Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , , , , , , » TABAYYUN DAN URGENSINYA BAGI AKTIFIS DAKWAH

TABAYYUN DAN URGENSINYA BAGI AKTIFIS DAKWAH

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, September 8, 2016

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Senin, 5 September 2016
Rekapan Grup Bunda
Tema : Kajian Umum
Editor : Rini Ismayanti


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya.
Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakaninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaAllah aamiin


TABAYYUN DAN URGENSINYA BAGI AKTIFIS DAKWAH

Pengertian Tabayun
Kata tabayun berasal akar kata bahasa Arab: tabayyana – yatabayyanu - tabayyunan, yang berarti at-tastabbut fil-amr wat-ta’annî fih (meneliti kebenaran sesuatu dan tidak tergesa-gesa di dalamnya). Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah.” (An-Nisâ: 94).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa tabayun berarti pemahaman atau penjelasan. Dengan demikian, tabayun adalah usaha untuk memastikan dan mencari kebenaran dari sebuah informasi sehingga isinya dapat dipertanggungjawabkan.

Syekh Muhammad Sayyid ath-Thantawi mengartikan tabayun sebagai ketidaktergesaan dan kesabaran dalam semua hal sehingga mengetahui kebenaran yang disampaikan oleh orang fasik.
Menurut al-Kafawi dalam al-Kuliyyât, tabayun merupakan salah satu tingkatan dalam penalaran. Ia menyatakan bahwa sebuah ilmu dapat mencapai otak (pemahaman) melalui beberapa tingkatan: asy-syu`ûr (rasa), al-idrâk (tahu), al-hifzh (hapal), at-tadzakkur (ingat), ar-ra’y (pendapat), at-tabayyun (tahu setelah ragu) dan al-istibshar (tahu setelah berfikir).

Tabayun dalam Nash-nash Syar`i
Kata tabayun dalam teks-teks syar`i –Alquran dan Sunnah—memiliki makna yang berdekatan dengan makna bahasa (etimologi): 
1. Tabayun dalam Alquran. Kata tabayun dan derivasinya disebutkan sebanyak kurang lebih 17 kali yang berkisar pada makna menjadi jelas dan carilah kejelasan. Hanya saja, bentuk kata yang disebutkan adalah berupa kata kerja (fi`il) bukan kata benda atau sifat. Contoh penyebutan kata tabayun dalam Alquran adalah firman Allah, “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata (tabayyana) bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqarah: 109). 
Dan firman-Nya, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan (latubayyinunnahu) isi kitab itu kepada manusia.” (Âli Imrân: 187).

2. Tabayun dalam Sunnah. Tabayun dalam Sunnah memiliki makna yang sama seperti dalam Alquran. Misalnya sabda Rasulullah saw., “

إِذَا زَنَتْ الْأَمَةُ فَتَبَيَّنَ زِنَاهَا فَلْيَجْلِدْهَا
“Jika seorang budak perempuan berzina dan terbukti (menjadi jelas) perbuatannya itu, maka cambuklah dia.” (HR. Bukhari).

Urgensi dan Keutamaan Tabayun
Tabayun merupakan salah satu sikap yang sangat penting untuk selalu dipraktekkan dalam kehidupan bermasyarakat. Banyak pertikaian dan perselisihan baik dalam skala terkecil, seperti antar dua orang individu, hingga skala terbesar, seperti peperangan global, disebabkan oleh tuduhan-tuduhan tidak benar atau pemahaman keliru dalam membaca sikap pihak lain.

Di dalam Alquran, perintah melakukan tabayun secara eksplisit dinyatakan oleh Allah di dua tempat dalam Alquran, yaitu dalam surah an-Nisâ’ ayat 94 dan surah al-Hujurât ayat 6.
1. Perintah tabayun dalam surah an-Nisâ ayat 94. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” 

Imam ath-Thabari dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah kepada kaum muslimin yang melakukan jihad di jalan Allah agar tidak tergesa-gesa dalam menyerang lawannya hingga benar-benar telah jelas dan terbukti bahwa mereka adalah orang kafir dan layak untuk diperangi. Bahkan, Allah melarang membunuh seseorang yang mengaku beriman hanya karena kaum muslimin meragukan pengakuannya tersebut. 

2. Perintah tabayun dalam surah al-Hujurât ayat 6. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” 
Dalam ayat ini Allah memerintahkan agar seseorang tidak bersegera membenarkan berita yang dibawa oleh seorang fasik hingga ia benar-benar meneliti dan mengecek kebenarannya. 
Bagi seorang dai atau aktifis dakwah sifat tabayun mutlak diperlukan agar semua tindakannya tidak terjebak pada penilaian buta dan serampangan yang hanya akan menjerumuskan dia dalam kemaksiatan yang sangat besar kepada Allah dan Rasul-Nya. Itu tidak lain karena seluruh ucapan dan tindakannya akan menjadi contoh oleh masyarakat, sehingga jika penilaiannya yang buruk dan salah itu tersebar maka ia akan menanggung seluruh beban dosa akibat perbuatannya tersebut. 
Selain urgensitas di atas, tabayun juga memiliki beberapa keutamaan lain, diantaranya adalah:

1. Menjaga jiwa dan harta manusia.
2. Petanda kematangan akal dan cara berfikir.
3. Menjaga kehormatan dan ketentraman masyarakat dari keputusan yang tergesa-gesa dan tanpa didasarkan pada studi dan penelitian.
4. Menumbuhkan rasa percaya diri.
5. Menjauhkan keraguan serta bisikan dan tipu daya setan.
6. Mengokohkan bangunan sistem amal jama`i.

Penghalang Tabayun
Meskipun begitu penting nilai tabayun dalam diri seseorang tapi masih saja kita sering menemukan kebusukan yang tercium dari mulut yang tergesa-gesa dan tidak mencermati informasi yang datang dari sumber yang bersih dan valid. Di dalam Alquran, setelah menjelaskan pentingnya bertabayun dari berita yang diterima dari orang fasik, Allah `azza wa jalla lalu memperingatkan kaum muslimin dengan berbagai sifat buruk yang diakibatkan oleh informasi sampah itu. Sikap-sikap negatif tersebut dibagi menjadi dua: sifat tercela yang diungkapkan secara terang-terangan di hadapan orang yang dicela --yaitu as-sukhriyyah (mengolok-olok) dan at-tanâbuz bil-alqâb (memanggil dengan gelar yang buruk)—dan sifat tercela yang diungkapkan di belakang orang yang dicela –yaitu sû’uz-zhann (berprasangka buruk), at-tajassus (mencari-cari kesalahan) dan al-ghîbah (menggunjing)--. 

Banyak hal yang menyebabkan seseorang tidak melakukan tabayun dan klarifikasi, diantaranya adalah sikap egois dan merasa sudah memahami berita dengan benar, sombong dan merasa lebih tinggi dari sumber klarifikasi, malas untuk mencari kebenaran dan lain sebagainya. Namun, ada sifat lain yang kadang menghalangi seseorang yang aktif dalam dunia dakwah untuk melakukan tabayun, yaitu rasa `athifiyyah (emosionalitas) terhadap sesama aktifis dakwah.

Seorang aktifis dakwah sudah barang tentu akan memiliki rasa emosionalitas yang lebih terhadap saudaranya sesama aktifis dakwah dibandingkan dengan orang lain di luar dunia dakwahnya. Meskipun hal ini sangat penting dan perlu terus ditumbuhkan hanya saja jangan sampai hal itu membuatnya menjadi buta dan menerima begitu saja semua informasi yang diterima dari saudaranya tersebut. Sikap berlebihan inilah yang tidak jarang mengakibatkan sikap tabayun itu menjadi tersisihkan bahkan kadang hilang sama sekali, sehingga ia akan menerima apapun jenis informasi yang diterima dari sesama aktifis tanpa memfilter, mengkros-cek dan menimbang lebih dalam. Namun, ini tidak berarti kita tidak perlu membedakan antara informasi yang diterima dari sesama aktifis dan informasi yang diterima dari luar. Justru, kita tetap menilai bahwa informasi dari sesama aktifis dakwah tentu memiliki nilai kepercayaan lebih tinggi, tapi hal itu tidak boleh dijadikan sebagai harga mati dan kepercayaan buta sehingga menutup pintu untuk melakukan tabayun. 

Sebagai contoh, dalam perang Hunain (8 H), Rasulullah saw. memberikan para pembesar Quraisy ghanimah yang sangat banyak tapi tidak memberi sedikit pun untuk kaum Anshar. Karena cukup kecewa dengan pembagian itu, maka mereka meminta Sa`ad bin Ubadah untuk bertanya kepada beliau. Beliau lalu berkata kepadanya, “Bagaimana sikapmu, wahai Sa`ad?” Ia menjawab, “Aku bersama mereka, wahai Rasulullah.” Lalu beliau menyuruh Sa`ad untuk mengumpulkan seluruh kaumnya. Setelah itu beliau mendatangi mereka dan berkata, “Wahai Anshar, apakah kalian tidak rela membiarkan mereka pulang dengan seluruh ghanimah itu sementara kalian pulang dengan membawa Rasulullah?” Mendengar itu mereka menangis dan menjadi rela dengan semua keputusan beliau. Dalam kisah ini, terlihat bahwa Rasulullah saw. tetap mencari informasi ke sumbernya meskipun beliau telah mendapatkan sebagian informasi itu dari Sa`ad yang merupakan salah seorang sahabat terbaiknya serta merupakan pembesar kaum Anshar dan bagian dari pihak yang merasa kecewa. Di sini, Rasulullah saw. ingin memberikan pelajaran berharga agar kita tidak tergesa-gesa dalam memberikan keputusan demi menjaga keutuhan umat.

Tabayun dalam Kerangka Dakwah
Kehidupan berdakwah merupakan sebuah wilayah interaksi yang memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan kehidupan umum dalam masyarakat. Seorang aktifis akan diikat dengan nilai dan etika tambahan yang dituntut untuk dipatuhi berkaitan dalam kerangka hak dan kewajibannya dalam gerakan itu. Baik qaid maupun jundi memiliki jalinan kuat yang saling mengisi dan melengkapi. Di dalam surah al-Hujurât, Allah SWT secara gamblang menjelaskan hubungan-hubungan itu. 

Menurut as-syahid Sayyid Qutub, nidâ’ (seruan) pertama dalam surah al-Hujurât adalah perintah untuk menjadikan qiyadah sebagi sumber petunjuk dan perintah. Kemudian, seruan kedua dalam surah itu merupakan perintah untuk mengikuti adab dan tata cara berinteraksi dengan qiyadah. Sedangkan dalam seruan ketiga, Allah ingin mengajarkan bagaimana cara menerima dan mengambil sebuah informasi, yaitu dengan berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam penerimaan info tersebut. Karena tidak semua berita datang dari sumber yang valid.

Tabayun adalah salah satu instrumen dakwah terbaik dalam menjaga persatuan dan terlaksananya amal jam’i secara utuh demi tercapainya kemakmuran umat dalam naungan ridha Allah. Oleh karena itu, memiliki sifat ini adalah sebuah keniscayaan dan keharusan bagi seorang aktifis dakwah. Dengan tabayun, kita akan diajarkan bagaimana bersikap hati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan atau menghukumi sebuah persoalan tertentu. Kita pun akan dididik untuk membiasakan meminta pendapat dan nasehat dari rekan atau qiyadah dalam kerangka menjaga keutuhan jamaah.

Selain itu, ada hal yang sangat penting yang dapat dipetik oleh aktifis dakwah jika benar-benar mempraktekkan nilai-nilai tabayun ini, yaitu ats-tsiqah bil-qiyâdah wal jamâ`ah (yakin dengan keputusan qiyadah dan jamaah) terutama dalam era keterbukaan saat ini. Informasi bisa datang dari berbagai sumber bahkan terlihat “berserakan” dimana-mana. Disinilah aktifis dakwah sejati dituntut menunjukkan kematangannya dalam tarbiyah. Seorang jundi tarbawi harus mampu mesterilisasi dan memastikan kebenaran sebuah informasi sebelum keluar dari mulut dan hatinya yang bersih yang kemudian akan dikonsumsi oleh orang lain. Jika ia mendapati sebuah berita miring tentang jamaahnya maka sikap pertama yang harus dilakukan adalah husnuzzhan, lalu diikuti dengan tabayun kepada sumber dan kanal informasi yang bersih dan terpercaya.

Seorang aktifis dakwah harus berusaha untuk bersikap tabayun dalam berbagai hal apalagi jika informasi yang ia miliki tentang permasalahan tertentu masih sepotong-sepotong dan tidak lengkap. Ini untuk menjaga keutuhan jamaah dan menjaga perjalanan dakwah hingga mencapai tujuannya. Selain itu, sikap tabayun dapat menjaga keutuhan kaum muslimin secara umum dan menjauhkan mereka dari pertikaian serta perselisihan yang hanya akan membuat tubuh umat Islam semakin lemah. Sikap tabayun sangat diperlukan terutama di masa modern saat ini yang telah berkembang di dalamnya sarana telekomunikasi dan transportasi yang menyebabkan dunia berubah menjadi sebuah desa yang kecil dengan begitu cepatnya tersebarnya sebuah informasi ke seluruh elemen masyarakat. 

Dengan demikian, tabayun merupakan salah satu sifat dan karakter penting bagi aktifis dakwah dan tarbiyah. Ia harus mampu memindahkan nilai-nilai tabayun dari ranah verbal ke ranah amalan nyata. Amal jama’i yang kita bangun bersama tidak dapat berjalan mulus bahkan mungkin dapat hancur berkeping-keping jika seorang aktifis dakwah tidak berhati-hati dan melakukan tabayun dalam semua urusannya. Pengelolaan informasi yang baik akan menciptakan struktur jamaah yang kuat dan menghasilkan pribadi-pribadi dakwah yang bersih dan saleh. Hadânallahu wa iyyakum ajma`în.

TANYA JAWAB

M13 by Ustad Cipto
Q : Bagaimana hukumnya, kalau kita difitnah orang, kemudian ketika kita tabayun, ternyata orang tsb tidak mau mendengarkan kita, padahal jelas jelas fitnahnya salah
A
: Sabar dan perkuat kesabaran...QS 3:200. Fitnah timbul jika tabayun tidak dilakukan...adapun ketika tabayun ybs tidak terima harus ada pihak lain yg membantu...
QS 49:10 bahwa sesama muslim adalah saudara dan damaikanlah antara keduanya jika terjadi perselisihan....Komunikasi perlu dilakukan...

M2 by Ustdazah Tribuana
Q :Ustadzah...klo ada orang ngobrol ke kita dan membawa berita yang belum tentu benar bagaimana kita harus bersikap? Menyetop pembicaraan atau bagaimana?
A : Menyetop dan mengalihkan, kalau tidak berhenti kita diam saja tidak usah berkomentar.

M6 by Ustad Doli
Q : Bagaimana cara kita tabayyun terhadap berita-beria yang kadang kita sendiri tidak tau ini hoax atau real? Soalnya yang menyebarkan media terpercaya,,
A : Kalau tak yakin lebih baik tak usah di anggap ada, tak usah ikut menyebarkan.

Q : Kalau pesan berantai macam broadcast gitu ustd gimana ?
A : Sama saja, yang penting substansinya apakah valid atau tidak, bisa di cek ke sumber aslinya.. kalau tak yakin, ya tak usah di anggap.

Q : ustadz, saya bukan mau bertanya tp mau mengapresiasi hehe.. terima kasih sudah menyampaikan materi ini, jadi bisa saya bagi ke teman-teman atau keluarga. Suka pusing soalnya kalo ada broadcast yang isinya belum tentu benar tapi disebarkan.
A : Intinya adalah dua
1. isi atau konten
2. sumber berita
Kalau kita ragu salah satunya, tak usah di pedulikan. Apalagi kalau kita tau sumbernya tidak kredibel, misalnya bicara kesehatan yang rumit padahal bukan seorang dokter. Bicara masalah pengetahuan tertentu padahal bukan ahlinya. Dstnya.. wallahualam

M17 by Ustadzah Neneng
Q : Bagaimana menyikapi berita-berita yang mengatasnamakan agama/umat islam? Sebagai contoh...ada wa berantai..
Mesjid al aqsa saat ini diserang. Mari kita bacakan doa dan zikir...dst. Sebarkan.
Kita tidak tahu kebenarannya tapi klo tidak kita lakukan (menyebarkannya) ada rasa bersalah.
A : Jika sumber beritanya bisa dipercaya, bisa dipertanggungjawabkan, artinya kita punya hujjah saat di buka catatan amal jempol kita kelak.

N106 by Ustadzah lillah
Q : Klo baca posting ulasan Bunda di atas rasanya mudah bertabayun,  tapi memang kenyataannya yang Bunda sebutkan bahwa arus informasi&teknologi yang semakin cepat berkontribusi dalam hal informasi,.selain itu saya(kita) juga khawatir setelah membaca berita yang kita terima & berjaga-jaga/waspada terhadap keluarga kita & orang-orang terdekat kita yang akhirnya kita cepat memforward berita itu. Yang jadi masalah di sini adalah, ketika kita konfirmasi atas berita yang kita terima kebenarannya (bertabayun) pihak tsb lama memberikan konfirmasi sehingga berita yang sidah beredar di masyarakat mungkin bervariasi. Jadi semakin rumit&kompleks, yang ada bagi saya&keluarga orang terdekat saya lebih memilih tidak memforward berita-berita yang kami terima baik dr wa, line, email, sms dll karena kekhawatiran dan fitnah. Nah klo begitu bagaimana ya???
A : Saya termasuk yang tidak berani forward baca karena khawatir bagian dari penyebaran fitnah. Maka berhati-hati insyaallah sudah benar.



M5 by Ustadzah Yeni
Q : Tabayun itu sama dengan menahan hawa nafsu/kesabarankah bun?
A : Cek dan ricek berita mbaa.. agar tidak trjadi fitnah

Q : Gimana caranya ya bun cara cek ricek agar tidak membauat orang yang ditanyain tidak tersinggung?
Kadang saya juga begitu sih..Dalam hati berpikir ini orang kepo deh Tanya-tanya masalah pribadi saya, tapi saya suka klo ditanyain langsung bukan tanya belakang saya.
A : Ada seninya emank mbaa.. dan butuh proses. Kenali karakternya. Jika tipenya g bisa diajak ngomong langsung maka kita perlu bantuan orang lain yang bisa jaga rahasia. Nanya nya jng langsung to do point.. tp dajak canda dlu.. padakt dluu baru diajak komunikasi. Trhadap saudara seaqidah maka  kita hrus cari 1001 alasan untuk kita slalu baik sangka..

Q : Jika saya mendengar suatu berita/informsi tapi hanya saya dengar asmbail lalu/ tidak dianggap, dengan alasan tidak ingin terlibat dengan hal trsebut/menganggapnya tidak penting tanpa mengecek kebenarannya, bolehkan sprti itu ustadzah??
A : Sah-sa saja sih mba.. tapi jika itu untuk kemaslahatan bersama ada baiknya kita membaantu mencari kebenarannya

Q : Bedanya kapan bersikap ngalah dan kapan bersikap tegas bun??
 A : Lihat situasi dan kondisi... karena yang paham keadaan itu kita mba. Jadi ga tergesa... jika mengalah adalah pilihan terbaik untuk banyak mengundang kebaikan maka lakukanlah. Tapiiii... jika ternyata dengan mengalah akan tambaah masalah.. maka kudu ditegasin... Ada orang klo ga dikasi tau langsung ga tau klo kita lagi jengkel karena sikapnya, oleh karena itu komunikasikan baik-baik agar tidak terjadi ketersinggungan.

Q : Saya kalau cari informasi kebenaran sering terbawa emosi, gimana ya Ustadzah cara mengatasinya?
A : Kudu diademin dulu mba hatinya. Masalah dibawa dengan emosi hasilnya bakalan ga bagus. Pertama wudhu, kemudian sempatkan sholat sunnah, selanjutnya Do'a ama Allah minta dilembutkan hati, dimudahkan lisan... dan banyak istighfar, karena dengan istghfar akan dberi kemudahan. Terakhir tawakalkan pada Allah... Sooo... yang paham kudu bisa jaga suhu hati yaaa agar ga kebawa emosi. Karena emosi ga akan bisa nyelesaikan masalah, yang ada baper dan makin laper

Q : Hhhmmm....semuanya tergantung dari cara menahan emosi ya bun..
A : Yaaa mba... dan ituuuu perlu proses... apalagi mudah emosi adalah karakter yang udah tertanam dari kecil.. jadi kudu luasin hati... lapang dada...

Q : Looo....iyakah bunn??? Tertanam sejak kecil??? Gimana bisa bun?
A : Bisa mba... setiap kita terlahir fitrah... lembaut. Jika dalam rumah lingkungan sekitar menyelesaikan sesuatu dengan marah si anak akan terekam memorynya dan akan tertanam dalam dirinya.. hingga terpatri... ooh beginilah cara ibu bapakku mnyelesaikan masalah... hati-hati sikap anak adalah cerminan orang tuanya.

Q : Bagaimana klo mengmbil sikap diam saja bun...karena khawatir salah ucap dan sikap, Boleh ya bun begitu?

A : Yup.. diam adalah emas... tapi ga selamanya diam mampu mnyelesaikan masalah. Harus liat-liat lagi.  Ada kadang masalah bisa berlalu seiring waktu tapi ada pula yang harus diselesaikan... lagi-lagi kita yang pandai melihat situasi dan kondisinya dilapangan

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment