Tujuan utama dari pelaksanaan Grup ini, semata-mata hanya untuk mencari Ridho اللّهُ SWT. Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat demi menjadi Hamba Allah SWT yang Kaffah

HAL-HAL YANG ISTRI BOLEH TIDAK MENTAATI SUAMI

Kajian Online WA  Hamba الله SWT

Senin, 9 Januari 2017
Rekapan Grup Bunda G5
Narasumber : Ustadz Herman
Tema : Kajian Islam
Editor : Rini Ismayanti



Dzat yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya, yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untuk mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.

AlhamduliLlah... tsumma AlhamduliLlah...

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangkitkan ummat yang telah mati, memepersatukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing manusia yang tenggelam dlm lautan syahwat, membangun generasi yang tertidur lelap dan menuntun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan, kemuliaan, dan kebahagiaan.

Amma ba'd...
Ukhti fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan lafadz Basmallah

Bismillahirrahmanirrahim...                       

HAL-HAL YANG ISTRI BOLEH TIDAK MENTAATI SUAMI

Diantara ciri seorang istri sholihah adalah mematuhi perintah suaminya. Yang dimaksud mematuhi perintah adalah mematuhi dalam hal yang mubah dan disyari’atkan. Jika dalam perkara yang disyari’atkan, tentu hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi hukumnya, karena perkara yang demikian adalah hal-hal yang Allah perintahkan kepada para hamba-Nya, seperti kewajiban sholat, berpuasa di bulan Ramadhan, memakai jilbab, dan lain-lain. Maka untuk hal ini, seorang hamba tidak boleh meninggalkannya karena meninggalkan perintah Allah Ta’ala adalah sebuah dosa. Sedangkan dalam perkara yang mubah, jika suami memerintahkan kita untuk melakukannya maka kita harus melaksanakannya sebagai bentuk ketaatan kepada suami. Contohnya suami menyuruh sang istri rajin membersihkan rumah, berusaha mengatur keuangan keluarga dengan baik, selalu bangun tidur awal waktu, membantu pekerjaan suami, dan hal-hal lain yang diperbolehkan dalam syari’at Islam.

Ada Saatnya Menolak Perintah Suami

Jika dalam hal yang disyari’atkan dan yang mubah kita wajib mematuhi suami, maka lain halnya jika suami menyuruh kepada istri untuk melakukan kemaksiatan dan menerjang aturan-aturan Allah. Untuk yang satu ini kita tidak boleh mematuhinya meskipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kalau sekiranya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain maka akan aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kita tidak boleh tunduk pada suami yang memerintah kepada kemaksiatan meskipun hati kita begitu cinta dan sayangnya kepada suami. Jika kewajiban patuh pada suami sangatlah besar, maka apalagi kewajiban mematuhi Allah, tentu lebih besar lagi. Allahlah yang menciptakan kita dan suami kita, kemudian mengikat tali cinta diantara sang istri dan suaminya. Namun perlu diketahui, bukan berarti kita harus marah-marah dan bersikap keras kepada suami jika ia memerintahkan suatu kemaksiatan kepada kita, tetapi cobalah untuk menasehatinya dan berbicara dengan lemah lembut, siapa tahu suami tidak sadar akan kesalahannya atau sedang perlu dinasehati, karena perkataan yang baik adalah sedekah.

Saudariku, berikut ini beberapa contoh perintah suami yang tidak boleh kita taati karena bertentangan dengan perintah Allah:

1. Menyuruh Kepada Kesyirikan

Tidak layak bagi kita untuk menaati suami yang memerintah untuk melakukan kesyirikan seperti menyuruh istri pergi ke dukun, menyuruh mengalungkan jimat pada anaknya, ngalap berkah di kuburan, bermain zodiak, dan lain-lain. Ketahuilah saudariku, syirik adalah dosa yang paling besar. Syirik merupakan kezholiman yang paling besar (lihat QS Luqman: 13). Bagaimana bisa seorang hamba menyekutukan Allah sedang Allah-lah yang telah menciptakan dan memberi berbagai nikmat kepadanya? Sungguh merupakan sebuah penghianatan yang sangat besar!

2. Menyuruh Melakukan Kebid’ahan

Nujuh bulan (mitoni – bahasa jawa) adalah acara yang banyak dilakukan oleh masyarakat ketika calon ibu genap tujuh bulan mengandung si bayi. Ini adalah salah satu dari sekian banyak amalan yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun begitu banyak masyarakat yang mengiranya sebagai ibadah sehingga merekapun bersemangat mengerjakannya. Ketahuilah wahai saudariku muslimah, jika seseorang melakukan suatu amalan yang ditujukan untuk ibadah padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyontohkannya, maka amalan ini adalah amalan yang akan mendatangkan dosa jika dikerjakan. Ketika sang suami menyuruh istrinya melakukan amalan semacam ini, maka istri harus menolak dengan halus serta menasehati suaminya.

3. Memerintah untuk Melepas Jilbab

Menutup aurat adalah kewajiban setiap muslimah. Ketika suami memerintahkan istri untuk melepas jilbabnya, maka hal ini tidak boleh dipatuhi dengan alasan apapun. Misalnya sang suami menyuruh istri untuk melepaskan jilbabnya agar mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan, hal ini tentu tidak boleh dipatuhi. Bekerja diperbolehkan bagi muslimah (jika dibutuhkan) dengan syarat lingkungan kerja yang aman dari ikhtilat (campur baur dengan laki-laki) dan kemaksiatan, tidak khawatir timbulnya fitnah, serta tidak melalaikan dari kewajibannya sebagai istri yaitu melayani suami dan mendidik anak-anak. Dan tetap berada di rumahnya adalah lebih utama bagi wanita (Lihat QS Al-Ahzab: 33). Allah telah memerintahkan muslimah berjilbab sebagaimana dalam QS Al-Ahzab: 59. Perintah Allah tidaklah pantas untuk dilanggar, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.

4. Mendatangi Istri Ketika Haidh atau dari Dubur

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “…dan persetubuhan salah seorang kalian (dengan istrinya) adalah sedekah.” (HR. Muslim)

Begitu luasnya rahmat Allah hingga menjadikan hubungan suami istri sebagai sebuah sedekah. Berhubungan suami istri boleh dilakukan dengan cara dan bentuk apapun. Walaupun begitu, Islam pun memiliki rambu-rambu yang harus dipatuhi, yaitu suami tidak boleh mendatangi istrinya dari arah dubur, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“(Boleh) dari arah depan atau arah belakang, asalkan di farji (kemaluan).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka ketika suami mengajak istri bersetubuh lewat dubur, hendaknya sang istri menolak dan menasehatinya dengan cara yang hikmah. Termasuk hal yang juga tidak diperbolehkan dalam berhubungan suami istri adalah bersetubuh ketika istri sedang haid. Maka perintah mengajak kepada hal ini pun harus kita langgar. Hal ini senada dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang menjima’ istrinya yang sedang dalam keadaan haid atau menjima’ duburnya, maka sesungguhnya ia telah kufur kepada Muhammad.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

TANYA JAWAB

Q : 1. Apakah seorang istri diperbolehkan membeli sesuatu tanpa izin suaminya? Misalnya beli buku agama sedangkan suaminya kurang menyukai istrinya membeli buku, uang yang dipakai uang belanja yang disisihkan.
2. Apakah uang belanja dan menafkahi istri itu beda ustadz?
A : 1.  Sebaiknya memberitahu kepada suami bu, kalau suami melarang dengan alasan yang tidak sesuai islam maka boleh tidak ditaati artinya tetap boleh membeli buku agama sesuai kebutuhan
2.  Uang nafkah artinya mencakup uang belanja, transport, pakaian, perumahan dll bu. Jadi uang belanja adalah salah satu bagian dari nafkah

Q : Jika seorang suami menghalang-halangi istrinya untuk hamil, dengan cara setiap mendatangi selalu memakai kondom, atau melakukan azl, yang sudah pasti hal tersebut melukai hati dan harga diri si istri, apakah masih layak suami semacam itu untuk ditaati meskipun mengajak pada ketaatan kepada Allah dalam hal lain? Sementara perbuatannya sendiri dengan menunda hadirnya momongan adalah perbuatan yang tidak dibenarkan di dalam Islam. Mohon pencerahannya
A : hukum azl adalah boleh selama izin kepada istri, rosulullah bersabda : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang melakukan ‘azl terhadap wanita merdeka kecuali dengan izinnya.” (HR. Ibnu Majah , Al Baihaqi) khususnya dengan tujuan hanya mengatur jarak kelahiran bukan agar tidak hamil. yang dilakukan bila selalu melakukan itu maka dia dosa, tetapi dosa suami jangan dibalas dengan dosa ibu kepada suami dengan tidak mentaatinya. Silakan diajak berbicara yang baik, kalau perlu diajak diskusi dengan ustadz/ulama agar beliau mendapatkan pencerahan. banyak yang berfikir bahwa anak adalah beban sehingga takut nambah anak, padahal anak adalah amanah dan juga asset untuk masa depan orang tua baik di dunia maupun akhirat. Kalau konsep tentang anak dirubah maka akan semangat mempunyai anak.

Q : Jika akhirnya si istri ini akhirnya meminta cerai karena merasa hanya dijadikan bak pelacur (mau berhubungan tapi gak mau punya anak), dan tetap berharap bisa dipertemukan di pengadilan Tuhan untuk menuntut keadilan apakah merupakan dendam yang berdosa, Ustadz? Misal dia berkeinginan untuk mendorong tubuh si pria ke neraka gitu.
A : Dendam itu dilarang bu, kalau sudah dicoba berbicara ke suami tidak ada perubahah, konsultasi dengan ustadz tidak ada ada perubahan maka istri boleh meminta cerai dengan kondisi tersebut. Tapi sebelum cerai diambil sebaiknya dikuatkan doa dulu kepada Allah dan juga istikhoroh

Q : Ustadz, nanya, masalah saya ini sebenernya sederhana dan ini adalah masalah di kantor. Tapi dengan terpaksa saya secara tidak langsung ikut terlibat. Jadi ceritanya kan tahun kemaren itu pimpro saya yang kebetulan juga ka bag saya spj maminya kacau ustadz. Beliau bon di beberapa rekening tapi spj nya tidak ada dan uangnya juga tidak kembali ke negara. kemudian karena bermasalah, akhirnya semua nya di pasrah kan ke saya. ada satu rekening besarannya 5 jt, yang saya tanggung dengan saya hutang ke BMT, tapi suami saya tidak tahu hal ini .
A : ooo begitu. Kalau sepemahan saya bahwa utang atasan tersebut harus tetang dipertanggung jawabkan oleh beliau, jangan sampai menjadi beban jenengan. Berdasarkan bukti catatan yang ada, kalau dia tidak mau bayar maka bisa dilaporkan kebagian yang berwenang. Bukankah tiap pengeluaran uang ada tanda tangan yang menerimanya? Bila kondisi sudah bundet  maka sebaiknya diskusi dengan suami, mungkin suami ada solusi atau minimal mengetahui masalah jenengan. Sehingga beban batin berkurang dengan sharing kepada suami

Q : Di atas ada hadist yang menjelaskan kalau melakukan hub pasutri boleh dari arah depan dan belakang asalkan melalui farji. Tapi yang saya tau bahwa tidak diperkenankan melakukan hub pasutri jika menyerupai binatang (dari arah belakang) (afwan agak fulgar) Itu bagaimana ustadz ?
A : Bila tetap dari jalur yang benar maka boleh bu sesuai hadits tersebut, yang dilarang bila melalui dubur. Istri umar bin khattab pernah mengadu karena Umar melakukan dengan cara dari samping tapi oleh Rosulullah hal tersebut diperbolehkan. Jadi dalam islam dengan gaya apa saja boleh asalkan sama-sama suka dan dari jalur depan.

Q : Apabila ada seorang suami sedang marah sering berkata, “Bagaimana kalau kita cerai saja,” apakah dengan kalimat tersebut sudah jatuh talak atas istrinyasukron ustadz sebelumnya
A : Wa'alaikumussalam. itu belum cerai bu karena dia melakukan penawaran cerai. kalau penawaran tidak diterima maka tidak cerai.

Q : Suami punya usaha semacam PT, uang hasil wiraswasta semua di bank atas nama istri (krn suami gak mau repot dengan urusan ke Bank) semua ATM dipegang oleh suami sedangkan istri yang pegang buku & e-bankingnya. Suami bilang uang suami ya uang istri, klau istri minta uangpun disuruhnya ambil sendiri, seandainya istri memakai uang tsb untuk keperluan sendiri tanpa memberitau suami bolehkah? Karena kata suami uang suami ya uang istri....
A : Wajib tetap menyampaikan ke suami bu dalam penggunaannya agar terjadi hubungan yang baik dengan suami dan terkontrol dalam penggunaan uangnya

Q : Gimana kalo suami ngeyel dikasih tahu, ibu saya kan nasroh, selalu saya bilang, ayah gak usah ngucapin selamat. “Gpp wes ra mungkin wong tuaq nesu”. Tapi suami saya selalu bilang, untuk menghormati lah, yang penting kita gak meyakini itu , gimana ustadz kalo kek gitu ??
A : Biarkan suami yang mengucapkan bila tidak bisa dicegah bu. Yang penting jenengan tidak melakukan semoga perlahan2 suami akan paham

Q : Afwan ustad klo nemu duit dari kantong suami waktu mencuci baju tidak memberi tahu...langsung di pake belanja keperluan kluarga gimana...bolehkah ustad... ?
A : Dalam hal barang temuan disebut dengan luqatah bu. Hukumnya bila sudah tahu bahwa itu harta suami atau siapa yang jelas maka harus dikasih tahu ke orang tsb agar menjadi halal bu. Kelihatannya sepele tapi kalau tidak halal akan jadi masalah nanti. Kecuali suami yang sudah bilang dengan ikhlas kalau menemukan uang di kantong maka boleh diambil maka hal itu silakan diambil

Q : Di atas ada point mitoni (7bln an masa hamil) bila seorang suami menyuruh ditiadakan karena suami faham bahwa itu tidak di wajib dalam islam namun ibu dari si wanita mengharuskan acara tsb tetep diadakan alasan kebiasaan orang kampung juga anak-anaknya yang lain juga begitu mengadakan 7 bulanan bgaimana kah sifat sang istri menuruti suami / atau menuruti ibu kandungnya ustadz ?
A : Seorang istri wajib taat ke suami bukan ke orang tua bu. Sehingga jangan dilakukan pitoni itu

Q : Gimana klu kita diundang oleh orang yang 7 bulanan atau 4 bulanan , apakah kita datang apa ga usa datang ?
A : Sebisa mungkin untuk tidak datang dengan alasan yang baik bu. Tapi klo terpaksa maka silakan datang tapi dengan memberikan nasihat.

Q : Masyarakat sangat kental akan tradisi.. jadi serba salah.. dari mitos ibu hamil sampai melahirkan.. Dan acara pengajian untuk mendoakan yang sdah meninggal.. dari mulai tahlil 1 - 7 hari - 40 hari -100 hari 1 tahun dan 1000 hari.. kadang buntu kasih pemahaman nya.. bagaimana menyikapinya ustdz...?
A : Pertama wajib menyampaikan nasihat bu dengan bahasa yang baik, kedua dijalankan untuk diri sendiri dengan tidak melakukan hal itu. Alhamdulillah dulu keluarga saya melakukan hal itu smeua tapi sekarang sudah tidak melakukannya

Q : Ustadz, semakin lama saya bekerja, semakin takut jangan-jangan saya membawa pulang harta yang " gak jelas" halal haramnya. Nah karena takut itu...saya pengen keluar kerja, tapi suami gak ngebolehin, gimana itu ustadz ? terus gini ustadz, saya kan dari keluarga nasroh, suami dari kel muslim tapi sekuler, nah kadang saya ajak suami untuk menerapkan islam yang kaffah susah sekali ustadz , itu saya harus gimanain suami ya ustadz, biar suami saya kalo saya kasih tahu manut.
A : Seharusnya suami senang klo istri keluar kerja dan fokus di rumah apalagi pekerjaan rawan haram. Sebaiknya ibu tetap keluar dan membuat usaha dirumah saja untuk membantu suami klo gaji suami masih kurang. Tapi klo sudah cukup maka fokus mendidik anak dan melayani suami. Bila suami masih sulit utk berislam secara kaffah maka itu proses dari dakwah ibu ke suami dengan pelan-pelan. Sambil terus doa agar suami dikuatkan islamnya

Q : Bagaimana sikap isteri dimana suami memutus silahturahmi dengan keluarga isteri gara-gara warisan ?
A : Memutuskan silahturahmi hukumnya dosa besar maka harus tetap disambung silahturahmi melalui ibu dan suami dinasehati pelan-pelan dengan jurus rayuan maut istri bu. Misal sambil dipijitin, disiapkan minuman kesukaan dll

Q : Ustad tanya lagi... saya kan yang yang ngelolah semua keungan suami uda mempercayakan semua ... tapi klu saya belanja untuk diri saya sendiri misal beli baju , sedekah dll tanpa bilang ke suami boleh ga?
A : Kalau dari awal sudah disepakati boleh melakukan itu maka tidak perlu ijin bu. Tapi kalau belum ada kesepakatan maka perlu ijin agar amanah

Q : Ustadz...bagaimana hukumnya bila suami lagi marah ...pas terima gaji....isteri ga dikasih jatah bulanan...n diam aja seolah-olah ga ada persoalan.... Jadi isteri pake uang tabungan. Suami selalu merasa benar....kalau dikasih tau ...malah marah....dikarenakan pemahaman agama yang kurang....baca Al Qur’an ga bisa...dan ga pernah tadabbur
A : Disampaikan ke suami bu dengan becanda atau halus. Klo marah boleh tapi nafkah tetap jalan terus. Suami marah mungkin pingin disayang bu. Coba keluarkan jurus sayangnya ya biar suami jadi sayang lagi

Q : ustadz baiknya bagaimana ya jika istri menasehati suami dengan niat baik seperti mengajak sholat dll ..mungkin terlalu sering sempat suami bilang istri tuh bawel..tapi apa yang kita ajak untuk kebaikan tidak dilakukan..apa kita cukup diam dan mendo'akan / tetap menasehati dan mendo'akan..
A : Terus sabar ya bu sampai akhir hayat seperti Asyiah istri Firaun. Selama suami tidak melarang istri dan anak ibadah dan tidak ajak maksiat maka terus bertahan dan yakin dengan Allah ya. Tapi kalau dia ajak maksiat atau melarang ibadah maka silakan untuk ajukan cerai.

Alhamdulillah, kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat. Aamiin....

Segala yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:


سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”