Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

CARA MELATIH DAN MENGENALKAN SHOLAT ANAK SEJAK USIA DINI

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Senin, 15 Agustus 2016
Narasumber : Ustadz Mida
Rekapan Grup Bunda M2
Tema : Parenting
Editor : Rini Ismayanti


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya.
Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakaninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nananti. InsyaAllah aamiin.


CARA MELATIH DAN MENGENALKAN SHOLAT ANAK SEJAK USIA DINI

Rasulullah Shalallahu'alahi wassalam telah memerintahkan setiap orang tua agar melatih anaknya shalat ketika berumur tujuh tahun, dan memukulnya bila ia enggan shalat ketika sepuluh tahun.

“Pukullah anak-anakmu karena meninggalkan shalat pada usia sepuluh tahun….” (HR Ibnus Sunni dalam Awwalul Yaumi wal-Lail).

Sejak dini, anak harus diperkenalkan dengan shalat. Demikian halnya dengan pembiasaan berdoa. Orang tua harus terlibat aktif dalam melatih anak rajin shalat dan berdoa, agar mentalitas anak terbentuk dengan kuat secara spiritual.

Dalam praktiknya, ternyata membiasakan shalat kepada anak tidak mudah. Perlu keteladanan, bahkan dengan reward dan punishment. Anak-anak tidak merasa diajari atau dilatih shalat. Mereka diajak untuk merasakan kehadiran Allah, Rabb semesta alam, dikenalkan dengan malaikat maut dan diberikan gambaran tentang surga dan neraka.

Inilah yang membuat mereka merasa tergugah untuk shalat. Ingatlah wahai saudaraku, mengajarkan ilmu kepada anak-anak itu bagaikan mengukir di atas batu. Sangat sulit, tetapi mampu menancap ke dalam kalbu. Selamat mengukir akhlak anakmu, dan jangan sekali-kali merasa jemu.

Orang tua mungkin menginginkan anaknya menjadi seorang dokter, insinyur, pengusaha sukses, pegawai negeri sipil (PNS), menteri, bahkan presiden. Apapun cita-cita orang tua muslim terhadap anaknya, satu hal jangan sampai lupa: bekali anak dengan ilmu agama. Tentu, ilmu agama yang harus dimiliki tidak harus mendalam seperti ulama atau ahli agama. Akan tetapi cukuplah ilmu agama dasar yang diperlukan dalam keseharian seorang muslim.

Dalam sebuah hadits disebuntukan bahwa mencari ilmu itu wajib hukumnya (طلب العلمفريضة)  yang dimaksud di situ adalah ilmu agama. Fudhail bin Iyadh seorang sufi abad kedelapan mengatakan, Setiap perilaku yang wajib bagimu, maka memiliki ilmu tentangnya juga wajib Misalnya, kalau shalat itu wajib, maka ilmu tata cara shalat,  wudhu dan bersuci juga wajib.

Belajar agama dapat dimulai sejak usia 3 – 4 tahun dengan cara mengirim anak ke TAPIQ (Taman Pendidikan Al Quran). Di sebagian TAPIQ selain belajar membaca Quran, juga dipelajari tata cara shalat. Lulus dari TAPIQ biasanya anak sudah cukup baik membaca Al Quran dan teks bahasa Arab yang ada harkatnya. Itu menjadi modal awal untuk mempelajari ilmu agama dasar berikutnya. Kalau di tempat kita tidak ada TAPIQ, maka alternatif lain adalah mengundang guru ngaji ke rumah atau ikut program pengajian di masajaid terdekat.

Mampu mengaji atau dapat membaca Quran tentu saja tidak cukup. Karena ilmu agama itu bukan hanya membaca Quran. Banyak sekali macamnya. Tentu saja, tidak semua ilmu agama harus dipelajari oleh setiap individu muslim yang tidak berniat menjadi seorang ulama. Setidaknya ada dua ilmu agama dasar yang harus diketahui oleh setiap muslim:

Pertama,  ilmu aqidah (ideologi) Islam.
Adalah ilmu yang membahas tentang (a) rukun Islam yang lima: mengucap dua syahadat, shalat lima waktu, mengeluarkan zakat, puasa bulan Ramadhan, haji bagi yang mampu  dan (b) rukun iman yang enam: percaya pada Allah, pada malaikat-Nya, pada Kitab-kitab-Nya khususnya Al-Quran, pada rasul-rasul Allah khususnya Nabi Muhammad, pada hari Kiamat, pada Qada dan Qadar.

Kedua, ilmu fiqih (syariah) atau hukum Islam
Adalah ilmu yang membahas secara teknis tata cara berpeperilaku. Baik dalam bentuk ibadah kepada Allah seperti shalat, haji, puasa, zakat, dan lain-lain. Serta ilmu berinteraksi antar-manusia seperti dalam soal jual beli.
Yang terpenting dari ilmu fiqh yang harus diketahui adalah 
(a) yang berkaitan dengan ibadah yang rutin seperti ilmu tentang shalat fardhu dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya seperti tata cara wudhu, suci dan najis dan ilmu tentang puasa; 
(b) ilmu tentang halal dan haram.
Ada lima perbuatan haram yang masuk kategori dosa besar yaitu berzina, membunuh, mencuri, berjudi, minum miras dan narkoba.

Mendidik anak agar melakukan perbuatan yang wajib tentu membutuhkan pelatihan sejak dini. Nabi menganjurkan agar melatih anak shalat sejak usia 7 tahun. Dan memberi sanksi apabila anak meninggalkan shalat saat usia 10 tahun. Perlu dicatat, menurut hukum fiqh, anak usia 7-10 tahun belum wajib melakukan shalat karena belum mencapai akil baligh. Jadi, melatih shalat untuk pembiasaan saja.

Demikian juga, anak harus dibiasakan untuk menjauhi kondisi tidak kondusif yang dapat menjurus ke perilaku haram yang lima di atas. Misalnya, orang tua hendaknya tidak membiasakan berperilaku kasar pada anak agar anak kelak tidak berperilaku serupa. Begitu juga, orang tua harus memberi contoh dalam kata dan perilaku bahwa kejujuran adalah martabat tertinggi manusia, agar anak tidak menjadi pencuri saat dewasa. Pemisahan yang jelas antar lawan jenis yang bukan mahram (muhrim) harus dibiasakan di rumah, agar anak tahu batas-batas pergaulan dan tidak terjerumus ke perzinahan

Tips Melatih Anak Shalat Sejak Usia Dini

Karena pembelajaran shalat untuk anak usia dini adalah dalam rangka pembiasaan, anda bisa menyediakan sajadah anak yang disukainya agar si anak merasa nyaman, bukan karena kewajiban, maka orang tua dapat melatih anak dengan cara-cara berikut ini :
1.Teladan
Memberikan keteladanan dengan cara mengajak anak melaksanakan shalat berjamaah di rumah. Keteladanan yang baik membawa kesan positif dalam jiwa anak. Orang yang paling banyak diikuti oleh anak dan yang paling kuat menanamkan pengaruhnya ke dalam jiwa anak adalah orang tuanya. Oleh karena itu, Rasulullah saw memerintahkan agar orang tua dapat menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka. Pada tahap awal, keteladanan yang dapat dicontoh anak adalah gerakan-gerakan shalat.

2. Melatih berulang-ulang
Melatih gerakan dan bacaan shalat pada anak usia dini hendaknya dilakukan dengan cara berulang-ulang  Semakin sering anak usia dini mendapatkan stimulasi tentang gerakan shalat, apalagi diiringi dengan pengarahan tentang bagaimana gerakan yang benar secara berulang-ulang maka anak usia dini semakin mampu melakukannya. Begitu juga dengan bacaan shalat. Semakin sering di dengar oleh anak, maka semakin cepat anak hafal bacaan shalat tersebut.

3. Suasana nyaman dan Aman
Menghadirkan suasana belajar shalat yang memberikan rasa aman dan menyenangkan bagi anak dalam menerima seluruh proses pendidikan shalat yang diselenggarakan saat anak usia dini mengikuti gerakan orang tua dalam shalat, pada tahap awal terkadang bisa mengganggu kekhusukan shalat orang tua. 
Orang tua harus dapat memahami bahwa tindakan anak meniru gerakan orang tua adalah proses belajar, sehingga sekalipun anak dapat mengganggu kekhusukan shalat orang tua, anak tidak boleh dimarahi atau dilarang dekat dengan orang tua saat shalat. Pengarahan tentang bagaimana tata cara shalat yang benar kita ajarkan kepada anak setelah proses shalat berlangsung. 
Dalam tahap lanjut, anak tidak hanya bisa meniru gerakan shalat, tapi juga memiliki kebanggaan untuk menggunakan simbol-simbol islami baik dalam ucapan maupun perilaku dalam shalatnya dan sebagainya. 

4. Tidak Memaksa tapi Tegas Beri Arahan Dengan halus
Tidak melakukan pemaksaan dalam melatih anak usia dini melakukan shalat. Perkembangan kemampuan anak melakukan gerakan shalat  adalah hasil dari pematangan proses belajar yang diberikan. Pengalaman dan pelatihan akan mempunyai pengaruh pada anak bila dasar-dasar keterampilan atau kemampuan yang diberikan telah mencapai kematangan. 
Kemudian, dengan kemampuan ini, anak dapat mencapai tahapan kemampuan baru yaitu dapat melakukan gerakan shalat sekalipun belum berurutan. Pemaksaan latihan kepada anak sebelum mencapai kematangan akan mengakibatkan kegagalan atau setidaknya ketidakoptimalan hasil.Anak seolah-olah mengalami kemajuan, padahal itu merupakan kemajuan yang semu. Disamping itu, latihan yang gagal dapat menimbulkan kekecewaan pada anak atau rasa ”tidak suka” pada kegiatan yang dilatihkan. Dengan demikian, saat anak usia dini tidak bersedia diajak shalat bersama, maka orang tua tidak harus memaksakan anak.

5. Tidak membanding-bandingkan
Secara fisik, semakin bertambah usia anak maka semakin mampu melakukan gerakan - gerakan motorik dari yang sederhana sampai yang komplek. Namun perlu diperhatikan adanya keunikan setiap anak. Bisa jadi tahapan perkembangan gerakan motorik antara anak pertama lebih cepat dibandingkan anak kedua. 
Oleh karenanya, penting bagi orang tua untuk memperhatikan perkembangan seseorang, dan tidak membanding-bandingkan dengan sang kakak atau anak yang lain yang seusia dengan anak. Bisa jadi sang anak lebih cepat bisa mencontoh gerakan shalat dibandingkan dengan sang adik. 
Dalam kondisi ini orang tua tidak boleh langsung menilai bahwa sang adik tidak pintar seperti sang kakak. Setiap anak harus mendapatkan perhatian dari orang tua hingga muncul penghargaan atas diri anak dan antar sesama anak.

TANYA JAWAB

Q : Mohon kiat menanamkan aqidah pada anak usia dini
A : Menanamkan aqidah sejak dini harus dipahami pertama adalah sebuah proses. Jika sebuah proses, maka yang dilihat adalah bagaimana ayah dan ibu serta lingkungan menggunakan cara, metoda, teknik dalam menyampaikan nilai nilai tauhid pada anak yang dilakukan secara simultan dan berkesinambungan. Ini prinsip yang harus dipahami benar oleh ayah dan ibu. Karena jika tidak, maka ayah dan ibu akan terjebak pada rasa jenuh, merasa tidak berhasil, dan percuma memberikan pendidikan tauhid.  Karena yang dilihat bukan pada proses bagaimana anak bisa memahami nilai tauhid dalam kehidupan sehari harinya melainkan pada hasil sesaat. Selain itu, ayah dan ibu juga memahami tahapan usia perkembangan anak. Nilai tauhid harus disampaikan sesuai pemahaman anak. Sesuai dengan cara berpikir anak. Dengann demikian, maka anak akan lebih mudah menerima nilai tsb. Lalu, ayah dan ibu harus solid dan membangun kesepekatan tentang aturan dalam keluarga utamanya yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah di rumah. Jika pada waktu azan magrib aturannya menghentikan semua aktivitas kecuali ibadah shalat dan tidak berkeliaran di luar rumah selain pergi ke masajaid, maka ayah dan ibu harus konsisten dan saling mendukung untuk menetapkan aturan  ini di rumah. Akan ada masanya kelak anak membantah orang tua, menolak patuh..pada saat seperti ini kedua orang tua harus kompak dengan atura  yang disepakati. Setelah itu, bentuk cara berpikirnya untuk selalu mengaitkan segala sesuatu dengan Allah. Kalau kata Ust Yusuf Mansur, Allah dulu, Allah lagi, selalu Allah. Itu benar. Dalam keseharian...ucapkan secara verbal pada anak misal...bangun tidur : Ayo Nak bangun, kita bersyukur pada Allah karena kita masih bisa bangun hari ini, lalu bacakan doa bangun tidur.
Saat anak merasa sedih karena diejek teman, beri penguatan...Bersabar ya Nak, ejekan temanmu tidak perlu dibalas. Kita doakan yuk semoga ia kelak diberi petunjuk  Allah untuk bisa berkata baik. Allah lebih suka.pada anak yang sabar dan berbuat baik. Dan Allah tidak suka pada anak yang suka mengejek dan menyakiti teman. Selalu kaitkan apapun kejadian dengan Allah. Dengan demkian kita telah  kenalkan anak dengan Allah sebagai Rabb, Allah sebagai Ilah, dan sifat sifat dan nama nama  Allah yang sempurna dalam aktifitas nyata. Yang terakhir, berikan teladan yang benar sesuai contoh Rasul saw. 
Kebanyakan orang tua menyekolahkan anak di sekolah Islam dengan harapan anak akan mendapat pendidikan Islam yang baik. Namun pada saat diminta untuk turut meningkatkan diri baik dalam kualitas amal maupun penambahan ilmu, seringkali orang tua lalai dengan alasan sibuk. Hal ini akan memberi pengaruh buruk karena anak tidak menemukan keselarasan antara apa yang ia pelajari di sekolah dengan kenyataan di rumah. Unsur teladan amat penting karena anak melihat langsung praktik dari teori yang dipelajarinya di sekolah
Nah...bingkai dari semuanya...jangan henti berdoa ya agar apa yang diupayakan oleh ayah dan bunda tidak sia sia.

Q : Ustadzah sebaiknya anak usia 7 tahun yang tidak mau sholat diberi sanksinya yang seperti apa ya...
A : Seperti dalam materi, anak usia 7 th belum wajib shalat. Ia baru diajari shalat. Tetapi agar pada usia 7 th ia tidak menolak saat diajari dan diajak shalat, maka pengenalan dan pembiasaan shalat ini harus sudah mulai dilakukan sejak anak usia 1 th. Yakni pada saat ibunya harus shalat, maka anak tidak boleh menghalangi waktu beribadah ibunya. Caranya? Gendonglah anak pada saat shalat. Dengan begini ia akan belajar, bahwa ada waktu ibunya yang tidak bisa diganggu yakni waktu shalat. Bahkan saat anak ingin susu, atau minta sesuatu, ibunya menundanya sampai selesai ibu shalat. Jika terbiasa seperti ini, di kepala anak akan tumbuh sebuah kebiasaan...waktu shalat adalah penting sehingga bunda harus menggendongku walau saat itu aku perlu sesuatu. Dengan pembiasaan ini dari usia sangat awal, maka akan mudah bagi ayah dan ibu mengajarinya shalat saat usia 7 th.
Nah...kembali ke pertanyaan tadi....apa sanksinya jika usia 7 th ngga mau disuruh shalat...coba dicheck apakah anak ini sudah dikenalkan sejak dini usia seperti contoh di atas? Jika ya...maka saat ia menolak, pada usia 7 th, hendaklah ditanya apa alasannya menolak shalat. Jika jawabannya malas...maka ayah dan ibu perlu bersikap tegas yakni memberinya waktu untuk istighfar dan berdoa berlindung dari rasa malas (ada dalam al ma'tsurot) lalu ajak ia shalat. Jika ia tetap tidak mau, beri ia kesempatan memenuhi rasa malasnya dengan catatan: kali ini ibu bisa mengerti rasa malasmu. Tetapi shalat magrib nanti (misal) ibu tidak ingin dengar alasan ini lagi. Kamu harus shalat dengan ibu. Jika ia mangkir...beri sanksinya yang sesuai dengan usia. Misal jika dia dpt fasilitas hp, ambil hpnya. Hp diberikan kembali jika ia mau shalat. Itu contoh saja.
Ada cara yang bisa dicoba di rumah dalam membiasakan shalat lebih bagus lagi jika bersaudara: Buatlah jadwal laporan pemenuhan shalat wajib untuk semua anak selama satu bulan. Setiap selesai shalat anak harus minta tanda tangan ibu atau ayah. Jika tidak shlat makan akan kosong. Akhir bulan, dilihat brp.kali anak tidak shalat. Reward yang diberikan akan dikurangi sejumlah waktu shalat yang ditinggalkan. Selama masa ini ayah dan ibu juga konsisten memberikan pemahaman pentingnya shalat. Jika satu bulan berhasil, lakukan lagi bulan berikutnya dengan reward yang lebih baik. Pada bulan keempat sudah boleh disampaikan bahwa reward tidak lagi diberikan..tetap anak yang shalatnya tidak pernah bolong adalah anak yang shalih dan menggembirakan hati ayah dan ibu. Ia adalah anak yang akan mebawa ayah dan ibunya ke surga. Membentuk keyakinan pada anak  bahwa shalat itu penting dan berdosa jika ditinggalkan, sangat dipengaruhi oleh cara ayah dan ibu menyampaika  dan menyiapkan lingkungannya. Karenanya wajib hukumnya ayah dan ibu mengetahui metoda mendidik anak shalat. Sanksi teringan pada anak yang tidak mau shalat adalah ibu dan ayah menunjukkan raut muka tidak suka dan membiarkan anak sejenak berpikir untuk memahami kesalahannya yakni tidak patuh perintah orang tua u shalat. Jika anak dari kecil tidak pernah dikenalkan tentang shalat...baru pada usia 7 th saja...maka ini sudah sangat terlambat. Karena  kebiasaan dan karakter sudah terbentuk dasarnya sejak anak usia 3 tahun. Dengan kondisi bagin..maka sanksi apapun tidak akan berguna karena pada diri anak belum tertanam sedikitapiun nilai nilai pentingnya shala. Selama masa  golden age sampai 7 th jangan pernah berhenti berxerita tentang pentingnya shalat, mengapa Allah perintahkan shalat, apa akibatnya jika tidak shalat dsbnya. Hal ini untuk menumbuhkan keyakinan dan mebentuk pola.pikirnya tentang shalat. Untuk jenis sanksi...berikan sanksi dalam bentuk mengambil sesuatu yang menjadi kesenangannya.

Q : Bagaimana cara nya mohon lebih di jelaskan tentang sikap kita ke anak itu harus tegas tapi tidak memaksa.., bagaimana...?
A : Sebenarnya sikap tegas itu sedikit dekat dengan memaksa. Maksudnya begini : jika anak tidak mau shalat, maka ibu atau ayah tegas mengatakan : karena ini soal shalat, kamu tidak punya pilihan menolak. Ini perintah Allah. Walaupun belum wajib, tapi ayah tetapkan kamu harus shalat bersama ayah dan ibu. Dan anak harus shalat.
Itu tegas dan memaksa dengan cara halus..karena tanpa sikap seperti ini anak tidak akan belajar tentang patuh. Membentuk kepatuhan pada  anak lebih banyak menggunakan pendekatan ini. Tegas artinya anak tidak diberi pilihan lain selain mengikuti aturan. Sehingga dengan sendirinya anak memaksa diri untuk belajar patuh. Jadi kecenderungannya tegas itu ya memaksa. Bila kita cenderung memberikan pilihan bebas atau ruang buat anak untuk membantah berkenaan dengan aturan ibadah utamanya shalat,  maka keyakinan akan pentingnya ibadah utamanya shalat pada anak tidak akan tumbuh. Karena anak selalu diberi pilihan...ya karena kamu sdengan cape..boleh deh istirahat dulu. Nanti sejam lagi baru shalat. Bagaimana mungkin anak tahu shalat itu penting jika pilihannya seperti tadi. Nah kembali ke cara ortu dalam mempresentasikan shalat akan menjadi pedoman anak dalam memandang shalat ke depannya.

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ