Home » , , , » RENUNGAN TENTANG BULAN RAMADHAN (Grup Nanda)

RENUNGAN TENTANG BULAN RAMADHAN (Grup Nanda)

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, May 24, 2016

Kajian Online WA Hamba الله SWT

Selasa, 24 Mei 2016
Rekapan Grup Nanda 
Tema : Syakhsiyah Islamiyah
Editor : Rini Ismayanti


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya.
Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaAllah aamiin


RENUNGAN TENTANG BULAN RAMADHAN

Ramadhan adalah bulan perasaan dan ruhani, serta saat untuk menghadapkan diri kepada Allah. Ketika bulan Ramadhan menjelang, sebagian Salafush Shalih mengucapkan selamat tinggal kepada sebagian lain sampai mereka berjumpa lagi dalam shalat 'Id. Yang mereka rasakan adalah ini bulan ibadah, bulan untuk melaksanakan shiyam (puasa) dan qiyam (shalat malam) dan kami ingin menyendiri hanya dengan Tuhan kami.

Ramadhan adalah bulan Al Qur'an. Rasulullah saw. pernah bersabda mengenainya,
"Puasa dan Al Qur'an itu akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, "fa Rabbi, aku telah menghalangi nya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa 'at untuknya.' Sedangkan Al Qur'an akan berkata, *Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankan aku memberikan syafaat untuknya.' Maka Allah memperkenankan keduanya memberikan syafaat." (HR. Imam Ahmad dan AthThabrani)

"Semua amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, la adalah untuk Ku dan Aku akan memberikan balasannya."

Ini mengisyaratkan bahwa setiap amal yang dilaksanakan oleh manusia mengandung manfaat lahiriah yang bisa dilihat, dan di dalamnya terkandung semacam bagian untuk diri kita. Kadang kadang jiwa seseorang terbiasa dengan shalat, sehingga ia ingin melaksanakan banyak shalat sebagai bagian bagi dirinya. Kadang kadang ia terbiasa dengan dzikir, sehingga ia ingin banyak berdzikir kepada Allah sebagai bagian bagi dirinya. Kadang kadang ia terbiasa dengan menangis karena takut kepada Allah, maka ia ingin banyak menangis karena Allah sebagai bagian bagi dirinya.

Adapun puasa, di dalamnya tidak terkandung apa pun selain larangan. Ia harus melepaskan diri dari bermacam keinginan terhadap apa yang menjadi bagian dirinya.

Bila kita terhalang untuk berjumpa satu sama lain, maka kita akan banyak berbahagia karena bermunajat kepada Allah swt. dan berdiri di hadapanNya, khususnya ketika melaksanakan shalat tarawih.
Hendaklah senantiasa ingat bahwa kita semua berpuasa karena melaksanakan perintah Allah swt. Maka berusahalah sungguh sungguh untuk beserta dengan Allah dengan hati kita pada bulan mulia ini.
Ramadhan adalah bulan keutamaan. Ia mempunyai kedudukan yang agung di sisi Allah swt. Hal ini telah dinyatakan dalam kitabNya,

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil)."  (Al Baqarah: 185)

Pada akhir ayat tersebut kita mendapati: "Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (Al Baqarah: 185).

Puasa adalah kemanfaatan yang tidak mengandung bahaya. Dengan penyempurnaan puasa ini, Allah swt. akan memberikan hidayah kepada hambaNya. Jika Allah memberikan taufiq kepada kita untuk menyempurnakan ibadah puasa ini dalam rangka menaati Allah, maka ia adalah hidayah dan hadiah yang patut disyukuri dan selayaknya Allah dimahabesarkan atas karunia hidayah tersebut.

"Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur." (Al Baqarah: 185) 

Keutamaan dan keistimewaan paling besar bulan ini adalah bahwa Allah swt. telah memilihnya menjadi waktu turunnya Al Qur'an. Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh bulan Ramadhan. Karena itu, Allah swt. mengistimewakan dengan menyebutkannya dalam kitab Nya." (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an."  (Al Baqarah: 185).

Ada ikatan hakikat dan fisik antara turunnya Al Qur'an dengan bulan Ramadhan. Ikatan ini adalah selain bahwa Allah telah menurunkan Al Qur'an di bulan Ramadhan, maka di bulan ini pula Dia mewajibkan puasa. Karena puasa artinya menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat.

Ini merupakan kemenangan hakikat spiritual atas hakikat materi dalam diri manusia. Ini berarti, wahai saudaraku, bahwa jiwa, ruh, dan pemikiran manusia pada bulan Ramadhan akan menghindari tuntutan tuntutan jasmani. Dalam kondisi seperti ini, ruh manusia berada di puncak kejernihannya, karena ia tidak disibukkan oleh syahwat Allah swt. Telah mengistimewakan bulan Ramadhan.
Kemudian, lihatlah dampak dari semua ini.
"Dan apabila hamba hamba Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Al Baqarah: 186).
Di sini kita melihat bahwa Allah Yang Mahabenar meletakkan ayat ini di tempat ini untuk menunjukkan bahwa Dia swt. paling dekat kepada hambaNya adalah pada bulan mulia ini. penyeru dari sisi Allah Yang Mahabenar swt., Wahai pencari kejahatan,
berhentilah! Dan wahai pencari kebaikan, kemarilah!'"
Pintu pintu surga dibuka, karena manusia berbondong bondong melaksanakan ketaatan, ibadah, dan taubat, sehingga jumlah pelakunya banyak. Setan setan dibelenggu, karena manusia akan beralih kepada kebaikan, sehingga setan tidak mampu berbuat apa apa. Hari hari dan malam malam Ramadhan, merupakan masa masa kemuliaan
yang diberikan oleh Al Haq swt., agar orang orang yang berbuat baik menambah kebaikannya dan orang orang yang berbuat jahat mencari karunia Allah swt. sehingga Allah mengampuni mereka dan menjadikan mereka hamba hamba yang dicintai dan didekatkan kepada Allah.
Mengenai hal itu terdapat beberapa ayat dan hadits. Nabi saw. bersabda, dan hawa nafsu. Ketika itu ia  dalam keadaan paling siap untuk memahami dan menerima ilmu dari Allah swt. Karena itu, bagi Allah, membaca Al Qur'an merupakan ibadah paling utama pada bulan Ramadhan yang mulia.
Tujuan asasi dalam kitab Allah swt. dan prinsip prinsip utama yang menjadi landasan bagi petunjuk Al Qur'an adalah :
Perbaikan Aqidah
Anda mendapad bahwa Al Qur'anul Karim banyak menjelaskan masalah aqidah dan menarik perhatian kepada apa yang seharusnya tertanam sungguh sungguh di dalam jiwa seorang mukmin, agar ia bisa mengambil manfaatnya di dunia dan di akhirat.
Keyakinan bahwa Allah swt. adalah Yang Maha Esa, Yang Mahakuasa, Yang menyandang seluruh sifat kesempurnaan dan bersih dari seluruh kekurangan. Kemudian keyakinan kepada hari akhir, agar setiap jiwa dihisab tentang apa saja yang telah dikerjakan dan ditinggalkannya.

Pengaturan Ibadah
Firman Allah swt. mengenai ibadah.
"Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat."  (Al Baqarah: 43)
"...diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kalian."  (Al Baqarah: 183)
"...mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah."  (Ali Imran: 97)
"Maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.'"  (Nuh: 10)
Dan banyak lagi ayat ayat lain mengenai ibadah.
Pengaturan Akhlak
Mengenai pengaturan akhlak, kita bisa membaca firman Allah swt.
"Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya."  (Asy Syams: 78)
"...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri."
(Ar Ra'd : 11)
"Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orangorang yang sabar karena mencari ridha Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama sama dengan orang orang yang shalih dari bapak bapaknya, istri istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat malaikat masuk ke tempat tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), 'Salamun 'alaikum bima shabartum
(keselamatan atasmu berkat kesabaranmu),' maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu."
(Ar Ra'd: 19-24) 

Wallahu a'lam

TANYA JAWAB

M101 by Ustadzah Fina
Q : Assalamu'alaikum bun. Saya mau minta solusi nih bun. Kan kalo orang puasa itu kadang lemes terus bawaannya ngantuk bun, terus cara nyiasatinnya gimana ya bun? Biar ngga males gitu
A : Pertama yang perlu dilakukan adalah makan sahur yang sip,minum air putih ditambah sedikit perasan jeruk nipis. Kemudian makan buah,sekitar 30 menit setelah itu makan sahur. In syaa Allah terbukti tidak terasa lemas walau seharian,kemudian yang kedua karena ramadhan ini judulnya fastabiqul khoirot, maka kita berlomba dalam kebaikan,tidak hanya dengan muslim yang lain,melainkan berlomba dengan hawa nafsu dan yang pasti berlomba dengan usia. Pastikan setiap detik aktivitas kita besar manfaatnya dan pahalanya dari 10 kali lipat sampai 700 kali lipat in syaa Allah lemes dan ngantuk bakal ilang

Q : Bun, saya ingin bertanya tentang point 'perbaikan aqidah'. setelah melewati ramadhan, seharusnya aqidah seorang muslim semakin kuat ya bun? Namun jika setelah melewati ramadhan aqidahnya sama saja atau bahkan melemah kira-kira kenapa ya bun ? Padahal dia melakukan puasa serta semua amalan-amalan sunnah pada bulan  ramadhan
A :
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi – yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ.
“Semua amalan bani adam adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dan puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah ia mengatakan, ‘sesungguhnya aku sedang berpuasa’. Dan demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau misk. Orang yang berpuasa mempunyai dua kegembiraan, ia bergembira ketika berbuka, dan ia bergembira ketika bertemu dengan rabbnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itulah keistimewaan ibadah puasa,dari semua ibadah yang dilakukan adalah kembali kepada diri kita namun ibadah puasa adalah khusus untuk Allah dan Allah yang menilai serta memberikan balasan. Saking luar biasanya keistimewaannya dan luar biasa pula effort untuk kita melaksanakannya. Maka ketika kemudian ibadah puasa kita tidak membawa kepada pribadi yang lebih baik aqidah maupun akhlaknya maka perlu dipertanyakan apakah puasa yang kita lakukan sudah sesuai dengan apa yang dimau Allah,yang diridhoi Allah..jangan sampai segala amal ibadah yang kita lakukan hanya seperti buih di lautan atau debu tertiup angin.wallahu a'lam.

Q : Afwan bunda, ana mau tanya .. Kan bulan ramadhon itu bulan yang diharuskan untuk memperbanyak baca alquran, sedangkan perempuan itu kan ada masa dimana ia tidak suci .. Nah kalo misalnya kita ganti dengan mendengarkan murrotal itu sama saja tidak pahalanya ? Syukron ..
A : Mendengarkan ada pahalanya..membacanya pun ada pahalanya..yang penting usaha kita untuk terus berdekatan dengan alqur'an. Jika mengikuti jumhur ulama maka tidak mengapa membaca alqur'an asalkan tidak memegang mushaf alqur'an,kalo ini all ulama sepakat melarang perempuan yang tidak suci untuk menyentuhnya..so bisa baca lewat gadget atau tafsir atau terjemah qur'an..namun jika keyakinannya adalah tidak boleh membaca ketika haid,tafadholy bisa mendengarkan murottal atau mentadabburi alqur'an atau murojaah hafalan yang penting dekeeet terus sama alqur'an.

Q : Bun.... ketika puasa boleh sikat gigi menggukan odol? Apa malah ga boleh sikat gigi ketika siang hari ketika puasa?
A : Sikat gigi pake odol boleh mba..yang gak boleh makan odol saat sikat gigi

Q : Misalkan kita sedang di kamar mandi lalu terdengar lantunan ayat alquran yang kita hafal, apakah boleh kita juga melantunkannya walau di kamar mandi? Trus pada saat haid apa masih boleh membaca ayat suci alquran?
A : Adab terhadap alqur'an yang suci salah satunya juga membacanya di tempat yang suci..tidak membacanya di kamar mandi sebagaimana kita tidak diperkenankan menyebut asma Allah di dalam kamar mandi. Pada saat haid boleh baca qur'an...penjelasannya sudah saya sampaikan di atas. Tambahannya hadits yang melarang perempuan haid baca qur'an rata-rata haditsnya lemah/dhoif.

Q : Kalo sedang haid alangkah baiknya boleh masuk masjid atau tidak.
A : Boleh. Shahabiyah ada yang tinggal di masjid dan tidak disebutkan riwayatnya beliau keluar dan menjauh dari masjid ketika haid... Ada kisah juga dari Aisyah ra...Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan,
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله و عليه و سلم: نَاوِلِيْنِى الْجُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ.
“Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, “Ambilkan untukku khumroh (sajadah kecil) di masjid.” “Sesungguhnya aku sedang haid”, jawab ‘Aisyah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya haidmu itu bukan karena sebabmu” (HR. Muslim no. 298)
Tapi ada syaratnya klo ke masjid dalam keadaan haid :
(1) ada hajat dan (2) tidak sampai mengotori masjid. Demikian dua syarat yang mesti dipenuhi bagi wanita haid yang ingin masuk masjid.


M111 by Ustadzah Evi
Q : Bolehkah saya melepas pekerjaan di bulan ramadhan dengan niat memperbanyak ibadah nantinya. Padahal pekerjaan sendiri kan juga ibadah. Karena jam kerja yang 12 jam, kemudian saya berasumsi sepertinya.. Kalau tetap bekerja.. Akan banyak ibadah yang terlewat..
A : Kita tetap bisa bekerja. Dan beribadah secara optimal tinggal bagaimana cara kita memanage waktu kita dengan disiplin. Bunda juga kerja. Juga mengisi kegiatan dll. Tidak menjamin orang yang tidak bekerja ibadahnya akan optimal. Seperti kata nanda kerja juga ibadah. Buatlah penjadwalan agar ibadah selama ramadhan dapat tercapai sesuai target. Dan kita komitmen dengan agenda yang kita buat. Ya nanda. 

Q : Bunda sayang... bolehkah puasa sekaligus dijadikan jalan untuk diet? 
A : Kita akan mendapatkan sesuai dengan apa yang kita niatkan. Jadi jika ingin mendapatkan kesempurnaan dalam pahala yang kita raih. Sudah  seharusnya jangan ada niat-niat yang lain dalam ibadah . Jika kemudian kita mendapatkan kebaikan lain dari ibadah kita misal kesehatan. Tubuh langsing itu sebagai buah dari keberkahan ibadah tsb. 


Q : Saya mau bertanya hukum gosok gigi pada saat puasa gimana? Sama berwudhu pas puasa.
A : Nanda sayang menggosok gigi saat berpuasa tidak dilarang. Namun sebaiknya kita lakukan setelah sahur saja khawatir ada yang tertelan saat menggosok gigi tsb. Begitu juga berkumur-kumur saat berwudhu diperbolehkan hanya kita harus berhati-hati juga jangan sampai tertelan air. Ya. Nanda


Q : Kalo setelah sahur tidak boleh gosok gigi ya.. Untuk wudhu kan ada kumur-kumur ya? Itu boleh saja asalkan tidak sampe tertelan air ya bu?
A :  Nanda, setelah sahur boleh kita menggosok gigi. Tapi sebaiknya tidak menggunakan pasta gigi. Kehati-hatian jika ada rasa dari pasta gigi yang membuat  kita menjadi ragu. Termasuk berkumur dibolehkan saat berwudhu namun berhati-hati agar tidak tertelan.


M114 by Ustadzah Ning
Q : Kan bulan ramadhan bulan yang suci dimana umat muslim menunaikannya, nah bagaimana bila setelah ramadhan mereka kembali tersesat tidak menambah amalan mereka?
A : Wuah sayang sekali ya sayang...seharus nya setelah romadhon kita harus bisa lebih semangaat lagi dalam beribadah...karena hati kita sudah di charger selama 1 bulan penuh...mohon ampun dan selalu diisi dengan ibadah-ibadah serta kebaikan-kebaikan lainnya...nah kalau ba'da Romadhon berbuat maksiat lagi apa yang kita sudah panen akan menjadi gagal...artinya amalan-amalan serta pahala-pahala yang sudah kita kumpulkan akan tertutup kembali dengan kesesatan...
Sebaiknya segera istighfar kembali.
Nah jika kita ingin memepertahankn penen nya yang sudah ditanam dibulan romadhon kemarin untuk bekal nanti ada hal-hal yang perlu kita lakukan :
1. Tetap terus untuk tilawah jugan sampai berhenti
2. Agar bisa terjaga dan selalu tenang beristighfar lah terus.perbaharui terus niat kita.
3. Terus tetap berdo'a untuk dijauhkan dari kesesatan
4. Selalu berteman dan berkumpul dengan orang-orang sholeh
5. Sering-sering membaca kisah rasulullah dan para sahabat atau salafush sholeh untuk bisa diambil pelajaran darinya
6. Selalu muhasabah
Wallahu a'lam

Q : Bunda,,, mau tanya.. Kalau untuk membayar kan hutang puasa orang tua yang meninggal apa harus kita yang berpuasa/ bayar fidyah aja bun,,?
A : Kalau memang orang tuanya sudah meninggal ndak apa sayang dibayarkan dengan fidyah saja...karena sama hal nya seperti juga bisa dikatagorikan seseorang yang sedang uzur...artinya seseorang yang jika berpuasa selalu sakit ndak bisa untuk menahan jika dibawa berpuasa. Memang dalam hal ini ada perbedaan  juga sama dengan orang yang sudah meninggal kan ndak akan bisa hidup lagi dan keluarganya lah yang membayarkan hutangnya termasuk fidyahnya...
Wallahu a'lam

Q : Bunda aku mau tanya , bagaimana kalo kita masih punya hutang puasa, sedangkan bentar lagi udah mau memasuki bulan ramadhan .. ?
A : Allah membolehkan, bagi orang yang tidak mampu menjalankan puasa, baik karena sakit yang ada harapan sembuh atau safar atau sebab lainnya, untuk tidak berpuasa, dan diganti dengan qadha di luar ramadhan. Allah berfirman,
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 184)
Kemudian, para ulama mewajibkan, bagi orang yang memiliki hutang puasa ramadhan, sementara dia masih mampu melaksanakan puasa, agar melunasinya sebelum datang ramadhan berikutnya. Berdasarkan keterangan A’isyah radhiyallahu ‘anha,
كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ
Dulu saya pernah memiliki utang puasa ramadhan. Namun saya tidak mampu melunasinya kecuali di bulan sya’ban. (HR. Bukhari 1950 & Muslim 1146)
Dalam riwayat muslim terdapat tambahan,
الشُّغْلُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
‘Karena beliau sibuk melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
A’isyah, istri tercinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu siap sedia untuk melayani suaminya, kapanpun suami datang. Sehingga A’isyah tidak ingin hajat suaminya tertunda gara-gara beliau sedang qadha puasa ramadhan. Hingga beliau akhirkan qadhanya, sampai bulan sya’ban, dan itu kesempatan terakhir untuk qadha.
Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,
وَيؤْخَذ مِنْ حِرْصهَا عَلَى ذلك في شَعْبَانأَنَّهُ لا يجُوز تَأْخِير الْقَضَاء حَتَّى يدْخُلَ رَمَضَان آخر
Disimpulkan dari semangatnya A’isyah untuk mengqadha puasa di bulan sya’ban, menunjukkan bahwa tidak boleh mengakhirkan qadha puasa ramadhan, hingga masuk ramadhan berikutnya. (Fathul Bari, 4/191).
Bagaimana jika belum diqadha hingga datang ramadhan berikutnya?
Sebagian ulama memberikan rincian berikut,
Pertama, menunda qadha karena udzur, misalnya kelupaan, sakit, hamil, atau udzur lainnya. Dalam kondisi ini, dia hanya berkewajiban qadha tanpa harus membayar kaffarah. Karena dia menunda di luar kemampuannya.
Imam Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang sakit selama dua tahun. Sehingga utang ramadhan sebelumnya tidak bisa diqadha hingga masuk ramadhan berikutnya.
Jawaban yang beliau sampaikan,
ليس عليها إطعام إذا كان تأخيرها للقضاء بسبب المرض حتى جاء رمضان آخر ، أما إن كانت أخرت ذلك عن تساهل ، فعليها مع القضاء إطعام مسكين عن كل يوم
Dia tidak wajib membayar kaffarah, jika dia mengakhirkan qadha disebabkan sakitnyam hingga datang ramadhan berikutnya. Namun jika dia mengakhirkan qadha karena menganggap remeh, maka dia wajib qadha dan bayar kaffarah dengan memberi makan orang miskin sejumlah hari utang puasanya.
Kedua, sengaja menunda qadha hingga masuk ramadhan berikutnya, tanpa udzur atau karena meremehkan. Ada 3 hukum untuk kasus ini:
1.Hukum qadha tidak hilang. Artinya tetap wajib qadha, sekalipun sudah melewati ramadhan berikutnya. Ulama sepakat akan hal ini.
2.Kewajiban bertaubat. Karena orang yang secara sengaja menunda qadha tanpa udzur hingga masuk ramadhan berikutnya, termasuk bentuk menunda kewajiban, dan itu terlarang. Sehingga dia melakukan pelanggaran. Karena itu, dia harus bertaubat.
3.Apakah dia harus membayar kaffarah atas keterlambatan ini?
Bagian ini yang diperselisihkan ulama.
Pendapat pertama, dia wajib membayar kaffarah, ini adalah pendapat mayoritas ulama.
As-Syaukani menjelaskan,
وقوله صلى الله عليه وسلم: “ويطعم كل يوم مسكينًااستدل به وبما ورد في معناه مَن قالبأنها تلزم الفدية من لم يصم ما فات عليه في رمضان حتى حال عليه رمضان آخر، وهم الجمهور، ورُوي عن جماعة من الصحابة؛ منهمابن عمر، وابن عباس، وأبو هريرةوقال الطحاوي عن يحيى بن أكثم قالوجدته عن ستة من الصحابة، لا أعلم لهم مخالفًا
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dia harus membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin”, hadis ini dan hadis semisalnya, dijadikan dalil ulama yang berpendapat bahwa wajib membayar fidyah bagi orang yang belum mengqadha ramadhan, hingga masuk ramadhan berikutnya. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama, dan pendapat yang diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah.
At-Thahawi menyebuntukan riwayat dari Yahya bin Akhtsam, yang mengatakan,
وجدته عن ستة من الصحابة، لا أعلم لهم مخالفًا
Aku jumpai pendapat ini dari 6 sahabat, dan aku tidak mengetahui adanya sahabat lain yang mengingkarinya. (Nailul Authar, 4/278)
Pendapat kedua, dia hanya wajib qadha dan tidak wajib kaffarah. Ini pendapat an-Nakhai, Abu Hanifah, dan para ulama hanafiyah. Dalilnya adalah firman Allah,
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 184)
Dalam ayat ini, Allah tidak menyebuntukan fidyah sama sekali, dan hanya menyebuntukan qadha.
Imam al-Albani pernah ditanya tentang kewajiban kaffarah bagi orang yang menunda qadha hingga datang ramadhan berikutnya. Jawaban beliau,
هناك قول، ولكن ليس هناك حديث مرفوع
Ada yang berpendapat demikian, namun tidak ada hadis marfu’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) di sana. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Muyassarah, 3/327)
Demikian,
Allahu a’lam.


M110 by Ustadzah Tribuana
Q : Ustadzh,, di bulan ramadhan jika setiap amalan  kebaikan dilipat gandakan pahalanya, apakah jika kita melakukan keburukan juga akan dilipat gandakan kan dosanya?
A : Kebaikan itu berlipat dilihat dari kammiyah (kuantitas atau jumlah) dan kayfiyah (kualitas). Adapun dosa berlipat-lipat dilihat dari kayfiyah (kualitas), bukan dari kammiyah (kuantitas). [Maksudnya: dosa tidak dilipatgandakan dari sisi jumlah, namun dipandang dari sisi besarnya]. Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلا يُجْزَى إِلا مِثْلَهَا وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-An’am: 160)

Begitu juga dalam ayat lainnya disebutkan,
وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. Al-Hajj: 25). Dalam ayat tidak dikatakan akan dilipatgandakan, namun dikatakan akan ditimpakan azab. Sehingga yang melakukan dosa di Makkah atau di Madinah, berarti secara kualitas dosanya bertambah besar, bukan dari sisi jumlah yang berlipat-lipat. Maksudnya, siksanya lebih pedih.

Q : Bunda gimana caranya agar semangat kita dalam beribadah ga turun naik shabis sudah.a bulan ramadhan
A : Dengan tetap menjaga amalan-amalan ibadah yang telah dilaksanakan pada bulan ramadhan, berteman dengan orang-orang sholih, berdoa agar di kuatkan dalam agama ini

Q : Di materi dijelaskan bahwa setan-setan  itu dibelenggu, tapi kenyataannya malah tambah banyak orang yang tidak memanfaatkan bulan ramadhan sebaik-baiknya contohnya makin banyak orang yang main kartu katanya tuk mngisi kekosongan.... Nah itu gimana ustdzh?
A : Dalam lafazh lain disebutkan,
إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ
“Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai.” (HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079).
Selanjutnya, kita kembali ke pertanyaan di atas. Mengapa masih ada maksiat, jika setan telah dibelenggu? Ada beberapa pendekatan yang disampaikan ulama dalam memahami kasus ini. Pertama, sumber maksiat tidak hanya setan. Karena hawa nafsu manusia di sana berperan. Keterangan disampaikan Imam as-Sindi dalam Hasyiyah-nya (catatan) untuk sunan an-Nasai. Beliau mengatakan,
ولا ينافيه وقوع المعاصي، إذ يكفي وجود المعاصي شرارة النفس وخبائثها، ولا يلزم أن تكون كل معصية بواسطة شيطان، وإلا لكان لكل شيطان شيطان ويتسلسل، وأيضاً معلوم أنه ما سبق إبليس شيطان آخر، فمعصيته ما كانت إلا من قبل نفسه، والله تعالى أعلم
Hadis ‘setan dibelenggu’ tidak berarti meniadakan segala bentuk maksiat. Karena bisa saja maksiat itu muncul disebabkan pengaruh jiwa yang buruk dan jahat. Dan timbulnya maksiat, tidak selalu berasal dari setan. Jika semua berasal dari setan, berarti ada setan yang mengganggu setan (setannya setan), dan seterusnya bersambung. Sementara kita tahu, tidak ada setan yang mendahului maksiat Iblis. Sehingga maksiat Iblis murni dari dirinya. Allahu a’lam. (Hasyiyah Sunan an-Nasai, as-Sindi, 4/126).
Kedua, setan dibelenggu tapi dia masih bisa mengganggu. Hanya saja, dia tidak sebebas ketika dilepas. Karena makhluk yang dibelenggu hanya terikat bagian tangan dan lehernya. Sementara kakinya, lidahnya masih bisa berkarya. Kita simak keterangan Imam al-Baji – ulama Malikiyah – dalam Syarh Muwatha’
قوله وصفدت الشياطين يحتمل أن يريد به أنها تصفد حقيقة، فتمتنع من بعض الأفعال التي لا تطيقها إلا مع الانطلاق، وليس في ذلك دليل على امتناع تصرفها جملة، لأن المصفد هو المغلول العنق إلى اليد يتصرف بالكلام والرأي وكثير من السعي
Sabda beliau, ‘Setan dibelenggu’ bisa dipahami bahwa itu dibelenggu secara hakiki. Sehingga dia terhalangi untuk melakukan beberapa perbuatan yang tidak mampu dia lakukan kecuali dalam kondisi bebas. Dan hadis ini bukan dalil bahwa setan terhalangi untuk mengganggu sama sekali.  Karena orang yang dibelenggu, dia hanya terikat dari leher sampai tangan. Dia masih bisa bicara, membisikkan ide maksiat, atau banyak gangguan lainnya.
Ketiga, sejatinya setan tidak dibelenggu secara hakiki. Sifatnya hanya kiasan. Mengingat keberkahan bulan ramadhan, dan banyaknya ampunan Allah untuk para hamba-Nya selama ramadhan. Sehingga setan seperti terbelenggu. Masih kita lanjuntukan keterangan al-Baji,
ويحتمل أن هذا الشهر لبركته وثواب الأعمال فيه وغفران الذنوب تكون الشياطين فيه كالمصفدة، لأن سعيها لا يؤثر، وإغواءها لا يضر
Bisa juga kita maknai, bahwa mengingat bulan ini bulan pernuh berkah, penuh pahala amal, banyak ampunan dosa, menyebab setan seperti terbelenggu selama ramadhan. Karena upaya dia menggoda tidak berefek, dan upaya dia menyesatkan tidak membahayakan manusia… (al-Muntaqa Syarh al-Muwatha’, al-Baji, 2/75)
Keempat, yang dibelenggu tidak semua setan. Tapi hanya setan kelas kakap (maradatul jin). Sementara setan-setan lainnya masih bisa bebas. Terjadi maksiat, disebabkan bisikan setan-setan kelas biasa. Dalam fatwa  syabakah islamiyah dinyatakan,
وقد ذهب بعض أهل العلم إلى أن الذين يصفدون من الشياطين مردتهم، فعلى هذا فقد تقع المعصية بوسوسة من لم يصفد من الشياطين
Sebagian ulama berpendapat bahwa setan yang dibelenggu hanyalah setan kelas kakap. Berdasarkan pendapat ini, adanya maksiat, disebabkan bisikan setan yang belum dibelenggu. (Fatwa  Syabakah Islamiyah, no. 40990).
Yang lebih penting adalah kita berupaya untuk menghindari maksiat sebisa yang kita lakukan. Agar puasa kita semakin berkualitas.
Allahu a’lam

Q : Ustdzah Ramadhan kemarin saya pernah menghukum keponakan saya karena dia tidak puasa.. (hukumannya: fasilitas dia saya cabut mis hp & main, saya cubit juga kakinya) ponakan saya sekarang udah smp.  Apakah tindakan saya ini berlebihan/ gimana ya?
A : Tidak

Q : Puasa ramadhan di lingkungan rumah selalu berbeda dengan pemerintah..menurut ustadzah bagaimana menyikapi nya apa ikut lingkunggan atau pemerintah??? Jazakillah khair ustadzah
A : Ikut lingkungan sekitar asal perbedaannya tidak lebih dari sehari, kalo lebih dari sehari ikut pemerintah saja



Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:



سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!