Ketik Materi yang anda cari !!

Home » , » Fase Pertumbuhan Anak Menurut Islam

Fase Pertumbuhan Anak Menurut Islam

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, January 12, 2017

 Image result for image fase anak islam
Rekapan  Kajian Online Hamba Allah Grup G-1 Ummi
Selasa,10 Januari 2016
Narasumber : Ustadz Cipto
Tema : Parenting
Notulen : Fitri M1
Editor : Sapta
~~~~~~~~~~~~~~~~~

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Alhamdulillahirobbil 'Alamin
Segala puji hanya milik Allah tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan atas suri tauladan terbaik manusia yakni rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Apa kabar bunda sekalian? Semoga selalu diberikan keberlimpahan rahmat karunia dan nikmat yang banyak dari Allah Subhanahu Ta'ala.

Sebagai pembukaan Mari kita simak sama-sama di dalam al-quran allah Subhanahu Wa Ta'ala telah berfirman pada surat Al-Mu’min ayat 67 sebagai berikut :

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى مِنْ قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (٦٧)
Artinya:
"Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya)."

Fase pertumbuhan anak menurut islam, berdasar ayat ini adalah :
Masa embrio yakni masa anak dalam kandungan (mulai dari saat terjadinya union, antara sperma pria dan ovum perempuan (nutfah), kemudian berupa segumpal darah (‘alaqah) dan kemudian menjadi segumpal daging (mudgah).
Masa kanak-kanak (vital dan estetis)
Masa perkembangan (remaja)
Masa dewasa
Masa tua
Meninggal.

Perkembangan Anak Secara Psikologis

Adapun perkembangan anak secara psikologis dilihat dari segi pandangan Islam menurut seorang sarjana islam yang bernama Ali Fikry, adalah sebagai berikut :
Masa kanak-kanak adalah sejak anak itu lahir sampai umur tujuh tahun. Pada fase ini terjadi proses seperti ini :
● Anak yang telah sampai umur 40 hari, sudah dapat tersenyum dan dapat melihat.
● Sudah dapat merasa sakit, merasakan hajat biologis.
● Umur enam bulan anak telah mempunyai kemauan.
Baca Juga  Ciri Ciri dan Hukuman Orang Munafik
● Umur tujuh bulan anak mulai tumbuh giginya.
● Memasuki tahun kedua, anak mulai dapat berjalan.
● Tahun ketiga pada diri anak telah terbentuk keinginan serta kemauannya.
● Tahun keempat anak telah mulai mempunyai dzakirah (ingatan)
● Tahun ketujuh anak dapat menetapkan sesuatu menurut hukum-hukum sendiri.
Masa berbicara; mulai tahun kedelapan sampai tahun ke-14. Masa ini disebut juga periode cita-cita. Sebab pada masa ini anak menuju kearah segala sesuatu yang berhubungan erat dengan tabiat dan akalnya.
Masa akil baligh; dari umur 15 sampai 21 tahun.
Masa syabiah (edolisen); dari umur 22 sampai 26 tahun.
Masa rajullah (pemuda pertama atau dewasa); 29 sampai 35 tahun.
Masa pemuda kedua; dari umur 36 sampai 42 tahun.
Masa kuhulah; dari 43 sampai 49 tahun.
Masa umur menurun dari 50 sampai 56 tahun.
Masa kakek-kakek/nenek-nenek pertama dari 56 tahun sampai 63 tahun
Masa kakek-kakek/nenek-nenek kedua dari 64 sampai 75 tahun.
Masa haron (pikun) dari 75 sampai 91 tahun.
Masa meninggal dunia.

Secara Pedagogis, pertumbuhan anak  menurut pandangan islam. Dapat dilihat seperti yang telah dikemukakan Nabi saw sesuai sabdanya :

قل انس : قل لنبى صلعم : الغلام ىعق عنه ىوم السابع وىسمى وىحاط عنه الاذى فاذابلغ ست سنىن ادب فاذا بلغ تسع سنىن عزل فرا شه فاذا بلغ ثلاث عشرة سنة ضرب على الصلاة فاذا بلغ ست عشرسنة زوجه ابوه ثم اخذ بىده وقال: اد بتك وعلمتك وانكحتك اعوذبالله من فتنتك فى اادنىا ؤعذابك فى الاخرة.
Artinya:
“berkata anas; bersabda Nabi saw; anak itu pada hari ketujuh dari lahirnya disembilihkan aqiqah dan diberi nama serta dicukur rambutnya, kemudian setelah umur enam tahun dididik beradab, setelah Sembilan tahun dipisah tempat tidurnya, bila telah umur 13 tahun dipukul Karena meninggalkan sembahyang. Setelah umur 16 tahun dikawinkan oleh orang tuanya (ayahnya), ayhnya berjabat tangan dan mengatakan; saya telah mendidik kamu, mengajar dan mengawinkan kamu. Saya memohon kepada tuhan agar dijauhkan dari fitnahmu di dunia dan siksamu di akhirat”

Dari ayat dan hadits tadi dapat ditarik pengertian bahwa fase-fase pertumbuhan anak secara paedagogis adalah sebagai berikut :
> Fase pendidikan pada saat anak masih dalam kandungan ibu.
> Fase pendidikan secara dresser (pembiasaan) terhadap hal yang baik-baik dari sejak lahir sampai pada usia enam tahun.
> Fase anak dididik tentang adat kesusilaan yang dimulai pada saat anak mulai berumur 6 tahun.
> Fase anak dididik seksuilnya. Sehubungan dengan watak anak yang suka meniru perbuatan orang lain terutama orang tuanya. Maka pada usia sekitar 9 tahun ini anak harus dipisahkan tempat tidurnya dari orang tuanya, sebab bila hubungan seksuil ayah dan ibu sampai dilihat anak, akan membahayakan jiwanya, karena ingin menirunya.
> Fase pandidikan untuk menenangkan jiwa anak dengan mengharuskannya menjalankan shalat. Umur anak pada fase ini sekitar 13 tahun, dikenal dengan masa sturm und drag (puberteit) dimana anak mengalami kegoncangan-kegoncangan jiwa yang sangat membutuhkan pimpinan yang sangat teguh. Dengan shalat kegoncangan jiwanya itu dapat ditenangkan.
> Fase pendidikan terhadap anak yang telah mengalami kedewasaan nafsu sexuilnya. Agar tidak terjadi akses-akses yang merugikan yang berlangsung sekitar umur 16 tahun. Oleh karena menurut pandangan islam, anak yang berumur 15 tahun itu sudah dewasa, maka dalam pengendalian nafsu sexual (birahi) anak pada fase ini ditempuh dengan cara mengawinkan bagi mereka yang sudah berhasrat untuk berkeluarga dan melaksankan puasa bagi yang belum berhasrat untuk berkeluarga.

Hikmah perkawinan dan puasa disini dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam salah satu haditsnya :

يا معشر الشباب من ستطاع منكم الباءة فلىتزوج فانه اغض للبصر واحسن للفرج ومن لم ىستطع فعلىه با لصوم فا نه له وجا ء
Artinya:
“Hai para pemuda, bila kamu talah mempunyai biaya (kemampuan moral), kawinlah. Karena kawin itu dapat menenangkan pandangan mata (hati) dan lebih menjaga faraj. Dan barang siapa belum bisa kawin, maka berpuasalah, karena puasa itu mengurangi syahwat”.

> Fase pendidikan anak menurut islam pada umur dewasa (16 sampai 21 tahun). Anak pada saat ini telah lepas oleh orang tuanya dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri.

wallahu 'alam bishawab

TANYA JAWAB

T : Ustadz,mengenai MASA PEMUDA KEDUA apakah itu berlaku terhadap semua individu? Afwan, mau bertanya tentang puber kedua, apa semua laki-laki mengalaminya, dan apa itu berlaku juga buat kaum kami, kaum Hawa? Syukron
J : Yang diatas hasil telaahan dari beberapa cendekiawan muslim. Secara umum sih fase atau masa itu sekali aja, hanya ada pendekatan detail untuk memudahkan mengenali dan pembedaan masa. Secara umum berlaku pada semua orang hanya saja pada beberapa orang ada yang mengalami atau bahkan lompat. Tentang puber kedua, hanya istilah saja pada dasarnya lebih ke masalah kematangan diri dan pemikiran, tentu akan berlaku kepada semua gender, dipengaruhi oleh hormonal jg soalnya, hanya cenderungnya kaum hawa lebih stabil dan dapat menutupi dgn cukup baik dibanding kaum adam yg lebih ekspresif.

T : Ustadz, eyang uthi mau tanya, kan uthi sudah masuk masa nenek kedua, jadi selain berusaha untuk lebih istiqomah, upaya apa lagi ya yang harus ditingkatkan? nuhu
J : Nah ini sumber pengalaman yang harus kita gali sama-sama, monggo yang uthi jika ada saran-saran dan tips dari pengalaman hidup njenengan monggo.
Salah satu upaya istiqomah yang akan lebih bermakna adalah dengan berjamaah uti, karena akan ada sosial kontrol dimana tawashaubil haq dan tawasaubish shobr akan berjalan. Kalau sendirian itu ibarat domba yang terpisah dari kawanan, serigala suka yang demikian.

T : Ustadz, anak pertama saya umurnya 4 tahun. Ada aja ulahnya yang bikin saya emosi. Kalau dikasih tahu dari ngomong baik-baik sampai akhirnya kepancing emosi, tetap saja tidak nurut sama saya. Apa-apa budenya (kakak saya). Karena budenya selalu membelanya dan apa yg diinginkan dibelikan. Kalau kemauannya tidak saya turutin ngamuk-ngamuk nangisnya udah kaya di sabetin/cubit padahal gak di apa-apain. Apa yang harus saya lakukan ya, biar anak saya nurut apa yang saya bilang dan tidak menyinggung perasaan kakak saya? Saya mau tegur kakak saya juga tidak enak karena hutang budi banget sama kakak saya ( keperluan rumah tangga masih dibantu kakak saya).
J : Nah kalau yang ini butuh strategi, termasuk perlu komunikasi dengan kakaknya bunda. Saya sering mengistilahkan adalah dengan power of 3rd person (kekuatan dan peran orang ketiga) ini perlu disinergikan dengan proses dan pola pendidikan yang kita buat. Memahami kejiwaan dan psikis anak juga penting. Strategi fasilitasi perlu dilakukan dan dimainkan. Kita jangan bosan dan jangan plinplan dalam pengelolaan dan pendidikan anak. O ya juga yang paling penting adalah menganggap anak kita someone karena seringnya kita meremehkan mereka padahal dia sudah jadi seseorang maka perlu komunikasi yang baik dan menganggap keberadaannya menjadi penting.

T : Ustadz mau tanya,  peran ayah dalam mendidik anak,  (satu sisi ummu madrosatun ula) seberapa besar peran ayah?  Bagaimana jika karena kesibukan peran ayah terasa kurang dan anak berkata "aku tidak pernah dapat kasih sayang ayah". Bagaimana mengatasi anak yang demikian, merasa tidak dapat perhatian ayah?
J : Peran ayah tak kalah penting, banyak artikel yang menulis tentang peran ayah, kelak yang ditanya sebagaimana hadist tentang kepemimpinan secara umum adalah pihak laki-laki. Atau ayah dalam hal pendidikan perlu pengaturan dan pembagian peran yang signifikan dan vital, termasuk urusan jadwal bersama keluarga, istri anak dan lainnya perlu dapat alokasi. Ya kalo bisa sih ayahnya faham ini yang penting, adapun kalau tidak bisa kerjasama dengan pihak lain, kalau keluarga terdekat kakek atau paman bisa, pihak sekolah juga bisa dioptimalkan peran bapak guru dan lain-lain.

T : Tanya ustadz, saya pernah baca artikel tentang prilaku anak yang sudah besar di pengaruhi dari bagaimana sejak kecil anak diperlakukan, dalam artikel tersebut menyebutkan (kurleb nya seperti ini) bahwa anak yang sudah besar (aqil balikh) susah untuk tertib beribadah (shalat) karena sebelum usia 7 tahun anak-anak tersebut sudah diajarkan/diperintah untuk tertib ketika beribadah (shalat), nah menurut ustadz statement dalam artikel mengenai hal tersebut bagaimana? Bukankah sebaiknya mengajarkan untuk beribadah itu sejak usia dini agar terbiasa?
(Afwan jika pertanyaan terlalu panjang dan belibet bahasanya. Semoga bisa dipahami pertanyaan saya) syukron.
J : Manusia itu memang banyak pencetaknya dan pengaruh paling besar adalah pengaruh dari eksternal. Saya pribadi tidak sepakat dengan statement itu, justru pembiasaan atau pembangunan masalah kebiasaan apalagi kebiasaan baik, harus dimulai dari sejak dini. Dugaan saya kemudian yang terjadi bahwa proses pembiasaan tersebut tidak disertai dengan proses pembangunan kesadaran atau istilah orang kulon "awareness" untuk apa dia beribadah harus sampai pada tahapan penyadaran loh bukan sekedar pembiasaan. Salah satu hikmah hadist 7 tahun diajarkan sholat setelah 10 tahun tidak mau sholat ini ada rentang proses pembelajaran bukan hanya sisi kognisi atau pengetahuan saja tapi afeksi dan psikomotorik harus dapat. Jadi sambil belajar dan proses belajar sholat harus diupayakan sisi penyadaran tentang pentingnya sholat. Dan ingat kunci penting pendidikan adalah contoh atau keteladanan.
 
T : Ustadz tanya, apabila ngingetin anak tentang ibadah wajib + amaliah lain, kemudian kita kasih tahu juga akibat kalau tidak mengerjakannya ataupun lalai, yaitu neraka dapatnya. Boleh tidak ya ustadz, nakutin seperti itu? Kalau syurga tetap kita berkali-kali kita dengungkan nikmatnya, sampai anak bilang : udah tau mi. Bagaimana ustadz, boleh tidak kita nakutin seperti itu?
J : Nah ini diantara mekanisme dan proses membangun kesadaran, yang paling penting adalah bagaimana kita memahami kondisi anak, komunikasi yang baik, efektif dan efisien dengan anak harus terjalin. Mengenai dosa dan pahala tetap harus disampaikan tentu dengan dalil yang kuat serta perlu perhatikan bahasa atau metode penyampaiannya bunda perlu menyesuaikan dengan kondisi anak. Bukan berarti dengan nakutin, tapi tetap berimbang, kaidah tawazun pun harus berlaku. Allah memberi ancaman azab tapi juga Allah memberikan janji kenikmatan.

T : Bungsu boy saya alhamdulillah ustadz, kalau dirumah selalu ke masjid shalatnya, tapi pernah sekali ketahuan dia tidak jamaah. Sepedanya malah temannya yang bawa. Alhamdulillah sulung saya pas ke masjid. Jadinya tahu saat itu juga saya.
J : Anak itu juga perlu tarik ulur dlm mengelolanya, nah penting kita harus faham kapan kita narik dan kapan kita ngulu

T : Iya ustadz, kebetulan anak 2 beda kelamin, jarak 2 tahunan, kebanyakan saya nyampein nadanya lagi nahan emosi, alias gregetan.
J : Dalam buku karya sahabat saya bahasa bunda bahasa cinta ada strategi komunikasi yang keren,  "alirkan rasa" salah satu strategi komunikasi terutama dalam menghadapi anak, Pengarang Septriana Murdiani.

T : Ustadz tentang pengasuhan anak usia dewasa , bagaimna cara menjelaskan terhadap anak perempuan, ketika sang ayah ingin menikah lagi setelah istrinya meninggal, si anak terkesan marah dan takut kehilangan ayah. Syukron ustadz
J : Ini yang butuh komunikasi intensif, juga penting pendidikan tentang aqil baligh, apabila anak dewasa pendekatannya juga sudah beda, diskusi dan positioning orang tua sudah beda. Bagi anak perempuan perlu dibangun komunikasi yang halus dan berperasaan, jaminan-jaminan keamanan dan jaminan tidak kehilangan ayah penting, terkait logika selepasnya. Kalau anak laki logikanya dulu harus masuk baru poles perasaannya.

T : Afwan ustad mau tanya, kalau dari orangtuanya sendiri sudah minimalisir pemakian hp dan internet tiba-tiba ada saudara (seusia anak) datang dengan hp dan internetnya. Bagaimana cara komunikasi yang baik untuk menanggulanginya? anak-anak masih sekolah dasar, jadi ikutan nimbrung.
J : Yang penting membangun imunitas bukan bikin pagar bunda kalau pagar setinggi apapun biasanya akan dicari celah dan cara untuk melampauinya. Balik lagi pentingnya membangun awareness atau kesadaran.

T : Ada anak perempuan usia 10 th sedikit terganggu belajarnya di sekolah , dan dia lebih senang hanya dengan beberapa guru terutama yang laki-laki saja, karena memang disekolah guru-gurunya itu perhatian dan suka bercanda sama anak tersebut. Konon anak tersebut hubungan dengan ayah kurang bagus,  bahkan sering ibunya tidak boleh pergi sama ayahnya,  bareng yang lain saja bu, begitu katanya. Ditanya kenapa? Ayah nakal. Bagaimana mengatasi hal tersebut?
J : Kerjasama pihak rumah dan sekolah menjadi penting terbangun dalam membangun sinergi pendidikan pada anak. Gunakan power of 3rd person utk menguatkan pesan-pesan pendidikan yang ingin di bangun

T : Ustadz, seusia uthi kan wajar kalau ikut campur masalah pendidika cucu, atau mungkin juga terlalu over dosis istilahnya. Nah kadang-kadang ada perbedaan sudut pandang ( terutama mantu ya) Karena kalau anak uthi mereka tidak masalah. Disini seusia uthi agak sensi, jadi bagaimna menurut ustadz sebaiknya menyikapi perbedaan ini, ma'af agak panjang.
J : Baiknya jangan terlalu dalam uthi, berikan ruang anak-anak uthi mendidik anak dan biar mereka merasakan "jadi orang tua" adapun jika hendak masuk komunikasikan dan jangan maksa karena kelak mereka yang paling bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Pun kalau boleh masuk ambil peran pengisi celah yang belum dilakukan mereka, beda hasil biasanya sentuhan orangtua dengan sentuhan orangtuanya orangtua, yang penting komunikasinya ya uthi.

T : Ustadz, ijin bertanya, anak saya termasuk anak berkemampuan khusus (agak hiperaktif), sekarang kelas 5 SD, selama ini saya mendidik insyaaAllah sesuai dengan yang diajarkan di sekolah (sekolahnya di SDIT) dan berusaha sesuai dengan ilmu yang saya dapat dari pengajian. Setiap saya tanya tentang cita-cita jawabannya ingin punya iman yang kuat dan amal ibadah yang banyak, tetapi hobbynya bikin video game atau chalange di youtube. Saya coba arahkan untuk membuat video yang bertema dakwah. Pertanyaan saya setelah lulus SD nanti apakah saya harus mengarahkan ke sekolah umum/negeri atau ke SMPIT/pesantren ? Karena dari ayahnya dan eyangnya masih mengarahkan ke pendidikan umum.Terima kasih jawabannya ustad
J : Anaknya sudah diajak diskusi mau kemana? Ajak diskusi karena sudah jelang aqil baligh. Monggo direview dan timbang timbang aspek manfaat dan mudhorotnya, pada prinsipnya penetapan sekolah buat anak adalah yang bisa berpartner dengan orangtua dalam mendidik anak. Punya visi dan misi pendidikan yang sama dan ingat sekolah tidak diminta pertanggung jawaban kelak oleh Allah tentang anak-anak kita karena kita yang akan ditanya.

T : Ustadz sekarang ada peraturan masuk sekolah dasar umur 7 tahun anak saya pas lahir di bulan juli, banyak di lingkungn teman-teman saya masukin sekolah di umur 6 tahun, saya masih bimbang ustadz apakah yang terbaik karena mengingat pendidikan sekarang beda dengan pendidikn di zaman orangtuanya dulu, jazakillah jawaban dan sarannya ustadz.
J : Terkait hal ini mangga pertimbangkan kematangan dan kesiapan anak untuk bersekolah, termasuk jangan takut untuk minta pendapat ahli seperti psikolog atau dokter anak. Sekali lagi tentang sekolah adalah tahapan anak mengenal dunia nyata. Saran interaksi dengan lebih banyak orang, kalau akademis saya cenderung sering bilang (itu urusan nomer sekian)
 
T : Ustadz afwan mau tanya, ada anak tetangga nakalnya ga ketulungan. Setahu ana orangtuanya didikannya baik. Dan anak itu juga nakal dan mmberi pengaruh buruk terhadap lingkungan sekitar khususnya anak-anak. Bolehkan disarankan untuk diruqiyah secara syari ya ustadz? Karena dilihat dari segi umur masih anak-anak usia 8 tahun.  Mohon penjelasannya. Jazakalloh khoir
J : harus di definisikan nakal nya bisa jadi anak ini kategori anak bergaya belajar kinestetik dan punya energi lebih dalam beraktivitas. melakukan kenakalan karena tak ter*Fasilitasi* bisa jadi maka orang-orang disekitarnya menyebutnya "Nakal" . bisa jadi pola pengasuhan yang bisa jadi secara umum dinilai baik tapi belum tentu sesuai dengan anak (ini jd penting istilahnya sesuatu yang benar jika tidak disampaikan dengan benar akan berdampak tidak benar). Jadi ingat nabi nuh yang sholeh saja masih Allah uji dengan Kan'an putranya.. hati hati bunda sekalian diantara keluarga kita ada yang berpotensi sebagai ujian bagi hidup kita. Nabi nuh dengan putranya, nabi luth dengan istrinya, dan lain sebagainya. Dalam ruqyah sepemahaman saya adalah untuk org yang betul betul sudah tidak ada alternatif lain. dan perlu identifikasi gejala gangguan karena jin. baiknya konsultasikan dengan yang ahlinya.

T : Mau nanya saya punya keponakan tshfidz quran mulai thanawiyah kemudian tidak melanjutkan ke Aliyah tapi langsung ikut ujian kebetula dan lulus, treus masuk PTN UIN dan di terima karena atas bantuan seseorang juga karena punya kemampuan untuk tahfidz spk 20 juz. Kemudian dalam pelajaran umum sangat kurang sampai jatuh sakit, yang saya tanyakan sebaiknya di teruskan atau harus berhenti ya ustadz? kalau di tanya selalu mengeluh berat, tapi nilainya bagus.
J : tanya sama anaknya bunda karena yang melaksanakan adalah yang bersangkutan. Adapun biasanya setiap orang punya rentang waktu adaptasi nah bisa jadi ananda sedang masa adaptasi tapi tetap perlu diperhatikan aspek psikis dan fisiknya dalam menjalani aktivitasnya jgn sampai mau cari manfaat tp yg diperoleh adalah mudhorot.
Lalu adakah pertimbangan lain termasuk dari orang tuanya?
boleh cek dengan kaidah 4E
apakah yg bersangkutan Enjoy dengan aktivitas tsb?
Apakah ybs Easy mengerjakannya?
Apakah Ybs menghasilkan karya Excelent ?
Apakah Ybs memperoleh Earn (bisa berupa
maupun kebermanfaatan) dr aktivitasnya?

Kita akhiri majlis hari ini dengan membaca :  

ucap syukur : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
dan istighfar أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ
serta
Doa Kafaratul majelis

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك َ
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

[In Syaaa ALlaah]  إِنْ شَاءَ الله  
kebersamaan malam ini bermanfaat dan barokah.

أٰمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن
[aamiin yaa Rabbal 'aalamiiiin]


و‌َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment