Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

MEMBUMIKAN CINTA, MENGOKOHKAN PONDASI KELUARGA SYURGA

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Rabu, 13 April 2016, 27 April 2016
Narasumber : Ustadz Masyhuri
Rekapan Grup Nanda M110 (Rani), M112 (Pera)
Tema : Kajian Umum
Editor : Rini Ismayanti




بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون
أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسولهأما بعد

Lantunan syukur mari kita ucapkan kepada Allah Azza wa Jalla...
Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangkitkan ummat yang telah mati, memepersatukan bangsa2 yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dlm lautan syahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Telah hadir ditengah2 kita Ustadz Masyhuri yang akan berbagi ilmu pada kita semua. Sebelum itu alangkah indahnya jika kita awali dengan lafadz Basmallah

Bismillahirrahmanirrahim

Kepada Ustadz waktu dan tempat kami persilahkan

MEMBUMIKAN CINTA, MENGOKOHKAN PONDASI KELUARGA SYURGA

Oleh: Masyhuri Az Zauji

MEMBUMIKAN CINTA?

Mengapa cinta perlu dibumikan? Lalu bagaimana dengan cinta yang melangit?

Allah SWT berfirman dalam Al Imran: 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ
وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

Beberapa pelajaran penting dari ayat ini, diantaranya adalah:
1. Allah SWT memerintahkan kepada setiap hamba yang beriman agar merealisasikan keimanannya kepada Allah bukan sebatas keyakinan dalam hati dan dengan menjauhi segala sekutu dan tandingan selain Allah. Akan tetapi wujud nyata keimanan pada Allah harus dinampakkan dengan upaya menebar kebaikan dan menolak keburukan dimanapun berada. Kecintaan seorang hamba pada RabbNya seharusnya mendorongnya untuk berbuat sesuatu yang bisa mengarahkan orang lain di sekitarnya untuk mencintai Rabb alam semesta dan menghindari segala hal yang mendatangkan kemurkaan Allah SWT.

2. Bentuk cinta seorang hamba pada Allah SWT adalah dengan ia mencintai sesama manusia.
Dengan bahasa yang sangat tegas, dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah menyampaikan: "MAN LAA YARHAM, LAA YURHAM", artinya: barang siapa yang tidak mengasihi makhluk di bumi, maka ia tak kan mendapat cinta dari langit (Allah & Malaikat).

Sehingga tidak ada alasan bagi setiap hamba yang ada dalam dadanya keimanan untuk memasang tampang sinis akan tetapi seharusnya selalu berwajah manis.

Sudah selayaknya bagi setiap lisan manusia beriman untuk berkata-kata yang menyejukkan, bukan yang merendahkan.

Dalam sebuah hadits hasan shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan (keburukan). Dan pergauilah manusia dengan akhlak yang mulia.  (HR. At-Tirmidzi)

Hadits ini kembali menekankan akan pentingnya untuk membangun kekokohan keimanan kepada Allah dan juga kewajiban untuk berbuat baik kepada sesama manusia.

Inilah konsep cinta yang melangit dan membumi yang harus dijalankan secara seimbang. Dari keseimbangan cinta inilah akan lahir keselarasan dan keharmonisan kehidupan dari lingkungan terkecil yang bernama keluarga hingga ruang lingkup yang lebih besar, bangsa dan negara.

Ketimpangan konsep cinta tentu juga akan melahirkan ketimpangan dari segala sendi kehidupan baik secara individu, masyarakat maupun kelompok yang lebih besar.

FENOMENA CINTA YANG MELANGIT TAPI TAK MEMBUMI

Ada orangtua yang menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren di timur tengah dengan harapan akan menjadi penerus perjuangan dakwah keluarga. 3 tahun berlalu, si anak mengalami perkembangan pemahaman yang begitu luar biasa bahkan 'melampaui' pemahaman kedua orangtuanya. Pemahaman aqidahnya begitu kokoh, kafaah syar'inya tidak diragukan lagi.

Akan tetapi ayahnya mengeluhkan perubahan perilaku anaknya yang sangat jauh dari harapan. Tidak jarang si anak ngajak debat ayahnya tentang sebuah hukum syariat dan membantah dengan bahasa yang tidak sopan.

Ini adalah contoh sederhana tentang cinta yang melangit dalam diri seseorang akan tetapi cintanya tak mampu membumi. ia begitu intens, dekat dan hangat 'berinteraksi' Allah namun tidak demikian saat ia menjalin hubungan dengan sesama manusia bahkan ketika berhubungan dengan manusia yang seharusnya dihormati yakni kedua orangtua. Bukan orang seperti ini yang kita harapkan.

CINTA MEMBUMI TAPI TIDAK MELANGIT

Banyak sekali contoh manusia yang memiliki kedekatan cinta dengan sesama manusia akan tetapi cintanya bermasalah dengan sang penggenggam alam semesta. Mereka adalah orang2 yang suka berbuat baik pada sesama manusia akan tetapi mereka tergolong orang fasik, munafik, bahkan kafir.

Ini harus menjadi catatan bagi kita bersama agar senantiasa menjaga kehangatan cinta kita dengan Allah SWT melalui ketaatan dan juga senantiasa menjaga hubungan yang baik dan harmonis dengan sesama manusia.
Beginilah seharusnya. Insyaa Allah...

KELUARGA TANPA CINTA

Adakah keluarga tanpa cinta?
Memang tidak ada keluarga yang terbentuk tanpa sebuah rasa cinta. Akan tetapi apakah cinta yang mendorong terbentuknya keluarga ini merupakan cinta sejati ataukah cinta imitasi? Apakah cinta yang dibangun selama ini adalah cinta yang sebenarnya dan akan mampu bertahan lama hingga ke syurga, ataukah hanya cinta yang pura-pura yang bertahan hanya sementara di dunia?

Ada seorang anak usia SMA datang ke rumah untuk konsultasi terkait pengembangan diri dan perencanaan masa depan seperti rencana kuliah, pengembangan karir dan lain sebagainya. Diantara sekian banyak rekomendasi yang saya sampaikan, ada termasuk diantaranya adalah saran masukan bagi orangtua agar juga terlibat dalam menstimulasi pengembangan diri anaknya.

"Dek, nanti sampai rumah rekomendasi ini tunjukkan ke ayah bunda ya agar mereka juga bisa bantu upaya pengembangan diri kedepannya", akan tetapi diluar dugaan si anak ini menjawab:

"Kak, maaf ya. saya datang ke sini betul-betul atas keinginan pribadi tidak ada motivasi dari orangtua sama-sekali, dan misalnya nanti saya sampaikan hal ini pada mereka, pasti mereka gak mungkin mau peduli..."

Sambil menyembunyikan keterkejutan, saya sampaikan:
"Ok, dek. Kamu sangat luar biasa. Orangtuamu patut berbangga padamu. Meskipun hari ini mereka mungkin memandang sebelah mata, akan tetapi suatu hari nanti mereka akan menyampaikan kesyukuran karena telah memiliki anak sepertimu. Fokus saja pada pengembangan diri dan meraih prestasi..."

Ini adalah sebuah potret seorang anak yang nyaris kehilangan kasih sayang dari kedua orangtua karena barangkali kedua orangtua merasa sudah cukup mengasuhnya dengan memenuhi segala kebutuhan materinya. Akan tetapi patut kita cermati, kira2 berapa persen anak dengan model mental seperti ini? Kebanyakan seperti apa? Peduli dengan masa depannya?

Beberapa kali saya menerima curhatan dari seorang ibu yang hampir menyerah dengan kelakuan suaminya. Dengan alasan sibuk kerja ia sama sekali tak mau peduli dengan anak-anaknya. Padahal waktu ada tersedia meski tidak banyak, namun tidak digunakan untuk sekedar ngobrol ringan menanyakan kabar anak-anaknya. Akan tetapi waktu yang ada hanya dihabiskan untuk hal-hal yang tak berguna bersama gadenganetnya.

Hingga hari ini ada salah satu keluarga yang intens komunikasi dengan saya yang menyampaikan masalah anaknya. Kedua orangtua dari keluarga ini merasa sudah 'kehilangan cinta' dari anaknya. Nasihat tak lagi didengar, kemauan tak lagi bisa ditawar, dilarang merasa dikekang dan jika dibiarkan akan sangat menghawatirkan.

Cerita ini menggambarkan betapa cinta hampir tak sanggup lagi menyatukan hati keluarga. Ada anak yang merasa kehilangan kasih sayang orangtuanya dan juga ada orangtua yang sudah kehilangan 'kuasa' di hati anak-anaknya.

Keluarga yang didalamnya ada cinta merupakan 'miniatur' syurga yang akan memberikan kebahagiaan dan ketentraman bagi siapa saja yang tinggal di dalamnya.

Keluarga yang tidak ada cinta didalamnya ibarat 'miniatur' neraka yang hanya menghadirkan angkara, menyisakan banyak luka dan duka bagi para penghuninya.

Cinta adalah cahanya yang menghangatkan dan menerangi setiap jiwa.
Cahaya cinta akan mengusir gelapnya kejahilan jiwa, yang akan menuntun pemiliknya menuju keridloan Robbnya.

ANTARA CINTA DAN TEGA.

Ada seorang ibu muda yang datang untuk konsultasi bersama seorang anak laki-lakinya.

"Usia ananda berapa tahun bunda? Udah pinter main gadenganet ya?"

"Baru 3 tahun mas. Iya nih, 1 bulan lalu saya belikan gadenganet untuknya. Habis dia itu sering merebut smartphone saya pas sedang kepake. Dan alhamdulillah sekarang berkurang nakalnya setelah saya belikan gadenganet untuk dia sendiri..."

Ibu muda ini mengeluhkan perilaku anaknya yang emosinya seringkali tak terkendali. Jika minta sesuatu hampir selalu sambil nangis histeris, ngamuk yang sulit dilerai dan ditangani.

Memang banyak sekali aspek yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, bagaimana kematangan emosinya, perkembangan kecerdasannya, dan lain sebagainya. Akan tetapi di antara sekian banyak aspek tersebut, kualitas pengasuhanlah yang paling menentukan kualitas kepribadian seorang anak.

Banyak orangtua yang tidak menyadari bahwa 'ungkapan' cinta yang selama ini diberikan ternyata adalah sebuah kedzoliman.
Tidak sedikit orangtua yang tidak memahami tentang kasih sayang yang bisa menjerumuskan. Seorang ibu muda yang membelikan gadenganet pada anaknya yang masih berusia 3 tahun sebenarnya adalah bentuk kedzoliman karena membiarkan anak terjerumus pada keburukan.

Ada 7 dampak negatif penggunaan gadenganet bagi anak-anak:

1. Bahaya radiasi
Pengaruh gadenganet buat anak yang pertama yaitu bahaya paparan radiasi. Menurut sebuah riset, paparan radiasi dari gadenganet sangat berbahaya bagi kesehatan dan perkembangan anak. Radiasi gadenganet sangat beresiko mengakibatkan gangguan terhadap perkembangan otak dan sistem imun anak.

2. Menyebabkan kecanduan
Pengaruh gadenganet terhadap anak yang selanjutnya yaitu menyebabkan kecanduan dan ketergantungan. Hal ini tentunya akan berdampak negatif terhadap perkembangan fisik dan motorik anak. Ketika si kecil asik bermain gadenganet biasanya lupa makan sehingga asupan nutrisi untuk menunjang pertumbuhannya terganggu. Selain itu, kecanduan gadenganet juga akan berdampak terhadap kepribadian anak sehingga lebih cenderung memiliki sifat tertutup dan tidak bersosialisasi.

3. Hambatan terhadap perkembangan
Anak-anak yang memiliki ketergantungan dengan gadenganet cenderung akan mengalami hambatan dalam proses perkembangannya. Hal ini karena anak-anak yang asyik bermain gadenganet jarang bergerak sehingga menghambat proses pertumbuhan.

4. Penyakit mental
Penggunaan gadenganet yang tidak terkontrol dan terus menerus bisa menjadi salah satu pemicu penyakit mental seperti depresi, gangguan bipolar dan autis.

5. Obesitas
Selain menghambat pertumbuhan, anak-anak yang terlalu asyik bermain gadenganet sangat beresiko mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Hal ini karena anak-anak cenderung kurang gerak sehingga terjadi penumpukan lemak tubuh yang mempercepat kenaikan berat badan secara berlebihan.

6. Gangguan tidur
Sebaiknya Anda tidak memberikan gadenganet pada anak di malam hari. Hal ini karena bisa mengakibatkan gangguan tidur sehingga berdampak terhadap tumbuh kembangnya. Permainan game di dalam gadenganet biasanya membuat anak lebih asik sehingga waktu tidurnya terganggu. Dalam hal ini peran penting Anda sebagai orangtua sangat dibutuhkan untuk mengontrol penggunaan gadenganet.

7. Berperilaku buruk
Terkadang tanpa Anda sadari anak-anak membuka situs online yang mempertontonkan tayangan yang tidak seharusnya untuk mereka lihat.

ini baru sebatas tentang penggunaan gadenganet. Masih banyak bentuk-bentuk 'pemanjaan' yang perlu kita waspadai, masih banyak hal-hal yang kita anggap bagian dari kasih sayang yang harus kita jauhi.

CINTA YANG MENGUATKAN HATI DAN AKAL.

1. Cinta yang mendewasakan bukan memanjakan
2. Cinta yang memaksimalkan edukasi, meminimalkan eksekusi
3. Cinta yang mewariskan keteladanan bukan keterpaksaan
4. Cinta yang banyak memberi kesempatan untuk belajar dan berbagi pandangan
5. Cinta yang mengajari tentang negosiasi, nilai-nilai empati, kejujuran, tanggung jawab pada diri sendiri dan membangun obsesi (mimpi)

Setiap orangtua harus membumikan cinta kepada anak2nya yang dengannya akan semakin menguatkan hati dan akal, mendewasakan jiwa bukan melemahkan dengan memanjakan.

BEBERAPA KONSEP CINTA KELUARGA ALA AL QURAN.

1. Mengenalkan hirarki cinta tertinggi (tauhid)

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, pada waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

2. Mengenalkan figur yang paling layak ditauladani (mencarikan idola)

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
[QS. Al-Ahzaab: 21]

3. Mengajarkan berbakti pada kedua orangtua.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Lukman:14)

4. Mengajarkan tentang makna ketakutan dan keberanian (kisah yusuf, daud a.s, ashabul ukhdud, dll)

5. Mendorong lahirnya disiplin amal ibadah dan amar ma'ruf nahi munkar

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17).

6. Melahirkan mental-mental pemimpin (tauladan) di tengah ummat.

Allah SWT berfirman dalam Al Imran: 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ
وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

7. Membangun visi misi yang melampaui batas kehidupan (iman pada hari akhir)

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Luqman berkata), ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman: 16).

Demikian ulasan singkat ini. Semoga kita semua senantiasa menguatkan pondasi cinta kita pada Allah dengan terus menguatkan hubungan baik dengan sesama manusia khususnya keluarga kita.
Aamiin.

Allahu a'laam...

TANYA JAWAB

Q : Bagaimana cara mengubah pandangan orangtua yang sering mengukur segalanya dengan uang dan harta? Misalkan orangtua ingin anaknya kuliah agar bisa bekerja di kantor atau perusahaan dengan gaji yang tinggi. Tapi anaknya lebih memilih masuk rumah tahfidz dan ingin jadi pendakwah.
A : 'Bantah' kekeliruan pola pikir ortu tentang dunia dan akhirat dengan prestasi yang kita raih. Jadilah pendakwah yang juga pebisnis sukses. Jadilah hafizh quran yang juga 'mapan' secara keduniaan. Orangtua tidak sepenuhnya salah karena berpikir demi kebaikan masa depan anaknya Memang salah ketika orgtua hanya berorientasi pada gaji tinggi saja, tapi juga kurang tepat jika seseorang hanya ingin menjadi pendakwah tapi abai terhadap masalah dunia. Bersikaplah tawazun.

Q : Maaf ustadz mau tanya, ada yang punya dua anak. Tapi jarak umur mreka sedikit skali sama-sama perempuan. Dikarenakan anak keduanya masih asi, shingga sang ibu jadi jauh lebih repot dan fokus ke si anak kedua dan menjadi agak galak ke anak pertama nya yang masih berumur 4tahun mungkin karena kondisi lelah. Anak pertama ini jadi agak galak dan lebih suka sendiri, sampe tiap ada orang yang memberi nasehat dia, dia slalu bilang 'maaf maaf yumna minta maaf jangan marah-marah dong' trus sampe dia pernah berbisik ke seseorang 'mama galak marah trus' lalu ustadz lalu bagaimana cara memberikan pemahaman kepada si anak pertama itu tadi bahwa ibunya cinta dengan dia? Supaya tidak kebablasan berfikiran buruk kepada ibunya hingga dewasa nanti.. Jazakumullah ustad sblumnya
A : Sampaikan permintaan maaf atas segala kesalahan dan kelalaian ortu selama ini tapi tidak usah disebut (diungkit) detil kesalahan masa lalu. Cukup ajak anak untuk saling memaafkan dan mensyukuri segala nikmat dan keadaan. Bangun kedekatan antara kakak dan si adek. Beri kesempatan mereka untuk saling menghargai dan memberi (di awal perlu 'diawasi'). Sering ajak anak untuk curhat, menyampaikan ketidak nyamanan selama ini dan requestnya apa untuk perbaikan.

Q : Ustadz mau tanya,,bagaimana cara mendidik anak cinta sama Allah, dan rosul,,dan gak terjerumus dengan hal-hal yang negatif,,soalnya zaman sekarang kan jarang anak-anak yang cinta sama Allah dan rosul; trus dengan pergaulan apakah kita harus batasin pergaulan anak?makasih
A : 1. Kenalkan 'ada dan kuasa' Allah sejak usia dini dimulai dari hal sederhana yang ada pada diri anak. Adanya mata, hidung, telinga dan lainnya yang sempurna merupakan ciptaan Allah.
2. Kenalkan syurga dan neraka sebagai konsekwensi taat dan maksiat dengan bahasa sesuai usia.
3. Batasi interaksi dengan gadget dan TV, maksimalkan kedekatan dengan buku dan berbagai referensi yang mengenalkan keagungan Allah dan kemuliaan Rasulullah.
4. Hindari bahasa memfonis, menyalahkan dan melemahkan.
5. Fahamkan perbedaan/ batasan antara teman dan pacar. Bersikap tegas dan konsisten jika anak mulai melanggar tapi tetap sampaikan dengan tutur kata yang baik.

Q : Ustadz sejak umur berapakah anak d kenalkan sama al-quran dan bagai mana caranya biar anak bisa hafiz al-quran,,trus kalau masalah pendidikan,,apakah tak mengapa disekolahkan di umum,yang sebagian besar perilaku atau pendidikannya soal agama kurang di perhatiin,, ana perihatin dengan anak-anak sekarang,,keponakan ana baru umur 5 tahun tapi yang dibicarakn uda soal pacaran,,dan ngomongnya kurang sopan ke orang tua,,mohon bimbingannya ustadz
A : Anak-anak ibarat cermin dan atau sponge, menantulkan sesuatu yang dicontohkan menyerap sgala yang diajarkan baik melalui perkataan maupun perbuatan. Jadilah contoh sebagai ahli quran, jika tidak minimal menjaga kondusifitas lingkungan rumah agar anak lebih dekat dengan alquran. Management gadget salah satu yang harus diperhatikan. Sekolah umum atau agama tidak mutlak menjadi jaminan atau ancaman. Jika kedekatan ortu dan anak terbangun, transfer nilai kebaikan dilakukan dengan cara baik dan benar, tidak full pasrah pada sekolahan dan ortu hanya ongkang-ongkang, maka insyaa Allah akan lebih terjaga perilaku dan tutur katanya meski tidak masuk di pesantren atau sekolah agama.

Q : Ustadz apakah perlu anak d bawah umur 20thn pegang hp? Soalnya anak di bawah umur segitu emosinya kan masih labil dan hp sekarang bisa mengakses sesuatu yang di luar batas,,bagaimana dengan orang tua yang ngasih kebebasan buat anaknya tersebut,,,??
A : Belikan HP jika sudah dirasa perlu. Bukan hanya sekedar gengsi agar tidak dibully. Bukan sekedar gaya tapi manfaatnya hampir tidak ada. Gadget itu ibarat binatang buas (predator) yang siap memangsa siapa saja di dekatnya. Jika edukasi pada anak lemah dan kebebasan tanpa batasan diberikan, tinggal menunggu waktu saja 'kehancurannya'.

Q : Ustadz, seperti apakah nantinya kepribadian seorang anak bila tidak pernah diperhatikan ortunya, tidak pernah dipedulikan & saling menyapa dengan ramah. Dan bahkan melihat ayahnya dikejauhan saja anaknya udah ngumpet duluan di rumah.
A : Meski tidak semua anak dengan pola asuh salah akan menjadi orang dewasa bermasalah, tapi hampir semua anak akan menjadi apa di masa dewasanya tergantung dari apa yang ia 'serap' di masa anak-anak. Minder, temperamental, bangga dengan pelanggaran adalah diantara sekian banyak efek buruk dari pengasuhan negatif yang ortu berikan.

Q : Ustadz. Apakah ayah yang suka main kasar kepada ibunya akan membuat anaknya juga berlaku demikian pada istrinya & anak perempuannya akan diperlakukan begitu oleh suaminya?
A : Tidak semua tapi hampir rata-rata begitu. Dan yang paling parah akan mengalami disorientasi seksual terjerumus dalam perilaku LGBT. Na'uudzubillah.
Allahu a'laam...

Q : Bagaimanakah jika seorang anak meminta sesuatu, tetapi karena sesuatu hal untuk kebaikannya, kita tidak mengizinkan. Tetapi nenek dan kakek nya selalu menuruti apa yang si anak minta. Ini sebagai orang tua untuk kebaikan semuanya harus bersikap bagaimana ya?
A : Ini sebuah dilema yang  harus secara bijak disikapi oleh kedua orangtua. Jangan menyalahkan anaknya, dekati dan jalin komunikasi dengan kakek neneknya. Pertahankan kepercayaan anak pada kedua orangtua agar lebih gampang orangtua menanamkan nilai-nilai yang seharusnya dipahami dan diaplikasikan.

Q : Ana mau bertanya Ustad Adakah tips atau trik-trik khusus yang kita lakukan untuk memaksimalkan Cinta melangit dan membumi??? 
A :  Cinta yang melangit diukur dari kadar keimanan dan menjalankan ketaatan serta menjauhi larangan. Cinta yang membumi diukur dari bagaimana akhlaq seseorang pada orang sekitar terutama keluarga dekatnya. Pahami dan jalankan syariat secara benar & juga pahami hak-hak saudara/ keluarga dan tunaikan semampu kita.


Demikianlah majlis kita kali ini, semoga kedepannya kita terus lebih baik lagi yaaa

Kita tutup sama-sama dengan ucap syukur :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

dan istighfar
أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ

dan membaca do'a kafaratul majlis ...

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ


Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh