Ketik Materi yang anda cari !!

PRIORITAS DALAM MENDIDIK ANAK

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Tuesday, July 26, 2016

Selasa, 26 Juli 2016
Narasumber : Ustadzah Endria
Kajian LINK Bunda Pekan keempat Juli 2016
Tema : Parenting
Editor : Rini Ismayanti


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya.
Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakaninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan sayaafaat beliau di hari akhir nananti. InsyaAllah aamiin.

PRIORITAS DALAM MENDIDIK ANAK

Jama'ah rohimakumullah. Kembali mari kita sejenak meluangkan waktu untuk merenungkan tentang keadaan diri kita, apa yang sudah kita lakukan serta apa saja yang kiranya perlu kita benahi... Sekedar mengingatkan saja agar kita semua lebih fokus bahwa tema dialoq kita pada siang ini adalah Prioritas dalam Pendidikan Anak.


Sebagaimana kita ketahui bahwa anak kita adalah titipan Allah, artinya mereka adalah amanah untuk kita. Dan kita adalah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab kelak dihadapan Allah atas kepemimpinan, bimbingan dan arahan atas mereka. Ketika kita fokus pada pertanggung jawaban yang sangat berat ini. Sudah tentu kita akan memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Agar amanah ini sesuai dengan kehendakNya. Bukan semata-mata agar sesuai dengan keinginan kita.

Jika kita perhatikan diri kita dan juga mungkin bagaimana arus orientasi global saat ini, sering membuat pola pikir kita sedikit demi sedikit mengalami pergerseran. Sayangnya pergerseran ini jika sudah menyentuh pada area aqidah dan keimanan. Sehingga menjauhkan dari nilai-nilai ajaran Al Qur'an Sunnah Rasulullah . Sungguh ini adalah suatu permasalahan besar yang harus segera kita sadari dan lakukan pembenahan sehingga kita segera kembali pada apa yang seharusnya dan mendapat pijakan jalan menuju keselamatan Akhirat.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa atmosfir kehidupan yang kita alami saat ini sangat kental dengan bisikan pada pola pikir kebabasan dan material oriented. Segala ukuran kesuksesan selalu dipijakkan pada hal-hal yang tampak dan bisa dirasakan serta dibanggakan saat ini (di dunia). Sedangkan orientasi akhirat - yang lebih mengedepankan keutamaan kebahagiaan sejati dan abadi menjadi seolah tenggelam dan tak menarik dibicarakan ataupun dipikirkan. Jika kondisi tersebut terjadi diantara kita. Mari kita merenung dan beristighfar kepada Allah agar diberi taufiq dan hidayah untuk bisa lebih jelas dalam menentukan pilihan-pilihan penting dalam hidup ini.


Pergeseran pola pikir sebagaimana yang tergambar diatas tidak luput mengena dalam urusan orangtua dalam melakukan proses pendidikan terhadap anak-anaknya. Pada umumnya orangtua era modern ini lebih mengutamakan pencapaian target kesuksesannya dalam ukuran prestasi akademisnya, baru mereka mengangkat issue spiritual anak. Banyak orangtua merasa perlu terpacu ketika harus berlomba-lomba mengejar segala ketrampilan yang bisa menunjang penampilan anaknya dalam pergaulan modern mereka daripada memperhatikan kebutuhan spiritualnya. Inilah yang saya tekankan sebagai indikasi pergeseran yang sangat merugikan dari sisi ukhrowi.

Dalam konteks ini bisa dikatakan ketika titik acuannya orangtua dalam mendidik anaknya adalah didasarkan pada kesuksesan yang sifatnya duniawi - maka jelas menjadi suatu musibah besar dari sisi pandang Akhiratnya. Inilah yang perlu kita mulai luruskan sejak saat ini. Upaya pelurusan ini saya ingin memulainya dari pemikiran dasar sehingga dalam aplikasinya nanti masing-masing orangtua tentu akan dapat membuat suatu penyesuaian yang tepat untuk diterapkan kepada pola didik terhadap anak-anaknya.


Tentu banyak hal yang sebenarnya harus kita angkat untuk menjadi bahan pemikiran kita semua dalam rangka meluruskan apa yang seharusnya kita lakukan terutama terkait dengan pola pendidikan yang kita berikan kepada anak kita.


*Pertama*

Berusahalah untuk berangkat dari apa yang akan kita lakukan terhadap anak kita adalah *UNTUK ALLAH*.

Singkat jika diungkapkan tetapi sungguh berat dalam aplikasi atau penerapannya. Jujur saja kita pada diri sendiri... Sudahkan selama ini kita benar-benar lurus dan terus menerus ketika melangkah dan bertindak sudah selalu meniatkan untuk kita tujukan kepada Allah subhanahu wata'ala ?
Ini PR besar ya bunda ....

Merenunglah ...

Akui dengan jujur ....

Memang bisa jadi kita merasa telah banyak yang kita lakukan untuk anak-anak kita hingga saat ini kita sudah melihat perkembangannya yang begitu pesat dengan aktivitas mereka yang begitu padat dan berbagai prestasi mereka yang begitu membanggakan..,

Siapa yang bahagia ?

Apa dasar kebahagiaan itu ?

Apakah karena kita bahagia karena kita telah berhasil mengantarkan anak-anak kita menjadi seorang hamba yang mengenal Robb nya dengan baik ? 
Ataukah kebahagiaan itu hanya sekedar karena pencapaian atas target-target pribadi yang kita pasang ?

*Kedua*

Berusahalah untuk kembali pada pola pikir yang Robbani, dengan mengarahkan kembali atas segala yang kita lalukan untuk anak kita ini - semua hanya kita peruntukan kepada Allah semata.

Bagaimana caranya ?

Tentu dengan kembali pada Agama menjadi sesuatu yang kita angkat nomor satu diatas segala alasan lain.

Maksudnya adalah ...
(Maaf sebenarnya penjelasannya harusnya cukup panjang, tetapi karena keterbatasan waktu, saya akan coba jelaskan singkat saja - secara inti saja, selebihnya insyaAllah bisa kita kupas lebih detail dilain waktu).

Langkah kembali pada Agama ini cukup luas pemahamannya maupun cara penerapannya. Akan tetapi secara mendasar yang dimaksud adalah agar kita sebagai orangtua mulai berfikir untuk buah hati kita tentang APA YANG MEMBAWA KESELAMATAN KEHIDUPAN AKHIRAT mereka ...
Bukan apa yang bisa membuat mereka sukses dan hidup mentereng di masa depannya ...

Jadi orientasi tentang segala suguhan dunia harus kita letakkan setelah kita memikirkan apa saja yang perlu kita bekalkan untuk mereka agar kelak mereka bisa menjadi manusia yang taqwa kepada Allah ...

Karena Allah hanya melihat Kemuliaan manusia itu dari sisi kekuatan taqwanya. Bukan dari kesuksesannya dalam urusan kekayaan atau jabatan prestige nya.
Itu manusia yang melihat ... Allah akan melihat dan menilai serta menerima mereka dari sisi ketaqwaan mereka ...

Naaahh… Kalau seperti itu, kembalilah kita bertanya pada diri kita dan pasangan kita ... Sudahkah kita maksimal membekali mereka untuk urusan itu ? Ataukah selama ini kita hanya menjadikannya sebagai pelajaran dan pendidikan tambahan saja ??

*Ketiga*

Kenalilah anak kita, siapa mereka.

Mereka tentu adalah manusia salah satu hamba Allah yang nantinya juga akan mengalami sama dewasa dan menjadi manusia seutuhnya dengan beban dan tanggung jawab Agama seperti kita juga...
Dan ketika di yaumil akhir - hari akhirat, mereka akan mengalami proses hisab - mereka ditanya secara detail bagaimana mereka menjalankan kwajiban yang Allah telah perintahkan kepadanya.

*Keempat*

Untuk menjawab point ketiga diatas tentu hanya dengan membekali mereka dengan Al Qur'an dan Sunnah saja kita akan dapat sukses.

Mengapa ?

Karena urusan akhirat hanya dapat dijawab dengan Al Qur'an dan as Sunnah. Bahkan ilmu dunia ini tidak ada yang luput dari Al Qur'an. Karena al Qur'an adalah sumber dari segala ilmu yang ada dimuka bumi ini. Al Qur'an adalah mannual atau petunjuk bagi manusia yang mutlak kebenarannya dan yang menjajikan manusia selamat di akhirat dan juga sejahtera di dunia.
Jadi ketika selama ini kita meletakkan Al Qur'an setelah kita mati-matian menyiapkan anak kita dari sisi pendidikan akademisnya - ini yang perlu dikoreksi. Dalam Al Qur'an ada sebutan manusia dewasa sebagai Rusdan.

Makna rusdan disini adalah manusia dewasa yang telah memenuhi dua kwalifikasi, yakni :
- ia telah dewasa dan matang dalam memahami dan menjalankan Agamanya.
- ia telah dewasa dari sisi intelektualnya.

Dari konsep mendasar diatas, saya kira para jama'ah sudah bisa menangkap inti sari dan pesan yang ingin saya sampaikan. Lakukan introspeksi secara serius !!! Jangan memikirkan tentang hal ini secara sambil lalu ... Karena ini urusan akhirat. Urusan kehidupan yang kekal ... Kalau untuk urusan dunia saja kita bersungguh-sungguh dalam mengarahkan mereka.

Mengapa untuk urusan akhirat justru kita belakangkan ?

Inilah kadang letak kelalaian kita selaku orangtua. Karena terdesak oleh arus dan atmosfir kehidupan yang semakin menjauhkan kita dari Agama kita. Dari cara kita berfikir tentang kehidupan dunia yang dibuat seolah kita ini akan hidup selamanya, padahal kematian selalu mengintai kita setiap saat. Dari cara makan kita dan apa yang kita makan juga yang dimakan anak-anak kita... Semua sudah bnyak terpengaruh oleh gaya hidup modern.

Kemudian cara fashion kita, cara berbusana kita dan juga anak-anak kita. Tidak jarang diantara kita yang lebih suka mengikuti trend fashion daripada patuh pada Syariat Agama dalam berbusana. Dan kita tidak juga mengajak anak-anak kita untuk taat kepada syariat tersebut. Juga dari cara kita mencari nafkah. Apakah kita sudah berhati-hati agar tidak terlibat pada hal yang diharamkan Islam? Dan seterusnya dan seterusnya ...


Semua itu sangat berpengaruh baik pada diri kita dalam membangun pola didik kita terhadap anak kita. Dan juga mudah atau sulitnya anak kita kita didik dan arahkan pada jalan Allah, jalan Syariat Islam yang lurus yang membawa keselamatan dan ke muliaan mereka baik di Akhirat maupun ketik masih di dunia.


Demikian kiranya bahan diskusi yang bisa saya sampaikan pada siang hari ini. Semoga ada yang bisa diambil manfaatnya.


TANYA JAWAB

M4
Q : 1. Untuk anak kita apakah sebaiknya ikut dipendidikan madrasah/pondok ya ustadzah, mengingat sekarang pengaruh luar itu sangat memprihatinkan.
2. Kalo anak-anak sudah besar trus ilmu mendidik anak-anak baru kita ngeh sekarang gimana cara merobah sikap mereka yang kadang ogah-ogahan disuruh sholat.
A : 1. Tentang urgensi memasukkan anak pada sekolah boarding school adalah salah satu solusi yang baik. Akan tetapi tepat atau tidaknya banyak faktor yang juga harus menjadi pertimbangan orangtua. Diantaranya adalah :
a. Perlu seleksi ketat bagaimana fikroh atau arah pikir lembaga pesantren yang akan kita titipkan anak kita itu.
b. Pilih dari pesantren yang menjadi tujuan, mana yang memberi porsi pembelajaran Qur'an yang paling banyak.
c. Selain pengajaran Qur'an nya. Kita orangtua juga perlu jeli dengan kultur atau budaya pesantren tersebut, bagaimana penerapkan ahlaqnya. Lihat keadaan anak-anak yang sudah ada disana, apakah mencerminkan sikap santun atau tampak liar dlsb. Ini sangat penting. Krn baik tidaknya pesantren itu sangat tergantung pada sistem pengawasan yang diterapkan dan bagaimana kwalitas SDM (pengelola) pesantren tersebut dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap para santrinya.
d. Orangtua juga harus siap melakukan pengawasan yang ketat dari rumah. Jangan menyerahkan sepenuhnya pada pesantren tersebut. Pantau dan amati perubahan2 yang terjadi pada diri anak. Jika positif maka beri pujian dan penghargaan, jika begatif segera lakukan tindakan pencegahan dan konsultasi intensif dengan pihak pesantren serta awasi tingkah pergaulannya. Pengawasan orangtua tidak boleh lepas begitu saja. Tetap harus terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung.
e. Jangan lupa libatkan Allah dalam proses pemilihan pesantren yang akan dituju. Lakukan sholat istiqoroh berkali-kali untuk minta petunjuk pesantren mana yang terbaik yang akan dipilih, yang mendatangkan kebaikan dunia akhirat bagi anak kita, diri kita, agama dan masyarakat.
2. Tidak ada kata terlambat untuk menuju kebaikan. Lakukan segala upaya untuk memperbaiki keadaan tersebut. Dengan berapa langkah yang harus dilakukan secara serius dan konsisten, diantaranya :
a. Perbanyak istighfar. Akui dihadapan Allah bahwa selama ini telah lalai dalam menjalankan amanah khusunya dalam membimbing anaknya menjadi hamba yang sholih.
b. Memohon pertolonganNya untuk langkah-langkah perbaikannya.
c. Tingkatkan kesholihan diri (baik ibu maupun ayah - harus kompak). Terutama sholat 5 waktu, jalankan tepat waktu dan jaga kekhusyukannya.
d. Jauhkan anak-anak dari TV dan batasi interaksi mereka dengan gadgets. Alihkan perhatian mereka pada buku atau aktivitas yang lebih positif.
e. Beri nasihat tentang Agama dalam setiap kesempatan baik dan doakam mereka agar Allah diberi hidayahNya.
f. Buat suasana rumah agar sering terlihat anggota keluarga mulai akrab dengan Al Qur'an.

Q : Uthi kan dah lewat klo untuk periode anak..sekarang cucu dan buyut... Nah kadang suka merasa risih klo mo ikut menerapkan pola kita.. Karena kadang juga agak berbeda terutama dengan pendatang baru (mantu). Bagaimana upaya kita untuk bisa ada titik temu dengan perbedaan cara mendidik ini... Misalnya cara memilih sekolah...atau jadwal kegiatan cucu.... Apa uthi terlalu ikut ngatur..(maklum uthi)
A : Dalam urusan mendakwahkan Agama Allah itu tidak ada kata terlambat untuk mengambil peran dimanapun itu. Terutama ketika kita harus menyampaikan kepada keluarga itu adalah hal dan kwajiban yang sangat utama. Tugas orangtua adalah mendidik dan mengajari anak dengan baik. Amalan ini yang akan membawa kaki menuju surga. Tapi, sebaliknya jika kita tidak mendidik dengan baik, maka justru menyeret kita ke neraka dengan kelalaian yang kita lakukan sendiri sebagai orangtua. Tugas ini tentu akan melekat sepanjang kita menjadi orangtua. Artinya tidak terputus ketika anak sudah berkeluarga. Terus sampaikan kebenaran Agama kepada anak-anak yang sudah berkeluarga dan juga cucu-cucu kita nanti.
Ajak anak dan menantu untuk kembali pada dekat dengan Agama dan menerapkan nilai-nilainya termasuk pada bagaimana sebaiknya memilih prioritas dalam mendidik anak. Allah telah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Qs. At-Tahriim : 6).


M5
Q : Saya merasa anak saya yang kedua, super aktif dan super nakal, mau ganti baju sesuka hatinya, jika pagi maunya pakai panjang jika sore malah minta pendek, belum lagi minta mainan yang harus segera dipenuhi... dan jika ada yang punya mainan baru milik tetangga pasti minta dibelikan, walupun sudah punya sendiri. Bagaimana cara menasehatinya, agar mau mematuhi nasehat ortu. Membuatnya paham untuk slalu mensyukuri apa yang dimiliki. Beda sekali dengan anak saya yang pertama, yang penurut.
A : MasyaAllah ...Memang butuh kesabaran ekstra ya bunda ... InsyaAllah kesabaran itu pasti dibalas oleh Allah jika kesabaran itu diniatkan karena Allah..
Keadaan anak yang diluar kelaziman bisa banyak faktor penyebabnya. Dan sebaiknya kita tidak berangkat dari menyalahkan sang anak. Tetapi balik pada introspeksi diri kita sendiri sebagai orangtuanya. Baik ayah ataupun ibu harus melakukan introspeksi. Jangan enggan karena bisa jadi prilaku anak ini adalah efek dari suatu prilaku orangtua yang perlu dikoreksi. Karena kerusakan anak adalah berasal dari faktor prilaku orangtua. Jika orangtua sudah baik dan tidak menyalahi hukum Allah berarti hal itu adalah murni ujian bagi orangtua. Kedua kondisi ini tetap harus dijalani dengan sabar dan tawakal mohon terus pertolongan Allah.
Untuk langkah koreksi ini banyak yang bisa dilakukan. Diantara yang terpenting adalah :
1. Cobalah untuk mengembalikan keluarga pada suasana yang penuh dengan lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an dan ahlaq sunnah yang berusaha diterapkan. Hal ini adalah langkah yang insyaAllah sangat efektif dalam memperbaiki situasi kekacauan apapun yang terjadi didalam sebuah keluarga. Apakah termait perbaikan satu pribadi saja maupun keseluruhan anggota keluarga.
2. Orangtua harus rajin menuntut ilmu agama agar bisa memperkuat imannya dan juga kesholihannya menjadi suatu jalan tersendiri untuk memperbaiki keadaan anaknya.
Demikian bunda saran saya. Semoga bisa diterapkan dan membawa perbaikan pada kondisi anak yang dimaksud, juga untuk seluruh anggota keluarga. Sehingga tercipta keluarga yang Qur'ani. Aamiiin ...


M15
Q : Bagaimana mendidik anak yang notabenenya lingkungan kurang mendukung. Dari omongan pergaulan dan pola hidup..
A : Lingkungan diluar rumah memang akan sangat berpengaruh pada perkembangan ahlaq dan kepribadian anak-anak kita. Jika anak-anak kita intensive bergaul dengan mereka. Hal ini sulit untuk dihindarI. Oleh karena itu orangtua sebaiknya punya cara yang tepat untuk memberi pembekalan terhadap anaknya dari dalam rumahnya. Ketika pembekalan iman , ibadah dan ahlaq dari dalam rumahnya diberikan dengan baik. InsyaAllah anak akan imun terhadap berbagai kerusakan yang ada diluar rumahnya.
Oleh karena itu, pendidikan akademis memang perlu kita perhatikan, akan tetapi pendidikan iman dan penjagaan ahlaq anak adalah lebih penting. Beri rangsangan anak dengan membaca buku2 agama yang ringan yang menggerakkan hatinya, seperti kisah-kisah atau shiroh para Sahabat Nabi. Sibukkan anak dengan apa yang menarik tetapi juga mendidik. Jangan bosan untuk menciptakan suasana keluarga yang rukun dan harmonis yang bisa membuat anak merasa tentram. Serta sampaikan nasihat-nasihat dengan lembut, ketuk hati mereka untuk menyadarkan bahwa apa yang terjadi diluar yang tidak baik, tidak untuk ditiru. Ajak mereka membandingkan bagaimana ahlaq Rasulullah  . Agar mereka mulai berfikir dan punya wacana kebaikan yang bisa dicontoh.
Mungkin saja selama ini anak minim wacana kebaikan dari teladan Agama yang disampaiman oleh orangtuanya sehingga apa yang mereka lihat diluar, ya itulah yang mereka tiru, hal ini harus segera disadari oleh orangtua. Dan segera melakukan pembenahan. Jangan lupa juga untuk teris berdoa kepada Allah minta perlindunganNya agar anak-anak kita dijaga dari hal-hal yang buruk dari kehidupan ini.
Ingat. Kesholihan orangtua akan sangat mempengaruhi baik tidaknya anak-anaknya nanti. 

Q :  Tanya Bun, bagaimana cara supaya anak dekat dan cinta dg Al Quran? Mohon pencerahannya, Bun..
A : Mempunyai visi pendidikan dengan menanamkan anak cinta terhadap Al Qur'an adalah suatu niat yang sangat baik dan tepat. Karena bagaimana kita bisa harapkan anak kita kelak menjadi manusia mulia jika petunjuk hidupnya saja tidak ia kenali dan fahami.
Perkembangan anak bergantung kepada orangtua dalam mengembangkan fitrah itu sendiri sesuai dengan usia anak dalam pertumbuhannya. Kita bisa melihat kembali sejarah, bagaimana Nabi dan para sahabatnya dalam mendidik anak mereka, sehingga mereka menjadi pribadi-pribadi yang tangguh. Manusia teladan yang patut kita jadikan sumber utama dalam memberikan pendidikan adalah Rasulullah saw, baik kepada anak maupun cucu. Semua harus dimulai dari memberi pendidikan kepada anak tentang Al Qur'an. Bagaimana caranya menanamkan kecintaan kepada Al Qur'an ? Tentu harus dimulai dari orangtuanya sendiri yang menunjukkan penghargaan dan kecintaannya terhadap al Qur'an.
Ketika anak melihat interkasi orangtuanya yang intensif dengan Al Qur'an pasti akan menular pada anaknya. Hal ini sangat mungkin terjadi ketika anak masih kecil - pra sekolah. Jika anak sudah mulai tumbuh dewasa bukan tidak bisa tetapi lebih sulit dilakukan, karena otaknya sudah terlalu banyak menerima doktrin2 pergaulan modern yang jauh dari nilai Qur'an. Belum ditambah apa yang mereka lihat dari TV dan internet. Hampir semua informasi darinya membuat anak semakin luntur aqidahnya dan buruk ahlaq prilakunya. Setelah kita sebagai orangtua berusaha kembali kepada Al Qur'an, ajak anak juga untuk mempelajari Al Qur'an ; tentu berangkat dari memperbaiki bacaannya, kemudian ajak mereka menghafalkannya. Dan mempelajari maknanya sambil berusaha menerapkan ajarannya.
Bisa juga didukung dengan banyak mengajak mereka membaca shiroh nabi dan para sahabatnya. Crita para ulama bagaimana mereka bersungguh-sungguh dalam mempelajari Al Qur'an. Beri pengertian kepada mereka bahwa Al Qur'an adalan ucapan Allah ; yang diturunkan kepada Nabi Muhamad shalallahu 'alaihi wassalam dan harus dijadikan kitab yang kita yakini kebenarannya serta kita jadikan pedoman dan petunjuk hidup kita. 


M 20
Q : Assalamuallaikum ustadzah, mau tanya bagaimana cara terbaik mendidik 3 anak laki-laki, secara kita harus berperan ganda sebagai ayah dan ibu? Kadang peran ayah susah untuk dilaksanakan karena faktor perasaan sering lebih dominan, mengawasi 3 abg bukan hal yang mudah, mohon pencerahannya ustadzah, syukron.
A : Masya Allah bunda… Begitu besar kepercayaan yang telah Allah berikan kepada bunda. Semoga Dia selalu menolong urusan bunda... Aamiiin..
Bunda penanya yang semoga selalu dirahmati Allah .... Dalam menghadapi segala situasi yang menurut kita berat, sebagaimana yang bunda alami ini maka perlu adanya suatu penjagaan ruhiyah diri yang ekstra kuat. Penjagaan ini melalui 3 pintu utama , yakni :
1. Pintu Iman ;
Pasang keyakinan yang kuat bahwa Allah adalah Robb yang telah memberi amanah ini kepada kita. Dia selalu mengawasi kita dalam setiap gerak langkah maupun pikir. Karena itu selalu libatkan Dia dihati kita dalam segala urusan. Jadikan Dia sebagai Sesembahan kita, yang hanya kepadaNya kita menyembah dan meniatkan semua amal ibadah dan segala prilaku kebajikan. Ketika hati sudah tertaut kuat seperti ini. InsyaAllah seberat apapun situasi yang dihadapi akan ringan dan powerfull. Hati penuh spirit dan terarah pada satu tujuan yang jelas yakni menggapai ridho Allah subhanahu wata'ala. Ini yang paling pokok sebagai kekuatan kita.
2.  Pintu Amal Sholih.
Setelah memiliki keyakinan yang kuat selanjutnya prilaku keseharian kita harus kita penuhi dengan perbuatan-perbuatan yang bermakna ibadah. Lakukan ibadah2 dengan sungguh-sungguh dan penuh kekhusyukan serta ihlas hanya untuk Allah. Hal ini akan menciptakan hubungan kedekatan dengan Allah sehingga Dia akan selalu bersama kita dan menolong segala keadaan kita.
3. Lakukan Ihtiar yang tepat.
Ihtiar ini bentuk penerapnya sangat luas. Intinya adalah :
a. Berusahalah untuk memberi pendidikan anak dengan cara mendekatkan mereka dengan Qur'an.
b. Awasi pergaulannya. Terlibatlah secara detail dengan siapa saja mereka berteman dan apa saja bentuk aktivitas yang mereka lakukan.
c. Kuatkan mereka dengan ilmu agama. Karena dengan ilmu Agama yang kita titipkan di dada mereka insyaAllah cukup menjadi filter mereka ketika berada diluar rumahnya.
d. Tunjukkan ahlaq yang baik dari diri kita dan ajak mereka juga menerapkan ahlaq yang baik yang dicontohkan oleh Rasulullah  - tumbuhkan rasa cinta kepada rasul shalallahu 'alaihi wassalam.
e. Siapkan kurikulum yang harus kita terapkan kepada anak, apakah kita perlu panggilkan ustadz ataupun bunda sendiri sebagai penyampainya. Tentang materi Aqidah Islam yang lurus, apa saja tanggung jawab seorang Muslim, apa saja yang bisa membatalkan keislamannya. Apa saja yang halal dan yang haram. Ajarkan pula tanggung jawab sebagai laki-laki yang kelak akan menjadi pemimpin kaum wanita. Karena itu sadarkan mereka agar belajar Al Qur'an dan ilmu Syariat Islam dengan sungguh-sungguh.
InsyaAllah doa ibu yang terus menerus dan juga usaha yang tak pernah lelah pasti akan membuahkan hasil yang baik. 


M3
Q : Ustadzah mau Tanya.. Bagaimana cara memberikan pengertian ke anak usia 7 thn, bahwa ulang tahun itu tidak ada contohnya dari nabi. Tradisi lingkungan di rumah bikin galau saya jd ortu. Sering ada undangan ultah dari anak-anak lain.. saya tolak secara halus, saya ajak anak saya jalan ke luar, yang paling sering acaranya waktu ashar.
A : Kalau umur masih 7 tahun memang akalnya belum sempurna. Akan tetapi jika ibundanya tidak tegas dalam menanamkan aqidahnya maka ia akan mudah terbawa lingkungannya daripada mendengar ibundanya. Jadi dalam hal ini orangtua perlu bersikap tegas kepada anak dalam penerapan Aqidah dan Syariat Islam. Betapa banyak anak yang usia remaja sulit untuk diajak kembali ke agama karena sejak dari kecilnya orangtua terlalu fleksibel tidak tegas dalam penekanan nilai-nilai Agama dari dalam rumahnya. Sehingga ketika tanpa orangtua sadari anak tumbuh dengan cepat dan merayap kepada pergaulan yang dialami kemudian menyerap dengan cepat apa yang mereka lihat dari pergaulan tersebut. Dalam kondisi seperti ini bisa dikatakan orangtua sudah kehilangan moment emas dalam mendidik anaknya.
Oleh karena itu ketegasan orangtua dalam pendidikan Agama harus dimulai dari mereka usia dini. Mungkin dari usia 4 tahun (pra sekolah) sudah bisa mulai diterapkan. InsyaAllah dengan penerapan dini orangtua akan lebih mudah mengendalikan ahlaq anak ketika mereka sudah mulai kenal dengan sistem sosialisasi bermasyarakat dengan teman sekolah ataupun lingkungan pergaulan di sekitar rumahnya.
Singkat kata pendidikan Agama harus dimulai daitanam dari rumah baik berupa memahamkan makna-makna nilai Islam maupun penerapan ibadahnya serta ahlaq yang baik sesuai tuntunan nabi shalallahu 'alaihi wassalam.



M3 dan M6
Q : Mau Tanya.. Saya sedang hamil.. Saya punya rencana agar anak saya diajarkan agama sedari kecil. Pengen banget nanti anaknya jadi anak yang soleh/solehah. Bagaimana caranya mendidik anak kita dari sejak dalam kandungan ibu nya? Dan gimana caranya agar kita sebagai ibu itu istiqamah sama tujuan kita? Ga terpengaruh sama lingkungan , sama keluarga besar juga.
A : Ketika sejak dalam kandungan anak sudah bisa dikenalkan dengan Al Qur'an yakni dengan ibundanya rajin membaca Qur'an minimal membacanya 1 juz perhari, jika lebih dari itu maka lebih baik. Selain membaca Qur'an biasakan untuk berdzikir dan membaca buku Agama apa saja yang bisa menguatkan keimanan kita - bacalah dengan suara agak keras agar kandungan kita bisa mendengarnya.
Lakukan sholat malam dan banyak berdoa kepada Allah agar anak yang akan dilahirkan sehat sempurna jasmani dan ruhani serta mendapat jaminan hidayah Allah dari sejak kecilnya. Ketika anak sudah terlahir jangan sibuk selalu hingga lupakan diri dari menuntut ilmu dan terus menjaga dzikir kepada Allah. Karena ini yang insyaAllah akan menjaga kita dari pengaruh buruk dari luar (pergaulan). Karena dengan dzikir kita yang kita lazimkan terus akan mendatangkan turunnya penjagaan Allah subhanahu wata'ala. Jika anak sudah tumbuh dan mulai menginjak usia balita dan batita ... Kenalkan Al Qur'an dan juga ajarkan sholat serta bina terus ahlaqnya.
Al Qurthubi mengingatkan lagi : “Hak anak terhadap orang tua, hendaklah orang tua memberikan nama yang baik, mengajarkannya tulis menulis dan menikahkan bila telah baligh. Tidak ada pemberian orang tua terhadap anak yang lebih baik daripada mendidiknya dengan didikan yang baik. Perintahlah anak-anakmu sholat jika sudah berumur 7 tahun, dan pukullah jika umur 10 th, jika meninggalkan sholatnya, pisahkan tempat tidur mereka.” Demikian bunda semoga menjadi tambahan bekal ilmu yang bermanfaat.  Aamiin 


M17
Q : Kalo mengutamakan perkembangan moral dan behaviour itu termasuk sudah tepat kah?
A : Hal yang harus diutamakan dari pendidikan anak adalah *AQIDAH* dan *AHLAQ* serta Syariat (tata cara ibadah). Jadi aqidah harus menjadi dasar utama dan pertama, sedangkan bersamaan dengan pembinaan aqidah orangtua harus mulai menuntut ahlaqnya.
Jika kita hanya memperhatikan ahlaq anak (mungkin dari sikap santunnya, taatnya kepada orangtua dll) tanpa membekali aqidah kepada mereka maka akan sulit kita harapkan anak akan muncul rasa taqwanya kepada Allah. Mereka akan asing dengan syariat Islam , bahkan akan lebih cenderung memuji bagaimana orang barat berattitude.
Ketika ahlaq - behavior baik teyapi tidak dilandasi atas dasar aqidah iman kepada Allah dan ketaatannya kepada Rasulullah  - anak akan cenderung humanis tetapi tidak religius. Dan inilah bagaimana kita lihat cara hidup orang barat. Attitude mereka menawan tetapi tidak ada nilainya disisi Allah ta'ala karena segala kebaikkan mereka bukan atas dasar iman kepadaNya. Amal yang seperti ini tidak diterima oleh Allah.
Karena keIslaman seseorang itu akan diterima oleh Allah subhanahu wata'ala ketika didasari oleh IMAN & AMAL SHOLIH , amal sholih inipun harus sesuai dengan Al Qur'an dan Hadist. Jadi terikat. Islam itu mengikat penganutnya pada syariat (aturan) Allah. Tidak lepas bebad dan hanya asal baik prilakunya saja. 

Q : Bagaimana memberikan pemahaman yang benar kepada anak bahwa menuntut ilmu akhirat itu pnting, tapi ilmu dunia juga tak kalah pnting...soalnya ketika kami menyampaikan materi matematika misalnya, si anak cnderung cuek karena katanya nanti diakhirat gak bakalan ditanya matematika. Ini pengalaman saya dilapangan ustadz..saya mengajar diponpes yang ada sekolahnya..
A : Anak yang menjawab seperti itu berarti pikirannya dangkal dan sebelumnya kering dari doa dan kesholihan orangtuanya. Karena ada bibit penentangan dan penolakan sebelum ia mencerna dengan dalam tentang apa yang ia ucapkan. Hal ini bisa dilakukan pendekatan secara intensif baik dari cara memberi pemahaman yang logis dan tepat juga dari sisi usaha orangtuanya dalam memperbaiki kesholihannya. Sehingga anaknya diberi kelembutan hati dan mudah dalam menerima nasihat-nasihat agama yang diberikan kepadanya. 


M10
Q : Karena kami merasa ilmu kami sedikit dalam penddikan secara Islam,  kami mempercayakan pendidikan anak kami ke sekolah Islam terpadu ketika TK dan SD dan pesantren ketika SMP dan SMA,  tetapi kesadaran untuk beribadah atas kemauan sendiri belum terlihat, shalat, tilawah al  quran  atau ke masjid juga masih  harus sering diingatkan. Dimanakah kesalahan kami? Mohon bantuannya ustadzah.
A : Menyekolahkan anak disekolah Islam sudah bagus. Akan tetapi sebaiknya orangtua tidak menyerahkan pendidikan Agama dan ahlaq kepada sekolah. Di rumah harus terus disemarakkan suasana islami yang dimulai dari orangtua. Qur'an dan belajar Qur'an serta mempelajari Hadist secara bersama-sama dari seluruh anggota keluarga sebaiknya dijadikan tradisi. Sehingga ada kesan kebersamaan menuju kepada Allah.
Perhatikan juga bagaimana pergaulan anak yang sudah kita sekolahkan di sekolah Islam. Karena disana mereka bergaul dengan berbagai macam bentuk karakter dan juga jenis pendidikan dari rumahnya. Pastikan anak memiliki teman dekat yang baik yang bisa mempengaruhinya dalam kebaikan. Periksa juga hasil nafkah orangtua. Apakah sudah bida kita pastikan kehalalanya. Perhatikan makanan apa yang sudah biasa kita berikan, apakah kita sudah memastikan semua bahan halal walapun sekedar camilan mereka pastikan ada sertifikasi halal dari POM MUI. Dan juga terkait doa. Sudahkah kita maksimal dalam mendoakan mereka ? Semua bisa menjadi bahan introspeksi orangtua. InsyaAllah akan menjadi kel yang islami dan mulia dunia akhirat. Aamiin 

Q : Soal nafkah yang didapatkan. Misalnya "uang tidak jelas" dibagi ke karyawan dan uang itu dibelanjakan untuk baju atau barang elektronik untuk keluarga. Apa tidak apa? Karena takut jika belanjakan makanan.. Jazakillah ustdzah.
A : Allah hanya akan menerima yang baik. Jika kita tahu suatu itu dari asal yang tidak baik atau tidak halal sebaiknya tidak mengambil darinya untuk keperluan apapun. Karena pasti akan mempengaruhi keberkahan keluarga. Jagalah Allah niscaya Allah akan menjaga kita. Menolong kita dan menuntun kita ke jalan yang benar dan diridhoiNya. Hal ini harus dijaga dalam hal ini adalah menjauhi yang diharamkanNya. Dan melaksanakan apa yang diperintahkanNya. Hasil yang haram atau kita ragukan kehalalannya smapai kapanpun tidak akan berubah menjadi suatu yang baik hasilnya. Pasti kekacauan yang akan kita dapatkan dikemudian hari. Karena itu menjaga kehalalan penghasilan adalah mutlak harus diperjuangkan jika kita ingin anak kita mudah diatur dan kehidupan keluarga kita jauh dari prahara. 


M9
Q : Mulai usia berapakah seorang anak itu dmasukkan ke Pondok..? Apakah ada beda usia antara laki-laki dan perempuan.?
A : Tergantung bagaimana pembekalan dari rumahnya. Jika dirumah orangtua powerfull dan berkarisma tinggi sehingga anak bisa kita pegang sendiri, termasuk orangtua bisa ketat dalam menjaga pergaulannya maka ini lebih ideal. Tetapi jika hal ini tidak bisa bersikap tegas maka SMP bisa sudah bisa masuk ke Pesantren asal kondisi pesantrennya juga juga melalui seleksi yang ketat. Dan sejak masuk pesantren orangtua harus tetap memantau perkembangan anak setiap saat. Karena kita tidak bisa mengandalkan pesantren. Doa orangtua juga tidak boleh lepas untuk penjagaan mereka. Pantau juga bagaimana perkembangan ahlaq dan urusan ibadahnya. Kedekatan emosional juga harus terus dirajut agar anak tidak menjadi jauh dengan orangtuanya. 

Q : Dalam berbusana..bagaimana dengan pakaian yang bermotif hewan..? Bagaimana Islam memandang hal tsb Syukron wa jazakillahu atas jwbnya.
A : Sebaiknya segala bentuk gambar mahluk bernyawa tidak dipakai untuk hiasan rumah (lukisan) ataupun motif baju dll. Karena banyak pendapat ulama berdasarkan hadist yang mengharamkannya.


M19
Q : Ihsan adalah salah satu kunci agar kita selalu berhati-hati dalam bersikap dan bertindak. Bagaimana caranya mentransfer hal tersebut kepada anak balita agar mudah dipahami olehnya?
A : Ketika orangtua sholih dan sholihah sebaiknya kesholihannya dan semua ilmunya berusaha disyiarkan kepada anak-anaknya. Ini dalam rangka memberi pembinaan kepada mereka dan cara yang efektif adalah memberi keteladanan terus menerus. Melakukan hubungan yang dekat secara intensif dan menjalin komunikasi dalam segala peristiwa menjadi topik bahasan yang diangkat dalam forum diskusi keluarga. Ajak mereka selalu berdiskusi dalam berbagai peristiwa yang dialami keluarga atau yang menimpa orang lain (sebagai contoh dan pelajaran). Sisipkan nilai2 ajaran al Qur'an dan Hadist Rasulullah  sehingga anak terbiasa menganalisa suatu masalah dan menjadikan Qur'an dan Hadist sebagai rujukan kebenarannya.
InsyaAllah dengan ini karakter anak akan kuat dan keimanannya kokoh terbangun. Ahlaqnya juga bisa diharapkan lebih baik karena sudah banyak wacana yang bisa mereka teladani. 

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baikloah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ




Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment