Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

ADAB BERBICARA (Grup Nanda)

Kajian Online WA Hamba الله SWT

Selasa, 16 Agustus 2016
Rekapan Grup Nanda
Syakhsiyah Islamiyah Pekan ketiga Agustus
By Tim Kurikulum Kajian Online Hamba Allah
Editor : Rini Ismayanti


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya.
Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakaninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan sayaafaat beliau di hari akhir nananti. InsyaAllah aamiin.


ADAB BERBICARA

Islam adalah diin al-adab atau agama yang mengajarkan norma-norma luhur dan suci bagi umat manusia. Seorang mukmin yang menjadikan dirinya sebagai kendali dalam berbuat dan berbicara,akan menikmati saat-saat diamnya,sementara orang lain pun merasa sejuk berdekatan dengannya. Ketika ia berbicara,manisnya kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat orang yang mendengarnya sadar dan terbimbing kepada kebaikan dan kebenaran. Tatkala ia melakukan sesuatu,maka perbuatannya selalu baik,memberi manfaat,dan dapat menjadi keteladanan bagi yang lain. Mukmin seperti ini adalah mukmin yang memiliki sifat-sifat yang dekat kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam yang mulia,dimana diamnya adalah pikir,ucapannya adalah dzikir,dan amalannya adalah keteladanan.

Diantara adab berbicara adalah :


1. Berbicara yang jelas dan mudah dipahami oleh setiap pendengar. 'Aisyah ra. berkata,

"Adalah ucapan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam selalu jelas maksudnya dan mudah dipahami oleh setiap yang mendengarkannya." (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

'Aisyah ra. juga berkata,"Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam, pernah berbicara, sekiranya ada yang menghitung ucapannya pasti terhitung." Dan dalam riwayat lain, "Beliau tidak mengeluarkan ucapan sebagaimana kalian berbicara." (HR. Bukhari Muslim)

2. Berbicara dengan ungkapan yang sederhana dan tidak mencari-cari bahasa yang tinggi, sehingga kalimat yang diucapkan tidak memiliki makna yang sulit atau tidak bisa dimengerti.
Khalid bin Ahmad -  rahimahullah pernah ditanya suatu masalah. Beliau tidak segera menjawab. Maka, penanya berkata, "Apakah pertanyaan ini tidak ada jawabannya dalam pandangan tadi?" Beliau berkata, "Sebenarnya, engkau telah mengetahui masalah yang kau tanyakan berikut jawabannya, tetapi aku ingin memberi jawaban yang lebih mudah untuk kaupahami."

3. Tidak diulang-ulang kecuali untuk memberikan tekanan makna, karena "Sebaik-baik ucapan adalah yang singkat dan membawa arti, dan seburuk-buruk ucapan adalah yang panjang dan membosankan."

Abdullah bin Mas'ud ra., memberi nasihat kepada masyarakatnya setiap hari Kamis. Ada seseorang yang berkata, "Wahai Abu Abdir Rahman, aku berharap engkau memberi nasihat kepada kami setiap hari."

Beliau berkata, "Ketahuilah bahwa sesungguhnya, yang menghalangiku untuk itu karena aku tidak suka membuat kalian bosan." Selanjutnya ia berkata,
"Aku selalu memilih waktu untuk kalian dalam memberi nasihat, sebagaimana Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam memilih waktu untuk kami dalam memberi nasihat karena khawatir membuat jenuh kami." (Muttafaq 'alaih)

'Ammar bin Yasir ra., berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
'Sesungguhnya, panjangnya shalat seseorang dan pendeknya khutbah, merupakan bukti pemahamannya yang dalam. Karena itu, panjangkan shalat dan pendekkan khutbah!'  (HR. Muslim)

4. Ucapan harus baik, tidak kotor dan tidak mungkar (jahat)
Agar ucapan kita selalu bagus dan menambah pahala kita dan tidak menambah dosa, maka kita harus menjaga hal-hal berikut:
a. Setiap pembicaraan kita selalu membawa unsur perintah sedekah atau berbuat baik; atau perdamaian bagi manusia. Allah Ta'ala berfirman,

"Tiada kebaikan dalam banyak pertemuan mereka, kecuali orang yang memerintahkan sedekah, atau kebaikan, atau perdamaian bagi manusia. Dan barangsiapa melakukan hal itu untuk mencari ridha Allah, maka niscaya Kami memberinya pahala yang besar." (An-Nisa' :114)

b. Meninggalkan pembicaraan yang bukan kepentingan kita untuk membicarakannya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Diantara baiknya keislaman seseorang adalah ia tinggalkan sesuatu yang dirinya tidak memiliki kepentingan terhadap hal itu." (HR. Tirmidzi)

c. Menjauhi ucapan yang sia-sia dan tidak bermanfaat.
Allah berfirman,
"Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang dalam shalatnya selalu khusyu'. Dan orang-orang yang dari hal yang tidak berguna mereka selalu berpaling." (QS. Al-Mu'minun :1-3)

Rasulullah bersabda,
"Sungguh, ketika seorang hamba mengucapkan suatu ucapan, tidak lain hanya untuk membuat orang lain tertawa, ia bisa jatuh di neraka lebih jauh antara langit dan bumi." (HR. Baihaqi)

d. Menyebarluaskan salam
Rasulullah bersabda,
"Wahai manusia, sebarluaskan salam; sambung silaturahmi; berikan makanan; dan shalat malamlah ketika manusia tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat." (HR. Tirmidzi)

e. Menahan diri dari ucapan jahat yang tidak membawa kemaslahatan.
Allah berfirman,
"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah, “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.”  (QS. Al-‘Ankabut, ayat 46)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh 'Aisyah ra., ia berkata bahwa Rasulullah bersabda,
Sesungguhnya, manusia yang paling jahat kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah orang yang ditinggalkan masyarakatnya karena masyarakat menghindari ucapan jahatnya." (HR. Bukhari)

f. Bersabar dalam berdialog dengan orang-orang bodoh (jahil).
Hal ini tidak berarti menerima kehinaan,tetapi bisa menahan diri di hadapan faktor-faktor yang memancing emosi dan mencegah diri dari marah, secara sukarela ataupun terpaksa. Allah berfirman,  "Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Rahman, mereka itu berjalan di muka bumi dengan rendah hati. Dan apabila diajak bicara oleh orang-orang yang bodoh (jahil) mereka berkata,'Selamat.' " (QS. Al-Furqan: 63)
Diriwayatkan dari Sa'id ibnul-Musayyab bahwa saat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam sedang duduk bersama para sahabatnya ada seseorang yang mencaci Abu Bakar dan menyakitinya, tetapi Abu Bakar tetap diam. Lalu ia mencaci Abu Bakar dan menyakitinya lagi untuk yang kedua kali dan Abu Bakar pun tetap diam. Kemudian ia mencaci Abu Bakar dan menyakitinya yang ketiga kali, maka Abu Bakar membela diri. Ketika itulah, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam berdiri meninggalkan majelis. Abu Bakar bertanya,  " Apakah engkau mendapati suatu dosa atas diriku, ya Rasulullah?"  Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam menjawab,  "Ada malaikat turun dari langit mendustakan orang itu terhadap makian yang ia lontarkan kepadamu. Namun, ketika kau membela diri, setan pun datang. Karena itu, aku tidak mau duduk disini, ketika setan datang." (HR. Abu Daud)

g. Menjauhi perdebatan, baik dalam kebenaran maupun dalam kebatilan, karena hal itu akan menimbulkan keinginan mencari menang dalam diri dan lebih suka mempertahankan pendapat daripada menampakkan kebenaran.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

 "Tidaklah suatu kaum tersesat setelah berpegang kepada kebenaran kecuali mereka diberi kegemaran berdebat." (HR. Tirmidzi)

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,  "Aku pemimpin sebuah rumah di dalam surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar. Dan aku pemimpin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun bercanda. Dan aku pemimpin sebuah rumah di puncak surga bagi orang yang akhlaknya baik." (HR. Abu Daud)

h. Menjauhi tempat-tempat kejahatan
Yakni, tempat dilakukannya kemungkaran atau dibicarakan di dalamnya ucapan yang menghina atau melecehkan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, 

 "Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim sesudah teringat larangan itu." (QS. Al-An'am:68)

Allah juga berfirman,  "Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela." (QS. Al-Humazah:1)

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,  "Bukanlah seorang mukmin, orang yang suka mencaci-maki; suka melaknat; suka berkata keji; dan suka berkata jorok." (HR.Bukhori,ahmad, Al Hakim dan tirmidzi dari ibnu Mas'ud)
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,  "Tidak ada kata keji dalam sesuatu kecuali ia akan merusaknya. Dan tidaklah ada sifat malu dalam sesuatu melainkan ia akan menghiasinya." (HR. Tirmidzi)
Wallaahu a'lam bisshowab

TANYA JAWAB

N102 by Ustadzah Neneng
Q : Bagaimana menyikapinya apabila kita tergabung dalam suatu grup wa tapi yang nyatanya kebanyakan bercanda dan bicara yang kurang perlu.. sekiranya kita kasih informasi misal kajian atau lainnya kesannya dicuekin dan tenggelam dalam obrolan chat.. akhirnya memilih untuk ga aktif dalam grup tsb. Begitu info ke admin tentang kondisi grup yang banyakk ngobrol malah dibilang jangann baperan or sensi
A : Klo mundur tida ada pengaruh mb, apapun terhadap grup itu. Tapi jika bertahan, tetap menyentil secara elegan. Konsisten mengajak kajian

Q : Mau mundur aga ga enak sama admin nya. Karena grup dibuat untuk saling kootlrdinasi.. tapi klo malah jadi ajang becanda ngalor ngidul tanpa manfaat saya jadi capek. Jadi tetap sampai tegor-tegoran seperti info diatas ya mba?
A : InsyaAllah suatu saat akan ada pengaruhnya. Ntah kalimat yang mana yang akan membuat orang berubah itu hak Alloh. Tapi apa yang kita upayakan itu bagian kita.

Q : Apa yang harus dilakukan kita berada di lingkungan kerja yang setiap harinya pembicaraannya porno aja ustaza. Pernah untuk pindah ruangan tapi gak enak karena disangka sombong.. pernah berkali-kali ditegur dan memilih diam. Tapi tetap aja masih dengan obrolan pornonya..
A : Nasihati dengan baik. Jika mereka tidak mengindahkan jangab sedih, tetappp lanjutkan. Sabar...

Q : Umi, kadang dalam bergaul dan berkomunikasi kita ga sadar sdh nyakitin orang lain, setelah beberapa waktu lama nya baru tau dari orang lain, ternyata ada yang tersinggung, tapi kita sudah ga tau di mana orangnya... Gimana umi solusi na?
A : Itulahhh...yang tidak mungkin akan luput dari perhitunganNya. Berdoalah kepada Alloh agar mempertemukan. Tidak ada yang tak mungkin.

Q : Wajib nemuin dan minta maaf ya mi?
A : Ga wajib......Klo ingin membebaskan dirii yaa di carii

Q : Gimana cara nya memberitahu temen yang biasanya suka marah saat naik kendaraan.. Misalnya kendaraan yang lain ada salah, trus temen kita malah ngomel dengan bahasa kasar.. Sebagai teman.. apa yang sebaiknya dilakukan..Dikasih tau gak mempan
A : Pada prinsipnya berdakwah adalah mengharap kebaikan bagi dia. Jadi upayakanlah terus jika kita menginginkan menjadi jalan perantaraan turunnya hidayah manusia. Maka Allah akan mengampuni dosa kita dan memberikan warisan yakni surgaNya.

Q : Seringkali karena alasan sudah akrab dan tau sifat buruknya sesama teman kalau meyapa atau berkomunikasi menggunakan kata yang tidak pantas. Seperti (maaf) bangsat, kampret, atau kata yang kasar menurut saya. Bagaimana cara mengingatknnya? Sedangkan pernah di ingatkan tapi di acuhkan.
A : Penggunaan bahasa tergantung zaman, generasi, sama situasi. Klo dirasa kurang pantas di hentikan aja langsung. Klo belum berubah juga tegur aja langsung, klo ga dipinalti.

N105 by Ustadzah Pristia
Q : Apa yang harus dilakukan jika menghadapi orang yang suka berbicara berlebihan??
A : Bisa diam dan menjawab seperlunya nanda

Q : Bagaimana cara mengingatkan orang yang mudah tersinggung ketika kita menegurnya pada kebaikan. Orang itu susah menerima kritik & saran dari orang lain, jadi yang dilakukan itulah yang terbaik, padahal banyak orang yang tersakiti sama sikapnya itu ummi,,,
Atau ada cara supaya orang itu berubah ummi dan mau intropeksi diri sendiri,,,
A : Cara menegurnya dengan cara yang santun dan tidak menyinggung perasaan. Jika menegur tentu nya saat perasaanya orang tsb. Jadi menegurnya juga diarahkan pada pemberian contoh orang lain. Jangan langsung individualnya yang disalahkan. Belajar sabar dan mendoakannya

N106 by Ustad Cipto
Q : Assalamualaikum Ustad, saya mau bertanya tentang kalimat anak sekarang yang rada tidak enak didengar, bisa dikatakan karena kebiasaan, bukan bermaksut umpatan. Seperti "anjir, anjay, bodoh, gila bab*"  Contoh dalam kalimat "anjir, keren banget" itu bagaimana hukumnya? Apa kita berdosa apabila berkata seperti itu? Sering banget denger gitu soalnya..
A : Waalaykumsalaam...naam tetap saja mau bahasa gaul atau apa khawatirnya malah jadi dosa...ingatkan saja....sebagai muslim tidak patut meskipun bahasa gaul....pelan-pelan ya ingatkan anak muda....karena karakter mereka memang spesifik...

Q : "Menjauhi perdebatan baik dalam kebenaran atau kebatilan". Kluo seperti itu terus, bukankah tidak ada jawaban yang jelas dari suatu masalah/pertanyaan. Klo memang kita benar,seharusnya kita mempertahankan jawaban dan sikap kita. Bagaimana sikap kita untuk menyikapi hal trsebut? Bila hal tsb dilatar belakangi dengan misi kristenisasi di suatu kelompok..
A : Perhatikan konteksnya seluruh debat atau jiddal cenderungnya kurang bermanfaat. Makanya QS An nahl 125 jidal dengan ahsan...makanya gak perlu ngotot pakenya ngotak...biar solusinya cerdas...klo ngotot cenderungnya panas-panasan meskipun benar kurang membawa manfaat dan faidah. Adapun konteks menghadapi kristenisasi dicontohkan oleh salah seorang ulama kekinian dari india...Dr zakir naik...cukup baik dan mengedepankan kasih sayang.... Kuncinya ini ahsan itu dengan kasih sayang....

Q : Ustadz masalah tentang pembuktian kebenaran, dimana akhir-akhir ini perdebatan sering terjadi karena media, juga karena kurangnya informasi sehingga yang terjadi adalah  ketidaktahuan bagaimana seharusnya bersikap sesuai sehingga tidak ada fitnah.
A : Baiknya dapat penjelasan dari berbagai pihak....kaidahnya dalam quran adalah bahwa barangsiapa datang berita kepadamu maka tabayun/cross cek kebenaran dan faktanya....biar tidak muncul zhon....

Q : Rasulullah bersabda "sungguh, ketika seorang hamba mengucapkan suatu ucapan, tidak lain hanya untuk membuat orang lain tertawa, ia bisa jatuh di neraka lebih jauh antara langit dan bumi" (HR.Baihaqi)
Bagaimana hukumnya jika ada yang berprofesi sebagai pelawak.? Apakah dosa ustadz
A : Naam salah satu profesi yang kurang "bermanfaat" adalah pelawak hingga perlu dihindari sebaiknya...

Q : Ustad, temen dikampus ana kadang sering ngomong gini. Kalo masih tersinggung sama gaya bahasa temen ngomong itu artinya pergaulannya sempit.. Nah yang mau ana tanya kan, gimana nih dalam keadaan seperti ini. Bukan kah kita punya etika berbicara terhadap orang lain
A : Biasa aja....malah yang bahasanya alay menurut saya yang pergaulannya sempit. Bisa jadi malah ngak ngerti bahasa baku.... Jadi pada prinsipnya mah kita tetap aja pake bahasa yang baik berhadapan dengan seseorang...memahami bahasa gaul perlu sekedar tahu aja..... Seseorang itu siapapun ya..



N104 by Ustadzah Lilah
Q : Sudah lama saya bertanya tanya tentang surat al humazah yang dimaksud pengumpat disini ini apa ya bun? Kan surat al-humazah berisi tentang neraka ..
J: Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di memilih tafsiran, humazah dimaksudkan untuk orang yang menjelek-jelekkan dengan isyarat dan perbuatannya. Sedangkan lumazah dimaksudkan untuk orang yang menjelek-jelekkan dengan perkataannya.
Berarti ayat “celakalah humazah dan lumazah” menunjukkan ancaman keras pada orang yang suka mencela dan menjelek-jelekkan orang lain. Karena “وَيْلٌ itu sendiri bermakna celaka atau ancaman keras.
Sedangkan jika humazah bermakna sama dengan lumazah, maka maknanya adalah menjelek-jelekan di belakang dan membenci orang lain. (Dinukil dari Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi). 3 ayat pertama menceritakan tentang sifat buruk orang, sedangkan sisa ayat baru menceritakan neraka yang dijanjikan untuk mereka tsb.




Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ