Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , » Membangun Taqwa dengan Jiwa dan Raga

Membangun Taqwa dengan Jiwa dan Raga

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Friday, December 16, 2016

Rekap Kajian Link Hamba Allah Grup Bunda

Selasa, 20 September 2016
Narasumber : Ustadzah Endria Sari 
Notulen : Grup Bunda M5
Editor : Sapta



بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Diantara kita mungkin sudah faham bahwa kwajiban seorang mukmin adalah Taqwa kepada Allah. Namun tak jarang yang hanya sekedar faham istilahnya saja tetapi tak akrab dengan penerapan Taqwa dalam kehidupan sehari-harinya.

Oleh karena itu saya merasa tema kajian kali ini insyaAllah akan sangat bermanfaat setidaknya  sebagai pengingat.

Ada 4 sub bahasan yang dapat kita kaitlan dengan tema diatas, yakni :

I. Apa makna Taqwa ?
II. Mengapa Taqwa harus dibangun ?
III. Unsur pembangun Taqwa
IV.Diantara Penerapan Taqwa
 
Pokok bahasan Pertama. : Yakni tentang MAKNA Taqwa.

Takwa adalah seseorang beramal ketaatan yang diniatkan karena Allah dengan cara sebagaimana cahaya (petunjuk) yang diajarkan oleh Allah. Taqwa dilaksanakan atas dasar karena mengharap rahmat Allah serta meninggalkan maksiat karena takut akan siksa-Nya.

Taqwa kepada Allah ta'ala dibangun atas 3 landasan dasar :

1. Dari pengakuan KEIMANAN
Rasa iman terhadap Allah sebagai Robb yang telah menciptakan diri kita, sebagai Sesembahan dan juga sebagai Dzat tempat segala sesuat bergantung.

2. Dari rasa KETUNDUKAN.
Ketundukan ini terdiri dari 2 bentuk, tunduk atau taat dalam melaksanakan perintahNya dan tunduk patuh dalam *menjauhi laranganNya.
Dua dimensi ketundukan ini tidak bisa tawar. Artinya jika satu dari keduanya tidak dilaksanakan maka, tidaklah seseorang itu dikatakan telah bertaqwa kepada Allah subhanahu wata'ala.

3. Adanya RASA SYUKUR

Rasa syukur seorang kepada Allah sebagai Robb yang dia cintainya.
Atas dasar keimanan yang kuat yang ada didalam hati seseorang hamba kepada Allah, selain menghasilkan jiwa ketundukkan juga akan memunculkan jiwa syukur kepadaNya.
Rasa syukur ini juga merupakan ungkapan bahwa seseorang ingin berterimakasih kepada Allah, sehingga timbulah keinginan dirinya untuk taat dan patuh memenuhi apa yang dimintaNya untuk dilakukan dan juga taat dalam menjauhi apa yang diperintahkanNya untuk dijauhi.

Pokok bahasan Ke-2 : Mengapa Taqwa harus dibangun ?

Pertama :
Karena kedudukan Taqwa didalam Islam adalah sangat vital. Tidak akan diterima pengakuan keimanan seseorang tanpa ada Taqwa.

Kedua :
Sebagaimana firman Allah ﷻ yang sangat jelas mengisyaratkan bahwa untuk mencapai ridho Allah maka sorang mukmin harus bertaqwa terlebih dahulu.

Didalam QS. Al Hujarat ayat 13, Allah ﷻ
mengatakan bahwa, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling Taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Demikian Allah menjelaskan bahwa kemuliaan diri seseorang dimata Allah itu bukan dari rupa wajah yang menawan, harta yang berlimpah ataupun kedudukan yang mengagumkan. Tetapi dari kekuatan TAQWA nya lah menentukan kemuliaan dirinya disisi Allah subhanahu wata'ala.

Pokok bahasan Ke-3 : Unsur pembangun Taqwa

Jika kita perhatikan dari sisi diti kita sebagai manusia, maka unsur pembangun Taqwa adalah terdiri dari keseluruhan elemen yang ada pada diri kita, yakni meliputi :
*Jiwa & Raga.*

Jadi ada 2 unsur yang harus kita bangun dari diri kita dalam mewujudkan Taqwa kepada Allah subhanahu wata'ala.

Dari JIWA kita yakni dengan menanamkan dan menguatkan keimanan (keyakinan) yang sempurna kepada Allah sebagai Dzat yang Agung dan Mulia dengan meliputi seluruh Asma dan SifatNya. Kemudian juga kesabaran yang ada didalam hatinya. Sabar adalah perbuatan bathin (jiwa). Oleh karena itu sabar termasuk salah satu bentuk Taqwa yang utama.

Dan juga sikap kesyukuran, juga merupakan ibadah hati yang menunjukkan kerendahan hati dihadapan Allah dan pemgakuan atas segala nikmat adalah semata-mata dariNya.

Kemudian juga dari unsur RAGA kita yakni dengan selalu menggerakkan atau menahannya seluruh anggota tubuh kita agar selalu sesuai dengan  cahaya perunjukNya yang telah Dia ajarkan dialam Al Qur'an dan Sunnah RasulNya shalallahu 'alaihi wassalam.
 
Pokok bahasan Ke-4 : Diantara Penerapan Taqwa

Tentunya sangat banyak prilaku Taqwa yang bisa dilakukan oleh seorang Mukmin sebagai bentuk ubudiyahnya kepada Allah subhanahu wata'ala.  
Sebanyak seluruh Syariat yang telah digariskan oleh Allah ﷻ baik dalam Al Qur'an maupun didalam Hadist (Sunnah Rasulullah ﷺ).

Berikut adalah beberapa  contoh inti dari penerapan Taqwa yang insyaAllah bisa kita jadikan pengingat diri karena sangat akrab dengan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Pertama
--------
adalah Sikap Tawadhu’ adalah rendah hati, tidak sombong. Pengertian yang lebih dalam adalah kalau kita tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang lainnya. Orang yang tawadhu’ adalah orang menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah ﷻ. Yang dengan pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan potrensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap rendah diri dan selalu menjaga hati dan niat segala amal shalehnya dari segala sesuatu selain Allah. Tetap menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah. Tawadhu ialah bersikap tenang, sederhana dan sungguh-sungguh menjauhi perbuatan takabbur (sombong), ataupun sum’ah ingin diketahui orang lain amal kebaikan kita.

Kedua
-------
Qana'ah ialah menerima dengan cukup.

Qana'ah sedikitnya mengandung 5 hal :
~ Menerima dengan rela akan apa yang ada.
~ Memohonkan kepada Allah tambahan yang pantas, dengan tidak berhenti terus berusaha.
~ Menerima dengan sabar akan ketentuan Allah.
~ Bertawakal kepada Allah.
~ Serta tidak mudah tergiur oleh tipu daya dunia.
Itulah gambaran tentang sikap Qanaah, dan itulah kekayaan yang sebenarnya.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda yang artinya :

“Bukanlah kekayaan itu lantaran banyak harta,, kekayaan ialah kekayaan jiwa”. (Al Hadist).

Diri yang kenyang dengan apa yang ada, tidak timbul rasa rakus dan cemburu terhadap apa yang dipungai oleh orang lain. Dan ia juga bukan orang yang meminta lebih terus terusan. Karena kalau masih meminta tambah, tandanya masih merasa miskin.

Ketiga
------
Wira’i berasal dari kata ‘wara’ yang artinya menjaga diri atau bertaqwa. Sehingga wira’i adalah malu berbuat maksiat kepada Allah dan manusia. Selain itu wira’i juga diartikan sebagai suatu sikap menjauhkan diri dengan hal-hal yang haram dan syubhat. Karena wira’i merupakan inti agama dan yang berada dikawasan itu merupakan pangkal kebaikan bagi para ulama yang mengamalkan ilmunya. Jikalau semangat wirai terbangun dalam kehidupan masyarakat dan bernegara, maka tidak akan terjadi tindakan-tindakan tak terpuji seperti pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, korupsi, dan lain sebagainya.

Keempat
---------
Yaqin adalah percaya. Maksudnya ialah percaya dengan sepenuh hati apa yang dikerjakan nya dan bersungguh2 untuk mendapatkan Ridha dari Allah subhanahu wata'ala.
 
Demikian materi singkat ini semoga menambah semangat kita dalam menegakkan Taqwa ada yang dapat diambil pelajaran darinya.
 وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمةاللّٰه وبركاته





TANYA - JAWAB

T : M5
apa bedanya iman dan takwa? dan bagaimana mendidik iman kita biar bertakwa & tidak naik turun?
 
J : بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
IMAN adalah pengakuan yang setidaknya mengikat 5 hal dalam jiwa seorang Mukmin, yakni :
1. Mempercayai segala yg datang dari Allah ﷻ  dengan keyakinan yang  tanpa ada rasa ragu-ragu sedikitpun.
2. Mencintai Allah ﷻ  dan Rasul-Nya melebihi dari yg lain.
3. Patuh dan tunduk kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya.
4. Selalu mendahulukan hukum-hukum Allah dalam menjalani kehidupannya.
5. Siap melakukan Amar Ma’ruf - Nahi Munkar.

Iman juga merupakan syarat diterimanya suatu ibadah seseorang.
Allah ﷻ berfirman yang artinya :
"Barangsiapa yg mengerjakan amal shaleh baik laki-laki-laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yg baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dgn pahala yg lbh baik dari apa yg telah mereka kerjakan.”

Sedangkan TAQWA adalah sebagaimana yang telah dipaparkan dalam materi, merupakan perbuatan ketaatan yang diniatkan oleh seseorang karena Allah dengan mengikuti  petunjuk yang diajarkan oleh Allah (syariat Islam). Taqwa dilaksanakan atas dasar karena mengharap rahmat Allah serta meninggalkan maksiat karena takut akan siksa-Nya.
Demikian semoga sudah cukup jelas.
 وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب
 
T : M21
Mau tanya, di materi tertuliskan: "tidak akan diterima pengakuan keimanan seseorang tanpa adanya taqwa".
Kalau saya tidak salah menangkapnya, taqwa sebagai dasar/fundamen. Sedangkan pd ayat 2:183, orang beriman berpuasa agar bertaqwa (taqwa sbg tujuan), mohon penjelasannya atas kebingungan saya yang masih awam ini.

J : بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Seorang yang telah berniat melaksanakan shiam (puasa), pasti didalam hatinya telah memiliki iman. Sedangkan seruan Shiam di bulan Ramadhan tidak hanya berlaku bagi umat Islam saja. Sebelumnya syariat ini juga telah Allah perintahkan pada kaum-kaum sebelumnya. Agar apa ? Allah ajarkan ibadah Shaum ini agar seseorang yang telah beriman kepadaNya, memiliki jiwa taqwa yang semakin kuat. Karena sebagaimana kita ketahui bagaimana suasana bulan Ramadhan itu yang begitu mudah kita untuk melaksanakan ibadah-ibadah yang lain selain shiam itu sendiri, tentu ini adalah proses pembelajaran seorang hamba untuk menjadi bertambah matang ketaqwaannya kepada Allah subhanahu wata'ala.
 وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب
 
T : Bagaimana cara kita mengetahui bahwa Allah meridhai tindakan kita atau tidak..? Bagaimana caranya mengukur derajat ketakwaan kita..apakah itu hak prerogatif Allah saja ?

J : بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Kalau mengetahui secara persis mungkin tidak ada 1 makhlukpun yang mengetahuinya. Akan tetapi banyak indikasi yang dapat menjadi ukuran kita, yang mana tentu ukuran itu harus kita ambil dari dalil-dalil yang telah menjadi petunjuk Allah kepada kuta melalui Rasulullah ﷺ .

Jadi yang jelas jika kita ingin mengetahui apakah Allah ridho pada amal perbuatan kita, ataukah kita ingin tahu apakah amal kita ditrima oleh Allah atau tidak. Ada 2 syarat diterimanya suatu amal :

Ikhlas karena Allah. Mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’).
Jika salah satu syarat saja yang terpenuhi, maka amalan ibadah menjadi tertolak. Berikut kami sampaikan bukti-buktinya dari Al Qur’an, As Sunnah, dan Perkataan Sahabat.

Dalil dari dua syarat di atas disebutkan sekaligus dalam firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“.” (QS. Al Kahfi: 110)

Setelah kita memenuhi 2 syarat tersebut, kita harus yakin bahwa InsyaAllah amal ibadah kita diterima oleh Allah. Dan diri kita diridhoiNya.
Bagaimana dengan suatu perbuatan yang mungkin tidak terkait dengan ibadah murni, seperti sholat, puasa dll.
Sama saja kembali pada niat kita. Untuk apa kita lakukan dan untuk siapa kita kerjakan amal perbuatan itu. Tidak masalah kalaupun perbuatan atau prilaku atau suatu keputusan kita ambil dalam urusan dunia sekalipun, jika kita sudah niatkan karena Allah dan kita tujukan untuk mengharap ridhoNya, maka perbuatan itu insyaAllah akan diterima dan diridhoiNya.

Oleh karena itu, rajinlah kita berkomunikasi dengan Allah, dalam urusan apapun. Mengadulah kepadaNya, mintalah petujukNya dan mohonlah ridhoNya dalam setiap langkah dan pikir kita agar hidup kita selalu dalam keadaan beribadah kepadaNya sebagaimana tujuan Allah menciptakan diri kita.

Perhatikan hadist dan firman Allah ta'ala terkait penjelasan diatas.
Hadist Rasulullah ﷺ :

“Sungguh Allah malu untuk mengembalikan tangan yang dipanjatkan kepadanya dalam kondisi kosong”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Artinya begitu besar penghargaan Allah kepada setiap hambaNya mau berkomunikasi dengan Allah dalam bentuk doa.

Sedangkan Firman Allah :

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Adzariyat : 56)

Dengan melakukan komunikasi yang intensif, artinya, kita banyak bermunajad (berdoa) kepada Allah maka hati kita akan hidup karena selalu dalam keadaan dzikrullah (mengingat Allah).

Dalam kondisi hati yang selalu terjaga untuk mengingat Allah sangat memungkinkan pemilik hati berada dalam keadaan sedang beribadah kepada Allah. Apapun yang ia lakukan pastinya akan menjadi amal yang terbaik karena dirinya selalu merasa diawasi oleh Allah dan selalu menjaga hubungan kedekatan denganNya.

Adapun untuk mengukur tingkat ketaqwaan, kita bisa merasakan sendiri sejauh mana diri kita selalu mendahulukan hukum-hukum Allah daripada urusan kepentingan dunia.

Misal :

• Dalam berbisnis, sudahkan kita menjaga syariatNya dengan menjauhi sistem ribawi atau perbuatan lain yang melanggar syariat Islam.
• Dalam menetapkan pola didik kepada anak-anak kita. Sudahkah kita mengarahkan mereka agar mereka selalu mengutamakan kesuksesan urusan persispan kehidupan akhiratnya, ataukah kita justru menekankan kesuksesan ukuran duniawinya.
• Dalam sistem pergaulan, apakah kita sudah lebih nyaman berada ditengah-tengah lingkungan teman yang Agamis. Ataukah kita lebih sering berada ditengah-tengah teman yang jauh dari orientasi akhiratnya.
• dst.

Semua bisa kita mulai cermati dari apa yang sudah kita jalani.
Ketika dari setiap aspek kehidupan kita sudah kira arahkan pada memenuhi tuntunan Islam maka insyaAllah kwalitas taqwa kita sudah baik. Hanya masalah nilai dan kwalitas ketaqwaan harus selalu kita berusaha tingkatkan dari waktu ke waktu dengan menuntut ilmu Syar'i dan mengamalkannya.

 وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب
 
T : M15
jazakillah khair atas materi yang telah disampaikan. Ada sesuatu yang mengganjal dihati saya. SAya dilahirkn dari keluarga non muslim, telah saya yakini islam agama saya dan saya menjalankan semua perintah Allah. Tapi apakah ketika saya sendiri bertaqwa kepada Allah sedangkan keluarga saya yang lain belum beriman kepada Allah, sebagamana dalam surah AlHujurat dikatakan orang yang paling mulia disisi kamu adalah orang yang paling taqwa. Apakah saya bisa dikatakan manusia bertaqwa, bertaqwa kepada Allah, sedangkan keluarga yang lain belum mendapatkan hidayahnya?

J : بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Ukhti penanya yang semoga Allah menambah terus hidayahNya kepada anti, dan juga kepada seluruh jama'ah HA ini.
Allah subhanahu wata'ala berfirman :

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (QS : Al Imran 139)

Ketika kita sudah beriman kepada Allah maka kita tidak perlu bersedih, karena kita telah mendapat jaminanNya. Adapun terkait keadaan keluarga yang belum beriman, sudah seharusnya kita mendakwahi mereka dengan berbagai cara yang baik dan mengundang simpati. Selain itu gunakan senjata kita sebagai seorang Mukmin yakni Doa. Doakan keluarga agar segera diberi hidayah oleh Allah subhanahu wata'ala, agar kita bisa kembali berkumpul dengan mereka di akhirat kelak.

Pesan khusus saya agar Ukhti penanya tidak terlalu gelisah dan bersedih hati, karena hidayah itu benar2 hak Allah kepada siapa yang ingi Dia bagikan. Jangan patah semangat dalam berdakwah juga jangan kendor dalam terus meningkatkan iman kepada Allah serta beribadah kepadaNya dengan melakukan berbagai amal sholih.

وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ
 
T : M3
Ustadzah nanya, kalau saya baca diatas, untuk menjadi pribadi taqwa emang sangat sulit sehingga menjadikan kita harus banyak instrospeksi diri. Ada beberapa penerapan taqwa diantara " tawadu" tdk sombong, rendah hati. Sekarang jamannya share posting di wa, apapun bisa kita lakukan dengan mudah untuk mencapai apa yang kita mau. Bagaimana caranya kita memposting di media supaya kita tetap menjadi pribadi yang tawadu', karena tidak bisa kita pungkiri bahwa kita memposting sesuatu di medsos pasti punya tujuan  walau sifatnya baik, misal untuk mengingatkan seseorang/ banyak orang supaya dengan postingan tersebut kita bisa menjadi lebih baik. Apakah hal tersebut  termasuk sikap "tdk tawadu'" dan bagaimana cara posting yang baik bila yang saya contohkan termasuk salah, sehingga kita bisa menjadi pribadi yang tawadu'?. syukron Ustadzah

J : بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Taqwa tidak tidak bisa dibilang sulit ataupun mudah. Karena tergantung keimanan kita. Semakin kuat iman atau keyakinan serta cinta kita kepada Allah subhanahu wata'ala maka ringan kita melaksanakan Taqwa. Karena iman membuat kita memiliki kecenderungan melakukan hal apa saja yang bisa mendatangkan ridho Allah. Apapun kita lakukan asal Allah ridho. Kebahagiaan kita ketika kita melakukan amal ibadah atau perbuatan kebajikan Kemudian Allah ridho atas amal kita tersebut.
Terkait komitment untuk menjadi pribadi tawadhu' maka semua harus kembali pada niat yang ada dihati kita.

Lakukan apa saja yang kita yakini tujuan kita adalah mengharap ridhoNya Allah. Dan juga tahan diri kita dari seuatu perbuatan apapun itu jika kita tahu hal tersebut akan mengundang murka Allah.
Jadi ukuran segala perbuatan kita harusnya karena Allah. Jika kita sudah lurus melakukan sesuatu karena Allah, maka lakukan dengan istiqomah hingga selesai. Tak perlu kita berfikit apa kata orang lain atau berfikir ini kita riya' atau tidak.
Melakukan sesuatu ataupun menahan diri untuk tidak melalukannya karena Allah itu lah yang disebut ikhlas. Perbuatan ikhlas inilah yang harus dihiasi dengan rasa rendah hati dan semangat ingin menyembunyikan amal untuk menjaga diri dari pujian atau penilaian orang lain yang dapat menggoyahkan keikhlasan kita.
 وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

T : M9
Mengenai Qonaah, ini contoh saja bun, apabila baju kita sudah ada yang sobek..djahit..sobek.. djahit lagi. Apakah ini salah satu ciri qonaah bun? Sedangkan bila kita paksakan sebenarnya kita bisa membeli baju lagi..

J : بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Qona'ah lebih pada pengertian kuta merasa cukup atas rizki yang Allah berikan. Sedangkan ketika Allah berikan kita kelapangan rizki Allah perintahkan untuk mensyiarkan karuniaNya itu.

Maksudnya ...
Jika kita diberi kemampuan rizki untuk membeli suatu barang yang lebih bagus, maka belilah. Jangan kita sembunyikan karunia Allah hingga orang lain melihat diri kita tidak layak.
Demikian kira-kita ukhti.
 وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

T : M 20
A. assalamualaikum bunda apa peranan iman dan taqwa dalam menjawab problema dan tantangan kehidupan modern?
 
J : بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Peran iman dan taqwa dalam menjawab kehidupan modern seperti saat ini dan bahkan sepanjang zaman nanti adalah sangat menentukan. Bahkan bisa dikatakan segala problema sepanjang zaman akan terselesaikan dengan kembalinya seseorang dalam sistem kehidupan pribadi (maupun masyarat dan hingga bernegaranya) kepada perbaikan bangungan imannya kepada Allah serta jiwa taqwa yang sempurna.
Hal ini sebagiamana firman Allah dalam banyak ayat dari Al Qur'an, diantaranya adalah :

Dan juga didalam surat Al Lail  ayat 5 s/d 7 Allah ﷻ menegaskan akan memberikan jalan yang mudah di akhirat kelak kepada siapa saja yang bertaqwa kepadaNya, firmanNya :
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.
Di surat At Thalak ayat  2 dan 3 yang disebutkan yang artinya :

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya...

Dan juga Hadist Rasulullah ﷺ berikut :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ خَيْرُ مَالِ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ الْغَنَمُ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنْ الْفِتَنِ.

Dari Abu Sa'id al-Khudri, ia berkata: aku mendengar Nabi saw. bersabda:

Akan datang suatu zaman bagi manusia, yang ketika itu sebaik-baik harta seorang muslim adalah kambing yang ia gembalakan di puncak-puncak gunung dan tempat-tempat turunnya hujan, ia lari menyelamatkan agamanya dari fitnah (krisis agama).

Diantara pesan yang dapat kita tangkap dari hadist tersebut diatas adalah :

1. Rasulullah mengabarkan bahwa akan datang zaman dimana karena terlalu banyaknya fitnah (ujian), orang yang baik akan terus memegang Agamanya, mempertahankan keimanannya dan menjaga taqwanya kepada Allah.
2. Dianjurkan, jika sampai berada di zaman ini, dimana fitnah merajalela dan sudah tidak bisa menyelamatkan Agama, maka kita harus pindah dari lingkungan yang buruk, mencari tempat atau lingkungan yang bisa menyelamatkan Agamanya, walaupun harus hidup menyendiri.
3. Agama merupakan kebutuhan primer dan harus dijadikan nomer satu di skala prioritas setiap Muslim. Artinya iman dan taqwa harus menjadi urusan yang selalu menjadi perhatian sepanjang kehidupan kita.
Demikian bunda. وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب


T : B.  Ustadzah apakah perbedaan antara taqwa dan tawakal dalam kehidupan sehari2x ?
 
J : بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Taqwa itu lebih pada pengertian Taat kepada Aturan Agama dalam kondisi apapun, menegakkan hukum Allah dalam menjalani kehidupan.
Sedangkan Tawakal adalah berserah diri kepada Allah atas keadaan yang kita sedang alami, namun penyerahan diri ini harus tetap diiringi dengan usaha dan doa kepadaNya secara terus menerus. Ketika hasil seauai atau lebih dari yang kita harapkan maka kita syukuri. Dan jika tidak sesuai harapan kita harus sabar dan tetap berbaik sangka kepad Allah. Karena doa kita pasti dikabulkan hanya berupa yang lain yang lebih baik, atau akan diberikan pada saat (waktu) yang lebih tepat.
 وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

T :C. Apakah ciri2 atau tanda orang bertaqwa?

J :بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Ciri orang yang bertaqwa yang paling mudah dikenali adalah pada kehati-hatianya dalam melangkah. Ia akan melangkah ketika sudah yakin bahwa jalan yang akan diambil adalah tidak bertentangan dengan Syariat Islam.
 وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

T : D.  Bagaimana keterkaitan antara sikap ridha terhadap allah dengan qona'ah ?

J : بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Sikap ridho kepada Allah ada pada keihlasan hati seseorang saat memenuhi segala perintahNya.
Sedangkan Qona'ah, ridho atas ketetapan Allah berapapun yang diterimanya ia senang menerima dan bersyukur kepadaNya.
Dan juga didalam surat Al Lail  ayat 5 s/d 7 Allah ﷻ menegaskan akan memberikan jalan yang mudah di akhirat kelak kepada siapa saja yang bertaqwa kepadaNya, firmanNya :
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.
Di surat At Thalak ayat  2 dan 3 yang disebutkan yang artinya :
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya...
وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

T : M 20
Barkallah ilmunya  usadtzah, tanda-tanda apa yang timbul pada diri kita bila Allah telah ridha pada kita, syukron ustadzah

J : بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
1. Allah berikan kesadaran dan kemudahan dalam beragama.
"Allah memberikan dunia pada yang Dia cintai dan yang Dia benci . Tetapi Dia tidak memberikan (kesadaran ber) agama, kecuali kepada yang Dia Cintai. Maka barang siapa diberikan (kesadaran ber) agama oleh Allah, berarti ia dicintai olehNya” ( HR. Imam Ahmad, Al Hakim dan Al Baihaqi).
2. Allah berikan kelembutan pada hati kita.
Dia akan menjadikan hambaNya sosok yang tenang, pribadi yang tidak emosional dan mudah bergejolak hanya karena hal-hal sepele.
” Jika Allah menginginkan kebaikan penghuni satu rumah, maka Dia masukkan kelembutan” (HR. Imam Ahmad, Al Hakim dan At Tarmidzi).
3. Ketika kita melakukan kesalahan maka langsung Allah segerakan balasannya
“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi).
4. Allah berikan ujian.
Sabda Rasulullah ﷺ yang artinya :
“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah). Ujian ini bisa kekurangan harta, ketakutan, kelaparan, ataupun penyakit.
5. Menjelang akhir hidupnya melakukan kebaikan.
Rasulullah ﷺ  bersabda yang artinya :
"Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memaniskannya”
Sahabat bertanya : ” Apa itu memaniskannya ya Rasulullah? ”
Ia berkata : ” Dia akan memberi ia petunjuk untuk melakukan kebaikan saat menjelang ajalnya, sehingga tetangga akan meridhainya-atau ia berkata- orang sekelilingnya” (HR. Al Hakim)
 وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

T : M16
Apakah dalam taqwa juga ada tingkatan atau derajatnya? Misal, rendah-tinggi.

J : بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Ya tentu. Karena kwalitas ibadah setiap orang berbeda-beda tingkatnya. Artinya setiap hamba Allah yang melakukan suatu ibadah kepadaNya akan mendapat penilaian yang bisa jadi akan berbada satu dengan yang lainnya. Hal yang akan jelas menjadi sebab pembeda disini adalah Kwalitas Iman yang ada didalam hatinya dan Niat yang mereka panjatkan. Selain itu kondisi berat ringannya si hamba melakukan ibadah tersebut.

Misal :
Seseorang yang memiliki kekayakan mencapai milyaran rupiah bersedekah 1 juta rupiah. Bisa jadi tidak lebih utama dibanding seorang yang bersedekah 10rb rupiah, tetapi hanya itulah harta yang dimilikinya yang kemudian dia niatkan untuk sedekah.

Kemudian juga seorang yang untuk mencapai masjid agar bisa mengikuti sholat berjama'ah dengan menempuh puluhan kilo meter karena disekitarnya tidak ada masjid, tentu lebih utama kwalitas taqwanya dibanding mereka yang hanya beberapa langkah saja untuk mencapaj masjid.
وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

T : M4
Assalamualaikum ustadzah, mau bertanya, seseorang yang mendapat pujian itu rata-rata merasa bangga dan tersanjung itu termasuk sombong atau bagaimana ya?
 
J : وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
ya sebaiknya tidak bersikap seperti itu. Karena bagaimanapun jika ada rasa berbangga diri atas suatu hal apapun hal ini tidak dibenarkan oleh Agama. Lebih tepatnya ketika mendapat ujian fokus pada membangun komunikasi dengan Allah agar justru tidak disibukkan dengan penilaian orang lain.
 وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

T : M3
Bismillah mau tanya bagaimana cara menanamkan iman dan taqwa dalam diri anak-anak?
 
J : بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Menanamkan taqwa kepada anak dapat dilakukan dengan berbagai cara yang baik, diantaranya :
1. Ikhlas dan sabar.
2. Beri contoh dengan benar, keteladan kedua orangtua sangat penting.
3. Istiqomah. Tidak mudah putus asa dalam membimbing.
4. Doa, jangan lupakan doa yang terus kita panjatkan kepada Allah agar Dia memberikan hidayah kepada anak-anak kita sedini mungkin.
5. Biasakan anak memahami Agama dari sejak dininya.
6. Ajarkan mereka untuk mencintai ilmu Agama dan bimbinglah dalam penerapannya.
7. Sering ajak anak berdiskusi tentang banyak hal terkait ajaran Agama. Hal ini akan mengasah kecerdasan anak kita dan juga menambah wawasan kesislamannya yang InsyaAllah pasti akan sangat bermanfaat kelak ketika dia dewasa.
8. Kedua orang tua harus kompak dalam menerapkan pola didik kepada anaknya khususnya dalam memberi pendidikan Agama.
9. Jauhkan anak dari fasilitas yang membuat mereka sibuk sendiri dengan dunianya dan acuh terhadap urusan Agamanya.
10. Carikan mereka pergaulan yang bisa membantu mereka untuk mewujudkan ketaatan kepada Allah subhanahu wata'ala dan jauhkan mereka dari pergaulan yang membuat mereka jauh dan lalai dari Agamanya.
 وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب
 

Alhamdulillah...kajian hari ini telah selsai, Jazaakumullah khayran katsiran.
Dan marilah kita sejenak berdoa sebagai penutup keberkahan kajian kita hari ini dengan membaca lafaz syukur...

Hamdalah الْحمد لّله رب الْعالميْن
Istighfar أسْتغْفر الّله الْعظيْم
 
Doa kafaratul majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
 امين يا رب العالمين

جزاكم الله خيرا كثيرا

والسلام عليكم ورحمةاللّٰه وبركاته

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment