شيء أفئدة (duduklah bersama orang-orang yang bertaubat karena mereka orang yang paling gampang tersentuh hatinya).
Seddangkan Abu ad-darda berkata:   لا تزالون بخير ما أحببتم خياركم (kalian senantiasa dalam keadan baik selama kalian mencintai orang terbaik kalian) (atsar riwayat Abu Nu’aim). 

4.    Hilangnya perasaan agama dan tidak marah karena Allah; karena seorang melewati hari-harinya dengan fitnah yang banyak dan ujian yang bertubi-tubi. Lihatlah kemungkaran yang bergelombang menghantam manusia hingga hampir menenggelamkannya. Ditambah dengan hinaan dan cemoohan yang menghantamnya disebabkan komitmennya menjalankan sayriat islam.
Ingat kepada sabda Rasulullah : 

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا ، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ ؛ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادٌ كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا ، لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ
Fitnah-fitnah menghampiri qalbu seperti tikar lipatan demi lipatan. Qalbu mana saja yang menerimanya maka akan tertera satu titik hitam dan Qalbu yang mengingkarinya maka akan tertera titik putih hingga berada pada dua qalbu ; berada pada qalbu yang putih seperti  (HR Muslim).

5.    Tidak syukur dengan kebahagian dan tidak sabar dalam kesusuahan. Ini semua datangnya dari kelemahan iman dan futur dalam hubungan antara hamba dengan sang penciptanya. Tidak akan dapat bersukur dalam ujian kenikmatan dan bersabar dari ujian kesulitan kecuali mukmin. Rasulullah bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Sungguh hebat perkara seorang mukmin. Sungguh semua perkaranya baik ddan tidaklah ada hal tersebut kecuali pada mukmin. Apabila mendapatkan kemudahan dia bersyukur sehingga itu lebih baik baginya dan bila menimpanya kesusahan ia bersabar shingga itu lebih baik baginya. (HR Muslim).

6.    Bangga dengan kemaksiatan dan tidak peduli dengan diketahui orang lain bila ia melakukan kemaksiatan tersebut. Ini termasuk tanda futur yang besar sehingga diperingatkan Rasulullah : 

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ : يَا فُلَانُ ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
Semua umatku dimaafkan kecuali yang bangga dengan maksiatnya. Sesungguhnya diantara berbangga dengan maksiat adalah seorang beramal dimalam hari kemudian dipagi harinya dalam keadaan Allah tutupi hal tersebut, namun ia menyatakan: Wahai Fulan aku berbuat demikian dan demikian semalam. Ia telah tidur malam itu dalam keadaan Allah tutui dan dipagi harinya membuka penutupan Allah darinya tersebut. (HR Muslim)

Tanya Jawab

Pertanyaan 1️
ustadz, mengenai org yg qaswatul qalbu/ keras hati..bagaimana menyadarkannya sedang hanya Allah sajalah yang Maha Membolak balikkan hati?bisakah kita mendoakan atau bersedekah khusus bagi mereka agar disegerakan dibukakan pintu hatinya? Nuhun ustadz..

Jawaban:
klo blom sadar harus diajak sadar dan tau. jgn lupa didoakan.


Doa Kafaratul Majelis :

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
================================
KAJIAN ONLINE HAMBA ALLAH M3
Hari/tgl : Senin 11 April 2016
Waktu : 11.00 - selesai
Narasumber : Ustadz Kholid
Admin : Dany & Salmiani
Notulen : Woro