Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

SYUKUR DAN SABAR (1)

Rekap Kajian Online Hamba ALLAH SWT M6 
Kamis 6 Oktober 2016 / 5 muharram 1438 H
Narasumber : Ustadzah Pipit
Admin : Syahriana , Rini ,Nining
Notulen : Nining
Editor : Sapta

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْمِ اللهِ الرّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ  عَلىَ اَشْرَفِ اْللأَنْبِياَءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِناَ وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ, اَمَّا بَعْدُ

*MEMAHAMI HAKIKAT SYUKUR*

Kata syukur bahasa berasal dari kata”syakara” yang berarti membuka, sebagai lawan dari kata kafara (kufur) yang berarti menutup. Sedangkan menurut istilah syara’ syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang dikaruniakan Allah yang disertai dengan ketundukan kepadanya dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Allah.

Imam al-Qusyairi mengatakan, ”hakikat syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang telah diberikan Allah yang di buktikan dengan ketundukan kepada-Nya. Jadi, syukur itu adalah mempergunakan nikmat Allah menurut kehendak Allah sebagai pemberi nikmat. Karena itu, dapat dikatakan bahwa syukur yang sebenarnya adalah mengungkapkan pujian kepada Allah dengan lisan, mengakui dengan hati akan nikmat Allah, dan mempergunakan nikmat itu sesuai dengan kehendak Allah.”

Imam Al-Ghazali mengatakan syukur ada tiga perkara;

🔹Pertama, pengetahuan tentang nikmat, bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah dan Allah-lah yang memberikan nikmat pengetahuan itu kepada orang yang dikehendaki-Nya. Adapun yang lain hanya perantara untuk sampainya nikmat itu.

🔹Kedua, sikap jiwa yang tetap dan tidak berubah sebagai buah dari pengetahuannya yang mendorong untuk selalu senang dan mencintai yang memberi nikmat dalam bentuk kepatuhan kepada perintah Allah.

🔹Ketiga, menghindari perbuatan maksiat kepada Allah. Sikap yang demikian itu hanya terjadi kalau seseorang telah mengenal kebijaksanaan Allah dalam menciptakan seluruh makhluk-Nya.

Senada dengan imam Al-Qusyairi dan Imam Al-Ghazali, Ibnu Qudamah berkata ”syukur itu dapat terjadi dengan lisan, hati, dan perbuatan”. Bersyukur dengan hati adalah keinginan untuk selalu berbuat kebaikan. Bersyukur dengan lidah ialah mewujudkan rasa terima kasih kepada Allah melalui ucapan dalam bentuk pujian kepada-Nya. Bersyukur dengan perbuatan adalah mempergunakan nikmat Allah menurut kehendak Allah yang memberikan nikmat itu sendiri.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menyebutkan bahwa hakikat syukur adalah mengakui nikmat Allah karena Dialah pemilik karunia dan pemberian sehingga hati mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah SWT. Kemudian anggota badannya tunduk kepada pemberi nikmat itu. Yang disebut tunduk adalah mentaati dan patuh karena seseorang tidak disebut tunduk, kecuali jika dia mentaati perintah Allah dan patuh kepada syari’at-Nya. Dengan demikian syukur merupakan pekerjaan hati dan anggota badan.

IMAM Al-Ghazali menjelaskan bahwa cara bersyukur kepada Allah SWT terdiri dari empat komponen, yaitu:

1. Syukur dengan Hati.
Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah,” (QS. An-Nahl:53
Syukur dengan hati dapat mengantar seseorang untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini akan melahirkan betapa besarnya kemurahan dan kasih sayang Allah sehingga terucap kalimat tsana’ (pujian) kepada-Nya.

2. Syukur dengan Lisan.
Ketika hati seseorang sangat yakin bahwa segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari Allah, maka spontan ia akan mengucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi Allah). Karenanya, apabila ia memperoleh nikmat dari seseorang, lisannya tetap memuji Allah. Sebab ia yakin dan sadar bahwa orang tersebut hanyalah perantara yang Allah kehendaki untuk “menyampaikan” nikmat itu kepadanya.
“Al” pada kalimat “Alhamdulillah” berfungsi sebagi “istighraq” yang mengandung arti keseluruhan. Sehingga kata alhamdulillah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah S.W.T, bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya. Oleh karena itu, kita harus mengembalikan segala pujian kepada Allah. Pada saat kita memuji seseorang karena kebaikannya, hakikat pujian tersebut harus ditujukan kepada Allah S.W.T. Sebab, Allah adalah Pemilik Segala Kebaikan.

3. Syukur dengan Perbuatan.
Syukur dengan perbuatan mengandung arti bahwa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan yang diridhoi-Nya. Misalnya untuk beribadah kepada Allah, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya. Nikmat Allah harus kita pergunakan secara proporsional dan tidak berlebihan untuk berbuat kebaikan.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa Allah sangat senang melihat nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah senang melihat atsar (bekas/wujud) nikmat-Nya pada hamba-Nya,” (HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr).
Maksud dari hadits diatas adalah bahwa Allah menyukai hamba yang menampakkan dan mengakui segala nikmat yang dianugerahkan kepadanya. Misalnya: Orang yang kaya hendaknya membagi hartanya untuk zakat, sedekah dan sejenisnya. Orang yang berilmu membagi ilmunya dengan mengajarkannya kepada sesama manusia, memberi nasihat, dsb. Maksud membagi diatas bukanlah untuk pamer, namun sebagai wujud syukur yang didasaari karena-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur),” (QS. Adh-Dhuha: 11).

4. Menjaga Nikmat dari Kerusakan.
Ketika nikmat dan karunia didapatkan, cobalah untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Setelah itu, usahakan untuk menjaga nikmat itu dari kerusakan. Misalnya: Ketika kita dianugerahi nikmat kesehatan, kewajiban kita adalah menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar agar terhindar dari sakit. Demikian pula dengan halnya dengan nikmat iman dan Islam, kita wajib menjaganya dari “kepunahan” yang disebabkan pengingkaran, pemurtadan dan lemahnya iman.
Untuk itu, kita harus senantiasa memupuk iman dan Islam kita dengan shalat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis-majelis taklim, berdzikir dan berdoa. Kita pun harus membentengi diri dari perbuatan yang merusak iman seperti munafik, ingkar dan kemungkaran.
Intinya setiap nikmat yang Allah berikan harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Allah S.W.T menjanjikan akan menambah nikmat jika kita pandai bersyukur, seperti pada firmannya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU), sungguh adzab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7)


TANYA - JAWAB

T : Bunda, mengucap syukur dalam lisan dan perbuatan, termasuk saat susah atau sedang musibah ya Bunda?
J : Benar Bunda, bahkan kalaupun kesusahannya berat sekali kita masih diberi peluang utk mendapat kekuatan dari syukur dan sabar, "Dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu..."

T : Bunda, mohon tipsnya menghadapi kenyataan ysng jauh dari harapan kita. Selalu bersyukur saat susah dan bahagia?
J : Allah berfirman "Bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik untukmu, dan kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik untukmu. Allah mengetahui sedang kalian tidak mengetahui"
Langkah awal utk hadapi kenyataan yg jauh dari harapan adlh meyakini firman Allah tersebut Bund. Sudah banyak contoh kejadian hikmah dibalik kesulitan. Bukankah harapan adalah sesuatu yg masih merupakan prediksi kita belum yang tentu baik endingnya.
Yakin bahwa Allah punya skenario yg baik sesuai prasangka dan amalan kita. Yakin bahwa kita juga akan kuat menghadapi harapan yg tak terlaksana. In sya Allah hati kita akan terasa lebih tenang.

T : Bu ustadzah, bagaimana menjaga hati dan lisan agar selalu dapat bersyukur? Apakah dengan mengatakan 'jaman sekarang harga-harga semakin mahal, padahal pendapatan cuma segitu-gitu aja/sedikit, itu hal tersebut termasuk orang yang kufur nikmat?
J : Syukur nikmat bukan berarti tidak kritis melihat fenomena. Syukur atas nikmat Allah diwujudkan dengan perkataan yg baik (tidak mencela rizki Allah) tapi evaluasi kinerja pemerintah ya tidak apa2.
Diwujudkan dengan qalbun saliim (hati yg selamat, damai, tenang) tidak iri/kesal dengan rizki atau kebaikan saudara muslim yg lain.
Diwujudkan dengan amal ibadah habluminallah dan amal perbuatan habluminannaas yang baik.

T : Tanya bunda, pengucapan Alhamdulillah itu harus keras diucapkan atau bisa diucapkan dalam hati?
J : Boleh kedua-duanya. Ucapan syukur dalam hati bisa diucapkan setiap saat dalam  kesendirian/ keramaian. Ucapan syukur di lisan bisa diucapkan sebagai bentuk tahaduts binnikmat (menampakkan syukur atas nikmat Allah). Seperti yg ada di QS. Ad-Dhuha ayat pamungkas "Wa amma binikmati rabbika fahaddits"



Mari kita tutup kajian kita pada malam ini dengan membaca
Doa  bersama-sama

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ
أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ
أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ

Doa Kafaratul majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك َ

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

إِنْ شَاءَ الله  
kebersamaan kita malam ini bermanfaat dan barokah.

أٰمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن


و‌َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ