Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

HADITS KEDUAPULUH TUJUH

Image result for image hadis 27
KAJIAN ONLINE HAMBA ALLAH GRUP UMMI M20
Admin: Zee; Co. Admin: Yudith
PJ Rekap: Fari & Maya
Rabu, 9 Desember 2015
Narsum : Ustadz Endri Nugraha
Tema : Hadist ke Dua Puluh Tujuh
Editor : Sapta
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰



عَنْ النَّوَّاسِ بنِ سَمْعَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ . [رَوَاهُ مُسْلِم] .
وَعَنْ وَابِصَةَ بْنِ مَعْبَد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : جِئْتَ تَسْألُ عَنِ الْبِرِّ قُلْتُ : نَعَمْ، قَالَ : اِسْتَفْتِ قَلْبَكَ، الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ، وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ، وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ “
[حديث حسن رويناه في مسندي الإمامين أحمد بن حنبل والدارمي بإسناد حسن]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث  :
Dari Nawwas bin Sam’an radhiallahuanhu, dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda : “Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa yang terasa mengganggu jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahui  manusia “ (Riwayat Muslim).

Dan dari Wabishah bin Ma’bad radhiallahuanhu dia berkata : Saya mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, lalu beliau bersabda : Engkau datang untuk menanyakan kebaikan? saya menjawab : Ya. Beliau bersabda : Mintalah pendapat dari hatimu, kebaikan adalah apa yang jiwa dan hati tenang karenanya, dan dosa adalah apa yang terasa mengganggu jiwa dan menimbulkan keragu-raguan dalam dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.
(Hadits hasan kami riwayatkan dari dua musnad Imam Ahmad bin Hanbal dan Ad Darimi dengan sanad yang hasan)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

  1. Tanda perbuatan dosa adalah timbulnya keragu-raguan dalam jiwa dan tidak suka kalau hal itu diketahui orang lain.
  2. Siapa yang ingin melakukan suatu perbuatan maka hendaklah dia menanyakan hal tersebut pada dirinya .
  3. Anjuran untuk berakhlak mulia karena akhlak yang mulia termasuk unsur kebaikan yang sangat besar.
  4. Hati seorang mu’min akan tenang dengan perbuatan yang halal dan gusar dengan perbuatan haram.
  5. Melihat terlebih dahulu ketetapan hukum sebelum mengambil tindakan. Ambillah yang paling dekat dengan ketakwaan dan kewara’an dalam agama.
  6. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam  ketika menyampaikan sesuatu kepada para shahabatnya selalu mempertimbangkan kondisi mereka.
  7. Perhatian Islam terhadap pendidikan sisi agama yang bersifat internal dalam hati orang beriman dan meminta keputusannya sebelum mengambil tindakan.

➰〰➰〰➰〰➰〰➰〰➰

TANYA JAWAB

T : Bismillah, bicara tentang kebaikan, dalam Al-qur'an tercantum "fastabikhunal khoirot", yang diterjemahannya, “berlomba-lomba lah dalam kebaikan”. Ada yang mengatakan terjemahan ini tidak tepat, yang lebih tepatnya adalah, “berlomba menciptakan kebaikan”. Mana yang benar ustadz adakah pergeseran makna dari perbedaan dua terjemahan tersebut ?
J :ukhti Nur Wachidah, ayatnya berbunyi,
"... Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu ..." (Al Maaidah : 48).

Kebaikan yang sudah ada dijalankan dan berlomba menjadi yang terbaik. Kebaikan yang belum muncul, dimunculkan dan berani menjadi pemula. Jadi kedua arti benar semua

T : Assalamualaikum, ijin bertanya pa ustadz, bagaimana jika kita berada dalam posisi ditengah-tengah teman kita yang sedang bermasalah, apakah berdosa jika tidak ikut mendamaikan? persoalannya kita tidak berani memberi solusi karena keterbatasan informasi yang kita punya jadinya takut salah dan jadi memperkeruh. Tapi sekarang hubungan dengan teman tetap baik cuma ada beda karena masalah ini, mohon pencerahannya ustadz, wassalamualaikum.
J : @ ukhti Maryati :
  1. Berdiam diri dalam arti tidak mau tahu, itu adalah tindakan yang salah.
  2. Minimal yang bisa kita lakukan adalah mendengarkan curhatan keduanya tanpa memberikan komentar. Karena dengan curhat, hati mereka bisa lega dan bisa sedikit mengurai masalah.
  3. Amanah dalam menjaga rahasia keduanya setelah mereka curhat. Jangan pernah menceritakan kepada siapapun curhat teman kita.
  4. Jika kita bisa melakukan itu, sudah luar biasa.
  5. Jika mau lebih, menganalisa persoalan keduanya dari hasil curhat itu. Mana inti masalahnya.
  6. Jika hasil analisa kita ketemu solusi, maka tawarkan kepada mereka masing-masing

T : Assalamu'alaikum ustadz, bagaimana cara kita terhindar dari perbuatan dosa dan selalu berbuat baik, kadang kala kita tidak menyadari jika telah berbuat dosa misal membicarakan orang lain, sadar-sadar sudah terlanjur ngomong, mohon pencerahannya,
J : @ ukhti Nayla :
  1. Jauhkan diri kita dari sikap sombong dan takabur, yaitu merasa bahwa kita selalu benar, selalu baik, tidak pernah salah. Semua itu sikap yang berbahaya dan bisa menghalangi seseorang dari kebenaran.
  2. Mau untuk selalu melakukan muhasabah, yaitu mengevaluasi diri kita sendiri dan yang menjadi ukuran evaluasi sikap kita benar atau salah adalah ajaran Islam. Bukan pendapat kita sendiri
  3. Jangan risih, malu atau tersinggung jika diingatkan orang lain. Terimalah walaupun kata-katanya dalam mengingatkan terasa menyakitkan.
  4. Jangan ragu untuk kembali ke jalan yang benar ketika sadar kita tengah melakukan kesalahan, maksiat dan dosa.
  5. Sumber pemikiran dan inspirasi selalu mengacu kepada orang yang kita kenali keikhlasan dan kapasitas ke Islamannya.
  6. Selalu berdoa kepada Allah supaya senantiasa berada dalam kebenaran

T : Assalamuallaikum ustadz, syukron atas segala ilmunya. Semoga Allah melimpahkan rahmatNya dan segala tauqitNya kepada kita semua Aamiin. Saya mau bertanya ustadz, tawakal dengan takwa itu apakah sama pengertiannya ustadz? Mohon penjelasaanya, barakhallah fikum
J :@ ukhti ahyani:
  1. Tawakkal adalah sikap pasrah terhadap ketentuan Allah, setelah kita berusaha semaksimal mungkin dan berdoa dengan khusyu'.
  2. Tawakkal disertai keyakinan bahwa keputusan Allah merupakan keputusan yang terbaik meskipun berbeda dengan keinginan kita.
  3. Tawakkal disertai evaluasi terhadap usaha dan doa kita sebagai bekal usaha dan doa ke depan lebih baik dari sebelumnya.
  4. Takwa adalah rindu bertemu Allah dan surga-Nya shg senantiasa menjalankan perintah-Nya, taku terhadap murka Allah sehingga menjauhi larangan-Nya dan selalu berhati-hati (waspada) karena godaan hidup akan selalu hadir

T : Assalamualaikum ustadz, bagaimana jika daa ibu yang mau berinfak dengan menjual sawahnya untuk pembangunan masjid dan ada beberapa anaknya yang tidak setuju dengan alasan semakin tua banyak biaya. bagaimana ustadz cara meluruskan supaya tidak terjadi pertengkaran. syukron ustadz jawabannya.
J : @ ukhti Indah :
  1. Hidup itu indah jika kita berada pada posisi adil (proporsional), selalu berusaha memahami orang lain dan tidak menilai orang lain dari subyektifitas kacamata kita.
  2. Seorang ibu mestinya memperhatikan pendidikan dan masa depan anak-anaknya. Itulah tugas yang pertama dan utama.
  3. Seorang ibu mestinya bisa mengukur kapasitas putranya dan apa yang perlu diberikan untuk meningkatkan kapasitasnya.
  4. Infaq yang paling utama tentu saja kepada anaknya dalam rangka menjadikan mereka sholih, mandiri dan berilmu. Bukan dalam rangka memanjakan anak dan menuruti untuk berhura-hura.
  5. Allah SWT mengingatkan, "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar" (An Nisaa : 9).
  6. Ayat di atas sebenarnya berbicara tentang warisan. Perhatikan anakmu, jangan dia menjadi generasi yang lemah di kemudian hari.
  7. Jika anak tidak mandiri, kesulitan keuangan, keimanan pas-pasan, maka mestinya harta yang dimiliki dipakai untuk menyelesaikan itu semua.
  8. Jika kita menjadi anak, berusahalah untuk mandiri, tidak membebani orangtua dan mendorong orangtua untuk beramal sholih sebanyak-banyaknya.
  9. Kedua belah pihak harus mengerti ini dulu, baru bermusyawarah

T : Assalamualaikum ustadz bagaimana menghadapi atasan yang sering mengambil keputusan sepihak tanpa pertimbangan yang matang dan menyampaikan pada bawahan tanpa melihat kondisi bawahan? syukron ustadz atas penjelasannya
J : @ ukhti Yudith :
  1. Organisasi adalah sebuah seni mengatur kerja dan manusia untuk mencapai tujuan bersama
  2. Jika organisasi tersebut sudah ada aturan atau tata tertibnya, maka semua personal (atasan dan bawahan) bekerja mengacu kepada aturan itu. Di situlah mestinya diatur tentang hak & kewajiban dan lain-lain.
  3. Jika aturannya tidak realistis dan kita diberi wewenang untuk mengevaluasi, maka kita evaluasi.
  4. Jika aturannya tidak realistis, tapi kita tidak punya wewenang merubahnya, maka kita berusaha mensinergikan dengan keadaan kita.
  5. Jika kita punya atasan yang bekerja tidak sesuai aturan, maka kita membantu dia untuk mematuhi aturan. Hal ini membutuhkan cara dan waktu, serta doa
  6. Jika dia tetap tidak mau mematuhi aturan, maka kita ingatkan sanksi dan resiko yang akan terjadi.
  7. Jika dia melanggar aturan dan kita tidak berani berbuat apa-apa. Ya bersabar sambil mendoakan.

T : Bertanya pak ustad, adakah doa atau dzikir yang mujarab untuk mengembalikan hati ke jalan yang benar? terimakasih
J : @ ukhti Diana :
  1. Untuk kembali ke jalan yang benar butuh akal, hati dan jasmani
  2. Akal harus tahu mengetahui mana yang baik mana yang buruk, mana yang lurus mana yang sesat.
  3. Supaya akal bisa mengetahui dengan jalan belajar/menuntut ilmu
  4. Hati harus menerima kebenaran dan tidak menolaknya.
  5. Kelunakan hati adalah dengan ibadah shalat, puasa dan lain-lain. Baik yang wajib maupun yang sunnah.
  6. Bisa jadi akal tahu yang benar, tapi hati menolak.
  7. Jika akal sudah tahu dan hati menerima, maka jasmani harus segera bergerak memulai amal.
  8. Itu semua jurus ampuh kembali ke jalan yang benar.

T : Assalamu'alaikum ustadz, terkait fawaid minal hadits yang nomor 5, agar kita mngambil yang paling dekat dengan ketaqwaan dan waro' dalam agama, contohnya yang pling dekat seperti apa ustadz? Mohon penjelasannya. Syukron katsiir.
J ; @ Ummu Habibah :
  1. Makan enak itu boleh, tetap jangan terus-terusan makan enak. Karean akan menjauhkan diri dari sikap sederhana, wara dan zuhud. Demikian pula dengan mobil yang bagus, rumah bagus dan lain-lain.
  2. Puasa sunnah itu boleh tidak dijalankan. Tetapi kalau kita memilih tidak puasa, maka kita tidak memilih wara dan zuhud. Demikian shalat malam, dan lain-lain

T : Assalamualaikum ustadz, mau tanya, bagaimana kalau perilaku berbohong menutupi kesusahan kita? menutupi agar kita tidak terlihat susah dengan cara berbohong seperti itu. Berbohongnya sih tiak merugikan orang lain, dan tidak yang besar-besar dan extrim ngotot ngaku-ngaku punya, seperti berbohong punya mobil, perhiasan, rumah dan lain-lain.Syukron.
J : @ bunda Tiwik :
  1. Berbohong itu dilarang dalam ajaran Islam kecuali 3 hal :
  • Dalam perang
  • Mendamaikan orang bertengkar
  • Menyenangkan pasangan
  1. Diplomasi diperbolehkan dalam Islam, yaitu mengucapkan kalimat yang sebenarnya bisa bermakna ganda atau mempunyai banyak interpretasi. Misal : Mau ketemu siapa ? Kmdn dijawab : Abdullah. Abdullah bisa nama seseorang, bisa jg bermakna hamba Allah.
  2. Sebenarnya kita bicara apa adanya lebih nyaman, tanpa diplomasi atau berpura-pura. Yang terpenting kita tidak mengeluh, merintih dan lain-lain, yang seolah tidak pernah ada nikmat Allah dalam hidup kita.
  3. Biarkan orang-orang menerima kita juga apa adanya. Tidak dibuat-buat.
  4. Mandiri, tidak materialis dan semangat memberi / membantu orang lain akan menyebabkan orang suka sama kita dan nyaman berada di sekeliling kita.
  5. Kita menjadi pelita bagi manusia.
  6. Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. dan berkata, “Wahai Rasulallah, tunjukkan padaku suatu amalan yang apabila kulakukan aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia.”
Rasululullah saw. bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, pasti Allah mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang di tangan manusia, pasti manusia pun mencintaimu.” (HR Ibnu Majah dan yang lain, hadits ini hasan).

T : Bagaimana hukum seorang laki-laki bila memakai tato, tapi dia selalu menjalankan sholat 5 waktu, apakah sah sholatnya itu ustadz, karena bila menghilangkan tato katanya sakit, harus distrika. Mohon pencerahannya.
J : @ ukhti Naila :
  1. Hukum tatoo haram dalam ajaran Islam
  2. Jika sudah terlanjur, segeralah bertaubat.
  3. Di antara bentuk taubat adalah menghilangkan tato itu dari tubuh.
  4. Jika ditato itu sakit, maka sudah wajar jika menghilangkannya juga sakit
  5. .Berusahalah sekuat tenaga menghilangkannya. Jika ada cara menghilangkan tato tanpa terasa sakit, maka alhamdulillah. Ambillah dan syukurilah

T : Apakah orang yang berkelakuan baik sudah pasti berkahlaq baik? Bagaimana jika tidak? Dan bagaimana menciptakan kebaikan-kebaikan yang sejati?
J : @ Bunda Zee :
  1. Ukuran akhlak baik adalah Al Quran dan Sunnah bukan nafsu manusia. Misalkan : Bekerja mencari penghasilan itu baik. Tapi kalau bekerja sebagai wanita penghibur, itu tidak dibenarkan dalam Islam.
  2. Kebaikan itu juga diukur dari hati yang bersih dan akal yang sehat mengenali kebaikannya. Misal : Bayi tabung itu baik untuk suami-istri yang susah memiliki keturunan dengan cara biasa.
  3. Kebaikan itu juga diukur dari jika mayoritas orang shalih mengakui kebaikannya. Misal : sebelum ada khilafah, maka sistem yang dekat dengan itu adalah demokrasi.
  4. Selain itu, maka tidak bisa dikategorikan sebaagi kelakuan baik = akhlak baik. Misal : menurut orang barat pacaran itu baik dilakukan sebelum nikah. Kelakuan baik seperti ini tidak sama dengan akhlak yang baik

T : Afwan ustadz, ada ungkapan, sesama murid, tidak berhak masing masing memberi raport, bahwasannya yang berhak menilai setiap hamba adalah Allah Ta'ala, karena Allah tidak menilai dari penampilan tapi Allah melihat dari Niat dan Amal, mohon pencerahannya ustadz.
J : @ ukhti Nur :
  1. Nasihat itu hukumnya wajib seorang Muslim kepada Muslim yang lainnya. Tidak peduli murid dengan murid, guru dengan murid atau murid dengan guru.
  2. Nasihat harus dilakukan sesuai dengan adab-adab Islami.
  3. Amar ma'ruf nahi munkar adalah wajib bagi semua Muslim. Baik murid dengan murid, guru dengan murid atau murid dengan guru.
  4. Amar ma'ruf nahi munkar harus dilakukan dengan adab-adab yang Islami.
  5. Dakwah hukumnya wajib atas setiap Muslim. Baik murid dengan murid, guru dengan murid atau murid dengan guru.
  6. Dakwah harus dilakukan dengan adab-adab yang Islami.
  7. Yang dilarang adalah menghakimi seseorang, mencela, membuka aibnya, mempermalukan di muka publik dan lain-lain.
  8. Kewajiban nasihat, amar ma'ruf nahi munkar dan dakwah nanti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT

T : Jazakallah khoir ustad, ustad jika anak-anal sudah di bagi harta n sudah berumah tangga mandiri semua dan itu harta yang disisakan untuk ibu sendiri tidak mengambil hak anak, berarti hak ibu ya,dan anak tidak boleh menghalangi ya ustad?
J : @ ukhti Indah : Ya

T : Ustadz bila sang istri belum mampukan kewaibanya sebagai seorang istri apakah sang suami masih wajib memberi nafkah untuk sang istri. Bila sang istri bekerja sendiri? Mohon pencerahannya ya ustad.
J : @ ukhti Ayan :
  1. Hubungan suami istri adalah janji di hadapan Allah dan menghalalkan yang haram dengan kalimat Allah.
  2. Rumah tangga adalah struktur masyarakat terkecil yang berjalan dengan dasar sakinah, mawaddah wa rahmah.
  3. Rumah tangga bukanlah lembaga bisnis transaksional. Misal : A. Istri memberi pelayanan lebih jk fee dr suami ditambah. B. Suami akan membayar istri jika pelayanan sesuai pesanan. C. Pengeluaran sejak hamil hingga anak dewasa dicatat dan nanti harus diganti oleh anak sesuai pengeluaran
  4. Rumah tangga harus dibangun dengan dua resep, musyawarah dan semuanya merasa nikmat / senang
  5. Rumah tangga adalah ladang pahala, siapa yang paling banyak berkorban dan memberi pasti dijamin surga.
  6. Sehingga kewajiban suami memberi nafkah adalah selama wanita itu menjadi istrinya.

T : Ustad bagaimana hukumnya bila seorang laki-laki sampai meninggal dunia belum sempat menghapus tato yang ada di badannya, mohon pencerahannya ustad.
J : Ukhti Farida,  kalau dia sdh berusaha menghapus tato di tubuhnya tapi belum bisa, insyaa Allah diampuni dosanya oleh Allah

T : Assalamualaikum ustadz, ana mau bertanya maaf diluar tema, bagaimana tentang tata cara menghilangkan.najis besar menurut syariat islam secara hadist yang sahih. Soalnya saya bekerja di negeri non muslim, dan peralatan makan jadi satu, seperti  bekas daging babi dan lain-lain. Dan bagaimana cara mensucikanya  bila tidak ada tanah ustadz, apakah boleh digantikan dengan deterjen? ada sedikit tanah  tetapi di tanah tersebut banyak sekali anjing yang lalu lalang. Mohon pencerahannya ustadz, bila ada salah kata mohon maaf ana masih sangat fakir ilmu, wassalamualaikum.
J : @ Bunda Tyas :
  1. Dalil yang tegas terhadap najis besar adalah jilatan anjing. Yang harus dicuci 7x, salah satunya dengan tanah.
  2. Untuk babi, cukup dicuci sampai bersih (pendapat Al-Imam Asy Syafi’i dalam Syarh Shahih Muslim karya An Nawawy (3/185)).
  3. Jika di negeri non Muslim, jika makan, carilah warung makan yang sdh tersertifikasi halal.
  4. Jika di rumah majikan, milikilah piring dan peralatan masak sendiri, jika majikan masih makan babi.

➰〰➰〰➰〰➰〰➰〰➰


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
“Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allailahailla anta astaghfiruka wa’atubu ilaik”

Artinya : “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada tiada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi, Shahih)