Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , , , , » DIKALA GALAU, RESAH DAN SEDIH MELANDA

DIKALA GALAU, RESAH DAN SEDIH MELANDA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Monday, April 18, 2016

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Senin, 18 April 2016
Narasumber : Ustadz Hizbullah Ali
Rekapan Grup Bunda M15 (Bd. Nining)
Tema : Kajian Umum
Editor : Rini Ismayanti


Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh...

Segala puji  hanya milik Allah..kami memuji.. memohon pertolongan... meminta ampunan.. mengharap petunjuk dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan jiwa kami dan keburukan perbuatan kami.. Siapa yang Allah beri petunjuk maka tak ada yang akan menyesatkannya dan siapa yang Allah sesatkan maka tak ada baginya petunjuk..

Alhamdulillah hari ini kita berkumpul lagi untuk menyimak kajian bersama Ustadz Hizbullah Ali

Dengan tema 

DIKALA GALAU,  RESAH DAN SEDIH MELANDA

Dalam kehidupan ini, terkadang seorang hamba didera berbagai derita. Tak jarang hatinya dilanda beragam perasaan yang mengusik hati, menyiksa jiwa dan membuat hidupnya menjadi keruh dan sempit. Ada tiga jenis perasaan yang mengganggu jiwa seorang manusia; pertama huzn (kesedihan terhadap apa yang terjadi di masa lalu), kedua hamm (keresahan lantaran kekhawatiran akan masa depan) dan ketiga ghamm (perasaan gundah saat menghadapi kenyataan yang sulit yang tengah dihadapi sekarang).

Tiga perasaan ini tak bisa lenyap dari jiwa seseorang kecuali melalui ketulusan penuh untuk kembali kepada Allah, kesempurnaan perasaan hina di hadapan-Nya, kerendahan hati kepada-Nya, ketundukan dan kepasrahan terhadap perintah-Nya, percaya akan ketentuan-Nya, mengenal-Nya dan mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, percaya kepada kitab-Nya, selalu membaca dan merenungi serta mengamalkan segala kandungannya. Dengan itu semua -bukan dengan yang lain- segala kekacauan hati itu akan sirna, dada menjadi lapang, dan kebahagiaan pun akan datang.

Dalam Musnad Ahmad dan Shahih Ibni Hibban serta lainnya, 'Abdullah bun Mas'ud meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, "Tidakalauah seorang hamba mengucapkan doa berikut (ini) tatkala ia didera keresahan atau kesedihan melainkan Allah pasti akan menghilangkan keresahannya dan akan menggantikan kesedihannya dengan kegembiraan. Para Sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, sudah seharusnya kami mempelajari doa tersebut. Rasulullah menjawab, "Benar. Sudah seharusnya orang yang mendengarnya mau mempelajarinya(1)'

Doa yang dimaksud berbunyi:

"Ya Allah, sungguh aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, keputusan-Mu adil terhadapku, Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang merupakan milik-Mu, nama yang engkau lekatkan sendiri untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar engkau menjadikan al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku dan pelenyap keresahanku(2)"

Sudah selayaknya seorang Muslim mempelajari dan berupaya kuat untuk mengucapkannya kala ditimpa kesedihan, keresahan maupun kegalauan. Dan hendaknya ia juga tahu bahwa ungkapan-ungkapan doa tersebut hanya akan bermanfaat bila ia memahami maknanya, merealisasikan tujuannya dan mengamalkan kandungannya. Berdoa dengan doa-doa yang bersumber dari Nabi dan berdzikir dengan wirid yang disayaariatkan tanpa ada pemahaman terhadap maknanya dan tanpa mengejawantahkan kandungannya, tidak mendatangkan pengaruh baik dan manfaat yang banyak. Doa ini memuat empat pilar yang agung. Tak ada cara bagi seorang hamba untuk menggapai kebahagiaan dan melenyapkan keresahan, kegalauan dan kesedihan kecuali dengan merealisasikannya.

Pilar pertama,
Merealisasikan ibadah hanya untuk Allah, merasa hina di hadapan-Nya, mengaku bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan-Nya sekaligus hamba-Nya, baik dirinya maupun kakek dan nenek moyangnya, mulai dari bapak ibu kandungnya yang terdekat sampai berpangkal pada Adam dan Hawa. Semua adalah hamba dari Allah. Dialah yang menciptakan mereka, Rabb mereka, Penguasa mereka, yang menangani segala urusan mereka.

Di antara bentuk realisasi pengakuan-pengakuan di atas adalah konsistensi seorang hamba dalam beribadah kepadaNya yang terwujud dalam rasa keterhinaan dan ketundukannya kepada Allah, melaksanakan titah dan menjauhi laranganNya, selalu merasa butuh kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, tawakkal kepada-Nya, meminta perlindungan kepada-Nya, dan agar hati tak bertaut pada selain-Nya, baik dalam hal kecintaan, rasa takut, maupun pengharapan.

Pilar kedua,
hendaknya seorang hamba mengimani qadha dan qadar Allah. Juga meyakini apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, sedang yang tidak dikehendaki-Nya tak akan terjadi. Demikian pula bahwa tidak ada yang sanggup mengintervensi hukum Allah (merubah ataupun membatalkannya), tak ada pula yang dapat menolak keputusan-Nya (QS. Fathir : 2).

Karena itulah, dalam doa tersebut dinyatakan, "Ubun-ubunku ada ditangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku terhadapku, keputusan-Mu terhadapku adil semata" Ubun-ubun seorang hamba, yakni kepada bagian depan, ada di tangan Allah. Allah memperlakukannya sekehendak-Nya; juga memberi ketentuan terhadapnya sesuai dengan yang Dia kehendaki. Tak ada yang bisa mencampuri ketentuan-Nya, tidak ada pula yang bisa menolak keputusan-Nya, tidak ada pula yang bisa menolak keputusan-Nya. Maka dari itu, kehidupan seorang hamba, kematiannya, kematiannya, kebahagiaannya, kesengsaraannya, kesehatannya, cobaan yang ia terima, semua itu kembali pada Allah, tak ada sama sekali yang menjadi wewenang hamba.

Bila seorang hamba percaya bahwa ubun-ubunnya dan juga ubun-ubun semua hamba lainnya ada di tangan Allah, Dia akan memperlakukan mereka sesuai dengan kehendak-Nya, maka setelah itu ia tidakalauah takut kepada sesama hamba, tidak menaruh harap pada mereka, tidak memposisikan mereka sebagai pemilik dirinya, tidak menggantungkan asa dan harapannya pada mereka. Ketika itu, barulah tauhid, tawakkal dan penghambaannya kepada Alllah benar-benar terwujud (QS. Hud : 56).

Ungkapan dalam doa "ketentuan-Mu berlaku atas diriku" ini mencakup dua ketentuan; ketentuan dalam agama dan ketentuan dalam agama dan ketentuan takdir berkenaan dengan semesta. Dua ketentuan ini akan berlaku pada diri hamba, ia terima ataupun tolak. Hanya saja ketentuan takdir tidak mungkin untuk dilawan. Sedangkan ketentuan agama terkadang dilanggar oleh seorang hamba dan ia terancam mendapatkan hukuman siksa sesuai dengan pelanggaran yang ia lakukan.

Ungkapan "keputusan-Mu terhadapku adil semata", ini mencakup semua keputusan Allah terhadap hamba-Nya dari segala sisi, baik sehat atau sakit, kaya atau miskin, rasa nikmat atau rasa nyeri, hidup atau mati, mendapat siksa atau mendapat ampun; semua yang Allah putuskan terhadap hamba itu adalah adil semata.

Pilar ketiga adalah hendaknya seorang hamba mempercayai nama-nama Allah yang indah (asmaul husna) dan sifat-sifat-Nya yang agung yang terdapat dalam al-Qur'an dan Sunnah; bertawassul kepada Allah dengan nama dan sifat-Nya. Ini sebagaimana firman Allah, Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu (QS. al-'Araf : 180)

Semakin kuat seorang hamba mengenal Allah, nama dan sifat-Nya, maka ia akan semakin takut kepada Allah, semakin besar merasakan pengawasan-Nya terhadap dirinya dan akan semakin jauh dari kemaksiatan dan hal-hal yang Allah murkai.

Karena itulah, hal terbesar yang dapat mengusir rasa resah, sedih dan gelisah adalah kala hamba mengenal Rabbnya, memenuhi hatinya dengan pengetahuan tentang Allah dan bertawassul kepada-Nya dengan nama dan sifat-Nya. Karena itulah dalam doa tersebut dinyatakan, aku memohon kepada-Mu dengan segenap nama milik-Mu yang Engkau sandangkan pada diri-Mu, atau yang Engkau turunkan di kitab-Mu, atau Engkau ajarkan pada seseorang dari sekalian hamba-Mu, atau yang Engkau simpan sendiri di ilmu gaib yang ada pada sisi-Mu. Ini adalah wasilah kepada Allah yang paling Allah cintai.

Pilar keempat adalah memberikan perhatian pada al-Qur'anul Karim yang sama sekali tidak mengandung kebatilan sedikit pun, yang memuat petunjuk, kesembuhan, kecukupan dan keselamatan. Semakin besar perhatian seorang hamba pada al-Qur'an, baik dengan membaca, menghafal, mengkaji dan merenungkannya, mengamalkan, dan mengejawantahkannya, ia akan menggapai kebahagiaan, ketenangan, kelapangan dada, hilangnya resah, gelisah dan kesedihan sesuai dengan tingkat perhatiannya terhadap Kitabullah.

Inilah empat pilar yang agung yang dipetik dari doa yang penuh berkah ini. Sudah sepantasnya kita menghayatinya dan berupaya untuk mewujudkannya, agar kita bisa menggapai janji mulia dan keutamaan agung ini berupa sirnanya keresahan yang berganti dengan kebahagiaan dan jalan keluar. Diangkat dari at-Tabyin li Da'awatil Mardha wal Mushabin karya Sayaaikh 'Abdur Razzaq hlm. 40-45.

Catatan kaki:
(1) Musnad Ahmad 1/391 (Ash-Shahihah no 199)
(2) Mengenai penjelasan hadits ini lihat al-Fawa'id karya Imam Ibnul Qayyim hlm. 44


TANYA JAWAB

Q : Ustadz mau tanya...jika kita di daerah rasa resah,galau,sedih kita berusaha semaksimal mungkin menurut ukuran kita untuk selalu ingat bahwa jika kita yakin dan percaya inshaa Allah semua juga akan terlewati,, spertinya yang terjadi sama saya adalah Huzn..kalau teringat kmbali kesedihan itu muncul kembali,,ya ustadz..kira" tips" apa ya tadz yang dapat menghilangkan rasa sedih gundah,dan resah tsb...karena kalau ingat kambuh lagi sedihnya..mohon pencerahannya tadz..jazakallah tadz
A : Rasa resah, galau, dan sedih yang melanda adalah satu hal yang wajar setiap kita pasti akan mengalaminya ketika mengingatnya hati akan terpuruk kenapa bisa seperti itu karena tak ada keikhlasan dan kesadaran ikhlas dan sadar bahwa semua ujian datangnya dari Allah dah Allah tak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hambanya ketika kita sadari itu maka semua akan terasa lebih mudah untuk dilalui

Q : Assalamualaikum ustadz..apakah benar kalau perasaan resah,galau dan sedih yang berlebihan itu sudah ada gangguan setan? Misalnya ketika dtinggal meninggal orang terdekat,kmudian sampai bbrp waktu lamanya terus bersedih..
A : Meratap adalah hal yang sangat dibenci oleh Rasulullah
صلى الله عليه وسلم dan Allah

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَابِرٍ الْمُحَارِبِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ كَرَامَةَ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ عَنْ مَكْحُولٍ وَالْقَاسِمِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ الْخَامِشَةَ وَجْهَهَا وَالشَّاقَّةَ جَيْبَهَا وَالدَّاعِيَةَ بِالْوَيْلِ وَالثُّبُورِ
 
"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Jabir al-Muharibi dan Muhammad bin Karamah keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari ‘Abdurrahman bin Yazid bin Jabir dari Makhul dan al-Qasim dari Abu Umamah berkata, "Rasulullah صلى الله عليه وسلم melaknat wanita yang mencakar-cakar wajahnya, wanita yang menyobek kantong bajunya dan wanita yang berdoa agar binasa dan rusak"

Q : Ada waktunya kita jenuh dengan aktifitas ibadah sehari-hari dan kesadaran bahwa semua ujian datang dari Allah, bagaimana caranya aharbhati kita tidak berubah dan melemah?
A : Sucikan niat, bersihkan niat hingga ibadah yang dilakukan hanya karena Allah, futur hadir untuk memperingatkan kita akan niat yang salah 

Q : Ustadz, bagaimana menjaga hati agar ketika ada masalah tidak menjadi lemah, galau & putus asa
A : Sadarlah bahwa ujian datangnya dari ALLAH, Dan ALLAH tidak akan berikan ujian melebihi dari kemampuan setiap hambanya, hanya kita yang sering kurang sabar, sering mengeluh, belajarlah untuk menjadi pribadi sabar agar kita bisa merah keikhlasan

Q : Ustadz...jawaban tentang belajar ikhlas , bagaimana caranya supaya hati selalu ikhlas....
A : Banyak berdo'a
Sembunyikan amal dan kebajikan
Memandang rendah terhadap segala amal yang sudah kita lakukan
Adanya rasa takut amal kita tidak diterima oleh Allah
Tidak mudah terpengaruh atas perkataan manusia
Sadarilah bahwa kita bukan pemilik surga dan neraka
Ingin dicintai, namun tak ingin dibenci

Q : Ilmu ikhlas itu bagaimana ustadz.....juga bagaimana ilmu sabar...?
A :  Ikhlas dan sabar itu artinya ketika ada yang melanda, dalam setiap ujian yang mendera, baik ujian dalam bentuk musibah suka, maupun ujian yang datang dalam bentuk bahagia. Seseorang akan mudah menemukan kata ikhlas dan sabar ketika musibah melanda, setidaknya kata itu kan selalu terucap dan jadi penguat hati, namun ketika ujian datang dalam bentuk nikmat , banyak yang malah lupa. Lebih takutlah ketika ujian hadir dalam nikmat, Karena datangnya musibah membuat kita sabar mengingat ALLAH, sedang ketika datang dalam bentuk nikmat dunia, banyak yang suka, dan banyak juga yang terlena.

Q : Ustadz, belajar ikhlas akan kehilangan seseorang itu berat yaa,saya sudah berusaha ikhlaas tapi kadang kalau ga sadar  lewat jalan yang pernah kita lewati dalu bersama alm suami ato melihat barang yang suka dia pake kok suka drop dan akhirnya  gimana sih supaya saya kuat ? Apa benar sikap saya bisa memberatkan alm di alam sana ?
A :  Bukan masalah memberatkan beliau, tapi jatuhnya hal tersebut sama dengan meratap, meratap adalah hal yang dibenci oleh Allah. Lebih baik barang-barang beliau yang pantas diinfaqkan lebih baik diinfaqan saja, karena akan lebih berguna untuk beliau (pahala sedekah amal jariyah), dan move on ... #tatapduniadenganpandanganbaru. Terus melangkah ke depan, do'akan selalu kemudahan di alam kubur untuk beliau, ajarkan hal baik yang pernah beliau ajarkan kepada orang lain (pahala ilmu yang bermanfaat) dan berikan serta tanamkan pendidikan agama yang baik kepada anak cucu keturunan beliau (pahala anak yang sholeh)

Q : Barang sudah saya sedekahkan tinggal cicin kawin yang masih saya simpan dan kacamata alm... Apa harus saya jual ?
A :  Cincin kawin dan kacamata jika memang ketika melihatnya malah menghadirkan duka lara, lebih baik cincin dijual uangnya disedekahkan, begitu pun kacamata lebih baik dicari seseorang yang membutuhkan, sedekahkan saja kacamata itu pada orang tersebut

Q :  Ustd mau tanya,setiap ada masalah saya berusaha berbaik sangka sama Allah dan introspeksi diri, mungkin semua karena kesalahan saya sendiri...tapi seiring bertubi-tubi masalah yang datang kadang Saya berpikir begitu besar dosa shngga Allah menghukum saya...Bagaimna caranya biar saya tidak merasa berkecil hati dan tetap optimis jalani smuanya
A : Bahkan seorang Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun diuji, dan ujian untuk beliau lebih berat dibanding kita, diacuhkan, dihujat, diludahi, dilempari kotoran ... Begitu pun para sahabat saat awal Islam, betapa mereka harus kelaparan, disiksa secara fisik dan mental ... Lalu kita yang baru dicoba dengan sedikit cobaan kecil langsung merasa teraniyaya, merasa paling menderita. Bangkit wahai saudariku, perbanyak istighfar ... setiap masalah pasti ada jalan keluar, setiap ujian yang datang sejatinya karena Allah sayang dengan kita, dan ingin angkat derajat kita ...

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
"Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridha, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka" (HR. Ibnu Majah)

Q : Afwan, Ustadz.. Mohon pencerahan. Bab Ikhlas. Bagaimana Jika ada seorang yang beramal ( infak/sedekah) selalu disembunyikan ga ingin orang sekitar tau, akan tetapi terkadang dia suka menceritakan pada ortu dengan maksud berterimakasih, atas didikan ketika masa kecil yang selalu diajari bab sedekah,infak,amal. Juga tuk membuat hati ortu tenang/bahagia dengan keadaan si anak.??
A : Tidak usah di sampaikan nominalnya berapa, dan apa yang di sedekahkan

Q : Afwan.. kalau misalnya yang ditinggalkan, meninggalkn anak, bagaimana melupaknnya ?sbb.. pastinya akan truz mengingat lewat ank.. bagaimana biar ikhlas.. masa anaknya mesti di kasih orang.. afwan...
A : Biasanya anak malah menguatkan hati dan memupuk semangat agar lebih mudah move on

Q : Assalammualaikum ustadz, mau tanya, apakah menunjukkan atau memberitahukan kabar tentang kegiatan ibadah kita, dapat merusak keikhlasan beribadah? Ada kasus, ortu sering menegur anaknya karena dimata ortu anak tidak tampak melaksanakan ibadah seperti tilawah, sholat sunnah. Padahal sang anak tilawah tiap hari, dan memang tidak dijahr kan dalam membaca, sholat sunnah pun dilakukan tertutup di kamarnya tidak di tempat sholat. Bagaimana menyikapinya ustadz?
A : Jawab saja dengan santun, bahwa apa yang mereka minta sudah dilaksanakan, maksud mereka hanya mengingatkan

Q : Keikhlasan dalam beribadahnya gimana ustadz?
A : Ikhlas itu ada di niat, niat ada di dalam hati, pertanyakan ke diri masing-masing, apakah niat dalam beribadah murni karena Allah, ataukah tercampur dengan hal lainnya (contoh keinginan duniawi)

Q : Ustadz, nanya ( nanya terus ya bun) kadang kalau melakukan suatu kebaikan, dalam pikiran  ingin dilihat orang, tujuannya agar orang lain juga bersikap/ bertingkah laku sama. Seperti itu gimana ustadz? Apakah tindakan seperti itu termasuk tidak ikhlas ????
A : Jika memang mampu menahan hati, dalam artian tanpa orang lain pun kita tetap melakukan ibadah tersebut, bahkan jauh lebih baik dari yang ditampakkan, إن شآءالله tidak masalah ... 

Q : Ustadz, jika dalam kehidupan rumah tangga, berbuat baik kepada suami, supaya suami juga berbuat baik kepada isteri,apa sikap tsb termasuk tidak ikhlas?
A : Berharap pamrih. Sahabatku, tanpa berharap pun, ketika seorang istri memberikan perhatian sepenuh hati, dengan cinta dan kasih sayang umpama samudera tanpa batas, seorang suami pasti kan beri yang terbaik juga untuk apa yang telah ia dapatkan. 


Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baikalauah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ




Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment