Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

TA'LIFUL QULUB (KETERIKATAN HATI)

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh
Alhamdulillah semoga Allah karuniakan kita stok semangat agar tak menjeda diri dengan kemalasan.

al arwahu junudummujannadah yang artinya ruh-ruh orang beriman itu selayaknya satu pleton pasukan yang mana berada dalam satu aba-aba yakni senantiasa berjalan menuju Rabbnya
“Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, yang telah saling mengenal maka ia (bertemu dan) menyatu, sedang yang tidak maka akan saling berselisih (dan saling mengingkari)”. (HR. Muslim)
Inilah karakter ruh dan jiwa manusia, ia adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, kesatuaannya adalah kunci kekuatan, sedang perselisihannya adalah sumber bencana dan kelemahan. Jiwa adalah tentara Allah yang sangat setia, ia hanya akan dapat diikat dengan kemuliaan Yang Menciptakanya.
Allah berfirman yang artinya:
“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelajakan semua (kekayaan) yang berada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 8:63)
Dan tiada satupun ikatan yang paling kokoh untuk mempertemukannya selain ikatan akidah dan keimanan.
Imam Syahid Hasan Al Banna berkata:“Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran”. (Risalah Ta’lim, 193)
Sebab itu, hanya dengan kasih mengasihi karena Allah hati akan bertemu, hanya dengan membangun jalan ketaatan hati akan menyatu, hanya dengan meniti di jalan dakwah ia akan berpadu dan hanya dengan berjanji menegakkan kalimat Allah dalam panji-panji jihad fi sabilillah ia akan saling erat bersatu. Maka sirami taman persaudaraan ini dengan sumber mata air kehidupan sebagai berikut:


1. Sirami dengan mata Air Cinta dan Kasih sayang

Taman persaudaraan ini hanya akan subur oleh ketulusan cinta, bukan sikap basa basi dan kemunafikan. Taman ini hanya akan hidup oleh kejujuran dan bukan sikap selalu membenarkan. Ia akan tumbuh berkembang oleh suasana nasehat menasehati dan bukan sikap tidak peduli, ia akan bersemi oleh sikap saling menghargai bukan sikap saling menjatuhkan, ia hanya akan mekar bunga-bunga tamannya oleh budaya menutup aib diri dan bukan saling menelanjangi.

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ   

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (QS. AL HUJURAT:10

2. Sinari dengan cahaya dan petunjuk jalan

Dekatkan hatimu dengan sumber segala cahaya (Alquran) niscaya ia akan menyadarkan hati yang terlena, mengajarkan hati yang bodoh, menyembuhkan hati yang sedang sakit dan mengalirkan energi hati yang sedang letih dan kelelahan. Agar ikatan terjalin erat terangi jiwa dengan cahaya dari Sang Pencipta. ukhuwah akan terikat semakin erat yang ada saling beri semangat agar selamat hingga akhirat

3. Bersihkan dengan sikap lapang dada

Salamatusshadr.... . Kelapangan dada adalah modal kita dalam menyuburkan taman ini, sebab kita akan berhadapan dengan beragam tipe dan karakter orang, dan “siapapun yang mencari saudara tanpa salah dan cela maka ia tidak akan menemukan saudara” inilah pengalaman hidup para ulama kita yang terungkap dalam bahasa kata untuk menjadi pedoman dalam kehidupan. Inilah itsar..... Kelapang dada akan melahirkan sikap selalu memahami dan bukan minta dipahami, selalu mendengar dan bukan minta didengar, selalu memperhatikan dan bukan minta perhatian, dan belumlah kita memiliki sikap kelapangan dada yang benar bila kita masih selalu memposisikan orang lain seperti posisi kita, meraba perasaan orang lain dengan radar perasaan kita, menyelami logika orang lain dengan logika kita, maka kelapangan dada menuntut kita untuk lebih banyak mendengar dari berbicara, dan lebih banyak berbuat dari sekedar berkata-kata. 
“Tidak sempurna keimanan seorang mukmin hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya”. ( HR. Bukhari Muslim)
4. Hidupkan Hati dengan Ma’rifat

Hati yang ma'rifat itu adalah....... Hanya hati-hati yang disibukkan dengan Allah yang tidak akan dilenakan oleh Qiila Wa Qaala (banyak bercerita lagi berbicara) dan inilah ciri kedunguan seorang hamba sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah apabila ia lebih banyak berbicara dari berbuat, lebih banyak bercerita dari beramal, lebih banyak berangan-angan dan bermimpi dari beraksi dan berkontribusi. 
“Diantara ciri kebaikan Keislaman seseorang adalah meninggalkan yang sia-sia”. ( HR. At Tirmidzi).
5. Tajamkan Hati dengan cita-cita Kesyahidan

“Dan barang siapa yang meminta kesyahidan dengan penuh kejujuran, maka Allah akan menyampaikanya walaun ia meninggal diatas tempat tidurnya”. ( HR. Muslim)

Beginilah pengikat hati dengan ukhuwah islamiyah. Hati yang senantiasa terjaga dalam menjalani liku-liku dalam berukhuwah tak mudah jiwa mereka tergoyah oleh rupiah. tak kan tertukar hati yang terikat karena Allah dibayar oleh dolar. apalagi terbeli oleh materi yang tiada bisa kita bawa mati.

Terakhir tulisan ini bisa jadi sudah beredar di dumay tapi tidak ada salahnya sebagai pengingat kembali.

Ketika Menempuhi Perjalanan dalam Sebuah Kebersamaan
oleh Rochma Yulika
“Tak semua batu bata diletakkan pada posisi yang tinggi, dan tidak juga harus semuanya ada di bawah. Bahkan terkadang si tukang batu, akan memotong batu bata tertentu jika dibutuhkan untuk menutup posisi batu bata yang masih kosong guna melengkapi bangunannya.”
Kebersamaan ini bukan tanpa perselisihan. Boleh jadi ada di antara sesama saudara di jalan ini terkadang mengalami kesenjangan hubungan karena satu dan lain hal. Padahal, keharusan untuk bersama dan kemungkinan untuk berselisih, adalah dua kutub yang saling berlawanan.

Kebersamaan membutuhkan kesepakatan, kekompakan, kesesuaian, kedekatan dan keintiman. Sementara perselisihan bisa mengaktifkan kesenjangan, ketidaksukaan, kebencian, hingga keterpisahan. Namun semua itu bisa diselaraskan lantaran kita memiliki ukhuwah yang merupakan buah dari Iman. Dan Iman lah yang membuat kebersamaan ini dengan beragam keunikan yang ada di dalamnya terus akan ada hingga keterikatannya terjalin menuju surga. insya Allah.

kebersamaan dalam keimanan yang akan menjadikan kita mulia.
kebersamaan indah yang penuh berkah inilah yang kan kita bawa hingga Jannah.
Dan kebersamaan istimewa inilah yang akan kekal hingga kita tak lagi bernyawa.
bismillahi tawakaltu 'alallah la haula wa la quwwata illa billah...

Atmosfir Kesalihan dari Saudara Shalih


Pertemuan kami dengan mereka, ternyata membawa pengaruh ruhaniyah yang begitu hebat. Kami bisa merasakan suplay energi ruhiyah yang besar saat kami bertemu dan berinteraksi dengan mereka. Kami merasakan adanya suasana batin yang baru, yang mendorong dan memotivasi kami untuk lebih banyak melakukan amal-amal shalih. Perasaan itu, bahkan muncul tanpa mereka harus memberikan nasihat dan tausiyahnya untuk kami.

Karena kami sudah biasa merasakan pengaruh aura keshalihan itu, sejak kami melihat, mendengar suara mereka. Sebagaimana Yunus bin Ubaid mengakui kenikmatan besar ketika melihat Al Hasan Al Bashri rahimahulullah. Ia mengatakan “Seseorang bila melihat kepada Al Hasan Al Bashri, akan menerima manfaat dari dirinya, meski orang itu tidak melihat Al Hasan Al Bashri beramal dan tidak melihat ia mengeluarkan ucapan apapun.” (Risalah Al Mustarsyidin, Abi Abdillah Al Haris Al Muhasibi, Hal.60).

Semoga hati kta terikat
“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah bersatu berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadaMu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (dijalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahay-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifat-mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong”. aamiin

In sya Allah akan kita bawa hingga ke surga
aamiin ya rabb

Jazakumullahu khairan katsira
Mohon maaf lahir dan batin
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

TANYA JAWAB

1. Apa penyebab ukhuwah mengendur? Dan cara mengeratkan kembali ukhuwah tersebut bagaimana?
Jawab 
“Meski yang menghubungkanku dengan orang lain hanya seutas benang, maka akan kujaga jalinannya. Bila ia mengendurkan aku akan mengencangkan, dan bila ia mengencangkan aku akan mengendurkannya hingga tak putus ikatannya.”

Kata itu sederhana tapi teramat dalam maknanya. Terucap dari seorang shahabat Nabi sekaligus negarawan yang tak perlu diragukan keislamannnya, Mu’awiyah ibnu Sufyan r.a. Inilah seni berteman. Menjaga, merawat, memelihara jauh lebih sulit daripada mengawali pertemanan dan persaudaraan. Mengawali sangat mudah karena kita masih tahu sisi-sisi baiknya saja, benturan belum ada, keasliannya belum tampak. Yang tampak baru sedikit, itu pun indah-indah saja. Jika luka itu terasa teramat parah. Coba temukan apa yang menyebabkan semua itu terjadi. Jika sulit menemukan diri, di sinilah kita membutuhkan teman.

Sahabat. Atau shohib. Ibarat sepeda yang bocor bannya. Maka si tukang tambal tak mungkin langsung menambalnya. Pastilah ia akan membuka ban itu kemudian memeriksanya. Mencari penyebab apa yang membuat ban itu kempes atau bocor adanya. Di cobalah di pompa untuk menemukan di bagian mana letak kebocoran itu. Di rendamlah di air untuk menandai mana yang bocor. Barulah di proses untuk di tambal adanya.

Seperti seorang dokter yang menghadapi pasien. Pastilah tidak langsung di beri obat. Tapi di pastikan dulu apa penyebabnya. Bagaimana keluhannya. Apa indikasinya. Diperiksa. Baru diketahui penyebabnya. Dan lalu diberilah resep obatnya. 

Nabi kita yang mulia pernah menggambarkan sebuah jalinan tak sekadar pertemanan yang saling menguatkan. Dalam hadis itu diibaratkan, ukhuwah itu ibarat satu tubuh. Bila salah satu bagian terasa sakit yang lain ikut merasakan. Ukhuwah itu indah. Keindahan tak terkalahkan oleh materi. Bahkan indahnya persaudaraan yang tulus tak bisa digantikan dengan apa pun. Masya Allah.

Saya jadi teringat Imam Syafi’i pernah memberi nasihat,”kalau ternyata nafsumu mendorong untuk membalas seseorang atas dirimu, maka renungkan kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan untukmu, lalu gugurkan satu dari padanya sebagai balasan atas dosanya. Tapi jangan sekali-kali mengurangi kebaikan-kebaikan hanya karena dosa yang satu ini, karena itulah kezaliman yang sesungguhya. Jika kamu memiliki sahabat dekat maka peganglah erat-erat. Karena mencari sahabat amatlah susah, sedangkan memutuskan sahabat itu mudah.”(Shifatushafwah:1/234)

2. Ukhuwah yang mengendur gegara ditegur (bukan di depan orang banyak) kaya yang dendam gitu. Gimana nyikapin temen yang kaya gini?
Jawab 
Pilih kalimat yang ahsan dalam menegur teman agar tidak tersinggung. Terus perbaiki hubungan dengan mereka. Manusia tak pernah lepas dari salah. Apa yang terjadi sudah qadarullah yang bisa kita jadikan pelajaran yang ada bagaimana kita mau memperbaiki. pernah koq alamin hal itu tapi jika semua dilluruskan karena ingin menggapai ridla ALlah maka kemudahan akan ada

3. Assalamu'alaikumwrwb..Tema kali ini benar-benar MENGGUNCANG kan hati yang nelangsa..Jazakillah khoiran bunda Rochma Yulika membahas arti UKHUWAH. Ukhuwah juga merupakan salah satu pilarkekuatan di samping pilar kekuatan lainnya, seperti kekuatan iman, senjata, dll. Banyak contoh yang menunjukkan kehancuran sebuah komunitas yang disebabkan oleh ketiadaan ukhuwah. Pertanyaannya.. Bagaimanakah mempertahankan ukhuwah islamiyah walupun kita berbeda-beda satu sama lain dan tahap-tahap apa saja yang dilalui dalam merajut ukhuwah ini?
Jawab 
Lima Tingkatan Ukhuwah
Perjuangan Islam tidak akan tegak tanpa adanya ukhuwah islamiyah. Islam menjadikan persaudaraan dalam islam dan iman sebagai dasar bagi aktifitas perjuangan untuk menegakkan agama Allah di muka bumi. Ukhuwah islamiyah akan melahirkan rasa kesatuan dan menenangkan hati manusia. Banyak persaudaraan lain yang bukan karena islam dan persaudaraan itu tidak akan kuat dan kekal. Persaudaraan Islam yang dijalin oleh Allah SWT merupakan ikatan terkuat yang tiada tandingannya.
Perpecahan dikalangan umat dewasa ini terjadi disebabkan mereka tidak memenuhi persyaratan ukhuwah, yaitu kurangnya mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang bersungguh-sungguh. Allah SWT berfirman, ketaatan beribadah dan ketakwaan sebagai solusi dari perpecahan umat. Lihat Q.S.49:10 dan 8 :1

"Tentang ukhuwah .... Itulah sejatinya iman kita"
Oleh karena itu untuk mencapai nikmatnya ukhuwah, perlu kita ketahui beberapa proses terbentuknya ukhuwah islamiyah antara lain ada lima:

a. Ta’aruf (Saling Mengenal)
Ini adalah tingkatan yang paling dasar dalam ukhuwah. Adanya interaksi dapat lebih mengenal karakter individu. gaya bicara, tingkah laku, pekerjaan, pendidikan, dsb. Selanjutnya interaksi berlanjut ke pengenalan pemikiran (Fikriyyan). Hal ini dilakukan dengan dialog, pandangan terhadap suatu masalah, kecenderungan berpikir, tokoh idola yang dikagumi/diikuti,dll. Dan pengenalan terakhir adalah mengenal kejiwaan (Nafsiyyan) yang ditekankan kepada upaya memahami kejiwaan, karakter, emosi, dan tingkah laku.

b. Tafahum (Saling Memahami)
Proses ini berjalan secara alami. Seperti bagaimana kita memahami kekurangan dan kelebihan saudara kita. Sehingga kita bisa tau apa yang disukai dan tidak disukai. Menempatkan posisi seperti apa bila kita bertutur atau bersamanya dsb

"Bertutur sapa yang menyejukan hingga jika mampu ringankan bebannya hingga buat dia bahagia. Bahagiamu adalah bahagiaku juga"
c. Ta’awun (Saling Menolong)
Lahir dari proses tafahum tadi. Ta’awun dapat dilakukan dengan hati (saling mendo’akan), pemikiran (berdiskusi dan saling menasehati), dan amal (saling Bantu membantu). Saling membantu dalan kebaikan adalah kebahagiaan tersendiri. Karena manusia adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi dan butuh bantuan orang lain.

d. Takaful (Saling Menanggung)
Rasa sedih dan senang diselesaikan bersama. Ketika ada saudara yang mempunyai masalah, maka kita ikut menanggung dan menyelesaikan masalahnya tersebut. Contoh. Ketika saudara kita di gaza butuh. Bantuan,kita bisa menangggung sedikit kebutuhan mereka dari apa yang kita punya

e. Itsar (Mendahulukan orang lain daripada diri sendiri)
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam ukhuwah. Tingkatan imannya para sahabat. Banyak hadist yang menunjukkan itsar ini. Seperti ketika dalam suatu perang, salah seorang sahabat sangat kehausan. Kebetulan ia hanya tinggal mempunyai 1 kali jatah air untuk minum. Saat akan meminum nya, terdengar rintihan sahabat lain yang kehausan. Maka air tersebut ia berikan kepada sahabat yang kehausan itu. Saat mau meminumnya terdengar sahabat lain lagi yang merintih kehausan. Kemudian ia berikan air tersebut kepada sahabat itu. Begitu seterusnya sampai air tersebut kembali kepada si pemilik air pertama tadi. Akhirnya semua syahid.
Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu mencintai dirimu sendiri (HR. Bukhari-Muslim).

"Beginilah kerinduanku pada saudariku tak berbatas waktu hingga ajal menjemputku"
Betapa indah ukhuwah islamiyah yang diajarkan Alloh dan rosul-Nya. Bila umat islam melakukannya, tentunya terasa lebih manis rasa iman di hati dan terasa indah hidup dalam kebersamaan. Mari kita mulai dari diri kita, keluarga, masyarakat dekat untuk menjalin persaudaraan islam ini.

4. Assalamualaikum bunda, bunda kan di jelaskan di atas itu bersihkan dengan lapang dada yang saya tanyakan bagaimana caranya membersihkan dengan lapang dada? dan cara menerima komentar atau mendengarkan kritik dan sarannya sedangkan kita sudah menjelaskan maksud pembicaraannya karna sulit sekali kita menerima komentar atau kritikan yang tidak masuk akal diri kita sendiri jadinya berselisih faham bunda,,jazakillah bunda
Jawab 
Sadari bahwa apa yang terjadi tidak lepas dari ketetapan Allah. Kadang Allah menguji sejauh mana ketangguhan kita atau Allah sedang mendidik kita. Allah tahu sisi lemah kita. hadapi semua dengan sikap positif. Memang terasa menyakitkan hal yang sedianya tak sama dengan kenyataan. Bahkan seolah mau melakukan pembelaan. Kadamg kita butuh menemptkan hal yang tak pas dengan hati itu sebuah ujian. Dan tiap ujian itu selayaknya penyakit yang punya masa inkubasi. Biarlah Allah yang bantu menyelesaikan skenario Nya. Sediakan ruang di hati kita untuk hal-hal yang kurang mengenakkan. Mengikhlaskan itu lebih Menenangkan. Tak perlu Bergelut dengan dendam atau cacian. Merelakan setiap yang dirasa itu lebih menyenangkan. Tak perlu Sesak menerpa atau gundah Merana. Terjatuh, tergores dan terluka itu sakit. Tetapi ketika senyum yang kita beri maka biarkan hati yang menjalankan fungsi
Mengeluarkan keimanan di dalam hati
Menggambarkan kita sebagai seorang mengontrol Emosi
Sebab Sabar Tiada jeda
dan air mata kan terus ada
Sebab Ujian kan terus dirasa
Maka Damaikan semua
Dengan Iman dan taqwa
Kita semua bukan Bidadari surga,
Bukan pula Malaikat yang tak pernah Alpa,
Tetapi Manusia yang Penuh dengan Potensi Dosa
Tapi Ingatlah akan apa yang kita miliki Hari ini
Semua Potensi telah Ia Beri
Maka tugas kita menyelaraskan Potensi dengan Semua Ketentuan dan Ketetapan Ilahi
Mengeluhlah, Menangislah dan Tersungkurlah di hadapanNya
Karena Kesulitan kita hanya Pantas dilihat olehNya
Beban dan ujian Hanya Allah Kuncinya
Berbagi dan ceritakan Semua KepadaNya.
Qolbu… Kaulah penguat Gerakan
Lisan…. Kaulah yang Menjadi Cerminan
Laku… Kaulah Tanda Kekuatan.
Semoga Allah Selalu menjaga kita
Dalam Lingkar iman dan taqwa
Seluas Apapun Ujian
Seberat apapun Cobaan
Tetaplah Iman Yang Kita Simpan

5. Bagaimana jika ada 2 orang / lebih yang menjalin ukhwah, mereka berkenalan dan saling dekat. Tapi karena mereka hanya menjalin lwt Sosmed saja akhirnya ukhwah tersebut renggang dan putus atas kesibukan masing" , dan akhirnya mereka saling melupakan . Apakah itu juga termasuk kedalam memutuskan silaturahim ? Dan apa yang harus kita lakukan jika sudah seperti itu ? Selanjutnya  apa yang sekiranya harus kita lakukan untuk menjaga dari perkara seperti itu ?
Jawab 
Tergantung... jika renggang karena permusuhan tidak boleh namun jika karena kesibukan dimaklumi. Bukan semata diniatkan untuk menjauh namun jika ada kesempatan tetap diusahakan untuk bertegur sapa.

Marilah kita tutup majelis ilmu kita hari ini dgn membaca istighfar, hamdallah serta do'a kafaratul majelis

Doa penutup majelis : 


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

--------------------------------------------------
Hari / Tanggal : Senin, 25 April 2016
Narasumber : Ustadzah Rochma Yulika
Tema : Kajian Islam
Notulen : Ana Trienta

Kajian Online Whatsapp Hamba اَﻟﻠﱣﻪ Ta'ala
Link Nanda