Home » » ADAB BERBICARA (Grup Bunda)

ADAB BERBICARA (Grup Bunda)

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Wednesday, August 24, 2016

Kajian Online WA Hamba الله SWT

Rabu, 17 Agustus 2016
Rekapan Grup Bunda
Syakhsiyah Islamiyah Pekan ketiga Agustus
By Tim Kurikulum Kajian Online Hamba Allah
Editor : Rini Ismayanti


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya.
Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakaninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan sayaafaat beliau di hari akhir nananti. InsyaAllah aamiin.


ADAB BERBICARA

Islam adalah diin al-adab atau agama yang mengajarkan norma-norma luhur dan suci bagi umat manusia. Seorang mukmin yang menjadikan dirinya sebagai kendali dalam berbuat dan berbicara,akan menikmati saat-saat diamnya,sementara orang lain pun merasa sejuk berdekatan dengannya. Ketika ia berbicara,manisnya kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat orang yang mendengarnya sadar dan terbimbing kepada kebaikan dan kebenaran. Tatkala ia melakukan sesuatu,maka perbuatannya selalu baik,memberi manfaat,dan dapat menjadi keteladanan bagi yang lain. Mukmin seperti ini adalah mukmin yang memiliki sifat-sifat yang dekat kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam yang mulia,dimana diamnya adalah pikir,ucapannya adalah dzikir,dan amalannya adalah keteladanan.

Diantara adab berbicara adalah :


1. Berbicara yang jelas dan mudah dipahami oleh setiap pendengar. 'Aisyah ra. berkata,

"Adalah ucapan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam selalu jelas maksudnya dan mudah dipahami oleh setiap yang mendengarkannya." (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

'Aisyah ra. juga berkata,"Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam, pernah berbicara, sekiranya ada yang menghitung ucapannya pasti terhitung." Dan dalam riwayat lain, "Beliau tidak mengeluarkan ucapan sebagaimana kalian berbicara." (HR. Bukhari Muslim)

2. Berbicara dengan ungkapan yang sederhana dan tidak mencari-cari bahasa yang tinggi, sehingga kalimat yang diucapkan tidak memiliki makna yang sulit atau tidak bisa dimengerti.
Khalid bin Ahmad -  rahimahullah pernah ditanya suatu masalah. Beliau tidak segera menjawab. Maka, penanya berkata, "Apakah pertanyaan ini tidak ada jawabannya dalam pandangan tadi?" Beliau berkata, "Sebenarnya, engkau telah mengetahui masalah yang kau tanyakan berikut jawabannya, tetapi aku ingin memberi jawaban yang lebih mudah untuk kaupahami."

3. Tidak diulang-ulang kecuali untuk memberikan tekanan makna, karena "Sebaik-baik ucapan adalah yang singkat dan membawa arti, dan seburuk-buruk ucapan adalah yang panjang dan membosankan."

Abdullah bin Mas'ud ra., memberi nasihat kepada masyarakatnya setiap hari Kamis. Ada seseorang yang berkata, "Wahai Abu Abdir Rahman, aku berharap engkau memberi nasihat kepada kami setiap hari."

Beliau berkata, "Ketahuilah bahwa sesungguhnya, yang menghalangiku untuk itu karena aku tidak suka membuat kalian bosan." Selanjutnya ia berkata,
"Aku selalu memilih waktu untuk kalian dalam memberi nasihat, sebagaimana Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam memilih waktu untuk kami dalam memberi nasihat karena khawatir membuat jenuh kami." (Muttafaq 'alaih)

'Ammar bin Yasir ra., berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
'Sesungguhnya, panjangnya shalat seseorang dan pendeknya khutbah, merupakan bukti pemahamannya yang dalam. Karena itu, panjangkan shalat dan pendekkan khutbah!'  (HR. Muslim)

4. Ucapan harus baik, tidak kotor dan tidak mungkar (jahat)
Agar ucapan kita selalu bagus dan menambah pahala kita dan tidak menambah dosa, maka kita harus menjaga hal-hal berikut:
a. Setiap pembicaraan kita selalu membawa unsur perintah sedekah atau berbuat baik; atau perdamaian bagi manusia. Allah Ta'ala berfirman,

"Tiada kebaikan dalam banyak pertemuan mereka, kecuali orang yang memerintahkan sedekah, atau kebaikan, atau perdamaian bagi manusia. Dan barangsiapa melakukan hal itu untuk mencari ridha Allah, maka niscaya Kami memberinya pahala yang besar." (An-Nisa' :114)

b. Meninggalkan pembicaraan yang bukan kepentingan kita untuk membicarakannya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Diantara baiknya keislaman seseorang adalah ia tinggalkan sesuatu yang dirinya tidak memiliki kepentingan terhadap hal itu." (HR. Tirmidzi)

c. Menjauhi ucapan yang sia-sia dan tidak bermanfaat.
Allah berfirman,
"Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang dalam shalatnya selalu khusyu'. Dan orang-orang yang dari hal yang tidak berguna mereka selalu berpaling." (QS. Al-Mu'minun :1-3)

Rasulullah bersabda,
"Sungguh, ketika seorang hamba mengucapkan suatu ucapan, tidak lain hanya untuk membuat orang lain tertawa, ia bisa jatuh di neraka lebih jauh antara langit dan bumi." (HR. Baihaqi)

d. Menyebarluaskan salam
Rasulullah bersabda,
"Wahai manusia, sebarluaskan salam; sambung silaturahmi; berikan makanan; dan shalat malamlah ketika manusia tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat." (HR. Tirmidzi)

e. Menahan diri dari ucapan jahat yang tidak membawa kemaslahatan.
Allah berfirman,
"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah, “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.”  (QS. Al-‘Ankabut, ayat 46)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh 'Aisyah ra., ia berkata bahwa Rasulullah bersabda,
Sesungguhnya, manusia yang paling jahat kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah orang yang ditinggalkan masyarakatnya karena masyarakat menghindari ucapan jahatnya." (HR. Bukhari)

f. Bersabar dalam berdialog dengan orang-orang bodoh (jahil).
Hal ini tidak berarti menerima kehinaan,tetapi bisa menahan diri di hadapan faktor-faktor yang memancing emosi dan mencegah diri dari marah, secara sukarela ataupun terpaksa. Allah berfirman,  "Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Rahman, mereka itu berjalan di muka bumi dengan rendah hati. Dan apabila diajak bicara oleh orang-orang yang bodoh (jahil) mereka berkata,'Selamat.' " (QS. Al-Furqan: 63)
Diriwayatkan dari Sa'id ibnul-Musayyab bahwa saat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam sedang duduk bersama para sahabatnya ada seseorang yang mencaci Abu Bakar dan menyakitinya, tetapi Abu Bakar tetap diam. Lalu ia mencaci Abu Bakar dan menyakitinya lagi untuk yang kedua kali dan Abu Bakar pun tetap diam. Kemudian ia mencaci Abu Bakar dan menyakitinya yang ketiga kali, maka Abu Bakar membela diri. Ketika itulah, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam berdiri meninggalkan majelis. Abu Bakar bertanya,  " Apakah engkau mendapati suatu dosa atas diriku, ya Rasulullah?"  Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam menjawab,  "Ada malaikat turun dari langit mendustakan orang itu terhadap makian yang ia lontarkan kepadamu. Namun, ketika kau membela diri, setan pun datang. Karena itu, aku tidak mau duduk disini, ketika setan datang." (HR. Abu Daud)

g. Menjauhi perdebatan, baik dalam kebenaran maupun dalam kebatilan, karena hal itu akan menimbulkan keinginan mencari menang dalam diri dan lebih suka mempertahankan pendapat daripada menampakkan kebenaran.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

 "Tidaklah suatu kaum tersesat setelah berpegang kepada kebenaran kecuali mereka diberi kegemaran berdebat." (HR. Tirmidzi)

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,  "Aku pemimpin sebuah rumah di dalam surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar. Dan aku pemimpin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun bercanda. Dan aku pemimpin sebuah rumah di puncak surga bagi orang yang akhlaknya baik." (HR. Abu Daud)

h. Menjauhi tempat-tempat kejahatan
Yakni, tempat dilakukannya kemungkaran atau dibicarakan di dalamnya ucapan yang menghina atau melecehkan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, 

 "Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim sesudah teringat larangan itu." (QS. Al-An'am:68)

Allah juga berfirman,  "Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela." (QS. Al-Humazah:1)

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,  "Bukanlah seorang mukmin, orang yang suka mencaci-maki; suka melaknat; suka berkata keji; dan suka berkata jorok." (HR.Bukhori,ahmad, Al Hakim dan tirmidzi dari ibnu Mas'ud)
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,  "Tidak ada kata keji dalam sesuatu kecuali ia akan merusaknya. Dan tidaklah ada sifat malu dalam sesuatu melainkan ia akan menghiasinya." (HR. Tirmidzi)
Wallaahu a'lam bisshowab

TANYA JAWAB

M10 by Ustadz Ahabba
Q : Bagaimana dengan pengaruh adat atau lingkungan yang biasanya membentuk karakter tersendiri termasuk dalam berbicara..seperti lebih keras lebih to the point dll..sehingga terkadang dalam pergaulan sering membuat suatu permasalahan tersendiri
A : Pengaruh adat dan lingkungan tidak menghalangi kita untuk mempelajari dan menerapkan adab-adab yang di contohkan oleh Rasulullah saw dalam bergaul di lingkungan kita.

Q : Ustadz, dengan makin majunya teknologi, kita tidak lagi berbicara langsung, tetapi berbicara melalui medsos seperti WA, kadang dalam satu grup (bukan grup kajian) seperti  grup alumni, sering member bercanda tapi menjurus ke negatif (sara, fitnah, ghibah dan pornografi). Bagaimana seharusnya tindakan kita? Haruskah left grup (tapi di add lagi oleh admin..
A : Saling memberi nasihat secara baik, kemudian berhat-hati dalam menyebarkan informasi tanpa memahami secara benar dan kita yakini informasi itu bermanfaat sebelum di sebarkan. Wallahualam

M6 by Ustadz Cipto
Q : Adab berbicara tersebut apakah berlaku juga ustd untuk chatting?
A : Naam, berlaku juga sebenarnya.. apalagi di medsos lebih perlu etika dan hati-hati karena bisa disalahartikan..

M20 by Ustadzah Rini
Q : Assalaamualaikum, Ustadzah.. Mau tanya. Jika kita dalam kondisi dicemooh, dicerca, baik di depan diri kita secara langsung atau di belakang kita secara sembunyi-sembunyi, apakah kita juga dapat dikatakan sedang di-dzalimi? Jika iya, bolehkah kita berdoa pada Allah SWT dengan kapasitas doa orang yang terdzalimi?
A : Iya, jika kita merasa tersakiti dan kenyataannya tidak demikian maka bukannya memaafkan akan lebih melegakan? Baik buat hati dan pikiran kita. Wallahua'lam . Karena semua adalah pilihan yang bisa kita ambil

Q : O iya, mengenai doa orang teraniaya. Boleh tidak ketika dianiaya seseorang, tapi kita doanya perihal yang lain. Misal : Ketika ada yang mencela, lalu kita berdoa agar dapat beasiswa S3. Kan mumpung dianiaya, jadi doanya mustajab.
A : Solusi/ doa yang lebih baik

Q : Mau nanya bun bagi orang yang sering bicara salah/latah gimana?
A : Maka diarahkan kepada dzikrullah...latah itu karena kurang mengingat Allah. Wallahua'lam

Q : Bagaimana cara menyadarkan orang yang suka mencaci maki orang lain? Dan bagai mana supaya kita sabar menghadapi orang itu ? Syukron
A : Didekati dan diberi pemahaman/diingatkan jika kita mampu diajak ke majelis taklim, kajian kajian keislaman jika belum bisa mengingatkan secara langsung. Jangan pernah lupakan doa untuk kebaikan bersama.

Q : Apakah bercanda itu termasuk ucapan yang sia-sia? Seperti sabda Rasul diatas
Apakah bercanda dengan teman&kluarga juga ada adabnya?
A : Becanda diperbolehkan...yang menjadi sia-sia adalah jika dalam becanda disertai kebohongan/ dusta.

Q : Ustadzah, umumnya seorang ibu, termasuk saya, sering sekali menggulang-nggulang pembicaraan  ato ngomel terutama dalam mengarahkan anak, termasuk sia sia kah?
A : Parameter kesia-siaan adalah jika tidak ada manfaat sama sekali dari yang kita bicarakan. Wallahua'lam


M5 by Ustadzah Pipit
Q : Bagaimana dengan orang yang udah dari lahirnya rame atau banyak kalo ngomong..(walau uduh dikontrol apa yang harus di bicarain..tapi kadang suka kelepasan) trus katanya juga nih menurut psikolog ..bahwa wanita itu harus sedikitnya mengeluarkan perkataan 2000 kalimat agar tidak  stress...wallahu alam bener ga nya..
A : Bagi muslim/ah yang diberi kelebihan dalam kemampuan bicara maka asahlah dengan ilmu agar bicaranya berbobot. Bukan hanya ilmu duniawi tapi terutama ilmu ukhrawi dan ilmu yang mampu membangun jiwa/memotivasi pendengarnya. Jadilah kawan diskusi yang baik, bimbing dan arahkan saudara/i kita serta jadilah pemberi kegembiraan lewat perhatian dari lisan kita (bukan dengan candaan dusta/sia-sia).
Iya sudah banyak penelitian tentang wanita yang perlu lebih banyak berkosakata ketimbang pria. Maka gunakan potensi itu dalam pendidikan anak, dakwah pada keluarga dan karib kerabat, perbanyak lantunan dzikir dan hal-hal positif lainnya. In sya Allah wanita yang mampu banyak bicara dalam kerangka kebaikan tidak akan terjerumus dalam dosa dan kemaksiyatan. Semangat ya Bunda ! 

Q : 1. Menjauhi perdebatan kalau untuk menjelaskan sesuatu yang harus diluruskan agar tidak timbul fitnah boleh???
2. Bagaimana cara memperindah kata-kata bunda? Kadang orang itu sensi dengan kata-kata yang kurang indah termasuk saya
C. Kapan kita berbicara tegas dan kapan kita berbicara santai dengan orang-orang disekitar??
A : 1. Cukup dijelaskan saja sejelas dan sesingkat mungkin, apakah nanti akan jadi clear masalahnya atau masih ada prasangka kita serahkan pada Allah. Susah memang, apalagi kalau perdebatannya akademis dan faktanya terang benderang tapi masih tidak paham juga. Yang terpenting upaya kita meluruskan sesuatu jangan sampai membuat urusannya menjadi tambah ruwet ya Bund. “Fayassirhu walla tu'atsiru” Maka permudahlah jangan mempersulit
2. Memperindah kata-kata tentu pakai ilmu Bund. Ilmu dasar tentang masalah yang dibahas, ilmu agama untuk kehati-hatian bicara, juga ilmu jiwa untuk memilah-milah dengan siapa kita berbicara. Ada perbedaan antara bicara dengan orang yang satu dan dengan orang lainnya. Perhatikan kesantunan dan kejujuran bahasa kita. Yakinlah bahwa
"Segala sesuatu yang keluar dari hati akan sampai ke hati juga, tapi yang keluar dari lisan hanya akan sampai di telinga"
3. Bicara tegas itu pada hal-hal yang jelas hitam putihnya misalnya urusan aqidah, rukun wajib ibadah, dosa dan maksiyat. Atau bicara tegas untuk hal-hal seputar pendidikan karakter yang sudah disepakati, berkali-kali diberi toleransi tapi dilanggar lagi. Bicara santai ya untuk hal-hal yang lain. Usahakan memulai bicara dengan santai perlahan dulu agar sampai ke hati pendengar. Nanti jika menemui hal yang urgen barulah kita buat garis ketegasannya. Wallahu'alam bishowab

Q : Bun...maksudnya bersabar dalam berdialog dengan orang-orang bodoh atau jahil gimana??
A : Orang-orang bodoh/jahil itu sudah dihinggapi setan jadi bicaranya ngaco
Karena mereka itu suka mencaci, berkata keji, melakanat,dll...jadi kita harus extra sabar mengahdapi mereka. Karena kalau kita tidak sabar akan ikut terbawa emosi.


M17 by Ustadzah Malik
Q : Kalau pembicaraan kita di tanggapi negatif gitu gimana ya,padahal kita tidak ada maksud seperti itu......mohon penjelasanya...maturnuwun...
A : Mbaku sayang kalau yang kita sampaikan hal yang benar tentunya kita harus juga memilih cara yang tepat dalam menyampaikan.....jika tjadi kesalahpahaman jelaskan dengan cara yang ahsan maksud baik kita dan pilih waktu yang tepat.


M2 by Ustadzah Riyanti
Q : Ketika perdebatan terajid, dan ketika kita tahu bahwa perdebatan itu sebaiknya dihindari tapi kalo kita diam takutnya berakibat kesalahan yang fatal. Itu gimana ustadzah..
A : Kalau kesalahan fatal itu itu masih bersifat prasangka lebih baik menghindari perdebatan..  Situasi dan kondisi sebuah perdebatan saja sudah menunjukkan komunikasi yang tidak sehat..

Q : Ini kejadian sm teman2 sy di sosmed. Ada mmposting ssuatu ttg diri nya yang mnurut teman2 sy ,.org ini trll mnyombongkan diri..apa2 yg hebat ttg diri dia d expose di sosmed dr gaya hidup pakaian dsb. Temen2 sy jd sinis n sindir menyindir di sana. Dr 2 3 4 org yg tau jd belasann...sy yg membaca kdng bingung sdng irg yg mengexpose diri itu sdng tdk mezholimi teman2 sy ..kook teman2 siniis bngt. Gmn sy hrs menyikapi sikap tmn2 sy itu?? Syukron ustadzah
Berinteraksi di dunia maya itu harus faham tabiat nya.
Bahwa dumay tidak sehangat tepukan di bahu, tidak sama dg pelukan erat sahabat.. Tidak seperti sebuah jabatan tangan..
Jadi.. Dahulu kan prasangka baik kita...
Bila ada kasus demikian kita berusaha untuk menetralisir... Menasehati teman teman yang menyindir tsb..
Wallahu a'lam bisshawab


M13 by Ustad Syahrowi
Q : Afwan ustadz, mau nanya, kalo bicara misuh menjadi kebiasaan sehari, apakah itu merupakan suatu penyakit khususnya penyakit jiwa ? Dan bagaimanakah dng org seperti itu ?
Benarkah tindakan kita dng menjauhi org tersebut ?
Jazakallah ustadz

Jawaban:
Salah satu perintah Allah adalah berkata2 yg baik kepada manusia, sebagaimana firmannya:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“…ucapkanlah perkataan yg baik kepada manusia..” (QS. 2:83)
Jika ada orang yg sering dan bahkan jadi kebiasaan berkata misuh maka bisa jadi hal itu menggambarkan akhlaknya, atau terpengaruh oleh orang2 di sekitarnya yg berbicara demikian. Apakah harus dijauhi? Jika khawatir akan 'tertular' dengan cara berbicara, diksi yg digunakan, maka sebaiknya menjuh darinya, tetapi jika orang tsb dijadikan ladang amal, maka ajari dia, tegurlah dia dgn cara yg baik, agar dapat berbicara yg baik2 saja.
Wallahu'alam
: Ustadz, nanya lagi, gimana kalo ledek- ledekan? Apakah itu termasuk dosa juga ?
Misal nih, kadang kalo becanda di kantor sering kita ledek2an atau pacok2an, kalo kayak gitu gimana ustadz?
jawab :
Dalam sabdanya Rasulullah mengatakan :
“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau dengan berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.
Tinggikanlah sarungmu sampai pertengahan betis. Jika enggan, engkau bisa menurunkannya hingga mata kaki. Jauhilah memanjangkan kain sarung hingga melewati mata kaki. Penampilan seperti itu adalah tanda sombong dan Allah tidak menyukai kesombongan.
Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).
Ledekan ke teman jika 'hanya' bercanda sebenarnya  tdk apa2. Tetapi kondisi kejiwaan tiap orang tidaklah sama, bisa jadi kita anggap ledekan biasa, ternyata membuatnya tersinggung. Tentu yg hrs dihindari adalah meledek dgn sengaja merendahkan orang lain. Salah satu tanda kesombongan adalah merendahkan orang lain.
Wallahu'alam


M3 by Ustadzah Neneng
Q : Bagaimana sikap kita bila dicerca teman kerja disatu ruangan, diam sajakah, menghindar atau tetap sabar, dan cara sabar yg bagaimana supaya hati kita tetap terjaga tidak tersulut emosi ?
A : Tidak akan jadi hina orang yang dihina...sesungguhnya kehinaan itu menimpa mereka yang menghina. Jika mampu melawan lawanlah dengan ahsan, lawanlah dengan kebaikan. Karena setiap kebaikan kita adalah sedekah. Beri dia hadiah misalnya agar yang di hatinya ada permusuhan dapat menjadi seperti sahabat karib. Agar tidak ikut meledak...jika ada yamg menghina senyum ajaaa.



M13 by Ustadz Syahrowi
Q : Afwan ustadz, mau nanya, kalo bicara misuh menjadi kebiasaan sehari, apakah itu merupakan suatu penyakit khususnya penyakit jiwa ? Dan bagaimanakah dengan orang seperti itu ? Benarkah tindakan kita dengan menjauhi orang tersebut ? 
A : Salah satu perintah Allah adalah berkata yang baik kepada manusia, sebagaimana firmannya:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“…ucapkanlah perkataan yg baik kepada manusia..". (QS. 2: 8)
Jika ada orang yang sering dan bahkan jadi kebiasaan berkata misuh maka bisa jadi hal itu menggambarkan akhlaknya, atau terpengaruh oleh orang-orang di sekitarnya yang berbicara demikian. Apakah harus dijauhi? Jika khawatir akan 'tertular' dengan cara berbicara, diksi yang digunakan, maka sebaiknya menjuh darinya, tetapi jika orang tsb dijadikan ladang amal, maka ajari dia, tegurlah dia dengan cara yang baik, agar dapat berbicara yang baik-baik saja. Wallahu'alam

Q : Ustadz, nanya lagi, gimana kalo ledek- ledekan? Apakah itu termasuk dosa juga ? 
Misal nih, kadang kalo becanda di kantor sering kita ledek-ledekan, kalo kayak gitu gimana ustadz?
A : Dalam sabdanya Rasulullah mengatakan : 
“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau dengan berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan. Tinggikanlah sarungmu sampai pertengahan betis. Jika enggan, engkau bisa menurunkannya hingga mata kaki. Jauhilah memanjangkan kain sarung hingga melewati mata kaki. Penampilan seperti itu adalah tanda sombong dan Allah tidak menyukai kesombongan. Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Ledekan ke teman jika 'hanya' bercanda sebenarnya  tidak apa-apa. Tetapi kondisi kejiwaan tiap orang tidaklah sama, bisa jadi kita anggap ledekan biasa, ternyata membuatnya tersinggung. Tentu yang harus dihindari adalah meledek dengan sengaja merendahkan orang lain. Salah satu tanda kesombongan adalah merendahkan orang lain. Wallahu'alam

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!